Mahasiswa Inaifas Sukseskan Vaksinasi PMK pada Sapi

Mahasiswa Inaifas Sukseskan Vaksinasi PMK pada Sapi

Bagikan sekarang

Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular. Penyakit ini menyerang semua hewan berkuku belah/genap, seperti sapi, kerbau, babi, kambing, domba termasuk juga hewan liar seperti gajah, rusa dan sebagainya.

Virus dapat bertahan lama di lingkungan, dan bertahan hidup di tulang, kelenjar, susu serta produk susu. Masa inkubasi 1-14 hari, virus awet dalam pendinginan dan terinaktivasi oleh temperature > 500 dan terinaktivasi pada pH < 6,0 & pH > 9,0.

Penyakit ini ditandai dengan adanya pembentukan vesikel atau lepuh dan erosi di sekitar mulut, lidah, gusi, nostril, puting, dan di kulit sekitar kuku, pincang dan bahkan kuku bisa terlepas, hipersalivasi, hewan lebih sering berbaring; pada ternak potong terjadi penurunan bobot badan dan pada ternak perah terjadi penurunan produksi susu yang drastis.

Kepala Puskeswan, drh. Dwi Astalia Zuanita mMorbiditas biasanya tinggi mencapai 100%, namun mortalitas/tingkat kematian untuk hewan dewasa biasanya sangat rendah, akan tetapi pada hewan muda bisa mencapai 50%.

“PMK disebut juga sebagai air borne disease karena sangat kecilnya virus ini mampu menyebar cepat dengan bantuan angin sampai ratusan kilometer,” ungkapnya.

Astalia menjelaskan bahwa penyakit mulut dan kuku tidak ditularkan ke manusia (bukan penyakit zoonosis), sehingga daging dan susu aman untuk dikonsumsi. Meskipun tidak tertular kepada manusia, daging dan susu sapi yang dikonsumsi harus dengan pengolahan yang sempurna.

“Pengolahan ini penting demi mematikan virus yang terdapat di dagingnya sehingga bisa diminimalisir masuk ke tubuh manusia. Ini yang harus dipahami masyarakat bahwa tidak perlu takut mengkonsumsi daging dan susu, tapi harus diperhatikan pengolahan daging dan susu dengan benar sehingga virus menjadi in-aktif,” urainya.

Disebutkan, kerugian dari dampak penyakit ini bukan hanya dirasakan oleh peternak, namun juga dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Potensi kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh PMK ini tidak hanya pada peternak yang mengalami penurunan produktivitas hingga kehilangan hasil, akan tetapi kerugian secara nasional.

Kerugian ekonomi bagi kegiatan usaha peternak terutama disebabkan oleh kehilangan produktivitas karena penurunan produksi susu (25% per tahun), penurunan tingkat pertumbuhan sapi potong (10% – 20%), kehilangan tenaga kerja (60% – 70%), penurunan fertilitas (10%) dan perlambatan kebuntingan, kematian anak (20% – 40%), dan pemusnahan ternak yang terinfeksi secara kronis.

Menanggapi hal itu, mahasiswa PkM-BR Posko 6 berkolaborasi dengan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kecamatan Kencong ikut serta sukseskan penanganan vaksinasi Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Desa Wonorejo. Selasa (16/08/2022).

Guna penanganan penurunan ekonomi Desa Wonorejo dan SDGs-nya, kegiatan tersebut dimulai pada 16 Agustus 2022 pukul 08:30 WIB. Dengan diawali pendataan tentang jenis sapi dan umur sapi di setiap dusun di Desa wonorejo.

Adapun anggota puskeswan yang hadir dalam kegiatan vaksinisasi PMK sebanyak 14 orang, yang terdiri dari 2 dokter hewan dan 12 paramedik veteriner.

Setalah itu mereka dan pihak Puskeswan pada pukul 09:00 langsung terjun ke setiap dusun di Desa Wonorejo. Kegitan itu dipimpin oleh Fikang Sulaksono Ardi A.Md sebagai ketua tim vaksinasi.

Adapun data vaksinasi setiap dusun diantaranya Dusun Krajan A : 38 ekor, Dusun Krajan B : 80 ekor, Dusun Krajan C : 40 ekor, dan Dusun Jatisari: 42 ekor.

Disebutkan, untuk vaksinisasi yang diberikan pada sapi menggunakan vaksin Aftopor dengan dosis ke 1. Setelah pemberian vaksin mereka dan Puskeswan memberi arahan penanganan dan perawatan secara medis terkait sapi yang terkena penyakit PMK.

drh. Nanik selaku dokter hewan mengatakan adapun upaya penanganan yang dapat dilakukan adalah Isolasi ternak sakit, pemberian vaksin virus yang aktif mengandung adjuvant, pemberian antipiretik, analgesic, pemberian vitamin & suplemen ATP.

Selain itu, pemberian antibiotic (Long Action), kuku yang luka diberi obat semprot luka, dan bisa diberikan penguat lainnya (empon-empon).

“Kemudian, pemberian obat dan vitamin perlu diulang sampai ternak sembuh, ternak sakit diupayakan bisa makan, meskipun nafsu makan menurun,” pungkasnya.


Laporan Posko 6 Desa Wonorejo. DPL: Akhmad Zaeni, M.Pd.

Cara Mahasiswa Inaifas Daur Ulang Sampah Jadi Kerajinan

Cara Mahasiswa Inaifas Daur Ulang Sampah Jadi Kerajinan

Bagikan sekarang

Posko 27 adalah salah satu dari 3 posko yang berada di pesantren, tepatnya di Pondok Pesantren Mambaul Khoiriyatil Islamiyah (MHI) Bangsalsari, Jember. Dalam melaksanakan program kerjanya dengan visi ‘Membangun Kreatifitas Santri menuju SDGs’, yakni berinovasi mendaur ulang sampah sebagai upaya dalam mengembangkan keterampilan dan meningkatkan kebersihan di lingkungan pesantren.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Posko 27 Siti Mutmainnah, M.Pd mengatakan agar mahasiswa dapat menemukan potensi yang dimiliki pesantren. Sehingga dapat dikembangkan menjadi hal baru di Pesantren tersebut.

“Temukan potensi atau masalah apa yang terjadi di Ponpes MHI kemudian kembangkan, berinovasi dan temukan hal baru,” katanya.

Sementara Muatok mengatakan bahwa kelompok 27 pun berinisiatif mengolah sampah menjadi kerajinan bukan tanpa dalih karena sampah memang permasalahan umum di Pondok Pesantren.

“Mulai dari pembuangan yang tidak cukup memadai dan sesekali membayar petugas kebersihan dari luar di setiap berapa minggu sekali untuk memunggut sampah di TPS,” ujarnya.

Muatok menambahkan setidaknya program pengabdian ini dapat meminimalisir sampah yang ada di pesantren. Kegiatan ini diapresiasi dan disambut baik oleh Kepala Pondok Putri Ustadzah Rofiqotus Sa’adah.

“Kami dipersilahkan langsung untuk bersosialisasi tentang visi dan misi PkM-BR Posko 27 di depan santri pada kegiatan Khitobah mingguan santri (28/07/2022). Sebab, di waktu tersebut santri se-Induk cabang berkumpul,” imbuhnya.

Muatok menjelaskan beberapa langkah yang dilakukan. Pertama, melakukan sosialiasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan ponpes dengan menyemarakkan giat mengumpulkan sampah an-organik tertentu pada santri serta warung-warung di sekitar pondok.

Kedua, mendatangi langsung rumah ahli dalam pembuatan kerajinan sampah untuk mengajari mereka sebagai peserta PkM-BR (khusus pembuatan sampah plastik menjadi tas).

Ketiga, mengajarkan santri tentang cara pembuatan kerajinan dari hasil sampah yang mereka kumpulkan menjadi kerajinan tas, ecobrik, hiasan dinding, figora dan lain-lain.

Alifnur menjelaskan bahwa santri sangat gembira dan antusias dalam mengikuti program tersebut.

“Tampak jelas antusiasme santri terhadap program ini, mereka cepat menguasai berbagai teknik kerajinan yang kami ajarkan, kecuali tas dari bungkus kopi mereka kesulitan” kata Alifnur salah satu mahasiswa posko 27.

Sementara Syela, salah satu santri binaan mereka terheran-heran dengan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa PkM-BR Inaifas.

“Baru kali ini saya mengetahui kerajinan sampah plastik yang unik nan aesthetic dari bungkus kopi menjadi kerajinan tas. Wah bisa nanti dibuat kado hari ibu,” ujar Syela dengan penuh semangat.

Lebih lanjut, Akhmad Zaeni Wakil Rektor II Inaifas menuturkan sebuah inovasi yang bagus menjadikan sampah menjadi kerajinan dan bernilai jual.

“Saya berharap program ini tetap berkelanjutan dan bisa bekerja sama dengan koperasi pondok sehingga pendapatannya berkemungkinan dapat membantu para santri yang tidak mampu,” ujar pria yang akrab disapa Pak Zen pada Selasa (16/08/2022).

Diketahui, segenap santri juga setuju dan semangat ketika apa yang mereka hasilkan nantinya bisa bernilai jual, meskipun bakal banyak pertimbangan perizinan dan lain-lain dikarenakan kegiatan pondok yang tidak bisa diprediksi dan padat kegiatan.

Selain itu, posko 27 akan mengusahakan dan mempertahankan untuk berlanjut karena sesuai dengan semboyan PkM-BR mereka yakni Sustainable Development Goals (SDGs).


Laporan Posko 27 Ponpes MHI. DPL: Siti Mutmainnah, M.Pd.

Peringati Muharram, Mahasiswa KKN Kolaboratif Gelar Santunan Yatim dan Dhuafa

Peringati Muharram, Mahasiswa KKN Kolaboratif Gelar Santunan Yatim dan Dhuafa

Bagikan sekarang

Memasuki pekan ketiga, mahasiswa posko 2 KKN Kolaboratif yang terdiri dari mahasiswa Universitas Jember, INAIFAS, dan Universitas Moch Seroedji Jember mengikuti kegiatan peringatan Muharram dan Santunan Anak Yatim dan Dhuafa.

Kegiatan santunan yang melibatkan 51 anak diantaranya 42 anak yatim dan 9 dhuafa ini dipusatkan di Balai Desa Cakru pada Ahad (14/8/2022).

Kepala Desa Cakru, Ibu Heni Indrayani mengatakan salah satu faktor terlaksananya acara ini merupakan bentuk terlepasnya dari belenggu Covid 19, sehingga pihaknya dapat melaksanakan kegiatan yang bersifat positif serta membantu anak-anak yatim dan dhuafa yang membutuhkan.

“Dengan adanya acara ini merupakan sebuah kesempatan bagi para masyarakat yang ingin menyisihkan sebagian hartanya untuk anak-anak yatim,” ucapnya.

Tidak hanya santunan, Heni menuturkan kegiatan ini sekaligus mendatangkan Gus Akhad Khoiron pengasuh Pondok Pesantren Nurul Anwar Padomasan, Jombang, Jember sebagai penceramah untuk memberikan tausiah.

“Sehingga selain acara utama yakni santunan namun juga sebagai salah satu acara kultum mengenai keutamaan memuliakan anak yatim dan juga menceritakan kisah Nabi Musa agar memperkuat keimanan dan ibadah kepada Allah SWT,” imbuhnya.

Acara bertambah meriah dengan antusiasme warga Cakru yang hadir, hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah warga yang datang sejak pagi meskipun cuaca hari mendung, sehingga acara santunan ini berlangsung dengan lancar dan tampak semarak.

Dikemukakan, terdapat beberapa santunan yang diberikan yaitu berupa seperangkat alat tulis, makanan, minuman, uang tunai dengan total nominal 35 juta dan ditambah donasi dari beberapa yang berbaik hati mensedekahkan sebagian hartanya untuk anak-anak yatim.

“Semoga dengan barang yang diberikan dapat menambah keberkahan acara santunan ini dan juga dapat membantu memenuhi kebutuhan anak-anak yatim dalam perjalanan menuntut ilmu,” tandasnya.

Tampak hadir dalam kegiatan ini perangkat Desa, perangkat Kecamatan, Kasun/wakasun, RT/RW, Ibu-ibu PKK, segenap panitia penyelenggara dan warga Desa setempat.


Laporan Posko 2 KKN Kolaboratif Desa Cakru. DPL : Mar’atus Sholihah M.Pd.

Selai Jeruk, Alternatif Pendapatan Ekonomi Masyarakat Desa Gadingrejo

Selai Jeruk, Alternatif Pendapatan Ekonomi Masyarakat Desa Gadingrejo

Bagikan sekarang

Posko 24 melaksanakan program kerja utamanya dalam Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset (PkM-BR) dan Sdgs. Kegiatan tersebut adalah pelatihan membuat selai dari jeruk bangle.

Kegiatan ini dilaksanakan di Dusun Padang Rejo dan Dusun Krajan Selatan serta Dusun Krajan Utara. Sasaran utama kepada masyarakat Desa Gadingrejo, yakni ibu-ibu rumah bertempat di TK Muslimat NU Dusun Padangrejo, Desa Gadingrejo, Kecamatan Umbulsari pada Rabu (10/08/2022).

“Tampak terlihat antusias ibu-ibu saat mengikuti pelatihan dan kebanyakan tidak menyangka jika jeruk dapat dimanfaatkan menjadi olahan makanan selai,” kata Itfiyatunnida salah satu mahasiswa Posko 24.

Salah satu warga, Ibu Ani mengatakan sangat inovatif sekali bisa menjadikan kesibukan juga termasuk pemanfaatan jeruk khususnya yang bangle untuk meningkatkan harganya.

“Alhamdulillah, berkat pelatihan ini dapat menjadi peluang usaha bagi masyarakat nantinya,” ungkapnya.

Pelatihan kedua yakni kepada ibu-ibu PKK dan Muslimat yang bekerja sama dengan pemerintah Desa Gadingrejo pada Kamis, (11/08/2022) bertempat di balai Desa Gadingrejo.

“Lagi-lagi ibu” PKK dan Muslimat tidak menyangka bahwa jeruk bangle bisa dimanfaatkan menjadi olahan makanan, hal ini dapat menjadikan perubahan khususnya desa gadingrejo menjadi makanan khas, selain penghasil buah jeruk yang besar,” kata Nida.

Nida berharap mahasiswa posko 24 melakukan inovatif olahan selai jeruk sebagai salah satu pemberdayaan bagi masyarakat desa gadingrejo juga sebagai bentuk pengabdian kita kepada masyarakat Desa Gadingrejo dengan berbagai permasalahan pertanian yang ada, dan merupakan solusi bagi para petani.

Ketua Ibu PKK Desa Gadingrejo berinisiatif untuk mengikutsertakan selai jeruk di pameran bazar yang akan datang dengan harapan agar selai jeruk dapat terkenal juga menjadi pendapatan bagi masyarakat Desa Gadingrejo.

“Nanti akan saya komunikasikan lebih lanjut dengan panitia pameran bazar,” tandasnya.

Dikemukakan bahwa Jeruk bangle ialah jeruk yang tidak layak di panen, atau rusak, maka dari situ posko 24 punya inisiatif untuk memanfaatkan jeruk bangle tersebut untuk dijadikan selai jeruk.

Masyarakat Gadingrejo sangat setuju, bahkan bisa di pasarkan, terutama yang punya lahan jeruk karena mayoritas warga Gadingrejo 60% petani jeruk. Sehingga program ini untuk memberdayakan ekonomi masyarakat melalui jeruk bangle tersebut dan memberikan lapangan kerja kepada para pemuda yang pengangguran dalam mengolah selai jeruk bangle.

Kepemimpinan Perempuan dan Entrepreneurship menjadi Sorotan Utama Mahasiswa PKM-BR Posko 11 Mayangan

Kepemimpinan Perempuan dan Entrepreneurship menjadi Sorotan Utama Mahasiswa PKM-BR Posko 11 Mayangan

Bagikan sekarang

Inaifas – Praktik PkM-BR mahasiswa Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) posko 11 Mayangan, Kecamatan Gumukmas mampu mengangkat tema berbeda dalam aktivitas penelitian tersebut. Hal-hal yang dikulik mencoba membawa tradisi keteladanan perempuan desa dalam praktik sosial kemasyarakatan yang di dukung dengan mendampingi talenta dalam jiwa berwirausaha.

Program pemerintah dalam SDGs memberikan peranan khusus yakni kesetaraan gender agar peluang beban kerja ganda pada perempuan desa mampu di eliminasi akibat tradisi yang berlaku. Terlebih pada perempuan yang telah di tinggal oleh suaminya, mereka harus menjadi tulang punggung untuk menafkahi kebutuhan rumah tangganya.

Perempuan harus dipandang secara harfiah, bahwa mereka tetaplah manusia yang mampu bersaing dan menciptakan inovasi baru dari lingkup terkecil sampai yang luas. Hal inovatif dan inspiratif telah dilakukan oleh Mujiyem, perempuan asal desa Mayangan yang berhasil mengembangkan usahanya dengan disiplin dan pantang menyerah, dalam hal ini Mujiyem turut serta menjadi pemimpin yang mampu ditiru oleh sebagian kalangan perempuan desa lainnya.

“Perempuan harus mampu untuk menata hidupnya sendiri, agar jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan kita sudah mempersiapkan segala halnya” ujarnya.

Selain berbeda, peserta PkMBR mahasiswa Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) posko 11 Mayangan, Kecamatan Gumukmas juga memberikan motivasi agar terwujudnya jiwa Entrepreneurship sebagai jawaban atas ketimpangan ekonomi agar perempuan tidak dipandang sebelah mata oleh sebagian orang.

Program ini didukung oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Drs. Akhmad Syaikhu M.Pd.I. Beliau memandang bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan setara sebagai Khalifatul Fil’ard. Perempun memiliki berbagai potensi yang juga harus dikembangkan sehingga perlu sekali dukungan dari berbagai pihak.

Laporan posko 11 Desa Mayangan. DPL: Drs. As Syaikhu M.Pd.I
Kelompok: Firman Cahya Kusuma, M.Nur Hakim, M. Izul Haq, April Lidia Wati, Mareta Fitriani, Nurul Amelia dan Mamluatur Rohmah.

Optimisme Mahasiswa PkM BR Inaifas Kembangkan Potensi Desa Tembokrejo

Optimisme Mahasiswa PkM BR Inaifas Kembangkan Potensi Desa Tembokrejo

Bagikan sekarang

Sejak penerjunan para mahasiswa  PkM BR INAIFAS pada tanggal 26 Juli 2022 lalu, berbagai kegiatan mulai di galakkan dalam mengimplementasikan tema “Membangun Masyarakat Sejahtera Menuju SDGs”. Fokus Program SDGs tersebut di kerucutkan pada ke-4 goals yakni; Tanpa Kemiskinan, Tanpa Kelaparan, Pendidikan Berkualitas dan Kesetaraan Gender. Langkah awal yang menjadi pijakan para mahasiswa PkM BR INAIFAS adalah dengan mengenali permasalahan serta potensi yang ada di setiap Desa.

Sebagaimana yang disampaikan oleh DPL Posko 14, yakni Jamilatun Nafi’ah, M.Pd. di awal penerjunan. Pesan beliau dalam mengawali langkah PkM BR ini pertama, temukan berbagai potensi serta permasalahan yang ada di desa Tembokrejo ini, langkah awal bisa kalian bertanya pada pemerintah desa. Kedua, dalam giat kerja, tentunya kalian juga harus bersinergi dengan pemerintah Desa Tembokrejo, para tokoh serta masyarakat di Desa ini.
Kepala Desa Tembokrejo, H. Suyitno juga menambahkan, “kami terima dengan sangat baik atas kedatangan para mahasiswa INAIFAS yang akan mengabdi di desa Tembokrejo ini. Bahkan kami persilahkan jika para mahasiswa sekalian turut berpartisipasi dalam kegiatan desa maupun dalam musyawarah desa”(26/8/22).

Berdasarkan penelusuran para mahasiswa inaifas, desa Tembokrejo Gumukmas memiliki sejumlah potensi alam yang cukup menjanjikan jika di kembangkan secara nyata. diantaranya potensi alam tersebut terdapat gunung trianggulasi yang merupakan icon desa Tembokrejo, terdapat juga kolam dengan air sumber asli, dan di dekat persawahan penduduk terdapat sumber mata air dengan kandungan mineral tinggi.  Desa Tembokrejo juga masih melestarikan budaya tradisional Indonesia yakni wayang kulit.

Melihat potensi tersebut para mahasiswa PkM BR bermaksud mengusung tema SDGs dengan membuat proker pengembangan potensi desa Tembokrejo. Berikut penuturan ketua kelompok mahasiswa PkM BR, Septiani Maftuha

“Sebagai langkah awal kami akan mengenalkan beberapa potensi alam di Desa Tembokrejo secara lebih meluas, hal ini bisa dilakukan melalui promosi wisata desa” Septiani (4/8/2022)

Septiani juga mengungkapkan potensi alam di Desa Tembokrejo sebetulnya sudah sangat baik, namun permasalahan yang kami temukan adalah tentang kepemilikan tempat antara pemerintah desa dengan masyarakat. Inilah yang masih menjadi kendala bagi pemerintah desa dalam mengembangkan wisata tersebut. Harapannya dengan melakukan promosi wisata desa ini, masyarakat bisa menyadari akan pentingnya pengembangan wisata desa dan tidak menutup kemungkinan nantinya bisa berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat sekitar.

Para mahasiswa PkM BR Inaifas ini juga berencana untuk membuka “Bimbingan belajar serbaguna”. Bimbel tersebut akan merupakan langkah dalam mengentaskan kesulitan baca tulis anak di kelas 4,5,6 SD/MI. Selain itu, melalui “bimbel serbaguna ” ini lah para mahasiswa PkM BR Inaifas akan mengenalkan wayang kulit dan keterampilan publik speaking. Program tersebut ternyata di sambut baik oleh pemuda karang taruna Tembokrejo.

Dalam rapat pembahasan bimbel tersebut salah seorang pemuda karang taruna menegaskan” untuk mendukung program bimbel ini kami para pemuda karang taruna juga akan berusaha menjadikan program bimbel serbaguna secara berkelanjutan. Ungkap Edo (9/8/2022).

Ika Kusumawati yang merupakan bagian dari kelompok PkM BR tersebut optimis akan menggalakkan program kerja tersebut dengan baik dan dalam hal ini tentunya para mahasiswa akan bersinergi dengan Pemuda pemudi karang taruna, pemerintah desa dan masyarakat setempat.

Laporan Tim Mahasiswa PkM BR kelompok 14 ini di kendarai oleh 7 orang diantaranya Septiani Maftuhah (PGMI), Ika Kusumawati (PGMI), Efi Izzatul Afifah (PGMI), Izzatul Mi’rojiah (PGMI), Siti Mujayanah (PGMI), Muhammad Basori (PGMI) dan Muhammad Rijalul Khoir (ES). DPL: Jamilatun Nafi’ah, M.Pd.