Bagikan sekarang

Awalnya kami hanya saling komentar dan njempol di FB. Akhirnya tadi siang saya berkunjung ke kantornya, Yayasan Nurul Hayat Surabaya. Obrolan mengalir hangat. Sebagian besar malah berisi humor. Juga berbagi tips fundraising, memilih calon kriteria penerima bantuan, pemberdayaan kaum dhuafa, hingga trik tidak ngantuk saat perjalanan jauh. Terimakasih Ustad Heri Latief , Direktur Eksekutif Nurul Hayat.

Harus diakui, selama kurun 20 tahun terakhir yayasan ini berkembang pesat: dari menyediakan pesantren, layanan aqiqah, rumah yatim, pemberdayaan masyarakat melalui zakat, dan program sosial lainnya.

Secara bendera organisasi, Nurul Hayat netral. Tidak ke kanan, juga tidak ke kiri. Berusaha menjaga obyektifitas. Oleh sebagian Nahdliyyin, yayasan ini dianggap “minhum” karena dalam beberapa promosi produk dan program banyak melibatkan beberapa tokoh idola kaum Muhājirin. Sebaliknya, oleh kelompok Salafi, NH malah dianggap representasi NU, karena secara amaliah mayoritas pengurus NH memang beramaliah ala NU. Beberapa pengurus NU juga menjadi narasumber pengisi kajian rutin: dari KH. Abdurrahman Navis, KH. Choliq Tambakberas, KH. Khoiron Syuaib dan Kiai Ma’ruf Khozin, dan sebagainya.

Ketika saya posting program DAI MAHASISWA INAIFAS di fesbuk Februari silam ustadz Heri langsung inbox, menyatakan kesanggupan Nurul Hayat dalam menopang biaya transportasi pergi-pulang. Klik. Klop, sudah. Deal. Keberangkatan dai mahasiswa atas nama Luqman Hakim ke Kab. Tanahbumbu Kalimantan Selatan, seminggu silam, juga disokong oleh Nurul Hayat.

Menjelang Lebaran kemarin, dengan bekerjasama antara INAIFAS, LAZISNU Jatim LAZISNU Kencong, dan Nurul Hayat, kami bergerak membuat program Lebaran Untuk Yatim. Konsepnya berbagi bingkisan lebaran. Kami yang menyediakan dana, anak yatim dan salah satu orangtuanya berbelanja sesuai dengan pilihannya. Kami senang, anak dan ibunya bahagia.

Baca juga  "Empat Kunci Hidup Barokah"

InsyaAllah, Idul Adha besok, INAIFAS bekerjasama dengan beberapa lembaga di atas menyelenggarakan kurban di pelosok. Beberapa dosen dan mahasiswa INAIFAS akan membawa 1-2 ekor kambing ke kampung minus agama dan punya keterbatasan ekonomi di wilayah Jember selatan, lantas menyembelihnya dan membagikan dagingnya di wilayah tersebut. Dengan cara ini kami berharap penyebaran daging kurban bisa tepat sasaran dan merata.

Program lain yang hendak kami duplikasi adalah MATABACA alias Majelis Ta’lim untuk Abang Becak. Konsepnya, pengajian untuk para tukang becak. Ngaji dan makan-makan, juga disediakan bingkisan, dll. Ilmu agama dapat, bantuan kebutuhan keseharian juga diperoleh.