Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I

Guru besar universitas terkemuka di India ini sering memberi kuliah umum di perguruan tinggi di berbagai negara. Arun Gandhi, demikian namanya. Betul, ia adalah cucu Mahatma Gandi. Ciri khasnya: ia selalu memulai pengajarannya dengan menuturkan sebuah kisah inspiratif. Para mahasiswa banyak yang menikmati gaya Arun Gandhi, meski ada beberapa yang menyangsikan bahkan mencibir kisah yang disampaikan olehnya.

Dan, pada suatu pagi, di sebuah ruang perkuliahan, ia telah usai menyampaikan kisah inspiratif. Dari sekian banyak mahasiswa, ada seorang yang mengacungkan jarinya. Ia mau bertanya, tampaknya. Dengan ramah, Arun mempersilahkan.

“Saya menyangsikan kisah yang anda ceritakan, professor!” kata mahasiswa ini. Ia pun menyampaikan argumentasi, analisis beserta irasionalitas kisah yang disampaikan gurunya. Usai menyampaikan pendapatnya secara bersemangat, mahasiswa ini merasa puas. Ia telah menunjukkan bakatnya sebagai mahasiswa yang berpikir kritis dan sebagai calon intelektual.

Adapun Arun Gandhi mendengarkannya dengan seksama sembari tersenyum hangat. Setelah membetulkan letak kacamatanya, ia menanggapinya dengan hangat: “Anakku, kurang lebih sudah 30 tahun aku mengajar. Dan selama itu pula selalu ada orang-orang yang mempertanyakan keakuratan ceritaku, memburu kelemahan dari kisah tersebut, dan berusaha menentang kisah itu. Tapi, anakku, ada juga sebagian lagi yang tidak mempermasalahkan itu semua, melainkan berusaha mencari pesan moral yang terkandung di dalamnya, atau hikmah dalam kisah yang kusampaikan.”

Suasana hening, hadirin terdiam, terpikat dengan penuturan lembut Arun Gandhi.

“Anakku,” lanjut guru besar, “hidup ini adalah sebuah kisah, sebuah perjalanan yang di dalamnya banyak terdapat hikmah. Ada banyak pesan moral dari Tuhan. Namun, hidup juga sekaligus pilihan bebas bagi kita. Semua, saya atau anda, bebas memilih, apakah kita akan berusaha merenungkan hikmah di dalam sebuah cerita, atau akan menghabiskan waktu menguji validitas kisah tersebut, lalu mencibir berdasarkan logika intelektual kita. Keputusan ini sepenuhnya ada di tangan kita, anakku. Maka, merenunglah sebelum membuat sebuah keputusan agar kalian memiliki kesadaran sempurna, serta memiliki pandangan jauh ke depan akibat sebuah keputusan yang telah kita buat.”

Baca juga  Mas Ibra dan Potensi Anak-Anak Muda NU Menjelang Perayaan 1 Abad NU

Mahasiswa masih terpukau.

“Dan, yang menarik,” guru besar berdehem sejenak, “orang-orang hebat dan para pemimpin besar yang sekarang saya kenal, yang dulu pernah menjadi mahasiswa saya, ternyata adalah mereka yang selalu mencari hikmah dari kisah-kisah yang pernah mereka dengar, baik dari saya maupun dari orang lain.”


Demikianlah, melalui kisah di atas, kita belajar bahwa jika berbicara membutuhkan sebuah teknik yang harus dipelajari, bahkan secara etis pula, maka proses mendengarkan dan berpikir juga membutuhkan sebuah keseriusan.

Dalam memperdengarkan sebuah kisah, sebagaimana tutur Arun Gandhi, komposisi yang dibutuhkan oleh pendengar adalah bagaimana mengambil hikmah, pelajaran, ibrah, maupun inspirasi dari kisah yang didengar maupun dibaca.

Cerita mengandung rajutan dialog atau narasi. Di dalam narasi ada esensi. Di dalam esensi terdapat hikmah maupun pelajaran, setelah kita merenungkannya. Aspek negatif tak perlu kita ulangi, yang positif kita apresiasi dalam implementasi.

Sekali lagi, kisah disampaikan agar orang berpikir, bahkan dalam aspek tertentu ia merupakan petunjuk dan rahmat bagi orang beriman, sebagaimana yang tertera dalam QS. Yusuf [12]: 111. Mari kita terus belajar, menangkap makna atau hakikat dari yang tersirat.