Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa itu tafsir berbahasa Jawa. Tapi, uniknya, konteks berbahasanya berbeda dengan tafsir berbahasa Jawa lain, seperti al-Iklil fi Ma’ani at-Tanzil yang ditulis adik Kiai Bisri, KH. Misbah Zainal Musthofa. Juga berbeda dengan Qur’an Jawi, terjemah KH. Raden Bagus ‘Arfah dari keraton Surakarta, maupun Tafsir Qur’an Suci karya Prof. KH. R. Muhammad Adnan, Surakarta. Semua berbahasa Jawa, tapi corak berbahasa Jawanya berbeda.

Kiai Bisri menggunakan bahasa Jawa Tengah Pantura, yang bloko sutho, das-des, dan enggan basa-basi. Sedangkan Kiai Misbah menggunakan bahasa Jawa ala Jawa Timuran, karena beliau tinggal di Tuban. Ulasannya biasanya lebih panjang dibandingkan dengan penjelasan kakaknya. Kalau Kiai Raden Bagus ‘Arfah lebih halus lagi, karena Selain menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil, konteks penulisannya saat itu memang karena untuk kepentingan dakwah ala Keraton Surakarta. Kalau Prof. Raden Adnan lebih mudah dipahami, karena menggunakan bahasa Jawa yang tidak sehalus Kiai Raden Bagus ‘Arfah.

Yang pasti, beberapa tafsir bahasa Jawa ini sekaligus menjadi freezer budaya, alias “pengawet kata” bahasa Jawa. Pasalnya banyak sekali kata dalam bahasa Jawa yang dipakai dalam ketiga tafsir tersebut, yang justru saat ini tidak lagi digunakan dalam percakapan keseharian orang Jawa.

Dalam penafsiran QS. An-Nazi’at, yang saya bacakan Rabu kemarin lusa dan malam ini, Kiai Bisri menggunakan beberapa istilah Jawa yang saat ini nyaris “punah” karena tidak lagi atau jarang dipakai dalam komunikasi:

Gelataan/kelataan
Cemongok-cemongok lan cemekel-cemekel susune (ngeri randu)
Geter
Giris
Sajeng
Ngunus nyowo
Panggembor
Mungkur
Pawethone
Anjeleberake
Pacel
Rumangkang
Dingedhengake pertelo welo-welo
Mabeyur


Perhatikan berbagai istilah ini. Kosa kata ini masih populer ketika Kiai Bisri menulis al-Ibriz tahun 1950-an hingga satu dasawarsa berikutnya. Namun dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, semakin sedikit yang menggunakannya dalam konteks penutur-pendengar.

Kalaupun masih ada yang menggunakan, biasanya kalangan pesantren yang masih memakainya dalam konteks transfer pengetahuan melalui metode utawi iki-iku dalam kajian kitab kuningnya.

Bagi saya, kitab berbahasa Jawa telah menjadi freezer, pengawet kebudayaan; karena kita bisa melacak jejak leluhur kita dalam berbahasa, sekaligus konteks penggunaan bahasanya, dan sudut pandang pengetahuan yang ingin disampaikan oleh muallif, mufassir, maupun transmiter pengetahuannya (kiai yang mengajarkan sebuah kitab berbahasa Arab dan memaknainya dengan bahasa Jawa, menggunakan metode bandongan [seminar]).

Selamat belajar, selamat menikmati “kosa-kata” Jawa yang mulai hilang akibat dinamisasi dan akulturasi kebudayaan.

Wallahu A’lam Bisshawab