Bagikan sekarang

(Dimuat di Majalah AULA NU, November 2022)

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Bulan ini, Forum Religion of Twenty (R20) digelar. R20 secara resmi telah menjadi bagian dari forum G20 sebagai engagement group. Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf menakhodai forum ini bersama Sekjen Liga Muslim Dunia, Dr. Mohammad Al-Issa dari Arab Saudi.

Langkah PBNU mendorong perdamaian dunia dan mencari solusi atas problem yang ada merupakan faktor penting, sebagaimana amanah UUD, juga menjadi implementasi bola dunia dalam logo NU, bahwa organisasi ini harus menjadi pemain penting di wilayah mondial. Upaya Gus Yahya harus diapresiasi, sebab, setiap periode kepengurusan, NU senantiasa menandaskan kiprah internasionalnya.

Dalam sejarahnya, NU selalu bersikap atas problem internasional dan di dunia Islam. Melalui Komite Hijaz, KH. A Wahab Chasbullah memulai branding and bargaining level internasional bagi penganut Ahlussunnah Wal Jamaah dengan melobi Raja Abdul Aziz Ibnu Suud. Ada lima misi yang diemban dengan meminta agar; makam Nabi Muhammad agar tidak dibongkar, adanya jaminan kebebasan bermadzhab, melestarikan tempat bersejarah di zaman Nabi, aturan resmi kerajaan berkaitan dengan biaya haji, serta memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz ditulis dalam bentuk undang-undang. Komite Hijaz ini yang di kemudian hari menjadi NU.

Satu dasawarsa berikutnya, pada 1938, Ketua Umum PBNU, KH. Mahfudz Siddiq menggelorakan semangat empati kepada Palestina melalui perayaan Isra’ Mi’raj besar-besaran pada 27 Rajab, penggalangan dana bagi rakyat Palestina dan menggemakan pembacaan qunut nazilah. Aksi solidaritas digalang karena pada saat itu para ekstremis Yahudi menyerang penduduk Palestina, dua puluh tahun setelah Deklarasi Balfour ditandatangani. Atas aksi solidaritas ini, Kiai Mahfudz ditekan pejabat Hindia Belanda agar instruksi publik ini dibatalkan. Tapi beliau tetap kukuh dengan pendiriannya.

Baca juga  Bijak Menyikapi Permasalahan dalam Rumahtangga

Di kemudian hari, menjelang berakhirnya pendudukan Jepang, KH. M. Hasyim Asy’ari lebih intens berkorespondensi dengan Mufti Palestina, Syekh Muhammad Amin al-Husaini, mengenai nasib bangsanya. Bahkan, ketika Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, Palestina adalah salah satu negara yang paling cepat mengakui kedaulatan kita. Langkah ini bahkan juga diikuti oleh KH. Muhammad Ilyas, mantan Menteri Agama RI, saat menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi (1959-1965). Hubungan antara Indonesia-Palestina semakin hangat.

Kiai kelahiran Kraksaan, Probolinggo ini, di kemudian hari menyerukan pembahasan khusus mengenai Palestina dan al-Quds (Yerussalem) pada saat menggerakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam di Rabat, Maroko, 1969. Bahkan dalam forum negara muslim yang kemudian bernama Organisasi Konferensi Islam (OKI) ini, Kiai Ilyas dianggap sebagai penggerak utama kepedulian terhadap Palestina. Sebagai delegasi Indonesia, beliau tampil moncer dalam forum internasional tersebut.

Anak tiri KH. Wahab Chasbullah, KH. Ahmad Sjaichu, menggerakkan roda Konferensi Islam Asia Afrika, Maret 1965. Bahkan, beliau menjadi Sekjen Organisasi Islam Asia Afrika. Wadah internasional yang bagus ini mulai mengkerut saat Bung Karno tidak lagi menjadi presiden RI.

Berpuluh tahun kemudian, sayap internasional NU lintas batas digerakkan oleh Gus Dur melalui World Conference on Religion and Peace (WCRP). Putra KH. A. Wahid Hasyim ini menjadi presidennya. Secara individu, Gus Dur dengan lincah bergerak ke berbagai jaringan di luar negeri. Dia memainkan pengaruhnya dan pemikirannya, serta memperluas jaringannya.

Sayap internasional NU mengepak lebih jelas di era KH. Hasyim Muzadi dengan dibentuknya Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di berbagai negara. Kiai Hasyim kemudian menginisiasi pelaksanaan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) beberapa angkatan, yang menghimpun para ulama dari Sunni dan Syiah moderat untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Baca juga  Haul Sukarno: Tiga Fase Pandangan Sang Proklamator Tentang Islam

Pengganti Kiai Hasyim, KH. Said Aqil Siradj punya wadah lain, International Summit Of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL). Acara yang mempertemukan ratusan delegasi ulama dari berbagai negara ini, pada Mei 2016, mencari format terbaik yang pas mewujudkan dunia yang berkeadilan.

Di era Kiai Said pula, NU memiliki adik di luar negeri. Di Afganistan, ulama lintas etnis yang capek perang saudara memcari komposisi yang pas untuk mendamaikan konflik negaranya. Mereka studi banding ke PBNU, kemudian pulang ke negaranya dan memutuskan mendirikan NU di berbagai provinsi. Mereka mengkloning NU di negaranya, menjadikannya sebagai prototipe organisasi yang menebarkan kedamaian. NU Afganistan memang tidak punya kaitan struktural dengan PBNU, tapi NU dijadikan parameter organisatoris dan sumber inspirasi. Kini sudah berdiri 40 cabang NU Afganistan di berbagai distrik.

Pada Juli 2016, Habib Luthbi bin Yahya menggelar Konferensi Internasional Bela Negara dengan mengundang unsur ulama dari berbagai kawasan. Ini even kedua yang digelar oleh Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) yang dipimpin Habib Luthfi, setelah menggelar Multaqa Shufi Al-‘Alami, 2012.

Melalui berbagai perhelatan di atas, ulama NU tidak hanya berusaha menjadikan Islam sebagai ajaran universal, menggerakkan jejaring ulama Internasional, serta berusaha mengerem laju radikalisme berbaju agama, melainkan lebih dari itu, para individu NU maupun secara organisatoris bergerak dinamis mewujudkan perdamaian dunia.

Kini, melalui forum R20, NU berkesempatakan melalukan peningkatan daya tawar di panggung internasional. Berbagai masalah yang ada, baik Islamopobhia di Eropa, kesenjangan ekonomi di berbagai negara muslim, maupun penindasan dan diskriminasi yang menimpa kaum muslimin di beberapa negara, harus diakhiri. Cara yang ditempuh melalui forum ini sudah elegan, tinggal konsistensi pelaksanaan atas kesepakatan yang dicapai.

Baca juga  Mengenal Para Mufassir Indonesia

Internasionalisasi NU melalui forum ini merupakan langkah taktis menularkan konsep Aswaja ala Indonesia ke kawasan internasional. Miminjam istilah “Arus Balik” Pramoedya Ananta Toer, forum tersebut merupakan “arus balik” Islam Indonesia melalui NU dalam berkontribusi mempersatukan dunia Islam dan bersama-sama membumikan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Jika kedua pola kiprah NU di atas bisa terus dilanggengkan, bukan tidak mungkin jika beberapa tahun mendatang respek dunia Islam dan dunia internasional semakin meningkat terhadap organisasi ini. Secara otomatis, manhaj dan fikrah ahlussunnah wal jamaah annahdliyyah bisa dieskpor dan diterima lebih luas. Dengan demikian, misi menjadikan NU sebagai petarung, pelobi dan pendamai kelas dunia, bukan level “jago kandang”, di usianya yang seabad bisa segera tercapai.

Wallahu A’lam Bisshawab