Bagikan sekarang

Dalam Focuss Group Discussion (FGD) antara INAIFAS Kencong Jember dan Universitas Negeri Surabaya, yang berlangsung pada Selasa (15/06), telah dicapai beberapa kesepakatan.

Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam Nota Kesepahaman dua belah pihak. Bapak Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd.I., Kepala LPPM INAIFAS, menjelaskan apabila LPPM UNESA dan unit PSLD (Pusat Studi Layanan Disabilitas) Prof. Budiyanto dan Dr. Ima Qurrotun Ain, sepakat dalam pengembangan dan pendampingan “Sekolah Ramah”. Program ini merupakan wadah khusus bagi pengembangan anak didik inklusi di Jember Selatan.

Untuk tahap awal, SDU Assunniyyah Kencong menjadi pilot project pengmebangan dalam pelayanan spesial anak berkebutuhan khusus ini. “Kami berharap apabila kerjasama ini bisa menjadi salah satu metode terbaik dalam pendampingan anak didik berkebutuhan khusus. Sebab, mereka juga punya hak yang sama dengan murid lain, hanya metodenya sedikit berbeda,” tutur Pak Rudi Masrukhin.

Dr. Ima Qurrotun Ain, sebagai Kepala PSLD Unesa juga berharap apabila kelak program pendampingan ini bisa dikembangkan di wilayah lain.

Menurutnya, terobosan ini dilakukan untuk meleburkan stigma masyarakat. Sekolah inklusi bukanlah sekolah SLB yang melayani anak difabel, namun menjadi lembaga pendidikan yang memanusiakan manusia.

“Artinya lembaga yang mengakomodir segenap karakteristik, keunikan, dan atribut keisitimewaan untuk dapat tumbuh, berkembang, dan berprestasi bersama tanpa ada pembatasan ruang ruang dan waktu.” kata Bu Ima.

“Semoga kerjasama ini bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi pihak yang terlibat. Sebab kami targetkan bisa melahirkan banyak Guru Pembimbing Khusus (GPK) melalui program ini” lanjut Prof. Budiyanto, yang juga Kepala LPPM UNESA, menimpali apa yang disampaikan Bu Ima. (arm)

Baca juga  BEM INAIFAS ditetapkan sebagai koordinator zona tapal kuda BEM PTNU.