UNESA dan INAIFAS Optimis Bekerjasama dalam Revitalisasi Program Pengembangan “Sekolah Ramah” di Jember Selatan

UNESA dan INAIFAS Optimis Bekerjasama dalam Revitalisasi Program Pengembangan “Sekolah Ramah” di Jember Selatan

Bagikan sekarang

UNESA dan INAIFAS kembali mengambil langkah nyata dalam program revitalisasi dan pengembangan “Sekolah Ramah” untuk wilayah Jember Selatan. Pertemuan terbatas ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang sebelumnya digelar pada tanggal 23 Juni 2021 di tempat yang sama.

Acara tersebut berlangsung di gedung Rektorat UNESA L6 dihadiri oleh sejumlah pejabat struktural kampus masing-masing yang membahas sejumlah agenda yang lebih teknis.(30/6/2021).


Prof. Dr. Darni, M.Hum selaku ketua LP2M UNESA dalam sambutannya menyampaikan, bahwa giat yang diinisiasi oleh INAIFAS Jember merupakan langkah kongkret dalam wujud pengabdian masyarakat. Terlebih dengan menyertakan satu lembaga unggulan SDU As-Sunniyyah Kencong.

Lembaga yang dinakhodai oleh Abdullah Muhlas, S.Pd.I inilah yang direncanakan sebagai pilot project pengembangannya. Diakhir sambutan dan sekaligus membuka rapat, dia berpesan bahwa, “Program kerjasama ini bukan bersifat temporal namun sustainable. Karenanya, program ini bukan sekedar pengembangan pada skala mikro, namun nasional yang dipayungi undang-undang.

“Maka, saya sepakat jika dalam silaturrahmi ini ditentukan secara jelas poin-poin teknis yang saling memberi nilai manfaat antar lembaga khususnya, dan kepada masyarakat pada umumnya”, pungkasnya sembari membuka acara.

Lebih lanjut, Prof. Dr. Budiyanto, M.Pd selaku Kepala Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) UNESA, mengatakan bahwa Program Studi Disabilitas adalah salah satu dari 3 program unggulan di UNESA setelah olah raga dan MIPA. Pengembangan ini dipandang begitu urgen karena memang telah didasari oleh undang-undang.

Hal itu telah tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang telah memberikan warna baru dalam penyediaan pendidikan bagi peserta didik penyandang disabilitas termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Kemudian dikuatkan dalam UU Nomor 70 Tahun 2009 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.


Menurutnya, hal tersebut tentunya merupakan terobosan bentuk pelayanan pendidikan bagi anak-anak penyandang disabilitas dengan bentuk penyelenggaraan pendidikan inklusif yang bertujuan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya dan mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif.


Namun pada kenyataannya, masih banyak masyarakat memandang sempit program ini, yang mengasumsikan bahwa sekolah inklusi identik dengan sekolah SLB yang notebene sekolah anak cacat. Disitulah timbul stigma negatif yang menyebabkan masyarakat jadi enggan menyekolahkan anaknya di lembaga inklusi.

“Yang lebih parah sekolah tersebut berangsur sepi peminat, karena terbangunnya citra tersebut”, Pungkasnya.

Maka dengan adanya I’tikad bersama ini ketua LP2M INAIFAS, Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd dan kepala SDU As Suniyyah Kencong siap menjadi pilot project dan melaksanakan program revitalisasi sekolah inklusi dalam bentuk unit pengembangan integratif di satuan pendidikan.

Tentunya dengan label yang disepakati bersama menjadi unit program “Sekolah Ramah Anak”.
Sebagai wujud nyata pertemuan ini, telah disepakati beberapa poin teknis dan strategi diantaranya:

  1. Mengadakan survey dan need assessment bersama di wilayah Jember Selatan
  2. Mengadakan sosialisasi dan rekognisi kepada stake holder, teramsuk dari unsur Dinas Pendidikan, Penma (Kemenag) K3S, KKG, PGRI, juga masyarakat dalam bentuk Webinar.
  3. Pendidikan dan pelatihan calon guru pendamping khusus (GPK) dengan pola in service – on service – in service dengan 82 jpl (standar nasional) bersertifikat.
  4. Diseminasi dan pengembangan

Poin itulah yang nantinya menjadi dasar kerjasama dalam program revitalisasi Pengembangan “Sekolah Ramah” di Jember Selatan.

Di akhir sesi bu Ima Kurrotu Ainin , M.Pd selaku moderator sekaligus sekretaris PSLD UNESA, mengatakan, “kami berjanji akan berkunjung ke Jember bersama mas Muhammad Asar (dosen lulusan Australia konsentrasi pendidikan disabilitas) mulai dari proses asesmen hingga pelatihan guru dengan model blended learning” Tutur bu Ima. (arm)

Sepakati Pengembangan Kelas Inklusi, INAIFAS Jalin Kemitraan dengan UNESA

Sepakati Pengembangan Kelas Inklusi, INAIFAS Jalin Kemitraan dengan UNESA

Bagikan sekarang

Dalam Focuss Group Discussion (FGD) antara INAIFAS Kencong Jember dan Universitas Negeri Surabaya, yang berlangsung pada Selasa (15/06), telah dicapai beberapa kesepakatan.

Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam Nota Kesepahaman dua belah pihak. Bapak Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd.I., Kepala LPPM INAIFAS, menjelaskan apabila LPPM UNESA dan unit PSLD (Pusat Studi Layanan Disabilitas) Prof. Budiyanto dan Dr. Ima Qurrotun Ain, sepakat dalam pengembangan dan pendampingan “Sekolah Ramah”. Program ini merupakan wadah khusus bagi pengembangan anak didik inklusi di Jember Selatan.

Untuk tahap awal, SDU Assunniyyah Kencong menjadi pilot project pengmebangan dalam pelayanan spesial anak berkebutuhan khusus ini. “Kami berharap apabila kerjasama ini bisa menjadi salah satu metode terbaik dalam pendampingan anak didik berkebutuhan khusus. Sebab, mereka juga punya hak yang sama dengan murid lain, hanya metodenya sedikit berbeda,” tutur Pak Rudi Masrukhin.

Dr. Ima Qurrotun Ain, sebagai Kepala PSLD Unesa juga berharap apabila kelak program pendampingan ini bisa dikembangkan di wilayah lain.

Menurutnya, terobosan ini dilakukan untuk meleburkan stigma masyarakat. Sekolah inklusi bukanlah sekolah SLB yang melayani anak difabel, namun menjadi lembaga pendidikan yang memanusiakan manusia.

“Artinya lembaga yang mengakomodir segenap karakteristik, keunikan, dan atribut keisitimewaan untuk dapat tumbuh, berkembang, dan berprestasi bersama tanpa ada pembatasan ruang ruang dan waktu.” kata Bu Ima.

“Semoga kerjasama ini bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi pihak yang terlibat. Sebab kami targetkan bisa melahirkan banyak Guru Pembimbing Khusus (GPK) melalui program ini” lanjut Prof. Budiyanto, yang juga Kepala LPPM UNESA, menimpali apa yang disampaikan Bu Ima. (arm)