Euforia Sidang Skripsi : Catatan Menjelang Wisuda

Euforia Sidang Skripsi : Catatan Menjelang Wisuda

Bagikan sekarang

Selain Wisuda, momentum yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap mahasiswa selama 4 tahun menempuh kuliah adalah Ujian Sidang Skripsi. Menjadi momen paling meneganggkan sebab pada hari itulah penentuan lulus tidaknya sebagai kaum akademis.

Skripsi yang disusun oleh mahasiswa itu berdasarkan ilmu yang telah dipelajari dari jurusan masing-masing. Hasil karya ilmiahnya ini juga harus berdasarkan pengamatan, data analisis yang relevan, dan sumber yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Menyusun laporan skripsi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada beberapa tahapan dan proses yang perlu dilewati, seperti penentuan apakah jenis skripsi yang ingin diambil kuantitatif, atau kualitatif, penentuan dan pengajuan judul skripsi, pencarian analisis sumber data, dan penyusunan bab satu sampai akhir.

Selanjutnya pengajuan proposal yang melalui berbagai proses persetujuan dari dosen pembimbing hingga sidang akhir dari penelitian yang telah dibuat oleh mahasiswa sebagai tahap akhir penentuan apakah layak lulus menjadi seorang sarjana atau tidak.

Dalam perjalanan mengerjakan skripsi, setiap mahasiswa mempunyai ceritanya masing-masing. Cerita umum yang paling sering terjadi sama mahasiswa ketika sedang mengerjakan skripsi adalah mendapatkan dosen pembimbing yang sulit untuk dihubungi, judul ditolak, file hilang, mendapat dosen pembimbing killer dan perfeksionis, dan sebagainya.

Rumitnya penyusunan skripsi, membuat tidak sedikit mahasiswa menyerah, dan memutuskan untuk menunda pengerjaan skripsi pada semester berikutnya. Banyak mahasiswa juga yang menumpahkan keluh kesah mereka di media sosial.

Tetapi ya sudahlah, hal tersebut menjadi maklum, persoalan semacam itu adalah bumbu-bumbu penyedap mahasiswa tingkat akhir.

Trend Euforia Perayaaan Pasca Sidang Skripsi

Yang menjadi menarik adalah sempat terdengar suara hati dari sebagian dosen mulai terdengar seiring naik daunnya “ritual” ini. Tren ini semakin menjalar ke semua Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Indonesia. Mereka berharap para mahasiswa lain tidak ikut-ikutan dan menjadikan ini sebagai kegiatan yang wajib dilakukan.

Semakin banyak foto-foto yang diunggah ke media sosial, menggambarkan momen sesaat setelah sidang skripsi atau tesis. Seorang mahasiswa yang baru saja keluar ruang sidang langsung disambut oleh rekan-rekan pendukung setianya lalu mengabadikan momen bersama dengan selempang bertuliskan nama dan gelar baru sarjananya, lengkap dengan boneka, bunga-bunga, dan balon-balon berbentuk huruf yang menunjukkan gelar akademik yang (segera) disandangnya.

Bisnis selempang wisuda dan aksesoris perayaan lainnya lantas maju pesat bukan hanya pada masa akhir semester atau wisuda saja, namun bisa kapan saja saat jadwal sidang tiba. Alhamdulillah laris.

Dewasa ini, orang-orang gemar berbagi euforia apapun di sosial media, termasuk euforia ketika lulus dalam sidang skripsi atau tesis. Terkesan biasa saja dan sederhana, tapi ada bagian dari tren ini yang terlihat seperti “mendahului kodrat” dan “pamer gelar akademis” di media sosial. Ya, gelar yang belum secara resmi disandang sang mahasiswa sebelum wisuda. Mereka yang melakukannya pun seolah tidak tahu bahwa gelar yang ditunjukkannya belum sah sebelum adanya pelantikan di sidang Yudisium.

Sebagian mahasiswa menyadari bahwa hal yang dilakukan ini memang tidak benar, ada juga yang melakukan ini sekadar untuk senang-senang saja dan cuma ikut-ikutan teman yang lain ketika ditanya langsung oleh dosen.

Namun, bagi penulis ini tidak masalah dan lumrah dilakukan sebagai bentuk ekspresi keberhasilan setelah kerja kelas yang dilalui selama kuliah. Selama tidak berlebihan, boleh-boleh saja. Yang terpenting, tren atau fenomena ini jangan sampai menjadi sindrom psikologi, dimana pendidikan kehilangan esensinya saat gelar akademis justru dijadikan penghias status sosial saja.

Bagi penulis, yang menjadi catatan penting adalah mahasiswa yang baru saja selesai ataupun dinyatakan lulus sidang skripsi/tesis pun masih harus menyelesaikan beberapa hal, diantaranya bimbingan lanjutan bersama dosen pembimbing untuk proses revisi skripsi, menyelesaikan administrasi kampus, urusan perpustakaan & berkas-berkas lain, dan sebagainya. Kemungkinan hal ini masih bisa terjadi dibalik euforia kelulusan seorang mahasiswa yang belum resmi diwisuda.

Wajar saja jika kita merayakan sebuah kelulusan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME karena bisa menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Namun sebagai mahasiswa seharusnya berfikir jernih dan sadar bahwa etika sebagai civitas akademik juga harus dijunjung tinggi.

Rayakanlah sebuah kelulusan dengan wajar, tidak berlebihan, dan sesuai pada tempat dan waktunya. Silahkan berfoto, mengadakan syukuran atau pesta besar di luar sana, namun pastikan catatan penting dari penguji pada saat ujian sidang segera dikerjakan dan dilaksanakan. Mengingat pelaksanaan Wisuda X Tahun 2021 sudah didepan mata. Ada pendapat lain?

#Semua akan wisuda pada waktunya….

“Pendadaran bukan pintu terakhir, pendadaran adalah titik awal dibukanya pintu kemajuan yang lain”

Kecerdasan Digital: Kemampuan Yang Wajib Dimiliki Mahasiswa

Kecerdasan Digital: Kemampuan Yang Wajib Dimiliki Mahasiswa

Bagikan sekarang

Oleh: Mila Agustin (Ketua Dewan Mahasiswa INAIFAS 2021-2022)

Indonesia sekarang menghadapi situasi semakin marak dan terbukanya cakrawala dalam globalisasi, dimana akses media sosial dan informasi sudah tidak dibatasi lagi oleh waktu dan tempat. Dimana orang-orang biasanya memposting kegiatan mereka di media sosial dan ini bisa dijadikan sebagai informasi bagi orang-orang yang berada di media sosial tersebut.

Namun perlu diperhatikan pentingnya memberikan ruang publik yang terbatas. Tidak hanya untuk menjaga privasi, melainnkan juga untuk menghindarkan diri kita dari marabahaya media sosial.

Akibatnya sangat fatal kalau kita tidak memperhatikan dengan betul konsekuensi atas apa yang bagikan kepada orang lain di dunia maya. Demikian pula adanya ujaran kebencian atau hoaks yang beredar. Maka dibutuhkan kecerdasan literasi digital bagi anak muda.

Untuk mengurangi dampak negatif dan demi memperkuat hubungan sosial di dunia digital ini, maka Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah bekerjasama dengan DEMA INAIFAS berkolaborasi dengan PROGRAM KEMENKOMINFO dan PT.Pacto Convex yang bergerak dalam Event organizer. Saya atas nama Presiden Mahasiswa INAIFAS, merasa bangga dipercaya menjalankan program ini dengan baik. Sebab, dari 14 kota yang digunakan tempat penyelenggaraan acara, Jember terpilih menjadi salah satunya, dan INAIFAS diberi amanah menjalankannya.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 24 November 2021 di kampus INAIFAS via zoom meet dengan mengusung tema “Membangun Solidaritas Sosial Melalui Literasi Digital”.

Pada acara tersebut ada beberapa pemateri yaitu Bapak Aam Waro’ P.S.Sos yaitu SEKJEN PUSKAPI (Pusat Kajian Pemilu Indonesia) yang berbicara tentang “Kecakapan Digital”, juga Bapam Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) INAIFAS yang memaparkam materi mengenai “Budaya Digital”.

Lalu Ibu Rovien Aryunia, S. Pd., M. PPO, M. .M dari Mafindo, yang mana perempuan paruh baya yang akrab disapa Bu Rovien ini merupakan Ketua Human Resources (HR) Seger Group. Dosen Praktisi UNAIR ini menjelaskan materi pilar “Etika Digital”.

Selanjutnya ada Bapak Tio Utomo yang merupakan Co-Founder Box2box, dan aktif dalam Podcast Network and Indonesia Market Lead For FIFA. Bapak Tio menyampaikan materi “Keamanan Sosial”. Dan yang terakhir yaitu penjelasan materi oleh Habib Husein Ja’far Al Haddar yang merupakan Konten Kreator Keislaman Pemuda Tersesat.

Dalam sambutanya, Rektor INAIFAS, Gus Rijal Mumaziq Zionis mengatakan, peran dunia digital memang sangat besar bagi semua kalangan, banyak manfaat dan fitur-fitur yang membantu pekerjaan masyarakat, misalnya pembelajaran daring, webinar, dan bahkan pekerjaan. Salah satu contohnya ialah, saat ini sudah banyak ditemui outline-outline jualan di media sosial atau produk yang dipromosikan melalui media sosial.

Mengenai kecakapan digital, Bapak Aam Waro’ menjelaskan, kemajuan dunia digital digunakan untuk mendukung proses demokrasi yang lebih baik.
Menurutnya, literasi digital adalah dasar untuk membuat kebebasan berpendapat menjadi semakin aman dan terjamin. Hanya saja, lanjutnya, tantangan bagi kita bersama untuk menciptakan iklim demokrasi yang ideal.

Kedudukan kita di dunia digital sama dengan siapapun, bahkan dengan presiden sekalipun.Dunia digital menjamín kesamaan hak dan kebebasan berpendapat kita semua.

Dalam hal budaya digital, Bapak Akhmad Rudi Masrukhin menjelaskan perlunya literasi digital dengan menginovasikan supaya menghasilkan sesuatu yang baru yang lebih efisien dan bisa dimanfaatkan.

Literasi digital merupakan pengetahun dalam memanfaatkan media digital.
Indonesia sendiri mempunyai peluang opimisme di era industri 4.0 dengan presentase 78 %. Adapun kerangka kerja literasi digital yang dipakai dalam kurikulum Indonesia tahun 2020-2024 yaitu digital skill, digital culture, digital ethnic dan digital safety.

Lebih lanjut, Pak Rudi menyatakan, integrasi kurikulum pendidikan (4 kompetensi inti) dalam literasi digital terdiri dari spiritual, moral, pengetahuan, keterampilan dan konsistensi.

Di sisi lain, Ibu Rovien menjelaskan bahwa kita harus bijak dan beretika menghargai keberagaman di ruang digital dengan berperilaku aman di ruang digital seperti menjaga sikap dan etika, menjaga privasi, mengelola media sosial dengan baik, menghindari akun negatif serta memanfaatkan media sosial untuk personal branding.

Adapun prinsip beretika di ruang digital yaitu memanusiakan manusia, jaga diri dan jaga orang lain, serta sadar konsekuensi. Ibu Rovien juga mengajak kita untuk mewujudkan ruang digital yang berlandasan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Acara yang diikuti ratusan peserta ini semakin menarik manakala pemateri ketiga, Bapak Tio Utomo memberi pesan agar jangan sampai kecanduan digital karena efek sampingnya itu mudah marah, dan stres, merasa kesepian, sulit fokus dan adanya kesulitan di dunia sosial.

Hal tersebut, menurutnya, bisa diatasi dengan membatasi waktu dalam menggunakan gawai dan berselancar di dunia digital, mencari hobi baru sehingga melupakan sesaat dunia digital, serta menghapus aplikasi yang membuat kecanduan.

Di sisi lain, Habib Husein Ja’far Al-Hadar menjelaskan, mengapa orang yang tidak saling mengenal bisa terikat dalam satu perasaan bahwa mereka adalah bagian dari sebuah komunitas yang disebut bangsa? Mengapa orang mau mati untuk sebuah bangsa, untuk anggota-anggota yang tidak dikenalnya? Karena Solidaritas!

Baginya, kehadiran solidaritas kebangsaan (nasionalisme) itu banyak berkaitan dengan kapitalisme media cetak (print-capitalism) yang membuat orang memiliki kemampuan untuk membayangkan (imagined) dalam posisi orang lain (emphaty).

Namun, menurut Habib Husein, perlu diperhatikan bahwa, semakin majunya teknologi ini dan semakin mengglobal sifatnya, maka masyarakat perlu meningkatkan kehati-hatian, utamanya dalam membagikan hal-hal atau kegitan pribadi di media sosial.
Jangan sampai data penting dan data diri yang menghubungkan akses pribadi menjadi tersebar dan diakses oleh orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindak kejahatan.

Itulah pentingnya mengapa edukasi dan wawasan tambahan untuk memperluas informasi dan cakrawala tentang globalisme, kemajuan, dan peran media sosial harus ditambah dan diupayakan diberikan untuk semua lapisan masyarakat.

Keunggulan Memondokkan Buah Hati di Pesantren.

Keunggulan Memondokkan Buah Hati di Pesantren.

Bagikan sekarang

Oleh: Muhammad Iqbal Harimi, S.Pd.I
(Mahasiswa Pascasarjana INAIFAS)

Di pesantren itu unik, pola pembelajarannya pun lebih menekankan olah hati dan lelaku istiqomah. Pengimbangan antara ilmu yang di dapat dengan pengamalannya. Sistem pendidikan pesantren menerapkan kurikulum yang sejak zaman “kolo bendu” hingga sekarang tidak pernah terjadi perubahan, kecuali pola sorogan yang dikembangkan ke klasikal, dan pola majemen administrasinya. Kurikulum pesantren ini akan menjadi ciri khas di setiap pesantren yang ada di Indonesia. Sistem inilah yang seringkali dikritik sebagai stagnasi oleh kaum modernis non pesantren. Pesantren tidak bisa diintervensi dalam penerapan kurikulumnya oleh pemerintah, karena itu sudah paten dan terbukti dengan produk santri lulusannya.

Tidak seperti kurikulum pendidikan nasional yang seringkali berubah-ubah dan meribetkan para guru. Sebatas yang saya tahu, sejak kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004 (KBK), kurikulum 2006 (KTSP), kurikulum 2013, dan hingga sekarang, belum menaikkan Indonesai ke derajat yang signifikan dalam peringkat pendidikan dunia.

Ada rahasia kunci kesuksesan pesantren dalam menghasilkan produk santrinya, diantaranya adalah;

Pertama, guru benar-benar terfokus mengajar, mendidik, dan istiqomah. Tanpa diriwuki administrasi kependidikan yang menyita banyak waktu. Misalnya para kiai dan ustadz di pesantren dapat dengan tenang dan istiqomah mengajar, sebab tidak disibukkan oleh Kurikulum, Silabus, RPP, Administrasi kenaikan pangkat, gaji dan lain lain. Mereka benar-benar bisa memusatkan perhatiannya kepada santri.

Kedua, adanya faktor kedekatan antara murid dengan guru, baik kedekatan fisik (mujalasah) saat pembelajaran (halaqah/talaqqi), atau kedekatan emosional-bathin (ta’alluq qalby) yang mengantarkan pada pendekatan diri kepada Allah SWT. yang tidak bisa digambarkan oleh ucapan. Guru dapat melihat utuh perhatiannya kepada sang murid. Sehingga adab dalam majelis ilmu dapat terjaga dengan baik. pertautan bathin inilah yang tidak bisa dijangkau oleh para pakar yang hanya mengandalkan rasionalitas dalam hal menuju keberhasilan belajar.

Contoh kedua ini, sebagaimana Imam Syafi’i belajar langsung kepada Imam Malik dan tinggal di rumah gurunya itu selama 8 bulan tanpa berpisah, kemanapun Imam Malik pergi, di situ ada Imam Syafi’i. Begitu juga di pesantren, santri-santri selama 24 jam full hidup bersanding di samping rumah Kiyai, dan berbaur dengan para ustadz-ustadznya di dalam pesantren. Sehingga meskipun di luar jam KBM, para santri dapat leluasa untuk bertemu gurunya dalam hal konsultasi dan pendalaman ilmu. Sang guru-pun dapat memantau perkembangan santri secara langsung.

Ketiga, keikhlasan, point ini yang selalu dicontohkan oleh para pendidik pesantren. Guru dan ulama senantiasa ikhlas dalam mengajar dan mendidik. Bagaimana kisah Imam Malik yang berkali-kali menolak untuk dibuatkan rumah oleh khalifah. Suatu ketika Imam Malik didatangi Khalifah Harun Ar-Rasyid dengan uang 3.000 dinar. Maksud Khalifah agar uang itu digunakan untuk membeli rumah. Akan tetapi 3.000 dinar yang diterima Imam Malik justeru dibagi-bagikan (beasiswa) kepada pelajar yang kekurangan bekal. Apa yang dilakukan oleh Imam Malik ini nampaknya ditiru oleh Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al Maliki Al Hasani, berbagai riwayat dari para muridnya, Sayyid Muhammad ini menanggung kebutuhan makan dan belanja kitab santri-santrinya, agar santri tidak disibukkan bekerja dan bisa fokus belajar. Demikian juga hingga sekarang, banyak kiyai yang membantu kebutuhan santri dalam belajar secara gratis.

Keempat, kesadaran belajar yang tinggi. Point ini adalah kesadaran dari setiap individu. Karena meskipun berada di dalam pesantren yang berkualitas tinggi, namun jika tidak didadasari dengan kesadaran belajar yang kuat, maka hasilnya pun tidak akan maksimal. Kita bisa lihat di pojok-pojok asrama pesantren hingga perpustakaannya akan tetap terang benderang menyinari santri yang sedang muthala’ah hingga larut malam.

Soal kesadaran belajar ini selalu dicontohkan oleh para ulama pendahulu. Dikisahkan Imam Syafi’i pernah selama berbulan-bulan tidak keluar dari bilik rumahnya karena untuk menghafal dan melancarkannya dari catatan-catatan di tembikar, tulang, dan potongan-potongan kertas yang ditulisnya. Demikan juga beliau siap kelalahan untuk berkelana karena haus ilmu. Imam Syafi’i berkelana dari Mekah ke Madinah, Baghdad/Iraq, hingga wafat di Mesir.

Kelima, takror (mengulang materi dengan diskusi) dalam bentuk bahtsul masa’il. Kegiatan ini biasanya diterapkan secara bertingkat dan bertahap. Diawali kegiatan takror atau diskusi kecil di setiap kelas, kemudian tingkat pesantren dengan melibatkan seluruh santri yang berkompeten di setiap jenjang, hingga dibawa ke tingkat paling bergengsi antar seluruh pesantren se Jawa-Madura, yakni di Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP). Forum ini membahas problematika umat atas kejadian kekinian (waqi’iyyah) yang dialami masyarakat untuk dijawab dan dicarikan solusinya.

Keenam, sistem muhafadhah (hafalan). Setiap jenjang atau tingkat kelas di pesantren menerapkan satu sampai dua materi yang wajib dihafal santri, bahkan terkadang sebagai syarat mutlak kenaikan kelas. Biasanya mulai tingkat awal hingga akhir wajib menghafal materi dalam fan ilmu tajwid, tauhid, nahwu, sharaf, hingga balaghah. Materi hafalan dalam bentuk kalam nadzam, seperti kitab Tuhfatul Athfal dan Jazariyah dalam fan ilmu tajwid. Aqidatul Awam dalam fan ilmu aqidah. Jurumiyah, Amtsilat At-Tashrif, ‘Imrithi, Al-Maqsud, Mulhatu Al-I’rab, Qowa’idu Al-I’rab, Alfiah Ibni Malik dalam fan nahwu dan sharaf. Dan kitab Jauhar Al-Maknun dalam fan ilmu balaghah.

Tidak hanya sebatas hafalan, tetapi para santri akan di tes pemahaman isi dari kitab yang sedang dihafalkannya. Sistem ini tetap dipertahankan oleh sebagian besar pesantren salaf hingga sekarang. Meskipun banyak kritikan kalau sistem itu hanya menghambat waktu percepatan dalam menyelasaikan sebuah fan ilmu, karena dinilai hanya di ulang-ulang sampai dua hingga tiga tahun dengan fan ilmu yang sama. Tetapi bagi pesantren sistem hafalan yang di ulang-ulang inilah yang akan menyatukan ilmu ke dalam hati santri. Dan sistem ini yang justru mempertajam pemahaman dan analisis santri dalam memahami sebuah ilmu.

Ketujuh, mujahadah. Adalah salah satu kegiatan penguatan spiritual guru dan santri di pesantren. Kegiatan mujahadah ini variatif bentuknya di setiap pesantren. Misalnya, kegiatan pembacaan aurad (wirid-wirid doa seperti, wirdul latif, ratibul haddad, hizb nawawi, hizb nashar, ratibul ‘atthas, dan wirid-wirid lain dari sang kiyai) setelah jamaah lima waktu, tahajjud, doa fajar sambil menunggu jamaah subuh, shalat dhuha, shalat tasbih, puasa sunnah (khususnya senin-kamis), dan kegiatan-kegiatan sejenisnya. Tujuan dari mujahadah ini adalah agar santri dapat meningkatkan dzikirnya kepada Allah SWT. Sebagai perwujudan penguatan bathin, sebuah pengingat semua yang dihasilkan di dunia adalah pemberian dan untuk mengingat Tuhannya.

Tujuh hal di atas adalah sekelumit alasan yang menjadikan mengapa produk pesantren masih bisa diandalkan hingga sekarang. Dari tujuh hal diatas, ada beberapa point yang tidak akan ditemukan di dalam sistem pendidikan di luar pesantren.

Dalam sisi historis, perlu diingat kiprah para ulama pesantren Indonesia yang menjadi panutan dalam kelihaian ilmunya dan dapat menjamah dunia Islam internasional. Seperti Syekh Yasin, seorang ulama Indonesia yang menjadi tumpuan pemburu sanad Hadits di Mekah, Kiyai Nawawi Banten, ulama pengajar di Masjidil Haram, Syekh Mahfudz Termas, pengajar di Masjidil Haram, Kiyai Ihsan Jampes Kediri, pengarang kitab Siraj At-Thalibin, syarah kitab Minhaj Al-Abidin karya Imam Ghazali. Dan banyak lagi ulama-ulama besar lainnya.

Puncak kesuksesan produk pesantren dan peran intinya untuk bangsa Indonesia adalah berdirinya Nahdlatul Ulama. Dimana para pendirinya adalah ulama-ulama besar yang lahir dari dan pengasuh pondok pesantren. Seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisyri Samsuri, KH. As’ad Syamsul Arifin, dan Syaikhona Kholil Bangkalan, guru para ulama pendiri NU dan tonggak inti, pembawa isyarat langit atas berdirinya NU.

Soal kritik untuk pesantren tentu ada yang bisa diterima dan di tolak. Karena kritik atas pesantren bagi yang belum pernah terjun ke dalam akan hampa nilainya. Tapi jika kritik itu keluar dari gagasan orang-orang yang sudah terlahir dari pesantren tentu akan dipertimbangkan matang-matang. Apakah kritik itu sesuai dengan nilai prinsip yang mengakar di pesantren untuk kepentingan perkembangan dan kemajuan, atau justeru bertentangan.

Namun, di masa sekarang, para orang tua perlu mewaspadai dan berhati-hati dalam memilih pesantren untuk keluarga dan anak-anaknya. Karena sudah banyak bermunculan para pembawa ideologi impor di Indonesia, yang juga mendirikan lembaga dengan nama pesantren/ma’had, dan rumah tahfiz. Padahal mereka banyak bertentangan dengan paham Islam pesantren-pesantren yang sudah mengakar berabad-abad di Indonesia.

Intinya, yuk kembalikan anak-anak kita ke Pesantren yang tepat. Karena di pesantren, anak kita akan terjaga dari keresahan semua orang saat ini, yakni hilangnya tatakrama atau yang disebut dengan “the loss of adab”.

Wallahu A’lam Bishshawab

Islam dan Cara Penyampaian Ajarannya

Islam dan Cara Penyampaian Ajarannya

Bagikan sekarang

Oleh: Muhammad Iqbal Harimi, S.Pd.I
(Mahasiswa Pascasarjana INAIFAS)

“Islam itu agama yang baik, dan harus dibawa oleh orang yang baik. Jika ajaran Islam dipandang dengan citra yang tidak baik, berarti dikampanyekan oleh orang yang salah“.

Demikian sejekumit petikan materi yang disampaikan KH. Khairuzzad Maddah dalam acara Orientasi Studi Mahasiswa Baru Pascasarjana INAIFAS, Sabtu, 02/10 siang tadi.

Suatu kebaikan jika dikerjakan oleh orang yang tidak tepat justru berujung kekeliruan. Misalnya sedekah itu sunnah, namun jika dipraktikkan oleh pengedar narkoba dengan menggratiskan paket sabunya maka ini akan menjadi petaka.

Lebih lanjut KH. Khoiruzzad Maddah menjelaskan bahwa kedatangan Islam sejak terutusnya Nabi Muhammad dapat merubah dunia hanya dalam kurun waktu kurang dari 23 tahun, singkat sekali.

“Ini kan capaian yang sangat luar biasa, hanya dalam tempo 23 tahun itu Nabi mampu merombak kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan yang penuh dengan nilai keislaman”, terang Gus Ya’, sapaan akrab KH. Khoiruzzad Maddah itu.

Di masa jahiliyah perbuatan judi, mabuk-mabukan dan semacamnya sudah sangat mengakar menjadi kebiasaan mereka. Kebiasaan ini masih berlangsung hingga permulaan Islam, Hingga turun wahyu QS. An Nahl: 67. Namun dalam ayat ini belum menjelaskan larangan ’khamr’.

Karena masih belum diharamkan, suatu ketika Abdurrahman bin Auf mengundang sahabat lain ke rumahnya untuk makan-makan dan disiapkannya ‘khamr’. Masih dalam keadaan mabuk masuklah waktu maghrib, hingga mereka memutuskan shalat dan salah satu diantaranya maju menjadi imam. Setelah membaca fatihah, si imam ini membaca surat Al Kafirun, namun karena dalam keadaan mabuk, sesampainya di ayat kedua sang imam membaca ayat tersebut dengan bacaan:
أعبد ما تعبدون
yang seharusnya adalah:
لا أعبد ما تعبدون
Hal ini menjadi fatal. Sehingga turunlah QS. An Nisa’: 43, tentang larangan shalat dalam keadaan mabuk.

Turunnya ayat di atas mengubah waktu minum ‘khamr’ setelah isya, karena menurut mereka efek mabuk akan hilang saat subuh. Suatu malam ‘Utban bin Malik mengajak kaum muslimin termasuk Sa’ad bin Abi Waqos memanggang kepala unta disertai minum ‘khamr’. Dipertengahan perkumpulan tersebut dalam keadaan mabuk mereka saling ejek kaum satu dengan yang lain hingga terjadi pertikaian yang berujung atas terlukanya kepala Sa’ad.

Sebab kejadian di atas Allah menurunkan wahyu QS. Al Maidah: 90
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Ayat tersebut adalah ayat ke 4 sekaligus ayat terakhir yang menjelaskan tentang ‘khamr’ dan menjadi ayat yang secara tegas mengharamkannya, sehingga para sahabat benar-benar menghentikan kebiasaan tersebut.

“Artinya, ini menunjukkan bahwa cara Rasulullah membawa Islam itu dengan berbagai tahapan pendekatan, tidak serta merta langsung mendatangi sahabat dan mengharamkannya.” jelas Gus Ya’ kembali.

Kisah tersebut mencerminkan tentang metode Nabi yang hendak merubah kebiasaan buruk sahabatnya dengan langkah per langkah dan masuk ke wilayah mereka terlebih dulu. Hingga kemudian turun ayat secara tegas yang melarang.

Peristiwa lain cara Nabi merubah kebiasan buruk jahiliyah adalah adanya tradisi aqiqah. Saat itu darah sembelihan kambing oleh orang jahiliyah dilumurkan ke kepala bayi. Namun tradisi pengusapan darah ini dapat diubah dengan mengusapkan wewangian seperti minyak za’faron dan semacamnya, tanpa menghapuskan tradisi penyembelihan kambing.

Kesuksesan perjuangan Nabi tidak hanya bertumpu pada metode dan model yang diterapkan dalam penyebarannya, namun sosok pribadi pembawanya sangat berpengaruh besar untuk diterima orang, baik dari sisi gagasan, kecerdasan, ketegasan dan tingkah lakunya yang menjadi panutan.

Indonesia merupakan negara termasyhur penganut Islam terbesar di dunia, mayoritas menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Bagaimana bisa Aswaja dapat membumi di Nusantara?.

“Tentu ini tidak lepas dari cara wali 9 dan ulama dalam memahamkan agama kepada masyarakat, sehingga mudah diterima dengan baik.” Tegas Gus Ya’.

Sebagaimana Nabi Muhammad, sebagai pewarisnya, ulama lebih menekankan suri tauladan kepada masyarakat dengan menunjukkan pribadi panutan, sehingga nasehat dan petuahnya dapat menembus hati pendengarnya.

Di akhir penyampainnya, Gus Ya’ mengisahkan tentang kegelisahan seorang bapak melihat anaknya yang kecanduan permen (gula-gula), sang ayah memutuskan untuk sowan (mendatangi) Kiai Kholil Bangkalan, seorang ulama besar guru dari para ulama di Indonesia.

Sesampainya bapak dan anak ini di rumah Kiai Kholil, sang bapak mengutarakan maksud kedatangannya kepada Kiai Kholil memohon doa (suwuk) agar anaknya berhenti kecanduan permen.

“Baiklah, anda silahkan kembali ke sini tiga hari lagi ya.” pesan Kiai Kholil.

“Tidak jadi disuwuk hari ini Kiai?” tanya si bapak.

“Tidak, kembali lagi tiga hari nanti sama anakmu ya.” jawan Kiai Kholil.

Tiga kemudian sesuai petuah sang kiai, pasangan bapak dan anak ini kembali ke rumah Kiai Kholil. Kiai Kholil segera mendoakan dan sesekali mengajak anak tersebut bercengkrama layaknya bercanda dengan cucunya. Tak lupa, sang kiai juga menasihati agar anak itu berhenti mengonsumsi permen. Si ayah kelihatannya gelisah, mau minta suwuk air kok nyatanya hanya dinasihati. Kalau sekedar nasihat dirinya sudah melakukan setiap hari.

“Sampeyan tahu pak, kenapa aku meminta kembali lagi ke sini setelah tiga hari?” tanya Kiai Kholil tiba-tiba, seakan mengerti kegelisahan tamunya itu.

Sang tamu tersebut menggeleng sembari berkata “tidak”

“Aku harus mengatur diriku sendiri terlebih dulu dengan berpuasa mengonsumsi makanan yang manis-manis selama tiga hari sebelum menasihati putramu. Ini agar nasihatku diterima dan dipercaya anakmu.” jawab Kiai Kholil.*

Nampaknya perilaku seperti Kiai Kholil inilah yang menyebabkan Islam dan petuah-petuah agama dapat diterima dengan baik oleh masyarakat hingga Islam membumi di Nusantara ini.

*Kisah terakhir tentang Kiai Kholil ini diambil dari bukunya Gus Rijal Mumazziq Z yang berjudul “Kiai Kantong Bolong.”