Bagikan sekarang

Alhmadulillah, untuk kesekian kali Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam INAIFAS bantu-sukseskan giat bimbingan Character Building dan Treatment pemetaan gaya belajar.

Acara yang digelar di SMK Maarif NU Kencong (SMK YUNISMA) merupakan pra-orientasi selama empat hari dari Masa Pengenalan Sekolah (MPLS) yang dijadwalkan akan berlangsung selama 1 bulan. (31/07/2021)

Menurut kepala SMK, Muhammad Yusqi, M.Pd.I, orientasi pendidikan karakter dan treatment selayaknya dilakukan sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dijalankan. Hal ini bertujuan untuk agar peserta didik memiliki arah dan niat yang kuat berdasarkan setting karakter yang  sesuai iklim sekolah. Tentunya pondasi moral (akhlak) dan spiritual (agama).

Dirinya meyakini bahwa setiap siswa memiliki modalitas kecerdasan ataupun potensi yang berbeda-beda. Tentu tersembunyi, dan akan terus tersembunyi sebelum terjadi aksi-reaksi yang memuncul-berkembangkan potensi tersebut.

“Maka dari itu, kita butuh tenaga ahli yang bisa membantu mengeksplorasi dan memetakan potensi tersebut untuk kemudian menjadi rekomendasi yang akan dikembangkan secara maksimal oleh dewan guru di SMK Yunisma”, Terang Yusqi.

Dalam kesempatan itu, Prodi Bimbingan Konseling dan Pendidikan Islam (BKPI) INAIFAS sebagai mitra pengembang SDM mendelegasikan bapak Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd yang dibantu oleh dua mahasiswi BK semester VII, yaitu Zilfi Filanda dan Siti Hanifah. Hal tersebut dimaksudkan agar mahasiswa juga punya ruang aktualisasi keilmuan sesuai bidangnya.

Aminullah, M.Pd selaku Ketua Program Studi BKPI INAIFAS menyambut baik wujud pelaksanaan kerjasama ini. Menurutnya, satuan pendidikan berbasis kejuruan memang sebaiknya mendapatkan layanan khusus berkenaan dengan pemetaan potensi dan psikoanalisis untuk dikembangkan menjadi SDM unggul dan memiliki daya saing yang tinggi.

Pihaknya memberi layanan berupa psikotes, parenting, motivasi, dan treatment bimbingan dan konseling. Mulai dari PAUD hingga SLTA juga kalangan lintas profesi.

“Prodi BKPI sudah memiliki dosen sekaligus tenaga ahli di bidangnya, semisal Psikotest bersertifikat, diampu oleh bapak Puji Maulana, M.Pd, Bu Ora Gorez Uke , M.Pd. konselor spesialis bimbingan karir, dan bapak Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd sebagai trainer dan motivator pendidikan,” Jelas Aminullah.

Baca juga  PMII Rayon Tarbiyah INAIFAS, Tingkatkan Literasi Masyarakat Melalui Taman Baca

Dalam setting formal pendidikan, pemetaan gaya belajar di masa sekarang ini penting diterapkan. Disamping sebagai paradigma Merdeka Belajar yang merupakan wujud pemberian ruang keleluasaan bagi siswa untuk memilih pelajaran sesuai minat, guru harus mampu menyesuaikan diri terhadap gaya belajar yang di miliki oleh masing-masing siswa.

Sebagaimana prinsip pengembangan potensi anak, bahwa banyaknya kegagalan siswa mencerna informasi dari guru disebabkan oleh ketidak-sesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa.

Sebaliknya, apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran akan terasa mudah dan menyenangkan. Guru juga senang karena punya siswa yang semuanya cerdas dan berpotensi untuk sukses pada jenis kecerdasan yang dimilikinya.

Secara konseptual, gaya belajar adalah satu-satunya modalitas belajar, yaitu cara informasi masuk ke dalam otak melalui indra yang di miliki. Pada saat informasi tersebut akan ditangkap oleh indra, maka bagaimana informasi tersebut disampaikan (modalitas) berpengaruh pada kecepatan otak menangkap informasi dan kekuatan otak menyimpan informasi tersebut dalam ingatan atau memori.

Terdapat tiga modalitas:
a. Visual: Modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel, diagram, grafik, peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
b. Auditorial, Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi, suara-suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan cerita lagu, syair, dan hal lain-lain yang terkait.
c. Kinestetik, Modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas  tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.

Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd menambahkan, disamping pemetaan gaya belajar, di tiap akhir sesi, para generasi enterpreneur ini diberikan treatment tes Kraepelin. Test Kraepelin adalah jenis tes psikotes yang berisi susunan angka-angka untuk membentuk grafik. Tes ini sering kali digunakan dalam proses rekrutmen tenaga kerja baru di suatu perusahaan atau instansi.

Baca juga  Aliansi PKPT IPNU IPPNU Se-Jember, Gelar Aksi Turun Jalan

Nama Kraepelin diambil dari penemu jenis tes psikotes ini yaitu Emilie Kraepelin yang merupakan seorang psikiater. Mengerjakan tes kraepelin ini sebenarnya mudah, hanya dengan menjumlahkan dua angka terdekat dengan nominal 0-9.

Pada prinsipnya tidak ada waktu yang cukup untuk mengerjakan tes koran tersebut karena memang jumlahnya sangat banyak dan tidak dituntut untuk mengerjakan semua soal yang ada. Namun interpretasi dari tes kraepelin dapat digunakan oleh seorang Human Management Development (HRD) untuk mengetahui bagaimana karakter calon pegawai perusahaan.

“Melalui treatment ini saya kira yang menjadi maksud dari Kepala SMK dan Guru BK bapak Adi sebagai tambahan eksplorasi secara psiklogis yang memang bertujuan untuk mengetahui karakter dan performa maksimal seorang calon pegawai. Maka dari itu, tekanan skoring dan interpretasi didasarkan pada hasil tes secara objektif,” tandas Rudi.

Adapun hasil dari tes Kraepelin akan menginterpretasikan empat hal, yaitu: faktor kecepatan (speed factor), faktor ketelitian (accuracy factor), Faktor keajegan (rithme factor), dan faktor ketahanan (ausdeur factor).

Setelah mengetahui pengertian tes Kraepelin dan tujuannya, lalu apa hubungannya dengan arah karir? Dalam pelaksanaan tes Kraeplin, penguji akan mengetahui tingkat kecepatan, ketelitian, keajegan, dan ketahanan seseorang dalam menghadapi ujian. Dalam dunia karir, hal ini dapat mengindikasikan jenis pekerjaan yang sesuai bagi seseorang.

Dari hasil berbagai treatment diatas segera akan dijadikan bahan presentasi dalam konferensi hasil kepada para pendidik dan stake holder lembaga untuk dijadikan rekomendasi dan dasar pengembangan bersama.

Giat Masa Pengenalan Sekolah (MPLS) ini diikuti oleh 140 siswa, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.(arm)

Semoga bermanfaat.