Asesmen Prodi BKPI Unaifas Targetkan Dapat Hasil Memuaskan

Asesmen Prodi BKPI Unaifas Targetkan Dapat Hasil Memuaskan

Bagikan sekarang

Program Studi Bimbingan Konseling dan Pendidikan Islam (BKPI) Fakultas Tarbiyah Universitas Al-Falah As-Sunniyyah (Unaifas) Kencong, Jember melaksanakan Asesmen Lapangan (AL) sejak Jum’at hingga Sabtu (03-04/02/2023). Kegiatan yang dijadwalkan selama dua hari itu dipusatkan di Gedung Pascasarjana Lantai II.

Asesmen Lapangan ini menghadirkan dua asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) yaitu Dr Alief Budiyono, S.Psi., M.Pd., dan Dr. Ali Rachman, M.Pd.

Ketua Program Studi BKPI Unaifas, Amak Fadholi, M.Pd mengatakan banyak masukan dan arahan yang diberikan oleh para asesor. Di antaranya tentang peningkatan pendidikan dari cara pengajaran dan kelengkapan bahan ajar, serta peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan kapasitas SDM di program studi.

“Juga peningkatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Peningkatan mutu luaran dan juga jaringan kerjasama,” ujarnya.

Amak menjelaskan, bahwa akreditasi ini adalah akreditasi pertama LAMDIK di Unaifas. Ia juga berharap, prodi BKPI bisa benar-benar menjadi prodi yang unggul dan dapat mencetak sarjana BKPI yang profesional sesuai dengan visi dan misi prodi.

“Dan, tidak lupa kita ingin hasil dari akreditasi ini sesuai dengan harapan dan memuaskan,” harap dia.

Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah M Bustanul Ulum, M.Pd. mengucapkan banyak terima kasih kepada para asesor yang telah memberikan beragam arahan dan masukan untuk pengembangan program studi BKPI di Fakultas Tarbiyah ini.

“Kami mengucapkan terima kasih, mohon doanya agar kami dapat menindaklanjuti catatan-catatan dalam asesmen lapangan ini sebagai pengembangan program studi BKPI,” tuturnya.

Lebih lanjut, dirinya menuturkan bahwa pemenuhan akreditasi ini sangat penting sekali bagi mahasiswa karena karena angkatan pertama prodi BKPI sudah banyak yang skripsi dan sudah ada yang lulus.

“Status ini penting sekali untuk bukti bahwa prodi BKPI itu sudah diakui dan terakreditasi,” ucapnya.

Pria yang akrap disapa Pak Ibus ini berharap hasil Asesmen Lapangan (AL) nanti menjadi acuan bagi prodi BKPI sebagai upaya meningkatkan kualitas, sehingga prodi BKPI dapat dipercaya di masyarakat dan menjadi prodi pilihan yang unggul.

Diketahui, kegiatan ini dihadiri jajaran Rektor, Wakil Rektor, Dekan dan seluruh pejabat struktural di lingkungan Unaifas. Selain itu, hadir pula Direktur dan Kaprodi Pascasarjana, serta dosen dan perwakilan mahasiswa.

Prodi PBA INAIFAS Teken MoU dengan UNIDA Gontor

Prodi PBA INAIFAS Teken MoU dengan UNIDA Gontor

Bagikan sekarang

Oleh: Asni Furoidah, M.Pd.I (Dosen PBA INAIFAS)

Baru-baru ini program studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) melakukan penandatanganan kerjasama dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Darussalam (Unida) Gontor pada Rabu (18/01/2023 di Kampus II Inaifas.

Sebagai institusi pendidikan, pengembangan sumber daya manusia tidak hanya dilakukan secara internal, melainkan secara eksternal juga sangat diperlukan. Melalui kerja sama antar lembaga, diharapkan adanya kerja sama tidak saja terbatas di bidang akademik tetapi non akademik.

Kerjasama yang dimaksudkan dalam hal ini adalah semua kegiatan yang dijalankan mulai dari kesepakatan kerjasama, pelaksanaan kerjasama sampai kepada keberlanjutan kerjasama yang digali antara prodi Pendidikan Bahasa Arab dengan mitra kerjasama, baik di bidang pengajaran, penelitian maupun kemahasiswaan yang dituangkan dalam kesepakatan bersama atau perjanjian kerja sama yang ditandatangani oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan kerja sama tersebut.

Bapak Bustanul Ulum, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah INAIFAS menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi civitas akademika terutama dalam menunjang akreditasi institusi. Dirinya juga menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen UNIDA yang telah menyempatkan hadir serta memberikan banyak ilmu kepada para mahasiswa PBA INAIFAS dalam acara seminar pendidikan.

Setelah acara penandatanganan kerjasama dalam bentuk MoU selesai, acara dilanjutkan dengan seminar pendidikan dengan tema ‘Media Pembelajaran Bahasa Arab di Era 5.0’ oleh narasumber bapak Achmad Farouq Abdullah, S.Pd.I., M.Pd.I.

Salah satu Dosen UNIDA Gontor ini menyampaikan materi terkait media pembelajaran bahasa Arab di kalangan generasi milenial. Seminar ini bertujuan untuk mencari inovasi-inovasi baru dalam pembuatan media pembelajaran bahasa Arab agar bahasa Arab semakin mudah dipelajari dan semakin banyak diminati khususnya para pelajar tingkat menengah ke bawah.

Dalam kesempatan ini, ia juga menceritakan perjalanan akademiknya hingga menciptakan sebuah media pembelajaran bahasa Arab berbentuk kartu bergambar (flashcard). Media pembelajaran dalam bentuk kartu menjadi salah satu inovasi dalam pengembangan berbahasa khususnya maharah qiroah. Selain itu, peran guru juga sangat berpengaruh dalam proses pembentukan karakter siswa karena sebaik-baiknya metode/media pembelajaran tidak akan sempurna tanpa adanya seorang guru, sebagaimana peribahasa Arab mengatakan:


الطريقة أهم من المادة
والمدرس أهم من الطريقة
وروح المدرس أهم من مدرس نفسه

Di samping itu, media pembelajaran juga harus menyesuaikan kondisi dari peserta didik. Media pembelajaran dibuat melalui proses analisis terhadap kebutuhan siswa yang disesuaikan dengan kemampuan berbahasa seperti: istima, kalam, qiroah dan kitabah.

Menurut Munif Chatip (2012), penulis buku ‘GURUNYA MANUSIA’ mengatakan bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah guru yang tidak mau belajar untuk mengajar yang sesuai dengan gaya belajar anak. Serta pola pendidikan anak yang disesuaikan dengan zamannya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW menyatakan sebagai berikut: Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian (H.R. Ali Bin Abi Thalib).

Hal ini dapat diartikan bahwa guru senantiasa mendidik seluruh peserta didik sesuai dengan zamannya, dimana anak tersebut berpijak, bukan sesuai dengan zamanmu/guru tersebut, karena mereka hidup bukan pada zamanmu.

Diakhir kegiatan, pak Ghofur selaku ketua prodi PBA INAIFAS menyampaikan pesan kepada teman-teman mahasiswa PBA semester akhir agar selalu berinovasi dalam belajar bahasa Arab karena mereka nantinya adalah calon-calon pendidik generasi selanjutnya dan sebagai penutup acara kegiatan ini, ia juga memberikan cinderamata sebagai bentuk kenang-kenangan kepada Dosen UNIDA Gontor dan begitupun sebaliknya.

Diketahui, kegiatan ini dihadiri oleh seluruh mahasiswi PBA INAIFAS, dosen PBA dan sejumlah guru bahasa Arab.

Salam PBA Bravo!!

Ketua UPZIS Inaifas Ajak Perguruan Tinggi di Jember Bentuk UPZ

Ketua UPZIS Inaifas Ajak Perguruan Tinggi di Jember Bentuk UPZ

Bagikan sekarang

Ketua Unit Pengelola Zakat, Infaq dan Sedekah (UPZIS) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember Ahmad Zuhairuz Zaman, B.Sc., M.H. mengajak perguruan tinggi di Kabupaten Jember yang belum mempunyai untuk segera membentuk UPZ.

Hal itu disampaikan pada acara ‘Dialog Jember Pagi Ini’ yang dihelat Pro 1 FM Radio Republik Indonesia (RRI) Jember, Senin (16/01/2023).

Gus Zuhair menjelaskan agar berkolaborasi dengan Badan Amil Zakat (BAZNAS) Kabupaten Jember agar memiliki legalitas amil yang resmi.

“Sehingga bisa menyerap pontensi zakat, infaq dan sedekah secara lebih luas dan pentasharrufan atau distribusi bisa lebih tepat sasaran,” tuturnya.

Pria yang menjabat Wakil Rektor IV Inaifas ini menyebut, momen ini adalah kesempatan pihaknya untuk mensosialisasikan urgensitas UPZ di lingkungan Perguruan Tinggi dalam bidang pendidikan dan sosial.

“UPZ yang berafiliasi pada Inaifas ini berusaha membantu keberlangsungan pendidikan mahasiswa yang kesulitan pembiayaan perkuliahan. Juga sebagai bagian implementasi dakwah sosial sebagaimana moto Inaifas yaitu Beradab, Berilmu dan Berdakwah,” cetusnya.

Dirinya menambahkan, sebagaimana topik yang diangkat budaya gotong royong merupakan salah satu budaya kearifan lokal Indonesia yang diharapkan mampu bertahan karena sebagai filter budaya di era modernisasi saat ini. Sebab menurutnya, hal itu dapat mempengaruhi rasa kemanusiaan dan kelangsungan kehidupan bermasyarakat yang kini sudah mulai cenderung bersikap individualis.

“Untuk itu, UPZIS Inaifas berkeyakinan bahwa pendidikan mempunyai peran untuk mengentaskan kemiskinan. Sebab, pendidikan yang tuntas semakin membuka kesempatan pengabdian dan peluang kerja semakin luas di tengah-tengah masyarakat.

Diketahui, kegiatan bertajuk ‘Gotong Royong Tuntaskan Kemiskinan di Kabupaten Jember’ ini menghadirkan beberapa narasumber. Di antaranya, Komisioner Baznas (Bidang IV SDM) Akhmad Rudi Masruhin, M.Pd, Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Jember, Ir. Endang Widyarti, M.M dan Ketua Komunitas Peace Leader Jember, Redy Saputro.

UPZIS Inaifas Sediakan Layanan Kursi Roda Gratis

UPZIS Inaifas Sediakan Layanan Kursi Roda Gratis

Bagikan sekarang

Unit Pengelola Zakat, Infaq dan Sedekah (UPZIS) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember menyediakan layanan peminjaman kursi roda secara gratis.

Ketua UPZIS Inaifas Zuhairuz Zaman, B.Sc., M.H mengatakan ujian sakit menjadi ujian kesabaran dan keikhlasan bagi setiap mereka yang merasakan. Ikhtiar sekuat tenaga tetap dilakukan meski raga kadang sulit untuk digerakkan.

Ada yang terbaring lemah tak berdaya karena tubuhnya tak mampu bangun lagi, melihat matahari di luar rumah bisa dihitung dengan jari. Gerak tubuhnya terbatas, terhalang oleh sakit.

“Program layanan peminjaman kursi roda gratis UPZIS Inaifas ini sedikit memberikan harapan bagi mereka yang membutuhkan. Setidaknya untuk sekedar bangun dari tempat tidur dan melihat aktivitas di luar rumah menjadi mudah,” ujarnya saat dikonfirmasi, Ahad (08/01/2023).

Sementara itu, Rektor Inaifas Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I menjelaskan bahwa kampus yang dipimpinnya bertekad tidak hanya menjadi lembaga pendidikan. Namun, juga bertekad menjadi lembaga dakwah dan pemberdayaan sosial.

“Salah satunya kami membentuk UPZIS sebagai skoci pelayanan misi program sosial kemasyarakatan,” katanya.

Direktur Imtiyaz Surabaya ini menambahkan bahwa program ini sudah berjalan sejak tahun 2019. Kemudian berhenti dua tahun lebih lantaran pandemi. Sehingga tahun ini pihaknya kembali memulainya.

“Semoga bisa istiqomah. Terima kasih kepada para sahabat yang baik hati telah berkenan memberi kursi roda untuk kami distribusikan kepada keluarga mahasiswa yang membutuhkan,” tandasnya.

Sebagai informasi, layanan peminjaman kursi roda gratis ini terdapat beberapa syarat dan ketentuan. Di antaranya;
1. Mahasiswa aktif/keluarganya;
2. Membutuhkan dan tidak mampu;
3. Bersedia mengembalikan kepada UPZIS Inaifas apabila sudah tidak digunakan.

LPM Inaifas Gelar Penetapan SPMI dan Sosialisasi AMI

LPM Inaifas Gelar Penetapan SPMI dan Sosialisasi AMI

Bagikan sekarang

Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember menggelar Penetapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sosialisasi Audit Mutu Internal (AMI). Kegiatan dipusatkan di Gedung Pascasarjana Lantai II pada Rabu (04/01/2023).

Kegiatan ini dihadiri Rektor Rijal Mumazziq Z., M.H.I., Wakil Rektor II Akhmad Zaeni, M.Pd., Wakil Rektor III Mohammad Dasuki, M.Pd., dan Wakil Rektor IV Zuhairuz Zaman, B.Sc., M.H. Selain itu, hadir pula Direktur Pascasarjana, Dekan, Ketua Program Studi, Pengelola UPPS, Kabag Akademik, Kabag Kepegawaian, Ketua LP3M, dan Kepala Perpustakaan serta perwakilan DEMA.

Ketua LPM Inaifas Fina Aunul Kafi, M.Pd mengatakan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dilaksanakan dengan maksud untuk memelihara dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berencana dan berkelanjutan (continuous improvement).

“Sekaligus untuk menyampaikan dan mengajarkan bagaimana implementasi sistem penjaminan mutu internal dan peran sumber daya pelaksana dalam membangun budaya mutu di kampus ini,” ujarnya.

Menurutnya, hal itu agar dapat meningkatkan mutu perguruan tinggi secara berencana dan berkelanjutan. Sedangkan tujuan pokok adalah menjamin pemenuhan standar pendidikan tinggi sehingga berkembang budaya mutu di kampus Inaifas.

“Budaya mutu merupakan suatu hal yang penting bagi suatu perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas dan daya saing,” cetusnya.

Sementara itu, Nur Jannah, M.Pd sebagai narasumber menyebut kebanyakan perguruan tinggi lebih mementingkan akreditasi atau SPME dari pada mementingkan SPMI, memang akreditasi selalu menjadi tujuan peningkatan mutu prodi atau perguruan tinggi.

“Begitu akreditasi keluar, institusi tidak lagi melakukan evaluasi mutu secara internal. Dalam Undang-undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, proses SPMI harus dilakukan perguruan tinggi minimal setiap setahun sekali,” jelasnya.

Perempuan yang menjabat Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) ini menegaskan, jika prodi atau perguruan tinggi hanya meningkatkan mutu semata guna mencapai nilai akreditasi baik, ada kecenderungan mutu internal tidak akan meningkat.

“Hal terpenting guna mencapai akreditasi yang baik ialah dengan menerapkan pola Continuous Quality Improvement (CQI). Dengan meningkatkan mutu internal terlebih dahulu, dapat dipastikan proses akreditasi juga akan baik,” cetusnya.

Dirinya menambahkan, perguruan tinggi dikatakan bermutu apabila mampu menetapkan serta mewujudkan visi kampus melalui pelaksanaan misinya (aspek deduktif), serta mampu memenuhi kebutuhan/memuaskan stakeholders (aspek induktif) yaitu kebutuhan mahasiswa, masyarakat, dunia kerja dan profesional.

“Sehingga, perguruan tinggi harus mampu merencanakan, menjalankan dan mengendalikan suatu proses yang menjamin pencapaian mutu,” tambahnya.

Selanjutnya, ia juga menjelaskan tentang urgensi mengapa harus ada mutu di perguruan tinggi. Pertama, amanat UU No 3 Tahun 2020 dan UU sebelumya. Kedua, perkembangan teknologi yang semakin canggih maka menuntut perguruan tinggi harus bermutu dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Ketiga, tolak ukur kemajuan suatu bangsa berada di tangan perguruan tinggi. Sebab, output perguruan tinggi inilah yang akan berkontribusi besar pada kemajuan suatu bangsa. Keempat, daya saing lulusan baik nasional maupun internasional semakin ketat, karena itu perguruan tinggi harus dapat membekali lulusannya agar dapat bersaing dengan lulusan kampus lain.

“Maka dari itu, kita berharap perlunya merubah mindset bahwa mutu itu bukan hanya tanggung jawab ketua LPM tetapi tanggung jawab kita semua,” tandasnya.

Simak Kisah Umi Khunainah Ikuti Diklatpimnas III Kemenag RI

Simak Kisah Umi Khunainah Ikuti Diklatpimnas III Kemenag RI

Bagikan sekarang

Umi Khunainah (19), mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah terpilih mewakili Institut Agama Islam Al-Falah As-suniyyah (Inaifas) dalam forum Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Nasional (Diklatpimnas) III. Kegiatan yang diikuti oleh 73 aktivis organisasi mahasiswa (ormawa) dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia ini dipusatkan di Hotel GreenSA UIN Sunan Ampel Surabaya sejak Senin hingga Rabu (5-7/12/2022).

Mahasiswi yang menjabat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) ini mengaku banyak rintangan yang telah dilalui sebelum dinyatakan lolos dalam forum nasional itu. Salah satunya ialah usia paling muda dan jauh jika dibandingkan dengan peserta yang lain.

Forum Diklatpimnas III ini mewajibkan bagi para delegasi untuk bersaing ketat secara sehat, salah satunya adalah dengan menulis jurnal sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Meski terbilang sangat muda, namun hal ini tidak meruntuhkan semangat Umi Khunainah untuk tetap bersaing dengan peserta yang lain.

Pasalnya, dirinya telah mendapatkan semangat dan dukungan langsung dari Wakil Rektor III Inaifas Mohammad Dasuki, M.Pd. Berkat semangat dan kegigihan, seminggu kemudian ia dinyatakan lolos sebagai perwakilan mahasiswa Inaifas dalam menghadiri forum nasional ini.

“Awalnya sempat insecure dengan peserta yang lain, karena jauh lebih senior. Namun keberhasilan tidak ditentukan dengan usia,” ungkapnya.

Forum ini dihadiri oleh seluruh aktivis pemimpin organisasi mahasiswa (Ormawa) dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia. Penyelesaian mahasiswa yang lolos forum ini langsung diuji oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI).

Kegigihan yang ia tekuni sejak awal berlanjut ketika proses pelatihan kepemimpinan berlangsung. Di sana ia bertemu dengan berbagai macam mahasiswa hebat dari Sabang hingga Merauke. Umi Khunainah mengakui kehebatan dari peserta yang telah didelegasikan oleh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia.

“Dari seluruh peserta yang ada, masing-masing memiliki background yang luar biasa. Prestasinya mulai dari tingkat nasional hingga internasional,” tuturnya.

Hal ini justru memacu semangat Umi Khunainah. Sehingga pada hari pertama dirinya dapat memaparkan penjelasan mengenai leadership yang merupakan tantangan dari Kepala Subdit Sarpras dan mendapatkan apresiasi.

“Dari beberapa jawaban yang lain hanya jawaban dari Umi Khunainah yang paling benar dan tepat,’ kata Zulfan di hadapan peserta.

Zulfan menambahkan kegiatan ini merupakan bagian penting dalam peningkatan kualitas PTKI. Salah satu bagian penting dalam meningkatkan kualitas PTKI adalah melalui Diklatpimnas.

“Kegiatan ini menjadi terobosan dalam misi membentuk pemimpin masa depan untuk Indonesia dari mahasiswa PTKI, ini harapan Kemenag,” tegasnya.

Sementara itu, Plt. Direktur Diktis Kemenag RI  Dr. Syafii, M.Ag yang hadir secara daring menyampaikan bahwa tema Diklatpimnas III ini sangat cocok dengan karakteristik kepemimpinan.

Lead, Serve, and Innovate, yang artinya memimpin, melayani, dan menginovasi. Tema ini sangat cocok dengan karakteristik peserta yang saat ini sebagai pemimpin ormawa,” ujarnya.

Syafi’i mengatakan, mereka sudah menunjukkan watak pemimpin sedari muda. Watak kepeloporan dan tangguh ini harus ada pada diri seorang pemimpin.