Bagikan sekarang

Uliyatul Mu’awwanah, M.E.IKaprodi Ekonomi Syariah INAIFAS Kencong Jember

Sering kali saya ditanya soal keuntungan saat menjadi investor. Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya tidak sesimpel yang kita pikirkan. Sebab, investasi bukan melulu soal duit yang diperoleh saat seseorang memutuskan untuk berinvestasi, melainkan lebih dari itu. Kenapa demikian? Oke kita bedah satu persatu.

Pertama, terminologi investasi membicarakan keuntungan di masa depan, bukan real time. Sedangkan kecenderungan manusia untuk dapat kaya secara instan nyaris menjadi faktor penghambat tingkat signifikansi ketercapaian tujuan investasi itu sendiri. Investasi bukan soal penghasilan tapi tentang kesediaan individu dalam menahan diri untuk tidak menghamburkan harta tanpa memikirkan efek jangka panjang. Masih ingat kisah Nabi Yusuf Alaihissalaam saat Mesir dilanda paceklik ekstrem? Kesuksesan Nabi Yusuf dalam menstabilkan ketahanan pangan membuatnya diangkat menjadi bendahara negara. Berkat skill ekonom futuristik yang ia miliki, Nabi Yusuf berhasil mengambil langkah prediktif dan solutif atas tindak lanjut dari pentakwilan mimpi sang raja yang melihat 7 ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina kurus serta takwil atas mimpi 7 butir gandum hijau sedang 7 butir lainnya kering.

Di era Nabi Yusuf, mimpi dapat dijadikan sebagai suatu isyarat pengetahuan yang dapat di benarkan sehingga kemudian ia memerintahkan untuk bercocok tanam 7 tahun lamanya sebagaimana biasa, kemudian tidak mengkonsumsi hasil panennya kecuali sedikit. Tidak hanya itu, Nabi Yusuf sebagai arsitek perekonomian Mesir juga mengambil langkah stategis dalam menangani krisis pangan dengan membangun gudang penyimpanan/lumbung alias bulog kalau dalam istilah sekarang. Hingga suatu ketika mengeringlah Sungai Nil dan Mesir dilanda kekeringan parah 7 tahun lamanya. Namun berkat kecermatan Nabi Yusuf, krisis ini bisa diantisipasi dan diberi solusi.

Baca juga  Keterkaitan Haji dan Menikah di Bulan Dzul Hijjah

Kisah ini masyhur di kalangan para ekonom muslim dan diabadikan dalam al-Qur’an (lebih lanjut lihat Tafsir QS. Surat Yusuf 47-49). Dari kisah ini kita dapat melihat bahwasanya resesi ekonomi dapat diminimalisir dengan cara investasi. Masa pandemi saat ini misalnya, mereka yang tidak membiasakan untuk berinvestasi sedari dini akan menjadi kaum paling terdampak karena kemungkinan tidak ada pemasukan lain.

Lebih dekat lagi, ada Ali Wardhana Menteri Keuangan Republik Indonesia (1968-1983). Ketika menjabat sebagai orang nomor satu di keuangan negara, fenomena Oil Boom (1973) harusnya bisa menjadikan Indonesia sebagai negara kaya raya saat itu karena harga minyak bumi melonjak tinggi. Namun tak seperti negara penghasil minyak lainnya, Ali Wardhana justru mencium gelagat tak menyenangkan dari euphoria tersebut. Baginya, Indonesia tidak bisa hanya berpangku pada hasil penjualan minyak. Jika negara penghasil minyak lainnya memanfaatkan momen tersebut dengan menguatkan mata uang, Ali justru mampu memprediksi lebih jauh karena menurutnya jika ekspor dibiarkan terlalu lama dijual dengan harga tinggi maka daya saing komoditas akan melemah di mata perkenomian global.

Pendapatan negara dari hasil penjualan minyak justru ia investasikan pada sektor fundamental seperti pendidikan, infrastruktur, kesehatan dan manufaktur. Hingga suatu saat, terjadilah tragedi Dutch Disease (1986), saat harga minyak bumi jatuh. Negara penghasil minyak seperti Iraq, Nigeria dan Venezuela berada di ambang kebangkrutan, sementara perekonomian Indonesia tetap stabil. Ini juga menjelaskan bahwa prediksi Ali terbukti presisi. Ia mengajarkan setiap individu pelaku ekonomi haruslah memiliki determinasi serta Leadership Finance yang berani say no atas penawaran/ iming-iming untung banyak, misalnya dengan melakukan penerawangan di masa depan demi agar terhindar dari kolaps.

Baca juga  Jamaah Haji, Investasi Syariah dan Idul Qurban

Kedua, instrumen investasi selalu mengarah pada Tangible maupun Intangible Asset (berwujud dan tak berwujud) serta jauh dari sifat Less Valuable seperti crypto, saham, obligasi, reksadana, properti, tanah, copyright, perjanjian waralaba, merek dagang, godwill dan seterusnya. Ketika instrumen tersebut diperjualbelikan maka masuk pada ranah trading. Trader berbeda dengan investor. Aktivitas trading yang mentraksasikan asset dengan valuasi tinggi tetaplah jual beli/ perdagangan/ perniagaan. Sedangkan jual beli ialah salah satu jalan menuju keberkahan, bahkan Rasulullah Muhammad juga melakukannya. Jika ingin untung dalam waktu singkat lakukanlah jual beli karena jika pintu rejeki ada 10, maka 9 di antaranya terdapat pada berdagang di samping berternak dan lainnya. Dari sini kita bisa lihat semakin jelas bahwa trading dan investasi itu berbeda.  

Sejujurnya, saya tidak tahu detail penyebab orang salah dalam memahami investasi. Hanya saja kecurigaan saya mengarah pada Syndrome Fear of Missing Out atau biasa disebut FOMO. Penyakit ini merupakan suatu perasaan cemas jika seorang individu ketinggalan tren. Parahnya, sindrom ini juga telah menyerang para trader maupun investor. Mereka kehilangan kontrol emosi dalam aktivitas transaksi jual beli maupun investasi sehingga menjadi serakah kemudian melupakan resiko yang harus ditanggung. FOMO berbanding lurus dengan Herding Behavior karena perasaan cemas takut ketinggalan akan menimbulkan perilaku irrasional. Mereka cenderung melakukan transaksi atas dasar insting ikut-ikutan tanpa disertai analisis intensif. Alhasil, ikut-ikutan justru akan masuk kategori dilarang sebab menimbulkan unsur gharar/ ketidakjelasan dalam transaksi.

Selanjutnya, kita perkecil dari skala luas/nasional di atas menjadi rumah tangga atau individu. Revenue/ pendapatan bisa diperoleh dari bekerja (jual beli, dll). Kebutuhan bisa dipenuhi dengan membelanjakan pendapatan yang diperoleh. Tapi pengalokasian anggaran tetaplah butuh ilmu seni. Seni berhutang hingga seni bayar cicilan, misalnya. Bagi saya tidak masalah jika kita menghabiskan gaji, tapi ingat habiskan dengan cara terarah dan terukur. Lakukan perencanan, pendayagunaan hingga penilai tambahan pada inputed cost.

Atau mungkin jika kita sedang berada dalam fase defisit, lakukan restructuring anggaran mulai dari renegoisasi hutang misalnya dengan tetap pada target stabilisasi ekonomi. Jangan sampai sindrom FOMO justru menjerumuskan anda para netizen budiman ke dalam korban referral khas Money Games. Sedikit mengencangkan ikat pinggang atau Naleni Weteng, kalau kata orang Jawa, yaitu dengan mulai membelanjakan harta berdasarkan fungsi bukan gengsi.

Baca juga  Tingkatkan Kualitas Dosen, Prodi PBA Gelar Diklat Pembuatan Buku Ajar

Ketiga lesson learned, keuntungan bisa diperoleh dari banyak cara. Jika mau, kita bisa memulainya from any start. Karena investasi terbaik adalah yang dicari, bukan yang ditawarkan. Jika tak punya asset/ harta untuk diinvestasikan mulailah dari investasi terhadap diri sendiri dengan mengisinya dengan pengetahuan-pengetahuan yang leverage. Karena investasi lebih ke pada defense atau keputusan untuk bersikap antisipatif atas berbagai ketidakpastian yang akan dihadapi di masa mendatang.

Akhir kata, tulisan ini tidak bermaksud menggurui dan bukan berarti sayalah orang yang paling tepat sasaran dalam mendistribusikan harta. Tapi kadang, flash sale di Shopee 12.12 misalnya juga akan meng-ijo-kan mata, kemudian jiwa shopaholic pun meronta. Tapi minimal sedikit sharing bisa menjadi semacam rem atau kendali bagi kita semua.

Terimakasih Semua. Happy Shoping…!