Bagikan sekarang

Oleh: Zaenuri, M.Pd (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab INAIFAS)

INDENTITAS BUKU

Judul             : UQUUDU LUJAIN FII BAYAANI  HUQUUQUZ ZAUJAINI

Penulis          : SYEKH NAWAWI BIN UMAR AL-BANTANI AL-JAWI

Genre           : Hak-Hak  Suami Isteri

Kitab UQUUDU LUJAIN FII BAYAANI  HUQUUQUZ ZAUJAINI menguraikan hubungan antara suami dan isteri dan berbagai hak keduanya. Buku ini sangat cocok untuk dijadikan pedoman hidup menuju keluarga sakinah, mawaddah. warahmah.

Pada pembahasan yang pertama kitab ini menjelaskan hak-hak istri. Di antaranya, suami harus memenuhi kebutuhan sandang pangan kepadanya, sebagaimana dia (suami) memenuhi kebutuhan logistiknya, larangan melakukan kekerasan fisik seperti menampar wajah, serta tidak menjelek-jelekkannya.

Hendaknya seorang suami selalu memperhatikan nafkahnya sesuai dengan kesanggupannya. Hendaknya suami selalu bersabar jika menerima cercaan isterinya, atau perlakuan-perlakuan tidak baik lainnya. Hendaknya suami mengasihani isterinya, yaitu dengan bentuk memberi pendidikan secara baik, Barang siapa bersabar atas keburukan perilaku istrinya maka Allah S.W.T akan memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan Allah S.W.T kepada Nabi Ayyub AS atas cobaan yang diterimanya. Dan barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan suaminya maka Allah S.W.T memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan kepada Asiyah istri Fir’aun.

Dan pada pembahasan ini juga disebutkan pengajaran yang harus didapat sang istri dari suaminya. Hendaknya seorang suami selalu menuntun isterinya pada jalan yang baik. Memberi pendidikan kepadanya berupa pengetahuan agama (Islam), meliputi hukum-hukum bersuci (thaharah) dari hadats besar. Misalnya tentang haid dan nifas, juga dalam masalah ibadah. Meliputi ibadan fardhu (wajib) dan sunnahnya. Pengetahuan tentang shalat, zakat, puasa dan haji, dan sebagainya.

Pada pembahasan yang kedua kitab ini menguraiakan hak hak suami dengan uraian sebagai berikut: Sebaik-baik istri adalah apabila dipandang oleh suaminya menyenangkan, mentaatinya, juga kalau suaminya pergi dia menjaga hartanya. Bagaimana jika seorang isteri berakhlak buruk kepada suaminya? Menurut Syekh Nawawi al-Bantani, penulis kitab ini, hal tersebut bagaikan orangtua renta yang memikul beban berat. Sedang isteri yang menyenangkan suami dan menimbulkan ketenangan di hatinya, maka itu ibarat mahkota yang dilapisi emas.

Selain itu, Syekh Nawawi al-Bantani juga menyertakan kewajiban isteri terhadap suami, antara lain:

  1. Memiliki sikap pemalu di hadapan suami sepanjang waktu.
  2. Merendahkan pandangannya di hadapan suami.
  3. Mentaati apa yang diperintah suami.
  4. Menyongsong kedatangan suami dan mengantarkannya ketika keluar rumah.
  5. Menampakkan rasa cinta dan bergembira di hadapannya.
  6. Menyerahkan dirinya secara penuh di sisi suaminya ketika di tempat tidur.
  7. Memperhatikan kebersihan mulutnya dan menggunakan wewangian.
  8. Berpenampilan menarik di hadapan suami dan tidak berhias jika suami sedang pergi.
Baca juga  Sambut Mahasiswa Baru Pascasarjana, INAIFAS Gelar Orientasi

Selain itu, penulis kitab ini juga menyertakan warning: seandainya seorang istri waktu malam beribadah kepada Allah SWT dan siangnya selalu berpuasa, sementara suaminya mengajak dia tidur bersama (jima’) tetapi dia terlambat memenuhi panggilan (ajakannya), maka kelak di hari kiamat ia datang dalam keadaan terantai dan terbelenggu, serta ia dikumpulkan bersama setan di neraka yang paling bawah. Bilamana seorang isteri yang diajak suaminya bersetubuh, lalu dia mengulur-ngulur waktu hingga suaminya tertidur, maka dia terlaknat. Apabila seorang istri bermuka masam di hadapan suaminya maka ia berada dalam kemurkaan Allah hingga ia tersenyum kembali dan berusaha meminta keridhoannya. Dan mana saja isteri yang keluar rumahnya tanpa mendapat restu suaminya maka ia dilaknati para malaikat hingga kembali. Dan, apabila seorang istri berkata pada suaminya : “Sama sekali aku belum pernah melihat engkau berbuat baik”, maka Allah SWT memutuskan rahmat baginya kelak di hari kiamat. Apabila seorang istri yang menuntut cerai suaminya tanpa ada perkara yang memperbolehkan (alasan yang jelas), maka haram baginya menikmati bau harumnya surga.

Adapun pada bagian yang ketiga, kitab ini menjelaskan tanggung jawab suami istri dengan uraian bahwa, pertama kali yang tanyakan pada isteri di hari kiamat adalah tentang shalatnya dan suaminya. Begitu juga bagi suami, kelak yang ditanyakan pertama kali mengenai shalatnya, kemudian tentang istrinya dan perkara-perkara yang yang lain. Dengan demikian, masing-masing memiliki tanggungjawab berat sebagai pribadi yang kelak semua perbuatannya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah S.W.T.

Di sisi lain, penulis kitab juga menyertakan empat kriteria wanita yang masuk surga, yaitu:

  1. Istri yang memelihara kesucian (kehormatan dirinya).
  2. Menaati suaminya, banyak anaknya, penyabar, menerima apa adanya.
  3. Mempunyai rasa malu.
  4. Kalau suaminya sedang pergi dia memelihara dirinya dan harta suaminya
Baca juga  PENTINGNYA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS KEBUDAYAAN ISLAM

Sedangkan empat macam wanita yang masuk neraka:

  1. Istri yang berlisan buruk pada suaminya.
  2. Kalau suaminya sedang pergi ia tidak menjaga kehormatan dirinya.
  3. Istri yang berani pada suami.
  4. Isteri yang membebani suaminya dengan beban yang tidak sanggup dipikulnya.

Pada bagian ini juga dibahas tentang berbagai pahala istri sebagaimana berikut: Apabila seorang istri sedang hamil, maka para malaikat memohonkan ampunan untuknya, dan setiap harinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah SWT mencatat pahala baginya seperti pahala orang orang yang berjihad di jalan Allah SWT. Apabila telah melahirkan, maka dibebaskan dari segala dosa. Apabila seorang istri yang tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang. Ketika seorang istri mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatat untuknya memperoleh seribu kebajikan dan mengampuni seribu keburukannya, meninggikan seribu kali derajat untuknya dan semua makhluk yang berada di bawah sinar mentari memohonkan ampun untuknya. Dalam bab ini, Syekh Nawawi juga menyertakan ulasan siksa bagi kaum wanita yang durhaka.

Pengarang kitab juga menyertakan beberapa hal yang harus dilakukan seorang istri, yaitu:

  1. Mudah menerima keadaan (qana’ah), berbakti dan mentaati suami.
  2. Hendaknya seorang istri menjadi sebagai perempuan yang selalu didambakan dan dirindukan lantaran tatapan mata dan ciumannya.
  3. Ketika bercumbu mesra dengan suaminya dalam selalu keadaan harum melekat dalam dirinya.
  4. Hendaknya seorang istri selalu memperhatikan waktu makan dan tidur suaminya.
  5. Hendaknya seorang istri pandai pandai memelihara harta dan rahasia keluarga suami yang dapat mempermalukan dirinya.
  6. Hendaknya seorang istri jangan menentang perintahnya, dan jangan suka menyebarkan rahasia suami.

Sedangkan pada bab kelima, pengarang membahas tentang yang relasi antara laki laki dan perempuan. Diharamkan bagi kaum lelaki memandang kaum wanita yang bukan mahramnya, begitu juga kaum wanita melihat kaum lelaki yang bukan mahramnya. Juga dibahas aturan relasi pria-wanita dan jebakan-jebakan setan yang rawan muncul dari keduanya.

Baca juga  Anak Muda Menabung Saham, Mengapa Tidak?

Sedangkan pada bagian yang keenam dibahas cara membentuk rumah tangga islami. Dalam Islam pernikahan itu mempunyai nilai yang sangat suci, agung dan sakral. Suami sebagai qawwam (pemimpin) dan istri sebagai ribatul bait (pengatur) rumahtangga. Setelah Ijab kabul selesai diucapkan, maka konsekwensinya:

  1. Yang awalnya haram menjadi halal.
  2. Terjadilah pemindahan tanggung jawab seorang wanita dari orang tua/wali ke suaminya.
  3. Keikhlasan seorang wanita dipimpin oleh suami dan taat pada suami.

Pada bagian ini juga dibahas tentang rumah tangga yang Islami dan tipenya:

1. RUMAH TANGGA BISNIS

Pada awal dibinanya rumah tangga ini telah dihitung-hitung berapa keuntungan materi yang akan diperoleh. Bila aku menikah dengan si fulan, tabunganku akan bertambah saat dan setelah menikah. Apa pasanganku nanti dapat menambah hartaku atau malah akan mengurangi. Dan bila kami nanti punya anak, berapa anak yang kira-kira dapat menguntungkan usaha yang kami jalankan saat ini.

2. RUMAH TANGGA “BARAK”

Yang terdengar dari rumah tangga ini hanya perintah-perintah atau komando-  layaknya jendral kepada kopralnya. Bila si kopral tidak melaksanakan atau lalai menjalankan tugas, maka konsekwensinya adalah hukuman.

3. RUMAH TANGGA “ARENA TINJU”

Bila suami dan istri merasa memiliki derajat, kekuatan dan posisi yang setara serta pendapatnya. Bila ada perbedaan atau salah faham, maka dimulailah “pertandingan” yang cekcok, baku hantam atau baku UFO (piring terbang). Masing-masing berusaha mencari kemenangan dengan berbagai cara. Tidak ada kata damai sebelum salah satunya menyerah.

5. RUMAH TANGGA ISLAMI

Di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam,. Mereka saling mencintai karena Allah, saling menasehati. Setiap anggota betah tinggal di dalamnya karena ada suasana sakinah, mawaddah dan rahmah. Keluarga ini bagaikan surga dunia, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: baiti jannatii artinya Rumahku adalah Surgaku. Karena di dalamnya penuh dengan kedamaian yang sejati.dan didasarkan pada nilai-nilai Islami.

Bagi suami istri yang ingin kelurganya menjadi kelurga islami dan kelurga yang sakinah, mawaddah, warahmah buku ini cocok untuk dipelajari.Wallahu A’lam Bisshawab