Pentingnya Pengaruh Pesantren Salaf kepada Pemuda di Era Modern

Pentingnya Pengaruh Pesantren Salaf kepada Pemuda di Era Modern

Bagikan sekarang

Modernisasi adalah masa perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern ditandai dengan perubahan sikap dan gaya hidup berdasarkan tuntutan masa kini. Seperti yang kita ketahui, masa remaja merupakan masa transisi dari usia kanak-kanak menuju dewasa, pada masa ini mereka menjadi sangat labil serta mudah sekali terpengaruh terhadap lingkungan sekitar juga terhadap sesuatu yang sedang kekinian. Seiring perkembangan zaman, gaya hidup masyarakat apalagi di kalangan remaja semakin berkembang, tidak sedikit dari mereka mengikuti perubahan zaman yang mengacu dan bergerak kepada gaya hidup modern yang bisa dikatakan menjadi sebuah tren dan kebutuhan bagi setiap masyarakatnya.

Pendidikan merupakan hal yang penting untuk dimiliki para pemuda, hal ini bertujuan untuk membentuk suatu perilaku yang baik pada generasi muda muslim, yang berdasarkan dengan aqidah Islam serta ketauhidannya kepada Allah swt., bergaul dengan teman yang mempunyai akhlak yang baik pula, memperdalam gama dengan berbagai cara, misalnya saja mempelajari hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum-hukum Islam agar pengetahuannya bertambah semakin luas.

Islam mempunyai tujuan untuk menanamkan jiwa kemasyarakatan yang sangat penting dan berguna kelak ketika sudah berkeluarga, dan sekarang seorang pemuda mempunyai tugas untuk berlatih dalam masyasakat sedikit demi sedikit agar kelak tidak kesulitan ketika terjun langsung dalam masyarakat. Hal itu memerlukan kesadaran yang muncul dalam diri sendiri, atau ada juga dorongan dari luar misalnya saja keluarga atau teman di sekelilingnya sehingga dengan begitu ada perasaan yang membangkitkan semangat untuk mau keluar dan belajar bermasyarakat demi tercapainya masa depan yang menjanjikan.

Manusia itu dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apapun, kemudian Allah swt. menugaskan manusia untuk mencari tahu apa yang ada di sekelilingnya serta mempelajari setiap perubahan-perubahan yang terjadi melalui panca indra. Sudah seharusnya sebagai generasi muda untuk menerapkannya pada kehidupan sehari-hari dan mencintai setiap proses yang terjadi. Sehingga sejak dini sudah tercipta suatu karakter individu yang bisa menghadapi hambatan-hambatan yang suatu saat pasti akan terjadi.

Melalui pendidikan dan pengajaran, berdampak pada akhlak yang baik. Apabila seseorang yang pada awalnya belum begitu mengetahui tentang ilmu agama, kemudian ia mempunyai niat untuk memperdalam ilmu agamanya dengan cara menuntut ilmu di sekolahan yang berbasis agama, maka dengan seiring berjalannya waktu ia akan mengerti tentang ilmu agama. Selain itu moralnya juga menjadi lebih baik lagi dari pada sebelumnya. Kemudian ketika di dalam masyarakat ia sudah siap apabila di minta tolong untuk melakukan suatu hal yang berhubungan dengan agama.

Pendidikan juga sebagai sarana untuk mempelajari aspek-aspek dalam kehidupan yang menjadikan para pemuda mempunyai dasar pemikiran yang kokoh. Karena dengan dengan itu seseorang menjadi terbiasa dalam berfikir secara kritis dan dengan dasar-dasar pendidikan agama Islam seseorang dapat berfikir secara jernih dan tidak bingung apabila menghadapi persoalan kehidupan.

Dengan terwujudnya suatu karakter pada generasi muda akan berdampak positif baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarnya, dan menjadikan perubahan dalam masyarakat, yang dulunya sangat pasif, tidak mengetahui agama secara keseluruhan, dan berakhlak yang kurang, sekarang menjadi aktif dalam segala hal, berwawasan luas, berakhlak yang baik. Karena jika seseorang kepribadiannya masih sangat kuno, pasti akan banyak sekali masalah-masalah yang muncul yang mengakibatkan pertentangan antar individu atau antar kelompok. Mereka tidak bisa berfikir positif dan menjadi semena-mena dalam menentukan keputusan. Maka perlu mestinya bagi para pemuda untuk menimba ilmu di pesantren.

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia yang memiliki kontribusi penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pesantren dalam perjalanan sejarah kebangsaan memiliki kontribusi yang sangat besar, terutama dalam mempersiapkan generasi bangsa dalam pendidikan dan pengkajian ilmu-ilmu agama. Belum diketahui secara pasti pesantren yang pertama kali muncul sebagai pusat-pusat pendidikan agama di Indonesia. Yang paling lama berada di wilayah Jawa Timur pada abad 18, walaupun sebenarnya pesantren di Indonesia mulai berpengaruh pada abad ke 19.

Secara faktual ada beberapa tipe pondok pesantren yang berkembang di masyarakat. Pertama pondok pesantren tradisional, yaitu pondok pesantren yang masih mempertahankan bentuk aslinya, semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama pada abad ke-15 dengan menggunakan bahasa arab atau biasa disebut dengan nama kitab kuning.
Pola pengajaran pondok pesantren tradisional dengan menerapkan sistem halaqah (musyawarah) yang dilaksanakan di Masjid atau Surau. Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada para Kyai pengasuh pondoknya.

Kedua, pondok pesantren modern yang orientasi belajarnya cenderung mengadopsi dari seluruh sistem belajar secara klasikal dan meninggalkan sistem belajar yang tradisional. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional.

Ketiga pondok pesantren komperehensif, yaitu suatu pesantren yang mengembangkan sistem tradisional dan sistem modern.

Dewasa ini, arus globalisasi merajalela dapat merubah semua sistem kehidupan termasuk didalamnya sistem pendidikan dan tentunya berimbas terhadap sistem pendidikan pesantren. Respon pesantren berhadapan dengan modernisasi pendidikan, lebih banyak berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan transformasi kelembagaan pesantren menjadi lembaga pendidikan modern. Tetapi cenderung memperhatikan kebijaksanaan hati-hati, yaitu mereka menerima pembaharuan (modernisasi) tetapi hanya dalam skala terbatas. Sebatas mampu menjamin pesantren dapat bertahan.

Sebagian besar pesantren menyikapi tantangan modernisasi pendidikan dengan melaksanakan berbagai perubahan berkaitan dengan sistem pendidikan dengan melaksanakan berbagai perubahan berkaitan dengan sistem pendidikan, kurikulum, materi, dan metode pembelajaran serta sistem evaluasi. Pesantren-pesantren inilah yang menyelenggarakan sistem pendidikan madrasah dengan sistem pendidikan dan kurikulum sesuai dengan yang ditentukan oleh departemen agama.

Salah satu faktor dominan kemandekan institusi-institusi islam (termasuk institusi pendidikan pondok pesantren) adalah tidak adanya atau lemahnya wawasan kekinian dan masa depan. Akibatnya kemampuan dalam merespons tantangan perubahan dan tuntutan zaman sangat miskin. Kebanyakan mereka terbatas dalam mempertahankan hal-hal yang baik dari masa silam, dan belum membuka diri untuk mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik.

Perkembangan sains dan teknologi , penyebaran arus informasi, dan perjumpaan budaya dapat menggiring kecendurungan masyarakat untuk berpikir rasional, bersikap inklusif, dan berperilaku adaptif. Mereka dihadapkan pilihan-pilihan baru yang menarik dan cukup menggoda. Apalagi pilihan-pilihan tersebut dikemas dengan nuansa baru. Dan kondisi demikian ini tentu sangat berpengaruh terhadap standar kehidupan masyarakat.

Pesantren harus responsif terhadap perubahan yang terjadi, tidak bisa bersikap isolatif dalam menghadapi tantangan perubahan. Respon yang positif adalah dengan memberikan alternatif yang berorientasi pada pemberdayaan sanatri dalam menghadapi era global yang membawa persoalan-persoalan makin kompleks. Respon yang tidak kondusif seperti isolatif ini akan menjadikan pesantren mengalami kelemahan dan kemunduran, yang pada gilirannya akan ditinggalkan oleh masyarakat.

Adapun hal-hal yang perlu direkonstruksi dari sistem pendidikan pesantren salafiyah untuk mengajar ketertinggalan dan menghadapi tuntutan perubahan di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi adalah kembali menempatkan pondok pesantren sesuai fungsinya, diantaranya adalah:

  1. Fungsi Tarbiyah atau Fungsi Pendidikan: ikhtiar yang dilakukan ialah tetap melaksanakan pendidikan kepesantrenan sekaligus mulai merintis pendidikan formal sebagai langkah awal untuk ikut memnuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan formal tanpa menghilangkan pendidikan keagamaan sejak dini pada anak-anak.
  2. Fungsi Religius: pesantren tetap konsisten mengedukasi masyarakat dengan pembiasan kegiatan-kegiatan keagamaan untuk menjadikan masyarakat lebih religius memaknai status keagamaannya serta menjadikan pesantren sebagai pusat keagamaan di masyarakat sekitar,
  3. Fungsi Sosial: salah satu fungsi sosial dari pesantren ialah mencetak ulama. Tidak semua individu yang belajar di pondok pesantren memiliki cita-cita menjadi seorang ulama, tidak jarang dari mereka yang masuk pondok pesantren justru dianggap anak atau individu yang bermasalah dilingkungannya.
  4. Kebijakan yang dilakukan oleh pondok pesantren salafiyah ketika dihadapkan kepada keinginan untuk melestarikan tradisionalisme dan keharusan modernisasi adalah:

a) Sistem pengajaran tradisional seperti bandongan dan sorogan berjalan diluar sistem klasikal

b) Kitab kuning tetap digunakan sebagai rujukan materi-materi keislaman di madrasah

c) Madrasah tersebut memiliki kurikulum hasil kombinasi kurikulum kementerian agama dan kepesantrenan

d) Guru kitab kuning diupayakan dari golongan kiai, guru keagamaan non kitab kuning. Sedangkan tenaga pengajar pelajaran umum dikalangan guru profesional lainnya

e) Bersikap terbuka terhadap kebijakan negara (politik, pendidikan)

f) Mengupayakan kultur pondok pesantren dalam hubungan sosial

Oleh karena itu ditegaskan bahwa yang terpenting pesantren dapat bermanfaat bagi santri dan masyarakat sekitar, menjadi seorang individu yang sholeh dan memiliki kepribadian ikhlas dalam menjalankan ibadah.

** Kontributor : M. Nailul Fawaik

* Foto : Istimewa

Mengenal Konsep Sexual Orientation dan Gender Identity

Mengenal Konsep Sexual Orientation dan Gender Identity

Bagikan sekarang

Review Hasil Diskusi Pra-Sekolah Islam dan Gender PMII Komisariat INAIFAS

Oleh : Habib Aziz Ar Rozi & Vitayatul Mukarromah

Dalam diskuisi ini kita diajak untuk memahami apa itu seks, gender, seksualitas, identitas gender, ekspresi gender, orientasi seksual, dan identitas seksual. Pada intinya, sahabat diajak untuk membedakan apa itu seks (mengacu kepada perbedaan biologis manusia dilihat dari alat reproduksi dan kromosomnya) dengan gender (pembedan sifat, peran, dan posisi antara laki-laki, perempuan, transgender yang dipengaruhi oleh berbagai pranata sosial dan merupakan sebuah konstruksi yang dapat dipertukarkan dan dipersilangkan).

Lebih dalam lagi, sahabat juga diajak memahami apa itu identitas gender (bagaimana seseorang mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki, perempuan, transgender?), ekspresi gender (bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya, apakah maskulin, feminin, androgini?). Kemudian juga membedakan orientasi seksual (kepada jenis kelamin/gender mana seseorang tertarik) dengan identitas seksual (bagaimana seseorang mengidetifikasi dirinya sehubungan dengan orientasi mereka, apakah gay, lesbian, biseksual?)

Diskusi dan Pembahasan

Seks adalah alat kelamin, mengacu pada sifat-sifat biologis yanh secara kasat mata berbentuk fisik yang mendefinisikan manusia sebagai laki-laki, perempuan dan atau interseks.

Seksualitas merupakan salah satu aspek dalam kehidupan manusia sepanjang hidupnya  yang berkaitan dengan jenis kelaminnya. Seksualitas dialami dan diungkapkan dalam pikiran, khayalan, gairah, kepercayaan, sikap, nilai, perilaku, perbuatan, peran dan hubungan.

Sederhananya, seksualitas ialah lebih dari sekedar perbuatan seksual atau siapa melakukan apa dengan siapa.

Gender merupakan perbedaan yang terlihat antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Gender itu berasal dari bahasa latin “GENUS” yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.

SOGI atau SOGIESC adalah konsep pemahaman mengenai ketubuhan, orientasi seksual, dan gender, yang dibuat agar dapat membuka pikiran masyarakat secara lebih luas. Konsep ini berlatar belakang pada banyaknya pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi karena masyarakat masih belum mampu menerima keberagaman, baik itu keberagaman gender, maupun orientasi seksual.

Ada banyak diskriminasi, persekusi, bahkan kekerasan terhadap orang-orang yang memiliki orientasi seksual berbeda. Konstruksi budaya juga membuat masyarakat memiliki pemikiran yang sempit.

Inilah heteronormativitas; norma-norma yang menyatakan bahwa seseorang dianggap normal hanya jika memiliki orientasi heteroseksual. Seseorang yang heteronormatif mengasumsikan bahwa heteroseksualitas adalah satu-satunya orientasi dan satu-satunya norma.

SO (sexual orientation):

Ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada jenis kelamin tertentu. Beberapa contoh orientasi seksual:

  1. Heteroseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada jenis kelamin yang berbeda.
  2. Homoseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada jenis kelamin yang sama. Misalnya, GAY adalah laki-laki yang tertarik pada sesama laki-laki, dan LESBIAN adalah perempuan yang tertarik pada sesama perempuan.
  3. Aseksual: Seseorang yang tidak memiliki ketertarikan, tetapi tidak memungkiri bahwa seorang yang aseksual bisa saja memiliki ketertarikan secara fisik saja, atau emosi saja, atau bahkan sexual saja, tidak ada patokan yang resmi karena berbicara mengenai otoritas seseorang itu sendiri.
  4. Biseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada laki-laki dan perempuan.
  5. Panseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual yang tidak memandang identitas gender maupun jenis kelamin. Seorang yang panseksual dapat memiliki ketertarikan dengan sesama laki-laki, sesama perempuan, maupun keduanya, kepada transgender, maupun interseks.
  6. Demiseksual: ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual yang tidak memandang identitas gender maupun jenis kelamin apapun, akan tetapi melibatkan emosi yang sangat kuat dan membutuhkan waktu yang lama untuk membangun hubungan emosional dengan seseorang.

GI (gender identity):

Bagaimana seseorang mengidentifikasi dirinya sebagai gender tertentu. Perlu dicatat bahwa ini adalah otoritas pribadi setiap orang. Kita tidak bisa memaksakan seorang yang fisiknya nampak seperti laki-laki sebagai laki-laki jika dia ingin mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan. Begitupun sebaliknya. Ada orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai transgender, bahkan ada juga orang yang tidak ingin mengidentifikasi dirinya baik sebagai laki-laki, perempuan, maupun transgender. Mereka seringkali disebut sebagai “QUEER”

E (expression):

Mengenai bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya Maskulin, Feminin

Androgini (memiliki tampilan luar maskulin dan feminin sekaligus, atau berganti-ganti sesuai suasana hatinya)

SC (sex characteristic):

Karakteristik seksual setiap orang. Poin ini berkaitan dengan kromosom, gonad, dan biologi. Ketika bayi baru lahir, biasanya seorang dokter akan langsung menentukan gender bayi tersebut berdasarkan karakteristik kelaminnya, namun mengesampingkan jumlah kromosom, gonad, dsb. Ini akan berdampak pada anak tersebut ketika memasuki usia dewasa. Anak yang seharusnya laki-laki dapat saja menunjukkan tanda-tanda tumbuh payudara, atau mengalami menstruasi, ketika ia memasuki usia remaja. Kondisi seperti ini disebut interseks.

Seorang interseks adalah orang yang lahir dengan variasi karakteristik seks seperti kromosom, kelenjar kelamin, hormon, atau organ genitalia yang tidak padan dengan definisi umum mengenai laki-laki atau perempuan. Ketidaktahuan mengenai karakteristik seksual akan sangat berdampak pada seorang interseks. Di luar negeri, seorang interseks dapat menentukan sendiri jenis kelamin yang di inginkannya, tentu saja yang sesuai dengan karakteristik seksualnya.

Konklusi

Dengan demikian kita dapat mengenal apa LGBTIQ itu. LGBTIQ merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Transseksual, Intersex, Queer, dan Questioning. Penting untuk ditekankan bahwa keragaman identitas seksual dan gender bukanlah sesuatu yang salah dari segi kesehatan. Sejak tahun 1990-an, World Health Organization (WHO) telah mencabut homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa. Kementrian Kesehatan RI pun mengikuti hal tersebut dengan dicabut dari Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). Dengan demikian homoseksualitas merupakan varian biasa dari seksualitas manusia.

Hanya saja memang dalam masyarakat kita, heteronormativitas masih diyakini sebagai sesuatu yang paling benar. Misalnya saja, ketika seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir, ia diharapkan kelak menjadi laki-laki yang maskulin dan tertarik kepada perempuan. Begitu pula ketika seorang bayi berjenis kelamin perempuan lahir, ia diharapkan kelak menjadi perempuan yang feminin dan tertarik kepada laki-laki. Bagaimana dengan bayi yang lahir dengan identifikasi jenis kelamin yang tidak jelas (padahal interseks)? Akan menjadi masalah tersendiri. Bagaimana jika anak laki-laki itu kemudian menyukai sesama laki-laki, atau anak perempuan itu kemudian lebih nyaman dengan sifat maskulin?

Inilah sebabnya mengapa ketika manusia lahir, pada dasarnya yang dapat kita identifikasi adalah jenis kelaminnya. Seksnya. Kita tidak dapat memastikan, dan bahkan tak berhak menentukan, orientasi seksualnya maupun identitas gendernya. Adalah merupakan hak bagi setiap orang untuk menentukan identitas gender dan seksualnya, dan konsep ini perlu dipahami secara komprehensif dalam lingkup pemenuhan hak asasi manusia.

Demikian review sederhana ini, semoga mampu memantik terhadap pemahaman dan kejernihan berpikir sahabat-sahabati. Jika ingin lebih mendalam memahaminya, sebaiknya perbanyak referensi yang lain kemudian rajin mendiskusikannya dan berpartisipasi dalam Sekolah Islam dan Gender jilid III bulan Januari 2022 nanti.

Kontributor : PMII INAIFAS
Foto : Gatra.com

Glosarium Gender. Mengutip dari laman ; Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Peran Gender

Peran Gender adalah perilaku yang dipelajari di dalam suatu masyarakat/komunitas yang dikondisikan bahwa kegiatan, tugas-tugas atau tanggung jawab patut diterima baik oleh laki-laki maupun perempuan. Peran gender dapat berubah, dan dipengaruhi oleh umur, kelas, ras, etnik, agama dan lingkungan geografi, ekonomi dan politik. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki peran ganda di dalam masyarakat. Perempuan kerap mempunyai peran dalam mengatur reproduksi, produksi dan kemasyarakatan. Laki-laki lebih terfokus pada produksi dan politik kemasyarakatan.

Peran Produksi

Peran produksi adalah kegiatan yang dilakukan baik oleh laki-laki dan perempuan agar supaya menghasilkan barang dan layanan untuk diperdagangkan, dipertukarkan atau memenuhi nafkah bagi keluarga. Sebagai contoh di pertanian, kegiatan produksi termasuk penanaman, penyiangan, peternakan.

Peran Reproduksi

Peran Reproduksi adalah aktivitas untuk menjamin reproduksi angkatan kerja. Hal ini termasuk pembatasan anak, penjarangan anak, perawatan terhadap anggota keluarga seperti orang tua, anak-anak dan pekerja. Tugas-tugas tersebut umumnya tidak mendapatkan upah dan kebanyakan dilakukan oleh perempuan.

Peran Masyarakat

Peran masyarakat adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan di tingkat masyarakat untuk menjamin ketersediaan dan pengelolaan sumberdaya yang terbatas seperti air, perawatan kesehatan dan pendidikan. Pekerjaan ini biasanya tidak dibayar dan kebanyakan dilakukan oleh perempuan.

Peran Politik Perempuan

Peran politik perempuan adalah kegiatan-kegiatan di tingkat masyarakat, mengorganisir di tingkatan formal politik, sering kali dalam kerangka kerja politik nasional. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh pria, dan biasanya dibayar secara langsung (uang) atau tidak langsung (meningkatnya kekuasaan dan status).

Beban Ganda

Beban ganda merujuk kepada kenyataan bahwa perempuan cenderung bekerja lebih lama dan lebih sedikit harinya dibandingkan laki-laki sebagaimana biasanya mereka terlibat dalam tiga peran gender yang berbeda-reproduksi, produksi dan dan peran di masyarakat.

Sex

Sex adalah perbedaan-perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan . Contoh: perempuan dapat melahirkan, laki-laki memproduksi sperma

Gender

Gender adalah hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender merujuk pada hubungan antara laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, dan bagaimana hubungan sosial ini dikonstruksikan. Peran gender bersifat dinamis dan berubah antar waktu.

Kesetaraan Gender

Kesetaraan Gender adalah hasil dari ketiadaan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin atas dasar kesempatan, alokasi sumber daya atau manfaat dan akses terhadap pelayanan.

Pengarusutamaan Gender

Pengarusutamaan Gender adalah proses untuk menjamin perempuan dan laki-laki mempunyai akses dan kontrol terhadap sumber daya, memperoleh manfaat pembangunan dan pengambilan keputusan yang sama di semua tahapan proses pembangunan dan seluruh proyek, program dan kebijakan pemerintah.

Kesadaran Gender

Kesadaran Gender adalah suatu pengertian bahwa ada faktor-faktor sosial yang menentukan antara laki-laki dan perempuan atas dasar tingkah laku, yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengakses dan mengontrol sumber daya. Kesadaran ini membutuhkan penerapan melalui analisa gender menjadi proyek, program dan kegiatan

Analisa Gender

Analisa Gender adalah metodologi untuk pengumpulan dan pengolahan informasi tentang gender. Analisa gender membutuhkan data terpilah berdasarkan jenis kelamin dan suatu pengertian dari konstruksi sosial dari peran gender, bagaimana pembagian kerja dan dinilai. Analisa gender adalah proses dari analisa informasi agar supaya menjamin manfaat dan sumberdaya pembangunan secara efektif dan adil ditujukan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Analisa Gender digunakan juga untuk mengantisipasi dan menolak akibat negatif dari pembangunan yang mungkin terjadi pada perempuan atau karena relasi gender. Analisa gender dilakukan menggunakan bermacam alat dan kerangka kerja.

Perencanaan Gender Perencanaan Gender (atau Perencanaan yang sensititif Gender) adalah proses dari perencanaan program-program dan proyek-proyek pembangunan yang sensitif gender dan dimana mempertimbangkan impact dari peran gender dan kebutuhan gender dari laki-laki dan perempuan di dalam sasaran masyarakat atau sektor.

PERTIWI BELUM KEMBALI PADA PRIBUMI

PERTIWI BELUM KEMBALI PADA PRIBUMI

Bagikan sekarang

Refleksi Tahun 2021

Kali ini benar-benar merupakan kisah yang ku tulis di penghujung Tahun. Awalnya, adalah cerita yang ingin ku bagi dengan kalian adalah tentang dinamika hidupku yang begitu menguji nikmat Iman dan Islam. Perkara yang sudah pasti juga dirasa oleh setiap yang bernyawa. Naasnya, untuk beberapa kali aku masih menyangkal itu semua. Bahwa aku lah yang paling menderita, bahwa hanya aku lah yang kehilangan, bahwa hanya aku lah yang berjalan dengan dua kaki tetapi berasa pincang. Kemudian aku mengklaim diriku sebagai mahluk paling tida berdaya. Betapa kala itu aku begitu berkhianat atas kekuatan dan kasih sayang Tuhan. Semua rasa bak diri adalah Tuhan, karena menyangkal dengan sebuah penderitaan dan bersikeras dengan kebahagiaan. Rasa itu, ku peroleh saat aku kehilangan perempuan terhebat dalam hidupku. Seseorang yang bakal mendahulukan aku dalam segala hidupnya. Ah, aku tidak ingin berpanjang lebar berkisah tentang beliau. Kalau tidak, aku harus terpaksa menulis dengan uraian air mata. Aku hanya ingin menegaskan bahwa aku sangat mencintai beliau.

Lebih dari itu, tentang kisah mengenaskan soal menahan rindu kepada almarhumah Ibu. Aku memiliki kisah yang berkali-kali mengundang pilu. Mungkin hanya tentang dua hal inilah yang mampu mengundang air mataku. Selain, cinta lainnya yang tergores. Tidak, bahkan semua perkara yang terluka ini adalah sebab cinta. Cinta yang memintaku untuk menyadari, cinta yang memintaku untuk berbuat, dan bahkan cinta yang memberikan kekuatan untuk bertahan. Maka cinta, tidak sesempit kita memaknai rasa yang timbul sebab hubungan dua sejoli, atau cinta yang dimaknai kebahagiaan saja. Memilih bercinta, itu berarti harus siap terluka. Begitupun dengan cinta yang ku miliki, sepanjang tahun 2021 ini banyak memberikan luka. Aku pun tidak berani berspekulasi bahwa itu merupakan ujian atau cobaan. Sebab, Tuhan selalu memiliki caranya sendiri untuk memberikan kasih sayang kepada hamba-Nya. Bisa jadi, karena sebab kasih dan sayang-Nya, Dia berikan luka. Termasuk supaya aku tergerak menulis dan berbagi dengan kalian. Apapun itu, aku selalu berusaha tidak menyangkal terhadap situasi yang Tuhan kehendaki atas diriku. Sebab, jika kita berakhir dengan penerimaan maka hanya kebahagiaan yang akan bersama kita. Meski sakit, kita akan senantiasa bersyukur. Laa haula waa laa quwwa illa billah.

Sahabatku sekalian, malam ini adalah malam penghabisan Tahun 2021, lalu kemudian di detik berikutnya merupakan awal dari 2022. Tadi siang, aku nonton sebuah video di YouTube yang judulnya “Rewind Indonesia 2021”. Mbak Najwa Shihab dalam video tersebut mengatakan bahwa negeri ini adalah negerinya anak muda, jadi tantangan yang dihadapi harus berani disuarakan oleh anak muda, termasuk tentang kegelisahan yang dirasa akhir-akhir ini. Sebab statment yang disampaikan Mbak Nana tersebut, aku memberanikan menulis tentang Pertiwi yang belum kembali pada Pribumi. Tentang semua kegelisahan yang ku rasa sepanjang Tahun 2021, atau mungkin hanya sebuah kisah di penghujung Tahun, tetapi mewakili problem dan rasa dari semuanya.

Adalah yang masih lekat dalam ingatan, perjuangan Letkol Moch. Sroedji dalam mempertahankan pertiwi. Meninggalkan anak-anaknya beserta istri yang bernama Rukmini. Untuk mengusir penjajah dengan strategi perang gerilya. Namun, pengorbanan Sang Letkol berakhir dengan kematian yang mengenaskan. Tubuhnya yang terluka parah masih diseret dengan truk di sekitar alun-alun jembur, lalu bukan hanya menjadi luka, tetapi hancur itu jasad. Kemudian ada Syaikhoh Rahmah El-Yunusiah dari Padang Panjang, seorang pejuang perempuan yang menghendaki pendidikan untuk kaumnya. Lalu beliau dengan kekerasan hatinya mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang bernama “Kulliyatul Banat”, hingga saat ini kurikulum pembelajarannya diadopsi oleh Al-Azhar, Kairo. Bukan hanya bencana alam yang menguji bangunan itu supaya berdiri kokoh, melainkan juga intimidasi yang berasal dari para penguasa, dengan iming-iming yang menggiurkan mereka selalu kekeh untuk mendekati Rahmah. Tetapi bukan Rahmahlah jika ia tidak mencium bau busuk itu sejak dini. Karena itu dia enggan menerima bentuk bantuan apapun dari instansi atau organisasi untuk perkembangan lembaganya. Dia hanya akan menerima jika dari perseorangan. Maka untuk kemajuan lembaga itu, dia memilih berdakwah ke luar kota bahkan ke Malaysia.

Lalu yang dekat sekali dengan kisah yang ku kenali, ada si Ibu Pribumi, Raden Ajeng Kartini. Aku berkata dekat karena buku kedua yang berkisah tentangnya sekarang sedang bertengger di samping leptopku ini. Belum selesai ku baca, arungan kisah masih sampai ku nikmati di halaman 109. Tidak ada soal, sekelumit kisah tentangnya yang ku adopsi dari buku pertama, film atau bahkan buku kedua ini sudah membuatku mengangkat topi untuk perempuan pemberani yang satu ini. Bukan hanya penjajah yang dia lawan, bahkan bangsanya sendiri dari kalangan feodal. Atau bahkan upaya penyadaran kepada kaum bawah adalah bentuk perlawanan itu sendiri. Kartini selalu melawan hal-hal yang ‘tak manusiawi. Jika selama ini ia dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan, itu terlalu sempit. Sebab, tidak hanya itu yang diperjuangkan Kartini. Banyak kegelisahan yang dia rasakan terjadi di lingkungannya, termasuk bagaimana sekat yang bertengger antara kaum feodal dan kaum bawah, antara orang tua kepada anak, antara sesama saudara.

Dalam kehidupan ningrat yang dia rasakan, semua tidaklah manusiawi. Karena itu, salah satu nilai yang dia perjuangkan adalah persamaan. Dia juga melihat bahwa waktu itu, para pejabat pribumi tidaklah memiliki tanggung jawab melayani kepada rakyatnya, justru rakyatlah yang harus melayani mereka, bahkan menyembah. Atas semua kegelisahan ini, Kartini kemudian memulai kehidupan yang manusiawi dari dirinya sendiri yang juga berasal dari keluarga ningrat. Di mana dia menepis sekat yang ada antara dia dan adik-adiknya, ketika lepas dari pingitan, dia juga mnegunjungi rakyatnya dan sesekali bergaul dengan mereka. Perjuangan Kartini mungkin tidak se tragis perjuangan Letkol Moch. Sroedji, tetapi kenyataan yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa mereka semua berjuang supaya Bangsa ini terhindar dari penjajahan, sekalipun belum dapat hidup makmur.

Lalu bagaimana dengan kita sekarang? Sudahkah kita mneghargai semua perjuangan itu meski hanya dengan tidak kembali membuat kerusakan? Naasnya, tidak semuanya mampu memberikan apresiasi. Sebenarnya ini bukan soal kemampuan, melainkan kemauan. Mereka tidak mau saja mempertahankan dengan apa yang sudah diperjuangkan. Mereka tidak seperti Rahmah yang menolak pemberian demi kemajuan Bangsa yang idealis. Mereka tidak seperti Letkol Moch. Sroedji yang berjuang dengan meninggalkan keluarga, mereka memilih mengenyangkan perut dulu bahkan berlebih baru mau ngomongin rakyat, bahkan sudah jelas saja mereka sudah duduk di kursi kuasa sebab kepercayaan rakyat. Mereka tidak seperti Kartini, yang berani berkata salah dan melakukan yang benar, mereka selalu mencari aman atas sebuah kesalahan. Mereka itu adalah kita semua, Bangsa Indonesia yang hidup di masa sekarang. Kita adalah satu kesatuan sistem yang bakal menentukan sampai kapan Indonesia akan bernyawa. Mungkin, tidak mati sebab ketiadaannya sebagai sebuah negara, tetapi kematian itu disebabkan kita tidak lagi menggunakan hati nurani hingga meneggelamkan semua nilai kemanusiaan. Betapa kita berdosa atasnya.

Beberapa hari lalu, saat aku mneyusuri jalanan lintas selatan. Aku jumpai sebuah pemandangan baru yang ‘tak manusiawi. Kolam luas tempatku bermandikan air asin dari Tuhan itu sekarang sudah berubah menjadi bangunan beton di sepanjang pesisirnya. Aku ‘tak menemukan lagi jalan menyusuri kenangan bersama almarhumah Ibu di sana. Meski aku tidak mengetahui betul bagaimana akibat yang bakal terjadi, tetapi tumpukan semen dan batu itu cukup membuatku menjadi manusia tak berarti. Sebab, pertiwi telah dieksploitasi. Tidakkah ada yang bisa mengerti perasaanku ini? Pedih semakin kuat ku rasa saat pribumi ikut andil bahkan menjadi pemeran utama. Bumi yang telah dijuangkan, kembali dimiliki Bangsa lain. Inilah bumi Indonesia yang ‘tak sebenarnya mnejadi milik Bangsa. Siapakah yang sedang menipu kita? Adalah pribumi yang membawa pertiwi ke meja judi.

Lain waktu pula, mataku dibuat sakit sebab pemandangan sebuah bangunan megah nan mewah yang terletak di tengah sawah. Kalau tidak salah, warna tembok merah menambah bangunan itu tampak begitu cerah meski dari kejauhan. Sepertinya, dia menjadi satu kesatuan dengan operasi pengerukan yang sedang berjalan di gunung kapur itu. Maka, jika begitu, bisa dipastikan pula, dia bukan milik pribumi. Terasingkan lagi kita dari kekayaan alam. Tetapi, bahkan pribumi yang menyadari bahwa itu hanya akan berakhir dengan kerusakan, tidak lah mereka sampai hati melakukan pengerukan. Lalu, perut siapa yang sebenarnya sedang kita keyangkan? Sadarlah dari pembodohan yang berkepanjangan!

Masih soal lingkungan, sekitar dua hari yang lalu, aku melihat postingan salah satu teman di story IG. Sebuah video yang sedang memperlihatkan masa aksi perempuan sedang dibubarkan paksa oleh sekelompok polisi. Bahkan, aparat ini tidak segan untuk melakukan tindakan represif, seorang anak kecil ditarik paksa dari pelukan Ibunya. Ini yang paling bikin aku jengkel. Selain itu, pembubaran itu rupanya berujung pada penahanan 8 aktivis. Kita yang sedang bersuara, justru dijadikan tersangka, demokrasi macam apa ini?

Beranjak pada lain isu. Soal diskriminasi gender, entah berbentuk pemerkosaan ataupun pelecehan seksual. Sudah menjadi warna yang gemilang di Tahun 2021. Baru-baru yang terjadi adalah kasus Novia, pemerkosaan dalam hubungan pacaran itu berakhir dengan kematian. Novia memilih bunuh diri, sebab dia yang sebagai korban justru mendapat banyak kecaman dari lingkungannya. Dia tidak diterima dan tersudutkan. Lalu banyak lagi kasus pemerkosaan yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu, selain saking banyaknya, emosi selalu berganti dengan isu baru yang terhidang, sekalipun isunya sama.

Diskriminasi ini tidak hanya dilakukan oleh orang jauh, tetapi juga kepada orang terdekatnya, bahkan seorang bapak yang memperkosa anaknya adalah hal yang tidak aneh lagi dewasa ini. Baru-baru ini, akun twitter dibuat rame sebab pernyataan seorang suami yang menarasikan pelecehan seksual yang dialami istrinya. Si pelaku adalah orang yang pernah memiliki jabatan penting dalam sebuah organisasi, ditambah lagi dia adalah salah seorang aktivis yang meolak pelecehan seksual. Ternyata semuanya hanya kedok, manipulatif.

Begitulah pertiwi tidak sebenarnya memberikan ruang aman dan nyaman bagi pribumi. Memastikan hidup ini adalah panjang untuk generasi mendatang, tidaklah sebenarnya dilakukan. Pada kenyataannya, kita sampai pada kesepakatan bahwa Pertiwi Belum Kembali pada Pribumi. Entah belum, atau memang selama ini tidak pernah. Kita harus tinggal pada bumi yang selalu menghadirkan sisi kemunafikan dan penghianatan. Sekali lagi, sadarlah dari pembodohan yang berkepanjangan!

Penulis : SINTA BELLA
Yang selalu mendambakan kemerdekaan

Jember, 1 Januari 2022

Penerima KIP Adakan Webinar Anti Pelecehan Seksual

Penerima KIP Adakan Webinar Anti Pelecehan Seksual

Bagikan sekarang

Dengan maraknya kasus yang sedang terjadi di Indonesia bahkan dunia sekaligus memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM), kali ini dan baru pertama kalinya Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP INAIFAS adakan agenda webinar nasional tentang Hak Asasi Manusia.

Webinar yang digelar pada Ahad (26/12) dimulai dari pukul 08:00 sampai dengan pukul 10:30 WIB ini diikuti oleh kurang lebih 50 peserta baik dari kalangan mahasiswa/i maupun kalangan umum.

Webinar Hak Asasi Manusia yang berada di dalam naungan kampus INAIFAS ini mengusung tema “Membangun Self Compussion Mahasiswa Penyitas Pelecehan Seksual” yang dibawakan langsung oleh salah satu dosen INAIFAS Bu Dr. Hj. Syarifatul Marwiyah, M.Pd.I. Para peserta Webinar sangat antusias dengan Narasumber yang dihadirkan pada acara kali ini.

Gus Rijal Mumaziqq Z. M., HI, Rektor, dalam sambutannya menyampaikan, pentingnya peran orang tua, yaitu dengan cara memberikan nasehat-nasehat kepada anaknya. Beliau juga memaparkan mengenai Mahasiswa KIP INAIFAS juga bisa berkolaborasi dengan organisasi-organisasi lain.

Narasumber satu-satunya yang merupakan salah satu dosen INAIFAS Ibu Dr. Hj. Syarifatul Marwiyah, M.Pd.I mengatakan, “Hak asasi manusia, sudah ada di dalam Al Qur’an. Di dalam kitab suci kita ini, sudah dijelaskan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama atau lakum dinikum waliyadin. Termasuk juga hak kemaslahatan sosial,” kata Bu Syarifah.

Dalam Webinar yang diikuti puluhan peserta ini, Bu Syarifah juga menjelaskan aspek penting mengenai penghormatan Islam atas derajat perempuan, termasuk larangan pelecehan seksual.

Para peserta yang mengikuti webinar tampak sangat antusias sekali ketika moderator Umi Khunainah membuka sesi tanya jawab. Pertanyaan dari pesertapun beragam untuk dilontarkan kepada narasumber yang telah memaparkan beberapa hal terkait dengan tema yang diusung.

HMPS PAI INAIFAS Peduli Korban Erupsi Semeru

HMPS PAI INAIFAS Peduli Korban Erupsi Semeru

Bagikan sekarang

Dijuluki Mahameru sebab keperkasaannya, selain sebagai bukti alam yang indah nan murni, Gunung Semeru juga menyimpan banyak sekali kisah mistis dibalik kecantikannya. Gunung Semeru memiliki ketinggian kurang lebih 3.676 meter diatas permukaan laut yang dihimpit dua kabupaten dalam peta yaitu kabupaten Lumajang dan kabupaten Malang. Dalam sebuah perhitungan, Semeru memasuki urutan ketiga gunung tertinggi selain Gunung Kerinci Sumatera dan Gunung Rinjani Nusa Tenggara Barat.

Pada tanggal 04 Desember 2021 sekitar pukul 13.30 WIB, Mahameru mengeluarkan kabut tebal erupsi sehingga menyebabkan beberapa daerah terdampak. Dalam asesment data yang kami temukan terdapat 51 orang tewas, 169 orang terluka, 22 orang hilang, juga korban lain yang diungsikan di daerah penanggal, tempat penyaluran donasi kami, Himpunan Mahasiswa Program Studi PAI INAIFAS.

Mendengar kabar tentang erupsi yang terjadi dan mengakibatkan saudara-saudara kita di Kabupaten Lumajang dominan terdampak membuat kami tidak tinggal diam. Tepat pada hari Kamis tanggal 09 Desember 2021 kami keluarga besar HMPS PAI INAIFAS khususnya melakukan aksi galang dana turun ke jalan untuk turut memopong kesadaran masyarakat lain.

Juga turut berpartisipasi dalam rangka menolong saudara kita di Lumajang yang terdampak. Selain aksi galang dana, kami juga turut menyulut semangat keluarga besar HMPS PAI agar ikut andil dalam mengulurkan tangan entah berupa uang maupun tenaga. Untuk menumbuhkan kesadaran jika pendidikan sebagai ladang memerdekakan manusia, memerdekakan dari peristiwa erupsi ini contohnya.

Syukurlah, setelah hasil penggalangan dana terkumpul langkah selanjutnya yang kami lakukan adalah membelanjakan uang tersebut. Dalam data pengungsian sementara yang kami peroleh dari posko Gusdurian Desa penanggal, terdapat 3 posko yang menjadi titik kumpul dominan warga yang terdampak erupsi, yaitu Balai Desa Penanggal, Lapangan dan SDN 01 Penanggal.

Tepat pada hari Selasa 21 Desember 2021 dengan semangat bersama, kami keluarga besar HMPS PAI INAIFAS dengan dikawal langsung oleh pihak relawan posko yang mengabdikan waktu dan tenaga mereka sepenuhnya atas dasar kemanusiaan juga dengan sangat ramah tamah membantu kami mendistribusikan donasi lansung kepada korban yang mengungsi di ketiga posko tersebut.

Tak lupa puji syukur kepada Allah, juga nabi Muhammad sebagai utusannya, Alhamdulillah meskipun dengan seadanya waktu, tenaga, juga biaya yang terkuras, kami dapat merealisasikan konsep “kebermanfaatan untuk orang lain”. Sepatut dan seberhaknya atas nama manusia yang mereka saudara serahim Pertiwi untuk terus ikut andil dalam membantu meskipun sekecil biji dzarrah.

Salam Seduluran, Salam Kemanusiaan.

Penulis ; Teuku Muhammad Indra Shadafi (Anggota HMPS PAI)

Foto ; Tim Media HMPS PAI

Hadiah Dari Tuhan ; Sebuah Kesan Kuliah di INAIFAS

Hadiah Dari Tuhan ; Sebuah Kesan Kuliah di INAIFAS

Bagikan sekarang

Oleh : Moh. Ferdi Hasan, S.Pd.

Bismillahirrohmanirrohim, dengan segala kebanggaan dan kebahagiaan, hal pertama yang akan saya sampaikan atas kelulusan saya di INAIFAS adalah rasa syukur, karena tuhan telah menakdirkan INAIFAS sebagai wahana proses pendidikan sarjana bagi diri saya.

Pada tahun 2017 ketika saya tidak diterima disalah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia (Katanya), saya sangat kecewa, bahkan sampai pada titik menyalahkan Tuhan, mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku, mengapa Tuhan menyianyiakan perjuanganku dan mengapa Tuhan tidak adil pada diriku.

Disela sela suasana hati mencekam itu, pada pagi hari datanglah beliau guru saya (Ust. Nidhom) menasehati seraya mengajak saya untuk berjuang bersama di Madrasah, yang mana madrasah tersebut merupakan tempat saya menuntut ilmu dahulu (MIBU 05 Kalimalang). Disamping itu, guru saya juga menyarankan untuk kuliah di INAIFAS dan mengambil jurusan PGMI, hingga pada titik saya benar benar kuliah.

Ketika saya memasuki kampus INAIFAS, hati bergetar seakan akan do’a saya baru saja terkabul, antusiasme, semangat belajar dan rasa bahagia menyelimuti ketika itu. Ternyata firasat yang saya rasakan bukan hanya firasat, akan tetapi itu memanglah sebuah jawaban dengan versi yang lebih baik dari apa yang saya minta.

Pada hari pertama masuk, secara tidak terduga saya masuk menjadi peserta tes terbaik Mahasiswa, sehingga dengan demikian saya dapat jaminan gratis SPP 8 Semester, hal itu sangat membahagiakan, mengingat kondisi keuangan yang tidak terlalu bagus.

Memasuki meja perkuliahaan, saya sangat menikmati, dan mensyukurinya, karena ketika saya melaksanakan perkuliahan di INAIFAS, seakan akan mendapatkan semua yang saya inginkan, bahkan melebihi dari itu.

Di INAIFAS saya sangat berkembang, hampir disegala bidang mulai dari pola pikir, cara bertindak, soft skill dan yang lainnya. Di INAIFAS saya menemukan pimpinan yang sangat luar biasa, beliau Gus Rijal Mumazziq M.H.I, Rektor INAIFAS yang sangat cerdas, produktif serta jenaka, Wakil Rektor 1, Bapak Dr. Asnawan, M.Si, orangnya sangat visioner, memiliki kemampuan organisasi yang sangat bagus.

Wakil Rektor 2 Ust. Akmad Zaini, M.Pd, beliau sangat mengerti dengan orang lain, sering membantu mahasiswa ketika memiliki permasalahan keuangan. Selanjutnya, Wakil Rektor 3 Bapak Mohammad Dasuki, M.Pd, beliau sangat luar biasa, memiliki kemampuan negosiasi dan manajemen yang sangat bagus.

Di INAIFAS saya juga menemukan dosen yang sangat luar biasa seperti Ibu Kaprodi PGMI Ibu Mar’atus sholihah, Ibu Balqis, Ibu Mutmainah, Ibu Khurin, Ibu Yovita dan Lainnya. Selain itu staf dan karyawan di INAIFAS sangat ramah, baik dan profesional.

Di INAIFAS saya menemukan role model yang dapat dijadikan acuan untuk memompa diri, beliau adalah Dr. Fauzan Adhim, saya biasa menyebutnya mas fauzan didepan teman teman, dengan tujuan dapat mendekatkan secara emosional. Dengan menjadikannya role model, diri saya menjadi lebih hidup dan seakan akan dibisiki “kau jauh lebih baik dari dia”, sehingga dengan demikian, saya terus menjadi manusia berkualitas hari demi hari.

Di INAIFAS saya juga dapat berproses dalam bidang kepemimpinan dan keorganisasian dengan sangat cepat, melalui bimbingan senior seperti Sinta Bella, Susiani, Ummu dan Gandis, serta rekan perjuangan yang sangat menginspirasi seperti Habib, Nurma, Latif dan Muhsin, sehingga dengan itulah diri saya menjadi manusia yang progresif disetiap harinya.

Tak lupa seluruh teman sekelas PGMI merupakan teman belajar yang sangat ideal, teman sekelas yang rata rata sudah menjadi pengajar, dapat diajak berdiskusi secara teoritis dan praktis, selain itu karakter yang berbeda beda membuat saya belajar banyak hal dan menjadikannya bahan yang lebih baik, terimakasih edo, sinta, qomariah, desy, lia, supri, latif, eva, nova, warda dan kawan-kawan lainnya.

Di akhir kalimat, saya ingin mengatakan “Terimakasih untuk semuanya, INAIFAS telah menghantarkanku, jauh dari yang aku fikirkan. Aku mungkin akan tenggelam dan tidak menjadi seberkualitas sekarang jika tidak disini.

Sekali lagi, “INAIFAS Always in My Heart”

Beradab, Berilmu dan Berdakwah.