Ketua UPZIS Inaifas Ajak Perguruan Tinggi di Jember Bentuk UPZ

Ketua UPZIS Inaifas Ajak Perguruan Tinggi di Jember Bentuk UPZ

Bagikan sekarang

Ketua Unit Pengelola Zakat, Infaq dan Sedekah (UPZIS) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember Ahmad Zuhairuz Zaman, B.Sc., M.H. mengajak perguruan tinggi di Kabupaten Jember yang belum mempunyai untuk segera membentuk UPZ.

Hal itu disampaikan pada acara ‘Dialog Jember Pagi Ini’ yang dihelat Pro 1 FM Radio Republik Indonesia (RRI) Jember, Senin (16/01/2023).

Gus Zuhair menjelaskan agar berkolaborasi dengan Badan Amil Zakat (BAZNAS) Kabupaten Jember agar memiliki legalitas amil yang resmi.

“Sehingga bisa menyerap pontensi zakat, infaq dan sedekah secara lebih luas dan pentasharrufan atau distribusi bisa lebih tepat sasaran,” tuturnya.

Pria yang menjabat Wakil Rektor IV Inaifas ini menyebut, momen ini adalah kesempatan pihaknya untuk mensosialisasikan urgensitas UPZ di lingkungan Perguruan Tinggi dalam bidang pendidikan dan sosial.

“UPZ yang berafiliasi pada Inaifas ini berusaha membantu keberlangsungan pendidikan mahasiswa yang kesulitan pembiayaan perkuliahan. Juga sebagai bagian implementasi dakwah sosial sebagaimana moto Inaifas yaitu Beradab, Berilmu dan Berdakwah,” cetusnya.

Dirinya menambahkan, sebagaimana topik yang diangkat budaya gotong royong merupakan salah satu budaya kearifan lokal Indonesia yang diharapkan mampu bertahan karena sebagai filter budaya di era modernisasi saat ini. Sebab menurutnya, hal itu dapat mempengaruhi rasa kemanusiaan dan kelangsungan kehidupan bermasyarakat yang kini sudah mulai cenderung bersikap individualis.

“Untuk itu, UPZIS Inaifas berkeyakinan bahwa pendidikan mempunyai peran untuk mengentaskan kemiskinan. Sebab, pendidikan yang tuntas semakin membuka kesempatan pengabdian dan peluang kerja semakin luas di tengah-tengah masyarakat.

Diketahui, kegiatan bertajuk ‘Gotong Royong Tuntaskan Kemiskinan di Kabupaten Jember’ ini menghadirkan beberapa narasumber. Di antaranya, Komisioner Baznas (Bidang IV SDM) Akhmad Rudi Masruhin, M.Pd, Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Jember, Ir. Endang Widyarti, M.M dan Ketua Komunitas Peace Leader Jember, Redy Saputro.

LPM Inaifas Gelar Penetapan SPMI dan Sosialisasi AMI

LPM Inaifas Gelar Penetapan SPMI dan Sosialisasi AMI

Bagikan sekarang

Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember menggelar Penetapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sosialisasi Audit Mutu Internal (AMI). Kegiatan dipusatkan di Gedung Pascasarjana Lantai II pada Rabu (04/01/2023).

Kegiatan ini dihadiri Rektor Rijal Mumazziq Z., M.H.I., Wakil Rektor II Akhmad Zaeni, M.Pd., Wakil Rektor III Mohammad Dasuki, M.Pd., dan Wakil Rektor IV Zuhairuz Zaman, B.Sc., M.H. Selain itu, hadir pula Direktur Pascasarjana, Dekan, Ketua Program Studi, Pengelola UPPS, Kabag Akademik, Kabag Kepegawaian, Ketua LP3M, dan Kepala Perpustakaan serta perwakilan DEMA.

Ketua LPM Inaifas Fina Aunul Kafi, M.Pd mengatakan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dilaksanakan dengan maksud untuk memelihara dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berencana dan berkelanjutan (continuous improvement).

“Sekaligus untuk menyampaikan dan mengajarkan bagaimana implementasi sistem penjaminan mutu internal dan peran sumber daya pelaksana dalam membangun budaya mutu di kampus ini,” ujarnya.

Menurutnya, hal itu agar dapat meningkatkan mutu perguruan tinggi secara berencana dan berkelanjutan. Sedangkan tujuan pokok adalah menjamin pemenuhan standar pendidikan tinggi sehingga berkembang budaya mutu di kampus Inaifas.

“Budaya mutu merupakan suatu hal yang penting bagi suatu perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas dan daya saing,” cetusnya.

Sementara itu, Nur Jannah, M.Pd sebagai narasumber menyebut kebanyakan perguruan tinggi lebih mementingkan akreditasi atau SPME dari pada mementingkan SPMI, memang akreditasi selalu menjadi tujuan peningkatan mutu prodi atau perguruan tinggi.

“Begitu akreditasi keluar, institusi tidak lagi melakukan evaluasi mutu secara internal. Dalam Undang-undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, proses SPMI harus dilakukan perguruan tinggi minimal setiap setahun sekali,” jelasnya.

Perempuan yang menjabat Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) ini menegaskan, jika prodi atau perguruan tinggi hanya meningkatkan mutu semata guna mencapai nilai akreditasi baik, ada kecenderungan mutu internal tidak akan meningkat.

“Hal terpenting guna mencapai akreditasi yang baik ialah dengan menerapkan pola Continuous Quality Improvement (CQI). Dengan meningkatkan mutu internal terlebih dahulu, dapat dipastikan proses akreditasi juga akan baik,” cetusnya.

Dirinya menambahkan, perguruan tinggi dikatakan bermutu apabila mampu menetapkan serta mewujudkan visi kampus melalui pelaksanaan misinya (aspek deduktif), serta mampu memenuhi kebutuhan/memuaskan stakeholders (aspek induktif) yaitu kebutuhan mahasiswa, masyarakat, dunia kerja dan profesional.

“Sehingga, perguruan tinggi harus mampu merencanakan, menjalankan dan mengendalikan suatu proses yang menjamin pencapaian mutu,” tambahnya.

Selanjutnya, ia juga menjelaskan tentang urgensi mengapa harus ada mutu di perguruan tinggi. Pertama, amanat UU No 3 Tahun 2020 dan UU sebelumya. Kedua, perkembangan teknologi yang semakin canggih maka menuntut perguruan tinggi harus bermutu dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Ketiga, tolak ukur kemajuan suatu bangsa berada di tangan perguruan tinggi. Sebab, output perguruan tinggi inilah yang akan berkontribusi besar pada kemajuan suatu bangsa. Keempat, daya saing lulusan baik nasional maupun internasional semakin ketat, karena itu perguruan tinggi harus dapat membekali lulusannya agar dapat bersaing dengan lulusan kampus lain.

“Maka dari itu, kita berharap perlunya merubah mindset bahwa mutu itu bukan hanya tanggung jawab ketua LPM tetapi tanggung jawab kita semua,” tandasnya.

Dosen Inaifas Lakukan Pemberdayaan kepada Pedagang Asongan dan Anak Jalanan di Jember

Dosen Inaifas Lakukan Pemberdayaan kepada Pedagang Asongan dan Anak Jalanan di Jember

Bagikan sekarang

Salah satu tri dharma perguruan tinggi adalah melakukan pengabdian kepada masyarakat. Selain mahasiswa, dosen juga memiliki kewajiban mengemban tugas dalam pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi tersebut.

Hal itu tampak dilakukan oleh Dosen Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember Fadlillah, M.Pd.I dan Dr. Asnawan, M.S.I kepada komunitas anak jalanan dan pedangan asongan di Terminal Tawang Alun Jember, Ahad (25/12/2022).

“Kegiatan ini adalah tugas pengabdian yang menjadi kewajiban setiap dosen di perguruan tinggi khususnya di kampus Inaifas,” ujar Fadlillah di sela-sela acara.

Dirinya menjelaskan, maksud kegiatan tersebut sebagai bentuk rasa simpati kepada masyarakat khususnya para anak jalanan dan pedagang asongan di sekitaran Terminal.

“Ya, walupun hanya memberikan wawasan dan motivasi. Alhamdulillah mereka sangat antusias dan dapat menambah spirit mereka dalam melakukan aktivitasnya,” tuturnya.

Menurut Kusnadi, salah satu pedagang asongan menyebut dirinya mulai bekerja sebagai asongan di Terminal Tawang Alun sudah 20 tahun lebih dan pendidikan terakhir hanya Sekolah Dasar (SD) itupun tidak lulus.

Ia juga menceritakan problem saat ini yang hampir di hadapi oleh pedagang asongan dan pengamen yaitu sepinya pembeli dan penumpang bus.

“Sampai saat ini belum ada pendampingan yang maksimal dari pemerintah setempat khusus komunitas anak jalanan, pengqmen dan pedagang asongan yang berada di Terminal Tawang Alun Jember ini,” ungkapnya.

Kusnadi mengaku kegiatan obrolan seperti ini sangat penting untuk memotivasi mereka sehingga menambah semangat mencari nafkah.

“Yang saya lihat belum ada dari dosen atau guru yang terjun langsung ke Terminal menghampiri dan memotivasi kami untuk terus semangat dalam mencari nafkah melalui jalan yang kami pilih ini,” tuturnya.

Hal serupa juga dialami Zubairi dan Asmad. Mereka menjadi makelar Bus penumpang pada Sinar Harapan dan Bus Akas.

Meskipun sudah berumur sekitar 60 tahun, mereka masih semangat dalam melakukan pekerjaan tersebut. Disebutkan, penghasilan mereka per hari bersih antara Rp 30.000-50.000.

“Itupun kalau ramai penumpang kalau sepi ya hanya dapat sedikit pak. Untuk modal kami sendiri. Sepinya pendapatan biasa dikarenakan dampak covid-19 yang mengakibatkan sepinya para penumpang di Terminal Tawangalun Jember,” terangnya.

Sementara Wakil Rektor I Inaifas (Bidang Akademik) mengungkapkan, kegiatan di awali dengan focus group discussion (FGD) mengenai kewirausahaan (entrepreneurship). Target sasaran menitikberatkan pada anak jalanan dan pedagang asongan di Terminal Tawang Alun Jember.

“Mereka rata-rata putus sekolah, tidak melanjutkan pendidikan, berasal dari keluarga yang tidak mampu sehingga membutuhkan pendidikan dan keterampilan untuk berwirausaha,” kata Asnawan.

Pria kelahiran Sumenep ini menambahkan, mereka akan memiliki kesadaran untuk mewujudkan kehidupan yang layak, bersih, dan sehat. Mereka juga akan memiliki semangat berwirausaha (entrepreneurship) dan life skill yang dapat mengangkat kehidupan ekonomi mereka.

Dirinya berharap, mereka dapat kembali menikmati akses pendidikan yang layak melalui proses pendampingan luar sekolah yang akan dijalankan agar menumbuhkan sikap kemandirian berusaha atau sikap mental kewirausahaan (entrepreneurship).

Oleh karena itu, ke depan akan tumbuh usaha-usaha produktif berbasis sosial budaya yang dijalankan oleh komunitas anak jalanan dan hasil produksinya dapat dipasarkan.

“Tumbuhnya pola hidup hemat, ada perencanaan manajemen keuangan untuk masa depan mereka, terutama untuk menikmati pendidikan yang layak dan mencerdaskan,” tandasnya.

Visitasi Alih Bentuk Inaifas Menjadi Universitas Islam Al-Falah As-Sunniyyah

Visitasi Alih Bentuk Inaifas Menjadi Universitas Islam Al-Falah As-Sunniyyah

Bagikan sekarang

Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember sebentar lagi akan berubah bentuk menjadi Universitas Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Unaifas). Hal itu ditandai dengan Asesmen Lapangan (AL) oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia.

Kepala Subdit Kelembagaan dan Kerjasama Kementerian Agama RI Dr. H. Thobib Al Asyhari secara virtual Zoom Meeting memberikan arahan bahwa perubahan bentuk dari Institut ke Universitas tidak hanya sekedar berubah nama.

Menurutnya, perubahan itu secara mendasar diwujudkan dengan membangun paradigma pengembangan akademik oleh seluruh sivitas akademika.

“Substansi perubahan itu baik dari aspek kelembagaan, aspek budaya akademik, aspek manajerial keuangan dan sarana prasarana pembelajaran,” ujarnya.

Thobib menekankan beberapa hal agar menjadi perhatian Inaifas menjadi perguruan tinggi yang sehat berkualitas dengan dukungan sistem pembelajaran dan manajemen yang baik.

“Pertama, visi dan misi harus benar-benar menjadi acuan dalam mengembangkan perguruan tinggi. Banyak perguruan tinggi memiliki visi misi yang bagus tapi tak dijadikan acuan sehingga tidak inline dengan program yang dikembangkan,” jelasnya.

Kedua, pengembangan SDM di lingkungan pengelola. “Dosen yang masih S2 segera didorong untuk menjadi S3/doktor melalui support kelembagaan,” ujarnya.

Ketiga, agar Inaifas membangun budaya dan tradisi akademik yang baik. Sebab, perguruan tinggi yang bisa bertahan dan berkembang karena mampu menjaga budaya akademik dengan inovasinya, sebagai pembeda dari PT lain.

“Tradisi akademik yang dimaksud adalah dengan menghidupkan riset, diskusi, seminar, penulisan artikel ilmiah dan jurnal,” urainya.

Keempat, yaitu dengan penyediaan infrastruktur yang memadai. Ia meyakini Inaifas akan terus berkembang dengan potensi jaringan kelembagaan yang dimilikinya.

“Dengan terus membangun networking atau jejaring dengan mitra. Perguruan tinggi Islam akan eksis jika bangun jejaring dengan stakeholder maupun para alumninya,” ujarnya.

Lebih lanjut, dirinya menilai Inaifas sudah memiliki kapasitas yang cukup dalam meningkatkan SDM dengan jumlah tenaga pendidikan tersebut.

Untuk itu dia berharap dan mengajak agar PTKIS tidak hanya sebagai sebagai wadah transfer of knowledge. Namun sebagai kawah candradimuka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Bangun narasi dan paradigma di masyarakat bahwa PTKIS bukan sekedar menjadi alternatif karena tidak diterima di PTN. Tunjukkan bahwa PTKIS sebagai pusat destinasi orang belajar yang aman dan nyaman sehingga PTKIS mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain,” tandasnya.

Arahan Dirjen Pendis Kemenag RI Saat Asesmen Lapangan di Inaifas

Arahan Dirjen Pendis Kemenag RI Saat Asesmen Lapangan di Inaifas

Bagikan sekarang

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI melakukan Asesmen Lapangan perubahan bentuk Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) ke Universitas Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Unaifas). Kegiatan dipusatkan di Auditorium Kampus setempat pada Kamis (15/12/2022).

Asesmen Lapangan (AL) ini dilakukan secara luring dan daring melalui Zoom Meeting. Hadir dalam kegiatan ini secara virtual Dirjen Pendis Kemenag RI sekaligus Ketua Tim Penilai perubahan bentuk PTKIS Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., dan Kepala Subdirektorat Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat PTKI Dr. Thobib Al-Asyhar, S.Ag., M.Si.

Sementara Dr. A. Rafiq Zainul Mun’im, M.Fil.I Sub Koordinator Bina PTKIS pada Direktorat PTKI hadir secara langsung didampingi Staf Subdit Kelembagaan dan Kerjasama Kementerian Agama RI Alip Nuryanto dan Arini Dina Yusofa.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T. mengatakan mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tujuan yang hendak diwujudkan oleh negara, sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat.

Menurutnya, tujuan tersebut menggambarkan sebuah cita-cita luhur serta harapan negara dalam membangun sumber daya manusia yang unggul guna tercapainya kehidupan yang adil, makmur, dan sejahtera.

“Upaya yang telah dan akan terus dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan dalam berbagai jalur, jenjang dan jenis pendidikan,” ujar pria yang akrab disapa Prof. Dhani.

Cucu dari KH. Anwar Musaddad ini menambahkan, pemerintah telah merumuskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

“Pengertian itu mengandung makna pendidikan bukan hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga memberikan fokus pada nilai-nilai kemoralan,” urainya.

Pria kelahiran Garut 6 Nopember 1971 ini menegaskan, bahwa pada dasarnya sebuah universitas secara fisik tidak harus megah dan berdiri mentereng, namun bagaimana kemudian instusi itu dapat menyediakan ruang pendidikan yang aman dan nyaman.

“Prinsipnya, pendidikan Islam itu untuk semua dan menjamin hak setiap orang dapat belajar mengembangkan potensi diri untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesempurnaan hidupnya. Belajar untuk membebaskan diri dari kebodohan untuk mencapai kebijaksanaan,” tandasnya.

Lebih lanjut, pria yang sempat menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) masa khidmat 1996-2000 ini berharap asesmen perubahan bentuk Inaifas ke Universitas ini dapat berjalan secara cepat dan tepat.

“Selamat dan sukses, semoga asesmen ini berjalan lancar serta mendapatkan kemudahan dan keberkahan,” pungkasnya.

Harlah 24 Tahun: Inaifas sebagai Lembaga Pendidikan Sosial dan Dakwah

Harlah 24 Tahun: Inaifas sebagai Lembaga Pendidikan Sosial dan Dakwah

Bagikan sekarang

Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Kabupaten Jember menggelar Inaifas Bershalawat bersama Darul Musthofa Assunniyyah (Darmas). Kegiatan ini merupakan malam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-24 tahun kampus setempat sekaligus merayakan maulid Nabi Muhammad SAW.

Tema besar pada momentum tersebut adalah ‘Mengokohkan Kampus sebagai Lembaga Pendidikan, Sosial dan Dakwah’. Kegiatan dipusatkan di halaman kampus setempat, Senin (14/11/2022) malam.

“Inaifas bershalawat sebagai salah satu bentuk syukur dimana kampus tercinta ini telah berusia 24 tahun. Sekaligus mengokohkan kampus sebagai lembaga pendidikan, sosial, dan dakwah” kata Rektor Inaifas, Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I.

Direktur Imtiyaz Surabaya ini menyebut acara itu merupakan sebuah persembahan bagi seluruh sivitas akademika atas capaian Inaifas selama ini.

“Menjelang transformasi alih status menuju universitas, tentu banyak hal yang harus dipersiapkan dengan matang mulai dari peningkatan kualitas pelayanan hingga kualitas mutu akademik,” ujarnya.

Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini berharap di usia hampir seperempat abad, kampus yang dipimpinnya dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, agama dan bangsa Indonesia.

Kegiatan dihadiri Wakil Katib PWNU Jatim KH Khoiruzzad Maddah dan Pengasuh Pesantren Riyadlus Sholihin Jember KH M Mushoddiq Fikri Farouq (Gus Fikri). Serta pemimpin Jam’iyyah Shalawat Darul Musthofa Assunniyyah Lumajang KH Ali Ridwan.

Dikemukakan bahwa sebelumnya Inaifas telah menggelar bedah buku Dan ‘Arsy Pun Berguncang karya Ahmad Husain Fahasbu, Jalan Sehat, dan Khotmil Qur’an oleh mahasiswa tahfidz hingga pelepasan 5.000 merpati.

Pada puncak acara, juga dilakukan santunan kepada dhuafa dan anak yatim, penghargaan bagi lembaga SMA/SMK/MA terbaik, penyerahan berbagai macam beasiswa. Di antaranya beasiswa modal usaha, habaib, tahfidz, anak pulau, Upzis hingga beasiswa bagi Banser dan lainnya.

Acara tersebut didukung oleh berbagai pihak. Di antaranya NU-Care LAZISNU Jatim, NU-Care LAZISNU Kencong, Dunia Santri Comunity (DSC), Ummi Foundation, Imtiyaz Surabaya, dan Muara Progresif.

Selain itu, Yatim Mandiri, Yayasan Nurul Hayat, BAZNAS Jember, BAZNAS Jatim, Bank Syariah Indonesia (BSI) Kencong, Bank Jatim Kencong, hingga UD Berkah Jati Mulyo serta dermawan perseorangan.