Bagikan sekarang

(Kisah Nyata)

Hari itu terasa begitu melelahkan, usai kegiatan yang satu datang lagi yang lain hingga sore menjelang. Namun, ‘tak menyurutkan semangat 4 dara itu untuk tunaikan janji temu. Mereka duduk bersila di sebuah warung kopi, sangat antusias perbincangan itu karena banyak sekali cerita setelah sekian lama ‘tak jumpa. Selain pesan minuman, 3 di antara mereka memesan makanan. ‘Tak lama kemudian semua pesanan datang, jadilah mereka menyantap bersama, sesekali disela dengan cerita. Kisahnya masih berlanjut, entah tentang soal apa saja dibicarakan.

Setelah ritual makan selesai, salah satu dari mereka mengeluarkan barang yang oleh kebanyakan orang ‘tak seharusnya menjadi milik perempuan. Seketika, Ainun menjadi orang asing di antara mereka.

“Kamu ngerokok?” tanya Dinda dengan mengernyitkan dahi.

“Iya.” Ainun menjawab tanpa ada rasa bersalah apalagi penyesalan.

“Sejak kapan?” Dinda terus memburu Ainun.

“Sudah lama.” Masih ada raut ketidak percayaan di antara wajah yang lain. Mereka harus menerima pemandangan itu meski mungkin hatinya menolak.

“Tenang saja, rokok bagiku bukan segalanya, aku hanya ngerokok di waktu-waktu tertentu saja. Suatu saat kalau suamiku meminta aku berhenti, ya, aku bakal berhenti. Yang segalanya bagiku adalah bagaimana perempuan memperoleh haknya untuk memilih ngerokok. Aku tidak peduli dengan diriku, karena aku bisa kapan saja keluar dari kondisi ini. Tetapi bagaimana dengan perempuan yang sudah tidak bisa keluar atau bahkan memilih bertahan? Aku hanya ingin sosial kita berpandangan sama terhadap perempuan yang seperti itu,” jelas Ainun karena melihat sahabatnya memilih diam dan menonton dengan wajah begitu simpati atau bahkan risih.

“Aku punya kisah perempuan yang seperti itu.” Nana menyela dengan suara lirih dan pandangan kosong.

Mereka semua terdiam, seperti sedang memberikan ruang bagi Nana untuk melanjutkan kisahnya. Sedang Ainun masih dengan selencer rokok yang menyala di tangan kanan.

Baca juga  Pasca Jalani Yudisium, Tiga Demisioner Presma INAIFAS Siap Ikuti Wisuda

Itu terjadi di tahun 2018, ketika aku mendapat tugas magang dari kampus. Aku ditugaskan di sebuah lapas, ini sungguh pengalaman baru yang menakutkan dan penuh kekhawatiran, tapi berakhir dengan kebahagiaan juga.

Ketakutanku bermula di hari pertama, ketika aku mendapat tugas untuk melucuti semua pakaian napi baru. Ini sudah menjadi peraturan mutlak di lapas bahwa setiap napi baru harus dilucuti untuk diperiksa dan dipastikan tidak membawa satu barang pun ke dalam. Pasienku waktu itu seorang perempuan yang sudah tua. Dia terlibat perselisihan surat tanah sehingga menyeretnya sebagai tersangka.

Pemeriksaan aku mulai dengan penutup kepala yang dia pakai, di sana aku menemukan beberapa lencer rokok. Dari sini aku menenukan fakta bahwa Nenek ini merokok. Terlihat sekali di wajahnya raut kekhawatiran itu dan dia memaksa aku untuk mengembalikan rokoknya. Tetapi, seberapa pun dia memohon, ini adalah tugas yang harus aku tunaikan. Jadi, tidak peduli rengekan si Nenek aku lanjut memeriksa bagian badan yang lain.

Tidak ku sangka aku harus menemukan barang yang sama di tempat yang bahkan tidak terpikirkan olehku. Nenek itu juga menyembunyikan rokok-rokoknya di selempitan payu dara, dan selangkangan yang terbungkus celana dalam. Kali ini bukan hanya rengekan, tetapi beliau menangis dan terus memohon kepadaku.

“Tolong, Nak. Berikan saya rokok itu, saya tidak bisa hidup kalau tidak ngerokok.” Kali ini, jiwa kemanusiaanku meronta-ronta, ingin sekali aku membaginya walai hanya se hisap. Tetapi, lagi-lagi aku diperingatkan oleh peraturan yang berlaku. Aku hanya bisa memohon maaf karena tidak bisa mengabulkan permintaan si Nenek.

Setelah tugas selesai aku memberikan laporan kepada polisi wanita yang bertugas kala itu, membiarkan Nenek keluar dari tempat pemeriksaan. Setelah melapor, aku ingin kembali ke ruangan magang. Tetapi, jalanku urung mengambil langkah ketika aku melihat si Nenek itu di pojokan dengan masih menangis dan meratapi dirinya. Aku tidak tega dan menghampiri dia berniat untuk menghibur.

Baca juga  Pentingnya Pengaruh Pesantren Salaf kepada Pemuda di Era Modern

“Mbah, saya belikan permen, ya, sebagai ganti rokoknya,” ujarku membujuk.

“Tidak, Nak. Saya hanya tidak bisa kalau tidak ngerokok.” Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saat itu aku sangat iba dan timbul rasa penasaran kenapa si Nenek ini terus mengatakan tidak hidup tanpa rokok. Aku hanya berusaha memberikan ketengan dengan menepuk-nepuk pundaknya.

“Mbah yang sabar, ya.”

Hari berganti malam dan malam berganti pagi. Aku memperoleh tugas untuk memeriksa para napi. Di sebuah ruangan jeruji aku menemukan wajah yang sama sekali tidak asing. Ya, dia Nenek yang kemarin aku periksa. Kalian tahu pemandangan seperti apa yang aku lihat waktu itu? Badan Nenek ini terus gemetar, dia menggigil seperti orang kecanduan sabu. Semakin aku penasaran dibuatnya.

Rasa penasaranku terjawab saat aku memperoleh kesempatan bertanya kepada keluarga yang berkunjung. Mereka bertiga adalah buah hati si Nenek, yang satu seorang guru, satunya lagi dokter dan perempuan yang paling muda itu seorang perawat.

“Mohon maaf, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan, semoga kalian memberikan izin.” Melihat kedatanganku, mereka saling bertukar pandang. Seakan dari kelopak mata masing-masing mereka bertanya-tanya. Seorang laki-laki berkulit bersih di antara mereka memulai bicara.

“Iya, Mbak, silahkan.” Sebelum aku bertanya, aku membenarkan duduk di depan mereka.

“Saya petugas magang yang memeriksa Ibu kalian saat pertama kali datang kesini. Di beberapa bagian tubuh, saya menemukan rokok yang berusaha disembunyikan. Dia terus memohon kepada saya untuk mengembalikan rokoknya. Suatu pagi saya juga menemukan dia menggigil badannya. Seperti begitu sangat kecanduan.” Mendengar penjelasanku, mereka hanya bisa memamerkan wajah lesu. Sesekali mengambil nafas panjang.

“Kalau saya boleh tahu, kenapa dia bisa seperti itu?”

Baca juga  Kontroversi Bakso Bias Gender

“Ibu dan Bapak saya dulu penjual tembakau keliling, terkadang mangkal di depan pasar. Sepanjang dia jualan, dia tidak pernah berhenti menghisap. Terus mengebul itu rokok di tangannya. Sejak kebiasaan itu hingga sekarang, Ibu hanya tidak merokok ketika tidur saja. Saya minta bantuan Mbak, ya, buat bawakan rokok ke dalam. Saya akan berikan Mbak imbalan.”

Belum selesai aku tertegun dengan penjelasan Mbaknya, lagi-lagi aku harus mendengar permohonan yang tidak bisa aku penuhi. Terlepas imbalan apapun, hal itu tidak bisa aku lampaui.

“Mohon maaf, saya tidak bisa, Mbak. Terima kasih Mbak sudah mau menjawab pertanyaan saya yang orang luar ini. Saya akan berusaha menjaga Mbah tanpa melanggar peraturan. Saya permisi dulu, Mbak.”

Pandangan mereka terus memburu langkahku, jauh sampai aku tidak terlihat lagi. Namun, dalam lorong gelap itu, mataku masih kosong. Mataku melihat dan telingaku mendengar sebuah kisah perjuangan seorang perempuan mengais rezeki melalui dan bersama rokok. Soal kenangan bersama suami sudah jelas terikat dalam memori. Lebih dari itu, aku menemukan fakta yang disampaikan oleh Ainun, bahwa rokok bagi perempuan lain mungkin bukan sebagai pelengkap dalam hidup, melainkan hidup itu sendiri.

Para dara itu, kembali dari kisah Nana yang menghanyutkan emosi.

Jember, 10 Januari 2021.

Kontributor : Sinta Bella

Foto : Ilustrasi