Bagikan sekarang

Oleh: Johan Idrus Tofaynuddin (Kaprodi Pendidikan Agama Islam INAIFAS)

Pada tahun ini tepatnya pada bulan Dzulhijjah 1443 Hijriah terjadi perbedaan waktu, sehingga beberapa pelaksanaan ibadah pada momentum bulan dzulhijjah mulai dari puasa tarwiyah, arofah hingga hari raya idhul fitri terjadi selisih satu hari.

Perbedaan penetapan ini didunia ilmu perfalakiyahan atau perbintangan sudah tidak menjadi hal yang perlu digaduhkan dan ramai untuk diperbincangkan mengingat di Indonesia sendiri sangatlah beragam dan cukup pelik ketika diperbincangkan. Apa lagi ada beberapa edaran berupa tabel perbedaan hasil penetapan antara Indonesia dan Saudi Arabia.

Pertanyaan sangat menggelitik mengapa kita kok tidak mengikuti Arab Saudi? Mengapa dalam hal ini tidak berkiblat ke-Arab Saudi, Iran, Irak, Palestina bahkan negera-negara timur tengah lainnnya. Karena hal ini tidak bisa kita jadikan sebagai patokan untuk menentukan waktu-waktu ibadah yang disamakan dengan negara kita mengingat mathla’ kita berbeda.

Perlu kita fahami bersama bahwa matlha’ (titik tempat terbitnya hilal) antara Indonesia dan Arab Saudi terjadi perbedaan. Hal ini para ulama’ fiqih dalam bahasan puasa terdapat istilah إختلاف المطالع merupakan berbeda tempat /waktu pada terbitnya matahari. Disebutkan juga bahwa Mathla’ul hilal merupakan syarat utama dalam penentuan awal bulan. Sedangkan antara Arab Saudi dan Indonesia terjadi perbedaan mathla’ dalam bahasa lain ikhtilaful mathali’ :

عِبَارَةٌ عَنْ إِخْتِلَافِ بَلَدٍ فِيْ الرُّأْيَةِ بِحَيْثُ يُرَى إِحْدَاهُمَا وَلَا يُرَى فِيْ اْلَاخَرِ

Perbedaan dua negara dalam hal rukyah hilal dengan perkiraan bisa dilihat hilal di salah satu negara tersebut dan tidak bisa dilihat hilal di negara lain.

Berdasarkan ikhtilaful mathali’ Indonesia dengan Arab Saudi maka secara otimatis meskipun hilal nampak pasti akan berbeda antara Indonesia dengan Arab Saudi. Yang pada nantinya hasil hisabpun juga akan berbeda.

Baca juga  Pijat Tradisional yang Masih Melekat di Masyarakat

Yang jadi ploblematikanya, apakah tidak apa-apa ketika kita dalam hal ini tidak sama dengan Arab Saudi? jelas jawabannya tidak masalah. Bahkan ketika hal ini terjadi antara Syam (Suriah Raya-Lebanon, Yordania dan Pelstina) dengan Madinah pernah terjadi perbedaan penentuan Idul Fitri pada masa Sayyidina Abdullah bin Abbas dengan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Dikutib dari kitab Bidayatul Mujahidin, Muawiyah yang ketika itu berada di Syam menjumpai awal puasa terjadi di hari Jum’at sedangan Abdullah Bin Abbas mengawali puasa pada hari Sabtu. Perbedaan wilayah ini tidak terlalu jauh. Bahkan lebih jauh lagi antara Indonesia dengan Tanah Haram Makkah.

أَنَّ لِكُلِّ بَلَدٍ رُأْيَةً قَرُوْبًا أَوْ بَعُوْدًا

“Setiap negera masing-masing mempunyai kewenangan rukyah baik negara itu berdekatan maupun berjauhan”.

Inilah yang terjadi pada Idul Adha tahun ini yaitu perbedaan antara Indonesia dengan Arab Saudi.

Lantas, bagaimana dengan puasa Arafah pada tahun ini, karena antara Indonesia dengan Arab Saudi terjadi perbedaan? Arab Saudi sudah melaksanakan ibadah Idhl Adha sedangkan kita masih melaksanakan ibadah puasa arafah.

Bagaimana hukum puasa Arafah kita penduduk Indonesia? jawabannya, menurut ulama’ fiqih, puasanya tetap sah. Karena puasa Arafah sebatas keterkaitannya dengan waktu bukan dengan terlaksananya wukuf di Arafah.

Kalau kita telisik kembali sejarah, puasa Arafah dan wukuf merupakan bentuk apresiasi Arafahnya Nabi Ibrahim as ketika didapatkannya sebuah mimpi penyembelihan putranya, Nabi Islamil as, adalah benar-benar perintah Allah SWT.

Pelaksanaan dilakukannya wukuf oleh jamaah haji sedangkan yang tidak haji melaksanakan puasa sunnah arafah. Ibadah ini memiliki fadhilah yang luar biasa seperti yang diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Qotadah :

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً

Baca juga  Keterkaitan Haji dan Menikah di Bulan Dzul Hijjah

“Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”

Dalam konteks Indonesia, perbedaan hal ini sangat beragam dan cukup pelik untuk dijelaskan. Mengingat banyaknya ragam penafsiran perihal hilal.

Pada dasarnya perbedaan ini masalah waktu. Bukan pada harus berkiblat pada suatu negara manapun.
Dengan polemik perbedaan tersebut masyarakat muslim khususnya di Indonesia bersandar pada fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) dalam setiap penentuan dengan diperkuat oleh pendapat empat madzhab.

Selebihnya, ada maqalah yang berbunyi “keputusan hakim akan menghilangkan perselisihan pendapat”.

Di Indonesia pemerintah menetapkan 10 Dzulhijjah 1443 H jatuh pada hari Ahad, 10 Juli 2022.

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ

Kami ucapan selamat hari raya Idul Adha 1443 Hijriah. Mohon maaf lahir dan bathin.