Bagikan sekarang

Oleh: Uliyatul Mu’awwanah, M.E.I (Kaprodi Ekonomi Syariah Inaifas)

Mari sejenak membayangkan, kita sedang naik ke atas Gedung untuk dapat melihat apa yang terjadi di tengah kerumunan. Setelah itu arahkan pandangan anda jauh ke depan dan lihatlah kemungkinan apa yang akan terjadi. Karena stagflasi bisa jadi akan merubah serta membentuk kepribadian kita sebagai manusia yang mungkin dikemudian hari akan tumbang atau justru menjadi spesies penyintas paling tangguh karena mampu bertahan hidup (Survival of The Fittest).

Perlu saya tekankan terlebih dulu, jika satu di antara para pembaca adalah investor pemula, pastikan anda mempelajari stagflasi saat modal masih sedikit agar waktu terjadi resesi seperti sekarang, damage yang menimpa kita tidak sampai membuat kita sakit hati atau bahkan gulung tikar.

Stagflasi saya istilahkan dengan efek domino yang berarti “satu berguncang, yang lain ikut goyang”, definisi ilmiahnya dalam teori makroekonomi diartikan sebagai periode ketika inflasi, konstraksi ekonomi, dan resesi terjadi dalam waktu yang bersamaan. Jika saya ringkas, kurang lebih stagflasi kali ini disebabkan oleh serentetan peristiwa mulai dari pandemi yang tak kunjung usai, Russia vs Ukraine War, Supply Shortages, kenaikan harga minyak dunia, hingga pecahnya gelembung bisnis Startup (Startup Bubble Burst).

Per-Juni 2022 meledaknya inflasi di US yang mencapai 9,1%, menjadi angka paling tinggi sepanjang sejarah dalam 41 tahun terakhir sejak Desember 1981. Penyebab inflasi tinggi dimulai dari kisah pemulihan ekonomi secara massif pasca covid mereda di seluruh penjuru dunia, namun apes karena diperparah dengan krisis energi dan pangan secara global akibat konflik perang Rusia Vs Ukraina. Inflasi tinggi di US memicu kenaikan harga barang di dalam negerinya sendiri. Kemudian sebagai konsekuensinya, Federal Reserve System (The Fed) melakukan tapering dengan mengeluarkan senjata paling ampuhnya yakni Interest Rate alias suku bunga. Suku bunga acuan naik hingga menyentuh angka 0,75%, Bank Sentral AS juga mentargetkan akan menaikkan suku bunga secara agresif sampai akhir 2022 hingga mencapai angka 3,4%. Jadi masih ada 1,75 % kenaikan lagi di sepanjang tahun ini. Parahnya, kenaikan suku bunga kali ini ternyata juga terdeteksi sebagai angka paling tinggi sepanjang sejarah dalam 25 tahun terakhir.

Jika suku bunga acuan naik, maka secara otomatis suku bunga negara lain termasuk Indonesia juga ikutan. Rupiah menjadi semakin ter-depresiasi dengan melonjaknya harga hampir pada semua kebutuhan pokok. Saya masih jelas mengingat saat penyanyi asal Indonesia Raisa jadi trending topik di Twitter karena postingan Instagram dia tengah shock melihat jumlah total rupiah yang harus dibayarkan seusai mengisi bahan bakar. Bayangkan saja penyanyi sekelas Raisa dengan bayaran 2 digit sekali perform aja nyebut, apalagi mereka yang berada di kalangan middle class ke bawah. Seketika postingan ini menjadi bahan guyonan para anggota jam’iyyah at twitteriyyah. Belum lagi kenaikan harga sembako seperti cabe dan temen-temennya yang membuat para buibu semakin rewel turut memperkuat signal bahwa inflasi di bumi ini sudah sangat tidak sehat, di samping drama perang Rusia vs Ukraina yang belum tau kapan ujungnya serta covid yang masih setia banget menemani kita. Jika ini terus berlanjut, maka supply shortages atau gangguan produksi pada rantai pasokan pangan maupun energi akan semakin terganggu.

Baca juga  Perkuat Moderasi Beragama dengan Menghindari Penistaan Agama

Secara garis besar, jika inflasi tinggi dan suku bunga naik, biasanya akan berdampak negative pada asset dengan high risk meski tidak semuanya. Harga asset seperti saham, kripto justru turun alias rontok dan terjun bebas. Belum lagi, NFT yang digadang-gadang jadi asset digital baru, sekarang mulai ditinggalkan basic customer-nya. Volume transaksi di bursa lokal maupun pasar saham US seperti Nasdaq-100 dan NYCE Composite turun signifikan, bitcoin turun hampir 50% di tambah kejadian dari kalangan crypto exchange yakni Celsius tidak bisa withdrawal uang mereka. Serentetan musibah Market Crash ini benar-benar membuat red notif cukup betah mendominasi portfolio saya. Ini semua terjadi karena dalam skala global, prioritas orang untuk membeli sesuatu menjadi bergeser. Dari yang semula berniat mengalokasikan sebagian uangnya untuk berinvestasi tapi terhalang karena harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Jangankan mau beli kripto, beli cabe aja gak jadi karena masih ada bon cabe yang lebih murah, semisal.

Di sinilah penyesalan mulai mengikis kepercayaan diri karena seandainya kemarin-kemarin sedikit lebih hemat pasti hari ini saya mampu membeli lebih banyak asset dengan harga diskon. Ekspresi menyesal ini sama persis saat kita lagi main, kalo jaman dulu ada clash of clans, game online mobile garapan perusahaan Supercell asal Finlandia, tapi pada saat perang kita kalah, karena kurang antisipatif sehingga selip hanya dalam waktu per-sekian detik kemudian harus rela bersabar kembali demi maintenance pasukan maupun amunisi. Deja-vu ini benar-benar membuat saya merasa menjadi panglima perang paling gagal satu dunia persilatan. Ngomong-ngomong, pembaca dari kalangan gamers pasti faham kegusaran saya.

Secara teori, tidak ada namanya resesi yang berlangsung selamanya. Selain dapat membuat banyak orang menjadi miskin, peluang untuk menjadi orang-orang kaya baru saat resesi sangatlah potensial, jika mampu memahami situasinya. Kita semua sangat perlu untuk mengasah skill survive dengan mulai memperluas paradigma berpikir dengan harapan insting dalam mengidentifikasi object pasar predictable menjadi lebih sensitive dan visioner. Di samping bersiap siaga menunggu gejolak resesi lainnya di masa depan yang pasti akan datang kembali.

Baca juga  Tradisi Kupatan, Lebaran Khas Orang Jawa

Terus terang saya memiliki kekhawatiran pribadi tentang masa depan finansial, karena memang telah banyak riset yang membicarakan tentang akselerasi perubahan dan disrupsi dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Bagi saya, mengharap kondisi makroekonomi akan stabil adem ayem hampir mustahil oleh karena frekuensi perubahan semakin dinamis. Sebut saja misalnya seperti krisis, jika dulu jarak temu antara krisis satu dengan yang lain panjang, bisa sampai 100 tahun misalnya. Itu berarti tidak untuk saat ini, bukti kongkritnya adalah habis pandemi datanglah resesi. Selain itu, terlepas dari teori konspirasi atau propaganda lain apapun bentuknya, saya lebih suka dan memilih untuk sibuk memperkuat defense diri sendiri saja. Karena penurunan portfolio masih bisa saya tahan, tapi penurunan pasokan pangan justru menciptakan ancaman kelaparan.

Supply Shortages, Kenaikan Harga Minyak Dunia
Saat terjadi kenaikan harga minyak dunia, Sri Lanka, menjadi bangkrut bersamaan dengan inflasi di US, negara ini sungguh berada dalam posisi yang amat sulit karena krisis pangan dan energi. Berita terbaru bahkan jumlah perempuan PSK naik hingga 30% hanya demi barter untuk memperoleh makanan, listrik padam hingga 13 jam sehari. Bayangkan bagaimana pabrik-pabrik menghidupkan mesin untuk memproduksi produk mereka? Sedangkan mereka harus tetap bekerja dan mencari makan untuk bertahan hidup. Saya tidak sedang memprovokasi, tapi Sri Lanka dengan Debt to GDP Ratio yang mecapai lebih dari 100% benar-benar sudah tidak realistis. Belum lagi inflasi di Sri Lanka yang mencapai 54,6% pada Juni lalu hingga membuat Presiden Gotabaya Rajapaksa kabur ke Singapura karena dikepung masa. Kabarnya, ini semua terjadi karena beberapa penerapan kebijakan yang dinilai absurd hanya demi mengejar popularitas. Salah satu di antaranya adalah kebijakan pemotongan pajak, alih-alih senangkan rakyat, tapi kebijakan populis ini justru menjadi boomerang bagi Sri Lanka.

Pandemi tak kunjung usai, Russia vs Ukraine War
Sedikit flashback saat puncak pandemi lalu, pembatasan kegiatan terpaksa membuat orang stay di rumah. Laju perekonomian pun melambat sehingga pemerintah, mirip seperti fenomena helicopter money yang ada di Film Money Heist memberikan stimulus kepada mereka yang kurang mampu berupa uang tunai. Sedangkan mereka yang berkecukupan juga tetap di rumah dan memilih menggunakan solusi digital untuk tetap bertahan. Saat itu suku bunga turun, atau bisa dibilang uang sedang murah, harga saham pada sektor industry digital melambung tinggi. Para investor pada Raksasa Start-Up dalam bidang teknologi seperti Netflix, Google, dan Nvidia bahagia banget. Tapi masalahnya, saat pandemi pasokan pangan dan kebutuhan lain masih sangat tersedia, hanya saja mobilitas yang dibatasi. Lalu saat covid mereda, kebijakan pembatasan kegiatan mulai longgar dan orang-orang mulai keluar rumah sehingga terjadilah revenge buying. Tapi pada saat yang sama produsen menjadi tidak siap. Sebut saja satu contoh cerita startup buble burst adalah shopee bakal layoff massal karyawan untuk menghemat cost awal juli lalu.

Baca juga  Pijat Tradisional yang Masih Melekat di Masyarakat

Lebih mudahnya begini, ukraina menjadi salah satu negara pemasok gandum terbesar di Indonesia. Karena kondisi masih konflik maka impor gandum menjadi terhambat. Meski kita terbiasa makan nasi, bagaimana jika produsen beras yang mengkonsumsi gandum? Bagaimana jika cilok tidak lagi eksis karena bahan bakunya yang terbuat dari tepung terigu dan berasal dari biji gandum menjadi mahal atau bahkan langka? Bagaimana nasip empek-empek, gorengan, dawet dan jajanan favorit orang Indonesia lainnya? Serta bagaimana nasib penjual jajanan tersebut? Ini hanya contoh kecil sebab rantai kebutuhan hidup ini berjalan terus hingga level tersier.

Ekonomi Indonesia
Kementrian keuangan menyatakan bahwa Indonesia tidak sedang dalam Current Account Deficit. Maksudnya, angka pertumbuhan ekspor lebih tinggi dari pada angka pertumbuhan impor. neraca perdagangan kita surplus dalam waktu 19 bulan berturut-turut. Ini juga berarti cadangan devisa kita tinggi sehingga pada saat terjadi market crash skala global seperti sekarang kita tetap memiliki resilience meski dalam guncangan.

Bagi saya pribadi, memang juga terasa berat saat kebijakan kenaikan BBM diterapkan beberapa waktu lalu. Tapi saya percaya semua ini adalah apa yang disebut Blessing Disease (penyakit berkah). Kira-kira ini semacam imunisasi penguat tubuh. Di awal memang demam atau bahkan sakit , tapi dalam waktu 10 tahun ke depan anda akan mulai menyadari bahwa satu- satunya strategi bertahan untuk melawan resesi yaaaa bergerak ke atas. Bukan membaur terlalu lama dengan sesuatu yang terjadi ditengah kerumunan.

Saham Asing (Sharing untuk Investor Pemula)
Tidak ada seorangpun yang dapat memprediksi kondisi makroekonomi global, jangan mengandalkan robot apalagi fomo asal serok sana sini, fokus saja riset dan pantau terus perusahaan dimana uang anda ditempatkan.

Sedikit sharing, saya memiliki portfolio saham asing dengan Tesla masuk dalam salah satu list. Perusahaan asing ini menjadi favorit saya sekaligus layak dipantau hingga akhir tahun karena masterplan long term yang dimiliki. Setelah memproduksi mobil sport, tesla mentargetkan untuk dapat membuat mobil listrik dengan harga lebih terjangkau agar bisa dipakai semua orang.

Sembari memproduksinya, tesla juga menyediakan opsi pembangkit tenaga listrik dengan zero emission. Meski harus pakai dollar untuk membeli saham perusahaan ini, tapi bagi saya itu sepadan karena relevan dengan tujuan ekonomi hijau dalam masterplan ekonomi syariah. Tapi di luar itu semua, investasi leher ke atas akan tetap menjadi top investment terbaik sebelum melangkah lebih jauh.

(Baca tesla lebih lengkap disini)

Wallahu a’lam Bishawab