Location,TX 75035,USA
+1234567890
info@yourmail.com

Dari Mahasiswa INAIFAS untuk Nenek Misiyah

Dari Mahasiswa INAIFAS untuk Nenek Misiyah

Nenek Misiyah adalah seorang perempuan berusia lanjut (04 Mei 1950) yang hidup seorang diri, dalanm artian beliau tidak memiliki anak juga suami serta mengalami penyakit stroke, separuh tubuhnya tidak bisa difungsikan maka dari itu beliau hanya menghabiskan waktu sehari-harinya hanya dengan berbaring di atas kasur. Penglihatan beliau juga sedikit terganggu, derita ini beliau alami sudah kurang lebih 4 bulan. Sebelum adiknya meninggal, nenek dirawat olehnya, ditemani setiap pagi, siang dan malam namun selepas si adek meninggal nenek dirawat oleh istri adiknya di siang hari. Jika malam tiba maka nenek akan sendirian, menurut keterangan istri si adek tersebut beliau takut bermalam di rumah nenek karena suaminya meninggal belum dapat 40 hari. Yah, bisa dibayangkan bagaimana nenek melalui setiap malam yang sepi, sunyi nan gelap gulita.

Minggu, 12 Mei 2019 Presiden Mahasiswa INAIFAS bersama perwakilan organisasi ekstra INAIFAS yaitu PMII dan PKPT IPNU-IPPNU berkunjung ke rumah nenek misiyah, tepatnya di desa Ponjen-Kencong-Jember, RT/RW (002/006) seraya membawa hasil penggalangan dana dan open donasi berupa bahan makanan pokok, pempers, biskuit, teh, air mineral dan uang saku. Dari penggalangan dana tersebut terkumpul dana sebesar Rp 714.700.

Fajar kian menyingsing, tatkala semua insan menikmati pemandangan yang tersuguhkan indah di depan mata. Di tambah dengan bertepatnya bulan Ramadhan, semakin menyejukkan hati dan mata bagi setiap yg memandang.

Saat berkunjung ke kediaman beliau, keadaan beliau semakin menurun, kata istri alm. Adik nenek Misiyah (Ibu Su), kondisi nenek Misiyah kian melemah, biasanya beliau yang masih mampu untuk berbicara, walaupun hanya sekedar untuk minta makan, hari itu tidak berbicara sama sekali. Biasanya, ketika Ibu Su membenarkan posisi tangan nenek misiyah, beliau akan mengerang kesakitan. Akan tetapi, hari itu tak terdengar sedikitpun rintihan dari mulut beliau. Dan biasanya, saat Ibu Su menyuapi nenek misiyah makan, beliau akan menurut memakan makanan yang disuapkan. Akan tetapi hari itu, beliau pun tidak meresponnya.

Hari itu, Ibu Su seperti merasakan tanda-tanda yang jelas akan terjadi tanpa prediksi di kemudian hari. Presiden mahasiswa INAIFAS (Sinta Bella) pun juga merasakan hal yang sama, beliau mengingatkan Ibu Su untuk selalu berkirim kabar nenek Misiyah, jikalau terjadi sesuatu setelahnya.

Dan pada akhirnya, saat pagi di keesokan hari, nenek Misiyah menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan dunia yang ramai, namun sepi baginya, dunia yang penuh dengan warna warni kehidupan, namun hitam kelam untuknya, dan hiruk pikuk suasana yang tidak bisa beliau rasakan karena tubuh yang tak bisa digerakkan.

Innalillahi Wa InnaIlaihi Raaji’un
Nenek, Sekarang engkau tak merasakan sakit lagi, tak ada lagi rintihan yang selalu kau lontarkan. Selamat jalan nenek, Kami berdoa semoga engkau mendapat tempat yang diridhoi-Nya. Semoga rasa sakit yang kau rasakan di dunia, tak kau rasakan di akhirat-Nya. Semoga kemalangan yang telah kau rasakan, Allah berikan untukmu kebahagiaan.

Meninggalnya nenek Misiyah, menjadi pengingat bagi kita semua yang masih diberi usia oleh-Nya. Kita sebagai makhluk sosial, memiliki kewajiban dan kepekaan di lingkungan sekitar untuk selalu mempedulikan saudara-saudara kita yang kesusahan.

Dan teruntuk kita, mahasiswa, diantara salah satu pembeda kita dengan seorang siswa adalah kita tidak lagi diatur oleh guru, akan tetapi kita harus mengatur diri kita untuk tergerak dan bergerak. Kasus nenek Misiyah ini tidak satu dua kali terjadi. Jika kita membuka jendela dunia lebih lebar, masih banyak di luar sana yang bahkan lebih nelangsa dari sang nenek. Itulah mengapa, mempelajari cara memanusiakan manusia lebih penting, daripada cara memperbaiki diri manusia. (Akhsani Ulvatun Ni’mah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 4 =