Bagikan sekarang

Senat Mahasiswa (SEMA) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (INAIFAS) sukses menggelar Kongres Mahasiswa Ke-II bertempat di Aula INAIFAS, Jalan Semeru No.09 Kencong, Jember, Jawa Timur. (04/10).

Agenda tahunan bertajuk “Transformasi Organisasi : Akselerasi dan Kolaborasi” tersebut yang direncanakan selama 2 hari, pada akhirnya berlangsung selama satu minggu, tertanggal 27 September 2021 hingga 4 Oktober 2021.

Kongres Mahasiswa merupakan forum kedaulatan tertinggi mahasiswa ditingkatan Institut/Universitas. Peserta Kongres Mahasiswa meliputi pengurus SEMA, DEMA, UKM/UKK dan HMPS di lingkungan kampus INAIFAS.

Hal tersebut disampaikan oleh demisioner Ketua Senat Mahasiswa INAIFAS, Siti Qomariah pada saat di wawancarai melalui sambungan telepon seluler. Senin sore, (04/10).

Ia menjelaskan ada 10 pleno yang dibahas dalam forum tersebut. Diantaranya adalah Pleno 1 Tata Tertib Sidang, Pleno 2 AD/ART DEMA, Pleno 3 AD/ART SEMA, Pleno 4 GBHO/GBHK DEMA, Pleno 5 GBHO/GBHK SEMA, Pleno 6 GBHO Ormawa, Pleno 7 PPTA, Pleno 8 LPJ DEMA dan SEMA, Pleno 9 UU Pemira dan Tatib Pemira, dan Pleno 10 Komisi Rekomendasi.

” Sempat dipending selama 3 hari dikarenakan gedung dipakai untuk perkuliahan, hingga sempat dilanjutkan di gedung PCNU Kencong ” Terangnya.

Lebih lanjut, Nurmaidah selaku demisioner Presiden Mahasiswa DEMA INAIFAS mengatakan bahwa Kongres Mahasiswa tahun ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Pasalnya, banyak catatan dan koreksi yang harus dibenahi satu tahun kebelakang terkait keberlangsungan organisasi intra di kampus INAIFAS.

” Hasil rekomendasi Kongres Mahasiswa ini menjadi amanat dan pedoman untuk kepengurusan selanjutnya sebagai bahan evaluasi untuk menuju perbaikan dan keberlanjutan estafet organisasi ” Tuturnya

Sementara Rektor INAIFAS Jember, Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I menyoroti kinerja kepengurusan DEMA dan SEMA serta organisasi dibawah naungannya pada periode ini tentu mengalami perbedaan yang sangat mendasar daripada kepengurusan-kepengurusan sebelumnya.

Baca juga  HMPS PGMI INAIFAS Sambung Hubungan Bilateral Dengan HMPS PGMI STAI At-Taqwa Bondowoso

” Diberlakukannya perkuliahan secara daring yang membuat segala aktivitas kegiatan kemahasiswaan secara tatap muka dibatasi sehingga menghambat beberapa program kerja tidak terealisasi ” Ucapnya.

Akan tetapi meskipun demikian lanjutnya, pihak DEMA dan SEMA serta organisasi intra lainnya harus mampu mempertanggungjawabkan dengan baik kepada mahasiswa dan para pimpinan.

Lebih lanjut, ia menilai beberapa kurun waktu 2 tahun terakhir minat mahasiswa dalam berorganisasi di intra maupun ormek di INAIFAS menurun. Hal itu juga terjadi di beberapa kampus lainnya. Tentu ada beberapa faktor yang melatarbelakangi baik faktor internal maupun eksternal.

Terlepas dari faktor yang melatarbelakanginya, ia menjelaskan bahwa organisasi adalah wadah penggemblengan dan pembelajaran mahasiswa, wadah menyalurkan aspirasi mahasiswa, wadah mengutarakan gagasan, ide dan argumen, wadah melatih manajemen kepemimpinan dan mengasah potensi dan skill yang dimiliki dan lain sebagainya.

“Tentu kita harus yakin dan percaya diri bahwa mahasiswa-mahasiswa organisatoris dan mahasiswa biasa (non organisasi) pasti hasil dan kualitasnya akan berbeda ketika di dunia kerja atau ditengah masyarakat nantinya” Tegas Rektor yang akrab di sapa Gus Rijal.

Banyak segudang dan jutaan manfaat yang didapat melalui organisasi. Oleh karena itu lanjutnya, ia berpesan jangan menyia-nyiakan proses saat menjadi mahasiswa apalagi aktif di organisasi.

“Perbanyak pengalaman, terus berinovasi dan berkarya, perbanyak relasi dan jaringan. Sekali lagi, nikmati proses saat menjadi mahasiswa” Pungkasnya

Sebagaimana fungsinya, sebagai agent of change, iron stock, dan social control, mahasiswa juga diharapkan berperan aktif di dalam sebuah organisasi. Karena skill tidak hanya didapatkan melalui proses belajar-mengajar, namun juga  bisa diperoleh melalui kegiatan organisasi yang positif.

Melalui organisasi, mahasiswa dapat mengembangkan potensi sesuai passion yang ia miliki. Mahasiswa juga akan memiliki akses yang lebih mudah untuk mengikuti kompetisi lewat organisasi. Maka dari itu, organisasi memiliki peran penting dalam upaya mengaktualisasi kemampuan mahasiswa.

Baca juga  KERJASAMA DENGAN UPZIS INAIFAS, PMII RAYON FEBI INAIFAS GELAR USAPAN ANAK YATIM

Namun sayangnya, tidak banyak mahasiswa yang mau terlibat dalam kegiatan organisasi ataupun kompetisi ilmiah. Hal ini disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal dalam diri mahasiswa.

Faktor internal adalah faktor yang memengaruhi dalam diri, seperti sikap pragmatis, study-oriented, dan manajemen waktu, serta kegiatan yang buruk. Sikap pragmatis kerap kali menjadi penghambat mahasiswa untuk berproses, karena sikap ini hanya menitikberatkan kepada hasil dan kebermanfaatan saja, sedangkan kehidupan di organisasi bukanlah tentang sesuatu yang menguntungkan saja, melainkan juga tentang pengorbanan. Bagi aktivis kampus, slogan “no pain, no gain” adalah motivasi mereka bertahan di organisasi. Selain itu, sikap pragmatis biasanya timbul dari tidak adanya kemauan untuk berkarya dan berpretasi.

Sedangkan study-oriented  menjadi julukan bagi mahasiswa yang aktivitasnya kuliah-pulang dan hanya berorientasi pada indeks prestasi akademik di bangku perkuliahan saja. Faktor internal lainnya adalah buruknya manajemen waktu dan kegiatan, dimana menjadi aktivis kampus memiliki banyak konsekuensi. Sehingga banyak sekali mahasiswa yang tidak siap dengan konsekuensi yang ia terima jika terlibat dalam kegiatan organisasi ataupun kompetisi ilmiah.

Lain halnya dengan faktor internal, faktor eksternal adalah faktor yang muncul dari luar, seperti pengaruh lingkungan dan intervensi kawan sejawat. Berdasarkan teori Sosiologi, lingkungan yang positif tentu akan menciptakan kondisi yang kondusif, dan sebaliknya. Faktor lingkungan biasanya berkaitan erat dengan kawan sejawat. Lingkungan yang positif biasanya menghadirkan kawan sejawat yang progresif dan memiliki kemauan untuk berkembang sedangkan lingkungan yang negatif biasanya menghadirkan kawan sejawat yang pragmatis dan hedonis. Secara tidak langsung, faktor-faktor tersebut berpotensi membatasi mahasiswa untuk berkarya dan berprestasi.

Upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan minimnya minat berorganisasi, Kongres Mahasiswa Ke-II Tahun 2021 menghasilkan 5 poin rekomendasi diantaranya :

Baca juga  Tiga Fase Perubahan Peradaban Menurut KH. A. Sadid Jauhari


1. Menanamkan niat dan juga kemauan untuk berorganisasi dan mampu melihat peluang dan dampak positif yang didapatkan setelah mengikuti organisasi.
2. Bergaul dan berteman dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang baik dalam berorganisasi
3. Mendorong seluruh ormawa di lingkungan INAIFAS untuk memberikan edukasi terkait pentingnya berorganisasi kepada mahasiswa
4. Mendorong seluruh ormawa di lingkungan INAIFAS untuk memperkuat komitmen dengan penuh tanggungjawab dalam mengemban amanah organisasi dengan baik.
5. Mendorong pihak pimpinan dan birokrasi kampus untuk mengeluarkan aturan tentang transparansi anggaran organisasi kemahasiswaan dan kebijakan tentang kewajiban setiap mahasiswa untuk mengikuti organisasi.

Kelima poin tersebut merupakan hasil rekomendasi Kongres Mahasiswa Ke-II INAIFAS Kencong Jember Tahun 2021 sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya berorganisasi dan sebagai evaluasi besar-besaran untuk organisasi intra kampus serta pihak-pihak terkait.