Bagikan sekarang

Oleh: Asni Furoidah, M.Pd.I (Dosen PBA INAIFAS)

Hari raya idul fitri merupakan momentum terbaik dalam menjalin silaturrahim terhadap sesama Muslim. Berbagai macam cara dilakukan dalam rangka menyemarakkan hari raya idul fitri ini. Orang Jawa sendiri mempunyai tradisi khusus dalam menyambut lebaran yang dinamakan tradisi Kupatan, yang merupakan hasil dari pemikiran para Walisongo dalam menyebarkan dakwah Islam melalui budaya.

Kupatan adalah tradisi keagamaan yang berhubungan dengan tradisi Islam. Tradisi ini merupakan salah satu bentuk warisan budaya leluhur yang sampai sekarang masih dilestarikan.
Waktu perayaan kupatan biasanya dilakukan seminggu setelah hari raya Idul Fitri.

Biasanya masyarakat desa berkumpul di suatu tempat seperti masjid atau musholla untuk melakukan selamatan dan seluruh warga membawa hidangan yang didominasi dengan ketupat. Hal ini merupakan perwujudan rasa syukur setelah mengerjakan puasa satu bulan penuh dan disempurnakan dengan puasa sunah enam hari di bulan syawal.

Kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari kalimat ‘ngaku lepat’ yang berarti ‘mengakui kesalahan’. Oleh karena itu, saling berbagi dan memberi kupat di hari raya lebaran Idul Fitri adalah simbol atas pengakuan kesalahan dan kekurangan diri masing-masing terhadap Allah SWT, keluarga dan terhadap sesama.

Kupat merupakan makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan selongsong dari anyaman daun kelapa yang masih muda (janur). Masyarakat desa biasanya membuat sendiri anyaman tersebut lalu diisi dengan beras yang telah direndam air. Selanjutnya kupat tersebut direbus berjam-jam sampai matang. Makanan ini biasanya disajikan bersama sayur pelengkap, seperti opor ayam dan lainnya. Warna isi ketupat yang putih melambangkan kesucian hati setelah kita meminta maaf atas atas kesalahan yang dilakukan pada orang lain. Lalu, daun janur yang dipakai juga mengandung makna jatining nur atau hati nurani. Ketupat sudah menjadi maskot makanan khas lebaran. Namun dalam tradisi Jawa, makanan ini bukan hanya sajian pada hari kemenangan, tetapi makna filosofis yang mendalam dalam tradisi Jawa.

Baca juga  Tingkatkan Minat Baca Keluarga, INAIFAS Gelar Sosialisasi di Kantor Kecamatan Jombang

Ketupat atau kupat sendiri memiliki banyak makna sebagaimana yang telah diketahui oleh masyarakat Jawa. Kupat di artikan sebagai laku papat yang menjadi simbol dari empat segi dari ketupat. Laku papat yaitu empat tindakan yang terdiri dari lebaran, luberan, leburan, laburan. Maksud dari empat tindakan tersebut antara lain:

Pertama, Lebaran yaitu suatu tindakan yang berarti telah selesai yang diambil dari kata lebar. selesai dalam menjalani ibadah puasa ramadhan dan diperbolehkan untuk menikmati makanan.

Kedua, Luberan berarti meluber, melimpah yang menyimbolkan agar melakukan sedekah dengan ikhlas bagaikan air yang berlimpah atau meluber dari wadahnya. Oleh karena itu tradisi membagikan sedekah di hari raya Idul Fitri menjadi kebiasaan umat Islam di Indonesia.

Ketiga, Leburan berarti lebur atau habis. Maksudnya adalah agar saling memaafkan dosa-dosa yang telah dilakukan. sehingga segala kesalahan yang telah dilakukan menjadi suci bagai anak yang baru lahir.

Keempat, Laburan berarti bersih putih berasal dari kata labur atau kapur. Harapan setelah melakukan Laburan agar selalu menjaga kebersihan hati yang suci. Manusia dituntut agar selalu menjaga perilaku dan jangan mengotori hati yang telah suci.

Oleh sebab itu, diharapkan pada bulan syawal ini kita sebagai manusia mampu bersikap arif dengan cara mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan ini, juga ditafsirkan dari bahasa Arab kaffatan yang artinya kesempurnaan, dalam konteks kembali ke fitrah dimomen Idul Fitri.

Dengan logat orang Jawa, lafadz kaffatan akhirnya menjadi Kupatan.

Mangan kupat
Dicampur santen
Menawi lepat
Nyuwun ngapunten

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ, كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ.

Selamat hari raya idul fitri 1443 H, mohon maaf lahir dan batin.