Bagikan sekarang

Oleh : Rizqiyah Ratu Balqis, M.Pd. (Dosen PGMI INAIFAS)

Sore ini untuk kesekian kalinya anak saya Nusaibah, saya bawa ke tukang urut bayi alias dukun pijat bayi tradisional yang berada di desa sebelah. Meski antrian sangat panjang, tidak mengurangi semangat saya untuk berulang kali mendatangi tukang pijat bayi tersebut.

Alternatif kesehatan ini saya lakukan awalnya atas inisiatif orang tua, karena jujur sebagai orang tua baru di zaman yang modern ini memandang hal tersebut sudah kuno dan kalah dengan kecanggihan dunia medis saat ini. Namun karena suatu hal, pemikiran saya pun terpatahkan. Entah bagaimana yang jelas pada akhirnya saya termasuk orang tua yang pro dengan alternatif medis (dukun pijat bayi).

Melihat antrian panjang menandakan bahwa yang masih percaya pijat tradisional di dukun bayi bisa mengatasi segala permasalahan kesehatan bayi masih sangat banyak. Mereka rela antri hingga berjam-jam karena pijat itu dipercaya menjadi solusi bagi segala persoalan yang menyangkut bayi dan anak seperti demam, rewel, bahkan yang dipercaya mendapati gangguan makhluk halus.

Menurut teori medis pijat bayi memang punya banyak manfaat. Mulai dari menstimulasi gerak motorik dan sensorik bayi, membuat si kecil lebih rileks hingga bisa membantu bayi tidur lebih nyenyak. Namun pilihan untuk mempercayakan pijat pada dukun pijat tradisional juga masih banyak pro dan kontra.

Ada yang namanya baby spa, biasanya di klinik bersalin menawarkan pijat khusus bayi dengan suasana yang lebih modern, tempat yang lebih bagus, namun tak sedikit juga yang masih percaya dan memilih memijatkan buah hati mereka pada dukun pijat bayi tradisional. Selain alasan biaya yang relatif lebih ringan bahkan terkadang dibayar seikhlasnya, tapi juga karena alasan setelah selesai dipijat permasalahan bayi atau anak mereka terselesaikan.

Baca juga  Anak Muda Menabung Saham, Mengapa Tidak?

Menurut pengamatan penulis ketika berada di salah satu lokasi pijat tradisional tersebut, mereka yang datang bukan hanya dari kalangan menengah ke bawah saja, tapi dari kalangan menengah atas bahkan orang akademisi yang menurut logika pikirannya lebih maju. Justru tak sedikit dari mereka juga pernah penulis lihat ikut mengantri untuk memijatkan buah hatinya ke tukang pijat bayi tradisional tersebut.

Penulis sempat menanyakan kepada orang tua pasien dan beberapa dari mereka beralasan memijatkan anak atau bayinya karena sedang sakit, karena rutinan tiap sebulan atau 10 hari sekali, ada juga yang karena bayinya habis jatuh, sebab biasanya jika bayi habis jatuh suhu badannya tinggi alias warang dalam bahasa jawa. Tak hayal, praktik pijat tradisional bayi ini masih ramai peminatnya walau di tengah zaman yang serba modern seperti sekarang ini.

Praktik pijat dukun bayi tradisional ini masih menjadi Primadona sebagai pilihan alternatif kesehatan. Penulis pernah juga menyaksikan ada pasien anak yang datang dengan keluhan Kejang demam atau penyakit step. Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), step adalah kejang pada anak yang dipicu oleh demam, bukan kelainan di otak. Kejang demam biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Ketika mengalami kejang demam, tubuh anak akan berguncang hebat diiringi gerakan menyentak di lengan dan tungkai, serta kehilangan kesadaran. Orang tua pasien sudah sering membawa anak mereka ke klinik kesehatan. Namun orang tua pasien bilang jika anaknya masih sering kambuh, maka dari itu orang tua pasien mencoba alternatif kesehatan lain yang pernah direkomendasikan saudaranya untuk ke dukun pijat anak.

Singkatnya setelah rutin terapi pijat, orang tua pasien menyaksikan sendiri bahwa buah hati mereka sudah jarang kambuh bahkan sudah tidak pernah. Tapi mereka tetap datang untuk memijatkan anaknya tiap sebulan sekali sebagai bentuk ikhtiar merawat kesehatan buah hatinya.

Baca juga  Keterkaitan Haji dan Menikah di Bulan Dzul Hijjah

Saya sebagai penulis sekaligus sebagai orang tua yang juga memilih pijat tradisional menjadi alternatif kesehatan sempat bertanya kepada tukang pijat tersebut, Mbah Mukri namanya, penulis bertanya sejak kapan beliau berkarir menjadi tukang pijat bayi? Mbah Mukri menjawab bahwa beliau menjadi tukang pijat sejak beliau usia muda.

Selain mempunyai keturunan dari nenek moyang istilahnya, beliau juga sering tirakat. Secara istilah tirakat adalah suatu upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan, baik berupa perilaku, hati dan pikiran. Salah satu yang dilakukan dalam tirakat adalah berpuasa.

Mungkin hal ini yang menjadi daya tarik tersendiri, penulis juga beranggapan bahwa memijat saja pasti siapa saja bisa, teorinya juga sudah banyak di media Internet, namun yang memiliki keistimewaan seperti halnya Mbah Mukri tak banyak yang bisa. Jadi tidak heran jika langganan pijat di Mbah Mukri tidak hanya dari desa sebelah saja tapi juga dari lain Kabupaten bahkan luar kota juga ada.

Mbah Mukri juga adalah salah satu dari sekian banyak dukun pijat bayi tradisional yang ada di wilayah Kencong dan sekitarnya, di daerah lain juga ada orang yang berprofesi sebagai dukun pijat bayi tradisional yang juga tidak pernah sepi pelanggan.

Barangkali bagi sebagian orang yang pro dengan alternatif kesehatan ala dokter, menganggap bahwa hal-hal yang begini ini hanyalah sebuah tren di kalangan menengah ke bawah karena alasan kesulitan ekonomi atau bahkan karena kurangnya edukasi. Tapi penulis memandang hal ini adalah suatu fenomena langka dan membuktikan bahwa betapa luas ilmu Allah. Sebagai mana yang terdokumentasikan dalam Q.S. Al-Kahfi [18] ayat 109.

Baca juga  Tingkatkan Kualitas Dosen, Prodi PBA Gelar Diklat Pembuatan Buku Ajar


قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادࣰا لِّكَلِمَـٰتِ رَبِّی لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَـٰتُ رَبِّی وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدࣰا

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” [Surat Al-Kahfi (18): 109]

Sebagai Dzat yang menciptakan, memberikan ilmu, dan mengatur seluruh alam raya, tentunya Allah mengetahui segala hal yang telah dan akan terjadi di alam raya ini. Semua yang diketahui manusia, sudah pasti diketahui lebih dahulu oleh Allah SWT, karena yang menciptakan tentu lebih dahulu (qadim) dari yang diciptakan. Tetapi tidak sebaliknya, apa yang diketahui Allah SWT, belum tentu dapat dipahami atau sekadar diketahui oleh makhluk-Nya.

Allah memberikan sedikit ilmu-Nya pada seorang dokter, maka dengan pengetahuannya dan dibantu dengan peralatan medisnya maka ia bisa menyembuhkan seorang pasien atas izin Allah. Juga Allah memberikan sedikit ilmu-Nya kepada seorang tukang pijat bayi (sebagai contoh), dengan kepekaan perasaannya ketika memijat seorang bayi, dengan tingkat ketajaman mata batinnya sehingga memijat dengan tepat di titik-titik tertentu yang mungkin orang awam tidak tau, maka ia bisa menyembuhkan bayi tersebut atas izin Allah.

Nah sekarang tinggal bagaimana cara pandang kita mengenai hal tersebut. Pada intinya kita tidak boleh terlalu ekstrem dalam menyelesaikan persoalan hidup termasuk soal kesehatan. Misal kalau tidak ke klinik atau ke rumah sakit tidak akan sembuh dari sakit begitupun sebaliknya. Apakah dokter sentris ataupun pengobatan tradisional sentris. Semuanya sama berasal dari sedikit ilmu Allah yang dititipkan, dan kesembuhan atas izin Allah.

Waallahu A’lam Bishshawab