Bagikan sekarang

Oleh: Muhammad Syarofi, M.E. (Dosen Prodi Ekonomi Syariah INAIFAS)

Mungkin istilah kebijakan SPM DIKTI, SN DIKTI, SPMI dan AMI sangat asing bagi saya sebagai salah satu tenaga pengajar di kampus hijau INAIFAS di Kabupaten Jember Selatan. Pasalnya, ketika harus berhadapan dengan beberapa orang-orang yang mempunyai jabatan struktural di Kopertasi IV Surabaya, TIM Ahli Kopertais IV Surabaya dan Dewan Pakar Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Sunan Ampel Surabaya, seperti Dr Ali Mustofa, MPd, Dr. Asep Saepul Hamdani, M.Pd, Ahmad Fauzi, M.Pd. dan beberapa pemateri lainnya. Namun bagi mereka sebagai pengelola Lembaga Penjamin Mutu sudah tidak asing, namun yang sulit dalam penerapan kebijakan tersebut.

Teringat beberapa minggu kemarin tepatnya 12 Juli 2022, bapak Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I yang familiar disapa dengan Gus Rijal, menghubungi saya ketika masih dalam perjalanan dari Surabaya, “Rencananya, saya delegasikan njenengan ikut acara tsb mewakili Inaifas, pendaftaran hari ini terakhir fikir saya”.

Sambil melihat surat undangan isinya pelatihan AMI yang dilaksanakan Sabtu, 23 Juli 2022 di Kota Surabaya, Sepintas saya berfikir “Baru saja dari Surabaya dan masih di perjalanan, satu minggu lagi harus ke Surabaya”. Namun ternyata saya tidak sendiri ada salah satu dosen lain yang diutus untuk mengikuti kegiatan pelatihan tersebut.

Jumat siang kemarin 30 Juli 2022, sampai dilokasi kegiatan pelatihan Audit Internal yang bertempat di Hotel Halogen Surabaya arah jalan Bandara Juanda. Kegiatan Workshop Audit Mutu Internal Konsorsium Lembaga Penjaminan Mutu Kopertais Wilayah IV Surabaya yang bertempat di Ballroom Hotel Halogen Surabaya sebagian besar diikuti oleh Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan anggota Penjaminan Mutu dari beberapa perguruan tinggi swasta se-Kopertais IV Surabaya.

Baca juga  Soal Investasi, Belajarlah Dari Nabi Yusuf

Saya katakan asing, karena belum adanya bekal matang dari saya untuk mengikuti kegiatan tersebut, teman satu bangku Mas Anas ketika saya perkenalan ternyata juga masih pertama kali mengikuti kegitana pelatihan AMI.

Kegiatan Workshop AMI dibuka secara langsung oleh ketua Kopertasi IV Surabaya Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Ph.D. Beberapa poin yang disampaikan sejatinya perguruan tinggi harus mempunyai audit mutu internal agar mempunyai kualitas baik pada perguruan tinggi dan lulusan dari perguruan tinggi, karena perguruan tinggi bukan hanya sebagai lembaga akademisi, akan tetapi juga harus bisa menjadi perguruan tinggi industri akademik sehingga dalam mengelola perguruan tinggi tidak boleh biasa-biasa saja, harus dikelola sumber daya handal dan kompeten, ekosistem perguruan tinggi harus terjamin karena akademik sebagai industri dan sesuai dengan SPMI (standart penjamin mutu internal).

Perguruan tinggi yang mempunyai audit mutu internal bagaikan air dalam botol yang mempunyai label sehingga harganya lebih mahal dan diterima oleh pasar, berbeda dengan air dalam botol yang tidak ada label maka tidak akan laku di pasar.

Sebagai perwakilan dari kampus INAIFAS, karena kegitan ini fokusnya sedikit mulai dapat difahami apa yang dimaksud AMI dan SPMI sebagai mana yang disampaikan oleh DR. Ali Mustofa, M.Pd. bahwasannya SPMI sebagai Sistem Penjaminan Mutu Internal perguruan tinggi sesuai dengan SN DIKTI yang tertuang dalam Perarutran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, sehingga didalamnya terdapat (Kebijakan Mutu, Standar Mutu, Manual Mutu Dan Formulir Mutu) dan menelurkan Siklus SPMI (PPEPP) (Penetapan standar, Pelaksanaan standar, Evaluasi standar, Pengendalian standar dan Peningkatan standar).

Meskipun sepertinya mudah dalam penyampaian namun bagi seorang muallaf salam Audit Mutu Internal Perguruan Tinggi tetap masih asing bagi saya, ada sedikit motivasi yang disampaikan oleh DR. Ali Mustofa, M.Pd. bahwasannya ketika seorang dosen menjadi pengelola Lembaga Penjamin Mutu (LPM) yang awal mindset terbagun sebagai energi kesialan, harus diganti dengan energi keberuntungan, karena kerja di LPM berapapun honornya harus dinikmati dulu, karena sebagai jariyah mutu perguruan tinggi. Dari ucapan tersebut sedikit tumbuh semangat untuk bisa mempelajari secara mendalam tentang AMI dan SPMI.

Baca juga  Tradisi Kupatan, Lebaran Khas Orang Jawa

Dewan Pakar Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Sunan Ampel Surabaya Dr. Asep Saepul Hamdani, M.Pd, juga menyampaikan bahwasannya seorang dosen yang mengajar di perguruan tinggi harus sudah sesuai standar dengan monitoring, evaluasi dan validasi RPS serta memenuhi karakteristik pembelajaran, sebagai bukti relevansi dari berbagai macam penetapan standar secara langsung akan di audit oleh AMI perguruan tinggi.

Meskipun kebijakan SPMI dapat dikatakan masih baru tahun 2020 namun diharapkan seluruh PTKIS dalam menjalankan audit internal harus kompetitif, handal dan akuntabel sesuai karakteristik perguruan tinggi masing-masing. Beberapa paparan pemateri dapat menjadikan ilmu baru bagi saya, bahwasannya tidak hanya perusahaan saja yang perlu di Audit namun perguruan tinggi juga perlu di Audit agar lebih bermutu dan mempunyai nilai jual tinggi di pasar pendidikan melalui Audit Mutu Internal.