Bagikan sekarang

Oleh : Uliyatul Mu’awwanah, M.E.I (Kaprodi Ekonomi Syariah Inaifas Kencong, Jember, Indonesia)

Disclaimer: Jika tulisan ini dapat mendatangkan kebaikan/bermanfaat bagi pembaca silahkan di aplikasikan dalam hidup anda, namun jika tidak bisa di skip saja.

Sebenarnya sudah lama saya ingin menuangkan pemikiran tentang topik ini, namun ada sedikit keraguan dalam hati karena mungkin banyak orang di luar sana yang tidak sependapat dengan saya. Jadi begini, tidak seperti generasi Millennial maupun Z, generasi Sandwich mungkin juga istilah yang sangat jarang didengar.

Istilah Sandwich Generation digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi finansial seseorang, dimana pada saat memasuki usia produktif kerja namun ia harus menanggung kebutuhan hidup generasi yang berada di atas dan di bawahnya. Bisa orang tua, kakak, adik, anak, cucu, kakek, nenek dan keluarga terdekat yang belum mencapai kebebasan secara finansial (financial freedom), sementara biaya hidupnya semakin mahal. Bahasa gampangnya kepepet karena dipepet atau dijepit dari sisi atas dan bawah. Jeratan generasi sandwich ini menimbulkan banyak efek buruk seperti halnya pendapatan mepet dan selalu kejar kejaran dengan kebutuhan hingga terancam tidak bisa bangun rumah maupun pensiun dini.

Alhasil, dampak yang muncul pada generasi sandwich ialah menjadi lebih rentan terkena depresi karena mengalami kelelahan baik secara fisik maupun mental.

Apabila anda sedang membiayai orang tua dengan usia 65 tahun ke atas dan anak di bawah usia 18 tahun sekaligus maka bisa dipastikan anda ialah generasi sandwich. Ini hanya salah satu, di kalangan para ekonom sebutan sandwich generation bahkan sampai dikategorikan lebih dari 3 karakteristik. Contohnya: tradisional sandwich, Club Sandwich, serta Sandwich Generation Level Pro karena terhimpit hingga 2 generasi atas dan bawah sekaligus.

Baca juga  Cryptocurrency ₿₿₿, Cara Lain Biar Kaya. Benarkah?

Tapi anda bukanlah satu satunya orang yang mengalaminya, di Amerika saja tercatat ada 10 juta jiwa generasi sandwich, United Kingdom dan Australia masing-masing tercatat 2-3 juta, Cina 35% usia produktifnya juga terjerat dalam generasi ini, sedangkan Korea menjadi negara paling juara dengan populasi sandwich terbanyak se Asia.

Sementara di Indonesia, berdasar pada data Statistic Astra Life sebesar 48,7% masyarakatnya ialah sandwich generation. Statistik ini di kumpulkan melalui survey kepada 1828 responden usia produktif pada skala nasional dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Lalu bagaimana memutus mata rantai dan keluar dari jeratan tersebut? Sebelum anda pasrah alangkah baiknya jika kita memberikan perhatian khusus dan langkah serius untuk mencari solusi.

Jika membaca dari buku manajemen keuangan atau bahkan artikel di Google pasti jawaban yang paling sering muncul ialah selalu dan hanya rencanakan keuangan, bangun asset dan monitoring keuangan. Padahal sebenarnya menurut hemat saya tidak semudah dan lebih jauh dari itu. Sedikit sekali literasi yang dapat menyentuh misalnya:

Pertama, mempelajari pola artinya, kita harus spend banyak waktu untuk eksplore lebih jauh penyebab terjadinya sandwich generation. Hal ini penting untuk dilakukan karena pastinya persoalan tersebut tidak terjadi begitu saja. Bisa saja terjadi karena kesalahan finansial baik dari generasi di atas maupun kesalahan finansial dari diri kita sendiri seperti high income masih berbanding lurus dengan high life style.

Kedua, Maping Asset. Sebelum mengeluarkan uang untuk mereka akan lebih tepat jika mulai mengidentifikasi asset. Langkah ini bisa dilakukan dengan cara memilah asset mana yang awalnya non-liquid diubah menjadi liquidate. Kemudian baru di optimized. Berani memperbanyak income dan mengurangi pengeluaran dan begitu seterusnya.

Baca juga  Tingkatkan Minat Baca Keluarga, INAIFAS Gelar Sosialisasi di Kantor Kecamatan Jombang

Intinya lakukan investigasi melalui komunikasi yang baik pada orang yang tertanggung. Misalnya, dengan mulai menanyakan apa saja kebutuhannya, adakah cicilan?, kebutuhan apa saja yang bisa di press?
Namun beda cerita jika orang yang ditanggung merupakan orang yang sudah tidak lagi produktif dan menderita penyakit tertentu sehingga ia tidak mampu lagi untuk menghasilkan uang.

Tentunya ini juga bukan pekerjaan mudah dan melakukannya adalah pembicaraan sensitif. Tapi budaya tulang punggung yang secara kultur tidak lekas disudahi justru akan menjadi pressure bagi generasi sandwich kemudian mereka terpaksa make more money padahal sebenarnya mereka belum mampu. Alhasil mereka menjadi seperti ular yang memakan ekornya sendiri untuk bertahan hidup.

Ketiga, tidak ada lagi selain meningkatkan literasi keluarga atau orang yang kita tanggung dengan harapan dapat pulih dari beban finansial lintas generasi.

Tulisan ini terinspirasi dari 2 sosok yang keduanya mampu menyadarkan saya akan pentingnya manage keuangan sedari dini. Mereka mengingatkan saya untuk senantiasa menjadi saver di mana, meski berada di usia senja mereka masih sanggup membiayai hidup sendiri bahkan saat ia sudah tak mampu lagi untuk bekerja.

Di sisi lain, mereka juga mampu memicu keberanian pada saya untuk dapat keluar dari zona leha-leha agar selamat dari sikap optimis berlebihan yang selalu mengira akan terus berada pada siklus usia produktif serta ke-Pede-an dengan berpikir “Ah, besok pasti dapat uang lagi”.

Percayalah, menjadi Sandwich Generation itu berat. Ini bukan saatnya menyalahkan siapapun tapi yakinlah kondisi ini butuh segera dicarikan solusi. Ingat, membantu itu baik tapi pastikan kemampuan menjadi barometernya.

Semoga bermanfaat.