Bagikan sekarang

Oleh : Uliyatul Mu’awwanah, M.E.I (Kaprodi Ekonomi Syariah Inaifas Kencong Jember)

Perihal dana Haji, memang senantiasa menjadi  HOT ISSUE untuk  diperbincangkan. Bahkan bagi sebagian orang hal ini dapat menjadi bahan bulan-bulanan untuk berjulid ria. Bagaimana tidak? Jumlah dana haji mencapai triliunan, tenor atau periode waktu tunggu yang sangat lama mencapai 20 tahun. Jika tingkat literasi masih juga rendah , kita akan sangat rentan menjadi target sasaran informasi  hoax.

Sejak Maret 2020, Indonesia bahkan seluruh negara di dunia dilanda pandemi. Bencana covid 19 ini memberikan dampak besar hingga ke seluruh sendi sendi masyarakat, termasuk ketertundaan antrian pemberangkatan para jamaah haji indonesia yang semakin memanjang. BPKH sebagai lembaga pengelola keuangan dana haji ikut serta merasakan dampaknya. Selain keterbatasan quota yang diberikan oleh pemerintah arab saudi, indonesia memang menjadi satu satunya negara dengan antusiame tinggi untuk pergi ke Tanah Suci, sedangkan jatah quota yang ditetapkan lebih rendah. Selain Pandemi, hal ini menjadi faktor penghambat yang menyebabkan durasi periode waktu tunggu terasa kadaluwarsa. Itulah mengapa jeda waktu tunggu yang mencapai 20 tahun menjadi PR besar bagi BPKH untuk mengelola dana para jamaah. Melihat hal tersebut, BPKH telah melakukan strategi di antaranya dengan cara menginvestasikannya. Investasi yang di pilih ialah investasi berbasis syariah, mengingat dan menimbang bahwa haji ialah kewajiban dan ritual bagi umat muslim, maka jenis investasi yang dilakukan harus selaras dengan tuntunan syariat islam. Dimulai dari bekerja sama dengan Perbankan Syariah sebagai mitra distribusi, peruntukan investasinya hanya untuk bisnis halal seperti sewa jangka panjang hotel di Makkah dan Madinah (karena tanah di sana tidak dapat diperjualbelikan), sewa jangka panjang pesawat terbang yang mana transaksi tersebut hanya menggunakan dolar sebagai alat tukarnya. Di sisi lain, portofolio investasi yang dilakukan BPKH ada pula yang berbentuk surat berharga syariah negara (SBSN) atau biasa disebut Sukuk dengan keuntungan yang digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, ada lagi Green Sukuk yang 100% hasilnya digunakan untuk membiayai proyek mitigasi dan pengoptimalan adaptasi terhadap perubahan iklim serta pelestarian keanekaragaman hayati. Sebagaimana data yang diperoleh dari Humas BPKH dalam cuitannya di berbagai media, portofolio investasi besar lainnya dalam pengelolaan dana haji terdapat di pasar modal syariah. Tentunya hal ini dilakukan dalam rangka diversifikasi resiko.  Selain itu, pengamat ekonomi syariah Bapak Adimarwan Karim dalam dialog CNBC Indonesia  juni 2021, beliau mengungkapkan bahwa undang-undang BPKH tentang investasi dana haji  yang dilakukan harus memenuhi 2 syarat, pertama tidak boleh rugi/ harus untung; kedua harus liquid atau status aktiva berada pada posisi cukup kas/ berupa aset yang mudah dicairkan untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran. Oleh karenanya, dana haji memang harus diinvestasikan agar tetap aman dan terhindar dari dampak inflasi serta penurunan nilai akibat fluktuasi rupiah.  

Baca juga  Tingkatkan Minat Baca Keluarga, INAIFAS Gelar Sosialisasi di Kantor Kecamatan Jombang

Bagi saya pribadi, hal ini merupakan suatu pahala besar yang akan diperoleh para calon jamaah haji reguler karena menjadi lantaran terwujudnya nilai kebermanfaatan bagi bangsa Indonesia, atau jika tidak sabar dengan periode waktu tunggunya, para jamaah bisa  switch dana haji reguler menjadi haji plus, he he he

Dengan demikian, literasi menjadi penting untuk ditingkatkan . terlebih dalam keadaan susah karena pandemi seperti sekarang ini. Selain mampu menangkis hoax, tingkat literasi yang baik juga akan menuntun kita menjadi bangsa  dengan solidaritas tinggi, memiliki tingkat Ukhwah Islamiyah dan Ukhwah Wathaniyah yang tinggi pula, serta memiliki kesediaan mengesampingkan kepentingan pribadi dan senantiasa optimis untuk bangkit bersama.

Percayalah, investasi yang dilakukan BPKH adalah untuk kemaslahatan umat, transaparansi dan akuntabel dalam manajemen tata kelola keuangan publik yang telah dilakukan tiada lain untuk membangkitkan rasa bangga dan rasa memiliki karena uang kita sedang dikelola oleh pihak yang tepat, berhentilah memupuk prasangka negatif, pemerintah tentunya sedang berjibaku untuk memulihkan ini semua. Semoga ini menjadi pahala sekaligus arti lain dari Berqurban untuk sesama. 

Wallahu a’lam Bisshawaab…..

Akhir kata,  Selamat Idul Adha untuk kita semua

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu Akbar Walillaahil Hamd