Bagikan sekarang

Oleh: Ahmad Zuhairuz Zaman, B.Sc., M.H.

(Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam INAIFAS)

Sudah jamak bagi kita umat Islam bahwa salah satu larangan bagi orang yang berstatus muhrim (orang yang sedang berihram haji atau umrah) adalah melaksanakan akad nikah sampai selesai dari seluruh rangkaian manasiknya atau tahallul tsani. Hal itu didasarkan hadits Nabi Muhammad ‘alayhi as-shalatu wa as-salam, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Orang yang berihram tidak boleh menikah dan menikahkan.”

Kedua amal kebaikan (haji dan menikah) yang tidak bisa dilakukan secara bersamaan ini ternyata memiliki tautan yang menarik secara korelatif dan komparatif, terutama dalam pelaksanaan keduanya di Bulan Dzul Hijjah.

Dzul Hijjah atau Bulan Besar dalam tradisi muslim Nusantara adalah bulan yang istimewa dengan banyaknya ritual keagamaan yang dianjurkan pada bulan tersebut. Bulan ini juga disebut dengan bulan haji dan bulan musim kawin. Meskipun untuk waktu pelaksanaan nikah tidak ada waktu khusus, namun melangsungkan akad nikah pada Dzul Hijjah sudah mentradisi di kalangan muslim Nusantara.

Mengenai penentuan bulan atau hari baik untuk pelaksanaan pernikahan sebenarnya tidak ada dasar atau dalil yang pasti, meskipun terdapat pendapat para fuqaha’ tentang anjuran dilaksanakannya pada hari Jumat, karena hari tersebut adalah hari yang mulia dalam Islam.

Namun, ada sebagian riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad ‘alayhi asshalatu wa assalam, menikahkan putri terkasihnya Sayyidah Fathimah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib pada awal bulan Dzul Hijjah. Riwayat ini populer di kalangan Syi’ah. Sedangkan riwayat lain menurut Ibn Sa’ad dalam Al-Thabaqat Al-Kubra mengatakan bahwa Sayyidina Ali menikahi Sayyidah Fathimah di bulan Rajab setelah lima bulan sejak kedatangan Nabi Saw ke Madinah. Kemudian Sayidina Ali berkumpul dengan Sayyidah Fatimah setelah pulang dari perang badar, dan usia Fatimah saat berkumpul dengan Sayidina Ali berusia delapan belas tahun.

Terlepas dari perbedaan riwayat tentang waktu pernikahan Sayyidina Ali dengan Sayyidah Fatimah, Bulan Dzul Hijjah adalah termasuk bagian dari empat bulan Haram yaitu empat bulan mulia dalam Islam, yaitu Dzul Qa’dah’ Dzul Hijjah, Muharam dan Rajab.

Sebenarnya keempat bulan tersebut ditetapkan sebagai Bulan Haram sudah terjadi pada masa Jahiliyah, asal muasalnya adalah karena pada Bulan Dzul Qa’dah sampai Bulan Muharram masyarakat Arab melaksanakan ibadah Haji dimulai berangkat menuju Makkah pada bulan Dzul Qo’dah dan kembali dari Makkah ke daerah masing-masing pada Bulan Muharram. Kemudian pada Bulan Rajab mereka biasanya melaksanakan ibadah umrah.

Maka untuk menghormati jamaah haji dan umrah, Bangsa Arab pada masa jahiliyah sepakat untuk tidak melakukan peperangan pada bulan-bulan tersebut, dan jika ada dua kabilah yang saling berperang, maka kedua kabilah harus melakukan gencatan senjata untuk sementara. Tradisi ini kemudian diakui dalam Islam sebagaimana dalam surat Al-Taubah ayat 36. Meskipun tradisi lama jahiliyah tentang Bulan Haram diapresiasi oleh Islam, nama ada pula keyakinan jahiliyah yang ditolak, yaitu pantangan menikah pada bulan-bulan haji.

Beberapa sisi keterkaitan antara haji dan menikah antara lain sebagai berikut:

Baca juga  Pertemuan dengan Mahasiswa Akhir, Dekan Fakultas Tarbiyah : Tunda Dulu !

Pertama. Pertemuan dimensi ukhrawi dan duniawi. Meskipun haji identik dengan pola hidup sederhana, menghindari nafsu dan syahwat manusia, namun Allah ta’ala menganjurkan kita untuk berdoa kebaikan dunia dan akhirat. Redaksi doa tersebut adalah:

‎رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Di mana do’a ini banyak dipanjatkan ketika thawaf dan berada di antara ar-Rukun al-Yamani dan al-Hajar al-Aswad (HR. Abu Dawud).

Juga ketika selesai menunaikan rangkaian ibadah haji sebagaimana ditunjukkan dalam surat Al-Baqarah ayat 200-201. Ketika musim haji juga banyak jamaah haji yang juga berniaga dan berbisnis memanfaatkan keramaian musim haji. Dan Islam tidak melarang hal tersebut sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Baqarah ayat 198.

Dimensi yang sama juga ditemukan dalam pernikahan. Meskipun pernikahan identik dengan hajat biologis manusiawi, tetapi menikah adalah bagian dari sunnah para rasul. Konon pernikahan pertama kali dilakukan oleh Nabi Adam dan Ibu Hawa dengan dua saksi utama dari bangsa malaikat, yaitu Malaikat Isrofil dan Malaikat Mikail.

Saksi pertama yaitu Isrofil yang merupakan representasi dari dimensi ukhrawi karena tugasnya adalah meniup terompet sangkakala. Bunyi sangkakala adalah salah satu tanda perpindahan dari alam dunia ke alam akhirat. Kemudian saksi kedua adalah Mikail yang merepresentasikan dimensi duniawi karena tugasnya membagi rizki semasa hidup manusia di dunia.

Keduanya melambangkan bahwa pernikahan adalah hubungan yang agung, dan lintas alam. Pernikahan abadi tidak hanya untuk seumur hidup atau sehidup semati, tetapi yang bisa berlanjut sampai di akhirat nanti.

Kedua. Jaminan kecukupan dari Allah.
Di antara faktor belum terlaksananya ibadah haji dan menikah bagi sebagian umat Islam adalah takut miskin, padahal ia mampu untuk melaksanakannya. Alasan ini sudah pernah disinggung oleh Al-Quran dan Hadits Nabi.

Hal itu ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengasara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 27-28)

Dalam hadits juga terdapat keterangan bahwa haji dan umrah bisa menghapus dosa dan kefakiran. Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387.

Begitu juga dalam pernikahan. Al-Quran menjamin pernikahan tidak akan menjadikan seseorang jatuh miskin, dan Allah akan mencukupi kedua pasangan yang menikah.
Allah ta’ala berfirman:

‎وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٣٢

Baca juga  Prodi BKPI INAIFAS, Bantu Kembang-Lejitkan Potensi Siswa SMK Maarif NU Kencong

Artinya: “San nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kalian, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Dermawan lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur Ayat 32).

Orang yang mau menikah juga termasuk diantara golongan yang akan ditolong oleh Allah ta’ala. sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihiwasallam:

‎ثلاثة حق على الله عونهم: المجاهد في سبيل الله، والمكاتب الذي يريد الأداء، والناكح الذي يريد العفاف

Artinya: “Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (dengan membayar uang kepada majikannya) dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR. Imam at-Tirmidzi)

Ketiga. Penyempurna agama bagi seorang muslim. Haji merupakan ibadah seumur hidup sekaligus simbol kesempurnaan agama dan ibadah pamungkas. Karena kewajiban untuk melaksanakan haji yang dibebankan kepada seorang muslim yang sudah mukallaf hanya sekali berbeda dengan rukun-rukun Islam yang lain.
Tentang hal tersebut, Allah SWT menurunkan ayat surah al-Maidah ayat 3 pada waktu Rasulullah melaksanakan haji wada’.

Allah berfirman:

‎الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. al-Maidah: 3)

Rasulullah Saw juga bersabda. “Barang siapa yang mati dan belum sempat ibadah haji padahal dia mampu, maka hendaklah ia menjadi sebagai Yahudi dan Nasrani.” (HR. At-Tirmidzi).

Imam Ghazali manjelaskan, maksud hadis tersebut adalah barang siapa yang meninggal dan belum haji padahal mampu atau meninggal dalam keadaan tidak mampu setelah sebelumnya memiliki kemampuan untuk melakukannya, maka dia adalah orang yang durhaka kepada Allah semenjak dia mampu hingga meninggal dunia dan Islamnya tidak sempurna. 

Menikah juga disebut sebagai penyempurna separuh agama. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎من رزقه الله امرأة صالحة فقد أعانه على شطر دينه فليتق الله في الشطر الباقي

Artinya: “Siapa yang diberi karunia oleh Allah seorang istri yang salihah, berarti Allah telah menolongnya untuk menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu, bertaqwalah kepada Allah di setengah sisanya.” (HR. Baihaqi).

Maksud dari menyempurnakan separuh agama dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin sebagaimana berikut:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa yang menikah, berarti telah melindungi setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah agamanya yang kedua.”

Ini merupakan isyarat tentang keutamaan nikah, yaitu dalam rangka melindungi diri dari penyimpangan, agar terhindar dari kerusakan. Karena yang merusak agama manusia umumnya adalah kemaluannya dan perutnya. Dengan menikah, maka salah satu telah terpenuhi.”

Keempat. Pertentangan antara kebutuhan untuk menikah dan kewajiban haji.

Hukum asal haji adalah wajib bagi yang mampu, sedangkan hukum asal menikah adalah sunnah. Akan tetapi dalam menikah bisa berlaku semua kategori hukum taklif yang berjumlah lima. Menikah bisa menjadi wajib ketika seorang mukallaf sangat membutuhkan untuk menikah karena takut terjerumus dalam zina dan ia mempunyai modal untuk menikah, maka ia wajib menikah untuk menghindari perbuatan zina.

Baca juga  Upaya Mencegah Pernikahan Usia Dini Melalui FDS

Berdasarkan penjelasan di atas, maka jika seorang pria mempunyai harta yang cukup untuk haji, akan tetapi ia sangat membutuhkan harta itu pula untuk modal menikah, dan dia takut dirinya terjerumus zina, jika tidak segera menikah, maka ia harus mendahulukan menikah, karena itu adalah kewajibannya.

Dalam hal ini menurut Ibn Qudamah, hukum kebutuhan terhadap menikah sama seperti hukum kebutuhan terhadap nafkah. Dan sebaliknya jika ia tidak takut terjerumus dalam zina, maka ia harus mendahulukan haji, karena hukum menikahnya sunnah, maka tidak boleh mengakhirkan haji yang wajib.

Imam Al-Syirazi mengatakan “Jika seseorang butuh menikah dan dia takut zina, maka didahulukan nikah, karena kebutuhan untuk nikah dalam hal ini lebih mendesak, sementara haji bukanlah ibadah yang sifatnya mendesak.”

Pernyataan Imam Al-Syirazi di atas kemudian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (juz 7 hal. 49) bahwa sebaliknya jika tidak ditakutkan adanya perzinahan, maka penggunaan harta untuk membayar ongkos naik haji lebih diutamakan.

Penjelasan Imam Asy-Syirazi dan Imam Nawawi didasarkan pada kenyataan bahwa hukum menikah bisa berubah-ubah tergantung pada kondisi. Misalnya nikah menjadi wajib jika ditakutkan adanya fitnah jika tidak disegerakan, sedangkan di sisi lain kewajiban haji sifatnya bukanlah kewajiban fawriyyah (yang disegerakan seperti berpuasa saat Ramadhan tiba), namun bersifat al-taraakhi (boleh ditunda).

Bagi penulis, pertentangan antara kebutuhan menikah dan kewajiban haji pada masa sekarang amatlah mudah disiasati. Jadi kasus tersebut semestinya amat langka ditemukan pada masa sekarang. Sebagai solusi, orang yang berada pada kondisi tersebut bisa melakukan akad nikah terlebih dahulu dengan mas kawin (mahar) yang ditempo. Kemudian setelah “bulan madu” sekadarnya, ia bisa berangkat haji dengan harta yang dia miliki saat ini.

Sedangkan walimah nikah atau resepsi perkawinan bisa dilakukan setelah pelaksanaan haji. Perjalanan haji reguler di masa sekarang bisa dilakukan hanya dalam waktu 40 hari, waktu yang singkat jika dibandingkan dengan waktu perjalanan haji masa dulu yang biasanya ditempuh dalam waktu enam bulan atau lebih, karena hanya bisa melalui jalur laut.

Bahkan sekarang banyak jamaah haji yang melangsungkan akad nikah di tanah Haram setelah selesai melaksanakan rangkaian manasik haji (tahallul tsani) sekaligus bertabarruk dengan melaksanakan aqad nikah dan honey moon di tanah Haram dan di bulan Haram (Dzul Hijjah).

Mengkaji tentang hubungan antara haji dan menikah ini, penulis terinspirasi oleh dawuh al-Maghfurlah Simbah KH. Maimoen Zubair rahimahullah, dalam mauidzoh di salah satu acara walimah nikah. Kurang lebihnya beliau mengatakan dalam bahasa Jawa: “Nikah kuwi podo plek karo haji. Bedane jamaah haji karo manten anyar, nek haji sabuke kudu dirapetke, nek manten anyar sabuke kudu dikendo’ke.”

Wallahu a’lam bishawab.