Bagikan sekarang

Oleh: Ahmad Zuhairuz Zaman, B.Sc., M.H. (Dekan Fak. Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam INAIFAS)

Siang hari di suatu Jumat, saya keluar dari asrama kampus kuliah Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff menuju ke sebuah masjid di perkampungan lembah Aidid, dekat kota Tarim Hadramaut Yaman. Tidak jauh, hanya perlu 10-15 menit berjalan kaki menuju lokasi. Pada musim panas, biasanya saya menggunakan syal atau sorban sebagai kerudung untuk melindungi wajah dari terik matahari.

Di separuh perjalanan, tiba-tiba dari belakang saya datang mobil sedan lansiran tahun 90-an dengan kelir khas taksi berjalan pelan mendekati. Di Tarim Hadramaut, banyak taksi pribadi (bukan perusahaan Argo) dengan warna khas putih dan kuning serta tulisan besar berbunyi li al-Ujrah. Tampak sang sopir memberi kode menawarkan jasa, saya pun menolak dengan halus. Saya bilang kepadanya, “Baghaytu ilal masjid, qorib bas.” Saya beralasan mau ke masjid, dekat saja kok. Namun alasan sebenarnya dalam hati adalah eman-eman alias ogah keluar 20 real Yaman untuk ongkos taksi. 

Tak mau menyerah, bapak sopir kembali menawarkan jasa seraya bersuara agak keras tapi bersahabat, “Yallah ithla’! Balasy, ya Indunisiy!” yang artinya, “Ayolah naik! Gratis kok, wahai orang Indonesia!” Wah cocok ini, tawaran tumpangan gratisan di tengah cuaca terik begini eman-eman kalau ditolak. Maka sambil tersenyum girang yang ditahan, saya segera masuk mobil taksi tua tersebut. Setelah mobil mulai berjalan, bapak sopir membuka obrolan. Di tengah obrolan kami yang singkat itu, sang sopir menyelipkan pesan yang membekas bagi saya sampai sekarang. Ia mengatakan, “Musy kullu dunya dunya.” Kurang lebih artinya, “Tidak semua perkara duniawi dinilai dengan dunia”. Duh, dengan halus dan bijak bapak sopir menyindir saya yang telah mengira bakal ditarik ongkos taksi olehnya, karena dari luar nampak mobilnya memang khusus untuk kendaraan komersial.

Baca juga  Bolehkan Orang Kaya Menerima Daging Kurban Wajib ?*

Terlepas dari sabab wurud-nya pesan bapak sopir taksi tua di atas, kita bisa mengambil faidah makna redaksi pesan “Musy Kullu Dunya Dunya” secara umum al-lafdzi (universalitas teks). Seperti ketika proses ujian yang saya alami di tiga kali ujian dalam tiap semester (dua kali syahriy atau UTS dan sekali fashliy atau UAS). Saya mau tidak mau harus belajar di tiap ujian bulanan dan akhir semester yang sangat killer di Al-Ahgaff. Pada mulanya saya merasa terpaksa belajar kitab-kitab materi kuliah, karena takut gagal ujian. Mencari nilai ujian semester untuk mendapatkan gelar akademik tentu terasa masih kental sisi duniawinya. Jika dihadapkan dengan spirit motivasi belajar agama yang ideal, tentu niat belajar saya tidak cukup baik, atau kurang ikhlas.

Namun beruntung, ada satu teman saya yang punya solusi dalam menghadapi kegundahan hati tentang niat dan motivasi belajar di kampus. Teman saya mengatakan bahwa niat belajar agar bisa lulus ikhtibar (ujian) itu kita anggap saja sebagai sarana agar kita bisa kontinyu melanjutkan belajar, karena kalau sampai kita gagal ujian dan tidak lulus semester, berarti kita bisa kehilangan kesempatan belajar materi ilmu yang lebih tinggi di semester selanjutnya. Saran yang keren!

Dosen saya, Syaikh Muhammad Ali Ba’udhan hafdzahullah, juga sering menasehati para mahasiswanya agar jangan sampai kegiatan di luar mengganggu belajar di perkuliahan. Beliau yang juga anggota Dewan Ifta’ Tarim, sering mewanti-wanti, “Lakin la takun ‘ala hisabil kulliyyah,” artinya jangan sampai mengorbankan kuliah.  

Permisalan lain adalah dikotomi pendidikan agama dan pendidikan umum, yang selama ini ada di alam bawah sadar. Pendidikan agama ditemukan di madrasah, sedangkan pendidikan umum di sekolah. Begitiah lumrahnya yang terjadi. Padahal menurut bahasa, keduanya mempunyai arti yang sama. Dalam buku Agama Anugerah Agama Manusia (2016), Gus Mus (KH. Musthofa Bisri) hafidzahullah, mengatakan bahwa,agama, dengan adanya pandangan dikotomis seperti itu, menjadi sempit maknanya. Apakah atau apa saja ilmu yang dapat disebut ilmu agama, dan apakah atau apa saja ilmu yang dapat disebut ilmu umum? Apakah ilmu Nahwu dan Sharf termasuk ilmu agama (karena diajarkan di hampir semua pesantren); padahal itu adalah gramatika (Arab)? Sebaliknya apakah Ilmu Alam itu termasuk ilmu umum; padahal maudhu’-nya ilmu ini adalah ayat-ayat kauniyah yang dapat menebalkan iman?

Baca juga  Anak Muda Menabung Saham, Mengapa Tidak?

Masih menurut Gus Mus, lebih masuk akal dan jelas adalah pandangan Imam Ghazali, misalnya. Sang Hujjatul Islam mengklasifikasi ilmu dengan mempertimbangkan segi kebutuhan dan tuntutan. Ilmu yang menjadi kebutuhan dasar tiap individu manusia, baik untuk kemaslahatan di dunia maupun di akhirat maka hukumnya fardlu ‘ain. Sedangkan ilmu yang dibutuhkan masyarakat untuk kemaslahatan secara umum dan cukup terwakili oleh sebagian orang, maka hukumnya fardlu kifayah.

Hakikatnya dalam beragama, kita tidak diperintahkan untuk menghindari aktifitas duniawi. Diceritakan oleh Sayyidina Abdullah bin Abbas, radliyallahu ‘anhuma, bahwa dahulu kala ‘Ukazh, Majannah, dan Dzul Majaz, adalah pasar-pasar yang populer pada masa Jahiliyyah. Ketika mereka telah memeluk agama Islam, mereka (kaum muslimin) merasa berdosa berjualan (berdagang) lagi di dalamnya. Maka Allah ta’ala menurunkan firman-Nya dalam Surat al-Baqarah, Ayat 198:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلاً مِّنْ رَّبِّكُمْ 

Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhan kalian (Allah)….”

Namun juga sebaliknya, ternyata tidak semua hal yang kita anggap kental dan khas dengan agama itu pasti bernilai ukhrawi. Diceritakan ada seorang tamu yang sowan kepada almaghfurlahu Syaikhina KH. Maimoen Zubair Sarang Rembang, rahimahullah, minta restu akan membangun pondok. Ternyata beliau malah menegur dengan keras.  Dengan suara yang lantang beliau dawuh ;

ﻭَاللهِ ﺍﻟﻌَﻈﻴْﻢِ ﺍﻟﻔُﻮﻧْﺪُﻭﻙ  ﻟَﻴْﺲَ ﻭَﺳِﻴْﻠَﺔً إِﻟﻰَ ﺍﻟﺠَﻨَّﺔ ﻭﺇﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﻮَﺳِﻴْﻠَﺔ هِيَ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴْﻢُ.

Demi Allah Dzat Yang Maha Agung, pondok bukan wasilah ke surga. Yang menjadi wasilah adalah ngajinya!

Beliau meneruskan dawuh; “Pondok iku dunyo. Akeh kiai seng gak faham, mergo pondok iki nek kyaine mati, anake podo rebutan. Iki ndudohno nek pondok iki ndunyo.
(Pondok itu termasuk bagian dari dunia (fana), banyak kiai yang tidak paham. Karna pondok itu kalau kiainya meninggal, anak anaknya saling berebut. Itu menunjukan bahwa pondok itu bagian dari dunia (fana).

Baca juga  Tingkatkan Minat Baca Keluarga, INAIFAS Gelar Sosialisasi di Kantor Kecamatan Jombang

Wallahu a’lam…