Bagikan sekarang

Oleh: Zaenuri, M.Pd (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab INAIFAS)

INDENTITAS BUKU
Judul             : QURROTUL UYUN SYARAH NAZHAM IBNU YAMUN
Penulis          : ABU MUHAMMAD QASIM BIN AHMAD BIN MUSA IBNU. YAMUN ATTALIDI AL AKHMASI 
Ganre : Seputar Tentang Nikah dan Tatacara  Berhubungan Suami Isteri

Kitab QURROTUL UYUN SYARAH NAZHAM IBNU YAMUN menguraikan masalah hubungan seksual antara suami dan isteri. Buku ini menguraikan topik topik seksual antara pasangan rumahtangga dari segi posisi, ekita dan tatacara saat melakukan hubungan intim antara suami isteri. Buku ini sangat cocok untuk dijadikan pedoman dan konsep seksual Islami.

Pada bagian pertama, pengarang menjelasakan seputar pernikahan dan ruang lingkupnya. Di antaranya: hukum dan rukun nikah, anjuran menikah, kedudukan wanita dalam Islam, keutamaan dan manfaat menikah, akibat menyalahkan tujuan pernikahan, jenjang pernikahan, dan juga walimatun nikah. Tentu saja hal ini harus diperhatikan seorang untuk menuju terciptanya kelurga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Penulis kitab memberikan saran, pengantin putri ketika memasuki hari ketujuh dari pernikahannya, dilarang makan cuka dan memakan makanan yang pahit-pahit, seperti turmus, zaitun, dan kacang-kacangan, dan makanan yang asam seperti susu, buah-buahan yang rasanya asam, karena itu semua dapat mematikan syahwat dan menyebabkan orang tidak bisa hamil.

Sedangkan bahasan lain yang menarik dimulai dari malam pertama. Hendaknya suami istri pada saat menjelang malam istimewa ini melarang seseorang berhenti di dekat pintu kamarnya, agar orang itu tidak mengganggunya saat ia bercinta dengan istrinya. Juga hendaknya suami selalu berupaya untuk merangkai susunan bahasa dan tutur kata yang baik dan indah ketika berbicara dengan istrinya, sehingga keresahan dalam batin istrinya akan hilang. Hal ini dilakukan karena lazimnya seorang istri dihantui pertanyaan klasik, “Apakah senggama itu sakit atau nikmat?” Perasaan itu jelas terbaca di wajahnya. 

Penulis kitab ini juga menganjurkan, sebaiknya suami selalu menjauhi makanan yang dapat mematikan (melemahkan) syahwat, seperti mentimun, waluh, kedelai, gandum, dan makanan yang masam, juga bawang, dan sebagainya. Hal ini merupakan saran yang baik agar keharmonisan rumahtangga yang dipengaruhi urusan ranjang bisa terjaga stabilitasnya.

Pada bagian kedua diuraikan bahwa sewaktu akan memulai bersenggama, suami hendaknya meletakkan tangannya pada leher istrinya atau dengan kata lain suami merangkul istrinya. Kemudian membaca: Ya Raqiibu sebanyak 7 kali dan dilanjutkan dengan Fallaahu khairun haafidhan wahuwa arhamur raahimiin. Selepas itu hendaknya suami juga membasuh kedua tangan dan kaki istri dengan air pada satu wadah. Suami membaca Asma Allah Swt. dan shalawat Nabi Saw. kemudian air bekas membasuh itu disiramkan ke setiap sudut rumah. Sebab ada keterangan bahwa melakukan hal itu dapat menghilangkan kejelekan dan pengaruh setan.

Baca juga  Sambut Mahasiswa Baru Pascasarjana, INAIFAS Gelar Orientasi

Adapun pada bagian ketiga, penulis menerangkan sebagian tata cara dan tatakrama bersenggama yang ideal serta apa saja yang berhubungan dengan proses percintaan ini. Di antaranya suami tidak menggauli istrinya dalam keadaan masih menggunakan pakaian. Suami hendaknya melepas semua pakaian istrinya, lalu berseggama dalam satu selimut dan juga sebelum berseggama, hendaknya melakukan pemanasan dengan  meraba, merangkul, dan mencium selain mata istrinya. Tidak lupa ia menyebut nama Allah ta’ala, dan juga hendaklah ia berdoa agar dijauhkan dari “campur tangan” setan.

Tips Agar Suami Istri Mendapatkan Kenikmatan Luar Biasa

Ketika suami akan melakukan senggama, hendaklah tangan kirinya memegang zakarnya lalu mengusap ngusapkan kepala zakarnya di atas bibir vagina istrinya. Setelah itu baru zakarnya dimasukan ke dalam vagina istrinya. Ketika sudah merasakan akan ejakulasi, maka hendaklah ia memasukan tangannya ke bawah pinggul istrinya, kemudian ia angkat pinggul istrinya. Maka sesungguhnya suami istri akan merasakan kenikmatan yang sangat yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.

Dalam Teknik lain, penulis juga menyarankan, hendaklah seorang istri menjepit zakar suaminya dengan vaginanya ketika suaminya ejakulasi dengan jepitan yang kuat. Karena hal itu dapat membuat suami merasakan sensasi kenikmatan yang begitu besar. Hanya saja, penulis kitab memberikan warning: bagi suami jika melakukan senggama dengan istri yang masih perawan janganlah sampai mengeluarkan maninya di luar vagina istrinya (mengeluarka zakarnya dari lubang vagina istrinya sebelum keluar mani atau yang disebut ‘azl).

Ejakulasi Suami Istri

Apabila seorang suami lebih dahulu keluar mani, maka dianjurkan bagi suami jangan mencabut zakarnya sampai istrinya keluar air mani jug. Apabila seorang istri lebih dahulu keluar mani, maka dianjurkan bagi sang suami untuk segera mencabut zakarnya, karena bila ia tidak lekas mencabut zakarnya, maka sang istri akan merasakan sakit. Dan tanda tanda keluar maninya seorang wanita itu adalah keningnya berkeringat dan dekapannya kepada suaminya bertambah kuat, dan sebagian dari tanda tanda yang lain adalah lemas persendiannya, dan ia malu untuk memandang suaminya dan terkadang bisa membuat ia gemetar. Berkumpulnya sperma laki laki dan air mani perempuan itu dapat menyebabkan bertambahnya rasa cinta. Demikianlah menurut penulis kitab.

Baca juga  Bolehkan Orang Kaya Menerima Daging Kurban Wajib ?*

Pada bagian yang keempat, pengarang menjelasakan waktu bersenggama. Waktu tepat yang disunnahkan dilakukan pada malam jum’at dan malam senin, tapi ketika istrinya haid atau nifas maka istrinya tidak boleh dijima. Adapun malam yang hendaknya dihindari untuk bersenggama di dalamnya adalah malam Idul Adha, malam akhir dari setiap bulan, dan malam pertama dari setiap bulan.

Di sisi yang lain, mushonnif menjelaskan berbagai kondisi yang hendaknya dihindari untuk bersenggama, yaitu:

  1. Dalam keadaan sangat haus, lapar dan marah.
  2. Dalam keadaan sangat gembira
  3. Dalam keadaan kenyang
  4. Dalam keadaan kurang tidur
  5. Dalam keadaan banyak fikiran.
  6. Dalam keadaan muntaber
  7. Dalam keadaan cercer (sering kencing)
  8. Dalam keadaan baru keluar dari kamar mandi (buang air besar).

Kondisi di atas semuanya harus dihindari, karena akan menghilangkan kekuatan dalam bersenggama.

Pada bagian ini pengarang menjelaskan banyaknya bersenggama (frekuensi) ketika musim kemarau dan musim hujan. Ketika hawa sedang tidak baik, dan ketika wabah penyakit sedang melanda, maka pasangan suami istri hendaknya mengurangi intensitasnya daripada biasanya.

Suami istri bersenggama paling sedikit dua kali dalam setiap Jumat (seminggu/satu pekan), atau paling sedikit satu kali pada setiap jum’at bagi suami yang sanggup melakukannya. Sebaiknya sang suami tidak menjarangkan bersenggama bersama istri, sehingga istri merasa tidak enak badan. Suami juga tidak boleh memperbanyak bersenggama dengan istri, sehingga pasangannya merasa bosan. Seorang suami diperbolehkan bersenggama dengan istrinya sebanyak 4 kali pada malam hari dan 4 kali pada waktu di siang hari, dan sang istri tidak boleh menolak ajakan suaminya tanpa ada uzur. Dan, hendaknya ketika suami istri melakukan jima’ di tempat tersembunyi (tidak dipertontonkan) dan juga merendahkan suaranya ketika bersetubuh.

Sedangkan pada bagian kelima, penulis menguraikan berbagai variasi posisi bersenggama. Semua posisi boleh coba, kecuali bersetubuh pada saat haid, nifas dan melalui dubur (anal seks). Dan posisi yang paling baik adalah istri dalam keadaan terlentang dengan mengangkat kedua kakinya dan suami ada di atasnya. Ketika suami ingin mengulangi jima’ yang kedua kalinya maka hendaknya dia mencuci zakarnya. Ketika suami ingin berjima’ sedangkan istrinya lagi haid atau nifas maka boleh ber-istimta’ (mengeluarkan mani) dengan tangan istrinya. Apabila suami menjima’ istrinya dan belahan jiwanya dalam keadaan tidak bergairah maka hukumnya makruh.

Baca juga  Jamaah Haji, Investasi Syariah dan Idul Qurban

Tempat Tempat yang Harus Dihindari Saat Jima’

  1. Di atas atap rumah
  2. Di bawah pohon yg sedang berbuah.

Tips Mempunyai Anak Laki Laki dan Perempuan

Ketika suami merasakan akan ejakulasi/keluar mani hendaklah dia memiringkan lambungnya yang kanan dan ketika sang suami mencabut zakarnya, maka hendaklah istri memiringkan badannya ke arah kanan. Apabila ingin memiliki anak perempuan, maka saat suami merasakan akan ejakulasi hendaklah dia memiringkan lambungnya yang kiri dan ketika sang suami mencabut zakarnya, maka hendaklah istri memiringkan badanya ke arah kiri. Demikian disampaikan oleh penulis kitab.

Mimpi Jima’, Apa Maknanya?

Di dalam bagian ini juga dibahas tentang mimpi berjima’ yang meliputi tiga bagian, yaitu: karamah (kemuliaan), uqubah (siksaan) dan ni’matun (kenikmatan).

  1. Mimpi jima’ dengan rupa yang diharamkan (yang tidak halal dijima’), maka itu sebagai bentuk siksaan karena mimpi itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang yang meremehkan agama dengan melihat hal hal yang diharamkan agama, serta memikirkannya.
  2. Sedangkan mimpi jima’ tanpa ada rupa (tiba-tiba ketika tidur air mani keluar tanpa didahului dengan mimpi) maka itu suatu kenikmatan yang disebabkan oleh kelebihan air mani di dalam tubuh dan berguna mengeluarkan kotoran kotoran air mani yg dapat menimbulkan syahwat dan ia mendapatkan pahala dari sebab mandi besarnya.
  3. Sedangkan mimpi jima’ dengan rupa yang dibenarkan oleh hukum syara’ (seperti mimpinya suami berjima’ dengan istrinya), maka itu suatu bentuk kemuliaan, karena di dalamnya terdapat kenikmatan tanpa siksaan.

Bagi suami istri yang ingin mendapatkan kenikmatan yang luar biasa pada waktu berjima’, maupun tipe membina keharmonisan dalam berumahtangga, maka kitab ini sangat cocok untuk dipelajari dan diamalkan.Wallahu A’lam Bisshawab