Mengenal Ustadz M. Faiq Faizin Dulu Mengayuh Sepeda Saat Kuliah, Kini Mengasuh Ratusan Penghafal al-Qur’an

Mengenal Ustadz M. Faiq Faizin
Dulu Mengayuh Sepeda Saat Kuliah, Kini Mengasuh Ratusan Penghafal al-Qur’an

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Postur tubuhnya tidak besar. Cenderung mungil. Tapi otaknya encer. Cerdas betul. Dia mengkhatamkan hafalan al-Qur’annya dalam durasi 106 hari saja. Ya, 3,5 bulan. Istimewa. Dia dan istrinya sama-sama alumni INAIFAS. Kini, menjadi pengasuh pesantren tahfidzul Qur’an di Kediri.

Namanya Muhammad Faiq Faizin, asal dari Padomasan Jombang Jember. Dia lulusan Fakultas Tarbiyah Prodi PAI Kampus INAIFAS Kencong, 2011. Adapun istrinya, Ustadzah Istianatul Mahmudah, alumni Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) di kampus yang sama, 2018.

Dulu saya memanggilnya Kang atau Mas. Kini saya memilih menyebutnya ustadz, atau kiai muda. Sebab, walaupun usianya di bawah saya, bahkan saya menjadi pembimbing skripsi istrinya, namun Kang Faiq, eh Ustadz Faiq menjadi pengasuh ratusan santri putri penghafal al-Qur’an.

Lokasinya ada di Kediri. Ringinagung, tepatnya. Namanya PP. Hamalatul Qur’an (PPHQ). Sesuai namanya, pesantren ini merupakan cabang dari PP. Hamalatul Qur’an, Jogoroto Jombang yang diasuh oleh KH. Ainul Yaqin, S.Q. Sosok Mbah Yaqin, demikian sapaan akrabnya, adalah santri kesayangan almaghfurlah KH. Yusuf Masyhar, Pendiri Madrasatul Qur’an, Tebuireng, yang telah mendidik ribuan alumni yang menjadi para penghafal al-Qur’an.

Di PP. Hamalatul Qur’an Jogoroto, Jombang, para santri ditempa menjadi para penghafal wahyu. Menggunakan metode habituasi alias pembiasaan. Mbah Yaqin senantiasa mengajak para santrinya sering mendaras sesering mungkin dengan tekad yang kuat, hati yang ikhlas dan pikiran yang jernih.

Agar lebih menancap, para santri mengulang-ulang secara istiqomah hafalannya tatkala melaksanakan shalat. Jadilah di pesantren ini, para remaja yang belum genap 20 tahun usianya, sudah banyak yang menjadi pemikul kalam ilahi. Salah satunya tetangga saya, Mas Avicena, putra pasangan Pak Nafiurrofiq, Rektor INAIFAS 2008-2014, dan Bu Dr. Titin Nur Hidayati, Direktur Pascasarjana INAIFAS saat ini.

Di kalangan para alumni Tebuireng, sosok Mbah Yaqin memang legendaris. Dihormati para senior, dan dicintai para junior. Ketika Ustadz Faiq lulus kuliah, 2011, dan berniat menghafalkan al-Qur’an, dia melabuhkan pilihannya di PPHQ ini. Yang istimewa, di bawah bimbingan Mbah Yaqin, dia sanggup menghafalkan al-Qur’an dengan cepat. 3,5 bulan saja. Dia pun diwisuda tahun 2013.

“Wah, istimewa sekali ustadz. Kok bisa secepat itu. Keren!” saya memujinya, saat berkunjung ke pesantren yang dia asuh, 25 April 2019 silam.

“Nggak ada yang istimewa kok. Ini semua berkat doa ibu dan para guru,” katanya merendah.

Pesantren yang diasuh oleh Ustadz Faiq ini berdiri sejak 2018 silam. Awalnya, oleh Mbah Yaqin, dirinya diminta membuat brosur pendaftaran santru putri. Rencananya, mereka bakal ditempatkan di Desa Jarak Kulon, Jogoroto Jombang. Tak disangka, peminat membludak. Dari 100 pendaftar, diseleksi, yang lolos hanya 40. Adapun yang tidak lolos diarahkan agar mondok di pesantren lain. Namun, puluhan calon santri ini kukuh tidak mau mondok kecuali di PPHQ. Mbah Yaqin sempat kewalahan.

Tak disangka, saat itu ada wali santri putra bernama Bapak Imam Fatoni. Dia menawarkan rumahnya, di Ringinagung Kediri agar dijadikan asrama bagi 60 santri putri PPHQ. Setelah disurvei, cocok dan pas. Akhirnya kesepakatan dicapai. Rumah tersebut akan dipergunakan sebagai pondok. Masalah lain datang, sebab tidak ada pengasuh puluhan remaja putri itu.

Ustadz Faiq pun menyampaikan hal ini. Tak disangka, Mbah Yaqin langsung menunjuknya sebagai pengasuh PPHQ di Kediri itu. Pertimbangan Mbah Yaqin, selain Ustadz Faiq dikenal cerdas dan telaten, dia juga sudah berkeluarga. Mendapat amanah ini, tiada lain yang dilakukan oleh Ustadz Faiq kecuali menaati perintah gurunya. Maka, sejak saat itu, bersama istrinya yang juga alumni INAIFAS, dia menjadi pengasuh puluhan santri.

“Banyak pengalaman dan ilmu yang kami dapat dari PPHQ ini. Kami banyak belajar mengelola lembaga pendidikan dari para guru dan senior. Alhamdulillah berkat kekompakan dan pertolongan Allah, PPHQ Putri Ringinagung tempat kami berkhidmat mengalami perkembangan baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, termasuk sarana dan prasarananya.” tutur Ustadz Faiq.

Setelah ditangani olehnya, perkembangannya memang menggembirakan. Tahun 2018 jumlah santri sekitar 60 orang. Setahun setelahnya meningkat menjadi 100 orang. Adapun tahun 2020 menjadi 140 santri dan sekarang mencapai 220 santri. Dalam kurun waktu ini, sudah ada 200 santri hafal 30 juz yang diwisuda. Yang lebih istimewa, Ustadz Faiq meminta kepada para wisudawati ini agar menuangkan testimoninya saat berproses hafalan al-Qur’an, berikut cerita suka-duka dan keunikan yang dialami mereka.

Hasil tulisan para santrinya ini disusun oleh Ustadz Faiq dan sahabatnya, Ustadz Muhammad Fuad Hasyim. Judulnya “Hafal al-Qur’an Semudah dan Secepat Ngopi”. Buku ini diterbitkan oleh Imtiyaz, penerbit yang saya kelola. Diedit oleh Mas Dr. Mukani, sahabat saya, dosen STIT Urqatul Wutsqo. Buku kumpulan memoar pendek ini terhitung best seller. Cetak awal pada 2019, dan mengalami cetak ulang setahun berikutnya. Rencananya, tahun ini akan naik cetakan ketiga.

***

Ustadz Faiq masuk kuliah di INAIFAS tahun 2007. Masuk Prodi PAI. Lulus pada 2011. Walaupun kehidupan ekonomi keluarganya pas-pasan sepeninggal ayahnya, dan ibunya harus bekerja keras menghidupi anak-anaknya, namun waktu itu Ustadz Faiq memilih membulatkan tekad. Kuliah, entah bagaimana caranya.

Modal tekad ini didukung dengan semangatnya. Dia memilih ngontel dari rumahnya di Padomasan menuju Kencong. Jaraknya sekira 12 KM. Jika kurang sehat, dia pilih mencari tumpangan di pinggir jalan. Dia pernah berpikir untuk membeli sepeda motor, tapi pikiran ini dia tepis. Alasannya, khawatir nggak mampu beli bensin. Akhirnya, dengan sedikit tabungannya, dia usaha jualan pulsa. Hasilnya lumayan.

Untuk mengamalkan ilmu, dia mengajar di beberapa sekolah. Bisyarah yang dia dapat ditabung buat biaya kuliah. Sedangkan hasil jualan pulsanya dia pakai membeli sepeda motor. Bekas tidak masalah, yang penting bisa dipakai pergi-pulang ke kampus. Di INAIFAS, dia juga aktif berorganisasi. Selain aktif di BEM sebagai Sekjen, dia juga menjadi aktivis IPNU. Di dua organisasi ini dia belajar manajemen keorganisasian, komunikasi, cara menyampaikan ide dan melaksanakannya, dan sebagainya.

“Dalam urusan akademik, saya tidak begitu pintar jika dibanding teman-teman. Namun saya berusaha mematuhi perintah dan tugas yang diberikan oleh para dosen, hadiah fatihah untuk pendidik dan almamater saya, serta berkhidmah sesuai kemampuan saya. Setiap pesan-pesan dan nasihat dari bapak/ibu dosen saya ingat-ingat dan saya catat di buku kecil.” katanya mengingat kenangan manisnya selama kuliah.

Di antara beberapa dosen yang berkesan dan mempengaruhi cara berpikirnya, menurutnya ada dua. Keduanya punya nama sama. Yang pertama, Drs. H. A. Saifuddin, M.Pd.I., dari Bagorejo, Gumukmas, Jember. Haji Saifuddin pernah menceritakan sosok KH. Ir. Salahuddin Wahid, adik Gus Dur. “Kalau bisa kamu jadi seperti beliau. Banyak memberikan manfaat kepada umat. Beliau insinyur tapi mampu memimpin pesantren dan berkembang dengan pesat,” kata Ustadz Faiq mengingat petuah Haji Saifuddin beberapa tahun silam.

Sosok kedua, Dr. H. Saifuddin Mujtaba. Ada salah satu pesan yang terus dia ingat dari dosen yang mengajar mata kuliah Ulumul Qur’an ini, di antaranya, “Jadilah orang yang suka membeli dan membaca buku. Ini pesan yang saya ingat dan berusaha saya laksanakan.  Alhamdulillah saya suka membeli buku meskipun banyak yang belum saya baca. Hehehe,” kata Ustadz Faiq terbahak.

“Dulu kok punya cita-cita menghafalkan al-Qur’an. Padahal kan sudah lulus kuliah?” saya tanya.

“Menjelang lulus kuliah, saya matur ke beberapa orang untuk meminta pertimbangan kelanjutan studi saya pasca wisuda. Karena ingin belajar Al-Qur’an, maka saya sowan ke beberapa guru yang hafidz.”

Waktu itu, 2011, Ustadz Faiqh meminta restu para gurunya. Di antaranya, Ustadz Ahmadi Amdzi, pengasuh Ponpes Prengsewu Jombang Jember dan (Alm.) Ustadz Ilyas Kencong. Keduanya mengarahkan agar Ustadz Faiq berguru kepada Mbah Yaqin, Pengasuh PPHQ Jogoroto Jombang. Tekadnya semakin mantap setelah mendapat restu dari KH.Nur Hasan Hanafi, Pengasuh PP. Nurul Anwar Padomasan Jombang Jember.

Petunjuk guru memang jarang meleset. Dan, berkat didikan dan bimbingan Mbah Yaqin, Ustadz  Faiq kini bukan saja menjadi pemikul wahyu, melainkan menjadi pendidik ratusan santri putri yang ditempa seperti dirinya: menghafal al-Qur’an.

Selalu bangga melihat para alumni INAIFAS mendarmabaktikan ilmunya untuk membimbing masyarakat. Akhirnya, saya hanya bisa mendoakan, semoga Ustadz Faiq beserta keluarga dan para santri senantiasa sehat wal afiat.

Wallahu A’lam Bisshawab

Kiai Mushofa: Dulu Penjual Pentol, Kini Mengasuh Pesantren

Kiai Mushofa: Dulu Penjual Pentol, Kini Mengasuh Pesantren

Bagikan sekarang

@ rijal mumazziq z

Sabtu-Ahad (19-20/06) dari Surabaya, saya meluncur ke Desa Batu Meranti, Kec. Sungai Loban, Kab. Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Mendarat di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, lalu melanjutkan perjalanan darat selama 5 jam ke lokasi.

Di desa ini, ada Ponpes Daarul Ishlah Assyafiiyyah. Ahad kemarin saya diminta mengisi motivasi bagi wali santri dan wisudawan-wisudawati dalam Haflah Akhirussanah. Mereka lulus Madrasah Diniyah Wustho (Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah Wustha) dengan spesialisasi penguasaan Fathul Mu’in dan hafalan Nadzam Imrithi.

Rijal Mumazziq Z. M.H.I. memberikan motivasi bagi wali santri dan wisudawan-wisudawati dalam Haflah Akhirussanah

Tahun ini, mereka semua melanjutkan ke Madrasah Diniyah Ulya (PKPPS Ulya) yang baru berdiri. Target lain, 3 tahun mendatang mereka bisa melanjutkan kuliah di kampus Islam/umum, atau sekalian lanjut ke Ma’had Aly yang lima tahun mendatang ditargetkan berdiri.

Pondok ini didirikan oleh suami istri alumni INAIFAS Kencong Jember. Namanya Kiai Mushofa bin Badrus. Masih muda, kelahiran 1983, tapi punya ilmu tua dan pengalaman yang berjibun. Asalnya dari Karangrejo Gumukmas Jember. 2002 masuk di INAIFAS. Lulus 2008. Saat kuliah penuh perjuangan. Ngontel dari rumah ke kecamatan lanjut ngebis pulang-pergi ke kampus. Menjadi aktivis PMII dan IPNU, juga Pramuka.

Biar bisa membayar kuliah, Kiai Mushofa ini juga mengajar di SDNU Karangrejo 1, MIMA Karanganyar 1, dan MTs Darul Ulum Karanganyar. Semua terletak di Jember. Bisyarah yang diterima dia tabung, lalu untuk membayar kuliah. Berkat kegigihannya, dia lulus predikat cumlaude.

Istri Kiai Mushofa, Mbak Umi Latifah, berasal dari Paseban, Kencong Jember. Dia adik kelas Kiai Mushofa di kampus. Kuliah dapat ilmu, pengalaman, juga jodoh. Komplit. Keduanya menikah tahun 2008, punya anak dua tahun setelahnya.
Saat di bayi usia 6 bulan, pasangan ini nekat berangkat merantau ke Kalsel, 2010. Kabupaten Tanah Bumbu, Kec. Sungai Loban, tepatnya di Desa Batu Meranti, menjadi persinggahannya.

Di sini, keluarga kecil ini mengontrak bangunan warung ukuran 4 x 6 milik warga di komplek pasar Batu Meranti.
Untuk menafkahi keluarga, Kiai Mushofa berjualan pentol keliling. Kalau malam berkmjualan bakso. Pernah pula berdagang sate. Kadang-kadang melayani katering, dan kerjaan lain. Pekerja keras, betul!

Walaupun baru setahun, tapi dia mulai diminta untuk mengajar ngaji ibu-ibu. Gaya ngajinya luwes. Tematik berkisar keseharian masyarakat. Komunikasinya pakai bahasa Jawa. Maklum, di wilayah ini, mayoritas keturunan Jawa. Ada yang dari Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Blora, Madiun, Banyuwangi, Jember, Ponorogo, Ngawi, dst.

“Mereka adalah para transmigran yang menempati lahan ini sejak tahun 1980-an. Meski banyak yang prihatin di awal, kini banyak dari mereka yang secara ekonomi berhasil, baik dari perkebunan karet, kelapa sawit, maupun batubara.” kata Kiai Mushofa.

Walaupun sudah sering mengisi khutbah Jum’at, ceramah dan ngaji keliling di berbagai desa, Kiai Mushofa tetap jualan pentol keliling. Usaha baksonya semakin laris. Lantas membuka kios bakso.

Ketika ada ustadz dari kelompok sebelah ceramah dengan provokatif soal furuiyah: larangan tahlilan, dzikir bersama, maulidan, dan bahkan mengejek talqin jenazah, Kiai Mushofa lantang membela. Dia menyampaikan hujjah di beberapa pengajian kelilingnya. Tak disangka, ternyata pemilik kios yang dia sewa merupakan pendukung ustadz sebelah. Dia pun diusir.

“Nelongso tenan!” katanya terbahak mengingat masa lalunya.

Akhirnya Kiai Mushofa membeli sepetak tanah. Ukuran 13 x 15 m. Harganya 13 juta. Diambil dari tabungan yang dia miliki. Agar hemat, dia bangun sendiri rumah sederhana menggunakan kayu bekas. Di situ di tinggal. Rumah kecil sekalian dijadikan warung bakso.

Ponpes Daarul Ishlah Assyafiiyyah Desa Batu Meranti, Kec. Sungai Loban, Kab. Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

Tahun 2013, beberapa sesepuh desa yang sebagian juga alumni pondok pesantren di Trenggalek, sepakat mendorongnya mendirikan pondok pesantren. Dia pun diberi wakaf berupa tanah rawa. Dia bangun asrama santri. Masih berbentuk gubuk sederhana, bukan permanen. Jumlah santrinya baru 11 anak. Mereka semua dikader hingga hafal nadzam Alfiyah Ibni Malik. 5 orang melanjutkan kuliah, 2 orang memilih bekerja di pertambangan.

“Sedangkan yang 4 orang saya jadikan guru TPA di wilayah Kampung Hindu, untuk mengajari anak-anak muslim. Di situ ada 22 KK. Mereka ini yang menjaga semangat keberislaman warga.”

Tahun 2014, jumlah santri mulai bertambah. Ada juga preman insaf yang mau mondok. Tubuhnya penuh rajah tato. Selama enam bulan dia diajari ibadah dasar oleh Kiai Mushofa, bahkan kemudian dicarikan jodoh sekaligus dinikahkan. Ada juga pecandu narkoba yang berhenti setelah mondok di sini selama setengah tahun. Kiai Mushofa pula yang mencarikan jodoh. Dapat mertua dari desa sebelah.

“Gara-gara ini saya dianggap masyarakat bisa nyuwuk dan mengobati pecandu narkoba. Padahal ya nggak juga.” katanya merendah.

Mayoritas santri di pondok ini rata-rata anak atau cucu dari para transmigran Jawa. Karena merasa senasib sepenanggungan sebagai pendatang, para wali santri pun ikut membangun pondok. Ada yang menyumbang material, semen, keramik, menyewakan buldozer untuk meratakan dan memadatkan tanah, hingga menyediakan konsumsi bagi para kuli bangunan. Akhirnya pondok semakin berkembang. Musala dan asrama santri sudah berupa bangunan permanen. Demikian juga gedung madrasah diniyah. Kokoh semua.

Kini ada 86 santri mukim. Putra putri. Yang sudah mendaftar sebagai santri baru sekira 50 remaja. Inipun ada kemungkinan terus bertambah.

Ponpes Darul Islah Assyafiiyyah usianya memang 8 tahun. Masih gres. Pengasuhnya pun masih muda. Tapi ini justru menjadi kelebihannya. Muda, lincah, visioner. Cita-cita Kiai Mushofa yang disampaikan ke saya, malam Ahad kemarin, adalah merintis Ma’had Aly. Jika tidak takhassus tafsir, mungkin fiqh. Tergantung perizinan dari Kemenag RI.

Lahan untuk Ma’had Aly sudah ada. Tanah wakaf dari seorang pengusaha. Luasnya 5 hektar. Sebagian, sekitar 3 hektar, ditanami kelapa sawit dan pohon jati. Hasilnya panen sawit lumayan. Bisa membeli material untuk membangun asrama santri.

Kiai Mushofa bersama Gus Rijal Mumazziq Z., M.H.I.

Semoga cita-cita beliau dikabulkan oleh Allah. Sehat selalu, Mas Kiai…

Suami Istri Alumni INAIFAS Yang Mengembangkan Pesantren Tahfidzul Qur’an

Suami Istri Alumni INAIFAS Yang Mengembangkan Pesantren Tahfidzul Qur’an

Bagikan sekarang

Keluarga Ustadz Muhammad Faiq Faizin, S.Pd.I ini unik. Dia alumni Prodi PAI 2011. Istrinya, Istianatul Mahmudah, lulusan Prodi Ahwalus Syakhsiyyah INAIFAS tahun 2018.

Sedangkan kakak kandungnya, Muhammad Nadhir Adnan, alumni INAIFAS tahun 2007. Kang Nadhir, sapaan akrabnya sekarang menjadi PNS di SMPN 1 Tempeh, Lumajang.

Adapun paman Ustadz Faiq, almarhum Ustadz Zainal Abidin, merupakan aktivis Kampus INAIFAS, yang meninggal di tengah-tengah pengkhidmatannya di Yayasan Athfal Kencong, MA Ma’arif NU Kencong, dan masa penantian menunggu Wisuda S1.

Komplit. Benar-benar keluarga alumni INAIFAS!

 

Rektor INAIFAS, Bapak Rijal Mumazziq Z, saat berkunjung ke Pesantren Hamalatul Qur'an Putri yang diasuh oleh Ustadz Muhammad Faiq Faizin

Rektor INAIFAS, Bapak Rijal Mumazziq Z, saat berkunjung ke Pesantren Hamalatul Qur’an Putri yang diasuh oleh Ustadz Muhammad Faiq Faizin

Saat ini, Ustadz Faiq diberi amanah sebagai pengasuh PP. Hamalatul Qur’an (PPHQ) Putri. Lokasinya di Ringinagung, Kediri. Jumlah santrinya ada 130-an. Pesantren Putri takhassus hafalan Al-Qur’an ini merupakan cabang dari PPHQ Jogoroto, Jombang, yang diasuh oleh KH. Ainul Yaqin, SQ.

Di antara keistimewaan PPHQ adalah mengkondisikan lingkungan dan keseharian dalam penghafalan al-Qur’an sehingga dalam durasi tidak sampai 1 tahun, para santri bisa menghafal Al-Qur’an dengan kualitas fashahah yang terjaga.

 

Santri pesantren Hamalatul Qur'an Putri yang diasuh oleh Ustadz Muhammad Faiq Faizin

Santri pesantren Hamalatul Qur’an Putri yang diasuh oleh Ustadz Muhammad Faiq Faizin

Pengalaman para santri belia (rata-rata usia SMP dan SMA) dalam menghafalkan Al-Qur’an ini oleh Ustadz Faiq disusun dalam sebuah buku berjudul “Menghafal Al-Qur’an Semudah dan Secepat Ngopi” (Surabaya: Imtiyaz, 2019).

Kiprah Ustadz Faiq dan istrinya dalam mengembangkan pesantren Tahfidzul Qur’an merupakan salah satu wujud dari motto INAIFAS: BERADAB, BERILMU, BERDAKWAH!

Selamat berjuang, Ustadz Faiq dan Ustadzah Istianah!

Infor pendaftaran mahasiswa baru:

Bapak Amin Ullah, M.Pd [+6281336743661]

Bapak Rudi Masrukhin/ Rudy Adly [+6281336289689]