Bagikan sekarang

Hari pertama (27/07/2022) setelah penerjunan kegiatan PkM-BR, Posko 13 INAIFAS Kencong Jember hadiri undangan seminar yang bertema “Sosialisasi Penanggulangan Pernikahan Dini”. Agenda ini dipusatkan di Desa Purwoasri dengan menghadirkan narasumber Akhmad Rudi Masrukhin M.Pd., Dosen Prodi BK-PI INAIFAS.

Kepala Desa Purwosari Saiful Bahri menjelaskan diantara permasalahan yang dihadapi desa Purwoasri adalah tingginya kasus pernikahan dini. Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu upaya yang bisa dilakukan yaitu dengan mengadakan sosialisasi penanggulangan pernikahan usia dini.

Hal ini bertujuan sambung Saiful untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat, bahwa pernikahan dini akan membawa beberapa resiko sekaligus dampak negatif.

“Karena pernikahan sejatinya bukan hanya soal suka sama suka saja, namun ada banyak pertimbangan lain yang harus dipersiapkan dengan matang. Untuk itulah, pemerintah mengatur undang-undang tentang usia ideal pernikahan,” urainya.

Sementara Ketua Panitia Febbiyah Fernanda mengungkapkan tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk meminimilasir angka terjadinya pernikahan dini, yang marak dilakukan oleh sebagian masyarakat desa Purwoasri ini, bahkan kadang mereka tidak menghiraukan dan mempertimbangkan dampaknya.

“Pernikahan usia dini seringkali terjadi, di kalangan masyarakat pedesaan, beberapa penyebab utamanya yaitu karena rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat, dorongan orang tua maupun kemauan anak itu sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, neskipun dalam ajaran Islam, pernikahan dini tidak dilarang, selama sesuai dengan ketentuan-ketentuan pernikahan yang dianggap sah oleh agama, namun ada beberapa resiko yang perlu dipertimbangkan oleh masyarakat yang hendak melakukan. Karena pada umumnya pernikahan dini tersebut dilakukan tanpa adanya kesiapan dari aspek kesehatan, mental emosional, pendidikan, sosial, ekonomi, dan reproduksi yang akan dihadapinya.

“Sehingga hal tersebut, bisa menjadi pemicu tingginya angka perceraian, karena pola pikir yang belum sepenuhnya dewasa,” imbuhnya.

Baca juga  Kerjasama INAIFAS dengan Yayasan Nurul Hayat Surabaya

Disebutkan adapun batas usia yang diizinkan untuk menikah oleh pemerintah adalah usia 19 tahun. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan UU. No 16 tahun 2019 pasal 7 ayat 1. Sayangnya, aturan itu sering diabaikan oleh masyarakat, bahkan mereka rela memalsukan usia putra-putrinya demi segera menikah.

Selain itu, bagi kebanyakan orang tua di desa pernikahan dini bukanlah masalah, karena mereka berfikir mau sekolah tidak ada biaya, lebih baik menikah saja. Jalan pintas seperti itulah yang sering diambil oleh orang tua.

Sementara Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd menyampaikan penyebab lain dari pernikahan dini yaitu maraknya pergaulan bebas, antara laki-laki dan perempuan, sehingga terjadi perzinaan yang sulit ter-elak-kan, ambisi memadu kasih yang hanya didorong hawa nafsu, dan MBA (Married by Accident) yang merupakan istilah dari pernikahan secara paksa sebab kecelakaan hamil sebelum adanya ikatan sah.

“Padahal usia Ideal pernikahan bagi pria adalah usia 25 tahun dan wanita usia 21 tahun. Maksud dan tujuan pendewasaan usia pernikahan, bukan hanya sekedar menunda pernikahan sampai usia tertentu saja, tetapi juga mengusahakan kehamilan pertama terjadi pada usia yang ideal, sehingga bisa memberikan hak asuh pada anak dengan sempurna,” jelas Rudi.

Menurutnya hal semacam inilah yang perlu diperhatikan oleh generasi muda demi kelangsungan kualitas pendidikannya, sebab hanya 5,6% anak yang menikah usia dini bisa melanjutkan sekolah. Kebanyakan mereka tidak mengenyam pendidikan tinggi karena pernikahan dini.

“Ingat, kesempatan tidak akan pernah datang untuk dua kali,” tandasnya.

Disebutkan pula, mungkin sebagian remaja beranggapan, dengan pernikahan semua masalah akan terselesaikan, namun nyatanya justru mendatangkan dampak negatif pada kesehatan reproduksi bagi wanita yang hamil di usia dini, seperti terjadinya kanker pada leher rahim, trauma fisik berupa kesakitan pada organ intim, kehamilan beresiko tinggi (kematian ibu, prematur).

Baca juga  Puluhan Guru Madin Ikuti Seleksi Beasiswa di INAIFAS

Hamil di usia dini, dari aspek ekonomi juga mempunyai dampak negatif seperti; sulitnya memperoleh penghasilan yang layak, akhirnya keluarga menjadi beban perekonomian yang cukup berat, sehingga memicu perceraian, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan primer keluarga.

“Jadi, usia sangat berpengaruh terhadap mindset atau pola pikir dan komitmen dalam pernikahan. Dan usia kematangan biasanya lebih cepat terjadi pada wanita,” tegasnya.

Masih dikatakan, bagi yang sudah terlanjur menjalani pernikahan usia dini, harus dapat belajar memahami hakikat pernikahan, sehingga mampu meminimalisir dampak dari pernikahan dini, seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga dan lain-lain.


Laporan Posko 13 Desa Purwoasri. DPL: Nur Jannah, M.Pd.