Bagikan sekarang

Oleh: Qurrotul Ainiyah, S.Pd.I., M.Sy.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember mengadakan kegiatan diskusi berkala bertajuk ‘Kantin Ilmu’. Kegiatan itu dipusatkan di ruang Laboratorium kampus setempat, Sabtu (19/11/2022).

Kegiatan ini dilakukan secara online dan offline yang dihadiri oleh seluruh dosen tetap Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas). Disebutkan, diskusi berkala ini merupakan kegiatan rutin bulanan yang ke-2. Kegiatan dimaksudkan untuk menghidupkan suasana keakraban antar dosen yang dikemas dalam bentuk diskusi keilmuan. Sehingga diharapkan akan tercipta budaya berpikir kritis dan nalar ilmiah pada disiplin keilmuan bagi sivitas akademika di kampus dakwah ini.

Acara diskusi tersebut dipandu apik oleh Rizqiyah Ratu Balqis, M.Pd dengan menghadirkan dua pemakalah yaitu Rijal Mumazziq Zionis M.H.I dosen prodi Akhwal al- Syakhsyiyyah (AS) dengan memaparkan materi tentang peran pesantren dalam penguatan islamic studies.

Sementara Muhammad Syarofi M.E dosen prodi Ekonomi Syariah (ES) membahas tentang pengaruh strategi bisnis dan keunggulan bersaing terhadap kinerja pemasaran dengan analisis SWOT pada usaha kecil menengah.

Dalam diskusi ini, Rijal berpendapat bahwa sebagai civitas akademik dari kalangan pesantren, seharusnya para dosen dan mahasiswa Inaifas mengembangkan potensi pesantren untuk menguatkan Dirasah Islamiyah di lingkungan perguruan tinggi.

“Salah satu potensi yang perlu diteliti adalah tentang ideologi dan gagasan- gagasan para kiai lokal,” ucapnya.

Selain itu, penulis buku ‘Kiai Kantong Bolong’ ini mencontohkan bahwa sudah ada beberapa peneliti insider yang telah meneliti potensi-potensi yang dimiliki oleh pesantren diantaranya; KH Abdur Rahman Wahid, KH Syaifuddin Zuhri dan beberapa penulis lain tentang pesantren yang bisa dijadikan rujukan oleh penulis tentang kepesantrenan.

Baca juga  Persiapan Menjadi Universitas, INAIFAS Dirikan Empat Prodi

Sedangkan Syarofi memberi paparan tetang strategi dan keunggulan persaingan pemasaran songkok merk “udeng Bali” di Banyuwangi. Dikatakan Syarofi, banyak pelaku usaha songkok di Banyuwangi yang tidak bisa menjalankan usahanya karena penerapan strategi pemasaran yang kurang tepat.

“Sehingga kompetitif dalam penjualan semakin rendah,” ujarnya.

Diskusi semakin seru ketika memasuki tanya jawab. Peserta nampak antusias dalam mengomentari dan bertanya tentang tema peran pesantren dalam menguatkan Dirasah Islamiyah dan keunggulan pemasaran songkok di Banyuwangi.

Pada kesempatan itu, Wakil Rektor I Dr Asnawan, M.S.I turut mengikuti kegiatan diskusi ini secara offline berharap agar kegiatan tersebut terus eksis dan semakin banyak dosen yang terlibat.

“Supaya mentradisikan diskusi dikalangan dosen dapat menguatkan studi keilmuan masa lalu dan perkembangan ilmu masa kini,” kata Asnawan.

Sementara Ahmad Zuhairuz Zaman Wakil Rektor IV juga berharap diskusi ini dapat menambah literatur pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu.

“Karena kegiatan diskusi ini melibatkan lintas keprodian dan menjadi wadah inspirasi menulis bagi dosen,” tandasnya.