Bagikan sekarang

Euforia atas kemenangan akademik strata satu ini sah-sah saja manakala saya ekspresikan dalam bentuk tulisan sederhana. Tentu saja, tidak boleh ketinggalan beserta foto kece mereka bertiga. Barangkali tulisan ini menarik, yaa silahkan lanjutkan membaca.

Yudisium hari senin (13/12) lalu menjadi momentum yang paling ditunggu-tunggu. Pasalnya, yudisium menjadi sesuatu yang dinanti oleh mahasiswa karena merupakan penanda bahwa perjuangan untuk menyelesaikan studi hampir tuntas. Penetapan kelulusan dan mahasiswa berprestasi secara Indeks Prestasi Kumulatif (termasuk penentuan kelulusan cumlaude, memuaskan dan lain-lain) diumumkan.

Berbicara soal realitas di dunia kerja atau bahkan di masyarakat. Hal yang perlu diperlu digarisbawahi adalah menyoal apakah kemudian bermodal nilai IPK tinggi mampu menjadi kunci keberhasilan mendapatkan pekerjaan yang mapan? Apakah juga kemudian bermodal nilai IPK tinggi mampu menjawab persoalan di tengah-tengah masyarakat?

Tentu saja nilai IPK tinggi itu menjadi salah satu syarat seorang pimpinan perusahaan dalam menyeleksi calon pegawainya untuk masuk dalam timnya. Namun ternyata tidak hanya itu saja. Kemampuan soft skill, manajemen kepemimpinan, keterampilan komunikasi yang baik, cepat dan tanggap terhadap permasalahan dan lain sebagainya itu menjadi pertimbangan khusus pimpinan perusahaan dalam memutuskan diterima atau tidaknya.

Apalagi pada medan realitas, masyarakat tidak butuh nilai IPK tinggi, dapat predikat cumlaude, berprestasi. Masyarakat tidak mau tau akan hal itu. Yang mereka pahami mahasiswa adalah bagian dari masyarakat yang dianggap memiliki level lebih sebagai kaum terdidik, kaum intelektual, generasi cendekiawan yang sangat diharapkan kontribusi dan pengabdianya dalam membangun bangsa kedepan sebagaimana cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.

Maka kesemuanya itu musti ditopang dengan wadah pelengkap selain dibangku perkuliahan. Yakni organisasi, baik organisasi internal maupun eksternal kampus. Di wadah tersebutlah momen penggemblengan mahasiswa, proses pendewasaan diri, pembentukan karakter, skill dan nalar kritis mulai di asah dan dipertajam.

Baca juga  Selama Dua Hari, Anggota Pramuka
INAIFAS Gelar Pelantikan dan Camping Caper

Saya beserta kawan-kawan ingin membangun narasi bahwa berorganisasi itu tidak kemudian menjadi penghambat mahasiswa terhadap kewajiban akademiknya. Justru ini menjadi pelengkap sekaligus penopang mahasiswa sebagai bekal menuju kehidupan sejatinya, sebenarnya dan sesungguhnya.

Selamat datang di kehidupan nyata, semoga ilmu dan pengalaman yang sudah ditimba dapat bermanfaat serta mampu mentransformasikan, mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sampai jumpa di Rapat Senat Terbuka Wisuda X Strata-1, IAI AL-FALAH AS-SUNNIYYAH KENCONG JEMBER Tahun Akademik 2020/2021.
***
Berikut ini nominasi calon Wisudawan-Wisudawati terbaik kategori Aktivis Trotoar versi majalah dinding Kampus.
01. Sinta Bella (Presma 2018/2019)
02. Habib Aziz Ar Rozi (Presma 2019l2020)
03. Nurmaidah (Presma 2020/2021)

Yang akan dinilai langsung oleh dewan Juri pecinta film Bollywood, cc Gus Rektor Rijal Mumazziq Zionis.