Bagikan sekarang

Oleh: Mila Agustin (Ketua Dewan Mahasiswa INAIFAS 2021-2022)

Indonesia sekarang menghadapi situasi semakin marak dan terbukanya cakrawala dalam globalisasi, dimana akses media sosial dan informasi sudah tidak dibatasi lagi oleh waktu dan tempat. Dimana orang-orang biasanya memposting kegiatan mereka di media sosial dan ini bisa dijadikan sebagai informasi bagi orang-orang yang berada di media sosial tersebut.

Namun perlu diperhatikan pentingnya memberikan ruang publik yang terbatas. Tidak hanya untuk menjaga privasi, melainnkan juga untuk menghindarkan diri kita dari marabahaya media sosial.

Akibatnya sangat fatal kalau kita tidak memperhatikan dengan betul konsekuensi atas apa yang bagikan kepada orang lain di dunia maya. Demikian pula adanya ujaran kebencian atau hoaks yang beredar. Maka dibutuhkan kecerdasan literasi digital bagi anak muda.

Untuk mengurangi dampak negatif dan demi memperkuat hubungan sosial di dunia digital ini, maka Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah bekerjasama dengan DEMA INAIFAS berkolaborasi dengan PROGRAM KEMENKOMINFO dan PT.Pacto Convex yang bergerak dalam Event organizer. Saya atas nama Presiden Mahasiswa INAIFAS, merasa bangga dipercaya menjalankan program ini dengan baik. Sebab, dari 14 kota yang digunakan tempat penyelenggaraan acara, Jember terpilih menjadi salah satunya, dan INAIFAS diberi amanah menjalankannya.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 24 November 2021 di kampus INAIFAS via zoom meet dengan mengusung tema “Membangun Solidaritas Sosial Melalui Literasi Digital”.

Pada acara tersebut ada beberapa pemateri yaitu Bapak Aam Waro’ P.S.Sos yaitu SEKJEN PUSKAPI (Pusat Kajian Pemilu Indonesia) yang berbicara tentang “Kecakapan Digital”, juga Bapam Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) INAIFAS yang memaparkam materi mengenai “Budaya Digital”.

Baca juga  PERTIWI BELUM KEMBALI PADA PRIBUMI

Lalu Ibu Rovien Aryunia, S. Pd., M. PPO, M. .M dari Mafindo, yang mana perempuan paruh baya yang akrab disapa Bu Rovien ini merupakan Ketua Human Resources (HR) Seger Group. Dosen Praktisi UNAIR ini menjelaskan materi pilar “Etika Digital”.

Selanjutnya ada Bapak Tio Utomo yang merupakan Co-Founder Box2box, dan aktif dalam Podcast Network and Indonesia Market Lead For FIFA. Bapak Tio menyampaikan materi “Keamanan Sosial”. Dan yang terakhir yaitu penjelasan materi oleh Habib Husein Ja’far Al Haddar yang merupakan Konten Kreator Keislaman Pemuda Tersesat.

Dalam sambutanya, Rektor INAIFAS, Gus Rijal Mumaziq Zionis mengatakan, peran dunia digital memang sangat besar bagi semua kalangan, banyak manfaat dan fitur-fitur yang membantu pekerjaan masyarakat, misalnya pembelajaran daring, webinar, dan bahkan pekerjaan. Salah satu contohnya ialah, saat ini sudah banyak ditemui outline-outline jualan di media sosial atau produk yang dipromosikan melalui media sosial.

Mengenai kecakapan digital, Bapak Aam Waro’ menjelaskan, kemajuan dunia digital digunakan untuk mendukung proses demokrasi yang lebih baik.
Menurutnya, literasi digital adalah dasar untuk membuat kebebasan berpendapat menjadi semakin aman dan terjamin. Hanya saja, lanjutnya, tantangan bagi kita bersama untuk menciptakan iklim demokrasi yang ideal.

Kedudukan kita di dunia digital sama dengan siapapun, bahkan dengan presiden sekalipun.Dunia digital menjamĂ­n kesamaan hak dan kebebasan berpendapat kita semua.

Dalam hal budaya digital, Bapak Akhmad Rudi Masrukhin menjelaskan perlunya literasi digital dengan menginovasikan supaya menghasilkan sesuatu yang baru yang lebih efisien dan bisa dimanfaatkan.

Literasi digital merupakan pengetahun dalam memanfaatkan media digital.
Indonesia sendiri mempunyai peluang opimisme di era industri 4.0 dengan presentase 78 %. Adapun kerangka kerja literasi digital yang dipakai dalam kurikulum Indonesia tahun 2020-2024 yaitu digital skill, digital culture, digital ethnic dan digital safety.

Baca juga  Keunggulan Memondokkan Buah Hati di Pesantren.

Lebih lanjut, Pak Rudi menyatakan, integrasi kurikulum pendidikan (4 kompetensi inti) dalam literasi digital terdiri dari spiritual, moral, pengetahuan, keterampilan dan konsistensi.

Di sisi lain, Ibu Rovien menjelaskan bahwa kita harus bijak dan beretika menghargai keberagaman di ruang digital dengan berperilaku aman di ruang digital seperti menjaga sikap dan etika, menjaga privasi, mengelola media sosial dengan baik, menghindari akun negatif serta memanfaatkan media sosial untuk personal branding.

Adapun prinsip beretika di ruang digital yaitu memanusiakan manusia, jaga diri dan jaga orang lain, serta sadar konsekuensi. Ibu Rovien juga mengajak kita untuk mewujudkan ruang digital yang berlandasan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Acara yang diikuti ratusan peserta ini semakin menarik manakala pemateri ketiga, Bapak Tio Utomo memberi pesan agar jangan sampai kecanduan digital karena efek sampingnya itu mudah marah, dan stres, merasa kesepian, sulit fokus dan adanya kesulitan di dunia sosial.

Hal tersebut, menurutnya, bisa diatasi dengan membatasi waktu dalam menggunakan gawai dan berselancar di dunia digital, mencari hobi baru sehingga melupakan sesaat dunia digital, serta menghapus aplikasi yang membuat kecanduan.

Di sisi lain, Habib Husein Ja’far Al-Hadar menjelaskan, mengapa orang yang tidak saling mengenal bisa terikat dalam satu perasaan bahwa mereka adalah bagian dari sebuah komunitas yang disebut bangsa? Mengapa orang mau mati untuk sebuah bangsa, untuk anggota-anggota yang tidak dikenalnya? Karena Solidaritas!

Baginya, kehadiran solidaritas kebangsaan (nasionalisme) itu banyak berkaitan dengan kapitalisme media cetak (print-capitalism) yang membuat orang memiliki kemampuan untuk membayangkan (imagined) dalam posisi orang lain (emphaty).

Namun, menurut Habib Husein, perlu diperhatikan bahwa, semakin majunya teknologi ini dan semakin mengglobal sifatnya, maka masyarakat perlu meningkatkan kehati-hatian, utamanya dalam membagikan hal-hal atau kegitan pribadi di media sosial.
Jangan sampai data penting dan data diri yang menghubungkan akses pribadi menjadi tersebar dan diakses oleh orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindak kejahatan.

Baca juga  Mengenal Konsep Sexual Orientation dan Gender Identity

Itulah pentingnya mengapa edukasi dan wawasan tambahan untuk memperluas informasi dan cakrawala tentang globalisme, kemajuan, dan peran media sosial harus ditambah dan diupayakan diberikan untuk semua lapisan masyarakat.