Urgensi Kerjasama antar Lembaga dan Workshop Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi

Urgensi Kerjasama antar Lembaga dan Workshop Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi

Bagikan sekarang

Oleh : Nur Jannah, M.Pd (Dosen dan Ketua LPM INAIFAS)

Pada pertengahan tahun 2021 lalu, untuk pertama kalinya saya ditunjuk secara resmi menjadi Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) di Institut Agama Islam Al Falah As-Sunniyah (INAIFAS) Kencong Jember melalui Surat Keputusan (SK) yang diterbitkan Rektor. Jabatan yang sebelumnya tidak pernah saya impikan ini sempat saya tolak secara halus, namun pimpinan tetap bersikukuh menunjuk saya sebagai ketua.

Alasan utama menolak, karena merasa tidak memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang penjaminan mutu, namun alasan itu tidak bisa diterima oleh pimpinan. Suka atau tidak, saya tetap harus menjalankan tugas yang diberikan pimpinan, menjalankan amanah ini dengan mendorong diri untuk terus belajar bagaimana mengelola mutu di perguruan tinggi swasta.

Pada masa awal menjadi ketua LPM, banyak hal yang tidak saya pahami terkait mutu, baik kebijakan, standar, pengelolaan, manajemen dan sebagainya. Karena itulah saya berinisiatif untuk banyak bertanya pada ketua LPM sebelumnya, bagaimana konsep dan praktiknya, apa saja yang sudah dikerjakan dan yang belum dikerjakan.

Dari situlah, saya mulai dikenalkan dengan dokumen Standart Penjaminan Mutu Internal (SPMI), yang awalnya saya tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu, hingga pada akhirnya memaksa saya untuk mempelajarinya dengan teliti.

Di kampus INAIFAS, saat itu telah memiliki dokumen Standart Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dari kebijakan mutu, manual mutu dan standart mutu, hanya formulir yang belum ada, sehingga pekerjaan pertama yang harus saya kerjakan yakni menuntaskan formulir, agar dokumen tersebut segera tuntas dan bisa dilaksanakan.

Selang beberapa bulan sebelum formulir itu selesai, saya mendapatkan undangan dari Kopertais Wilayah IV Surabaya untuk mengikuti workshop sosialisasi Standart Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di Hotel GreenSA Inn & Training Centre Sidoarjo.

Saat itu, yang menjadi narasumber dari kegiatan workshop tersebut adalah Dr. A. Saepul Hamdani Kepala Pusat Audit LPM UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau menjelaskan panjang lebar tentang penyamaan persepsi SPM-Dikti dan SPMI. Dari acara inilah, saya baru paham dengan lebih detail mengenai SPMI.

Selain mendapatkan pemahaman terkait, dari acara ini saya banyak mengenal ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) lainnya. Dari sini kami banyak diskusi terkait permasalahan penjaminan mutu di masing-masing perguruan tingginya.

Dari diskusi tersebut, saya memahami bahwa Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) di perguruan tinggi swasta ini sering dianggap sebelah mata, keberadaanya antara ada dan tiada, dan hanya sebagai pelengkap saja. Banyak pimpinan yang tidak menyadari bahwa eksistensi LPM di perguruan tinggi sangatlah penting. Hal itu, ternyata tidak hanya terjadi di kampus INAIFAS saja melainkan hampir semua kampus swasta lainnya.

Masalah mutu pada perguruan tinggi swasta ini, tentunya berdampak pada kompetensi sarjana yang diluluskan, ijazah yang tidak diakui, kampus yang tidak terakreditasi, rendahnya mahasiswa peminat perguruan tinggi swasta, hingga terjadi penurunan jumlah pendaftar di kampus tersebut. Permasalahan yang kompleks ini jika tidak segera ditindak lanjuti, tidak menutup kemungkinan akan membuat kampus itu mati suri.

Pada tahun 2018 perguruan tinggi swasta di Indonesia telah mencapai 3.131 (sumber:forlap.ristekdkti.go.id). Sedangkan berdasarkan pangkalan data perguruan tinggi (PDDIKTI), jumlahnya mengalami kenaikan sebanyak 3.129 atau sekitar 68 % dari total perguruan tinggi di seluruh Indonesia pada tahun 2019.

Dari data tersebut, menunjukkan bahwa keberadaan perguruan tinggi swasta masih mendominasi, namun sayang sekali banyaknya kampus swasta ini ternyata tidak diimbangi dengan mutu yang bagus, sehingga perolehan jumlah mahasiswa pada perguruan tinggi swasta rata-rata hanya di bawah 1000 mahasiswa. Karena itulah, sistem penjaminan mutu pada perguruan tinggi swasta menjadi sebuah keniscayaan yang harus segera ditingkatkan.

Salah satu upaya inovatif yang dilakukan oleh Kopertais Wilayah IV Surabaya dalam meningkatkan mutu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) yakni dengan mengundang seluruh ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) untuk mengikuti workshop penyusunan SPMI di Hotel Ciptaningati Batu dan workshop proofreading finalisasi dokumen SPMI di Hotel Premier Place Hotel Surabaya.

Kedua Workshop tersebut mengajarkan pada kami bagaimana menyusun dokumen SPMI, yang meliputi kebijakan mutu, manual mutu, standart mutu dan formulir mutu. Dari kegiatan inilah, saya bisa mereview dan menyusun kembali dokumen SPMI kampus kami yang sudah expired sebelum dilaksanakan.

Sebab dokumen tersebut telah ditetapkan pada tahun 2018, sebelum Permendikbud No 3 tahun 2020 yang mengatur tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi keluar. Untuk menindaklanjuti kebijakan itulah, maka harus segera disusun dokumen SPMI baru yang sesuai dengan kebijakan tersebut.

Setelah mengadakan workshop tersebut, Kopertais Wilayah IV Surabaya juga mengadakan workshop Audit Mutu Internal yang pelaksanaannya terbagi menjadi dua gelombang. Dimana masing-masing PTKIS boleh mengirimkan delegasi calon auditor minimal 2 orang.

Acara ini tentu sangat bermanfaat dan dapat membantu kampus swasta di Jawa Timur yang tidak memiliki auditor sama sekali. Seperti halnya kampus kami, dengan kegiatan tersebut sekarang alhamdulillah sudah memiiki 2 calon auditor bersertifikat, yang InsyaAllah akan siap mengaudit mutu internal.

Rangkaian keempat kegiatan workshop yang sudah diadakan pihak kopertais ini tentu sangatlah bagus dan perlu mendapatkan apresiasi, karena dapat membantu memberikan pemahaman yang komprehensif terkait penjaminan mutu (quality assurance) bagi para ketua LPM di perguruan tinggi swasta.

Selain itu, dari kegiatan workshop tersebut akhirnya terbentuklah konsorsium LPM di wilayah tapal kuda Jawa Timur. Selain sebagai ajang silaturrahim, adanya konsorsium ini kita bisa saling belajar bertukar pengalaman terkait penjaminan mutu.

Selain itu, adanya workshop tersebut tentunya semakin menambah ilmu dan pengetahuan baru yang dapat diterapkan di masing-masing perguruan tinggi kita, bagi saya semakin memahami siklus (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, Peningkatan (PPEPP) dalam penjaminan mutu, maka semakin banyak pekerjaan yang ternyata belum dikerjakan di Lembaga Penjaminan Mutu kami selama ini, karena semua siklus yang ada dalam PPEPP masih belum bisa dilaksanakan sama sekali.

Permasalahan utamanya, kenapa PPEPP di kampus swasta belum bisa berjalan? karena banyak dari ketua Lembaga Penjaminan Mutu yang tidak memahami apa itu PPEPP. Di samping itu, kurangnya dukungan dan kesadaran para pimpinan membuat penjaminan mutu di perguruan tinggi menjadi susah berkembang. Padahal penetapan quality assurance sendiri telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Undang-undang No. 12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi.

Sistem penjaminan mutu tersebut meliputi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu External (SPME) yang lebih dikenal dengan istilah akreditasi. Kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh perguruan tinggi melalui System Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPM- Dikti).

Membiasakan budaya mutu pada perguruan tinggi swasta memang bukanlah pekerjaan yang mudah, karena masih banyak pihak yang merasa alergi dengan mutu itu sendiri, bahkan semua hal yang berkaitan dengan mutu seolah-olah hanya menjadi pekerjaan dan urusan ketua Lembaga Penjaminan Mutu saja, padahal sejatinya budaya mutu menjadi tanggung jawab semua pihak yang ada di perguruan tinggi, mulai dari pimpinan, personalia tenaga pendidik dan tenaga pendidikan hingga mahasiswa.

Perlu dipahami, bahwa keberadaan Lembaga Penjaminan Mutu ini sangatlah penting untuk memelihara, meningkatkan, mengkoordinasikan, dan mengevaluasi mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan, yang dijalankan secara internal demi mewujudkan visi dan misi institusi, serta untuk memenuhi kebutuhan stakeholders melalui penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi.

Sebagai Ketua Lembaga Penjaminan Mutu, tentu saya berharap kepada seluruh civitas akademika INAIFAS untuk saling bekerjasama mewujudkan mutu lembaga yang baik dan berkualitas. Dengan bekerjasama antar semua pihak, bukan suatu hal yang mustahil bila Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember kedepannya dapat mencapai level mutu pengelolaan perguruan tinggi sesuai International Standardization Organization (ISO) 9001. Semoga harapan tersebut di ijabah oleh Allah SWT. Aamin ya Rabbal ‘alamin.

Tips Meningkatkan Mutu di Perguruan Tinggi ala Dosen PBA INAIFAS

Tips Meningkatkan Mutu di Perguruan Tinggi ala Dosen PBA INAIFAS

Bagikan sekarang

Oleh: Asni Furoidah, M.Pd.I (Dosen PBA INAIFAS)

Dalam rangka evaluasi program kegiatan PPL/PkM berbasis riset, para dosen Pendidikan Bahasa Arab melakukan evaluasi diri dengan tujuan meningkatkan kualitas SDM dan kinerja para dosen sebagai bentuk pengabdian terhadap masyarakat. Kegiatan ini berlangsung di Lantai 5 Kampus II INAIFAS pada Sabtu (25/06/2022).

Seperti diketahui, bahwa dosen merupakan pendidik profesional atau juga seorang ilmuwan yang bertugas untuk mengembangkan dan melakukan perluasan terhadap ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dengan melalui proses pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Peningkatan mutu dosen tersebut pasti akan membawa hal positif dan perubahan baik dalam mutu perguruan tinggi. Nah, untuk melakukan peningkatan kualitas mutu pendidikan tersebut, inilah 5 hal yang dilakukan dosen Pendidikan Bahasa Arab dalam meningkatkan mutu di Perguruan Tinggi. Berikut penjelasannya;

  1. Selalu Upgrade Ilmu
    Menurut UU Perguruan Tinggi pada tahun 2012, proses peningkatan ilmu pengetahuan dapat dilakukan melalui banyak hal, seperti penerbitan buku, penelitian dan lain sebagainya. Dalam hal ini, dosen Pendidikan Bahasa Arab diharapkan selalu konsistensi dalam melakukan riset keilmuan sebagai bentuk pengembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Hal sederhana bisa menjadi pembahasan menarik jika terus dikembangkan. Ibarat bola salju, penelitiannya mungkin terlihat sederhana, tetapi jika optimal akan menghasilkan dampak yang besar. Maka dari itu, sesuatu yang sederhana dapat menjadi besar dengan eksekusi penelitian yang matang. Paparkan hasil penelitian di depan dosen untuk mendapatkan kajian yang berbobot.
  1. Selalu Aktif dan Kreatif
    Menjadi seorang dosen memang dituntut untuk menjadi seorang yang aktif dan kreatif. Banyak hal yang akan berdampak positif apabila seorang dosen mampu berinteraksi dengan lingkungan secara baik. Aktif dan kreatif yang dimaksud adalah bahwa seorang dosen harus mampu memberikan suatu hal yang baru dan bisa bermanfaat bagi orang banyak. Tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di luar kampus. Selain itu, dengan menjadi dosen yang aktif dan kreatif, maka suasana di dalam kelas pun akan menjadi lebih menyenangkan. Mahasiswa akan dijauhkan dari rasa kebosanan dan malas dalam proses belajar mengajar.
  1. Menjaga Kualitas Karya Ilmiah
    Karya ilmiah ataupun jurnal sangat berkaitan erat dengan dunia penelitian serta pendidikan. Jenisnya pun beragam seperti makalah, skripsi, artikel, paper, tugas akhir, tesis, disertasi dan lain sebagainya. Agar karya ilmiah yang disusun dapat dipercaya, memiliki kredibilitas dan kualitas yang baik, selain memperhatikan standar teknis/format penulisan, juga harus memperhatikan hal-hal berikut:
    a. Tulisan harus sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh berbagai hasil pengamatan, penelitian dan peninjauan terhadap bidang ilmu tersebut.
    b. Menampilkan fakta dan dibuat dengan menggunakan metodologi penulisan yang baik dan benar.
    c. Dipublikasikan atau dipaparkan dari hasil pengkajian ataupun penelitian yang telah dilakukan.
    d. Hasil riset yang menunjukkan adanya penemuan yang dikomparasikan dengan riset sebelumnya. Dengan demikian, sebuah karya ilmiah yang baik perlu memperhatikan 4 kompetensi berikut: pemahaman keilmuan, perancangan, evaluasi, kajian kritis sebagai bentuk temuan riset yang telah dikaji. Pada prodi Pendidikan Bahasa Arab terdapat 2 portal publikasi jurnal ilmiah dengan masing-masing memiliki kualifikasi. Pertama Jurnal Al-Fusha dengan beralamatkan https://ejournal.inaifas.ac.id/index.php/alfusha yang membahas kajian pendidikan bahasa Arab. Jurnal ini terbit setahun dua kali dan sudah terakreditasi Sinta 4. Kedua Jurnal An-Nuqtah atau jurnal kajian riset mahasiswa PBA INAIFAS, jurnal ini beralamatkan https://ejournal.inaifas.ac.id/index.php/An-Nuqthah/issue/archive.
  1. Menumbuhkan kedekatan dengan Mahasiswa
    Kemampuan dosen yang mampu berinovasi tentunya akan berdampak pada kualitas mahasiswa. Upaya bimbingan akademik dari dosen diarahkan sebagai upaya membantu agar mahasiswa dapat mengembangkan kemandiriannya dan kemampuannya, sehingga pada akhirnya mahasiswa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Bimbingan dosen PBA INAIFAS terhadap mahasiswa dilakukan secara kelompok atau individu dengan memberikan pelayanan penuh terhadap mahasiswa. Mahasiswa diarahkan untuk selalu bersahabat dengan kemajuan teknologi sehingga mereka bisa mengembangkan potensi akademik tanpa merasa kebingungan.
  1. Tetap Semangat Menjalani Tri Dharma Perguruan Tinggi
    Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan sebuah ciri khas para pelaku pendidikan perguruan tinggi yang wajib dilaksanakan. Tidak ada alasan yang dapat menghambat seorang dosen untuk melaksanakan kewajibannya, seorang dosen harus tetap semangat dalam menjalani proses pengajaran, meningkatkan dan menambah ilmu untuk dilaksanakan agar kualitas keilmuwan dosen tidak diragukan. Melakukan penelitian di bidang ilmu yang didalami juga sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan kualitas mutu seorang dosen. Semakin banyak jumlah riset yang dilakukan, maka semakin banyak pengalaman yang didapat. Sehingga, beberapa riset yang dilakukan tersebut bisa dimuat dalam jurnal ilmiah.

Dalam Undang-Undang pendidikan tinggi, disebutkan bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan civitas akademika yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Itulah upaya yang dilakukan dosen Pendidikan Bahasa Arab INAIFAS Kencong dalam upaya meningkatkan kualitas diri. Tidak hanya dosen, mahasiswa dan pihak kampus diharapkan ikut andil dalam memberikan dukungan demi kelancaran dan berhasilnya upaya yang telah dilakukan dosen untuk meningkatkan kualitas dalam kondisi apapun. Karena kualitas pendidikan suatu negara bergantung pada kualitas dan mutu tenaga pengajarnya.

Salam PBA Bravo!!

Pendampingan Orang Tua Millenial terhadap Anak di Era Digital

Pendampingan Orang Tua Millenial terhadap Anak di Era Digital

Bagikan sekarang

Oleh : Rizqiyah Ratu Balqis, M.Pd. (Dosen Prodi PGMI INAIFAS)

Jika berbicara tentang keluarga tidak bisa lepas dari konsepnya yang terus berubah seiring dengan perkembangan zaman. Meskipun keluarga tetap saja memiliki fungsi keagamaan, fungsi pendidikan, fungsi sosial budaya, fungsi reproduksi, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi pembinaan lingkungan dan fungsi ekonomi namun penerapannya bisa berubah sesuai dengan tuntutan hidup. Jika dahulu keluarga identik dengan peran ayah sebagai pencari nafkah dan ibu mengurus rumah maka sekarang ini konsep tersebut sudah mulai lapuk karena banyak perubahan.

Nah, bicara soal keluarga millenial mungkin beberapa orang masih belum tau tentang apa dan siapa itu keluarga millenial. Jika ditarik dengan konteks zaman sekarang, keluarga millenial yang terdiri dari para pasangan muda merupakan gambaran terkini sebuah perubahan zaman.

Pengertian keluarga milenial adalah sebuah keluarga yang terdiri dari ibu dan ayah yang lahir antara tahun 1981 hingga 1994 atau bisa dikatakan era 80-an dan 90-an. Dalam sistem pemikiran, jelas generasi Y atau milenial berbeda dari Baby Boomers (lahir sebelum tahun 1660) dan generasi X (lahir antara tahun 1961 hingga 1980).

Generasi Y yang hidup di era pembaruan tekonologi, tentunya memiliki fasilitas dan akses untuk membuat semua informasi menjadi lebih cepat tanpa mengenal batasan waktu. Serta untuk pola pikir dan karakter generasi Y dapat dikatakan lebih visioner dan inovatif melakukan terobosan-terobosan dalam penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Kelebihan generasi Y adalah cenderung terbuka dalam menyikapi bentuk kritik untuk kemajuan dari pada generasi Baby boomers dan generasi X yang cenderung sering terjebak pada konsep lawas atau jadul.

Keluarga millenial cenderung lebih berpikiran terbuka daripada generasi X dan baby boomers yang lebih konvensional. Keluarga millenial umumnya berusaha membentuk sebuah keluarga modern. Selain itu keluarga millenial juga mengutamakan sebuah bentuk kerja tim (antara ayah dan ibu) yang dilakukan dengan efisien. Keluarga millenial juga lebih menjunjung tinggi kesetaraan gender dalam menjalankan pekerjaan.

Untuk perkembangan buah hati, keluarga milenial umumnya berkiblat pada media sosial dan kecanggihan internet dalam belajar pola asuh anak mereka. Kecenderung milenial sebagai kalangan internet savvy kemudian diaplikasikan dalam peran dan fungsinya dalam keluarga. Mulai dari mencari rekomendasi dan ilmu di internet sampai dengan arahan untuk membantu keluarga yang lebih efektif.

Berbeda dari generasi sebelumnya, keluarga (orangtua) milenial justru bukan tipe orang tua yang terlalu mengekang anak. Orang tua milenial mengutamakan pendekatan yang membangun sikap responsif anak tanpa intimidasi. Hal ini juga merupakan dampak dari perubahan dunia yang menekankan pentingnya sikap keterbukaan. orang tua milenial juga mementingkan sikap empati, hal yang sekarang jauh lebih berkembang di dunia.

Berbeda dari masa lalu ketika kemampuan akademis anak dituhankan dan aspek lainnya cenderung diabaikan. Tujuannya agar anak bisa menjadi pribadi yang lebih humanis sekaligus skillfull. Pola pendekatan yang lebih demokratis dan mengikutsertakan anggota keluarga inti dalam proses pengambilan keputusan menjadi salah satu ciri khas keluarga milenial. Keluarga millenial umumnya juga memiliki perencanaan keluarga yang matang. Namun bukan berarti keluarga generasi sebelumnya tidak memiliki perencanaan, akan tetapi keluarga millenial lebih prepare bahkan tertulis.

Sehubungan dengan era digital, era digital di satu sisi memberikan peluang untuk perkembangan yang lebih luas, di sisi lain membawa ancaman yang cukup serius bagi generasi yang akan datang. Ancaman tersebut salah satunya adalah terkikisnya karakter generasi bangsa yang good and smart. Hal ini bisa terjadi karena era 4.0 menyediakan alternatif komunikasi gaya baru, yaitu melalui media sosial. Hanya bermodal kuota dan ponsel pintar, kita sudah mampu mengarungi jagat maya, menjelajahi dunia digital.

Di era digital segala hal berubah dengan cepat, anak-anak harus dibekali dengan kemampuan edukasi memadai. Karena anak-anak era kekinian banyak bersinggungan dengan internet, maka literasi digital menjadi salah satu alternatif yang paling mungkin untuk membangun pondasi pendidikan karakter era kini.

Keluarga memiliki peranan penting dalam pendidikan anak tidak terkecuali pada keluarga millenial, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung orangtua dapat mendampingi dan membimbing anak belajar dan berinteraksi dan secara tidak langsung orangtua menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung pendidikan anak, penyediaan sarana dan prasarana, pemilihan pendidikan, pemberian kasih sayang, serta bentuk dukungan lainnya.

Menurut Islam, dalam diri setiap anak ada faktor bawaan. Faktor bawaan tersebut disebut fitrah. Potensi fitrah yakni keadaan manusia dan hubungan keadaan tersebut dengan agama (QS 30,30). Prof. Dr. Quraish Shihab menyatakan, bahwa fitrah adalah segala sesuatu yang melekat pada diri manusia semenjak kelahirannya. Fitrah sebagai potensi tauhid, yakni berupa kecenderungan untuk tunduk kepada Sang Maha Pencipta.

Sebagai sebuah potensi maka fitrah perlu dikembangkan melalui bimbingan dan arahan. Tugas utama dalam hal ini dibebankan kepada orangtua. “ Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikan ia seorang, Nasrani, Yahudi atau Majusi.” (Al Hadits).

Pendidikan karakter merupakan rangkaian sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi aspek pengetahuan, kesadaran dan kemauan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Sistem penanaman nilai karakter dilakukan secara berkelanjutan dan terus-menerus sampai muncul pembiasaan pada sikap dan perilaku anak sesuai nilai norma dalam masyarakat.

Hal ini juga mengandung maksud agar anak memperoleh pengalaman hidup yang utuh sejak perkembangan pertamanya yang dapat membentuk karakter pada anak. Karakter dari setiap anak harus dapat dikembangkan.

Karakter yang dibentuk pada anak melalui pembiasaan penanaman nilai-nilai lebih menekankan tentang nilai kebaikan serta memberikan arahan dan pemahaman tentang nilai perbuatan yang dianggap buruk. Nilai kebaikan dan keburukan dibangun melalui pemahaman, penghayatan dan pengalaman langsung pada kehidupan sehari- hari, sehingga nilai kebaikan dan keburukan bukan hanya sebagai pengetahuan.

Harapan dari penekanan pada nilai kebaikan adalah terbentuknya anak yang mempunyai kemampuan pemahaman dan penerapan tentang nilai-nilai kebaikan sehingga menjadi sebuah tahapan terbentuknya karakter pada anak yaitu tahu, paham kemudian mau melaksanakan karakter yang baik dalam kehidupan sehari- hari.

Sebagai keluarga millenial yang terdiri dari ayah dan ibu millenial tentunya perlu ada sebuah upaya pendampingan pada anak yakni generasi digital tersebut. Pendampingan orangtua dalam tumbuh kembang dan karakter anak merupakan hal yang sangat penting. Berdasarkan kasus yang ada, banyak anak mengalami kasus penyimpangan sosial, kasus kenakalan remaja dan lain sebagainya akibat penggunaan media digital yang kurang dikontrol oleh orangtua.

Maka untuk menghindari hal hal tersebut, orang tua perlu melakukan pendampingan secara efektif, diantaranya :


1. Menambah pengetahuan orangtua

Menjadi keluarga millenial sebenarnya banyak memiliki nilai tambah, sebab dari ciri khas generasi millenial yang telah disebutkan tadi mempermudah orangtua millenial dalam menggali informasi sebanyak-banyaknya melalui media internet dan digital pula. Oleh karena itu, orang tua perlu setiap hari meluangkan waktu untuk menge-cek riwayat pencarian atau mengontrol dan melihat situs – situs website yang pernah dikunjungi anak.

2. Mengarahkan dalam pemanfaatan perangkat dan media digital

Apabila anak sudah terpapar perangkat digital, orang tua perlu melakukan komunikasi yang lebih intens dan efektif untuk memutuskan berapa lama mereka dapat menggunakannya. Membuat kesepakatan-kesepakatan dalam disiplin penggunaan perangkat media digital pada anak.

3. Kreatif dalam memberikan pengalihan

Anak yang sudah terpapar perangkat media digital terkadang lebih sulit dibendung keinginannya dalam penggunaannya. Orang tua harus pintar membuat pengalihan dalam rangka mengimbangi paparan media digital. Keluarga millenial yang memang lekat akan penggunaan media digital tapi sekali waktu mungkin perlu merencanakan sebuah aktivitas pengalihan untuk mengenalkan anak pada dunia nyata seperti aktivitas berkesenian, aktivitas fisik seperti olah raga, bermusik, membaca interaktif dan mengenalkan permainan tradisional lainnya kepada anak.

4. Pinjamkan perangkat digital pada anak sesuai kebutuhan.

Penting sekali sebagai orangtua paham akan kebutuhan anak. Terlebih saat situasi pandemi dan pasca pandemi yang dalam pembelajaran di sekolah saja masih menggunakan perangkat media digital tentunya lebih memberi kesempatan anak lebih banyak menggunakan gadget, smartphone, dll. Kadang dengan alasan belajar, anak berlama-lama menggunakan gadget mereka. Padahal sesi pembelajaran dengan menggunakan perangkat digital sudah selesai. Maka orang tua juga harus betul-betul memberikan perhatian khusus dalam pendampingan belajar anak.

5. Pilihkan program/aplikasi/konten positif

Orangtua perlu memilihkan program/aplikasi dan bahkan konten konten positif yang memiliki nilai edukasi agar dapat memberikan dampak yang positif pula bagi tumbuh kembang anak.

6. Melakukan pendampingan

Dalam hal apapun orangtua perlu melakukan pendampingan kepada anak sebagai bentuk interaksi positif selama menggunakan media digital. Orangtua yang kreatif mengatur penggunaan media digital anak justru dapat memiliki waktu khusus (family time) sebagai salah satu aktivitas keluarga.

7. Tidak menjadi orangtua yang egois.

Keteladanan orang tua dalam pemanfaatan media digital penting bagi anak. Orang tua harus bijaksana dalam menggunakan media digital. Orang tua jangan sibuk sendiri dengan gawainya dan cenderung mengabaikan anaknya.

8. Telusuri aktivitas anak di dunia maya

Tak sedikit anak yang sudah mengenal dunia maya sejak dini. Orang tua millenial tentu terbuka akan kemajuan ini, namun hal ini juga tidak semata-mata dibiarkan begitu saja. Aktivitas anak di dunia maya juga harus menjadi perhatian orang tua. Orang tua bisa memantau rekam jejak anak di dunia maya (sosial media). Orang tua juga bisa memanfaatkan software untuk menyaring website yang berbau pornografi (web filtering). Piranti website ini sangat membantu orang tua dalam mengontrol dan memfilter konten yang tidak sesuai dengan tumbuh kembang anak.

Semoga bermanfaat.

Tips Belajar Bahasa Arab bagi Pelajar Milenial

Tips Belajar Bahasa Arab bagi Pelajar Milenial

Bagikan sekarang

Oleh: Asni Furoidah, M.Pd.I (Dosen PBA INAIFAS)

Belajar bahasa Arab bagi sebagian orang terbilang susah-susah gampang. Selain sulitnya menemukan lembaga bahasa Arab secara gratis, biasanya juga pada tingkat penguasaannya yang rumit. Namun begitu, belajar bahasa Arab tetap menjadi bagian dari kebutuhan saat ini. Apalagi, bahasa Arab itu sendiri sangatlah penting dipelajari oleh seorang Muslim.

Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Quran Al-Karim. Inilah yang menjadi alasan cukup besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Quran lebih dari sepuluh tempat, diantaranya pada ayat;

“Sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia dalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertaqwa“. (QS. Az-Zumar: 27-28).

Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Quran. Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.

Bagi seorang pelajar milenial ataupun yang sedang mendalami ilmu tafsir al-Quran, belajar bahasa Arab sangatlah penting guna membantu menyelesaikan program studi, juga membantu berkomunikasi dengan lawan bicara. Hal ini akan dikupas oleh penulis segelintir tips belajar bahasa Arab secara mudah dan praktis.

1. Niat yang Tulus

Sungguh, niat yang tulus merupakan modal awal sebelum melakukan segala aktivitas. Niat tulus dalam mempelajari bahasa Arab bertujuan untuk memudahkan seseorang dalam belajar yang diiringi oleh kesungguhan hati.

2. Akrab dengan Al-Quran

Membaca Al-Quran harian akan sangat membantu pelajar pemula dalam mempelajari bahasa Arab. Sebab dengan tilawah ini membantu mengakrabkan hati dan pikiran sehingga -sadar atau tidak- seseorang akan mudah memahami bahkan menghafal kosa kata bahasa Arab yang terdapat di dalam Al-Quran. Ditambah banyaknya mushaf terjemahan yang sering kita temui juga dapat memberikan andil bagi pelajar pemula untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya.

3. Belajar Mandiri via Online

Kemampuan bahasa Arab tidak dapat dipungkiri telah menjadi suatu hal yang cukup penting untuk dikuasai mengingat di era seperti ini informasi dapat tersebar luas dengan mudahnya, berbagai portal informasi menawarkan kemudahan dalam aksesnya, arus informasi pun berjalan begitu cepat. Berbagai informasi baik yang bersifat ringan sampai informasi berat seperti informasi-informasi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan pun saat ini tidak hanya disampaikan melalui bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa asing. Aplikasi google translate pun seakan-akan menjadi penolong utama ketika dihadapkan dengan wacara berbahasa asing dan menjadi satu-satunya penolong handal disaat waktu genting.

Oleh karena itu, sebagai dampak positif dari kemajuan teknologi informasi, belajar bahasa Arab pun dapat dilakukan secara online. Lalu pertanyaannya dimanakah kita bisa menemukan situs belajar bahasa Arab online secara gratis? Saat ini memang telah banyak situs belajar bahasa yang tersebar di internet. Akan tetapi, kali ini penulis akan merekomendasikan beberapa situs yang dapat dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam belajar bahasa Arab.

10 Situs Belajar Bahasa Arab Gratis Terbaik

School Arabia. Dari namanya saja sudah bisa ditebak jika website ini adalah situs belajar bahasa Arab. Situs ini merupakan situs yang bisa diakses untuk mempelajari bahasa Arab.

Madinah Arabic. Beralamat di www.madinaharabic.com, situs ini menjadi salah satu situs belajar bahasa Arab gratis yang menggunakan bahasa Inggris.

Alef-Ba-Ta. Ingin mengajarkan bahasa Arab kepada anak-anak? Situs www.alef-ba-ta.com ini bisa menjadi pilihan yang tepat.

Situs Areeg. Situs belajar bahasa Arab ini bernama Areeg, yang merupakan situs dari Pemerintah Kuwait. Situs dengan alamat www.areeg.org ini dikembangkan oleh Pusat Pendidikan yang ada dan juga berkoordinasi dengan Mahad di Kuwait.

Learn Arabic Online. Situs Learn Arabic Online dengan beralamat di www.learnarabiconline.com, ini merupakan salah satu situs dengan materi bahasa Arab yang lengkap.

Arabic Academy. Situs belajar bahasa Arab gratis yang satu ini menawarkan kursus bahasa Arab secara online.

Madinah Arabic. Madinah Arabic juga merupakan situs belajar bahasa Arab gratis yang bisa menjadi pilihan terbaik. Situs ini memberikan pelajaran bahasa Arab yang sangat lengkap.

Arabic Online. Selanjutnya, situs Arabic Online yang menawarkan pembelajaran bahasa Arab yang menarik dan berbeda dari yang lain. Pembelajaran yang diberikan di situs ini lebih interaktif fan juga modern. Situs belajar bahasa Arab online ini juga ditujukan untuk semua kalangan.

Mondly. Mondly adalah salah satu situs belajar bahasa Arab gratis yang memberikan pelajaran bahasa Arab bagi pengunjung situsnya.
Fluent in 3 Months. Situs belajar bahasa Arab gratis online terakhir adalah Fluent in 3 months. Situs ini sangat bagus karena langsung diajar oleh Benny yang merupakan penutur asli bahasa Arab. Situs ini memang situs yang sangat modern karena memberikan pelajaran bahasa Arab melalui podcast dan juga audio online.

4. Berlatih Berbicara

Langkah penting dalam mempelajari bahasa apa pun adalah dengan berlatih (praktik). Cara terbaik untuk mempelajari kosa kata baru adalah dengan melihat, mendengar, menulis dan mengucapkannya. Salah satu cara bagi pelajar untuk berlatih bahasa Arab adalah dengan cara mendengarkan audio visual berbahasa Arab seperti: berita, cerita singkat via youtube bahkan seringkali mendengarkan musik Arab.

Perbanyak perbendaharaan mufrodat dengan kalimat muhadatsah yang sudah dihafal. Bisa dilakukan sendiri, tapi lebih baik jika ada teman belajar bersama. Karena jika tidak, maka apa yang sudah kita hafal percuma. Peran guru juga sangatlah penting. Disamping itu akan ada yang mengoreksi jika terdapat kekeliruan dalam belajar.

Jika ikhtiar sudah maksimal, maka jangan lupa selalu sertakan Allah SWT dalam setiap usaha. Ingatlah bahwa hasil setara dengan usaha. “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah SWT akan mudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR. Muslim, no. 2699)

Semoga bermanfaat.

Sandwich Generation

Sandwich Generation

Bagikan sekarang

Oleh : Uliyatul Mu’awwanah, M.E.I (Kaprodi Ekonomi Syariah Inaifas Kencong, Jember, Indonesia)

Disclaimer: Jika tulisan ini dapat mendatangkan kebaikan/bermanfaat bagi pembaca silahkan di aplikasikan dalam hidup anda, namun jika tidak bisa di skip saja.

Sebenarnya sudah lama saya ingin menuangkan pemikiran tentang topik ini, namun ada sedikit keraguan dalam hati karena mungkin banyak orang di luar sana yang tidak sependapat dengan saya. Jadi begini, tidak seperti generasi Millennial maupun Z, generasi Sandwich mungkin juga istilah yang sangat jarang didengar.

Istilah Sandwich Generation digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi finansial seseorang, dimana pada saat memasuki usia produktif kerja namun ia harus menanggung kebutuhan hidup generasi yang berada di atas dan di bawahnya. Bisa orang tua, kakak, adik, anak, cucu, kakek, nenek dan keluarga terdekat yang belum mencapai kebebasan secara finansial (financial freedom), sementara biaya hidupnya semakin mahal. Bahasa gampangnya kepepet karena dipepet atau dijepit dari sisi atas dan bawah. Jeratan generasi sandwich ini menimbulkan banyak efek buruk seperti halnya pendapatan mepet dan selalu kejar kejaran dengan kebutuhan hingga terancam tidak bisa bangun rumah maupun pensiun dini.

Alhasil, dampak yang muncul pada generasi sandwich ialah menjadi lebih rentan terkena depresi karena mengalami kelelahan baik secara fisik maupun mental.

Apabila anda sedang membiayai orang tua dengan usia 65 tahun ke atas dan anak di bawah usia 18 tahun sekaligus maka bisa dipastikan anda ialah generasi sandwich. Ini hanya salah satu, di kalangan para ekonom sebutan sandwich generation bahkan sampai dikategorikan lebih dari 3 karakteristik. Contohnya: tradisional sandwich, Club Sandwich, serta Sandwich Generation Level Pro karena terhimpit hingga 2 generasi atas dan bawah sekaligus.

Tapi anda bukanlah satu satunya orang yang mengalaminya, di Amerika saja tercatat ada 10 juta jiwa generasi sandwich, United Kingdom dan Australia masing-masing tercatat 2-3 juta, Cina 35% usia produktifnya juga terjerat dalam generasi ini, sedangkan Korea menjadi negara paling juara dengan populasi sandwich terbanyak se Asia.

Sementara di Indonesia, berdasar pada data Statistic Astra Life sebesar 48,7% masyarakatnya ialah sandwich generation. Statistik ini di kumpulkan melalui survey kepada 1828 responden usia produktif pada skala nasional dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Lalu bagaimana memutus mata rantai dan keluar dari jeratan tersebut? Sebelum anda pasrah alangkah baiknya jika kita memberikan perhatian khusus dan langkah serius untuk mencari solusi.

Jika membaca dari buku manajemen keuangan atau bahkan artikel di Google pasti jawaban yang paling sering muncul ialah selalu dan hanya rencanakan keuangan, bangun asset dan monitoring keuangan. Padahal sebenarnya menurut hemat saya tidak semudah dan lebih jauh dari itu. Sedikit sekali literasi yang dapat menyentuh misalnya:

Pertama, mempelajari pola artinya, kita harus spend banyak waktu untuk eksplore lebih jauh penyebab terjadinya sandwich generation. Hal ini penting untuk dilakukan karena pastinya persoalan tersebut tidak terjadi begitu saja. Bisa saja terjadi karena kesalahan finansial baik dari generasi di atas maupun kesalahan finansial dari diri kita sendiri seperti high income masih berbanding lurus dengan high life style.

Kedua, Maping Asset. Sebelum mengeluarkan uang untuk mereka akan lebih tepat jika mulai mengidentifikasi asset. Langkah ini bisa dilakukan dengan cara memilah asset mana yang awalnya non-liquid diubah menjadi liquidate. Kemudian baru di optimized. Berani memperbanyak income dan mengurangi pengeluaran dan begitu seterusnya.

Intinya lakukan investigasi melalui komunikasi yang baik pada orang yang tertanggung. Misalnya, dengan mulai menanyakan apa saja kebutuhannya, adakah cicilan?, kebutuhan apa saja yang bisa di press?
Namun beda cerita jika orang yang ditanggung merupakan orang yang sudah tidak lagi produktif dan menderita penyakit tertentu sehingga ia tidak mampu lagi untuk menghasilkan uang.

Tentunya ini juga bukan pekerjaan mudah dan melakukannya adalah pembicaraan sensitif. Tapi budaya tulang punggung yang secara kultur tidak lekas disudahi justru akan menjadi pressure bagi generasi sandwich kemudian mereka terpaksa make more money padahal sebenarnya mereka belum mampu. Alhasil mereka menjadi seperti ular yang memakan ekornya sendiri untuk bertahan hidup.

Ketiga, tidak ada lagi selain meningkatkan literasi keluarga atau orang yang kita tanggung dengan harapan dapat pulih dari beban finansial lintas generasi.

Tulisan ini terinspirasi dari 2 sosok yang keduanya mampu menyadarkan saya akan pentingnya manage keuangan sedari dini. Mereka mengingatkan saya untuk senantiasa menjadi saver di mana, meski berada di usia senja mereka masih sanggup membiayai hidup sendiri bahkan saat ia sudah tak mampu lagi untuk bekerja.

Di sisi lain, mereka juga mampu memicu keberanian pada saya untuk dapat keluar dari zona leha-leha agar selamat dari sikap optimis berlebihan yang selalu mengira akan terus berada pada siklus usia produktif serta ke-Pede-an dengan berpikir “Ah, besok pasti dapat uang lagi”.

Percayalah, menjadi Sandwich Generation itu berat. Ini bukan saatnya menyalahkan siapapun tapi yakinlah kondisi ini butuh segera dicarikan solusi. Ingat, membantu itu baik tapi pastikan kemampuan menjadi barometernya.

Semoga bermanfaat.

Pendampingan Orang Tua Millenial terhadap Anak di Era Digital

Pijat Tradisional yang Masih Melekat di Masyarakat

Bagikan sekarang

Oleh : Rizqiyah Ratu Balqis, M.Pd. (Dosen PGMI INAIFAS)

Sore ini untuk kesekian kalinya anak saya Nusaibah, saya bawa ke tukang urut bayi alias dukun pijat bayi tradisional yang berada di desa sebelah. Meski antrian sangat panjang, tidak mengurangi semangat saya untuk berulang kali mendatangi tukang pijat bayi tersebut.

Alternatif kesehatan ini saya lakukan awalnya atas inisiatif orang tua, karena jujur sebagai orang tua baru di zaman yang modern ini memandang hal tersebut sudah kuno dan kalah dengan kecanggihan dunia medis saat ini. Namun karena suatu hal, pemikiran saya pun terpatahkan. Entah bagaimana yang jelas pada akhirnya saya termasuk orang tua yang pro dengan alternatif medis (dukun pijat bayi).

Melihat antrian panjang menandakan bahwa yang masih percaya pijat tradisional di dukun bayi bisa mengatasi segala permasalahan kesehatan bayi masih sangat banyak. Mereka rela antri hingga berjam-jam karena pijat itu dipercaya menjadi solusi bagi segala persoalan yang menyangkut bayi dan anak seperti demam, rewel, bahkan yang dipercaya mendapati gangguan makhluk halus.

Menurut teori medis pijat bayi memang punya banyak manfaat. Mulai dari menstimulasi gerak motorik dan sensorik bayi, membuat si kecil lebih rileks hingga bisa membantu bayi tidur lebih nyenyak. Namun pilihan untuk mempercayakan pijat pada dukun pijat tradisional juga masih banyak pro dan kontra.

Ada yang namanya baby spa, biasanya di klinik bersalin menawarkan pijat khusus bayi dengan suasana yang lebih modern, tempat yang lebih bagus, namun tak sedikit juga yang masih percaya dan memilih memijatkan buah hati mereka pada dukun pijat bayi tradisional. Selain alasan biaya yang relatif lebih ringan bahkan terkadang dibayar seikhlasnya, tapi juga karena alasan setelah selesai dipijat permasalahan bayi atau anak mereka terselesaikan.

Menurut pengamatan penulis ketika berada di salah satu lokasi pijat tradisional tersebut, mereka yang datang bukan hanya dari kalangan menengah ke bawah saja, tapi dari kalangan menengah atas bahkan orang akademisi yang menurut logika pikirannya lebih maju. Justru tak sedikit dari mereka juga pernah penulis lihat ikut mengantri untuk memijatkan buah hatinya ke tukang pijat bayi tradisional tersebut.

Penulis sempat menanyakan kepada orang tua pasien dan beberapa dari mereka beralasan memijatkan anak atau bayinya karena sedang sakit, karena rutinan tiap sebulan atau 10 hari sekali, ada juga yang karena bayinya habis jatuh, sebab biasanya jika bayi habis jatuh suhu badannya tinggi alias warang dalam bahasa jawa. Tak hayal, praktik pijat tradisional bayi ini masih ramai peminatnya walau di tengah zaman yang serba modern seperti sekarang ini.

Praktik pijat dukun bayi tradisional ini masih menjadi Primadona sebagai pilihan alternatif kesehatan. Penulis pernah juga menyaksikan ada pasien anak yang datang dengan keluhan Kejang demam atau penyakit step. Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), step adalah kejang pada anak yang dipicu oleh demam, bukan kelainan di otak. Kejang demam biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Ketika mengalami kejang demam, tubuh anak akan berguncang hebat diiringi gerakan menyentak di lengan dan tungkai, serta kehilangan kesadaran. Orang tua pasien sudah sering membawa anak mereka ke klinik kesehatan. Namun orang tua pasien bilang jika anaknya masih sering kambuh, maka dari itu orang tua pasien mencoba alternatif kesehatan lain yang pernah direkomendasikan saudaranya untuk ke dukun pijat anak.

Singkatnya setelah rutin terapi pijat, orang tua pasien menyaksikan sendiri bahwa buah hati mereka sudah jarang kambuh bahkan sudah tidak pernah. Tapi mereka tetap datang untuk memijatkan anaknya tiap sebulan sekali sebagai bentuk ikhtiar merawat kesehatan buah hatinya.

Saya sebagai penulis sekaligus sebagai orang tua yang juga memilih pijat tradisional menjadi alternatif kesehatan sempat bertanya kepada tukang pijat tersebut, Mbah Mukri namanya, penulis bertanya sejak kapan beliau berkarir menjadi tukang pijat bayi? Mbah Mukri menjawab bahwa beliau menjadi tukang pijat sejak beliau usia muda.

Selain mempunyai keturunan dari nenek moyang istilahnya, beliau juga sering tirakat. Secara istilah tirakat adalah suatu upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan, baik berupa perilaku, hati dan pikiran. Salah satu yang dilakukan dalam tirakat adalah berpuasa.

Mungkin hal ini yang menjadi daya tarik tersendiri, penulis juga beranggapan bahwa memijat saja pasti siapa saja bisa, teorinya juga sudah banyak di media Internet, namun yang memiliki keistimewaan seperti halnya Mbah Mukri tak banyak yang bisa. Jadi tidak heran jika langganan pijat di Mbah Mukri tidak hanya dari desa sebelah saja tapi juga dari lain Kabupaten bahkan luar kota juga ada.

Mbah Mukri juga adalah salah satu dari sekian banyak dukun pijat bayi tradisional yang ada di wilayah Kencong dan sekitarnya, di daerah lain juga ada orang yang berprofesi sebagai dukun pijat bayi tradisional yang juga tidak pernah sepi pelanggan.

Barangkali bagi sebagian orang yang pro dengan alternatif kesehatan ala dokter, menganggap bahwa hal-hal yang begini ini hanyalah sebuah tren di kalangan menengah ke bawah karena alasan kesulitan ekonomi atau bahkan karena kurangnya edukasi. Tapi penulis memandang hal ini adalah suatu fenomena langka dan membuktikan bahwa betapa luas ilmu Allah. Sebagai mana yang terdokumentasikan dalam Q.S. Al-Kahfi [18] ayat 109.


قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادࣰا لِّكَلِمَـٰتِ رَبِّی لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَـٰتُ رَبِّی وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدࣰا

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” [Surat Al-Kahfi (18): 109]

Sebagai Dzat yang menciptakan, memberikan ilmu, dan mengatur seluruh alam raya, tentunya Allah mengetahui segala hal yang telah dan akan terjadi di alam raya ini. Semua yang diketahui manusia, sudah pasti diketahui lebih dahulu oleh Allah SWT, karena yang menciptakan tentu lebih dahulu (qadim) dari yang diciptakan. Tetapi tidak sebaliknya, apa yang diketahui Allah SWT, belum tentu dapat dipahami atau sekadar diketahui oleh makhluk-Nya.

Allah memberikan sedikit ilmu-Nya pada seorang dokter, maka dengan pengetahuannya dan dibantu dengan peralatan medisnya maka ia bisa menyembuhkan seorang pasien atas izin Allah. Juga Allah memberikan sedikit ilmu-Nya kepada seorang tukang pijat bayi (sebagai contoh), dengan kepekaan perasaannya ketika memijat seorang bayi, dengan tingkat ketajaman mata batinnya sehingga memijat dengan tepat di titik-titik tertentu yang mungkin orang awam tidak tau, maka ia bisa menyembuhkan bayi tersebut atas izin Allah.

Nah sekarang tinggal bagaimana cara pandang kita mengenai hal tersebut. Pada intinya kita tidak boleh terlalu ekstrem dalam menyelesaikan persoalan hidup termasuk soal kesehatan. Misal kalau tidak ke klinik atau ke rumah sakit tidak akan sembuh dari sakit begitupun sebaliknya. Apakah dokter sentris ataupun pengobatan tradisional sentris. Semuanya sama berasal dari sedikit ilmu Allah yang dititipkan, dan kesembuhan atas izin Allah.

Waallahu A’lam Bishshawab