Bagikan sekarang

Dalam acara orientasi bagi mahasiswa Pascasarjana, Sabtu (02/10), Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Islam al-Falah Assunniyyah, KH. Khoiruzzad Maddah turut menjadi narasumber. Tema yang disampaikan adalah “Penguatan Nilai-Nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”.

Gus Ya’, sapaan akrab beliau, menyampaikan materi ini setelah pemaparan yang disampaikan oleh KH. A. Sadid Jauhari, Ketua Yayasan Pendidikan Islam al-Falah Assunniyyah. Pemaparan Gus Ya’ menarik, sebab beliau banyak memberikan ulasan berdasarkan referensi kitab kuning.

“Islam itu agama yang baik, dan harus dibawa oleh orang yang baik, jika ajaran Islam dipandang dengan citra tidak baik, berarti dikampanyekan oleh orang yang salah” kata kiai yang berpenampilan sederhana ini.

Lebih lanjut Gus Ya’ menjelaskan bahwa kedatangan Islam sejak terutusnya Nabi Muhammad dapat mengubah dunia hanya dalam kurun waktu kurang dari 23 tahun, singkat sekali. “Ini kan pencapaian yang sangat luar biasa, hanya dalam tempo 23 tahun itu Nabi mampu merombak kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan yang penuh dengan nilai keislaman,” terang Gus Ya’.

Di hadapan kurang lebih 65 mahasiswa baru Pascasarjana, Gus ya’ menandaskan pentingnya menguasai metodologi berpikir dan berdakwah. Sebab, jika tidak menguasai keduanya, bisa jadi nilai-nilai yang baik malah menjadi negatif. Beliau menandaskan, para Walisongo adalah para ulama yang memahami keduanya. Sehingga Islam yang dibumikan di kawasan Nusantara ini berkembang tanpa kekerasan dan pertumpahan darah.

Menjelang akhir penyampaian materi, Gus Ya’ mengutip sebuah kisah teladan. Dulu, kata beliau, ada seorang bapak yang gelisah karena anaknya kecanduan permen (gula-gula). Sang ayah memutuskan untuk sowan (mendatangi) Syaikhona Kholil Bangkalan, seorang ulama besar guru dari para ulama di Indonesia. Sesampainya bapak dan anak ini di rumah Syaikhona Kholil, sang bapak mengutarakan maksud kedatangannya kepada tuan rumah. Dia memohon doa (suwuk) agar anaknya berhenti kecanduan permen.

Baca juga  Aliansi PKPT IPNU IPPNU Se-Jember, Gelar Aksi Turun Jalan

“Baiklah, anda silahkan kembali ke sini tiga hari lagi ya.” pesan Syaikhona Kholil.

“Tidak jadi disuwuk hari ini, kiai?” tanya si bapak.

“Tidak, kembali lagi tiga hari nanti sama anakmu ya.” jawab Syaikhona Kholil.

Tiga hari kemudian sesuai petuah sang kiai, pasangan bapak dan anak ini kembali ke rumah Syaikhona Kholil. Beliau segera mendoakan dan sesekali mengajak anak tersebut bercengkrama layaknya bercanda dengan cucunya. Tak lupa, sang kiai juga menasihati agar anak itu berhenti mengonsumsi permen. Si ayah kelihatannya gelisah, mau minta suwuk air kok nyatanya hanya dinasihati. Kalau sekedar nasihat dirinya sudah melakukan setiap hari.

“Sampeyan tahu pak, kenapa aku meminta kembali lagi ke sini setelah tiga hari?” tanya Syaikhona Kholil tiba-tiba, seakan mengerti kegelisahan tamunya itu.

Sang tamu tersebut menggeleng sembari berkata “tidak”

“Aku harus mengatur diriku sendiri terlebih dulu dengan berpuasa mengonsumsi makanan yang manis-manis selama tiga hari sebelum menasihati putramu. Ini agar nasihatku diterima dan dipercaya anakmu.” jawab Syaikhona Kholil.

Nampaknya perilaku seperti Syaikhona Kholil inilah yang menyebabkan Islam dan petuah-petuah agama dapat diterima dengan baik oleh masyarakat hingga Islam membumi di Nusantara ini. “Kisah terakhir tentang Syaikhona Kholil ini diambil dari bukunya Gus Rijal Mumazziq Z yang berjudul Kiai Kantong Bolong. Karena itu, konsep dakwah seperti ini yang saya harapkan bisa dikuasai oleh para mahasiswa Pascasarjana.” kata Gus Ya’. (TNH)