Jalin Kerjasama dengan Pemkab Jember, INAIFAS Gelar Vaksinasi Massal

Jalin Kerjasama dengan Pemkab Jember, INAIFAS Gelar Vaksinasi Massal

Bagikan sekarang

Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah Kencong bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Jember mengadakan vaksinasi massal bertempat di Kampus Hijau INAIFAS, Jalan Semeru No. 9 Kencong, Jember. Senin pagi. (09/08).

Kegiatan Vaksinasi Massal tersebut bertajuk Gerakan INAIFAS Sehat disambut baik masyarakat setempat.

Terbukti dari jumlah orang yang mendaftar vaksinasi melebihi target kuota yang sudah ditentukan.

Zainal Arifin selaku ketua panitia mengatakan kegiatan vaksinasi massal tersebut ditujukan kepada Dosen, Tenaga Kependidikan/Struktural, Mahasiswa, Alumni INAIFAS dan masyarakat setempat.

“Alhamdulillah, antusias dari peserta vaksinasi sangat baik dan sangat mendukung dengan adanya kegiatan vaksinasi ini, bahkan melebihi dari target 200 peserta” Tutur Arifin.

Sementara Mohammad Dasuki, M.Pd Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama menambahkan kegiatan vaksinasi massal ini merupakan buah hasil kerjasama INAIFAS dengan Pemkab Jember.

Menurutnya, lanjut Dasuki, tujuan diselenggarakan kegiatan vaksinasi ini merupakan bentuk ikhtiar kita dalam memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

“Semoga dengan adanya vaksinasi massal ini dapat mempercepat serta semakin banyak masyarakat yang terlindungi” Kata pria yang kerap disapa Abah Dasuki.

Khusnul Khotimah salah satu mahasiswa INAIFAS turut memberikan respon baik dengan adanya vaksinasi massal tersebut.

“Kita semua berharap kegiatan vaksinasi massal ini mampu memberikan edukasi serta dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa dan masyarakat pada umumnya tentang pentingnya vaksinasi dan mematuhi protokol kesehatan” Papar Khusnul perwakilan mahasiswa beasiswa KIP.

Giat vaksinasi massal tersebut diikuti lebih dari 200 peserta. Acara tersebut berjalan dengan baik dan lancar dengan tetap memenuhi protokol kesehatan secara ketat.

Kontributor : Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP

Prodi BKPI INAIFAS, Bantu Kembang-Lejitkan Potensi Siswa SMK Maarif NU Kencong

Prodi BKPI INAIFAS, Bantu Kembang-Lejitkan Potensi Siswa SMK Maarif NU Kencong

Bagikan sekarang

Alhmadulillah, untuk kesekian kali Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam INAIFAS bantu-sukseskan giat bimbingan Character Building dan Treatment pemetaan gaya belajar.

Acara yang digelar di SMK Maarif NU Kencong (SMK YUNISMA) merupakan pra-orientasi selama empat hari dari Masa Pengenalan Sekolah (MPLS) yang dijadwalkan akan berlangsung selama 1 bulan. (31/07/2021)

Menurut kepala SMK, Muhammad Yusqi, M.Pd.I, orientasi pendidikan karakter dan treatment selayaknya dilakukan sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dijalankan. Hal ini bertujuan untuk agar peserta didik memiliki arah dan niat yang kuat berdasarkan setting karakter yang  sesuai iklim sekolah. Tentunya pondasi moral (akhlak) dan spiritual (agama).

Dirinya meyakini bahwa setiap siswa memiliki modalitas kecerdasan ataupun potensi yang berbeda-beda. Tentu tersembunyi, dan akan terus tersembunyi sebelum terjadi aksi-reaksi yang memuncul-berkembangkan potensi tersebut.

“Maka dari itu, kita butuh tenaga ahli yang bisa membantu mengeksplorasi dan memetakan potensi tersebut untuk kemudian menjadi rekomendasi yang akan dikembangkan secara maksimal oleh dewan guru di SMK Yunisma”, Terang Yusqi.

Dalam kesempatan itu, Prodi Bimbingan Konseling dan Pendidikan Islam (BKPI) INAIFAS sebagai mitra pengembang SDM mendelegasikan bapak Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd yang dibantu oleh dua mahasiswi BK semester VII, yaitu Zilfi Filanda dan Siti Hanifah. Hal tersebut dimaksudkan agar mahasiswa juga punya ruang aktualisasi keilmuan sesuai bidangnya.

Aminullah, M.Pd selaku Ketua Program Studi BKPI INAIFAS menyambut baik wujud pelaksanaan kerjasama ini. Menurutnya, satuan pendidikan berbasis kejuruan memang sebaiknya mendapatkan layanan khusus berkenaan dengan pemetaan potensi dan psikoanalisis untuk dikembangkan menjadi SDM unggul dan memiliki daya saing yang tinggi.

Pihaknya memberi layanan berupa psikotes, parenting, motivasi, dan treatment bimbingan dan konseling. Mulai dari PAUD hingga SLTA juga kalangan lintas profesi.

“Prodi BKPI sudah memiliki dosen sekaligus tenaga ahli di bidangnya, semisal Psikotest bersertifikat, diampu oleh bapak Puji Maulana, M.Pd, Bu Ora Gorez Uke , M.Pd. konselor spesialis bimbingan karir, dan bapak Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd sebagai trainer dan motivator pendidikan,” Jelas Aminullah.

Dalam setting formal pendidikan, pemetaan gaya belajar di masa sekarang ini penting diterapkan. Disamping sebagai paradigma Merdeka Belajar yang merupakan wujud pemberian ruang keleluasaan bagi siswa untuk memilih pelajaran sesuai minat, guru harus mampu menyesuaikan diri terhadap gaya belajar yang di miliki oleh masing-masing siswa.

Sebagaimana prinsip pengembangan potensi anak, bahwa banyaknya kegagalan siswa mencerna informasi dari guru disebabkan oleh ketidak-sesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa.

Sebaliknya, apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran akan terasa mudah dan menyenangkan. Guru juga senang karena punya siswa yang semuanya cerdas dan berpotensi untuk sukses pada jenis kecerdasan yang dimilikinya.

Secara konseptual, gaya belajar adalah satu-satunya modalitas belajar, yaitu cara informasi masuk ke dalam otak melalui indra yang di miliki. Pada saat informasi tersebut akan ditangkap oleh indra, maka bagaimana informasi tersebut disampaikan (modalitas) berpengaruh pada kecepatan otak menangkap informasi dan kekuatan otak menyimpan informasi tersebut dalam ingatan atau memori.

Terdapat tiga modalitas:
a. Visual: Modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel, diagram, grafik, peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
b. Auditorial, Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi, suara-suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan cerita lagu, syair, dan hal lain-lain yang terkait.
c. Kinestetik, Modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas  tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.

Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd menambahkan, disamping pemetaan gaya belajar, di tiap akhir sesi, para generasi enterpreneur ini diberikan treatment tes Kraepelin. Test Kraepelin adalah jenis tes psikotes yang berisi susunan angka-angka untuk membentuk grafik. Tes ini sering kali digunakan dalam proses rekrutmen tenaga kerja baru di suatu perusahaan atau instansi.

Nama Kraepelin diambil dari penemu jenis tes psikotes ini yaitu Emilie Kraepelin yang merupakan seorang psikiater. Mengerjakan tes kraepelin ini sebenarnya mudah, hanya dengan menjumlahkan dua angka terdekat dengan nominal 0-9.

Pada prinsipnya tidak ada waktu yang cukup untuk mengerjakan tes koran tersebut karena memang jumlahnya sangat banyak dan tidak dituntut untuk mengerjakan semua soal yang ada. Namun interpretasi dari tes kraepelin dapat digunakan oleh seorang Human Management Development (HRD) untuk mengetahui bagaimana karakter calon pegawai perusahaan.

“Melalui treatment ini saya kira yang menjadi maksud dari Kepala SMK dan Guru BK bapak Adi sebagai tambahan eksplorasi secara psiklogis yang memang bertujuan untuk mengetahui karakter dan performa maksimal seorang calon pegawai. Maka dari itu, tekanan skoring dan interpretasi didasarkan pada hasil tes secara objektif,” tandas Rudi.

Adapun hasil dari tes Kraepelin akan menginterpretasikan empat hal, yaitu: faktor kecepatan (speed factor), faktor ketelitian (accuracy factor), Faktor keajegan (rithme factor), dan faktor ketahanan (ausdeur factor).

Setelah mengetahui pengertian tes Kraepelin dan tujuannya, lalu apa hubungannya dengan arah karir? Dalam pelaksanaan tes Kraeplin, penguji akan mengetahui tingkat kecepatan, ketelitian, keajegan, dan ketahanan seseorang dalam menghadapi ujian. Dalam dunia karir, hal ini dapat mengindikasikan jenis pekerjaan yang sesuai bagi seseorang.

Dari hasil berbagai treatment diatas segera akan dijadikan bahan presentasi dalam konferensi hasil kepada para pendidik dan stake holder lembaga untuk dijadikan rekomendasi dan dasar pengembangan bersama.

Giat Masa Pengenalan Sekolah (MPLS) ini diikuti oleh 140 siswa, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.(arm)

Semoga bermanfaat.

Keterkaitan Haji dan Menikah di Bulan Dzul Hijjah

Keterkaitan Haji dan Menikah di Bulan Dzul Hijjah

Bagikan sekarang

Oleh: Ahmad Zuhairuz Zaman, B.Sc., M.H.

(Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam INAIFAS)

Sudah jamak bagi kita umat Islam bahwa salah satu larangan bagi orang yang berstatus muhrim (orang yang sedang berihram haji atau umrah) adalah melaksanakan akad nikah sampai selesai dari seluruh rangkaian manasiknya atau tahallul tsani. Hal itu didasarkan hadits Nabi Muhammad ‘alayhi as-shalatu wa as-salam, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Orang yang berihram tidak boleh menikah dan menikahkan.”

Kedua amal kebaikan (haji dan menikah) yang tidak bisa dilakukan secara bersamaan ini ternyata memiliki tautan yang menarik secara korelatif dan komparatif, terutama dalam pelaksanaan keduanya di Bulan Dzul Hijjah.

Dzul Hijjah atau Bulan Besar dalam tradisi muslim Nusantara adalah bulan yang istimewa dengan banyaknya ritual keagamaan yang dianjurkan pada bulan tersebut. Bulan ini juga disebut dengan bulan haji dan bulan musim kawin. Meskipun untuk waktu pelaksanaan nikah tidak ada waktu khusus, namun melangsungkan akad nikah pada Dzul Hijjah sudah mentradisi di kalangan muslim Nusantara.

Mengenai penentuan bulan atau hari baik untuk pelaksanaan pernikahan sebenarnya tidak ada dasar atau dalil yang pasti, meskipun terdapat pendapat para fuqaha’ tentang anjuran dilaksanakannya pada hari Jumat, karena hari tersebut adalah hari yang mulia dalam Islam.

Namun, ada sebagian riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad ‘alayhi asshalatu wa assalam, menikahkan putri terkasihnya Sayyidah Fathimah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib pada awal bulan Dzul Hijjah. Riwayat ini populer di kalangan Syi’ah. Sedangkan riwayat lain menurut Ibn Sa’ad dalam Al-Thabaqat Al-Kubra mengatakan bahwa Sayyidina Ali menikahi Sayyidah Fathimah di bulan Rajab setelah lima bulan sejak kedatangan Nabi Saw ke Madinah. Kemudian Sayidina Ali berkumpul dengan Sayyidah Fatimah setelah pulang dari perang badar, dan usia Fatimah saat berkumpul dengan Sayidina Ali berusia delapan belas tahun.

Terlepas dari perbedaan riwayat tentang waktu pernikahan Sayyidina Ali dengan Sayyidah Fatimah, Bulan Dzul Hijjah adalah termasuk bagian dari empat bulan Haram yaitu empat bulan mulia dalam Islam, yaitu Dzul Qa’dah’ Dzul Hijjah, Muharam dan Rajab.

Sebenarnya keempat bulan tersebut ditetapkan sebagai Bulan Haram sudah terjadi pada masa Jahiliyah, asal muasalnya adalah karena pada Bulan Dzul Qa’dah sampai Bulan Muharram masyarakat Arab melaksanakan ibadah Haji dimulai berangkat menuju Makkah pada bulan Dzul Qo’dah dan kembali dari Makkah ke daerah masing-masing pada Bulan Muharram. Kemudian pada Bulan Rajab mereka biasanya melaksanakan ibadah umrah.

Maka untuk menghormati jamaah haji dan umrah, Bangsa Arab pada masa jahiliyah sepakat untuk tidak melakukan peperangan pada bulan-bulan tersebut, dan jika ada dua kabilah yang saling berperang, maka kedua kabilah harus melakukan gencatan senjata untuk sementara. Tradisi ini kemudian diakui dalam Islam sebagaimana dalam surat Al-Taubah ayat 36. Meskipun tradisi lama jahiliyah tentang Bulan Haram diapresiasi oleh Islam, nama ada pula keyakinan jahiliyah yang ditolak, yaitu pantangan menikah pada bulan-bulan haji.

Beberapa sisi keterkaitan antara haji dan menikah antara lain sebagai berikut:

Pertama. Pertemuan dimensi ukhrawi dan duniawi. Meskipun haji identik dengan pola hidup sederhana, menghindari nafsu dan syahwat manusia, namun Allah ta’ala menganjurkan kita untuk berdoa kebaikan dunia dan akhirat. Redaksi doa tersebut adalah:

‎رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Di mana do’a ini banyak dipanjatkan ketika thawaf dan berada di antara ar-Rukun al-Yamani dan al-Hajar al-Aswad (HR. Abu Dawud).

Juga ketika selesai menunaikan rangkaian ibadah haji sebagaimana ditunjukkan dalam surat Al-Baqarah ayat 200-201. Ketika musim haji juga banyak jamaah haji yang juga berniaga dan berbisnis memanfaatkan keramaian musim haji. Dan Islam tidak melarang hal tersebut sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Baqarah ayat 198.

Dimensi yang sama juga ditemukan dalam pernikahan. Meskipun pernikahan identik dengan hajat biologis manusiawi, tetapi menikah adalah bagian dari sunnah para rasul. Konon pernikahan pertama kali dilakukan oleh Nabi Adam dan Ibu Hawa dengan dua saksi utama dari bangsa malaikat, yaitu Malaikat Isrofil dan Malaikat Mikail.

Saksi pertama yaitu Isrofil yang merupakan representasi dari dimensi ukhrawi karena tugasnya adalah meniup terompet sangkakala. Bunyi sangkakala adalah salah satu tanda perpindahan dari alam dunia ke alam akhirat. Kemudian saksi kedua adalah Mikail yang merepresentasikan dimensi duniawi karena tugasnya membagi rizki semasa hidup manusia di dunia.

Keduanya melambangkan bahwa pernikahan adalah hubungan yang agung, dan lintas alam. Pernikahan abadi tidak hanya untuk seumur hidup atau sehidup semati, tetapi yang bisa berlanjut sampai di akhirat nanti.

Kedua. Jaminan kecukupan dari Allah.
Di antara faktor belum terlaksananya ibadah haji dan menikah bagi sebagian umat Islam adalah takut miskin, padahal ia mampu untuk melaksanakannya. Alasan ini sudah pernah disinggung oleh Al-Quran dan Hadits Nabi.

Hal itu ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengasara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 27-28)

Dalam hadits juga terdapat keterangan bahwa haji dan umrah bisa menghapus dosa dan kefakiran. Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387.

Begitu juga dalam pernikahan. Al-Quran menjamin pernikahan tidak akan menjadikan seseorang jatuh miskin, dan Allah akan mencukupi kedua pasangan yang menikah.
Allah ta’ala berfirman:

‎وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٣٢

Artinya: “San nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kalian, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Dermawan lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur Ayat 32).

Orang yang mau menikah juga termasuk diantara golongan yang akan ditolong oleh Allah ta’ala. sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihiwasallam:

‎ثلاثة حق على الله عونهم: المجاهد في سبيل الله، والمكاتب الذي يريد الأداء، والناكح الذي يريد العفاف

Artinya: “Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (dengan membayar uang kepada majikannya) dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR. Imam at-Tirmidzi)

Ketiga. Penyempurna agama bagi seorang muslim. Haji merupakan ibadah seumur hidup sekaligus simbol kesempurnaan agama dan ibadah pamungkas. Karena kewajiban untuk melaksanakan haji yang dibebankan kepada seorang muslim yang sudah mukallaf hanya sekali berbeda dengan rukun-rukun Islam yang lain.
Tentang hal tersebut, Allah SWT menurunkan ayat surah al-Maidah ayat 3 pada waktu Rasulullah melaksanakan haji wada’.

Allah berfirman:

‎الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. al-Maidah: 3)

Rasulullah Saw juga bersabda. “Barang siapa yang mati dan belum sempat ibadah haji padahal dia mampu, maka hendaklah ia menjadi sebagai Yahudi dan Nasrani.” (HR. At-Tirmidzi).

Imam Ghazali manjelaskan, maksud hadis tersebut adalah barang siapa yang meninggal dan belum haji padahal mampu atau meninggal dalam keadaan tidak mampu setelah sebelumnya memiliki kemampuan untuk melakukannya, maka dia adalah orang yang durhaka kepada Allah semenjak dia mampu hingga meninggal dunia dan Islamnya tidak sempurna. 

Menikah juga disebut sebagai penyempurna separuh agama. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎من رزقه الله امرأة صالحة فقد أعانه على شطر دينه فليتق الله في الشطر الباقي

Artinya: “Siapa yang diberi karunia oleh Allah seorang istri yang salihah, berarti Allah telah menolongnya untuk menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu, bertaqwalah kepada Allah di setengah sisanya.” (HR. Baihaqi).

Maksud dari menyempurnakan separuh agama dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin sebagaimana berikut:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa yang menikah, berarti telah melindungi setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah agamanya yang kedua.”

Ini merupakan isyarat tentang keutamaan nikah, yaitu dalam rangka melindungi diri dari penyimpangan, agar terhindar dari kerusakan. Karena yang merusak agama manusia umumnya adalah kemaluannya dan perutnya. Dengan menikah, maka salah satu telah terpenuhi.”

Keempat. Pertentangan antara kebutuhan untuk menikah dan kewajiban haji.

Hukum asal haji adalah wajib bagi yang mampu, sedangkan hukum asal menikah adalah sunnah. Akan tetapi dalam menikah bisa berlaku semua kategori hukum taklif yang berjumlah lima. Menikah bisa menjadi wajib ketika seorang mukallaf sangat membutuhkan untuk menikah karena takut terjerumus dalam zina dan ia mempunyai modal untuk menikah, maka ia wajib menikah untuk menghindari perbuatan zina.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka jika seorang pria mempunyai harta yang cukup untuk haji, akan tetapi ia sangat membutuhkan harta itu pula untuk modal menikah, dan dia takut dirinya terjerumus zina, jika tidak segera menikah, maka ia harus mendahulukan menikah, karena itu adalah kewajibannya.

Dalam hal ini menurut Ibn Qudamah, hukum kebutuhan terhadap menikah sama seperti hukum kebutuhan terhadap nafkah. Dan sebaliknya jika ia tidak takut terjerumus dalam zina, maka ia harus mendahulukan haji, karena hukum menikahnya sunnah, maka tidak boleh mengakhirkan haji yang wajib.

Imam Al-Syirazi mengatakan “Jika seseorang butuh menikah dan dia takut zina, maka didahulukan nikah, karena kebutuhan untuk nikah dalam hal ini lebih mendesak, sementara haji bukanlah ibadah yang sifatnya mendesak.”

Pernyataan Imam Al-Syirazi di atas kemudian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (juz 7 hal. 49) bahwa sebaliknya jika tidak ditakutkan adanya perzinahan, maka penggunaan harta untuk membayar ongkos naik haji lebih diutamakan.

Penjelasan Imam Asy-Syirazi dan Imam Nawawi didasarkan pada kenyataan bahwa hukum menikah bisa berubah-ubah tergantung pada kondisi. Misalnya nikah menjadi wajib jika ditakutkan adanya fitnah jika tidak disegerakan, sedangkan di sisi lain kewajiban haji sifatnya bukanlah kewajiban fawriyyah (yang disegerakan seperti berpuasa saat Ramadhan tiba), namun bersifat al-taraakhi (boleh ditunda).

Bagi penulis, pertentangan antara kebutuhan menikah dan kewajiban haji pada masa sekarang amatlah mudah disiasati. Jadi kasus tersebut semestinya amat langka ditemukan pada masa sekarang. Sebagai solusi, orang yang berada pada kondisi tersebut bisa melakukan akad nikah terlebih dahulu dengan mas kawin (mahar) yang ditempo. Kemudian setelah “bulan madu” sekadarnya, ia bisa berangkat haji dengan harta yang dia miliki saat ini.

Sedangkan walimah nikah atau resepsi perkawinan bisa dilakukan setelah pelaksanaan haji. Perjalanan haji reguler di masa sekarang bisa dilakukan hanya dalam waktu 40 hari, waktu yang singkat jika dibandingkan dengan waktu perjalanan haji masa dulu yang biasanya ditempuh dalam waktu enam bulan atau lebih, karena hanya bisa melalui jalur laut.

Bahkan sekarang banyak jamaah haji yang melangsungkan akad nikah di tanah Haram setelah selesai melaksanakan rangkaian manasik haji (tahallul tsani) sekaligus bertabarruk dengan melaksanakan aqad nikah dan honey moon di tanah Haram dan di bulan Haram (Dzul Hijjah).

Mengkaji tentang hubungan antara haji dan menikah ini, penulis terinspirasi oleh dawuh al-Maghfurlah Simbah KH. Maimoen Zubair rahimahullah, dalam mauidzoh di salah satu acara walimah nikah. Kurang lebihnya beliau mengatakan dalam bahasa Jawa: “Nikah kuwi podo plek karo haji. Bedane jamaah haji karo manten anyar, nek haji sabuke kudu dirapetke, nek manten anyar sabuke kudu dikendo’ke.”

Wallahu a’lam bishawab.

Pertemuan dengan Mahasiswa Akhir, Dekan Fakultas Tarbiyah : Tunda Dulu !

Pertemuan dengan Mahasiswa Akhir, Dekan Fakultas Tarbiyah : Tunda Dulu !

Bagikan sekarang

Kencong, Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah, M. Bustanul Ulum, M.Pd menunda pertemuan dengan mahasiswa terkait koordinasi progres penyusunan skripsi bagi mahasiswa semester VIII ke atas.

Pertemuan yang semula direncanakan hari ini, Senin, 5 Juli 2021 bertempat di Aula INAIFAS Kencong tersebut ditunda dikarenakan mematuhi Intruksi Pemerintah terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali sejak 3-20 Juli 2021.

” Pertemuan kita tunda dulu sampai batas waktu yang ditentukan, ” Terang Ibus di Gedung Rektorat, Senin pagi (5/07)

Selebihnya pertemuan akan di informasikan secara berkala melalui kaprodi masing-masing.

Anak Muda Menabung Saham, Mengapa Tidak?

Anak Muda Menabung Saham, Mengapa Tidak?

Bagikan sekarang

Oleh: Uliyatul Muawanah, M.E.I (Kaprodi ES INAIFAS Kencong Jember)

Ahad (20/06), Himpunan Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah (HMPS) INAIFAS Kencong Jember, menyelenggarakan webinar. Acara ini bertema “Yuk Nabung Saham: Trading di Pasar Modal Syariah”. Narasumbernya masih muda tapi punya banyak pengalaman. Namanya Muhammad Faza Mahendra. Usianya masih 22 tahun, tapi memegang rekor MURI untuk kriteria “Menabung Saham Dari Penjualan Sampah oleh Mahasiswa Terbanyak”. Dia juga menjadi kampiun Forum Riset Ekonomi dan keuangan Syariah OJK 2019 kategori Anak Muda di Sektor Pasar Modal Syariah.

Sebagai Kaprodi ES, saya menganggap apabila saat ini keterlibatan anak muda, apalagi mahasiswa, masih belum maksimal di bidang ini. Padahal peluangnya besar. Hal ini pantas dimaklumi, sebab indeks literasi keuangan Syariah masih cenderung rendah. Angkanya masih berada di kisaran 16,3%. Hal ini diakui oleh Bapak Prijono selaku Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI). Artinya, dari sekitar 100 orang hanya 6 orang saja yang paham mengenai sektor keuangan Syariah, salah satunya sektor pasar modal.

Di sisi lain, jumlah investor saham di Indonesia berdasarkan data pada Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) atau investor yang memiliki SID (Single Investor Identification) berjumlah  5.088.093 SID pada 2021, tumbuh 31,11 % dari tahun 2020 yang berjumlah 3.880.753 SID.

Tentu tingkat pertumbuhan ini pantas disambut dengan tepuk tangan, walaupun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, hal tersebut masih cukup jauh dari standar karena pemulihan ekonomi perlu koordinasi dari berbagai sektor keuangan,  terlebih pada saat pandemi Covid-19.

Peningkatan jumlah investor lokal juga akan berdampak pada ketahanan/ resiliensi sektor pasar modal. Dalam ekonomi pembangunan, konsep ini mirip dengan ungkapan “cintai produk dalam negeri”, sebuah harapan apabila para pelaku usaha menjadi majikan di tanah air sendiri, serta produk dalam negeri bisa merajai pasar Indonesia, bahkan bisa merambah dunia ekspor. Dengan kata lain Indonesia seharusnya mampu menjadi pemain dalam negeri sendiri. Kita pantas bergembira pada keuletan dunia usaha yang lebih variatif, apalagi semenjak pandemi. Para wirausahawan tidak lagi menjajakan produk secara luring, melainkan juga daring. Pola pemasaran juga lebuh kreatif. Pangsa pasar juga diperluas. Artinya, jika pola ini bisa dipertahankan lebih lama dan dinamis, maka harapan apabila pengusaha lokal berjaya di negeri sendiri bisa tercapai. Tingkat daya serap karyawan dalam usaha kreatif juga lebih meningkat.

          Dalam webinar kemarin lusa, Muhammad Faza Mahendra sebagai narasumber juga menyoroti masih minimnya tingkat pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap saham, investor, emiten/ perusahaan. Konsep “nabung saham” serta jual beli saham (trading) juga masih sangat rendah, bahkan bagi mereka yang termasuk dalam kategori surplus dana.  Padahal ini sebenarnya sangat mudah seperti halnya kita ingin melakukan transaksi jual beli di pasar tradisional maupun marketplace online seperti shopee, tokopedia, dsb.

Faza melanjutkan, hambatan awal terjadi pada tingkat pemahaman masyarakat. Apalagi ada sebagian kecil kaum muslimin yang mempercayai apabila bisnis saham ini bagian dari riba. Padahal ini belum tentu benar. Riba memang diharamkan, namun apakah bisnis saham bagian dari riba, para ulama masih khilaf di dalamnya. Faza mencontohkan sahabatnya semasa SMA yang tiba-tiba melarangnya menekuni bisnis ini dengan alasan riba. Padahal, sahabatnya ini belum mengetahui seluk beluk dunia saham. Dari sini, dia menilai apabila perlu upaya memahamkan masyarakat mengenai statusnya serta peluang beserta resikonya, agar lebih jelas dan terang.

          Faza lantas melanjutkan, saat ini metode bisnis investasi yang terbuka bagi kalangan muda sangat bervariatif dan senantiasa berkembang. Salah satunya dengan metode circular ekonomi karena dinilai lebih luas kebermanfaatannya. Misalnya seperti yang telah dilakukan Galeri Investasi Syariah (GIS) UIN Sunan Ampel Surabaya. Komunitas ini mampu melihat problem sampah di perguruan tinggi kemudian mengubahnya menjadi sesuuatu yang bernilai (valuable). Dengan mendirikan bank sampah Syariah, bank sampah melayani para nasabah untuk memberikan sampahnya untuk selanjutnya diubah menjadi rekening efek. Pada tataran ini As-Salam sebagai bank sampah juga bertindak sebagai kantor cabang dari Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti dalam perbankan pada umumnya. Komunitas ini bukan hanya telah memberikan bantuan pemikiran namun juga sekaligus solusi untuk permasalahan ekonomi serta lingkungan.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, transaksi saham bisa dilakukan hanya dengan cara menggunakan smartphone. Suatu bentuk pemanfaatan tekologi untuk menncapai kesejahteraan hidup (ekonomi).

          Harapan ke depan, Prodi Ekonomi Syariah INAIFAS dapat mampu meniru dalam hal mencari solusi apapun untuk mengatasi problematika yang di alami guna mencapai kesejahteraan diri sendiri, almamater, dan membantu pengembangan ekonomi Indonesia pada umumnya.Wallahu A’lam Bisshawab