Stagflasi dan Penyesalan Saya

Stagflasi dan Penyesalan Saya

Bagikan sekarang

Oleh: Uliyatul Mu’awwanah, M.E.I (Kaprodi Ekonomi Syariah Inaifas)

Mari sejenak membayangkan, kita sedang naik ke atas Gedung untuk dapat melihat apa yang terjadi di tengah kerumunan. Setelah itu arahkan pandangan anda jauh ke depan dan lihatlah kemungkinan apa yang akan terjadi. Karena stagflasi bisa jadi akan merubah serta membentuk kepribadian kita sebagai manusia yang mungkin dikemudian hari akan tumbang atau justru menjadi spesies penyintas paling tangguh karena mampu bertahan hidup (Survival of The Fittest).

Perlu saya tekankan terlebih dulu, jika satu di antara para pembaca adalah investor pemula, pastikan anda mempelajari stagflasi saat modal masih sedikit agar waktu terjadi resesi seperti sekarang, damage yang menimpa kita tidak sampai membuat kita sakit hati atau bahkan gulung tikar.

Stagflasi saya istilahkan dengan efek domino yang berarti “satu berguncang, yang lain ikut goyang”, definisi ilmiahnya dalam teori makroekonomi diartikan sebagai periode ketika inflasi, konstraksi ekonomi, dan resesi terjadi dalam waktu yang bersamaan. Jika saya ringkas, kurang lebih stagflasi kali ini disebabkan oleh serentetan peristiwa mulai dari pandemi yang tak kunjung usai, Russia vs Ukraine War, Supply Shortages, kenaikan harga minyak dunia, hingga pecahnya gelembung bisnis Startup (Startup Bubble Burst).

Per-Juni 2022 meledaknya inflasi di US yang mencapai 9,1%, menjadi angka paling tinggi sepanjang sejarah dalam 41 tahun terakhir sejak Desember 1981. Penyebab inflasi tinggi dimulai dari kisah pemulihan ekonomi secara massif pasca covid mereda di seluruh penjuru dunia, namun apes karena diperparah dengan krisis energi dan pangan secara global akibat konflik perang Rusia Vs Ukraina. Inflasi tinggi di US memicu kenaikan harga barang di dalam negerinya sendiri. Kemudian sebagai konsekuensinya, Federal Reserve System (The Fed) melakukan tapering dengan mengeluarkan senjata paling ampuhnya yakni Interest Rate alias suku bunga. Suku bunga acuan naik hingga menyentuh angka 0,75%, Bank Sentral AS juga mentargetkan akan menaikkan suku bunga secara agresif sampai akhir 2022 hingga mencapai angka 3,4%. Jadi masih ada 1,75 % kenaikan lagi di sepanjang tahun ini. Parahnya, kenaikan suku bunga kali ini ternyata juga terdeteksi sebagai angka paling tinggi sepanjang sejarah dalam 25 tahun terakhir.

Jika suku bunga acuan naik, maka secara otomatis suku bunga negara lain termasuk Indonesia juga ikutan. Rupiah menjadi semakin ter-depresiasi dengan melonjaknya harga hampir pada semua kebutuhan pokok. Saya masih jelas mengingat saat penyanyi asal Indonesia Raisa jadi trending topik di Twitter karena postingan Instagram dia tengah shock melihat jumlah total rupiah yang harus dibayarkan seusai mengisi bahan bakar. Bayangkan saja penyanyi sekelas Raisa dengan bayaran 2 digit sekali perform aja nyebut, apalagi mereka yang berada di kalangan middle class ke bawah. Seketika postingan ini menjadi bahan guyonan para anggota jam’iyyah at twitteriyyah. Belum lagi kenaikan harga sembako seperti cabe dan temen-temennya yang membuat para buibu semakin rewel turut memperkuat signal bahwa inflasi di bumi ini sudah sangat tidak sehat, di samping drama perang Rusia vs Ukraina yang belum tau kapan ujungnya serta covid yang masih setia banget menemani kita. Jika ini terus berlanjut, maka supply shortages atau gangguan produksi pada rantai pasokan pangan maupun energi akan semakin terganggu.

Secara garis besar, jika inflasi tinggi dan suku bunga naik, biasanya akan berdampak negative pada asset dengan high risk meski tidak semuanya. Harga asset seperti saham, kripto justru turun alias rontok dan terjun bebas. Belum lagi, NFT yang digadang-gadang jadi asset digital baru, sekarang mulai ditinggalkan basic customer-nya. Volume transaksi di bursa lokal maupun pasar saham US seperti Nasdaq-100 dan NYCE Composite turun signifikan, bitcoin turun hampir 50% di tambah kejadian dari kalangan crypto exchange yakni Celsius tidak bisa withdrawal uang mereka. Serentetan musibah Market Crash ini benar-benar membuat red notif cukup betah mendominasi portfolio saya. Ini semua terjadi karena dalam skala global, prioritas orang untuk membeli sesuatu menjadi bergeser. Dari yang semula berniat mengalokasikan sebagian uangnya untuk berinvestasi tapi terhalang karena harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Jangankan mau beli kripto, beli cabe aja gak jadi karena masih ada bon cabe yang lebih murah, semisal.

Di sinilah penyesalan mulai mengikis kepercayaan diri karena seandainya kemarin-kemarin sedikit lebih hemat pasti hari ini saya mampu membeli lebih banyak asset dengan harga diskon. Ekspresi menyesal ini sama persis saat kita lagi main, kalo jaman dulu ada clash of clans, game online mobile garapan perusahaan Supercell asal Finlandia, tapi pada saat perang kita kalah, karena kurang antisipatif sehingga selip hanya dalam waktu per-sekian detik kemudian harus rela bersabar kembali demi maintenance pasukan maupun amunisi. Deja-vu ini benar-benar membuat saya merasa menjadi panglima perang paling gagal satu dunia persilatan. Ngomong-ngomong, pembaca dari kalangan gamers pasti faham kegusaran saya.

Secara teori, tidak ada namanya resesi yang berlangsung selamanya. Selain dapat membuat banyak orang menjadi miskin, peluang untuk menjadi orang-orang kaya baru saat resesi sangatlah potensial, jika mampu memahami situasinya. Kita semua sangat perlu untuk mengasah skill survive dengan mulai memperluas paradigma berpikir dengan harapan insting dalam mengidentifikasi object pasar predictable menjadi lebih sensitive dan visioner. Di samping bersiap siaga menunggu gejolak resesi lainnya di masa depan yang pasti akan datang kembali.

Terus terang saya memiliki kekhawatiran pribadi tentang masa depan finansial, karena memang telah banyak riset yang membicarakan tentang akselerasi perubahan dan disrupsi dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Bagi saya, mengharap kondisi makroekonomi akan stabil adem ayem hampir mustahil oleh karena frekuensi perubahan semakin dinamis. Sebut saja misalnya seperti krisis, jika dulu jarak temu antara krisis satu dengan yang lain panjang, bisa sampai 100 tahun misalnya. Itu berarti tidak untuk saat ini, bukti kongkritnya adalah habis pandemi datanglah resesi. Selain itu, terlepas dari teori konspirasi atau propaganda lain apapun bentuknya, saya lebih suka dan memilih untuk sibuk memperkuat defense diri sendiri saja. Karena penurunan portfolio masih bisa saya tahan, tapi penurunan pasokan pangan justru menciptakan ancaman kelaparan.

Supply Shortages, Kenaikan Harga Minyak Dunia
Saat terjadi kenaikan harga minyak dunia, Sri Lanka, menjadi bangkrut bersamaan dengan inflasi di US, negara ini sungguh berada dalam posisi yang amat sulit karena krisis pangan dan energi. Berita terbaru bahkan jumlah perempuan PSK naik hingga 30% hanya demi barter untuk memperoleh makanan, listrik padam hingga 13 jam sehari. Bayangkan bagaimana pabrik-pabrik menghidupkan mesin untuk memproduksi produk mereka? Sedangkan mereka harus tetap bekerja dan mencari makan untuk bertahan hidup. Saya tidak sedang memprovokasi, tapi Sri Lanka dengan Debt to GDP Ratio yang mecapai lebih dari 100% benar-benar sudah tidak realistis. Belum lagi inflasi di Sri Lanka yang mencapai 54,6% pada Juni lalu hingga membuat Presiden Gotabaya Rajapaksa kabur ke Singapura karena dikepung masa. Kabarnya, ini semua terjadi karena beberapa penerapan kebijakan yang dinilai absurd hanya demi mengejar popularitas. Salah satu di antaranya adalah kebijakan pemotongan pajak, alih-alih senangkan rakyat, tapi kebijakan populis ini justru menjadi boomerang bagi Sri Lanka.

Pandemi tak kunjung usai, Russia vs Ukraine War
Sedikit flashback saat puncak pandemi lalu, pembatasan kegiatan terpaksa membuat orang stay di rumah. Laju perekonomian pun melambat sehingga pemerintah, mirip seperti fenomena helicopter money yang ada di Film Money Heist memberikan stimulus kepada mereka yang kurang mampu berupa uang tunai. Sedangkan mereka yang berkecukupan juga tetap di rumah dan memilih menggunakan solusi digital untuk tetap bertahan. Saat itu suku bunga turun, atau bisa dibilang uang sedang murah, harga saham pada sektor industry digital melambung tinggi. Para investor pada Raksasa Start-Up dalam bidang teknologi seperti Netflix, Google, dan Nvidia bahagia banget. Tapi masalahnya, saat pandemi pasokan pangan dan kebutuhan lain masih sangat tersedia, hanya saja mobilitas yang dibatasi. Lalu saat covid mereda, kebijakan pembatasan kegiatan mulai longgar dan orang-orang mulai keluar rumah sehingga terjadilah revenge buying. Tapi pada saat yang sama produsen menjadi tidak siap. Sebut saja satu contoh cerita startup buble burst adalah shopee bakal layoff massal karyawan untuk menghemat cost awal juli lalu.

Lebih mudahnya begini, ukraina menjadi salah satu negara pemasok gandum terbesar di Indonesia. Karena kondisi masih konflik maka impor gandum menjadi terhambat. Meski kita terbiasa makan nasi, bagaimana jika produsen beras yang mengkonsumsi gandum? Bagaimana jika cilok tidak lagi eksis karena bahan bakunya yang terbuat dari tepung terigu dan berasal dari biji gandum menjadi mahal atau bahkan langka? Bagaimana nasip empek-empek, gorengan, dawet dan jajanan favorit orang Indonesia lainnya? Serta bagaimana nasib penjual jajanan tersebut? Ini hanya contoh kecil sebab rantai kebutuhan hidup ini berjalan terus hingga level tersier.

Ekonomi Indonesia
Kementrian keuangan menyatakan bahwa Indonesia tidak sedang dalam Current Account Deficit. Maksudnya, angka pertumbuhan ekspor lebih tinggi dari pada angka pertumbuhan impor. neraca perdagangan kita surplus dalam waktu 19 bulan berturut-turut. Ini juga berarti cadangan devisa kita tinggi sehingga pada saat terjadi market crash skala global seperti sekarang kita tetap memiliki resilience meski dalam guncangan.

Bagi saya pribadi, memang juga terasa berat saat kebijakan kenaikan BBM diterapkan beberapa waktu lalu. Tapi saya percaya semua ini adalah apa yang disebut Blessing Disease (penyakit berkah). Kira-kira ini semacam imunisasi penguat tubuh. Di awal memang demam atau bahkan sakit , tapi dalam waktu 10 tahun ke depan anda akan mulai menyadari bahwa satu- satunya strategi bertahan untuk melawan resesi yaaaa bergerak ke atas. Bukan membaur terlalu lama dengan sesuatu yang terjadi ditengah kerumunan.

Saham Asing (Sharing untuk Investor Pemula)
Tidak ada seorangpun yang dapat memprediksi kondisi makroekonomi global, jangan mengandalkan robot apalagi fomo asal serok sana sini, fokus saja riset dan pantau terus perusahaan dimana uang anda ditempatkan.

Sedikit sharing, saya memiliki portfolio saham asing dengan Tesla masuk dalam salah satu list. Perusahaan asing ini menjadi favorit saya sekaligus layak dipantau hingga akhir tahun karena masterplan long term yang dimiliki. Setelah memproduksi mobil sport, tesla mentargetkan untuk dapat membuat mobil listrik dengan harga lebih terjangkau agar bisa dipakai semua orang.

Sembari memproduksinya, tesla juga menyediakan opsi pembangkit tenaga listrik dengan zero emission. Meski harus pakai dollar untuk membeli saham perusahaan ini, tapi bagi saya itu sepadan karena relevan dengan tujuan ekonomi hijau dalam masterplan ekonomi syariah. Tapi di luar itu semua, investasi leher ke atas akan tetap menjadi top investment terbaik sebelum melangkah lebih jauh.

(Baca tesla lebih lengkap disini)

Wallahu a’lam Bishawab

Tingkatkan Mutu Akademik Perguruan Tinggi melalui Audit Mutu Internal

Tingkatkan Mutu Akademik Perguruan Tinggi melalui Audit Mutu Internal

Bagikan sekarang

Oleh: Muhammad Syarofi, M.E. (Dosen Prodi Ekonomi Syariah INAIFAS)

Mungkin istilah kebijakan SPM DIKTI, SN DIKTI, SPMI dan AMI sangat asing bagi saya sebagai salah satu tenaga pengajar di kampus hijau INAIFAS di Kabupaten Jember Selatan. Pasalnya, ketika harus berhadapan dengan beberapa orang-orang yang mempunyai jabatan struktural di Kopertasi IV Surabaya, TIM Ahli Kopertais IV Surabaya dan Dewan Pakar Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Sunan Ampel Surabaya, seperti Dr Ali Mustofa, MPd, Dr. Asep Saepul Hamdani, M.Pd, Ahmad Fauzi, M.Pd. dan beberapa pemateri lainnya. Namun bagi mereka sebagai pengelola Lembaga Penjamin Mutu sudah tidak asing, namun yang sulit dalam penerapan kebijakan tersebut.

Teringat beberapa minggu kemarin tepatnya 12 Juli 2022, bapak Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I yang familiar disapa dengan Gus Rijal, menghubungi saya ketika masih dalam perjalanan dari Surabaya, “Rencananya, saya delegasikan njenengan ikut acara tsb mewakili Inaifas, pendaftaran hari ini terakhir fikir saya”.

Sambil melihat surat undangan isinya pelatihan AMI yang dilaksanakan Sabtu, 23 Juli 2022 di Kota Surabaya, Sepintas saya berfikir “Baru saja dari Surabaya dan masih di perjalanan, satu minggu lagi harus ke Surabaya”. Namun ternyata saya tidak sendiri ada salah satu dosen lain yang diutus untuk mengikuti kegiatan pelatihan tersebut.

Jumat siang kemarin 30 Juli 2022, sampai dilokasi kegiatan pelatihan Audit Internal yang bertempat di Hotel Halogen Surabaya arah jalan Bandara Juanda. Kegiatan Workshop Audit Mutu Internal Konsorsium Lembaga Penjaminan Mutu Kopertais Wilayah IV Surabaya yang bertempat di Ballroom Hotel Halogen Surabaya sebagian besar diikuti oleh Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan anggota Penjaminan Mutu dari beberapa perguruan tinggi swasta se-Kopertais IV Surabaya.

Saya katakan asing, karena belum adanya bekal matang dari saya untuk mengikuti kegiatan tersebut, teman satu bangku Mas Anas ketika saya perkenalan ternyata juga masih pertama kali mengikuti kegitana pelatihan AMI.

Kegiatan Workshop AMI dibuka secara langsung oleh ketua Kopertasi IV Surabaya Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Ph.D. Beberapa poin yang disampaikan sejatinya perguruan tinggi harus mempunyai audit mutu internal agar mempunyai kualitas baik pada perguruan tinggi dan lulusan dari perguruan tinggi, karena perguruan tinggi bukan hanya sebagai lembaga akademisi, akan tetapi juga harus bisa menjadi perguruan tinggi industri akademik sehingga dalam mengelola perguruan tinggi tidak boleh biasa-biasa saja, harus dikelola sumber daya handal dan kompeten, ekosistem perguruan tinggi harus terjamin karena akademik sebagai industri dan sesuai dengan SPMI (standart penjamin mutu internal).

Perguruan tinggi yang mempunyai audit mutu internal bagaikan air dalam botol yang mempunyai label sehingga harganya lebih mahal dan diterima oleh pasar, berbeda dengan air dalam botol yang tidak ada label maka tidak akan laku di pasar.

Sebagai perwakilan dari kampus INAIFAS, karena kegitan ini fokusnya sedikit mulai dapat difahami apa yang dimaksud AMI dan SPMI sebagai mana yang disampaikan oleh DR. Ali Mustofa, M.Pd. bahwasannya SPMI sebagai Sistem Penjaminan Mutu Internal perguruan tinggi sesuai dengan SN DIKTI yang tertuang dalam Perarutran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, sehingga didalamnya terdapat (Kebijakan Mutu, Standar Mutu, Manual Mutu Dan Formulir Mutu) dan menelurkan Siklus SPMI (PPEPP) (Penetapan standar, Pelaksanaan standar, Evaluasi standar, Pengendalian standar dan Peningkatan standar).

Meskipun sepertinya mudah dalam penyampaian namun bagi seorang muallaf salam Audit Mutu Internal Perguruan Tinggi tetap masih asing bagi saya, ada sedikit motivasi yang disampaikan oleh DR. Ali Mustofa, M.Pd. bahwasannya ketika seorang dosen menjadi pengelola Lembaga Penjamin Mutu (LPM) yang awal mindset terbagun sebagai energi kesialan, harus diganti dengan energi keberuntungan, karena kerja di LPM berapapun honornya harus dinikmati dulu, karena sebagai jariyah mutu perguruan tinggi. Dari ucapan tersebut sedikit tumbuh semangat untuk bisa mempelajari secara mendalam tentang AMI dan SPMI.

Dewan Pakar Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Sunan Ampel Surabaya Dr. Asep Saepul Hamdani, M.Pd, juga menyampaikan bahwasannya seorang dosen yang mengajar di perguruan tinggi harus sudah sesuai standar dengan monitoring, evaluasi dan validasi RPS serta memenuhi karakteristik pembelajaran, sebagai bukti relevansi dari berbagai macam penetapan standar secara langsung akan di audit oleh AMI perguruan tinggi.

Meskipun kebijakan SPMI dapat dikatakan masih baru tahun 2020 namun diharapkan seluruh PTKIS dalam menjalankan audit internal harus kompetitif, handal dan akuntabel sesuai karakteristik perguruan tinggi masing-masing. Beberapa paparan pemateri dapat menjadikan ilmu baru bagi saya, bahwasannya tidak hanya perusahaan saja yang perlu di Audit namun perguruan tinggi juga perlu di Audit agar lebih bermutu dan mempunyai nilai jual tinggi di pasar pendidikan melalui Audit Mutu Internal.

Perkuat Moderasi Beragama dengan Menghindari Penistaan Agama

Perkuat Moderasi Beragama dengan Menghindari Penistaan Agama

Bagikan sekarang

Oleh: H. A. Zuhairuzzaman, B.Sc., M.H.
(Dekan Fakultas Syariah INAIFAS)

Sebagai warga negara Republik Indonesia, kita perlu memahami bahwa konstitusi negara yang disepakati oleh para founding fathers negara kita adalah konstitusi yang menjunjung tinggi nilai agama. Dasar negaranya adalah Pancasila dengan sila pertama yang berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa.

Dalam pembukaan UUD 45 kita juga dapat menemukan redaksi yang sangat kental menunjukkan nilai keimanan dan bentuk rasa syukur kepada Tuhan, yaitu pada alinea ketiga yang berbunyi “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”;

Maka amanat konstitusi tersebut tentunya menuntut para pemegang kebijakan atau otoritas hukum negara untuk menjamin keberlangsungan keberagamaan bangsa Indonesia, dan juga menjaga dari terjadinya penistaan terhadap agama yang bisa menjadi bibit perpecahan anak bangsa, sebagaimana yang terjadi di negara-negara lain seperti di India belakangan ini.

Pun kita sebagai umat Islam, juga telah diajarkan oleh Allah ta’âlâ dan Rasulullah Muhammad ‘alayhi al-shalâtu wa al-salâm, agar menghindari konflik dalam rangka berdakwah menyampaikan ajaran Islam. Karena jika sikap kita terlebih dulu menimbulkan konflik dan memancing kebencian orang lain terhadap sikap arogansi yang kita tampilkan, baik secara sengaja atau tidak sengaja, maka niat awal untuk menyampaikan ajaran Islam yang luhur akan terhalang oleh rasa benci yang sudah tertancap sebelum mengenal betul apa itu hakikat ajaran Allah ta’âlâ dan Rasulullah ‘alayhi al-shalâtu wa al-salâm. Allah ta’âlâ berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ [الأنعام: 108]

Artinya: Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.

Allah melarang kaum Muslimin memaki berhala yang disembah kaum musyrik untuk menghindari makian terhadap Allah dari orang-orang musyrik, karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui sifat-sifat Allah dan sebutan-sebutan yang seharusnya diucapkan untuk-Nya. Maka bisa terjadi mereka mencaci-maki Allah dengan kata-kata yang menyebabkan kemarahan orang-orang mukmin.

Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa sesuatu perbuatan apabila dipergunakan untuk terwujudnya perbuatan lain yang maksiat, maka seharusnyalah ditinggalkan, dan segala perbuatan yang menimbulkan akibat buruk, maka perbuatan itu terlarang. Ayat ini memberikan isyarat pula kepada adanya larangan bagi kaum Muslimin bahwa mereka tidak boleh melakukan sesuatu yang menyebabkan orang-orang kafir tambah menjauhi kebenaran. Mencaci-maki berhala sebenarnya adalah mencaci-maki benda mati. Oleh sebab itu memaki berhala itu adalah tidak dosa. Akan tetapi karena memaki berhala itu menyebabkan orang-orang musyrik merasa tersinggung dan marah, yang akhirnya mereka akan membalas dengan mencaci-maki Allah, maka terlaranglah perbuatan itu.

Dalam sebuah hadits yang dinukil oleh Imam Ghazali dalam Kitab Ihyâ’ Ulûm al-Dîn: Suatu ketika, Nabi Muhammad ‘alayhi al-shalâtu wa al-salâm menegur Sayyidina Abu Bakar karena melaknat Sa’id bin ‘Ash yang meninggal dalam keadaan kafir. Saat itu, Nabi Muhammad bersama Sayyidina Abu Bakar, dan putra Sa’id bin ‘Ash serta beberapa sahabat lainnya pergi ke Thaif untuk suatu urusan.

Di tengah perjalanan, rombongan melewati sebuah kuburan. Sayyidina Abu Bakar kemudian menanyakan siapa penghuni kuburan itu. Para sahabat menjawab bahwa penghuni kuburan tersebut adalah Sa’id bin Ash. Mendengar jawaban itu, Sayyidina Abu Bakar langsung berdoa kepada Allah agar melaknat penghuni kubur tersebut, karena semasa hidupnya memerangi Allah dan Nabi Muhammad.

Doa Sayyidina Abu Bakar membuat salah satu anak Sa’id bin Ash, bernama Amr marah. Amr kemudian mengadukan kepada Nabi Muhammad. Amr membandingkan kebaikan ayahnya dengan ayah Sayyidina Abu Bakar. Menurutnya, Sa’id bin Ash lebih banyak menolong orang yang kesusahan dari pada ayah Sayyidina Abu Bakar, Abu Quhafah.

“Wahai Rasulullah, ini adalah kuburan orang yang lebih banyak memberi makan dan banyak menolong orang yang kesusahan dibandingkan Abu Quhafah,” kata Amr.

Nabi Muhammad mendinginkan suasana agar perselisihan tak berlanjut. Ia meminta Amr untuk tidak menanggapi serius doa Sayyidina Abu Bakar. Nabi Muhammad juga menasihati Sayyidina Abu Bakar agar menghindari umpatan jika membicarakan orang kafir secara khusus, seperti Sa’id bin Ash. Alasannya, agar anak-anak Sa’id bin Ash tidak marah. “Wahai Abu Bakar, bila kamu berbicara tentang orang kafir maka buatlah kalimat yang masih umum. Bila kamu menyebut seseorang secara khusus, maka anak-anaknya tentu akan marah,” ucap Nabi Muhammad. Setelah peristiwa itu, para sahabat Nabi Muhammad tak lagi melaknat orang kafir secara khusus.

Apa yang dicontohkan oleh Nabi kita adalah bentuk meminimalisir terjadinya benturan fisik antar pemeluk agama dan memperkuat karakter moderat dalam umat  beragama yang disebut oleh Al-Quran dengan istilah “ummatan wasathâ”.

Lalu bagaimana sikap kita menghadapi penistaan terhadap Agama Islam?

Pertama, kita tidak perlu terjebak untuk ikut menyebarluaskan konten yang memuat penistaan melalui media, baik konten penistaan tersebut berupa foto atau video provokatif yang berbau isu SARA. Karena meskipun kita menyebarkan konten tersebut dengan tujuan mencari respon ghirah dari teman-teman kita sesama muslim, akan tetapi dengan semakin menyebarnya konten tersebut, maka kita turut membantu menyebarluaskan kampanye mereka yang sengaja memancing emosional umat Islam untuk kemudian melakukan aksi balas dendam yang melewati batas.

Menyetop tersebarnya konten provokasi tersebut bukan berarti menutup mata dari kemungkaran. Hal tersebut hanyalah upaya untuk meredam dari pada munculnya respon berlebihan dari oknum-oknum sebagian umat Islam yang justru merugikan bagi umat Islam sendiri. Langkah tersebut dalam pandangan kami secara istilah Ushul Fiqh-nya adalah syadd al-dzarî’ah.

Kedua, wajib bagi orang Islam yang berilmu untuk menjelaskan syubhat-syubhat yang diarahkan kepada ajaran Islam atau sosok yang dimuliakan dalam Islam, utamanya terhadap sosok Nabi Muhammad ‘alayhi al-shalâtu wa al-salâm. Penjelasan tersebut haruslah dengan ilmu yang mencukupi, baik secara naqliy maupun ‘aqliy. Jadi bukan hanya debat kusir antara orang-orang awam meskipun memiliki semangat di hati mereka dalam membela agamanya.

Ketiga, tugas bagi semua umat Islam untuk mendalami lebih giat lagi ajaran Islam dan mengenal kesempurnaan Allah dan keutamaan para rasul-Nya, khususnya Nabi Muhammad. Hal tersebut guna memperteguh keyakinan dan meningkatkan praktek keagamaan serta memperlihatkan bagaimana prilaku muslim yang baik dalam mencontoh nabi mereka. Karena bagaimanapun yang dinilai oleh orang lain tentang Islam bukan mereka lihat langsung pada Al-Qur’an atau Hadits, akan tetapi melihat prilaku umat Islam secara lahir menurut kasat mata mereka. Hal tersebut penting karena terkadang ajaran Islam justru tertutup olep prilaku buruk pemeluknya. Al-Islâm mahjûb bi al-muslimîn.

Keempat, bagi setiap pemimpin. aparat hukum, tokoh-tokoh lintas agama, serta lintas kelompok politik harus bisa menjaga kondusifitas dan keamanan masyarakat dari bibit-bibit konflik yang menggunakan isu SARA.

Kebebasan berekspresi atas nama hak asasi manusia yang dijamin oleh negara kita tentu ada batasan-batasan yang diatur oleh undang-undang dan tidak mencoreng budaya luhur bangsa kita. Setiap bentuk penistaan agama tidak perlu ditolerir atas nama toleransi apalagi liberalisasi yang sekuler. Maka aparat hukum harus tegas dalam memproses kasus penistaan agama jika telah dibuktikan oleh keterangan ahli dalam persidangan. Sehingga dengan meminimalisir praktik-praktik penistaan agama di ruang publik, maka samakin memperkuat program moderasi agama yang sedang digencarkan oleh pemerintah, dan mempererat persatuan dan kesatuan anak-anak bangsa.

Harapannya, bangsa kita betul-betul menjadi bangsa yang religious-nasionalis dan nasionalis-religius.

Wallahu A’lam Bishshawab

Financial Freedom

Financial Freedom

Bagikan sekarang

Oleh : Uliyatul Mu’awwanah, M.E.I (Kaprodi Ekonomi Syariah Inaifas Jember)

Tahun 2008, saat awal menjadi mahasiswa, saya pikir Syariah Muamalah (sekarang ekonomi syariah) adalah program studi yang dapat menyelamatkan saya dari rumitnya angka dalam matriks, statistik maupun matematis. Eh, tapi ternyata justru ada spesies lain, biasa disebut akuntansi dengan kajian legendarisnya yang terus-terusan membahas laporan keuangan, neraca, aktiva, pasiva dan bla..bla..bla

Neraca selalu berhasil membuat para akuntan mumet dengan rumus wajibnya yakni aktiva lebih besar sama dengan ekuitas plus liability (asset  ≥ modal + kewajiban). Bagi yang tidak familiar dengan istilah tersebut, jangan khawatir. Karena sejujurnya pada saat yang sama, meski saya dari kalangan ekonom, perjalanan intelektual sekte ini juga sukses membuat saya sakit kepala hingga saat ini, Alhamdulillah.

Sebenarnya, tulisan ini adalah sebuah warning sekaligus attention bagi saya pribadi secara khusus dan bagi semua pembaca yang sudi untuk menyisihkan sedikit waktunya untuk bersama-sama melihat bahwa rumus neraca di atas, based on pendekatan ilmu/ cara manusia memenuhi kebutuhan hidup (ekonomi) ialah satu-satunya jalan untuk mencapai kondisi finansial yang sehat bagi suatu perusahaan tertentu maupun kondisi kesehatan finansial individu.

Menurut rumus tersebut, kondisi keuangan kita dapat dikatakan sehat apabila minimum jumlah nominal aset yang kita miliki wajib sama kalkukasinya dengan akumulasi modal dan kewajiban. Jangan terlalu banyak utang maupun piutang. Jangan lupa juga aset yang dimaksud adalah aset likuid dan bukan dibiayai oleh hutang. Kemudian anda akan bertanya, sudah sehatkah kondisi kantong kita? Berapa ya jumlah utang saya? Berapa duit ya utang si a,b,c,d ke saya? Berapa duit ya pengeluaran dan pendapatan kita setiap bulan? Cicilan bulan depan aman gak ya? Dan seterusnya…

Bicara soal kondisi keuangan, ada istilah Financial Freedom atau merdeka finansial yakni sebuah ilustrasi status seseorang di mana ia telah bebas dari segala jenis hutang, memiliki passive income yang cukup untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder maupun tersiernya bahkan ia tidak perlu ragu dan berfikir panjang lagi jika harus mengeluarkan duit untuk bersenang-senang. Bahasa populernya “Biarkan uang bekerja untuk anda”.

Tapi perlu saya tekankan, ini bukan jargon yang biasa dipakai ngiklan oleh entitas bisnis investasi tertentu berbasis robotic misalnya, atau bahkan promosi pinjol yang berserakan di social media hingga memicu pewajaran terhadap penggunaan utang konsumtif dengan bunga harian tinggi dan semacamnya. Anggap saja ini level atau kelas akhir.

Sebelum mencapai kelas ini, anda juga perlu untuk tahu kelas-kelas sebelumnya untuk memudahkan proses identifikasi. Tapi demi uang, percayalah saya lebih suka menyebutnya dengan PETA, he-he-he.

Kelas 1, Financial Dependent. Pada kelas ini, seorang individu pelaku ekonomi masih menggantungkan hidupnya pada donasi orang lain seperti orang tua atau keluarga terdekat karena ia belum memiliki kemampuan untuk menghasilkan uang. Di level ini tidak banyak yang dapat dilakukan, tapi yang terpenting adalah pengalaman sekaligus action untuk mulai bekerja, bekerja apa saja boleh yang penting halal

Kelas 2, Financial Solvency yakni level pas pasan. Di kelas ini berarti kita sudah mampu untuk membiayai kebutuhan pribadi tanpa bantuan dari pihak lain. Dalam kondisi ini yang kita butuhkan ialah menemukan leader yang baik untuk pengembangan skill yang nantinya akan dapat dijadikan bekal naik kelas, serta mulai belajar mengatur keuangan dengan cara manage kebutuhan menggunakan skala prioritas.

Kelas 3, Financial Stability. Berada di kelas ini berarti sudah memiliki pendapatan stabil sehingga sesorang mampu menambah jumlah tabungan dan memiliki sedikit dana darurat. Misalnya karena promosi jabatan atau omset bisnis sedang meningkat.

Kelas 4, Debt Free. Pada level ini berarti kita sudah bebas dari hutang konsumtif seperti pinjol dan kartu kredit. Hutang yang masih diperbolehkan di kelas ini adalah utang Hipotek.

Kelas 5, Financial Security. Di kelas ini, artinya anda sudah memiliki skill yang dapat menghasilkan pendapatan cukup tinggi serta memiliki kesempatan meningkatkan investasi. Anda tidak perlu khawatir bagaimana cara membayar biaya hidup. Tapi berhati-hatilah karena kelas ini banyak jebakan, godaan dan tipu muslihat, mengapa? Karena di level ini biasanya cukup banyak previlege yang kita dapatkan seperti credit card cicilan 0%, airport launch, bahkan diskon marketplace hingga promo makan di resto.

Bukan hanya itu, pendapatan naik biasanya cenderung memperkuat propaganda konstruksi sosial yang berusaha me-legitimasi semacam bisikan syaitan seperti “gaji naik nih, ganti smartphone baru ah, ngopi di starbucks yuk..”.

Jika anda ingin naik kelas, syarat utamanya adalah berusaha bertahan untuk tidak menambah gaya hidup dengan mengalihkan alokasi pendapatan pada instrument investasi dengan lebih agresif. Karena di kelas 1 sampai 5 sejatinya kita masih berada dalam Red Risk, saya biasa menyebutnya Kerja Rodi.

Red Risk adalah sebuah ilustrasi di mana kita masih hidup dengan repetisi aktivitas bangun pagi, berangkat kerja, bayar cicilan, beli ini itu untuk kebutuhan hingga berakhir miris tak ada sisa setiap akhir bulan. Misi kita adalah keluar dari Red Risk secepat mungkin menuju destinasi selanjutnya.

Kelas 6, Financial Independent. Biasanya, tidak banyak orang yang mampu mencapai level ini, jumlahnya hanya sekitar 20% karena butuh mindset, nyali, mental, serta karakter tahan banting untuk meraihnya. Tapi jika anda berhasil meraihnya saya ucapkan selamat, karena di level ini kita memiliki jumlah privilege lebih banyak.

Sebagai contoh, kita berhasil mengembangkan beberapa bisnis baru artinya, kita juga memiliki kebebasan dalam bekerja, bahkan mungkin bebas dari bos atau klien rewel yang bikin jengkel. Kita bebas menentukan siapa saja yang akan kita layani serta bebas memilih pekerjaan yang lebih meaningfull. Tapi meski demikian, syarat utamanya untuk naik kelas tetaplah sama, yakni tidak menambah gaya hidup.

Kelas 7, Financial Freedom. Berada di kelas ini berarti anda sudah mendapatkan semua unsur yang ada dikelas sebelumnya. Hal ini juga berarti kita selalu memiliki cukup uang untuk melakukan apapun yang kita mau. Seperti mobil dan rumah mewah mungkin, atau bahkan pergi jalan-jalan keliling dunia sebab biaya hidup kita sudah tercover dari pendapatan pasif kita.

Perlu untuk diketahui, dikatakan mencapai merdeka finansial apabila pengeluaran tahunan kita tidak lebih dari 4% dari total aset yang telah kita investasikan. Ini juga berarti bahwa aset kita harus mampu menghasilkan cashflow dengan nilai 25 kali pengeluaran tahunan, dengan asumsi peningkatan inflasi sebesar 5% pertahun. Maksudnya, jika kita hari ini ingin pensiun dengan pengeluaran bulanan sebesar 5 juta rupiah, maka minimal kita harus memiliki asset senilai Rp 1,5 milyar. Para ekonom sering menyebutnya dengan 4% rule.

Saya perjelas, misal gaji 10 juta dan kita menabung sebesar 5 juta perbulan maka kita perlu waktu sekitar 25 tahun untuk mencapai level ini. Akhirnya saya mudeng, mengapa rumus neraca di awal selalu ngotot pake spesial simbol matematis ≥ (lebih besar sama dengan). Kemudian anda akan bertanya dan mulai berhitung, sudah berapa ya aset yang kita miliki? Apakah pekerjaan dan penghasilan kita hari ini memungkinkan kita untuk mencapai level ini?

Tentunya, penjelasan dari tiap kelas di atas hanyalah sedikit pencerahan, karena yang namanya kebutuhan setiap manusia itu sangat relatif dan tidak terbatas. Ada orang yang sudah merasa cukup dengan rumah sederhana, makan sayur bening asem tahu tempe sambal terasi, ada pula orang yg merasa cukup jika ia sudah memiliki jet pribadi 10 biji, dan pasti masih banyak standarisasi kecukupan lainnya. Saya yakin banget.

Sebagai informasi, sebenarnya ada 2 kelas lagi di atas Financial Freedom. Sengaja tidak saya ungkap lebih lanjut karena ingin memaksimalkan sikap realistis. Sedikit bocoran, kelas lanjutan yang dimaksud diistilahkan dengan Financial Abundance dan Financial Legacy.

Pada titik level inilah orang biasa menyebut dengan harta tidak akan habis dimakan tujuh turunan tapi juga sekaligus pusing karena terlalu banyak uang. Harta mereka terus bertambah secara otomatis seta berjalan Auto Pilot.

Di sisi lain, saya juga sadar diri, kita ini terlahir bukan dari kalangan sultan ber-privilege eksklusif seperti halnya Elon Musk CEO Tesla yang bapaknya pemilik tambang Emerald di Afrika, atau bahkan Warren Buffett dan Bill Gates yang sepeninggal ia nanti, ia mendedikasikan hampir seluruh harta kekayaannya untuk disumbangkan pada lembaga amal. Intinya, orang-orang ini bukan hanya asal kaya, tapi eksistensi mereka juga mampu memberikan sumbangsih bagi peradaban dunia.

Sebagaimana yang diungkap Al Ghazali, meski ia mengkritik manusia yang bekerja hanya sekedar untuk menyambung hidup, tapi Al Ghazali juga memperingatkan bahwa sikap selalu ingin lebih memiliki kecenderungan dalam keserakahan.

Manusia selalu berusaha mengatasi rasa takut, meski ia telah memiliki 2 tambang emas, pastilah mereka juga menginginkan lembah yang ke 3. Manusia selalu khawatir dengan berpikir bahwa mungkin harta yang dimiliki saat ini tidaklah cukup, tidak mampu bertahan dan bahkan mungkin sewaktu-waktu akan hancur. (lebih lanjut baca Ihya’ Ulumiddin Juz 3 hlm 346).

Akhir kata, segera persiapkan diri dengan senantiasa menyusun strategi untuk menghadapi masa terburuk, tetap semangat bekerja, dan semoga bermanfaat.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Membangun Kebersamaan di Tengah Perbedaan

Membangun Kebersamaan di Tengah Perbedaan

Bagikan sekarang

Oleh: Johan Idrus Tofaynuddin (Kaprodi Pendidikan Agama Islam INAIFAS)

Pada tahun ini tepatnya pada bulan Dzulhijjah 1443 Hijriah terjadi perbedaan waktu, sehingga beberapa pelaksanaan ibadah pada momentum bulan dzulhijjah mulai dari puasa tarwiyah, arofah hingga hari raya idhul fitri terjadi selisih satu hari.

Perbedaan penetapan ini didunia ilmu perfalakiyahan atau perbintangan sudah tidak menjadi hal yang perlu digaduhkan dan ramai untuk diperbincangkan mengingat di Indonesia sendiri sangatlah beragam dan cukup pelik ketika diperbincangkan. Apa lagi ada beberapa edaran berupa tabel perbedaan hasil penetapan antara Indonesia dan Saudi Arabia.

Pertanyaan sangat menggelitik mengapa kita kok tidak mengikuti Arab Saudi? Mengapa dalam hal ini tidak berkiblat ke-Arab Saudi, Iran, Irak, Palestina bahkan negera-negara timur tengah lainnnya. Karena hal ini tidak bisa kita jadikan sebagai patokan untuk menentukan waktu-waktu ibadah yang disamakan dengan negara kita mengingat mathla’ kita berbeda.

Perlu kita fahami bersama bahwa matlha’ (titik tempat terbitnya hilal) antara Indonesia dan Arab Saudi terjadi perbedaan. Hal ini para ulama’ fiqih dalam bahasan puasa terdapat istilah إختلاف المطالع merupakan berbeda tempat /waktu pada terbitnya matahari. Disebutkan juga bahwa Mathla’ul hilal merupakan syarat utama dalam penentuan awal bulan. Sedangkan antara Arab Saudi dan Indonesia terjadi perbedaan mathla’ dalam bahasa lain ikhtilaful mathali’ :

عِبَارَةٌ عَنْ إِخْتِلَافِ بَلَدٍ فِيْ الرُّأْيَةِ بِحَيْثُ يُرَى إِحْدَاهُمَا وَلَا يُرَى فِيْ اْلَاخَرِ

Perbedaan dua negara dalam hal rukyah hilal dengan perkiraan bisa dilihat hilal di salah satu negara tersebut dan tidak bisa dilihat hilal di negara lain.

Berdasarkan ikhtilaful mathali’ Indonesia dengan Arab Saudi maka secara otimatis meskipun hilal nampak pasti akan berbeda antara Indonesia dengan Arab Saudi. Yang pada nantinya hasil hisabpun juga akan berbeda.

Yang jadi ploblematikanya, apakah tidak apa-apa ketika kita dalam hal ini tidak sama dengan Arab Saudi? jelas jawabannya tidak masalah. Bahkan ketika hal ini terjadi antara Syam (Suriah Raya-Lebanon, Yordania dan Pelstina) dengan Madinah pernah terjadi perbedaan penentuan Idul Fitri pada masa Sayyidina Abdullah bin Abbas dengan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Dikutib dari kitab Bidayatul Mujahidin, Muawiyah yang ketika itu berada di Syam menjumpai awal puasa terjadi di hari Jum’at sedangan Abdullah Bin Abbas mengawali puasa pada hari Sabtu. Perbedaan wilayah ini tidak terlalu jauh. Bahkan lebih jauh lagi antara Indonesia dengan Tanah Haram Makkah.

أَنَّ لِكُلِّ بَلَدٍ رُأْيَةً قَرُوْبًا أَوْ بَعُوْدًا

“Setiap negera masing-masing mempunyai kewenangan rukyah baik negara itu berdekatan maupun berjauhan”.

Inilah yang terjadi pada Idul Adha tahun ini yaitu perbedaan antara Indonesia dengan Arab Saudi.

Lantas, bagaimana dengan puasa Arafah pada tahun ini, karena antara Indonesia dengan Arab Saudi terjadi perbedaan? Arab Saudi sudah melaksanakan ibadah Idhl Adha sedangkan kita masih melaksanakan ibadah puasa arafah.

Bagaimana hukum puasa Arafah kita penduduk Indonesia? jawabannya, menurut ulama’ fiqih, puasanya tetap sah. Karena puasa Arafah sebatas keterkaitannya dengan waktu bukan dengan terlaksananya wukuf di Arafah.

Kalau kita telisik kembali sejarah, puasa Arafah dan wukuf merupakan bentuk apresiasi Arafahnya Nabi Ibrahim as ketika didapatkannya sebuah mimpi penyembelihan putranya, Nabi Islamil as, adalah benar-benar perintah Allah SWT.

Pelaksanaan dilakukannya wukuf oleh jamaah haji sedangkan yang tidak haji melaksanakan puasa sunnah arafah. Ibadah ini memiliki fadhilah yang luar biasa seperti yang diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Qotadah :

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً

“Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”

Dalam konteks Indonesia, perbedaan hal ini sangat beragam dan cukup pelik untuk dijelaskan. Mengingat banyaknya ragam penafsiran perihal hilal.

Pada dasarnya perbedaan ini masalah waktu. Bukan pada harus berkiblat pada suatu negara manapun.
Dengan polemik perbedaan tersebut masyarakat muslim khususnya di Indonesia bersandar pada fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) dalam setiap penentuan dengan diperkuat oleh pendapat empat madzhab.

Selebihnya, ada maqalah yang berbunyi “keputusan hakim akan menghilangkan perselisihan pendapat”.

Di Indonesia pemerintah menetapkan 10 Dzulhijjah 1443 H jatuh pada hari Ahad, 10 Juli 2022.

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ

Kami ucapan selamat hari raya Idul Adha 1443 Hijriah. Mohon maaf lahir dan bathin.

Resensi Kitab Irsyadul Ikhwan: Manfaat Kopi dan Rokok

Resensi Kitab Irsyadul Ikhwan: Manfaat Kopi dan Rokok

Bagikan sekarang

Judul Kitab : Irsyadul Ikhwan fi Bayani Ahkami Syurbil Qohwah wad Dukhon
Penulis : Syaikh Al-‘Allaamah Ihsan bin Muhammad Dahlan Al Jampesi Al Kediri
Peresensi : Zainuri, M.Pd. (Dosen Prodi PBA INAIFAS)

Rokok dan kopi merupakan dua hal yang sudah mengakar di kalangan masyarakat Indonesia baik dari kalangan laki-laki ataupun perempuan, bahkan dari orang pengangguran sampai orang yang sibuk karena pekerjaan. Di Indonesia hampir setiap warung, baik level lesehan sampai sekelas kafe tidak lepas dari kopi dan rokok. Keduanya bagaikan suami istri yang selalu berdampingan.

Kopi dan rokok senantiasa menjadi topik yang selalu menarik diperbincangkan. Baik dalam tinjauan kesehatan maupun fiqh. Apa yang terkandung di dalam sebatang rokok dan secangkir kopi? Bagaimana hukum mengkonsumsinya? Para ulama pun berbeda pandangan dalam masalah ini.

Kitab ini memuat masalah-masalah yang berkaitan dengan kopi dan rokok dari segi sejarah yaitu asal muasalnya, dari segi kesehatan yaitu manfaat dan penyakit yang ada di dalam kandungan kopi dan rokok, dan juga dari pandangan agama Islam yaitu mengenai halal dan haramnya, dengan kajian fiqh yang khusus mengenai masalah masalah yang melingkupi keduanya.

Bab pertama kitab ini menjelaskan bahwa tembakau (rokok) memiliki nama lain yaitu “tutun dan at tanbak” sedang dalam bahasa medis disebut “banbajir”. Tembakau diperkirakan berasal dari daerah Tobacco Meksiko, yang dicatat penemuannya sekitar tahun 1518 M/930 H.

Ketika bangsa Eropa (Colombus) menemukan kepulauan yang berada di daerah Amerika. Di tempat tersebut banyak sekali tembakau dan para penduduknya mempunyai kebiasaan menghisap rokok yang terbuat dari tembakau. Sekitar tahun 1560 M/977 H rokok mulai menyebar luas di Eropa.

Adapun kopi terbuat dari biji kopi yang sudah dihaluskan dan bangsa Arab mengetahui manfaat kopi setelah nabi Muhammad SAW hijrah, dan kopi mulai menyebar ke Eropa, Asia dan Afrika sekitar pada tahun 1600 M/ 1017 H.

Abu Bakar bin Abdullah Asy-Syadzili merupakan penemu kopi pertama kali, ketika beliau berjalan-jalan dan menemukan biji kopi. Beliau tahu manfaat kopi, bahwa kopi dapat meringankan otak (menghilangkan stres), menghilangkan rasa ngantuk dan menjadikan badan segar bugar. Kopi tidak mempunyai efek samping yang dapat merusak kecerdasan justru kopi dapat membantu kita untuk dalam melaksanakan ibadah.

Manfaat lain dari kopi dapat menghilangkan rasa ngantuk, menambah kecerdasan, dan apabila diminum sebelum makan kopi dapat menghilangkan lemak di tubuh kita. Kopi juga merupakan
minuman para orang-orang shalih dan para ulama. Oleh karena itu, kopi cocok untuk kita supaya semangat dalam melaksanakan aktivitasnya sehari sehari.

Berbeda dengan bab pertama, pada bab kedua ini diuraikan mengenai pendapat para ulama yang mengharamkan rokok dengan alasan karena rokok dapat mendatangkan penyakit/bahaya pada diri sendiri, dan orang yang merokok mudah terserang penyakit, dapat merusak kecerdasan otak, serta dapat mengganggu kesadaran diri. Hal tersebut sama saja si perokok menyakiti diri sendirinya, sedangkan agama Islam melarang tindakan menyakiti diri sendiri. Di antara ulama yang mengharamkan rokok adalah Syihabuddin Al Ayyubi, Ibrahim Al Luqani, Hasan Al Syarnabila dan Al Tarabishi.

Sedangkan pada bab ketiga dijelaskan ulama yang memperbolehkan rokok sekaligus bantahan terhadap ulama yang mengharamkan rokok. Tidak ada hadits dan ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang pengharaman rokok sehingga yang mengharamkan rokok tidak memiliki dasar. Rokok itu haram bagi orang yang mempunyai penyakit, dengan merokok ia sakitnya tambah parah dan bagi orang yang ketika merokok sakitnya disebabkan rokok tersebut.

Sedangkan menurut pendapat yang mu’tamad, hal tersebut tidak sampai ke level haram tapi hanya memakruhkan saja. Pendapat yang mengharamkan rokok itu merupakan qaul dhaif sebagaimana pendapat al Baijuri. Hal ini senada dengan pendapatnya Muhammad Said dan Muhammad Ibnu Musa. Ulama yang memperbolehkan rokok di antaranya Abdul Ghani An Nabulusi dan Ali Asy-Syibramalisi.

Selanjutnya pada bab keempat dijelaskan pula tentang rokok Shisa yang terkenal di kalangan orang Arab. Hukum meletakkan rokok di dalam tas yang di dalamnya terdapat buku, kitab kuning, dan Al-Qur:an. Pendapat mengenai apakah asap rokok termasuk benda atau hanya atsar saja sehingga dampaknya bagi orang yang berpuasa. Juga bahasan hukum merokok di majelis Al Qur’an dan merokok di dalam masjid.

Kitab ini sangat cocok bagi penikmat kopi dan rokok untuk dijadikan bacaan dan menambah wawasan. Apalagi membaca kitab ini sembari menikmati kopi. Klop!