PMII Harus Adaptif dan Inovatif

PMII Harus Adaptif dan Inovatif

Bagikan sekarang

Oleh : Nurul Hidayah, S.Pd. (Alumni INAIFAS Angkatan 2014, Aktivis PMII)

Pengkaderan adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan oleh setiap organisasi. Untuk di Nahdlatul Ulama, keberadaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah sebagai ujung tombak bagi bersemainya kader harapan di masa mendatang.

Sebagai organisasi kemahasiswaan, PMII dibentuk dengan tujuan Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia

Di tengah derasnya arus kemajuan digital dan bonus demografi yang akan datang, sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan, PMII memiliki tanggung jawab untuk menampung dan membersamai perkembangan generasi milenial dan generasi Z.

Tantangan yang dihadapi PMII adalah mendekati generasi milenial dan generasi Z dengan menggunakan cara-cara yang menyenangkan dan kekinian.

PMII memiliki tanggung jawab untuk melatih mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan dengan menggunakan pendekatan baru mengikuti perkembangan zaman yang dinamis. Untuk mengikuti perkembangan zaman dan tantangan bonus demografi mahasiswa harus menyiapkan diri.

Salah satu hal utama adalah melakukan kaderisasi berbasil skill atau keahlian. Kader yang mampu melakukan perubahan adalah kader yang inovatif dengan kemampuan skill, adaptif dengan perubahan zaman.

Karena itu, PMII harus dinamis dan adaptif terkait zaman. Hal itu juga bisa dilakukan dengan membangun jejaring lintas budaya, agama, dan kaum profesional. Yang tidak boleh ketinggalan adalah profesionalisme dan kemandirian serta mampu membuat wacana baru untuk era yang akan datang.

Secara organisasi dan individu PMII harus menjadi dan melahiran kader yang profesional dan mandiri dalam segala bidang.

Dengan demikian PMII dapat memberikan warna dalam kehidupan bermasyarakat.

Pentingnya Pengaruh Pesantren Salaf kepada Pemuda di Era Modern

Pentingnya Pengaruh Pesantren Salaf kepada Pemuda di Era Modern

Bagikan sekarang

Modernisasi adalah masa perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern ditandai dengan perubahan sikap dan gaya hidup berdasarkan tuntutan masa kini. Seperti yang kita ketahui, masa remaja merupakan masa transisi dari usia kanak-kanak menuju dewasa, pada masa ini mereka menjadi sangat labil serta mudah sekali terpengaruh terhadap lingkungan sekitar juga terhadap sesuatu yang sedang kekinian. Seiring perkembangan zaman, gaya hidup masyarakat apalagi di kalangan remaja semakin berkembang, tidak sedikit dari mereka mengikuti perubahan zaman yang mengacu dan bergerak kepada gaya hidup modern yang bisa dikatakan menjadi sebuah tren dan kebutuhan bagi setiap masyarakatnya.

Pendidikan merupakan hal yang penting untuk dimiliki para pemuda, hal ini bertujuan untuk membentuk suatu perilaku yang baik pada generasi muda muslim, yang berdasarkan dengan aqidah Islam serta ketauhidannya kepada Allah swt., bergaul dengan teman yang mempunyai akhlak yang baik pula, memperdalam gama dengan berbagai cara, misalnya saja mempelajari hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum-hukum Islam agar pengetahuannya bertambah semakin luas.

Islam mempunyai tujuan untuk menanamkan jiwa kemasyarakatan yang sangat penting dan berguna kelak ketika sudah berkeluarga, dan sekarang seorang pemuda mempunyai tugas untuk berlatih dalam masyasakat sedikit demi sedikit agar kelak tidak kesulitan ketika terjun langsung dalam masyarakat. Hal itu memerlukan kesadaran yang muncul dalam diri sendiri, atau ada juga dorongan dari luar misalnya saja keluarga atau teman di sekelilingnya sehingga dengan begitu ada perasaan yang membangkitkan semangat untuk mau keluar dan belajar bermasyarakat demi tercapainya masa depan yang menjanjikan.

Manusia itu dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apapun, kemudian Allah swt. menugaskan manusia untuk mencari tahu apa yang ada di sekelilingnya serta mempelajari setiap perubahan-perubahan yang terjadi melalui panca indra. Sudah seharusnya sebagai generasi muda untuk menerapkannya pada kehidupan sehari-hari dan mencintai setiap proses yang terjadi. Sehingga sejak dini sudah tercipta suatu karakter individu yang bisa menghadapi hambatan-hambatan yang suatu saat pasti akan terjadi.

Melalui pendidikan dan pengajaran, berdampak pada akhlak yang baik. Apabila seseorang yang pada awalnya belum begitu mengetahui tentang ilmu agama, kemudian ia mempunyai niat untuk memperdalam ilmu agamanya dengan cara menuntut ilmu di sekolahan yang berbasis agama, maka dengan seiring berjalannya waktu ia akan mengerti tentang ilmu agama. Selain itu moralnya juga menjadi lebih baik lagi dari pada sebelumnya. Kemudian ketika di dalam masyarakat ia sudah siap apabila di minta tolong untuk melakukan suatu hal yang berhubungan dengan agama.

Pendidikan juga sebagai sarana untuk mempelajari aspek-aspek dalam kehidupan yang menjadikan para pemuda mempunyai dasar pemikiran yang kokoh. Karena dengan dengan itu seseorang menjadi terbiasa dalam berfikir secara kritis dan dengan dasar-dasar pendidikan agama Islam seseorang dapat berfikir secara jernih dan tidak bingung apabila menghadapi persoalan kehidupan.

Dengan terwujudnya suatu karakter pada generasi muda akan berdampak positif baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarnya, dan menjadikan perubahan dalam masyarakat, yang dulunya sangat pasif, tidak mengetahui agama secara keseluruhan, dan berakhlak yang kurang, sekarang menjadi aktif dalam segala hal, berwawasan luas, berakhlak yang baik. Karena jika seseorang kepribadiannya masih sangat kuno, pasti akan banyak sekali masalah-masalah yang muncul yang mengakibatkan pertentangan antar individu atau antar kelompok. Mereka tidak bisa berfikir positif dan menjadi semena-mena dalam menentukan keputusan. Maka perlu mestinya bagi para pemuda untuk menimba ilmu di pesantren.

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia yang memiliki kontribusi penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pesantren dalam perjalanan sejarah kebangsaan memiliki kontribusi yang sangat besar, terutama dalam mempersiapkan generasi bangsa dalam pendidikan dan pengkajian ilmu-ilmu agama. Belum diketahui secara pasti pesantren yang pertama kali muncul sebagai pusat-pusat pendidikan agama di Indonesia. Yang paling lama berada di wilayah Jawa Timur pada abad 18, walaupun sebenarnya pesantren di Indonesia mulai berpengaruh pada abad ke 19.

Secara faktual ada beberapa tipe pondok pesantren yang berkembang di masyarakat. Pertama pondok pesantren tradisional, yaitu pondok pesantren yang masih mempertahankan bentuk aslinya, semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama pada abad ke-15 dengan menggunakan bahasa arab atau biasa disebut dengan nama kitab kuning.
Pola pengajaran pondok pesantren tradisional dengan menerapkan sistem halaqah (musyawarah) yang dilaksanakan di Masjid atau Surau. Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada para Kyai pengasuh pondoknya.

Kedua, pondok pesantren modern yang orientasi belajarnya cenderung mengadopsi dari seluruh sistem belajar secara klasikal dan meninggalkan sistem belajar yang tradisional. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional.

Ketiga pondok pesantren komperehensif, yaitu suatu pesantren yang mengembangkan sistem tradisional dan sistem modern.

Dewasa ini, arus globalisasi merajalela dapat merubah semua sistem kehidupan termasuk didalamnya sistem pendidikan dan tentunya berimbas terhadap sistem pendidikan pesantren. Respon pesantren berhadapan dengan modernisasi pendidikan, lebih banyak berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan transformasi kelembagaan pesantren menjadi lembaga pendidikan modern. Tetapi cenderung memperhatikan kebijaksanaan hati-hati, yaitu mereka menerima pembaharuan (modernisasi) tetapi hanya dalam skala terbatas. Sebatas mampu menjamin pesantren dapat bertahan.

Sebagian besar pesantren menyikapi tantangan modernisasi pendidikan dengan melaksanakan berbagai perubahan berkaitan dengan sistem pendidikan dengan melaksanakan berbagai perubahan berkaitan dengan sistem pendidikan, kurikulum, materi, dan metode pembelajaran serta sistem evaluasi. Pesantren-pesantren inilah yang menyelenggarakan sistem pendidikan madrasah dengan sistem pendidikan dan kurikulum sesuai dengan yang ditentukan oleh departemen agama.

Salah satu faktor dominan kemandekan institusi-institusi islam (termasuk institusi pendidikan pondok pesantren) adalah tidak adanya atau lemahnya wawasan kekinian dan masa depan. Akibatnya kemampuan dalam merespons tantangan perubahan dan tuntutan zaman sangat miskin. Kebanyakan mereka terbatas dalam mempertahankan hal-hal yang baik dari masa silam, dan belum membuka diri untuk mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik.

Perkembangan sains dan teknologi , penyebaran arus informasi, dan perjumpaan budaya dapat menggiring kecendurungan masyarakat untuk berpikir rasional, bersikap inklusif, dan berperilaku adaptif. Mereka dihadapkan pilihan-pilihan baru yang menarik dan cukup menggoda. Apalagi pilihan-pilihan tersebut dikemas dengan nuansa baru. Dan kondisi demikian ini tentu sangat berpengaruh terhadap standar kehidupan masyarakat.

Pesantren harus responsif terhadap perubahan yang terjadi, tidak bisa bersikap isolatif dalam menghadapi tantangan perubahan. Respon yang positif adalah dengan memberikan alternatif yang berorientasi pada pemberdayaan sanatri dalam menghadapi era global yang membawa persoalan-persoalan makin kompleks. Respon yang tidak kondusif seperti isolatif ini akan menjadikan pesantren mengalami kelemahan dan kemunduran, yang pada gilirannya akan ditinggalkan oleh masyarakat.

Adapun hal-hal yang perlu direkonstruksi dari sistem pendidikan pesantren salafiyah untuk mengajar ketertinggalan dan menghadapi tuntutan perubahan di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi adalah kembali menempatkan pondok pesantren sesuai fungsinya, diantaranya adalah:

  1. Fungsi Tarbiyah atau Fungsi Pendidikan: ikhtiar yang dilakukan ialah tetap melaksanakan pendidikan kepesantrenan sekaligus mulai merintis pendidikan formal sebagai langkah awal untuk ikut memnuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan formal tanpa menghilangkan pendidikan keagamaan sejak dini pada anak-anak.
  2. Fungsi Religius: pesantren tetap konsisten mengedukasi masyarakat dengan pembiasan kegiatan-kegiatan keagamaan untuk menjadikan masyarakat lebih religius memaknai status keagamaannya serta menjadikan pesantren sebagai pusat keagamaan di masyarakat sekitar,
  3. Fungsi Sosial: salah satu fungsi sosial dari pesantren ialah mencetak ulama. Tidak semua individu yang belajar di pondok pesantren memiliki cita-cita menjadi seorang ulama, tidak jarang dari mereka yang masuk pondok pesantren justru dianggap anak atau individu yang bermasalah dilingkungannya.
  4. Kebijakan yang dilakukan oleh pondok pesantren salafiyah ketika dihadapkan kepada keinginan untuk melestarikan tradisionalisme dan keharusan modernisasi adalah:

a) Sistem pengajaran tradisional seperti bandongan dan sorogan berjalan diluar sistem klasikal

b) Kitab kuning tetap digunakan sebagai rujukan materi-materi keislaman di madrasah

c) Madrasah tersebut memiliki kurikulum hasil kombinasi kurikulum kementerian agama dan kepesantrenan

d) Guru kitab kuning diupayakan dari golongan kiai, guru keagamaan non kitab kuning. Sedangkan tenaga pengajar pelajaran umum dikalangan guru profesional lainnya

e) Bersikap terbuka terhadap kebijakan negara (politik, pendidikan)

f) Mengupayakan kultur pondok pesantren dalam hubungan sosial

Oleh karena itu ditegaskan bahwa yang terpenting pesantren dapat bermanfaat bagi santri dan masyarakat sekitar, menjadi seorang individu yang sholeh dan memiliki kepribadian ikhlas dalam menjalankan ibadah.

** Kontributor : M. Nailul Fawaik

* Foto : Istimewa

Si Nenek Pecandu Rokok

Si Nenek Pecandu Rokok

Bagikan sekarang

(Kisah Nyata)

Hari itu terasa begitu melelahkan, usai kegiatan yang satu datang lagi yang lain hingga sore menjelang. Namun, ‘tak menyurutkan semangat 4 dara itu untuk tunaikan janji temu. Mereka duduk bersila di sebuah warung kopi, sangat antusias perbincangan itu karena banyak sekali cerita setelah sekian lama ‘tak jumpa. Selain pesan minuman, 3 di antara mereka memesan makanan. ‘Tak lama kemudian semua pesanan datang, jadilah mereka menyantap bersama, sesekali disela dengan cerita. Kisahnya masih berlanjut, entah tentang soal apa saja dibicarakan.

Setelah ritual makan selesai, salah satu dari mereka mengeluarkan barang yang oleh kebanyakan orang ‘tak seharusnya menjadi milik perempuan. Seketika, Ainun menjadi orang asing di antara mereka.

“Kamu ngerokok?” tanya Dinda dengan mengernyitkan dahi.

“Iya.” Ainun menjawab tanpa ada rasa bersalah apalagi penyesalan.

“Sejak kapan?” Dinda terus memburu Ainun.

“Sudah lama.” Masih ada raut ketidak percayaan di antara wajah yang lain. Mereka harus menerima pemandangan itu meski mungkin hatinya menolak.

“Tenang saja, rokok bagiku bukan segalanya, aku hanya ngerokok di waktu-waktu tertentu saja. Suatu saat kalau suamiku meminta aku berhenti, ya, aku bakal berhenti. Yang segalanya bagiku adalah bagaimana perempuan memperoleh haknya untuk memilih ngerokok. Aku tidak peduli dengan diriku, karena aku bisa kapan saja keluar dari kondisi ini. Tetapi bagaimana dengan perempuan yang sudah tidak bisa keluar atau bahkan memilih bertahan? Aku hanya ingin sosial kita berpandangan sama terhadap perempuan yang seperti itu,” jelas Ainun karena melihat sahabatnya memilih diam dan menonton dengan wajah begitu simpati atau bahkan risih.

“Aku punya kisah perempuan yang seperti itu.” Nana menyela dengan suara lirih dan pandangan kosong.

Mereka semua terdiam, seperti sedang memberikan ruang bagi Nana untuk melanjutkan kisahnya. Sedang Ainun masih dengan selencer rokok yang menyala di tangan kanan.

Itu terjadi di tahun 2018, ketika aku mendapat tugas magang dari kampus. Aku ditugaskan di sebuah lapas, ini sungguh pengalaman baru yang menakutkan dan penuh kekhawatiran, tapi berakhir dengan kebahagiaan juga.

Ketakutanku bermula di hari pertama, ketika aku mendapat tugas untuk melucuti semua pakaian napi baru. Ini sudah menjadi peraturan mutlak di lapas bahwa setiap napi baru harus dilucuti untuk diperiksa dan dipastikan tidak membawa satu barang pun ke dalam. Pasienku waktu itu seorang perempuan yang sudah tua. Dia terlibat perselisihan surat tanah sehingga menyeretnya sebagai tersangka.

Pemeriksaan aku mulai dengan penutup kepala yang dia pakai, di sana aku menemukan beberapa lencer rokok. Dari sini aku menenukan fakta bahwa Nenek ini merokok. Terlihat sekali di wajahnya raut kekhawatiran itu dan dia memaksa aku untuk mengembalikan rokoknya. Tetapi, seberapa pun dia memohon, ini adalah tugas yang harus aku tunaikan. Jadi, tidak peduli rengekan si Nenek aku lanjut memeriksa bagian badan yang lain.

Tidak ku sangka aku harus menemukan barang yang sama di tempat yang bahkan tidak terpikirkan olehku. Nenek itu juga menyembunyikan rokok-rokoknya di selempitan payu dara, dan selangkangan yang terbungkus celana dalam. Kali ini bukan hanya rengekan, tetapi beliau menangis dan terus memohon kepadaku.

“Tolong, Nak. Berikan saya rokok itu, saya tidak bisa hidup kalau tidak ngerokok.” Kali ini, jiwa kemanusiaanku meronta-ronta, ingin sekali aku membaginya walai hanya se hisap. Tetapi, lagi-lagi aku diperingatkan oleh peraturan yang berlaku. Aku hanya bisa memohon maaf karena tidak bisa mengabulkan permintaan si Nenek.

Setelah tugas selesai aku memberikan laporan kepada polisi wanita yang bertugas kala itu, membiarkan Nenek keluar dari tempat pemeriksaan. Setelah melapor, aku ingin kembali ke ruangan magang. Tetapi, jalanku urung mengambil langkah ketika aku melihat si Nenek itu di pojokan dengan masih menangis dan meratapi dirinya. Aku tidak tega dan menghampiri dia berniat untuk menghibur.

“Mbah, saya belikan permen, ya, sebagai ganti rokoknya,” ujarku membujuk.

“Tidak, Nak. Saya hanya tidak bisa kalau tidak ngerokok.” Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saat itu aku sangat iba dan timbul rasa penasaran kenapa si Nenek ini terus mengatakan tidak hidup tanpa rokok. Aku hanya berusaha memberikan ketengan dengan menepuk-nepuk pundaknya.

“Mbah yang sabar, ya.”

Hari berganti malam dan malam berganti pagi. Aku memperoleh tugas untuk memeriksa para napi. Di sebuah ruangan jeruji aku menemukan wajah yang sama sekali tidak asing. Ya, dia Nenek yang kemarin aku periksa. Kalian tahu pemandangan seperti apa yang aku lihat waktu itu? Badan Nenek ini terus gemetar, dia menggigil seperti orang kecanduan sabu. Semakin aku penasaran dibuatnya.

Rasa penasaranku terjawab saat aku memperoleh kesempatan bertanya kepada keluarga yang berkunjung. Mereka bertiga adalah buah hati si Nenek, yang satu seorang guru, satunya lagi dokter dan perempuan yang paling muda itu seorang perawat.

“Mohon maaf, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan, semoga kalian memberikan izin.” Melihat kedatanganku, mereka saling bertukar pandang. Seakan dari kelopak mata masing-masing mereka bertanya-tanya. Seorang laki-laki berkulit bersih di antara mereka memulai bicara.

“Iya, Mbak, silahkan.” Sebelum aku bertanya, aku membenarkan duduk di depan mereka.

“Saya petugas magang yang memeriksa Ibu kalian saat pertama kali datang kesini. Di beberapa bagian tubuh, saya menemukan rokok yang berusaha disembunyikan. Dia terus memohon kepada saya untuk mengembalikan rokoknya. Suatu pagi saya juga menemukan dia menggigil badannya. Seperti begitu sangat kecanduan.” Mendengar penjelasanku, mereka hanya bisa memamerkan wajah lesu. Sesekali mengambil nafas panjang.

“Kalau saya boleh tahu, kenapa dia bisa seperti itu?”

“Ibu dan Bapak saya dulu penjual tembakau keliling, terkadang mangkal di depan pasar. Sepanjang dia jualan, dia tidak pernah berhenti menghisap. Terus mengebul itu rokok di tangannya. Sejak kebiasaan itu hingga sekarang, Ibu hanya tidak merokok ketika tidur saja. Saya minta bantuan Mbak, ya, buat bawakan rokok ke dalam. Saya akan berikan Mbak imbalan.”

Belum selesai aku tertegun dengan penjelasan Mbaknya, lagi-lagi aku harus mendengar permohonan yang tidak bisa aku penuhi. Terlepas imbalan apapun, hal itu tidak bisa aku lampaui.

“Mohon maaf, saya tidak bisa, Mbak. Terima kasih Mbak sudah mau menjawab pertanyaan saya yang orang luar ini. Saya akan berusaha menjaga Mbah tanpa melanggar peraturan. Saya permisi dulu, Mbak.”

Pandangan mereka terus memburu langkahku, jauh sampai aku tidak terlihat lagi. Namun, dalam lorong gelap itu, mataku masih kosong. Mataku melihat dan telingaku mendengar sebuah kisah perjuangan seorang perempuan mengais rezeki melalui dan bersama rokok. Soal kenangan bersama suami sudah jelas terikat dalam memori. Lebih dari itu, aku menemukan fakta yang disampaikan oleh Ainun, bahwa rokok bagi perempuan lain mungkin bukan sebagai pelengkap dalam hidup, melainkan hidup itu sendiri.

Para dara itu, kembali dari kisah Nana yang menghanyutkan emosi.

Jember, 10 Januari 2021.

Kontributor : Sinta Bella

Foto : Ilustrasi

Mengenal Konsep Sexual Orientation dan Gender Identity

Mengenal Konsep Sexual Orientation dan Gender Identity

Bagikan sekarang

Review Hasil Diskusi Pra-Sekolah Islam dan Gender PMII Komisariat INAIFAS

Oleh : Habib Aziz Ar Rozi & Vitayatul Mukarromah

Dalam diskuisi ini kita diajak untuk memahami apa itu seks, gender, seksualitas, identitas gender, ekspresi gender, orientasi seksual, dan identitas seksual. Pada intinya, sahabat diajak untuk membedakan apa itu seks (mengacu kepada perbedaan biologis manusia dilihat dari alat reproduksi dan kromosomnya) dengan gender (pembedan sifat, peran, dan posisi antara laki-laki, perempuan, transgender yang dipengaruhi oleh berbagai pranata sosial dan merupakan sebuah konstruksi yang dapat dipertukarkan dan dipersilangkan).

Lebih dalam lagi, sahabat juga diajak memahami apa itu identitas gender (bagaimana seseorang mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki, perempuan, transgender?), ekspresi gender (bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya, apakah maskulin, feminin, androgini?). Kemudian juga membedakan orientasi seksual (kepada jenis kelamin/gender mana seseorang tertarik) dengan identitas seksual (bagaimana seseorang mengidetifikasi dirinya sehubungan dengan orientasi mereka, apakah gay, lesbian, biseksual?)

Diskusi dan Pembahasan

Seks adalah alat kelamin, mengacu pada sifat-sifat biologis yanh secara kasat mata berbentuk fisik yang mendefinisikan manusia sebagai laki-laki, perempuan dan atau interseks.

Seksualitas merupakan salah satu aspek dalam kehidupan manusia sepanjang hidupnya  yang berkaitan dengan jenis kelaminnya. Seksualitas dialami dan diungkapkan dalam pikiran, khayalan, gairah, kepercayaan, sikap, nilai, perilaku, perbuatan, peran dan hubungan.

Sederhananya, seksualitas ialah lebih dari sekedar perbuatan seksual atau siapa melakukan apa dengan siapa.

Gender merupakan perbedaan yang terlihat antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Gender itu berasal dari bahasa latin “GENUS” yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.

SOGI atau SOGIESC adalah konsep pemahaman mengenai ketubuhan, orientasi seksual, dan gender, yang dibuat agar dapat membuka pikiran masyarakat secara lebih luas. Konsep ini berlatar belakang pada banyaknya pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi karena masyarakat masih belum mampu menerima keberagaman, baik itu keberagaman gender, maupun orientasi seksual.

Ada banyak diskriminasi, persekusi, bahkan kekerasan terhadap orang-orang yang memiliki orientasi seksual berbeda. Konstruksi budaya juga membuat masyarakat memiliki pemikiran yang sempit.

Inilah heteronormativitas; norma-norma yang menyatakan bahwa seseorang dianggap normal hanya jika memiliki orientasi heteroseksual. Seseorang yang heteronormatif mengasumsikan bahwa heteroseksualitas adalah satu-satunya orientasi dan satu-satunya norma.

SO (sexual orientation):

Ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada jenis kelamin tertentu. Beberapa contoh orientasi seksual:

  1. Heteroseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada jenis kelamin yang berbeda.
  2. Homoseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada jenis kelamin yang sama. Misalnya, GAY adalah laki-laki yang tertarik pada sesama laki-laki, dan LESBIAN adalah perempuan yang tertarik pada sesama perempuan.
  3. Aseksual: Seseorang yang tidak memiliki ketertarikan, tetapi tidak memungkiri bahwa seorang yang aseksual bisa saja memiliki ketertarikan secara fisik saja, atau emosi saja, atau bahkan sexual saja, tidak ada patokan yang resmi karena berbicara mengenai otoritas seseorang itu sendiri.
  4. Biseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada laki-laki dan perempuan.
  5. Panseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual yang tidak memandang identitas gender maupun jenis kelamin. Seorang yang panseksual dapat memiliki ketertarikan dengan sesama laki-laki, sesama perempuan, maupun keduanya, kepada transgender, maupun interseks.
  6. Demiseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual yang tidak memandang identitas gender maupun jenis kelamin apapun, akan tetapi melibatkan emosi yang sangat kuat dan membutuhkan waktu yang lama untuk membangun hubungan emosional dengan seseorang.

GI (gender identity):

Bagaimana seseorang mengidentifikasi dirinya sebagai gender tertentu. Perlu dicatat bahwa ini adalah otoritas pribadi setiap orang. Kita tidak bisa memaksakan seorang yang fisiknya nampak seperti laki-laki sebagai laki-laki jika dia ingin mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan. Begitupun sebaliknya. Ada orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai transgender, bahkan ada juga orang yang tidak ingin mengidentifikasi dirinya baik sebagai laki-laki, perempuan, maupun transgender. Mereka seringkali disebut sebagai “QUEER”

E (expression):

Mengenai bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya Maskulin, Feminin

Androgini (memiliki tampilan luar maskulin dan feminin sekaligus, atau berganti-ganti sesuai suasana hatinya)

SC (sex characteristic):

Karakteristik seksual setiap orang. Poin ini berkaitan dengan kromosom, gonad, dan biologi. Ketika bayi baru lahir, biasanya seorang dokter akan langsung menentukan gender bayi tersebut berdasarkan karakteristik kelaminnya, namun mengesampingkan jumlah kromosom, gonad, dsb. Ini akan berdampak pada anak tersebut ketika memasuki usia dewasa. Anak yang seharusnya laki-laki dapat saja menunjukkan tanda-tanda tumbuh payudara, atau mengalami menstruasi, ketika ia memasuki usia remaja. Kondisi seperti ini disebut interseks.

Seorang interseks adalah orang yang lahir dengan variasi karakteristik seks seperti kromosom, kelenjar kelamin, hormon, atau organ genitalia yang tidak padan dengan definisi umum mengenai laki-laki atau perempuan. Ketidaktahuan mengenai karakteristik seksual akan sangat berdampak pada seorang interseks. Di luar negeri, seorang interseks dapat menentukan sendiri jenis kelamin yang di inginkannya, tentu saja yang sesuai dengan karakteristik seksualnya.

Konklusi

Dengan demikian kita dapat mengenal apa LGBTIQ itu. LGBTIQ merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Transseksual, Intersex, Queer, dan Questioning. Penting untuk ditekankan bahwa keragaman identitas seksual dan gender bukanlah sesuatu yang salah dari segi kesehatan. Sejak tahun 1990-an, World Health Organization (WHO) telah mencabut homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa. Kementrian Kesehatan RI pun mengikuti hal tersebut dengan dicabut dari Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). Dengan demikian homoseksualitas merupakan varian biasa dari seksualitas manusia.

Hanya saja memang dalam masyarakat kita, heteronormativitas masih diyakini sebagai sesuatu yang paling benar. Misalnya saja, ketika seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir, ia diharapkan kelak menjadi laki-laki yang maskulin dan tertarik kepada perempuan. Begitu pula ketika seorang bayi berjenis kelamin perempuan lahir, ia diharapkan kelak menjadi perempuan yang feminin dan tertarik kepada laki-laki. Bagaimana dengan bayi yang lahir dengan identifikasi jenis kelamin yang tidak jelas (padahal interseks)? Akan menjadi masalah tersendiri. Bagaimana jika anak laki-laki itu kemudian menyukai sesama laki-laki, atau anak perempuan itu kemudian lebih nyaman dengan sifat maskulin?

Inilah sebabnya mengapa ketika manusia lahir, pada dasarnya yang dapat kita identifikasi adalah jenis kelaminnya. Seksnya. Kita tidak dapat memastikan, dan bahkan tak berhak menentukan, orientasi seksualnya maupun identitas gendernya. Adalah merupakan hak bagi setiap orang untuk menentukan identitas gender dan seksualnya, dan konsep ini perlu dipahami secara komprehensif dalam lingkup pemenuhan hak asasi manusia.

Demikian review sederhana ini, semoga mampu memantik terhadap pemahaman dan kejernihan berpikir sahabat-sahabati. Jika ingin lebih mendalam memahaminya, sebaiknya perbanyak referensi yang lain kemudian rajin mendiskusikannya dan berpartisipasi dalam Sekolah Islam dan Gender jilid III bulan Januari 2022 nanti.

Kontributor : PMII INAIFAS
Foto : Gatra.com

Glosarium Gender. Mengutip dari laman ; Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Peran Gender

Peran Gender adalah perilaku yang dipelajari di dalam suatu masyarakat/komunitas yang dikondisikan bahwa kegiatan, tugas-tugas atau tanggung jawab patut diterima baik oleh laki-laki maupun perempuan. Peran gender dapat berubah, dan dipengaruhi oleh umur, kelas, ras, etnik, agama dan lingkungan geografi, ekonomi dan politik. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki peran ganda di dalam masyarakat. Perempuan kerap mempunyai peran dalam mengatur reproduksi, produksi dan kemasyarakatan. Laki-laki lebih terfokus pada produksi dan politik kemasyarakatan.

Peran Produksi

Peran produksi adalah kegiatan yang dilakukan baik oleh laki-laki dan perempuan agar supaya menghasilkan barang dan layanan untuk diperdagangkan, dipertukarkan atau memenuhi nafkah bagi keluarga. Sebagai contoh di pertanian, kegiatan produksi termasuk penanaman, penyiangan, peternakan.

Peran Reproduksi

Peran Reproduksi adalah aktivitas untuk menjamin reproduksi angkatan kerja. Hal ini termasuk pembatasan anak, penjarangan anak, perawatan terhadap anggota keluarga seperti orang tua, anak-anak dan pekerja. Tugas-tugas tersebut umumnya tidak mendapatkan upah dan kebanyakan dilakukan oleh perempuan.

Peran Masyarakat

Peran masyarakat adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan di tingkat masyarakat untuk menjamin ketersediaan dan pengelolaan sumberdaya yang terbatas seperti air, perawatan kesehatan dan pendidikan. Pekerjaan ini biasanya tidak dibayar dan kebanyakan dilakukan oleh perempuan.

Peran Politik Perempuan

Peran politik perempuan adalah kegiatan-kegiatan di tingkat masyarakat, mengorganisir di tingkatan formal politik, sering kali dalam kerangka kerja politik nasional. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh pria, dan biasanya dibayar secara langsung (uang) atau tidak langsung (meningkatnya kekuasaan dan status).

Beban Ganda

Beban ganda merujuk kepada kenyataan bahwa perempuan cenderung bekerja lebih lama dan lebih sedikit harinya dibandingkan laki-laki sebagaimana biasanya mereka terlibat dalam tiga peran gender yang berbeda-reproduksi, produksi dan dan peran di masyarakat.

Sex

Sex adalah perbedaan-perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan . Contoh: perempuan dapat melahirkan, laki-laki memproduksi sperma

Gender

Gender adalah hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender merujuk pada hubungan antara laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, dan bagaimana hubungan sosial ini dikonstruksikan. Peran gender bersifat dinamis dan berubah antar waktu.

Kesetaraan Gender

Kesetaraan Gender adalah hasil dari ketiadaan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin atas dasar kesempatan, alokasi sumber daya atau manfaat dan akses terhadap pelayanan.

Pengarusutamaan Gender

Pengarusutamaan Gender adalah proses untuk menjamin perempuan dan laki-laki mempunyai akses dan kontrol terhadap sumber daya, memperoleh manfaat pembangunan dan pengambilan keputusan yang sama di semua tahapan proses pembangunan dan seluruh proyek, program dan kebijakan pemerintah.

Kesadaran Gender

Kesadaran Gender adalah suatu pengertian bahwa ada faktor-faktor sosial yang menentukan antara laki-laki dan perempuan atas dasar tingkah laku, yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengakses dan mengontrol sumber daya. Kesadaran ini membutuhkan penerapan melalui analisa gender menjadi proyek, program dan kegiatan

Analisa Gender

Analisa Gender adalah metodologi untuk pengumpulan dan pengolahan informasi tentang gender. Analisa gender membutuhkan data terpilah berdasarkan jenis kelamin dan suatu pengertian dari konstruksi sosial dari peran gender, bagaimana pembagian kerja dan dinilai. Analisa gender adalah proses dari analisa informasi agar supaya menjamin manfaat dan sumberdaya pembangunan secara efektif dan adil ditujukan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Analisa Gender digunakan juga untuk mengantisipasi dan menolak akibat negatif dari pembangunan yang mungkin terjadi pada perempuan atau karena relasi gender. Analisa gender dilakukan menggunakan bermacam alat dan kerangka kerja.

Perencanaan Gender Perencanaan Gender (atau Perencanaan yang sensititif Gender) adalah proses dari perencanaan program-program dan proyek-proyek pembangunan yang sensitif gender dan dimana mempertimbangkan impact dari peran gender dan kebutuhan gender dari laki-laki dan perempuan di dalam sasaran masyarakat atau sektor.

Kontroversi Bakso Bias Gender

Kontroversi Bakso Bias Gender

Bagikan sekarang

Pada suatu siang, aku sedang menunaikan janji diskusi tipis-tipis dengan salah satu teman di kafe daerah Jember kota. Beliau adalah salah satu aktifis laki-laki yang juga getol ngomongin isu-isu diskriminasi berbasis gender. Baik berbentuk kekerasan, bullying, pelecehan maupun perundungan. Kemudahan akses di jaman modern ini juga berpotensi diskriminasi dilakukan di mana aja dan kapan aja. Bahkan, yang baru-baru ini telah marak yaitu berbasis online.

Banyak pula perilaku kita yang tanpa sadar juga mengarah pada perbuatan diskriminasi. Hal ini karena telah menjadi kebiasaan yang membudaya. Misal, kita seksis dengan teman di sosmed dengan mengatakan. “Ih, kamu seksi banget, sih.” atau yang berbentuk body shaming. “Kamu, kok, gemukan, sih.” Perkataan ini dinilai biasa dan bahkan terkadang sebagai bentuk keakraban. Atau yang berbentuk perlakuan, seperti tiba-tiba kita memegang bokong lawan jenis, atau memainkan alat kelamin teman sebagai bentuk guyonan (ini biasanya terjadi antara seperteman laki-laki). Hal yang dibiasakan dan berujung pada pembiaran ini lama kelamaan akan dimaklumi. Dan dianggap bukan sebagai masalah. Jika sudah sampai pada titik ini, maka semakin sulit lagi untuk ngomongin revolusi sikap manusiawi.

Temanku itu mengatakan pengalaman salah satu temannya, di mana dia dirangkul oleh seorang dosen berumur di atas 70 an. Si mahasiswi tidak mengganggapnya sebagai bentuk pelecehan. Bahkan, dia memaklumi dengan alasan kasihan karena sudah dianggap sebagai kakek sendiri yang kemungkinan dia mengalami kesepian.

Kamu tahu bagaimana sakitnya jika ada fakta bahwa di sini ngesot-ngesot melakukan perjuangan, nah, yang di sana terus melakukan pembiaran. Ambyar, Gaes. Bisa jadi ini juga salah satu faktor diskriminasi gender semakin hari bukan semakin menurun, justru semakin melejit. Bahkan, perlakuannya sudah keluar dari konteks hakikat kita sebagai seorang makhluk, yang memiliki tugas sebagai pemimpin. Merawat keseimbangan dan kemanusiaan.

Sudah banyak kita ngomongin kasus diskriminasi berbasis Gender. Kami memutuskan untuk mencari makan. Kebetulan di samping kafe ada kedai Bakso. Langsung aku minta kita makan di sana. Kalian tahu? Apa ekspresi kami sewaktu membaca list menu makannya. Gila, gila banget, sih. Ini bentuk pembiaran yang berani menurutku. Konsumsi publik cuy, maksudnya tidak ditejukan ke person, tetapi tentu pengunjung kedai tersebut.

“Ini, sih, bias gender banget, Mas. Dari tadi kita ngomong sampek berbusa-busa. Eh, di sini malah nemu yang beginian,” ujarku dengan wajah mringis. Bias gender adalah kondisi yang memihak atau merugikan salah satu gender.

Ini list nama menu Bakso yang kami nilai bias gender:

  1. Bakso Jomblo
  2. Bakso pingin kawin
  3. Bakso janda ngamuk
  4. Bakso pelakor
  5. Bakso mama muda

Tentu dari semua list itu, mayoritas merugikan perempuan. Kita, sangat sepakat bahwa pelakor adalah sebuah istilah yang nggak manusiawi untuk perempuan. Sebutan itu seakan-akan menempatkan kesalahan sepenuhnya kepada perempuan saat terjadi perselingkuhan. Kita tidak tahu, relasi kuasa seperti apa yang dimainkan lelaki. Ingat, ya, perselingkuhan nggak bakal terjadi kalau tidak ada konsensus dari keduanya, laki-laki dan perempuan. Jadi, sangat jelas ini diskriminatif.

Janda ngamuk, kalian tahu seorang janda sekarang sebutannya udah diganti PEKKA (Perempuan kepala keluarga). Sebegitu inginnya kita nilai seorang perempuan yang memilih untuk lepas dari suami tetap terjaga, dan memberikan reward sebagai julukan kepala. Bukan malah janda, udah gitu ditambah redaksi ngamuk lagi. Apa nggak memberikan stigma bahwa seorang PEKKA seringnya ngamuk. Udah, nggak bener sekali.

Apalagi mama muda, haduh. Nggak habis pikir banget gueh. Apa dengan ini mereka nyaranin suami untuk nambah istri? Fiks, ini bukan aku baper atau terlalu sensitif. Kesadaran ini muncul sebab aku sudah mengetahui konsepnya, implementasinya dan masalah yang muncul. Sewaktu di tanya oleh temanku. “Apa nggak ada yang pernah protes dengan pemilihan namanya, Mas.”

“Ada, Mas. Orang Arab kemarin.”

“Kenapa katanya, Mas?”

“Ya, karena waktu itu dia bawa anak kecil.”

“Terus gimana respon smean, Mas?”

“Ya, gimana, ya, Mas, orang ini produk kami. Jadi terserah kami, ya, mereka boleh aja nggak suka.”

“Kenapa menggunakan nama-nama unik begini, Mas?”

“Ya, buat narik minat masyarakat.”

Ada beberapa fakta yang kita peroleh dari keterangan si owner:

  1. Bahwa anak kecil yang seharusnya dihindarkan dari pengetahuan diskriminatif malah memperoleh hidangan secara cuma-cuma. Kita sering speak up mengenai buku ajar di lingkungan sekolah yang masih diskriminatif. Semisal kalau ada gambar memasak, pasti di situ namanya Ani, sedangkan kalau sepak bola namanya Ahmad. Pengetahuan pembagian peran ini terbawa hingga anak menjadi dewasa dan berpotensi melakukan diskriminasi. Begitu pula dengan kasus nama bakso ini.
  2. Si owner melakukan pembiaran sebab dia belum menemukan atau merasakan langsung masalah yang timbul sebab nama bakso yang dia pilih. Ini bukan mengarah pada kekerasan fisik, tetapi lebih pada mental. Bayangkan aja kalau yang makan di sana beneran yang mereka sebut sebagai janda, pelakor atau mama muda. Yuk, manusiawi dikit aja.
  3. Menarik masyarakat. Dari pernyataan ini kemudian aku tidak serta merta menyalahkan si owner. Tetapi, ternyata kita juga merupakan support system dalam melakukan pembiaran perbuatan diskriminasi gender. Kita dianggap sebagai objek penjualan yang bakal tertarik membeli dengan nama-nama diskriminatif tersebut.

Dari beberapa fakta di atas, tentu ini bukanlah masalah aku atau temenku. Tetapi menjadi masalah kita bersama selaku manusia. Jika pun yang bergerak dan mengharapkan perubahan hanyalah kami, tentu itu hanyalah sebuah ilusi. Seperti yang ku kata di atas, di sini melakukan perubahan, yang di sana melakukan pembiaran. Maka, tidak akan pernah benar-benar sampai pada tujuan, yakni menyoal kemanusiaan.

Kita perlu bersama-sama menemukan pemahaman lalu mengimplementasikan. Mengenai kemanusiaan bukanlah sesuatu yang pantas untuk dibuat guyonan. Mari berbenah bersama dengan berkomitmen untuk menjauh sebagai subjek maupun objek perbuatan yang bias gender.

Bakso, tanpa kau memiliki nama yang kontroversi kau tetap menjadi makanan favoritku hingga aku mati. Jadi, tetaplah baik dengan menjual cita rasa.

Jember, 24 Desember 2021

Penulis : Sinta Bella (SB)

Foto : Istimewa

Hadiah Dari Tuhan ; Sebuah Kesan Kuliah di INAIFAS

Hadiah Dari Tuhan ; Sebuah Kesan Kuliah di INAIFAS

Bagikan sekarang

Oleh : Moh. Ferdi Hasan, S.Pd.

Bismillahirrohmanirrohim, dengan segala kebanggaan dan kebahagiaan, hal pertama yang akan saya sampaikan atas kelulusan saya di INAIFAS adalah rasa syukur, karena tuhan telah menakdirkan INAIFAS sebagai wahana proses pendidikan sarjana bagi diri saya.

Pada tahun 2017 ketika saya tidak diterima disalah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia (Katanya), saya sangat kecewa, bahkan sampai pada titik menyalahkan Tuhan, mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku, mengapa Tuhan menyianyiakan perjuanganku dan mengapa Tuhan tidak adil pada diriku.

Disela sela suasana hati mencekam itu, pada pagi hari datanglah beliau guru saya (Ust. Nidhom) menasehati seraya mengajak saya untuk berjuang bersama di Madrasah, yang mana madrasah tersebut merupakan tempat saya menuntut ilmu dahulu (MIBU 05 Kalimalang). Disamping itu, guru saya juga menyarankan untuk kuliah di INAIFAS dan mengambil jurusan PGMI, hingga pada titik saya benar benar kuliah.

Ketika saya memasuki kampus INAIFAS, hati bergetar seakan akan do’a saya baru saja terkabul, antusiasme, semangat belajar dan rasa bahagia menyelimuti ketika itu. Ternyata firasat yang saya rasakan bukan hanya firasat, akan tetapi itu memanglah sebuah jawaban dengan versi yang lebih baik dari apa yang saya minta.

Pada hari pertama masuk, secara tidak terduga saya masuk menjadi peserta tes terbaik Mahasiswa, sehingga dengan demikian saya dapat jaminan gratis SPP 8 Semester, hal itu sangat membahagiakan, mengingat kondisi keuangan yang tidak terlalu bagus.

Memasuki meja perkuliahaan, saya sangat menikmati, dan mensyukurinya, karena ketika saya melaksanakan perkuliahan di INAIFAS, seakan akan mendapatkan semua yang saya inginkan, bahkan melebihi dari itu.

Di INAIFAS saya sangat berkembang, hampir disegala bidang mulai dari pola pikir, cara bertindak, soft skill dan yang lainnya. Di INAIFAS saya menemukan pimpinan yang sangat luar biasa, beliau Gus Rijal Mumazziq M.H.I, Rektor INAIFAS yang sangat cerdas, produktif serta jenaka, Wakil Rektor 1, Bapak Dr. Asnawan, M.Si, orangnya sangat visioner, memiliki kemampuan organisasi yang sangat bagus.

Wakil Rektor 2 Ust. Akmad Zaini, M.Pd, beliau sangat mengerti dengan orang lain, sering membantu mahasiswa ketika memiliki permasalahan keuangan. Selanjutnya, Wakil Rektor 3 Bapak Mohammad Dasuki, M.Pd, beliau sangat luar biasa, memiliki kemampuan negosiasi dan manajemen yang sangat bagus.

Di INAIFAS saya juga menemukan dosen yang sangat luar biasa seperti Ibu Kaprodi PGMI Ibu Mar’atus sholihah, Ibu Balqis, Ibu Mutmainah, Ibu Khurin, Ibu Yovita dan Lainnya. Selain itu staf dan karyawan di INAIFAS sangat ramah, baik dan profesional.

Di INAIFAS saya menemukan role model yang dapat dijadikan acuan untuk memompa diri, beliau adalah Dr. Fauzan Adhim, saya biasa menyebutnya mas fauzan didepan teman teman, dengan tujuan dapat mendekatkan secara emosional. Dengan menjadikannya role model, diri saya menjadi lebih hidup dan seakan akan dibisiki “kau jauh lebih baik dari dia”, sehingga dengan demikian, saya terus menjadi manusia berkualitas hari demi hari.

Di INAIFAS saya juga dapat berproses dalam bidang kepemimpinan dan keorganisasian dengan sangat cepat, melalui bimbingan senior seperti Sinta Bella, Susiani, Ummu dan Gandis, serta rekan perjuangan yang sangat menginspirasi seperti Habib, Nurma, Latif dan Muhsin, sehingga dengan itulah diri saya menjadi manusia yang progresif disetiap harinya.

Tak lupa seluruh teman sekelas PGMI merupakan teman belajar yang sangat ideal, teman sekelas yang rata rata sudah menjadi pengajar, dapat diajak berdiskusi secara teoritis dan praktis, selain itu karakter yang berbeda beda membuat saya belajar banyak hal dan menjadikannya bahan yang lebih baik, terimakasih edo, sinta, qomariah, desy, lia, supri, latif, eva, nova, warda dan kawan-kawan lainnya.

Di akhir kalimat, saya ingin mengatakan “Terimakasih untuk semuanya, INAIFAS telah menghantarkanku, jauh dari yang aku fikirkan. Aku mungkin akan tenggelam dan tidak menjadi seberkualitas sekarang jika tidak disini.

Sekali lagi, “INAIFAS Always in My Heart”

Beradab, Berilmu dan Berdakwah.