Bagikan sekarang

Uliyatul Mu’awwanah, M.E.I

Kaprodi Ekonomi Syariah INAIFAS Jember

Masih seputar pandemi, PPKM sudah persis sekuel film alias bersambung. Bagi pedagang kecil mungkin ini bagaikan neraka. Bahkan katanya, kesulitan ekonomi tidak berlaku bagi mereka yang bekerja dengan basis gaji honorer/ rutinan. Tapi asal netizen tahu juga, fenomena resesi ekonomi sebenarnya bukan hanya dirasakan oleh pedagang kecil, karena sebagai konsumen saya pun juga kesulitan berbelanja. Jika mau beli ini itu, seringkali stok kosong akibat banyaknya outlet dan toko yang tutup. Bukan karena profesi seperti yang saya jalani yang dianggap stabil secara finansial, tapi keberlangsungan hidup manusia tidak serta merta hanya diukur dari ketersediaan harta yang ia miliki. Jika manusia tidak makan, meski dia punya duit, tetap akan mati. Bukankah demikian?

Dalam 10 tahun terakhir, isu fundamental lain bab ekonomi, episode pandemi, juz keuangan, pasal investasi, ayat trading, lahir juga sebuah rumor paling populer selain efek di kalangan para trader maupun investor yakni Cryptocurrency (mata uang kripto) alias ₿₿₿. Per Juli 2021, pertumbuhan investor pemegang rekening Cryptocurrency berjumlah 6,2 juta orang, nominal ini sedikit lebih tinggi dengan catatan BEI yang berjumlah 5,6 juta investor. Sebagaimana mata uang lainnya, misalnya di Indonesia dengan mata uang rupiahnya, Amerika Serikat dengan US Dollar, Britania Raya dengan Poundsterling dan seterusnya, mata uang Kripto juga beragam jenis di antaranya, Ethereum, Binance Coin, dan Cardano. Namun dari sekian banyak Cryptocurrency yang dinilai paling tinggi signifikansinya terhadap valuasi pasar US Dollar adalah Bitcoin. Ini artinya value bitcoin dan US Dollar adalah ekuivalen, jika 1$ senilai Rp. 14.000, maka tiap fraksi bitcoin juga senilai Rp 14.000. Hal ini akan dilihat sebagai another option bagi mereka yang ingin memecah asset nya (diversifikasi resiko) ke dalam store of value selain emas, tanah, atau aset tak bergerak lainnya. Lantas apa bedanya mata uang kripto dengan mata uang konvensional? Inilah yang membuat saya kepo untuk menelisik lebih dalam dengan memposisikan diri sebagai analis sekaligus manusia yang bercita-cita ingin tajir melintir dunia akhirat. Doakan, ya gaes!

Baca juga  Silabus Pendidikan Seks dan Rumahtangga ala Pesantren (Bag.1) - Kajian Kitab Qurratul Uyun

Sejujurnya, yang paling membuat saya tertarik sekaligus curiga dari Cryptocurrency adalah teknologi blockchain di belakang sistem operasionalnya. Teknologi ini merupakan bentuk pengembangan dari enkripsi yang terdesentralisasi. Transaksi mata uang kripto dilakukan langsung secara peer-to- peer oleh pengirim ke penerima, tidak perlu adanya intervensi antar manusia (frictionless) sehingga tidak ada perantara dalam transaksi yang terjadi baik dari goverment, perbankan maupun pihak ketiga manapun.

Dengan kata lain, transaksi ini tidak dapat “diganggu” karena tidak ada otoritas pemerintah di atasnya. Eksistensi mata uang kripto juga Based on Supply Demand (berdasarkan permintaan dan penawaran), namun Bitcoin (₿₿₿),merupakan mata uang digital yang sejak awal pembuatan sudah ditetapkan jumlahnya, artinya ini terbatas sebagaimana dalam teori ekonomi bahwa faktor kelangkaan akan menjadikan nilai suatu barang menjadi bertambah. Di sisi lain, teknologi blockchain yang dipakai dalam Cryptocurrency mampu menciptakan safeness/ keamanan  lebih tinggi bagi pemiliknya. Blockchain sendiri merupakan semacam buku besar yang digunakan untuk membukukan data dari jaringan komputer yang berbeda-beda. Keterbukaan dalam proses tracing data menjadikan aspek transparansi keuangan menjadi lebih efektif dan independen. Kurang lebih begitu lah ya, gaes! Maklum sebagai penikmat teknologi saya hanya tahu rasa tapi nggak tahu apa namanya. Bingung sendiri kalau hendak menjelaskan algoritma kriptografi dengan basis matematika yang rumit.  Dalam istilah Jawa, weruh rasane lali rupane.

Di Indonesia, Cryptocurrency masih menjadi perdebatan. Hasil Bahtsul Masail tentang “Halal Haram Transaksi Kripto” di Yogyakarta, Sabtu 19 Juni 2021, menghimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan transaksi ini jika tidak memahaminya secara komprehensif sekaligus memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk segera membuat regulasi (Decision by the Government). Di China, mereka memutuskan untuk membuat kriptografinya sendiri. Di Amerika, ini di anggap sebagai pasar. Adapun di Amerika Latin, beberapa praktisi bahkan sudah menggunakannya dalam transaksi kehidupan sehari-hari. Di Afrika, bagaimana? 1 dari 3 penduduk Nigeria bahkan telah memilih menyimpan hartanya ke dalam  Cryptocurrency. Untuk itu, dengan semakin diterimanya mata uang kripto dalam skala global, kita perlu lebih jeli dalam menghadapi situasi, karena hal semacam ini juga dapat menimbulkan resiko kestabilan moneter di samping resiko underground economy jika masyarakat menjadikannya sebagai private digital currency. Tapi di sisi lain, mata uang kripto juga sangat efektif alias tidak ribet, karena pada akhirnya, tipologi manusia cenderung akan memilih jalan yang paling aman untuk dapat mentransfer kekayaan kepada ahli warisnya kelak.

Baca juga  Tingkatkan Kualitas Dosen, Prodi PBA Gelar Diklat Pembuatan Buku Ajar

Dengan demikian, untuk para pembaca, satu-satunya hal yang perlu diingat dan digarisbawahi ialah bahwa mata uang jenis ini masih sangat spekulatif. Ada kesempatan, namun juga mengandung resiko. Perlu kejelian dan kewaspadaan. Jadi, akhirnya, jangan salahkan pedangnya jika digunakan membunuh orang, namun akan menjadi suatu kebodohan jika hanya memakai pedang untuk sekadar mengiris bawang! Aha! Salam Cuan, Gaes!