Bagikan sekarang

Pada suatu siang, aku sedang menunaikan janji diskusi tipis-tipis dengan salah satu teman di kafe daerah Jember kota. Beliau adalah salah satu aktifis laki-laki yang juga getol ngomongin isu-isu diskriminasi berbasis gender. Baik berbentuk kekerasan, bullying, pelecehan maupun perundungan. Kemudahan akses di jaman modern ini juga berpotensi diskriminasi dilakukan di mana aja dan kapan aja. Bahkan, yang baru-baru ini telah marak yaitu berbasis online.

Banyak pula perilaku kita yang tanpa sadar juga mengarah pada perbuatan diskriminasi. Hal ini karena telah menjadi kebiasaan yang membudaya. Misal, kita seksis dengan teman di sosmed dengan mengatakan. “Ih, kamu seksi banget, sih.” atau yang berbentuk body shaming. “Kamu, kok, gemukan, sih.” Perkataan ini dinilai biasa dan bahkan terkadang sebagai bentuk keakraban. Atau yang berbentuk perlakuan, seperti tiba-tiba kita memegang bokong lawan jenis, atau memainkan alat kelamin teman sebagai bentuk guyonan (ini biasanya terjadi antara seperteman laki-laki). Hal yang dibiasakan dan berujung pada pembiaran ini lama kelamaan akan dimaklumi. Dan dianggap bukan sebagai masalah. Jika sudah sampai pada titik ini, maka semakin sulit lagi untuk ngomongin revolusi sikap manusiawi.

Temanku itu mengatakan pengalaman salah satu temannya, di mana dia dirangkul oleh seorang dosen berumur di atas 70 an. Si mahasiswi tidak mengganggapnya sebagai bentuk pelecehan. Bahkan, dia memaklumi dengan alasan kasihan karena sudah dianggap sebagai kakek sendiri yang kemungkinan dia mengalami kesepian.

Kamu tahu bagaimana sakitnya jika ada fakta bahwa di sini ngesot-ngesot melakukan perjuangan, nah, yang di sana terus melakukan pembiaran. Ambyar, Gaes. Bisa jadi ini juga salah satu faktor diskriminasi gender semakin hari bukan semakin menurun, justru semakin melejit. Bahkan, perlakuannya sudah keluar dari konteks hakikat kita sebagai seorang makhluk, yang memiliki tugas sebagai pemimpin. Merawat keseimbangan dan kemanusiaan.

Baca juga  Kerjasama dengan Pemdes Menampu, Mahasiswa INAIFAS Gelar Razia Masker

Sudah banyak kita ngomongin kasus diskriminasi berbasis Gender. Kami memutuskan untuk mencari makan. Kebetulan di samping kafe ada kedai Bakso. Langsung aku minta kita makan di sana. Kalian tahu? Apa ekspresi kami sewaktu membaca list menu makannya. Gila, gila banget, sih. Ini bentuk pembiaran yang berani menurutku. Konsumsi publik cuy, maksudnya tidak ditejukan ke person, tetapi tentu pengunjung kedai tersebut.

“Ini, sih, bias gender banget, Mas. Dari tadi kita ngomong sampek berbusa-busa. Eh, di sini malah nemu yang beginian,” ujarku dengan wajah mringis. Bias gender adalah kondisi yang memihak atau merugikan salah satu gender.

Ini list nama menu Bakso yang kami nilai bias gender:

  1. Bakso Jomblo
  2. Bakso pingin kawin
  3. Bakso janda ngamuk
  4. Bakso pelakor
  5. Bakso mama muda

Tentu dari semua list itu, mayoritas merugikan perempuan. Kita, sangat sepakat bahwa pelakor adalah sebuah istilah yang nggak manusiawi untuk perempuan. Sebutan itu seakan-akan menempatkan kesalahan sepenuhnya kepada perempuan saat terjadi perselingkuhan. Kita tidak tahu, relasi kuasa seperti apa yang dimainkan lelaki. Ingat, ya, perselingkuhan nggak bakal terjadi kalau tidak ada konsensus dari keduanya, laki-laki dan perempuan. Jadi, sangat jelas ini diskriminatif.

Janda ngamuk, kalian tahu seorang janda sekarang sebutannya udah diganti PEKKA (Perempuan kepala keluarga). Sebegitu inginnya kita nilai seorang perempuan yang memilih untuk lepas dari suami tetap terjaga, dan memberikan reward sebagai julukan kepala. Bukan malah janda, udah gitu ditambah redaksi ngamuk lagi. Apa nggak memberikan stigma bahwa seorang PEKKA seringnya ngamuk. Udah, nggak bener sekali.

Apalagi mama muda, haduh. Nggak habis pikir banget gueh. Apa dengan ini mereka nyaranin suami untuk nambah istri? Fiks, ini bukan aku baper atau terlalu sensitif. Kesadaran ini muncul sebab aku sudah mengetahui konsepnya, implementasinya dan masalah yang muncul. Sewaktu di tanya oleh temanku. “Apa nggak ada yang pernah protes dengan pemilihan namanya, Mas.”

Baca juga  Pengiriman DAI MAHASISWA INAIFAS Kencong Jember (angkatan ke-3)

“Ada, Mas. Orang Arab kemarin.”

“Kenapa katanya, Mas?”

“Ya, karena waktu itu dia bawa anak kecil.”

“Terus gimana respon smean, Mas?”

“Ya, gimana, ya, Mas, orang ini produk kami. Jadi terserah kami, ya, mereka boleh aja nggak suka.”

“Kenapa menggunakan nama-nama unik begini, Mas?”

“Ya, buat narik minat masyarakat.”

Ada beberapa fakta yang kita peroleh dari keterangan si owner:

  1. Bahwa anak kecil yang seharusnya dihindarkan dari pengetahuan diskriminatif malah memperoleh hidangan secara cuma-cuma. Kita sering speak up mengenai buku ajar di lingkungan sekolah yang masih diskriminatif. Semisal kalau ada gambar memasak, pasti di situ namanya Ani, sedangkan kalau sepak bola namanya Ahmad. Pengetahuan pembagian peran ini terbawa hingga anak menjadi dewasa dan berpotensi melakukan diskriminasi. Begitu pula dengan kasus nama bakso ini.
  2. Si owner melakukan pembiaran sebab dia belum menemukan atau merasakan langsung masalah yang timbul sebab nama bakso yang dia pilih. Ini bukan mengarah pada kekerasan fisik, tetapi lebih pada mental. Bayangkan aja kalau yang makan di sana beneran yang mereka sebut sebagai janda, pelakor atau mama muda. Yuk, manusiawi dikit aja.
  3. Menarik masyarakat. Dari pernyataan ini kemudian aku tidak serta merta menyalahkan si owner. Tetapi, ternyata kita juga merupakan support system dalam melakukan pembiaran perbuatan diskriminasi gender. Kita dianggap sebagai objek penjualan yang bakal tertarik membeli dengan nama-nama diskriminatif tersebut.

Dari beberapa fakta di atas, tentu ini bukanlah masalah aku atau temenku. Tetapi menjadi masalah kita bersama selaku manusia. Jika pun yang bergerak dan mengharapkan perubahan hanyalah kami, tentu itu hanyalah sebuah ilusi. Seperti yang ku kata di atas, di sini melakukan perubahan, yang di sana melakukan pembiaran. Maka, tidak akan pernah benar-benar sampai pada tujuan, yakni menyoal kemanusiaan.

Baca juga  Pasca Jalani Yudisium, Tiga Demisioner Presma INAIFAS Siap Ikuti Wisuda

Kita perlu bersama-sama menemukan pemahaman lalu mengimplementasikan. Mengenai kemanusiaan bukanlah sesuatu yang pantas untuk dibuat guyonan. Mari berbenah bersama dengan berkomitmen untuk menjauh sebagai subjek maupun objek perbuatan yang bias gender.

Bakso, tanpa kau memiliki nama yang kontroversi kau tetap menjadi makanan favoritku hingga aku mati. Jadi, tetaplah baik dengan menjual cita rasa.

Jember, 24 Desember 2021

Penulis : Sinta Bella (SB)

Foto : Istimewa