Prodi PBA INAIFAS Teken MoU dengan UNIDA Gontor

Prodi PBA INAIFAS Teken MoU dengan UNIDA Gontor

Bagikan sekarang

Oleh: Asni Furoidah, M.Pd.I (Dosen PBA INAIFAS)

Baru-baru ini program studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) melakukan penandatanganan kerjasama dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Darussalam (Unida) Gontor pada Rabu (18/01/2023 di Kampus II Inaifas.

Sebagai institusi pendidikan, pengembangan sumber daya manusia tidak hanya dilakukan secara internal, melainkan secara eksternal juga sangat diperlukan. Melalui kerja sama antar lembaga, diharapkan adanya kerja sama tidak saja terbatas di bidang akademik tetapi non akademik.

Kerjasama yang dimaksudkan dalam hal ini adalah semua kegiatan yang dijalankan mulai dari kesepakatan kerjasama, pelaksanaan kerjasama sampai kepada keberlanjutan kerjasama yang digali antara prodi Pendidikan Bahasa Arab dengan mitra kerjasama, baik di bidang pengajaran, penelitian maupun kemahasiswaan yang dituangkan dalam kesepakatan bersama atau perjanjian kerja sama yang ditandatangani oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan kerja sama tersebut.

Bapak Bustanul Ulum, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah INAIFAS menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi civitas akademika terutama dalam menunjang akreditasi institusi. Dirinya juga menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen UNIDA yang telah menyempatkan hadir serta memberikan banyak ilmu kepada para mahasiswa PBA INAIFAS dalam acara seminar pendidikan.

Setelah acara penandatanganan kerjasama dalam bentuk MoU selesai, acara dilanjutkan dengan seminar pendidikan dengan tema ‘Media Pembelajaran Bahasa Arab di Era 5.0’ oleh narasumber bapak Achmad Farouq Abdullah, S.Pd.I., M.Pd.I.

Salah satu Dosen UNIDA Gontor ini menyampaikan materi terkait media pembelajaran bahasa Arab di kalangan generasi milenial. Seminar ini bertujuan untuk mencari inovasi-inovasi baru dalam pembuatan media pembelajaran bahasa Arab agar bahasa Arab semakin mudah dipelajari dan semakin banyak diminati khususnya para pelajar tingkat menengah ke bawah.

Dalam kesempatan ini, ia juga menceritakan perjalanan akademiknya hingga menciptakan sebuah media pembelajaran bahasa Arab berbentuk kartu bergambar (flashcard). Media pembelajaran dalam bentuk kartu menjadi salah satu inovasi dalam pengembangan berbahasa khususnya maharah qiroah. Selain itu, peran guru juga sangat berpengaruh dalam proses pembentukan karakter siswa karena sebaik-baiknya metode/media pembelajaran tidak akan sempurna tanpa adanya seorang guru, sebagaimana peribahasa Arab mengatakan:


الطريقة أهم من المادة
والمدرس أهم من الطريقة
وروح المدرس أهم من مدرس نفسه

Di samping itu, media pembelajaran juga harus menyesuaikan kondisi dari peserta didik. Media pembelajaran dibuat melalui proses analisis terhadap kebutuhan siswa yang disesuaikan dengan kemampuan berbahasa seperti: istima, kalam, qiroah dan kitabah.

Menurut Munif Chatip (2012), penulis buku ‘GURUNYA MANUSIA’ mengatakan bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah guru yang tidak mau belajar untuk mengajar yang sesuai dengan gaya belajar anak. Serta pola pendidikan anak yang disesuaikan dengan zamannya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW menyatakan sebagai berikut: Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian (H.R. Ali Bin Abi Thalib).

Hal ini dapat diartikan bahwa guru senantiasa mendidik seluruh peserta didik sesuai dengan zamannya, dimana anak tersebut berpijak, bukan sesuai dengan zamanmu/guru tersebut, karena mereka hidup bukan pada zamanmu.

Diakhir kegiatan, pak Ghofur selaku ketua prodi PBA INAIFAS menyampaikan pesan kepada teman-teman mahasiswa PBA semester akhir agar selalu berinovasi dalam belajar bahasa Arab karena mereka nantinya adalah calon-calon pendidik generasi selanjutnya dan sebagai penutup acara kegiatan ini, ia juga memberikan cinderamata sebagai bentuk kenang-kenangan kepada Dosen UNIDA Gontor dan begitupun sebaliknya.

Diketahui, kegiatan ini dihadiri oleh seluruh mahasiswi PBA INAIFAS, dosen PBA dan sejumlah guru bahasa Arab.

Salam PBA Bravo!!

Dongkrak Penelitian Litapdimas Melalui Workshop Academic Writing

Dongkrak Penelitian Litapdimas Melalui Workshop Academic Writing

Bagikan sekarang

Dunia pendidikan perguruan tinggi, tidak hanya sekedar melakukan pembelajaran kepada mahasiswa, namun, setiap dosen dituntut untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, meskipun penelitian dan pengabdian telah diwajibkan dan dianjurkan bagi setiap dosen, sebagai salah satu Beban Kerja Dosen (BKD) hal tersebut terkadang lalai karena berbagai kepentingan yang harus diselesaikan dan berbagai pelayanan yang diberikan kepada mahasiswa.

Namun, juga setiap pelaksaan penelitian dan pengabdian tidak akan terlaksana apabila tidak ada bantuan dana riset, hal tersebut karena besaran dana yang harus dikeluarkan agar sebuah penelitian dan pengabdian mempunyai kualitas yang akuntabel. Selain itu sebuah penelitian diharapkan mampu memberikan kontribusi dan pengembangan keilmuan yang relevan dan dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga hasil akhir pengabdian kepada masyarakat diharapkan menjadi media seluruh civitas akademika di lingkungan INAIFAS Kencong Jember untuk terlibat dalam pengembangan kemaslahatan hidup masyarakat.

Pengajuan dana riset agar bisa di terima oleh pengelola dana riset salah satu Litabdimas Kementerian Agama RI, setiap akademisi harus mampu menyusun proposal penelitian yang mempunyai nilai kalayakan sangat tinggi, dan bisa lulus dari beberapa persyaratan yang diinginkan oleh reviewer. Guna untuk meningkatkan mutu riset dan PkM di kampus, LP3M INAIFAS menggandeng Kepala Pusat Penelitian (LP3M) UIN KHAS Jember Dr. Wildani Hefni, M.A sebagai pemateri kegiatan Academik Writing Workshop Penguatan Metodologi Penelitian Sosial, sekaligus mampu memberikan pendampingan strategis agar proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dapat lolos setiap ada bantuan hibat penelitian dari Litabdimas Kemenag.

Kegiatan workshop yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 Desember mulai pukul 10.00 WIB dan berakhir sampai 14.00 WIB bertempat di Aula Lt.1 INAIFAS, dihadiri langsung oleh Rektor INAIFAS Rizal Mumazziq Zionisi M.H, sedikit yang beliau sampai kepada pemateri “saya harap dengan adanya workshop, dapat memberikan strategi-strategi agar tulisan temen-temen dosen di INAIFAS dapat lolos di Litabdimas baik secara teknis maupun non teknis”.

Beliau juga berpesan kepada LP2M yang di prakarsai oleh Rudi Masrukhin dan qurrotun Ainiyah, bahwasannya “kegiatan pelatihan dan diskusi berkali yang dilaksanakan setial satu bulan sekali, bisa tetap berlanjut agar bisa menunjukkan meskipun kampus kita kecil namun bisa di kenal publik terkait dengan karya artikelnya”.

Kegiatan workshop yang berdurasi sampai sekitar 4 jam, dapat menunjukkan antusias peserta yang sangat tinggi mampu memberikan ilmu baru dan membuka wacana baru bagi peserta penelitian betapa masih kurangnya, dan masih sangat jauh dari kata sempurna apabila proposal penelitian dapat di terima di Litabdimas dan mendapatkan hibah penelitian. Apabila dikatakan sempurna serasa tidak mungkin, karena setiap penelitian tidam munhkin ada yg sempurna, kekurangan atau ketidaksempurnaan tersebut, kemudian pemateri mendobrak dimana letak kekurangan dan kesalahan dalam menulis proposal sehingga proposal penelitian layak di terima di Hibah Penelitian Litabdimas, Wildani Hefmi menyampaikan “terdapat beberapa faktor yg menjadi tingkat kesulitan bagi dosen dalam menulis proposal penelitian yaitu menarasikan, menyusun judul, metodologi, referensi, pharaprase, fokus dan scoupe, novelty, waktu menulis, kurang percaya diri, objek riset dan perdebatan akademik.

Tidak cukup apabila hanya membahas hibah penelitian, Wildani Hefni juga memberikan arahan dan strategi agar hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat mempunyai bukti riil berwujud artikel jurnal yang bisa terpublikasikan minimal Sinta 2, mengapa kok harus Sinta dia beranggapan, “sebuah hasil penelitian dan pengabdian, sebagai hasil kerja keras dalam menulis kalau bisa jangan hanya publish di Sinta 6, 5, 4 atau 3, itu pun gratis tidak berbayar”.

Ucapan beliau mampu menumbuhkan semangat peserta pelatihan, agar tulisan artikel jurnal dosen INAIFAS bisa terpublish di jurnal yang bersinta 2 bahkan Scopus. “Sebenarnya menyusun artikel jurnal tidak sulit, hanya kita saja yang kurang bisa memanajemen waktu, terlalu disibukkan dengan admininstrasi akademik dan pelayanan kepada mahasiswa”, tuturnya.

Diakhir kegiatan workshop dilanjutkan dengan kegiatan diskusi, antusias setiap dosen yang mengikuti kegiatan, banyak yang mengajukan pertaanyan, salah satunya Qurantul Ainiyyah, tentang point-dalam sebuah proposal penelitian, dengan tegas Dr. Wildani Hefni memberikan jawaban, “sebenarnya menulis proposal itu mudah, terpenting bisa merancang latar belakang penelitian dengan menemukan fakta sosial objek penelitian, fenomena riset, data pendukung dan literatur yang relevan, apabila latar belakang tersebut sudah ditemukan maka akan semakin mudah dalam menyusun, sub bab berikut, akan tetapi point penting selanjutnya ada pada kajian penelitian yang relevan yang berisikan perdebatan akademik para peneliti terdahulu, yang bagaimana nantinya hasil dari penelitian ini apakah dapat membantah teori yang sudah ada, mendukung teori yang sudah atau mampu menciptakan teori baru, sesuai dengan hasil penelitiannya”, ungkapnya.

Sampai diakhir kegiatan beliau menceritakan dalam menulis artikel jurnal cukup 1 minggu saja, 2 hari menulis, 2 hari revisi dan 3 publish.

Sekolah Pemberdayaan, Upaya Gali Potensi Desa

Sekolah Pemberdayaan, Upaya Gali Potensi Desa

Bagikan sekarang

Oleh: Muhammad Syarofi, M.E. (Dosen Prodi ES)

Istilah sekolah pemberdayaan mungkin masih asing bagi kalangan akademisi khususnya bagi beberapa perguruan tinggi swasta di wilayah Kabupaten Jember. Sekolah pemberdayaan merupakan sebagai salah satu wadah dalam upaya untuk mewujudkan kualitas pengabdian dan menjawab tantangan Desa Binaan.

LP2M Universitas Jember mengadakan kegiatan sekolah pemberdayaan yang diikuti oleh seluruh perguruan tinggi swasta se-Kabupaten Jember dan delegasi dari setiap fakultas Universitas Jember.

Kegiatan dengan mengusung tema ‘Upaya untuk Mewujudkan Kualitas Pengabdian dan Menjawab Tantangan Desa Binaan’ ini dipusatkan di Hotel Grand Padis Kabupaten Bondowoso sejak Rabu (30/11/2022) hingga Jum’at (02/12/2022).

Hadir dalam kegiatan ini Rektor Universitas Jember Dr. Ir. Iwan Taruna M.Eng, IPM dan Ketua LP2M Universitas Jember Prof. Dr. Yuli Witono, STP, MP.

Agar kegiatan tersebut mampu berjalan dengan disiplin dan materi yang disampaikan selaras dengan tujuan sekolah pemberdayaan pihak panitia mendatangkan pemateri dari berbagai background pendidikan dan beberapa praktisi.

Pada season pertama materi disampaikan langsung oleh Drs. Anwar, M.Si. tentang ‘Pemberdayaan sebagai Konsep Pengabdian Masyarakat Dosen’. Adanya konsep pemberdayaan sebagai bagian paradigma sosial baru yang terjadi antara masyarakat dalam proses penguatan diri agar tercipta perubahan yang lebih baik.

“Sehingga masyarakat desa dapat berdaya apabila mampu bersinergi dengan beberapa lembaga perguruan tinggi yang mampu memberikan pengabdian kepada masyarakat dalam berbagai aspek,” ungkapnya.

Konsep pengabdian kepada masyarakat idealisnya selaras dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai pembangunan berkelanjutan masyarakat desa. Sementara pemateri kedua yaitu Citra Aulia seorang Pathnership ID dengan membawakan tema ‘Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Mewujudkan Desa SDGs’.

Dirinya memaparkan, lembaga perguruan tinggi harus mampu manjadikan kegiatan KKN sebagai ajang pengabdian dan pemberdayaan kepada masyarakat desa yang dipadukan dengan konsep SDGs khusunya yang paling ditekankan adalah pada indikator tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan sehat dan sejahtera dan pendidikan berkualitas, namun dengan tetap diselaraskan dengan prodi jurusan masing-masing.

“Sehingga kegiatan KKN tidak hanya sekedar buat tugu, ngecat tugu, dan mengajar saja, namun juga mempunyai program pengabdian dan pemberdayaan dengan diselaraskan program SDGs desa yang saat ini telah bertambah menjadi 18 indikator kelembagaan desa dinamis dan budaya desa adaptif,” jelasnya.

Selanjutnya Ketua Asosiasi Desa Wisata Andi Yuwono S.Sos., M.S.I sebagai pemateri ketiga menyampaikan, dalam membangun sebuah desa sebagai salah satu alternatif produk pemberdayaan harus mempunyai beberapa trik agar desa tersebut dapat dikenal oleh pasar dan diminati oleh masyarakat banyak, dimana sebuah desa harus mampu memberikan edukasi wisata bukan tempat wisata, kalau hanya sebagai tempat wisata nilai jualnya sangat rendah berkisar Rp. 20.000 sampai Rp. 50.000.

“Namun apabila desa tersebut sebagai edukasi wisata akan mampu meningkatkan nilai jual, mulai dari kisaran Rp. 100.000 sampai Rp. 200.000 karena yang dijual bekanlah fasilitas atau tempat, namun yang dijual adalah edukasi, pembelajaran, dan pengetahuan dari obyek desa wisata tersebut,” urainya.

Hadirnya desa wisata dapat dikembangkan oleh setiap desa sesuai dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia dalam desa tersebut. Selanjutnya Amrulloh Sofyan sebagai pemateri keempat menyampaikan sebelum menciptakan wisata desa, terlebih dahulu harus mengenal berbagai cara dan mampu mengidentifikasi potensi desa, karakteristik desa dan sumber daya alam yang dimiliki oleh desa.

Sebuah potensi dapat terdeteksi apabila dapat mengetahui dan mengidentifikasi ekosistem desa baik dari data primer melalui pendekatan partisipatif  dan wawancara terstruktur, serta data sekunder dari monograf desa.

Apabila data-data tersebut telah secara langsung dapat memetakan apa saja potensi yang dimiliki oleh desa mulai dari lahan padi, lahan kopi, lahan perkebunan dan yang lainnya. Apabila potensi desa dapat dipetakan maka akan mudah desa tersebut dijadikan sebagai wisata desa seperti Desa Kemiri, Panti, Jember yang memiliki beberapa destinasi wisata yang dapat dikunjungi.

“Seperti Kemiri Resort, JCC (Jember Coffe Center), Wisata Kebun Jeruk, Wisata Kebun Kopi, Wisata Industri Kreatif, Cafe Sawah, Wisata Museum Banjir Bandang, dan Kemiri Adventure (Trail, MTB),” kata pria yang merupakan Ketua Yayasan Pembelajaran Masyarakat Hidayah Bekasi ini.

Tak cukup dengan potensi desa, akan tetapi desa yang mempunyai kalender desa akan mampu menciptakan sirkulasi keuangan masyarakat desa melalui kegiatan-kegiatan desa yang dilakukan dalam setiap tahun sehingga akan memberikan peluang pasar kepada masyarakat desa. Banyaknya pengeluaran dan  kebutuhan masyarakat seperti kegitan syukuran bersih desa, kegiatan agustusan, peringatan hari besar islam, dan pengeluaran sekolah dapat dijadikan sebagai peluang masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat desa.

Peluang pasar tersebut dapat dikembangkan menjadi sebuah model bisnis BMC (Business Model Canvas) sebagai alat manajemen strategis untuk mendefinisikan serta mengkomunikasikan ide atau konsep bisnis dengan cepat dan mudah. BMC berbentuk dokumen satu halaman yang bekerja melalui elemen fundamental bisnis atau produk, serta menyusun ide dengan cara yang koheren melalui 9 indikator, salah satunya adalah Customes Segment atau segmentasi pasar, yaitu produk yang diciptakan siapa pasarnya dan kebutuhan apa yang paling diinginkan oleh pasar dalam periode tertentu, apabila kebutuhan pasar telah diketahui hadirnya produsen sebagai pelengkap kebutuhan pasar tersebut.

Lebih lanjut, Nasrul Koto Pendiri Bank Tani LKMA Prima Tani menjelaskan ‘Kebutuhan Konsumen sebagai Peluang Pasar’. Sebagaimana yang diilustrasikan hadirnya Bank Tani sebagai bentuk Lembaga Keuangan Mikro Agrobisnis (LKMA) Prima Tani di Nagari Koto Tinggi, Baso, Agam, Sumatra Barat. Sistem bank yang didirikan diadopsi oleh pemerintah dan menjadi cikal bakal Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) nasional.

Hadirnya Bank Tani dapat dimanfaatkan para petani untuk mendapatkan pinjaman tambahan modal usaha, karena banyaknya petani yang sulit mencari pinjaman modal. Bank Tani yang mampu menjadi sebuah komunitas usaha bersama di desa, secara langsung juga dapat diterapkan diseluruh desa sesuai dengan potensi desa dan komunitas usaha yang ingin di kembangkan dengan tetap memahami peluang pasar. Sebuah potensi desa dapat digali dari berbagai aspek baik dalam hal ekonomi, agama, politik, sosial dan budaya, apabila dapat dikembangkan potensi desa dalam bidang pendidikan melalui literasi membaca.

Salah satu desa yang telah mampu mengembangkan potensi desa melalui liteasi membaca yaitu Desa Ketapang Banyuwangi yang dibentuk oleh Tunggul Harwanto dengan nama Rumah Literasi Indonesia. Harwanto sebagai salah satu pemateri yang membawakan tema ‘Literasi Desa untuk Mewujudkan Kesejahteraan’.

Modifikasi potensi desa menjadi Rumah Literasi Indonesia berawal dari sebuah niat dan keinginan kuat agar anak-anak di Desa Ketapang Banyuwangi tidak buta aksara dan lebih bersemangat dalam membaca, sampai muncul sebuah slogan ‘Pantang Tanya Sebelum Membaca’.

Rumah Literasi Indonesia adalah gerakan yang bertujuan mengkampanyekan peningkatan budaya membaca dan menulis. Untuk mewujudkannya penyelenggaraan pendidikan alternatif berbasis masyarakat, khususnya bagi putra-putri bangsa yang tinggal di daerah polosok yang jarang disentuh oleh dunia pendidikan. Rumah literasi akan mampu menjadikan anak lebih mengarti, memahami dan lebih bijak dalam pengambilan keputusan. Anak yang dapat membaca akan mengerti tentang pentingnya pendidikan, karena pendidikan tersebut yang menjadi tongkat pergerakan perjalanan masa depan setiap anak.

Sebaliknya apabila anak tidak dapat membaca, maka tingkat pendidikannya tidak mampu menjadikan tongkat pergerakan. Sehingga anak tersebut akan memlih untuk putus sekolah dan mencari nafkah untuk keluarga, apabila dia perempuan, akan memilih untuk menikah dengan pemikiran akan dijamin oleh suaminya. Namun, dalam realita tidak, justru perceraian yang muncul ditengah perjalanan pernikahan karena suami yang tidak mampu memberikan nafkah keluarga.

“Agar problematika tersebut tidak terjadi, pihak desa harus mampu memberikan kesejahteraan kepada perempuan dan anak, agar desa tersebut tidak menjadi pendorong peningkatan angka perceraian di Kabupaten,” urainya.

Salah satu dosen Universitas Jember, Dr. Linda Dwi Ariyani, M.A. yang sekaligus pemateri sekolah pemberdayaan menyampaikan ‘Desa harus Ramah Anak Perempuan’. Desa yang mengintegrasikan gender dan hak anak ke dalam tata kelola penyelenggaraan pemerintahan desa, pembangunan desa dan pembinaan serta pemberdayaan masyarakat desa secara menyeluruh, terencana dan berkelanjutan melalui lima program prioritas yang digagas oleh Presiden Republik Indonesia dengan tujuan membangun bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di antaranya:

1) Peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan yang berperspektif gender, 2) Peningkatan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan/pengasuhan anak, 3) Penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak, 4) Penurunan pekerja anak, dan 5) Pencegahan pernikahan anak usia dini.

Beberapa program diatas apabila mempu diterapkan di setiap dengan akan mampu mendorong terciptanya program SDGs desa indikator kesetaraan gender. Beberapa konsep tersebut dapat diterapkan di setiap desa binaan oleh perguruan tinggi melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M).

Deteksi Dini Kerawanan Sosial Melalui Lokakarya FKDM

Deteksi Dini Kerawanan Sosial Melalui Lokakarya FKDM

Bagikan sekarang

Oleh: Muhammad Syarofi, M.E.

Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur bersama dengan FKDM Provinsi Jawa Timur dan Bangkesbangpol Jember mengadakan Lokakarya Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) di Hotel Aston Jember pada Sabtu hingga Ahad (26-27/11/2022).

Mewakili LPPM Inaifas, Muhammad Syarofi, M.E menjelaskan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) merupakan wadah bagi elemen masyarakat yang dibentuk dalam rangka menjaga dan memelihara kewaspadaan dini masyarakat.

“Melalui forum tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya stabilitas keamanan dengan meningkatkan Fasilitasi Deteksi Dini dan Kerawanan Sosial dan Gangguan Kamtibmas” ungkapnya.

Ketua FKDM Jawa Timur yang di wakili oleh Agus Imantoro S.Sos. M.H. menyampaikan pesan dari Ketua FKDM Jawa Timur bahwa saat ini terdapat beberapa potensi konflik yang terjadi di wilayah Bangkebangpol Jember antara lain masih adanya kelompok syiah yang mengadakan milad Siti Aisyah Azzahra, adanya kelompok pendukung Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, adanya perkembangan forum ideologi garis keras pimpinan Dr. Didik Sulamono, adanya kongres politik dalam pelaksanaan Pilkades dan Pemilu.

“Juga penolakan aktivitas pertambangan PT. Bumi Suksesindo Copper and Gold, adanya perselisihan antar warga dalam pembangunan masjid, adanya sengketa tanah perkebunan perhutani dengan masyarakat, adanya konflik penurunan papan nama salah satu nama organisasi masyarakat, serta adanya konflik antar perguruan pencak silat dan adanya penyalahgunaan narkoba,” terangnya.

Dirinya menambahkan, berbagai masalah konflik yang terjadi di wilayah Bakorwil Jember dengan adanya FKDM dapat terdeteksi secara dini berbagai macam kerawanan dan gangguan kamtibmas.

“Yaitu dengan berbagai macam pandangan yang berbeda-beda, struktur sosial dan beberapa instansi untuk saling bersinergi dalam pemberian informasi masyarakat dengan memetakan potensi kerawanan,” ujarnya.

Sementara itu, AKBP Ria Damayanti dalam sambutan menyampaikan sebuah konflik harus dapat dipetakan melalui strategi pemetaan konflik dan gangguan kamtibmas.

“Mulai dari intoleransi, berita hoax, radikalisme, terorisme, narkotika, hate sppeech, dan cyber war,” jelasnya.

Kegiatan FKDM yang dilaksakan selama dua hari yang diikuti oleh 32 peserta banyak dilakukan dengan FGD (Focus Group Discussion) dengan dibagi menjadi 4 kelompok dari daerah asal masing-masing peserta untuk memetakan berbagai masalah konflik yang berada didaerahnya masing-masing.

Kemudian dilanjutkan dengan langkah-langkah penyelesaian konflik tersebut yang kemudian disampaikan dengan presentasi dari perwakilan masing-masing kelompok, sehingga informasi yang diperoleh dapat dirumuskan bersama oleh panitia FKDM wilayah Jawa Timur untuk disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indah Parawansa.

Menanggapi hal itu, Ketua Bangkesbangpol Kabupaten Jember Choirul Anwar, S.H,. M.H. mengatakan penanganan masalah konflik sosial yang terjadi pada 7 Kabupaten/Kota yang perlu diwaspadai adalah permasalahan narkotika yang saat ini mengalami kenaikan karena strees masyarakat adanya Covid 19 dan mengalami penurunan karena adanya pembatasan sosial masyarakat.

“Sehingga hadirnya Lokakarya FKDM mampu membantu pemerintah provinsi dalam menjaring konflik permasalahan yang terjadi di wilayah Jawa Timur,” tandasnya.

Diketahui, kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh Kepala Bangkesbangpol Setapal Kuda, Ketua FKDM Setapal Kuda, Ketua Organisasi Masyarakat NU dan Muhammadiyyah Lumajang, Jember, Bondowoso dan Situbondo.

Selain itu, Ketua BNN Kota Pasuruan dan Lumajang, Direktur TANOKER Jember, LPPM Universitas Jember, LPPM INAIFAS Kencong Jember dan LPPM Universitas Nurul Jadid Probolinggo, LSM Probolinggo, Ketua Gus Durian Bondowoso, Peace Leader Bondowoso, serta Ketua KKBS Banyuwangi.

Spirit Diskusi Ilmiyah Bagi Sivitas Akademik di Kampus Inaifas

Spirit Diskusi Ilmiyah Bagi Sivitas Akademik di Kampus Inaifas

Bagikan sekarang

Oleh: Qurrotul Ainiyah, S.Pd.I., M.Sy.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember mengadakan kegiatan diskusi berkala bertajuk ‘Kantin Ilmu’. Kegiatan itu dipusatkan di ruang Laboratorium kampus setempat, Sabtu (19/11/2022).

Kegiatan ini dilakukan secara online dan offline yang dihadiri oleh seluruh dosen tetap Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas). Disebutkan, diskusi berkala ini merupakan kegiatan rutin bulanan yang ke-2. Kegiatan dimaksudkan untuk menghidupkan suasana keakraban antar dosen yang dikemas dalam bentuk diskusi keilmuan. Sehingga diharapkan akan tercipta budaya berpikir kritis dan nalar ilmiah pada disiplin keilmuan bagi sivitas akademika di kampus dakwah ini.

Acara diskusi tersebut dipandu apik oleh Rizqiyah Ratu Balqis, M.Pd dengan menghadirkan dua pemakalah yaitu Rijal Mumazziq Zionis M.H.I dosen prodi Akhwal al- Syakhsyiyyah (AS) dengan memaparkan materi tentang peran pesantren dalam penguatan islamic studies.

Sementara Muhammad Syarofi M.E dosen prodi Ekonomi Syariah (ES) membahas tentang pengaruh strategi bisnis dan keunggulan bersaing terhadap kinerja pemasaran dengan analisis SWOT pada usaha kecil menengah.

Dalam diskusi ini, Rijal berpendapat bahwa sebagai civitas akademik dari kalangan pesantren, seharusnya para dosen dan mahasiswa Inaifas mengembangkan potensi pesantren untuk menguatkan Dirasah Islamiyah di lingkungan perguruan tinggi.

“Salah satu potensi yang perlu diteliti adalah tentang ideologi dan gagasan- gagasan para kiai lokal,” ucapnya.

Selain itu, penulis buku ‘Kiai Kantong Bolong’ ini mencontohkan bahwa sudah ada beberapa peneliti insider yang telah meneliti potensi-potensi yang dimiliki oleh pesantren diantaranya; KH Abdur Rahman Wahid, KH Syaifuddin Zuhri dan beberapa penulis lain tentang pesantren yang bisa dijadikan rujukan oleh penulis tentang kepesantrenan.

Sedangkan Syarofi memberi paparan tetang strategi dan keunggulan persaingan pemasaran songkok merk “udeng Bali” di Banyuwangi. Dikatakan Syarofi, banyak pelaku usaha songkok di Banyuwangi yang tidak bisa menjalankan usahanya karena penerapan strategi pemasaran yang kurang tepat.

“Sehingga kompetitif dalam penjualan semakin rendah,” ujarnya.

Diskusi semakin seru ketika memasuki tanya jawab. Peserta nampak antusias dalam mengomentari dan bertanya tentang tema peran pesantren dalam menguatkan Dirasah Islamiyah dan keunggulan pemasaran songkok di Banyuwangi.

Pada kesempatan itu, Wakil Rektor I Dr Asnawan, M.S.I turut mengikuti kegiatan diskusi ini secara offline berharap agar kegiatan tersebut terus eksis dan semakin banyak dosen yang terlibat.

“Supaya mentradisikan diskusi dikalangan dosen dapat menguatkan studi keilmuan masa lalu dan perkembangan ilmu masa kini,” kata Asnawan.

Sementara Ahmad Zuhairuz Zaman Wakil Rektor IV juga berharap diskusi ini dapat menambah literatur pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu.

“Karena kegiatan diskusi ini melibatkan lintas keprodian dan menjadi wadah inspirasi menulis bagi dosen,” tandasnya.

Rembuk Person In Charge (PIC) KKN Kolaboratif Menuju Pembangunan Kampung Percontohan

Rembuk Person In Charge (PIC) KKN Kolaboratif Menuju Pembangunan Kampung Percontohan

Bagikan sekarang

Oleh: Qurrotul Ainiyah, S.Pd.I., M.Sy (Dosen INAIFAS)

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) se-Jember berasosiasi membentuk wadah untuk melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) secara kolaboratif. Tujuan dibentuknya asosiasi ini untuk mendata bantuan- bantuan yang diberikan pemerintahan supaya tepat sasaran. Melalui kelompok Mahasiswa KKN Kolaboratif bisa memaksimalkan Verval DTKS (Verifikasi Dan Validasi Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) dan program kerja tematik.

Program KKN Kolaboratif ini bentukan dari bapak Bupati Jember dengan tanggung jawab yang diserahkan kepada perguruan tinggi se- Kabupaten Jember. Sampai saat ini perguruan tinggi yang sudah menjadi penanggung jawab (person in charge) ada delapan perguruan tinggi diantaranya: UNEJ, INAIFAS, UNMUH, AKFAR, Univ. Moh. Sroedji, UIJ, ITS Mandala dan IAI Al-Qodiri. Saat ini yang menjadi ketua person in charge (PIC) KKN Kolaboratif adalah Dr. Ali Badrudin, M.M. dari UNEJ.

Pada hari selasa tanggal 1 november 2022 asosiasi Person In Charge (PIC) KKN Kolaboratif mengadakan pertemuan rutinan di kampus INAIFAS Kencong Jember. Semua peserta asosiasi Person In Charge (PIC) KKN Kolaboratif se- Jember hadir dan mengawali acara dengan ramah tamah antara tuan rumah (LPPM INAIFAS) dengan anggota PIC lainnya.

Selanjutnya adalah sambutan dari Rektor INAIFAS bapak Rijal Mumazziq Zionis M.HI. Dalam sambutannya, Rijal berharap kegiatan asosiasi ini tidak hanya terbatas pada kegiatan KKN Kolaboratif saja. Perlu ada pengembangan kegiatan-kegiatan dalam bentuk penelitian dan pengabdian pada masyarakat lainnya, yang melibatkan dosen-dosen di Kabupaten Jember.

Acara kedua dipimpin oleh bapak Dr. Ali Badrudin berisi evaluasi kinerja anggota Person In Charge (PIC) KKN Kolaboratif bulan lalu. Dilanjutkan membahas program kerja yang akan dilaksanakan di bulan November yakni melakukan diklat pengabdian bagi 1 LPPM dan 1 dosen untuk membangun kampung percontohan di Bondowoso dan Situbondo.

Ali Badrudin berharap bahwa anggota Person In Charge (PIC) KKN Kolaboratif serius dalam menjalankan program yang sudah terencana. Agar dana yang sudah dikeluarkan pemerintahan terhadap asosiasi ini tidak menjadi sia-sia.

Acara pertemuan rutinan ini di akhiri dengan Ngobras (ngobrol santai) di warung pak Panto Gumukmas. Dari ngobrol santai, muncullah gagasan untuk melakukan joint research bersama UNEJ dan giat pelatihan dan pengembangan UMKM dosen. Dan harapan selanjutnya, LPPM INAIFAS Kencong Jember lebih progres lebih baik dalam melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat, baik secara internal kampus INAIFAS maupun jaringan dengan instansi-instansi lainya.