Bagikan sekarang

Oleh: Muhammad Iqbal Harimi, S.Pd.I
(Mahasiswa Pascasarjana INAIFAS)

Di pesantren itu unik, pola pembelajarannya pun lebih menekankan olah hati dan lelaku istiqomah. Pengimbangan antara ilmu yang di dapat dengan pengamalannya. Sistem pendidikan pesantren menerapkan kurikulum yang sejak zaman “kolo bendu” hingga sekarang tidak pernah terjadi perubahan, kecuali pola sorogan yang dikembangkan ke klasikal, dan pola majemen administrasinya. Kurikulum pesantren ini akan menjadi ciri khas di setiap pesantren yang ada di Indonesia. Sistem inilah yang seringkali dikritik sebagai stagnasi oleh kaum modernis non pesantren. Pesantren tidak bisa diintervensi dalam penerapan kurikulumnya oleh pemerintah, karena itu sudah paten dan terbukti dengan produk santri lulusannya.

Tidak seperti kurikulum pendidikan nasional yang seringkali berubah-ubah dan meribetkan para guru. Sebatas yang saya tahu, sejak kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004 (KBK), kurikulum 2006 (KTSP), kurikulum 2013, dan hingga sekarang, belum menaikkan Indonesai ke derajat yang signifikan dalam peringkat pendidikan dunia.

Ada rahasia kunci kesuksesan pesantren dalam menghasilkan produk santrinya, diantaranya adalah;

Pertama, guru benar-benar terfokus mengajar, mendidik, dan istiqomah. Tanpa diriwuki administrasi kependidikan yang menyita banyak waktu. Misalnya para kiai dan ustadz di pesantren dapat dengan tenang dan istiqomah mengajar, sebab tidak disibukkan oleh Kurikulum, Silabus, RPP, Administrasi kenaikan pangkat, gaji dan lain lain. Mereka benar-benar bisa memusatkan perhatiannya kepada santri.

Kedua, adanya faktor kedekatan antara murid dengan guru, baik kedekatan fisik (mujalasah) saat pembelajaran (halaqah/talaqqi), atau kedekatan emosional-bathin (ta’alluq qalby) yang mengantarkan pada pendekatan diri kepada Allah SWT. yang tidak bisa digambarkan oleh ucapan. Guru dapat melihat utuh perhatiannya kepada sang murid. Sehingga adab dalam majelis ilmu dapat terjaga dengan baik. pertautan bathin inilah yang tidak bisa dijangkau oleh para pakar yang hanya mengandalkan rasionalitas dalam hal menuju keberhasilan belajar.

Contoh kedua ini, sebagaimana Imam Syafi’i belajar langsung kepada Imam Malik dan tinggal di rumah gurunya itu selama 8 bulan tanpa berpisah, kemanapun Imam Malik pergi, di situ ada Imam Syafi’i. Begitu juga di pesantren, santri-santri selama 24 jam full hidup bersanding di samping rumah Kiyai, dan berbaur dengan para ustadz-ustadznya di dalam pesantren. Sehingga meskipun di luar jam KBM, para santri dapat leluasa untuk bertemu gurunya dalam hal konsultasi dan pendalaman ilmu. Sang guru-pun dapat memantau perkembangan santri secara langsung.

Baca juga  Euforia Sidang Skripsi : Catatan Menjelang Wisuda

Ketiga, keikhlasan, point ini yang selalu dicontohkan oleh para pendidik pesantren. Guru dan ulama senantiasa ikhlas dalam mengajar dan mendidik. Bagaimana kisah Imam Malik yang berkali-kali menolak untuk dibuatkan rumah oleh khalifah. Suatu ketika Imam Malik didatangi Khalifah Harun Ar-Rasyid dengan uang 3.000 dinar. Maksud Khalifah agar uang itu digunakan untuk membeli rumah. Akan tetapi 3.000 dinar yang diterima Imam Malik justeru dibagi-bagikan (beasiswa) kepada pelajar yang kekurangan bekal. Apa yang dilakukan oleh Imam Malik ini nampaknya ditiru oleh Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al Maliki Al Hasani, berbagai riwayat dari para muridnya, Sayyid Muhammad ini menanggung kebutuhan makan dan belanja kitab santri-santrinya, agar santri tidak disibukkan bekerja dan bisa fokus belajar. Demikian juga hingga sekarang, banyak kiyai yang membantu kebutuhan santri dalam belajar secara gratis.

Keempat, kesadaran belajar yang tinggi. Point ini adalah kesadaran dari setiap individu. Karena meskipun berada di dalam pesantren yang berkualitas tinggi, namun jika tidak didadasari dengan kesadaran belajar yang kuat, maka hasilnya pun tidak akan maksimal. Kita bisa lihat di pojok-pojok asrama pesantren hingga perpustakaannya akan tetap terang benderang menyinari santri yang sedang muthala’ah hingga larut malam.

Soal kesadaran belajar ini selalu dicontohkan oleh para ulama pendahulu. Dikisahkan Imam Syafi’i pernah selama berbulan-bulan tidak keluar dari bilik rumahnya karena untuk menghafal dan melancarkannya dari catatan-catatan di tembikar, tulang, dan potongan-potongan kertas yang ditulisnya. Demikan juga beliau siap kelalahan untuk berkelana karena haus ilmu. Imam Syafi’i berkelana dari Mekah ke Madinah, Baghdad/Iraq, hingga wafat di Mesir.

Kelima, takror (mengulang materi dengan diskusi) dalam bentuk bahtsul masa’il. Kegiatan ini biasanya diterapkan secara bertingkat dan bertahap. Diawali kegiatan takror atau diskusi kecil di setiap kelas, kemudian tingkat pesantren dengan melibatkan seluruh santri yang berkompeten di setiap jenjang, hingga dibawa ke tingkat paling bergengsi antar seluruh pesantren se Jawa-Madura, yakni di Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP). Forum ini membahas problematika umat atas kejadian kekinian (waqi’iyyah) yang dialami masyarakat untuk dijawab dan dicarikan solusinya.

Baca juga  Kecerdasan Digital: Kemampuan Yang Wajib Dimiliki Mahasiswa

Keenam, sistem muhafadhah (hafalan). Setiap jenjang atau tingkat kelas di pesantren menerapkan satu sampai dua materi yang wajib dihafal santri, bahkan terkadang sebagai syarat mutlak kenaikan kelas. Biasanya mulai tingkat awal hingga akhir wajib menghafal materi dalam fan ilmu tajwid, tauhid, nahwu, sharaf, hingga balaghah. Materi hafalan dalam bentuk kalam nadzam, seperti kitab Tuhfatul Athfal dan Jazariyah dalam fan ilmu tajwid. Aqidatul Awam dalam fan ilmu aqidah. Jurumiyah, Amtsilat At-Tashrif, ‘Imrithi, Al-Maqsud, Mulhatu Al-I’rab, Qowa’idu Al-I’rab, Alfiah Ibni Malik dalam fan nahwu dan sharaf. Dan kitab Jauhar Al-Maknun dalam fan ilmu balaghah.

Tidak hanya sebatas hafalan, tetapi para santri akan di tes pemahaman isi dari kitab yang sedang dihafalkannya. Sistem ini tetap dipertahankan oleh sebagian besar pesantren salaf hingga sekarang. Meskipun banyak kritikan kalau sistem itu hanya menghambat waktu percepatan dalam menyelasaikan sebuah fan ilmu, karena dinilai hanya di ulang-ulang sampai dua hingga tiga tahun dengan fan ilmu yang sama. Tetapi bagi pesantren sistem hafalan yang di ulang-ulang inilah yang akan menyatukan ilmu ke dalam hati santri. Dan sistem ini yang justru mempertajam pemahaman dan analisis santri dalam memahami sebuah ilmu.

Ketujuh, mujahadah. Adalah salah satu kegiatan penguatan spiritual guru dan santri di pesantren. Kegiatan mujahadah ini variatif bentuknya di setiap pesantren. Misalnya, kegiatan pembacaan aurad (wirid-wirid doa seperti, wirdul latif, ratibul haddad, hizb nawawi, hizb nashar, ratibul ‘atthas, dan wirid-wirid lain dari sang kiyai) setelah jamaah lima waktu, tahajjud, doa fajar sambil menunggu jamaah subuh, shalat dhuha, shalat tasbih, puasa sunnah (khususnya senin-kamis), dan kegiatan-kegiatan sejenisnya. Tujuan dari mujahadah ini adalah agar santri dapat meningkatkan dzikirnya kepada Allah SWT. Sebagai perwujudan penguatan bathin, sebuah pengingat semua yang dihasilkan di dunia adalah pemberian dan untuk mengingat Tuhannya.

Tujuh hal di atas adalah sekelumit alasan yang menjadikan mengapa produk pesantren masih bisa diandalkan hingga sekarang. Dari tujuh hal diatas, ada beberapa point yang tidak akan ditemukan di dalam sistem pendidikan di luar pesantren.

Baca juga  Islam dan Cara Penyampaian Ajarannya

Dalam sisi historis, perlu diingat kiprah para ulama pesantren Indonesia yang menjadi panutan dalam kelihaian ilmunya dan dapat menjamah dunia Islam internasional. Seperti Syekh Yasin, seorang ulama Indonesia yang menjadi tumpuan pemburu sanad Hadits di Mekah, Kiyai Nawawi Banten, ulama pengajar di Masjidil Haram, Syekh Mahfudz Termas, pengajar di Masjidil Haram, Kiyai Ihsan Jampes Kediri, pengarang kitab Siraj At-Thalibin, syarah kitab Minhaj Al-Abidin karya Imam Ghazali. Dan banyak lagi ulama-ulama besar lainnya.

Puncak kesuksesan produk pesantren dan peran intinya untuk bangsa Indonesia adalah berdirinya Nahdlatul Ulama. Dimana para pendirinya adalah ulama-ulama besar yang lahir dari dan pengasuh pondok pesantren. Seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisyri Samsuri, KH. As’ad Syamsul Arifin, dan Syaikhona Kholil Bangkalan, guru para ulama pendiri NU dan tonggak inti, pembawa isyarat langit atas berdirinya NU.

Soal kritik untuk pesantren tentu ada yang bisa diterima dan di tolak. Karena kritik atas pesantren bagi yang belum pernah terjun ke dalam akan hampa nilainya. Tapi jika kritik itu keluar dari gagasan orang-orang yang sudah terlahir dari pesantren tentu akan dipertimbangkan matang-matang. Apakah kritik itu sesuai dengan nilai prinsip yang mengakar di pesantren untuk kepentingan perkembangan dan kemajuan, atau justeru bertentangan.

Namun, di masa sekarang, para orang tua perlu mewaspadai dan berhati-hati dalam memilih pesantren untuk keluarga dan anak-anaknya. Karena sudah banyak bermunculan para pembawa ideologi impor di Indonesia, yang juga mendirikan lembaga dengan nama pesantren/ma’had, dan rumah tahfiz. Padahal mereka banyak bertentangan dengan paham Islam pesantren-pesantren yang sudah mengakar berabad-abad di Indonesia.

Intinya, yuk kembalikan anak-anak kita ke Pesantren yang tepat. Karena di pesantren, anak kita akan terjaga dari keresahan semua orang saat ini, yakni hilangnya tatakrama atau yang disebut dengan “the loss of adab”.

Wallahu A’lam Bishshawab