Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Dalam acara Peringatan Nuzulul Qur’an di INAIFAS, Kamis (21/04), KH. A. Sadid Jauhari antara lain mengupas makna rizqan wasi’an (rezeki yang luas). Dalam beberapa redaksi doa, ada dua istilah yang dipakai, wasi’an, luas; dan thayyiban, baik.

Uniknya, menurut beliau, redaksi yang dipakai adalah wasi’an dan thayyiban, luas dan baik; bukan katsiron, banyak. Beliaupun mengutip salah satu doa yang termuat dalam kitab Abwabul Faraj karya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki.

اَللهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ اَنْ تَرْزُقَنِىْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَمَشَقَّةٍ وَلاَضَيْرٍ وَلاَنَصَبٍ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْ

Ya Allah, aku minta pada Engkau agar melimpahiku rizki yang halal, luas, dan baik tanpa kesusahan, tanpa kemelaratan dan tanpa kepayahan. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”

Menurut Kiai Sadid, makna rizqan wasi’an ini punya kedalaman makna. Allah menggelar rizki yang luas, melimpah, bukan banyak. Ketika memohon doa agar diperluaskan rizqinya, berarti juga berdampak pada apa yang diperoleh dan dimanfaatkan dari yang diraih.

Ketika Allah memberi nikmat pada hambaNya, Dia tidak menganugerahkan apa yang diinginkan oleh sang peminta, melainkan pada apa yang dia butuhkan.

Karena itu, ada banyak orang yang walaupun secara ekonomi biasa saja, pas-pasan, namun ketika dia membutuhkan materi, misalnya, secara asyik Allah mencukupinya. Bulan depan dia butuh membiayai anak sekolah dan mondok, walaupun hari ini belum ada rezeki, namun pada saat menjelang kebutuhan, Allah mencukupinya.

Dia ingin berangkat ke Baitullah, namun terkendala ekonomi, lantas ada yang memberangkatkannya, itu juga bagian dari rezeki yang luas.

Secara berkelakar, Kiai Sadid mengistilahkan rezeki berupa Yen. Yen di sini bukan mata uang Jepang, melainkan falsafah Jawa, Yen Njaluk Bakale Dikabulne Gusti Allah, Yen Butuh Bakale Dicukupi. Artinya, jika memohon kepada-Nya, Dia bakal mengabulkan permohonan hamba-Nya. Jika butuh, maka Allah akan mencukupi kebutuhan hamba-Nya.

Baca juga  Hari Pramuka: Kepanduan Muslim dan Kontribusinya bagi Perjuangan Bangsa

Dari penjelasan Kiai Sadid, kita paham, bahwa rezeki yang luas bukan saja materi, melainkan ketercukupan dan keberkahan. Cukup bisa membuat hati tidak tamak, barakah bisa menjadikan rezeki yang diperoleh berlimpah kebaikan dan kemanfaatan.

Tidak heran jika KH. A. Mustofa Bisri pernah dawuh, jangan mencari banyak, tapi carilah berkah.

Harta banyak, tapi sakit-sakitan, juga tidak bisa menikmatinya. Harta banyak, tapi pelit, juga tidak bisa memanfaatkannya untuk kemanfaatan orang lain dan buat investasi akherat. Harta banyak, tapi pada akhirnya menyebabkan keluarganya berebut warisan.

Di sinilah makna rizqan wasi’an menemukan makna esensialnya. Bahwa, rezeki bukan saja bermakna materi. Terlalu sempit jika memaknainya demikian. Rezeki yang luas bisa bermakna keluarga yang harmonis, anak-anak yang sholih sholihah, mertua dan tetangga yang baik. Kesehatan yang fit juga bagian dari rezeki, sehingga bisa bekerja dengan baik dan memanfaatkan kesehatan untuk beribadah.

Wallahu A’lam Bishshawab