Bagikan sekarang

Oleh: Yovita Dyah Permatasari, M.Pd.
(Dosen Bahasa Inggris INAIFAS)

Upaya peningkatan kualitas SDM di dunia akademik salah satunya dilakukan dengan menguasai bahasa asing, yaitu bahasa Inggris.

Menurut UUD RI (2003) bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk menunjang kemampuan bahasa asing siswa. Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional, atau dapat disebut dengan Bahasa Lingua Franca (bahasa penghubung) yang menuntut peserta didik harus dapat menguasai bahasa asing ini.

Secara tidak langsung penguasaan bahasa Inggris bermanfaat bagi peserta didik sebagai bekal mereka baik dalam dunia pendidikan ataupun di dunia kerja.  

Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyah Kencong Jember merupakan sebuah institusi perguruan tinggi yang berbasis Agama Islam. Sebagai lembaga keIslaman pengajaran bahasa Inggris dapat diaplikasikan dengan memberikan materi yang berhubungan dengan kebudayaan Islam di Indonesia.

Kita ketahui bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki beragam kebudayaan yang beragam, perbedaan suku, adat, budaya, agama dan bahasa menjadikan warga negara Indonesia harus dapat bertoleransi secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat (Undang – Undang RI: 2003). 

Landasan UU ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki ciri khas yang unik dibanding dengan negara Native Speaker. Penguasaan Bahasa Ingris berpengaruh pada kesiapan mental peserta didik agar dapat bersaing dan siap dalam menghadapi arus global yang semakin hari menjadi Unpredictable. Dengan membangun benteng mental dan psikologi mahasiswa yang lebih tangguh, pembelajaran Bahasa Inggris dapat diimplementasikan dengan nilai–nilai kebudayaan Islam di Indonesia.  

Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan di dunia di mana bahasa ini menjadi bahasa ibu bagi lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia dan setiap hari jutaan orang menggunakan bahasa Inggris di tempat kerja, kehidupan dan sosial (Iriance: 2018). 

Baca juga  Keterkaitan Haji dan Menikah di Bulan Dzul Hijjah

Adapun Skills dalam menguasai bahasa Inggris anta lain adalah: reading, speaking, listening dan writing. Ke-empat skills tersebut harus dikuasai peserta didik untuk dapat menjadi lulusan perguruan tinggi yang berkualitas. Meskipun peserta didik bukan berlatar belakang prodi Bahasa Inggris, namun apabila mereka dapat menguasai bahasa asing ini, mereka mendapatkan peluang yang cukup besar untuk masuk di perusahaan – perusahaan, lembaga, institusi baik asing atau dalam negeri yang memiliki potensi dan output yang berkualitas. Skills Bahasa Inggris yang dibuktikan dengan sertifikat TOEFL dapat dikatakan bahwa mahasiswa tersebut memiliki kompetensi di bidang penguasaan bahasa Inggris.

Sayangnya, terkait dengan pemenuhan kebutuhan mahasiswa tersebut, terkadang masih terhalang oleh biaya Tes TOEFL. Tes TOEFL adalah sebuah tes pengukuran Skills dalam penguasaan Bahasa Inggris. Biaya tes TOEFL (Tes of English as a Foreign Language) yang tergolong tinggi, membuat mahasiswa enggan untuk memiliki sertifikat. Tes TOEFL sendiri juga bervariasi, tergantung jenis tes yang dibutuhkan. Terdapat 2 jenis TOEFL, yaitu TOEFL ITP (Instituional Testing Program) dan TOEFL IBT (Internet Based Test). Dalam TOEFL ITP, skor tes akan bersifat institusional atau hanya berlaku pada institusi tertentu dan negara tertentu. Skor maksimal TOEFL ITP adalah 500 hingga 600.

Dari informasi yang diperoleh biaya Tes TOEFL berkisar antara Rp 500 ribu – 1 juta rupiah dengan ketentuan 1x tes. Selain itu, tidak semua lembaga kursus Bahasa Inggris dapat mengeluarkan sertifikat. Hanya lembaga kursus yang memiliki ijin tertentu saja yang bisa mengeluarkan sertifikat TOEFL.

Opini lain menyebutkan bahwa, peserta didik sebagai penerus bangsa, harus dapat menyaring arus negatif yang masuk dari negara barat. Memang, ketika kita memperlajari bahasa asing maka, secara tidak langsung kita mempelajari budayanya. Namun, sebagai generasi bangsa yang memiliki mental agama yang kuat sebagai muslim hendaknya, saat kita memperlajari bahasa asing kita harus menjaga kualitas kebangsaan kita tanpa harus merubah culture/ adat istiadat dan kebiasaan dimana kita berasal.

Baca juga  Jamaah Haji, Investasi Syariah dan Idul Qurban

Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa Inggris dapat diformulasikan dengan mengimplementasikan pembelajaran bahasa Inggris berbasis kebudayaan Islam di Indonesia. Hal ini sebagai upaya melestarikan kebudayaan Islam di Indonesia yang memang harus kita jaga dan lestarikan. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi harus lebih ditingkatkan baik secara mutu akademik ataupun non akademik.

Saat ini, mahasiswa diharuskan menempuh mata kuliah Bahasa Inggris sebanyak 6 SKS di INAIFAS pada prodi, selama menempuh jenjang S1. Karena itu, mata kuliah Bahasa Inggris merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa.

Apabilamereka belum menempuh pada mata kuliah Bahasa Inggris I, maka mereka tidak dapat menempuh mata kuliah bahasa Inggris II, dan bahasa Inggris III. Sebaliknya, jika tidak lulus pada mata kuliah berjalan, mereka harus mengulang mata kuliah Bahasa Inggris, dengan cara mengikuti SP (Semester) pendek. Hanya saja kondisi seperti ini bisa berbeda di setiap kampus.

Penerapan pembelajaran Bahasa Inggris berbasis kebudayaan Islam di perguruan tinggi dapat dijadikan sebagai upaya untuk melestarikan, dan menjaga kebudayaan Islam di Indonesia. Secara praktis, skema seperti ini bisa diajarkan melalui penggunaan buku sejarah peradaban Islam yang telah ditulis oleh para intelektual menggunakan bahasa Inggris untuk dipakai sebagai bahan tugas reading text.

Mahasiswa diminta mengunduh buku tersebut, membaca poin bahasan perkembangan peradaban dan kebudayaan di Indonesia, lantas menuliskan poin-poin penting di dalam buku tersebut melalui makalah singkat.

Ulasan buku berbahasa Inggris seperti ini bisa meningkatkan kemampuan berbahasa, analisis teks, sekaligus kecermatan untuk menerjemahkannya dengan baik. Manfaat lain, mahasiswa juga bisa mendapatkan pengetahuan tambahan atas kebudayaan Islam di Indonesia.

Dengan pola pembelajaran seperti ini, kita berharap apabila penguasaan mahasiswa atas bahasa asing semakin meningkat dan pengetahuan mahasiswa atas kebudayaan Islam juga berkembang.

Baca juga  Anak Muda Menabung Saham, Mengapa Tidak?

Wallahu A’lam Bishshawab