Musy Kullu Dunya Dunya

Musy Kullu Dunya Dunya

Bagikan sekarang

Oleh: Ahmad Zuhairuz Zaman, B.Sc., M.H. (Dekan Fak. Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam INAIFAS)

Siang hari di suatu Jumat, saya keluar dari asrama kampus kuliah Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff menuju ke sebuah masjid di perkampungan lembah Aidid, dekat kota Tarim Hadramaut Yaman. Tidak jauh, hanya perlu 10-15 menit berjalan kaki menuju lokasi. Pada musim panas, biasanya saya menggunakan syal atau sorban sebagai kerudung untuk melindungi wajah dari terik matahari.

Di separuh perjalanan, tiba-tiba dari belakang saya datang mobil sedan lansiran tahun 90-an dengan kelir khas taksi berjalan pelan mendekati. Di Tarim Hadramaut, banyak taksi pribadi (bukan perusahaan Argo) dengan warna khas putih dan kuning serta tulisan besar berbunyi li al-Ujrah. Tampak sang sopir memberi kode menawarkan jasa, saya pun menolak dengan halus. Saya bilang kepadanya, “Baghaytu ilal masjid, qorib bas.” Saya beralasan mau ke masjid, dekat saja kok. Namun alasan sebenarnya dalam hati adalah eman-eman alias ogah keluar 20 real Yaman untuk ongkos taksi. 

Tak mau menyerah, bapak sopir kembali menawarkan jasa seraya bersuara agak keras tapi bersahabat, “Yallah ithla’! Balasy, ya Indunisiy!” yang artinya, “Ayolah naik! Gratis kok, wahai orang Indonesia!” Wah cocok ini, tawaran tumpangan gratisan di tengah cuaca terik begini eman-eman kalau ditolak. Maka sambil tersenyum girang yang ditahan, saya segera masuk mobil taksi tua tersebut. Setelah mobil mulai berjalan, bapak sopir membuka obrolan. Di tengah obrolan kami yang singkat itu, sang sopir menyelipkan pesan yang membekas bagi saya sampai sekarang. Ia mengatakan, “Musy kullu dunya dunya.” Kurang lebih artinya, “Tidak semua perkara duniawi dinilai dengan dunia”. Duh, dengan halus dan bijak bapak sopir menyindir saya yang telah mengira bakal ditarik ongkos taksi olehnya, karena dari luar nampak mobilnya memang khusus untuk kendaraan komersial.

Terlepas dari sabab wurud-nya pesan bapak sopir taksi tua di atas, kita bisa mengambil faidah makna redaksi pesan “Musy Kullu Dunya Dunya” secara umum al-lafdzi (universalitas teks). Seperti ketika proses ujian yang saya alami di tiga kali ujian dalam tiap semester (dua kali syahriy atau UTS dan sekali fashliy atau UAS). Saya mau tidak mau harus belajar di tiap ujian bulanan dan akhir semester yang sangat killer di Al-Ahgaff. Pada mulanya saya merasa terpaksa belajar kitab-kitab materi kuliah, karena takut gagal ujian. Mencari nilai ujian semester untuk mendapatkan gelar akademik tentu terasa masih kental sisi duniawinya. Jika dihadapkan dengan spirit motivasi belajar agama yang ideal, tentu niat belajar saya tidak cukup baik, atau kurang ikhlas.

Namun beruntung, ada satu teman saya yang punya solusi dalam menghadapi kegundahan hati tentang niat dan motivasi belajar di kampus. Teman saya mengatakan bahwa niat belajar agar bisa lulus ikhtibar (ujian) itu kita anggap saja sebagai sarana agar kita bisa kontinyu melanjutkan belajar, karena kalau sampai kita gagal ujian dan tidak lulus semester, berarti kita bisa kehilangan kesempatan belajar materi ilmu yang lebih tinggi di semester selanjutnya. Saran yang keren!

Dosen saya, Syaikh Muhammad Ali Ba’udhan hafdzahullah, juga sering menasehati para mahasiswanya agar jangan sampai kegiatan di luar mengganggu belajar di perkuliahan. Beliau yang juga anggota Dewan Ifta’ Tarim, sering mewanti-wanti, “Lakin la takun ‘ala hisabil kulliyyah,” artinya jangan sampai mengorbankan kuliah.  

Permisalan lain adalah dikotomi pendidikan agama dan pendidikan umum, yang selama ini ada di alam bawah sadar. Pendidikan agama ditemukan di madrasah, sedangkan pendidikan umum di sekolah. Begitiah lumrahnya yang terjadi. Padahal menurut bahasa, keduanya mempunyai arti yang sama. Dalam buku Agama Anugerah Agama Manusia (2016), Gus Mus (KH. Musthofa Bisri) hafidzahullah, mengatakan bahwa,agama, dengan adanya pandangan dikotomis seperti itu, menjadi sempit maknanya. Apakah atau apa saja ilmu yang dapat disebut ilmu agama, dan apakah atau apa saja ilmu yang dapat disebut ilmu umum? Apakah ilmu Nahwu dan Sharf termasuk ilmu agama (karena diajarkan di hampir semua pesantren); padahal itu adalah gramatika (Arab)? Sebaliknya apakah Ilmu Alam itu termasuk ilmu umum; padahal maudhu’-nya ilmu ini adalah ayat-ayat kauniyah yang dapat menebalkan iman?

Masih menurut Gus Mus, lebih masuk akal dan jelas adalah pandangan Imam Ghazali, misalnya. Sang Hujjatul Islam mengklasifikasi ilmu dengan mempertimbangkan segi kebutuhan dan tuntutan. Ilmu yang menjadi kebutuhan dasar tiap individu manusia, baik untuk kemaslahatan di dunia maupun di akhirat maka hukumnya fardlu ‘ain. Sedangkan ilmu yang dibutuhkan masyarakat untuk kemaslahatan secara umum dan cukup terwakili oleh sebagian orang, maka hukumnya fardlu kifayah.

Hakikatnya dalam beragama, kita tidak diperintahkan untuk menghindari aktifitas duniawi. Diceritakan oleh Sayyidina Abdullah bin Abbas, radliyallahu ‘anhuma, bahwa dahulu kala ‘Ukazh, Majannah, dan Dzul Majaz, adalah pasar-pasar yang populer pada masa Jahiliyyah. Ketika mereka telah memeluk agama Islam, mereka (kaum muslimin) merasa berdosa berjualan (berdagang) lagi di dalamnya. Maka Allah ta’ala menurunkan firman-Nya dalam Surat al-Baqarah, Ayat 198:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلاً مِّنْ رَّبِّكُمْ 

Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhan kalian (Allah)….”

Namun juga sebaliknya, ternyata tidak semua hal yang kita anggap kental dan khas dengan agama itu pasti bernilai ukhrawi. Diceritakan ada seorang tamu yang sowan kepada almaghfurlahu Syaikhina KH. Maimoen Zubair Sarang Rembang, rahimahullah, minta restu akan membangun pondok. Ternyata beliau malah menegur dengan keras.  Dengan suara yang lantang beliau dawuh ;

ﻭَاللهِ ﺍﻟﻌَﻈﻴْﻢِ ﺍﻟﻔُﻮﻧْﺪُﻭﻙ  ﻟَﻴْﺲَ ﻭَﺳِﻴْﻠَﺔً إِﻟﻰَ ﺍﻟﺠَﻨَّﺔ ﻭﺇﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﻮَﺳِﻴْﻠَﺔ هِيَ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴْﻢُ.

Demi Allah Dzat Yang Maha Agung, pondok bukan wasilah ke surga. Yang menjadi wasilah adalah ngajinya!

Beliau meneruskan dawuh; “Pondok iku dunyo. Akeh kiai seng gak faham, mergo pondok iki nek kyaine mati, anake podo rebutan. Iki ndudohno nek pondok iki ndunyo.
(Pondok itu termasuk bagian dari dunia (fana), banyak kiai yang tidak paham. Karna pondok itu kalau kiainya meninggal, anak anaknya saling berebut. Itu menunjukan bahwa pondok itu bagian dari dunia (fana).

Wallahu a’lam…

Cryptocurrency ₿₿₿, Cara Lain Biar Kaya. Benarkah?

Cryptocurrency ₿₿₿, Cara Lain Biar Kaya. Benarkah?

Bagikan sekarang

Uliyatul Mu’awwanah, M.E.I

Kaprodi Ekonomi Syariah INAIFAS Jember

Masih seputar pandemi, PPKM sudah persis sekuel film alias bersambung. Bagi pedagang kecil mungkin ini bagaikan neraka. Bahkan katanya, kesulitan ekonomi tidak berlaku bagi mereka yang bekerja dengan basis gaji honorer/ rutinan. Tapi asal netizen tahu juga, fenomena resesi ekonomi sebenarnya bukan hanya dirasakan oleh pedagang kecil, karena sebagai konsumen saya pun juga kesulitan berbelanja. Jika mau beli ini itu, seringkali stok kosong akibat banyaknya outlet dan toko yang tutup. Bukan karena profesi seperti yang saya jalani yang dianggap stabil secara finansial, tapi keberlangsungan hidup manusia tidak serta merta hanya diukur dari ketersediaan harta yang ia miliki. Jika manusia tidak makan, meski dia punya duit, tetap akan mati. Bukankah demikian?

Dalam 10 tahun terakhir, isu fundamental lain bab ekonomi, episode pandemi, juz keuangan, pasal investasi, ayat trading, lahir juga sebuah rumor paling populer selain efek di kalangan para trader maupun investor yakni Cryptocurrency (mata uang kripto) alias ₿₿₿. Per Juli 2021, pertumbuhan investor pemegang rekening Cryptocurrency berjumlah 6,2 juta orang, nominal ini sedikit lebih tinggi dengan catatan BEI yang berjumlah 5,6 juta investor. Sebagaimana mata uang lainnya, misalnya di Indonesia dengan mata uang rupiahnya, Amerika Serikat dengan US Dollar, Britania Raya dengan Poundsterling dan seterusnya, mata uang Kripto juga beragam jenis di antaranya, Ethereum, Binance Coin, dan Cardano. Namun dari sekian banyak Cryptocurrency yang dinilai paling tinggi signifikansinya terhadap valuasi pasar US Dollar adalah Bitcoin. Ini artinya value bitcoin dan US Dollar adalah ekuivalen, jika 1$ senilai Rp. 14.000, maka tiap fraksi bitcoin juga senilai Rp 14.000. Hal ini akan dilihat sebagai another option bagi mereka yang ingin memecah asset nya (diversifikasi resiko) ke dalam store of value selain emas, tanah, atau aset tak bergerak lainnya. Lantas apa bedanya mata uang kripto dengan mata uang konvensional? Inilah yang membuat saya kepo untuk menelisik lebih dalam dengan memposisikan diri sebagai analis sekaligus manusia yang bercita-cita ingin tajir melintir dunia akhirat. Doakan, ya gaes!

Sejujurnya, yang paling membuat saya tertarik sekaligus curiga dari Cryptocurrency adalah teknologi blockchain di belakang sistem operasionalnya. Teknologi ini merupakan bentuk pengembangan dari enkripsi yang terdesentralisasi. Transaksi mata uang kripto dilakukan langsung secara peer-to- peer oleh pengirim ke penerima, tidak perlu adanya intervensi antar manusia (frictionless) sehingga tidak ada perantara dalam transaksi yang terjadi baik dari goverment, perbankan maupun pihak ketiga manapun.

Dengan kata lain, transaksi ini tidak dapat “diganggu” karena tidak ada otoritas pemerintah di atasnya. Eksistensi mata uang kripto juga Based on Supply Demand (berdasarkan permintaan dan penawaran), namun Bitcoin (₿₿₿),merupakan mata uang digital yang sejak awal pembuatan sudah ditetapkan jumlahnya, artinya ini terbatas sebagaimana dalam teori ekonomi bahwa faktor kelangkaan akan menjadikan nilai suatu barang menjadi bertambah. Di sisi lain, teknologi blockchain yang dipakai dalam Cryptocurrency mampu menciptakan safeness/ keamanan  lebih tinggi bagi pemiliknya. Blockchain sendiri merupakan semacam buku besar yang digunakan untuk membukukan data dari jaringan komputer yang berbeda-beda. Keterbukaan dalam proses tracing data menjadikan aspek transparansi keuangan menjadi lebih efektif dan independen. Kurang lebih begitu lah ya, gaes! Maklum sebagai penikmat teknologi saya hanya tahu rasa tapi nggak tahu apa namanya. Bingung sendiri kalau hendak menjelaskan algoritma kriptografi dengan basis matematika yang rumit.  Dalam istilah Jawa, weruh rasane lali rupane.

Di Indonesia, Cryptocurrency masih menjadi perdebatan. Hasil Bahtsul Masail tentang “Halal Haram Transaksi Kripto” di Yogyakarta, Sabtu 19 Juni 2021, menghimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan transaksi ini jika tidak memahaminya secara komprehensif sekaligus memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk segera membuat regulasi (Decision by the Government). Di China, mereka memutuskan untuk membuat kriptografinya sendiri. Di Amerika, ini di anggap sebagai pasar. Adapun di Amerika Latin, beberapa praktisi bahkan sudah menggunakannya dalam transaksi kehidupan sehari-hari. Di Afrika, bagaimana? 1 dari 3 penduduk Nigeria bahkan telah memilih menyimpan hartanya ke dalam  Cryptocurrency. Untuk itu, dengan semakin diterimanya mata uang kripto dalam skala global, kita perlu lebih jeli dalam menghadapi situasi, karena hal semacam ini juga dapat menimbulkan resiko kestabilan moneter di samping resiko underground economy jika masyarakat menjadikannya sebagai private digital currency. Tapi di sisi lain, mata uang kripto juga sangat efektif alias tidak ribet, karena pada akhirnya, tipologi manusia cenderung akan memilih jalan yang paling aman untuk dapat mentransfer kekayaan kepada ahli warisnya kelak.

Dengan demikian, untuk para pembaca, satu-satunya hal yang perlu diingat dan digarisbawahi ialah bahwa mata uang jenis ini masih sangat spekulatif. Ada kesempatan, namun juga mengandung resiko. Perlu kejelian dan kewaspadaan. Jadi, akhirnya, jangan salahkan pedangnya jika digunakan membunuh orang, namun akan menjadi suatu kebodohan jika hanya memakai pedang untuk sekadar mengiris bawang! Aha! Salam Cuan, Gaes!

Keterkaitan Haji dan Menikah di Bulan Dzul Hijjah

Keterkaitan Haji dan Menikah di Bulan Dzul Hijjah

Bagikan sekarang

Oleh: Ahmad Zuhairuz Zaman, B.Sc., M.H.

(Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam INAIFAS)

Sudah jamak bagi kita umat Islam bahwa salah satu larangan bagi orang yang berstatus muhrim (orang yang sedang berihram haji atau umrah) adalah melaksanakan akad nikah sampai selesai dari seluruh rangkaian manasiknya atau tahallul tsani. Hal itu didasarkan hadits Nabi Muhammad ‘alayhi as-shalatu wa as-salam, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Orang yang berihram tidak boleh menikah dan menikahkan.”

Kedua amal kebaikan (haji dan menikah) yang tidak bisa dilakukan secara bersamaan ini ternyata memiliki tautan yang menarik secara korelatif dan komparatif, terutama dalam pelaksanaan keduanya di Bulan Dzul Hijjah.

Dzul Hijjah atau Bulan Besar dalam tradisi muslim Nusantara adalah bulan yang istimewa dengan banyaknya ritual keagamaan yang dianjurkan pada bulan tersebut. Bulan ini juga disebut dengan bulan haji dan bulan musim kawin. Meskipun untuk waktu pelaksanaan nikah tidak ada waktu khusus, namun melangsungkan akad nikah pada Dzul Hijjah sudah mentradisi di kalangan muslim Nusantara.

Mengenai penentuan bulan atau hari baik untuk pelaksanaan pernikahan sebenarnya tidak ada dasar atau dalil yang pasti, meskipun terdapat pendapat para fuqaha’ tentang anjuran dilaksanakannya pada hari Jumat, karena hari tersebut adalah hari yang mulia dalam Islam.

Namun, ada sebagian riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad ‘alayhi asshalatu wa assalam, menikahkan putri terkasihnya Sayyidah Fathimah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib pada awal bulan Dzul Hijjah. Riwayat ini populer di kalangan Syi’ah. Sedangkan riwayat lain menurut Ibn Sa’ad dalam Al-Thabaqat Al-Kubra mengatakan bahwa Sayyidina Ali menikahi Sayyidah Fathimah di bulan Rajab setelah lima bulan sejak kedatangan Nabi Saw ke Madinah. Kemudian Sayidina Ali berkumpul dengan Sayyidah Fatimah setelah pulang dari perang badar, dan usia Fatimah saat berkumpul dengan Sayidina Ali berusia delapan belas tahun.

Terlepas dari perbedaan riwayat tentang waktu pernikahan Sayyidina Ali dengan Sayyidah Fatimah, Bulan Dzul Hijjah adalah termasuk bagian dari empat bulan Haram yaitu empat bulan mulia dalam Islam, yaitu Dzul Qa’dah’ Dzul Hijjah, Muharam dan Rajab.

Sebenarnya keempat bulan tersebut ditetapkan sebagai Bulan Haram sudah terjadi pada masa Jahiliyah, asal muasalnya adalah karena pada Bulan Dzul Qa’dah sampai Bulan Muharram masyarakat Arab melaksanakan ibadah Haji dimulai berangkat menuju Makkah pada bulan Dzul Qo’dah dan kembali dari Makkah ke daerah masing-masing pada Bulan Muharram. Kemudian pada Bulan Rajab mereka biasanya melaksanakan ibadah umrah.

Maka untuk menghormati jamaah haji dan umrah, Bangsa Arab pada masa jahiliyah sepakat untuk tidak melakukan peperangan pada bulan-bulan tersebut, dan jika ada dua kabilah yang saling berperang, maka kedua kabilah harus melakukan gencatan senjata untuk sementara. Tradisi ini kemudian diakui dalam Islam sebagaimana dalam surat Al-Taubah ayat 36. Meskipun tradisi lama jahiliyah tentang Bulan Haram diapresiasi oleh Islam, nama ada pula keyakinan jahiliyah yang ditolak, yaitu pantangan menikah pada bulan-bulan haji.

Beberapa sisi keterkaitan antara haji dan menikah antara lain sebagai berikut:

Pertama. Pertemuan dimensi ukhrawi dan duniawi. Meskipun haji identik dengan pola hidup sederhana, menghindari nafsu dan syahwat manusia, namun Allah ta’ala menganjurkan kita untuk berdoa kebaikan dunia dan akhirat. Redaksi doa tersebut adalah:

‎رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Di mana do’a ini banyak dipanjatkan ketika thawaf dan berada di antara ar-Rukun al-Yamani dan al-Hajar al-Aswad (HR. Abu Dawud).

Juga ketika selesai menunaikan rangkaian ibadah haji sebagaimana ditunjukkan dalam surat Al-Baqarah ayat 200-201. Ketika musim haji juga banyak jamaah haji yang juga berniaga dan berbisnis memanfaatkan keramaian musim haji. Dan Islam tidak melarang hal tersebut sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Baqarah ayat 198.

Dimensi yang sama juga ditemukan dalam pernikahan. Meskipun pernikahan identik dengan hajat biologis manusiawi, tetapi menikah adalah bagian dari sunnah para rasul. Konon pernikahan pertama kali dilakukan oleh Nabi Adam dan Ibu Hawa dengan dua saksi utama dari bangsa malaikat, yaitu Malaikat Isrofil dan Malaikat Mikail.

Saksi pertama yaitu Isrofil yang merupakan representasi dari dimensi ukhrawi karena tugasnya adalah meniup terompet sangkakala. Bunyi sangkakala adalah salah satu tanda perpindahan dari alam dunia ke alam akhirat. Kemudian saksi kedua adalah Mikail yang merepresentasikan dimensi duniawi karena tugasnya membagi rizki semasa hidup manusia di dunia.

Keduanya melambangkan bahwa pernikahan adalah hubungan yang agung, dan lintas alam. Pernikahan abadi tidak hanya untuk seumur hidup atau sehidup semati, tetapi yang bisa berlanjut sampai di akhirat nanti.

Kedua. Jaminan kecukupan dari Allah.
Di antara faktor belum terlaksananya ibadah haji dan menikah bagi sebagian umat Islam adalah takut miskin, padahal ia mampu untuk melaksanakannya. Alasan ini sudah pernah disinggung oleh Al-Quran dan Hadits Nabi.

Hal itu ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengasara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 27-28)

Dalam hadits juga terdapat keterangan bahwa haji dan umrah bisa menghapus dosa dan kefakiran. Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387.

Begitu juga dalam pernikahan. Al-Quran menjamin pernikahan tidak akan menjadikan seseorang jatuh miskin, dan Allah akan mencukupi kedua pasangan yang menikah.
Allah ta’ala berfirman:

‎وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٣٢

Artinya: “San nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kalian, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Dermawan lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur Ayat 32).

Orang yang mau menikah juga termasuk diantara golongan yang akan ditolong oleh Allah ta’ala. sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihiwasallam:

‎ثلاثة حق على الله عونهم: المجاهد في سبيل الله، والمكاتب الذي يريد الأداء، والناكح الذي يريد العفاف

Artinya: “Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (dengan membayar uang kepada majikannya) dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR. Imam at-Tirmidzi)

Ketiga. Penyempurna agama bagi seorang muslim. Haji merupakan ibadah seumur hidup sekaligus simbol kesempurnaan agama dan ibadah pamungkas. Karena kewajiban untuk melaksanakan haji yang dibebankan kepada seorang muslim yang sudah mukallaf hanya sekali berbeda dengan rukun-rukun Islam yang lain.
Tentang hal tersebut, Allah SWT menurunkan ayat surah al-Maidah ayat 3 pada waktu Rasulullah melaksanakan haji wada’.

Allah berfirman:

‎الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. al-Maidah: 3)

Rasulullah Saw juga bersabda. “Barang siapa yang mati dan belum sempat ibadah haji padahal dia mampu, maka hendaklah ia menjadi sebagai Yahudi dan Nasrani.” (HR. At-Tirmidzi).

Imam Ghazali manjelaskan, maksud hadis tersebut adalah barang siapa yang meninggal dan belum haji padahal mampu atau meninggal dalam keadaan tidak mampu setelah sebelumnya memiliki kemampuan untuk melakukannya, maka dia adalah orang yang durhaka kepada Allah semenjak dia mampu hingga meninggal dunia dan Islamnya tidak sempurna. 

Menikah juga disebut sebagai penyempurna separuh agama. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎من رزقه الله امرأة صالحة فقد أعانه على شطر دينه فليتق الله في الشطر الباقي

Artinya: “Siapa yang diberi karunia oleh Allah seorang istri yang salihah, berarti Allah telah menolongnya untuk menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu, bertaqwalah kepada Allah di setengah sisanya.” (HR. Baihaqi).

Maksud dari menyempurnakan separuh agama dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin sebagaimana berikut:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa yang menikah, berarti telah melindungi setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah agamanya yang kedua.”

Ini merupakan isyarat tentang keutamaan nikah, yaitu dalam rangka melindungi diri dari penyimpangan, agar terhindar dari kerusakan. Karena yang merusak agama manusia umumnya adalah kemaluannya dan perutnya. Dengan menikah, maka salah satu telah terpenuhi.”

Keempat. Pertentangan antara kebutuhan untuk menikah dan kewajiban haji.

Hukum asal haji adalah wajib bagi yang mampu, sedangkan hukum asal menikah adalah sunnah. Akan tetapi dalam menikah bisa berlaku semua kategori hukum taklif yang berjumlah lima. Menikah bisa menjadi wajib ketika seorang mukallaf sangat membutuhkan untuk menikah karena takut terjerumus dalam zina dan ia mempunyai modal untuk menikah, maka ia wajib menikah untuk menghindari perbuatan zina.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka jika seorang pria mempunyai harta yang cukup untuk haji, akan tetapi ia sangat membutuhkan harta itu pula untuk modal menikah, dan dia takut dirinya terjerumus zina, jika tidak segera menikah, maka ia harus mendahulukan menikah, karena itu adalah kewajibannya.

Dalam hal ini menurut Ibn Qudamah, hukum kebutuhan terhadap menikah sama seperti hukum kebutuhan terhadap nafkah. Dan sebaliknya jika ia tidak takut terjerumus dalam zina, maka ia harus mendahulukan haji, karena hukum menikahnya sunnah, maka tidak boleh mengakhirkan haji yang wajib.

Imam Al-Syirazi mengatakan “Jika seseorang butuh menikah dan dia takut zina, maka didahulukan nikah, karena kebutuhan untuk nikah dalam hal ini lebih mendesak, sementara haji bukanlah ibadah yang sifatnya mendesak.”

Pernyataan Imam Al-Syirazi di atas kemudian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (juz 7 hal. 49) bahwa sebaliknya jika tidak ditakutkan adanya perzinahan, maka penggunaan harta untuk membayar ongkos naik haji lebih diutamakan.

Penjelasan Imam Asy-Syirazi dan Imam Nawawi didasarkan pada kenyataan bahwa hukum menikah bisa berubah-ubah tergantung pada kondisi. Misalnya nikah menjadi wajib jika ditakutkan adanya fitnah jika tidak disegerakan, sedangkan di sisi lain kewajiban haji sifatnya bukanlah kewajiban fawriyyah (yang disegerakan seperti berpuasa saat Ramadhan tiba), namun bersifat al-taraakhi (boleh ditunda).

Bagi penulis, pertentangan antara kebutuhan menikah dan kewajiban haji pada masa sekarang amatlah mudah disiasati. Jadi kasus tersebut semestinya amat langka ditemukan pada masa sekarang. Sebagai solusi, orang yang berada pada kondisi tersebut bisa melakukan akad nikah terlebih dahulu dengan mas kawin (mahar) yang ditempo. Kemudian setelah “bulan madu” sekadarnya, ia bisa berangkat haji dengan harta yang dia miliki saat ini.

Sedangkan walimah nikah atau resepsi perkawinan bisa dilakukan setelah pelaksanaan haji. Perjalanan haji reguler di masa sekarang bisa dilakukan hanya dalam waktu 40 hari, waktu yang singkat jika dibandingkan dengan waktu perjalanan haji masa dulu yang biasanya ditempuh dalam waktu enam bulan atau lebih, karena hanya bisa melalui jalur laut.

Bahkan sekarang banyak jamaah haji yang melangsungkan akad nikah di tanah Haram setelah selesai melaksanakan rangkaian manasik haji (tahallul tsani) sekaligus bertabarruk dengan melaksanakan aqad nikah dan honey moon di tanah Haram dan di bulan Haram (Dzul Hijjah).

Mengkaji tentang hubungan antara haji dan menikah ini, penulis terinspirasi oleh dawuh al-Maghfurlah Simbah KH. Maimoen Zubair rahimahullah, dalam mauidzoh di salah satu acara walimah nikah. Kurang lebihnya beliau mengatakan dalam bahasa Jawa: “Nikah kuwi podo plek karo haji. Bedane jamaah haji karo manten anyar, nek haji sabuke kudu dirapetke, nek manten anyar sabuke kudu dikendo’ke.”

Wallahu a’lam bishawab.

Jamaah Haji, Investasi Syariah dan Idul Qurban

Jamaah Haji, Investasi Syariah dan Idul Qurban

Bagikan sekarang

Oleh : Uliyatul Mu’awwanah, M.E.I (Kaprodi Ekonomi Syariah Inaifas Kencong Jember)

Perihal dana Haji, memang senantiasa menjadi  HOT ISSUE untuk  diperbincangkan. Bahkan bagi sebagian orang hal ini dapat menjadi bahan bulan-bulanan untuk berjulid ria. Bagaimana tidak? Jumlah dana haji mencapai triliunan, tenor atau periode waktu tunggu yang sangat lama mencapai 20 tahun. Jika tingkat literasi masih juga rendah , kita akan sangat rentan menjadi target sasaran informasi  hoax.

Sejak Maret 2020, Indonesia bahkan seluruh negara di dunia dilanda pandemi. Bencana covid 19 ini memberikan dampak besar hingga ke seluruh sendi sendi masyarakat, termasuk ketertundaan antrian pemberangkatan para jamaah haji indonesia yang semakin memanjang. BPKH sebagai lembaga pengelola keuangan dana haji ikut serta merasakan dampaknya. Selain keterbatasan quota yang diberikan oleh pemerintah arab saudi, indonesia memang menjadi satu satunya negara dengan antusiame tinggi untuk pergi ke Tanah Suci, sedangkan jatah quota yang ditetapkan lebih rendah. Selain Pandemi, hal ini menjadi faktor penghambat yang menyebabkan durasi periode waktu tunggu terasa kadaluwarsa. Itulah mengapa jeda waktu tunggu yang mencapai 20 tahun menjadi PR besar bagi BPKH untuk mengelola dana para jamaah. Melihat hal tersebut, BPKH telah melakukan strategi di antaranya dengan cara menginvestasikannya. Investasi yang di pilih ialah investasi berbasis syariah, mengingat dan menimbang bahwa haji ialah kewajiban dan ritual bagi umat muslim, maka jenis investasi yang dilakukan harus selaras dengan tuntunan syariat islam. Dimulai dari bekerja sama dengan Perbankan Syariah sebagai mitra distribusi, peruntukan investasinya hanya untuk bisnis halal seperti sewa jangka panjang hotel di Makkah dan Madinah (karena tanah di sana tidak dapat diperjualbelikan), sewa jangka panjang pesawat terbang yang mana transaksi tersebut hanya menggunakan dolar sebagai alat tukarnya. Di sisi lain, portofolio investasi yang dilakukan BPKH ada pula yang berbentuk surat berharga syariah negara (SBSN) atau biasa disebut Sukuk dengan keuntungan yang digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, ada lagi Green Sukuk yang 100% hasilnya digunakan untuk membiayai proyek mitigasi dan pengoptimalan adaptasi terhadap perubahan iklim serta pelestarian keanekaragaman hayati. Sebagaimana data yang diperoleh dari Humas BPKH dalam cuitannya di berbagai media, portofolio investasi besar lainnya dalam pengelolaan dana haji terdapat di pasar modal syariah. Tentunya hal ini dilakukan dalam rangka diversifikasi resiko.  Selain itu, pengamat ekonomi syariah Bapak Adimarwan Karim dalam dialog CNBC Indonesia  juni 2021, beliau mengungkapkan bahwa undang-undang BPKH tentang investasi dana haji  yang dilakukan harus memenuhi 2 syarat, pertama tidak boleh rugi/ harus untung; kedua harus liquid atau status aktiva berada pada posisi cukup kas/ berupa aset yang mudah dicairkan untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran. Oleh karenanya, dana haji memang harus diinvestasikan agar tetap aman dan terhindar dari dampak inflasi serta penurunan nilai akibat fluktuasi rupiah.  

Bagi saya pribadi, hal ini merupakan suatu pahala besar yang akan diperoleh para calon jamaah haji reguler karena menjadi lantaran terwujudnya nilai kebermanfaatan bagi bangsa Indonesia, atau jika tidak sabar dengan periode waktu tunggunya, para jamaah bisa  switch dana haji reguler menjadi haji plus, he he he

Dengan demikian, literasi menjadi penting untuk ditingkatkan . terlebih dalam keadaan susah karena pandemi seperti sekarang ini. Selain mampu menangkis hoax, tingkat literasi yang baik juga akan menuntun kita menjadi bangsa  dengan solidaritas tinggi, memiliki tingkat Ukhwah Islamiyah dan Ukhwah Wathaniyah yang tinggi pula, serta memiliki kesediaan mengesampingkan kepentingan pribadi dan senantiasa optimis untuk bangkit bersama.

Percayalah, investasi yang dilakukan BPKH adalah untuk kemaslahatan umat, transaparansi dan akuntabel dalam manajemen tata kelola keuangan publik yang telah dilakukan tiada lain untuk membangkitkan rasa bangga dan rasa memiliki karena uang kita sedang dikelola oleh pihak yang tepat, berhentilah memupuk prasangka negatif, pemerintah tentunya sedang berjibaku untuk memulihkan ini semua. Semoga ini menjadi pahala sekaligus arti lain dari Berqurban untuk sesama. 

Wallahu a’lam Bisshawaab…..

Akhir kata,  Selamat Idul Adha untuk kita semua

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu Akbar Walillaahil Hamd

Bolehkan Orang Kaya Menerima Daging Kurban Wajib ?*

Bolehkan Orang Kaya Menerima Daging Kurban Wajib ?*

Bagikan sekarang

Oleh: Akhmad Zaeni, M.Pd.I
(Wakil Rektor II INAIFAS)

Kesadaran semakin banyaknya masyarakat yang berqurban setiap tahun harus diapresiasi. Hanya saja, fenomena qurban di daerah kita sangat kompleks. Kita harus berusaha sedikit demi sedikit untuk mengawal dan memberi arahan kepada masyarakat terkait hal-hal yang berkaitan dengan qurban. Mulai tata cara niatnya hingga sistem pembagian dagingnya.

Sementara ini masyarakat memiliki pemahaman berbeda antara pembagian daging kurban dan pembagian zakat, yakni pembagian daging Qurban harus merata tanpa mempertimbangkan kaya ataupun miskin. Berbeda dengan pembagian zakat yang hanya berhak diterima oleh mustahiq zakat khususnya fakir miskin.

Pemahaman tersebut bisa dibenarkan apabila qurbannya adalah qurban sunnah, yakni bukan qurban nadzar ataupun qurban mu’ayyan. Keduanya bisa dirinci sebagai berikut:

  1. Qurban nadzar, misalnya seseorang bernadzar apabila dia memiliki anak laki-laki maka dia akan berqurban. Ternyata dia benar-benar dikaruniai putera laki-laki, maka wajib baginya untuk berqurban dalam rangka menunaikan nadzarnya.
  2. Qurban Mu’ayyan, misalnya ada seseorang yang berkata: “Sapi ini saya jadikan qurban”, maka secara otomatis dengan kalimat tersebut dia berkewajiban untuk berqurban. Dan untuk qurban mu’ayyan ini bisa terjadi bagi mereka yang memang memahami bahwa ucapan seperti di atas dapat menjadikannya wajib berqurban. Sehingga bagi orang awam yang tidak mengerti masalah tersebut, maka baginya tetap dihukumi qurban sunnah meskipun dia mengatakan “sapi ini saya jadikan qurban”.

Untuk qurban sunnah, distribusi dagingnya bisa dibagikan ke semua orang, yang penting muslim. Bahkan disunnahkan bagi yang berqurban untuk mengambil sedikit daging qurbannya dengan niat tabarrukan/ “ngalap berkah”. Namun untuk qurban wajib dalam madzhab Syafi’iyyah dagingnya harus dibagikan kepada fakir/miskin tidak boleh dibagikan kepada orang kaya, termasuk juga orang yang berkurban.

Kenyataan yang ada di masyarakat, masih jarang kita jumpai panitia qurban yang memilah antara daging kurban wajib dan qurban sunnah, sehingga rentan terjadi percampuran antara keduanya. Beberapa sebab hal ini terjadi adalah :

  1. Panitia belum mengetahui tentang perbedaan pembagian qurban wajib dan sunnah.
  2. Orang yang berkurban umumnya juga tidak tahu kalau ada dua hukum masalah qurban.
  3. Masyarakat menganggap tidak ada perbedaan antara qurban wajib dan sunnah dan lain sebagainya.

Fenomena ini yang menjadikan kami ingin memberi sedikit solusi dan informasi bagaimana cara kita menyikapinya:

  1. Panitia wajib memilah mana qurban wajib dan mana qurban sunnah, dan juga membedakan pembagian dagingnya.
  2. Jika cara pertama dirasa sulit, maka sebaiknya ada panitia penyembelihan qurban yang tergolong miskin untuk diberi bagian cukup banyak, kemudian dia merelakan bagian tersebut untuk diberikan pada orang kaya.
  3. Jika masih dirasa sulit, maka kita ikut pendapat madzhab lain yakni Madzhab Malikiyah dan Hanabilah yang memperbolehkan pembagian daging qurban wajib kepada orang miskin ataupun kaya.

Pada intinya kita harus tetap berusaha menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat, meskipun dalam penerapannya harus step by step (alon-alon pokok kelakon, dalam istilah Jawa). Semoga bermanfaat.

Kencong. Malam Idul Adha 1442 H./19 Juli 2021 M.

Referensi :

موهبة ذى الفضل ج 4 ص 698
(قوله فلا يجوز له) اى للناذر تفريع المتن (قوله اكل شيئ منها) اى من الاضحية المنذورة وما الخق بها ولا اطعام الاغنياء منها كما بحثه ابن قاسم

شرح الياقوت النفيس ص 825
تنبيه : من اشترى شاة و قال : (هذه أضحيتى ) … لزمته و وجب التصدق بلحمها كله , إنما بعض المتأخرين قال : لا تجب بالنسبة للعامة لأن العامي معذور لأنه لا يدرك معنى ما قاله و لا يقصد به النذر و العبارة إنشاء لا إقرار يعنى غير مقر بأنها أصبحت أضحيته , بمعنى : هذه الشاة التي أريد أن أضحي بها . و فرق بين نية النذر و نية الإخبار كما قال في حاشية الياقوت : ينبغي أن يكون محله ما لم يقصد الإخبار

بغية المسترشدين – (ج 1 / ص 548)
(مسألة : ب) : ظاهر كلامهم أن من قال : هذه أضحية أو هي أضحية أو هدي تعينت وزال ملكه عنها ، ولا يتصرف إلا بذبحها في الوقت وتفرقتها ، ولا عبرة بنيته خلاف ذلك لأنه صريح ، قال الأذرعي : كلامهم ظاهر في أنه إنشاء وهو بالإقرار أشبه ، واستحسنه في القلائد قال : ومنه يؤخذ أنه إن أراد أني أريد التضحية بها تطوعاً كما هو عرف الناس المطرد فيما يأخذونه لذلك حمل على ما أراد ، وقد أفتى البلقيني والمراغي بأنها لا تصير منذورة بقوله : هذه أضحيتي بإضافتها إليه ، ومثله : هذه عقيقة فلان ، واستشكل ذلك في التحفة ثم ردّه ، والقلب إلى ما قاله الأذرعي أميل

الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (4/ 2739)
ويجوز الأكل من الأضحية ابمتطوع بها، اما المنذورة او الواجبة بالشراء عند الحنفية فيحرم الأكل منها… اما عند المالكية والحنابلة فيكوز الأكل من المنذورة والمتطوع بها. والمستحب أن يجمع المضحي في حالة التطوع أو في حالة النذر عند المالكية والحنابلة بين الأكل منها والتصدق والإهداء. ولو أكل الكل بنفسه أو ادخره لنفسه فوق ثلاثة أيام، جاز مع الكراهة عند الحنفية والمالكية

الفقه على مذاهب الأربعة
الحنابلة قالوا : يسن أكل ثلث الأضحية وإهداء ثلثها ولو لغني والتصدق بثلثها على الفقراء ولا فرق في ذلك بين المعينة والمنذورة وغيرهما إلا أن المعينة والمنذورة لا يجوز إهداء الكافر

شرح الروض المربع، حنبلي
(وسن أن يأكل) من الأضحية (ويهدي ويتصدق أثلاثا) (٣) فيأكل هو وأهل بيته الثلث، ويهدي الثلث، ويتصدق بالثلث، حتى من الواجبة (٤) .

Tingkatkan Minat Baca Keluarga, INAIFAS Gelar Sosialisasi di Kantor Kecamatan Jombang

Tingkatkan Minat Baca Keluarga, INAIFAS Gelar Sosialisasi di Kantor Kecamatan Jombang

Bagikan sekarang

Sebagai bagian dari bentuk pengabdian kepada masyarakat, INAIFAS kembali menggelar sosialisasi peningkatan melek literasi. Kali ini, kampus yang terletak di Kencong, Jember, itu bekerjasama dengan pihak Pokja 2 Tim Penggerak PKK Kecamatan Jombang. Acara ini digelar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Dalam sambutannya, Bapak Bastomi, S.Sos., Camat Jombang, menjelaskan, “Sosialisasi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat betapa pentingnya kegemaran membaca bagi pengembangan pribadi yang cerdas, berbudi luhur, mandiri dan bertanggungjawab baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat untuk memanfaatkan perpustakaan yang ada.” tutur pejabat asal Wonorejo ini.

Sesuai dengan tajuk kegiatan, “Meningkatkan Minat Baca Bagi Pendidik dan Orang Tua dalam Membacakan Buku pada Anak”, Ibu Dr. Titin Nurhidayati, M.Pd., sebagai narasumber menjelaskan pentingnya posisi keluarga, khususnya ayah-ibu, dalam meningkatkan kualitas literasi untuk buah hatinya.

Direktur Pascasarjana INAIFAS Kencong Jember ini menilai, minat baca yang rendah di kalangan anak-anak Indonesia sebaiknya tidak dianggap remeh. Sebab, buku adalah sarana pendidikan yang tepat untuk tumbuh kembang pada anak. Selain bermanfaat menambah wawasan, buku mengajarkan anak nilai-nilai budaya yang berlaku di masyarakat. Mengingat setiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda-abeda.  Lebih dari itu, buku juga dapat mengembangkan imajinasi anak yang akan berpengaruh pada kemampuan berinovasi.

“Jika minat baca yang rendah tersebut dibiarkan, dikhawatirkan bakal memicu dampak negatif di kemudian hari. Di antaranya, kreativitas yang tidak berkembang, kesulitan memahami atau menguasai masalah, mudah dipengaruhi hal-hal negatif, serta sulit bersosialisasi dan meningkatkan kualitas diri.” kata perempuan kelahiran Surabaya ini.

Masalah rendahnya minat baca ini pada akhirnya akan berdampak pada keberlangsungan peradaban bangsa. Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2019, indeks aktivitas literasi membaca memperlihatkan angka 37,32 persen. Di sisi lain, terjadi lonjakan peningkatan internet secara signifikan selama lima tahun terakhir.

“Oleh karena itu, untuk meningkatkan minat baca masyarakat, pemerintah desa juga dituntut untuk bisa menjadikan tempat yang menarik, nyaman serta sarana dan prasarana yang memadai guna menunjang keberadaan perpustakaan berupa hotspot areanya.  Saya berharap semua harus bisa bersinergi, baik itu support masyarakat maupun BPD, juga aparat desa untuk bisa mengambil kebijakan terkait bagaimana meningkatkan minat baca warganya, khususnya adalah melakukan penguatan pustaka dengan menjalin kerjasama dengan INAIFAS Kencong Jember melalui program perpustakaan keliling dan duta literasi. Kita berharap, kerjasama ini segera terwujud.” kata Bu Titin, sapaan akrabnya. Acara yang diselenggarakan di pendopo Kecamatan Jombang, Selasa (22/06), berlangsung sejak pagi hingga siang. 80 orang peserta, yang mayoritas ibu-ibu, tampak antusias mengikuti acara ini. Apalagi ketika Bu Titin menyampaikan tips merangsang minat baca anak, dan kesanggupan tim perpustakaan keliling INAIFAS singgah di kantor Kecamatan Jombang. (tnh)