Pijat Tradisional yang Masih Melekat di Masyarakat

Pijat Tradisional yang Masih Melekat di Masyarakat

Bagikan sekarang

Oleh : Rizqiyah Ratu Balqis, M.Pd. (Dosen PGMI INAIFAS)

Sore ini untuk kesekian kalinya anak saya Nusaibah, saya bawa ke tukang urut bayi alias dukun pijat bayi tradisional yang berada di desa sebelah. Meski antrian sangat panjang, tidak mengurangi semangat saya untuk berulang kali mendatangi tukang pijat bayi tersebut.

Alternatif kesehatan ini saya lakukan awalnya atas inisiatif orang tua, karena jujur sebagai orang tua baru di zaman yang modern ini memandang hal tersebut sudah kuno dan kalah dengan kecanggihan dunia medis saat ini. Namun karena suatu hal, pemikiran saya pun terpatahkan. Entah bagaimana yang jelas pada akhirnya saya termasuk orang tua yang pro dengan alternatif medis (dukun pijat bayi).

Melihat antrian panjang menandakan bahwa yang masih percaya pijat tradisional di dukun bayi bisa mengatasi segala permasalahan kesehatan bayi masih sangat banyak. Mereka rela antri hingga berjam-jam karena pijat itu dipercaya menjadi solusi bagi segala persoalan yang menyangkut bayi dan anak seperti demam, rewel, bahkan yang dipercaya mendapati gangguan makhluk halus.

Menurut teori medis pijat bayi memang punya banyak manfaat. Mulai dari menstimulasi gerak motorik dan sensorik bayi, membuat si kecil lebih rileks hingga bisa membantu bayi tidur lebih nyenyak. Namun pilihan untuk mempercayakan pijat pada dukun pijat tradisional juga masih banyak pro dan kontra.

Ada yang namanya baby spa, biasanya di klinik bersalin menawarkan pijat khusus bayi dengan suasana yang lebih modern, tempat yang lebih bagus, namun tak sedikit juga yang masih percaya dan memilih memijatkan buah hati mereka pada dukun pijat bayi tradisional. Selain alasan biaya yang relatif lebih ringan bahkan terkadang dibayar seikhlasnya, tapi juga karena alasan setelah selesai dipijat permasalahan bayi atau anak mereka terselesaikan.

Menurut pengamatan penulis ketika berada di salah satu lokasi pijat tradisional tersebut, mereka yang datang bukan hanya dari kalangan menengah ke bawah saja, tapi dari kalangan menengah atas bahkan orang akademisi yang menurut logika pikirannya lebih maju. Justru tak sedikit dari mereka juga pernah penulis lihat ikut mengantri untuk memijatkan buah hatinya ke tukang pijat bayi tradisional tersebut.

Penulis sempat menanyakan kepada orang tua pasien dan beberapa dari mereka beralasan memijatkan anak atau bayinya karena sedang sakit, karena rutinan tiap sebulan atau 10 hari sekali, ada juga yang karena bayinya habis jatuh, sebab biasanya jika bayi habis jatuh suhu badannya tinggi alias warang dalam bahasa jawa. Tak hayal, praktik pijat tradisional bayi ini masih ramai peminatnya walau di tengah zaman yang serba modern seperti sekarang ini.

Praktik pijat dukun bayi tradisional ini masih menjadi Primadona sebagai pilihan alternatif kesehatan. Penulis pernah juga menyaksikan ada pasien anak yang datang dengan keluhan Kejang demam atau penyakit step. Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), step adalah kejang pada anak yang dipicu oleh demam, bukan kelainan di otak. Kejang demam biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Ketika mengalami kejang demam, tubuh anak akan berguncang hebat diiringi gerakan menyentak di lengan dan tungkai, serta kehilangan kesadaran. Orang tua pasien sudah sering membawa anak mereka ke klinik kesehatan. Namun orang tua pasien bilang jika anaknya masih sering kambuh, maka dari itu orang tua pasien mencoba alternatif kesehatan lain yang pernah direkomendasikan saudaranya untuk ke dukun pijat anak.

Singkatnya setelah rutin terapi pijat, orang tua pasien menyaksikan sendiri bahwa buah hati mereka sudah jarang kambuh bahkan sudah tidak pernah. Tapi mereka tetap datang untuk memijatkan anaknya tiap sebulan sekali sebagai bentuk ikhtiar merawat kesehatan buah hatinya.

Saya sebagai penulis sekaligus sebagai orang tua yang juga memilih pijat tradisional menjadi alternatif kesehatan sempat bertanya kepada tukang pijat tersebut, Mbah Mukri namanya, penulis bertanya sejak kapan beliau berkarir menjadi tukang pijat bayi? Mbah Mukri menjawab bahwa beliau menjadi tukang pijat sejak beliau usia muda.

Selain mempunyai keturunan dari nenek moyang istilahnya, beliau juga sering tirakat. Secara istilah tirakat adalah suatu upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan, baik berupa perilaku, hati dan pikiran. Salah satu yang dilakukan dalam tirakat adalah berpuasa.

Mungkin hal ini yang menjadi daya tarik tersendiri, penulis juga beranggapan bahwa memijat saja pasti siapa saja bisa, teorinya juga sudah banyak di media Internet, namun yang memiliki keistimewaan seperti halnya Mbah Mukri tak banyak yang bisa. Jadi tidak heran jika langganan pijat di Mbah Mukri tidak hanya dari desa sebelah saja tapi juga dari lain Kabupaten bahkan luar kota juga ada.

Mbah Mukri juga adalah salah satu dari sekian banyak dukun pijat bayi tradisional yang ada di wilayah Kencong dan sekitarnya, di daerah lain juga ada orang yang berprofesi sebagai dukun pijat bayi tradisional yang juga tidak pernah sepi pelanggan.

Barangkali bagi sebagian orang yang pro dengan alternatif kesehatan ala dokter, menganggap bahwa hal-hal yang begini ini hanyalah sebuah tren di kalangan menengah ke bawah karena alasan kesulitan ekonomi atau bahkan karena kurangnya edukasi. Tapi penulis memandang hal ini adalah suatu fenomena langka dan membuktikan bahwa betapa luas ilmu Allah. Sebagai mana yang terdokumentasikan dalam Q.S. Al-Kahfi [18] ayat 109.


قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادࣰا لِّكَلِمَـٰتِ رَبِّی لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَـٰتُ رَبِّی وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدࣰا

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” [Surat Al-Kahfi (18): 109]

Sebagai Dzat yang menciptakan, memberikan ilmu, dan mengatur seluruh alam raya, tentunya Allah mengetahui segala hal yang telah dan akan terjadi di alam raya ini. Semua yang diketahui manusia, sudah pasti diketahui lebih dahulu oleh Allah SWT, karena yang menciptakan tentu lebih dahulu (qadim) dari yang diciptakan. Tetapi tidak sebaliknya, apa yang diketahui Allah SWT, belum tentu dapat dipahami atau sekadar diketahui oleh makhluk-Nya.

Allah memberikan sedikit ilmu-Nya pada seorang dokter, maka dengan pengetahuannya dan dibantu dengan peralatan medisnya maka ia bisa menyembuhkan seorang pasien atas izin Allah. Juga Allah memberikan sedikit ilmu-Nya kepada seorang tukang pijat bayi (sebagai contoh), dengan kepekaan perasaannya ketika memijat seorang bayi, dengan tingkat ketajaman mata batinnya sehingga memijat dengan tepat di titik-titik tertentu yang mungkin orang awam tidak tau, maka ia bisa menyembuhkan bayi tersebut atas izin Allah.

Nah sekarang tinggal bagaimana cara pandang kita mengenai hal tersebut. Pada intinya kita tidak boleh terlalu ekstrem dalam menyelesaikan persoalan hidup termasuk soal kesehatan. Misal kalau tidak ke klinik atau ke rumah sakit tidak akan sembuh dari sakit begitupun sebaliknya. Apakah dokter sentris ataupun pengobatan tradisional sentris. Semuanya sama berasal dari sedikit ilmu Allah yang dititipkan, dan kesembuhan atas izin Allah.

Waallahu A’lam Bishshawab

Tradisi Kupatan, Lebaran Khas Orang Jawa

Tradisi Kupatan, Lebaran Khas Orang Jawa

Bagikan sekarang

Oleh: Asni Furoidah, M.Pd.I (Dosen PBA INAIFAS)

Hari raya idul fitri merupakan momentum terbaik dalam menjalin silaturrahim terhadap sesama Muslim. Berbagai macam cara dilakukan dalam rangka menyemarakkan hari raya idul fitri ini. Orang Jawa sendiri mempunyai tradisi khusus dalam menyambut lebaran yang dinamakan tradisi Kupatan, yang merupakan hasil dari pemikiran para Walisongo dalam menyebarkan dakwah Islam melalui budaya.

Kupatan adalah tradisi keagamaan yang berhubungan dengan tradisi Islam. Tradisi ini merupakan salah satu bentuk warisan budaya leluhur yang sampai sekarang masih dilestarikan.
Waktu perayaan kupatan biasanya dilakukan seminggu setelah hari raya Idul Fitri.

Biasanya masyarakat desa berkumpul di suatu tempat seperti masjid atau musholla untuk melakukan selamatan dan seluruh warga membawa hidangan yang didominasi dengan ketupat. Hal ini merupakan perwujudan rasa syukur setelah mengerjakan puasa satu bulan penuh dan disempurnakan dengan puasa sunah enam hari di bulan syawal.

Kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari kalimat ‘ngaku lepat’ yang berarti ‘mengakui kesalahan’. Oleh karena itu, saling berbagi dan memberi kupat di hari raya lebaran Idul Fitri adalah simbol atas pengakuan kesalahan dan kekurangan diri masing-masing terhadap Allah SWT, keluarga dan terhadap sesama.

Kupat merupakan makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan selongsong dari anyaman daun kelapa yang masih muda (janur). Masyarakat desa biasanya membuat sendiri anyaman tersebut lalu diisi dengan beras yang telah direndam air. Selanjutnya kupat tersebut direbus berjam-jam sampai matang. Makanan ini biasanya disajikan bersama sayur pelengkap, seperti opor ayam dan lainnya. Warna isi ketupat yang putih melambangkan kesucian hati setelah kita meminta maaf atas atas kesalahan yang dilakukan pada orang lain. Lalu, daun janur yang dipakai juga mengandung makna jatining nur atau hati nurani. Ketupat sudah menjadi maskot makanan khas lebaran. Namun dalam tradisi Jawa, makanan ini bukan hanya sajian pada hari kemenangan, tetapi makna filosofis yang mendalam dalam tradisi Jawa.

Ketupat atau kupat sendiri memiliki banyak makna sebagaimana yang telah diketahui oleh masyarakat Jawa. Kupat di artikan sebagai laku papat yang menjadi simbol dari empat segi dari ketupat. Laku papat yaitu empat tindakan yang terdiri dari lebaran, luberan, leburan, laburan. Maksud dari empat tindakan tersebut antara lain:

Pertama, Lebaran yaitu suatu tindakan yang berarti telah selesai yang diambil dari kata lebar. selesai dalam menjalani ibadah puasa ramadhan dan diperbolehkan untuk menikmati makanan.

Kedua, Luberan berarti meluber, melimpah yang menyimbolkan agar melakukan sedekah dengan ikhlas bagaikan air yang berlimpah atau meluber dari wadahnya. Oleh karena itu tradisi membagikan sedekah di hari raya Idul Fitri menjadi kebiasaan umat Islam di Indonesia.

Ketiga, Leburan berarti lebur atau habis. Maksudnya adalah agar saling memaafkan dosa-dosa yang telah dilakukan. sehingga segala kesalahan yang telah dilakukan menjadi suci bagai anak yang baru lahir.

Keempat, Laburan berarti bersih putih berasal dari kata labur atau kapur. Harapan setelah melakukan Laburan agar selalu menjaga kebersihan hati yang suci. Manusia dituntut agar selalu menjaga perilaku dan jangan mengotori hati yang telah suci.

Oleh sebab itu, diharapkan pada bulan syawal ini kita sebagai manusia mampu bersikap arif dengan cara mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan ini, juga ditafsirkan dari bahasa Arab kaffatan yang artinya kesempurnaan, dalam konteks kembali ke fitrah dimomen Idul Fitri.

Dengan logat orang Jawa, lafadz kaffatan akhirnya menjadi Kupatan.

Mangan kupat
Dicampur santen
Menawi lepat
Nyuwun ngapunten

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ, كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ.

Selamat hari raya idul fitri 1443 H, mohon maaf lahir dan batin.

Tips Mudah Belajar Public Speaking

Tips Mudah Belajar Public Speaking

Bagikan sekarang

Oleh : Rizqiyah Ratu Balqis,M.Pd (Dosen Prodi PGMI INAIFAS)

Ada yang bilang jika orang introvert maka ia tidak bisa atau bahkan tidak pandai berbicara di depan umum. Keterampilan untuk berbicara dengan baik di depan umum ini bisa disebut juga dengan istilah public speaking.

Tak sedikit orang menganggap bahwa berbicara dihadapan khalayak ramai menjadi momen menakutkan. Namun, sadarkah bahwa kemampuan public speaking itu penting untuk kehidupan sehari hari ? Bahkan untuk semua profesi butuh tambahan soft skill yakni kemampuan public speaking. Bayangkan begitu banyak hal yang bisa dilakukan dengan kemampuan ini. Mulai dari presentasi di kelas, memimpin rapat organisasi, memberikan pelatihan, dan banyak lainnya. Bagi profesi lainnya seperti pedagang bahkan seorang penjual di pasar tradisional secara offline sampai penjual online pun butuh kemampuan public speaking. Karena bukan hanya sekedar berani berbicara saja tapi bagaimana pesan dari pembicaraan tersebut dapat tersampaikan dengan baik kepada lawan bicara (audiens).

Lantas apakah orang introvert tidak bisa public speaking? hal tersebut tidak bisa dikatakan benar, dikarenakan bisa jadi orang yang memiliki sifat introvert mampu melakukan public speaking lebih tertata dibandingkan yang ekstrovert. Kemampuan public speaking tidak ada kaitannya dengan kecenderungan sifat seseorang, kemampuan public speaking menurut penulis pribadi sama dengan keterampilan-keterampilan lainnya yang bisa dilatih. Semakin tinggi jam terbang, akan semakin meningkat kepercayaan diri dan semakin bisa mengatur kesalahan.

Nah, itu tadi betapa pentingnya memiliki kemampuan public speaking yang baik, namun jangan khawatir bagi para pemula. Berikut beberapa tips public speaking untuk pemula

  1. Latihan dan kuasai materi, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa public speaking bukanlah soal bakat, tapi seperti halnya keterampilan yang lain, public speaking pun juga bisa dilatih. Sebelum anda tampil di depan umum menjadi seorang pembicara yang terpenting dan utama adalah anda harus menguasai materi yang akan anda sampaikan kepada audiens. Kemudian berlatihlah bagaimana caranya agar materi yang anda sampaikan tersebut dapat diterima dan dipahami oleh audiens. Latihan yang bisa dilakukan salah satunya dengan cara berlatih di depan cermin dan kemudian direkam sehingga anda bisa melihat berulang dan menilai penampilan anda sendiri. Bisa juga dengan mengajak teman untuk saling berlatih sehingga anda akan mendapatkan kritik dan saran dalam penampilan anda.
  2. Kenali audiens, aspek yang penting dalam sebuah kegiatan public speaking adalah audiens. Jika anda tidak memiliki cukup pengetahuan untuk mengenali audiens anda, maka anda tidak akan pernah bisa sukses menjadi public speaker. Audiens adalah dasar dari setiap kegiatan public speaking. Karena itu, sangat penting untuk mengetahui dan mempelajari audiens sebelum melakukan public speaking. Anda tidak dapat membuat orang lain terkesan dengan presentasi anda, jika anda tidak mempelajari siapa audiens anda dengan baik.
  3. Belajar intonasi dan ekspresi. Intonasi berkaitan dengan vokal, pembicara yang baik memiliki vokal yang baik. Vokal yang baik adalah suara yang enak didengar (audible), jelas, fasih, nadanya pas, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Ekspresi berkaitan dengan visual. Seorang public speaker bisa melatih ekspresi wajah yang tepat dan memikat di depan cermin sambil mengucapkan kata-kata dan memadukan dengan gerakan tangan atau gestur lainnya. Seorang public speaker harus bisa memilih ekspresi yang cocok dengan intonasi dan isi dari pesan yang disampaikan. Seperti contoh mengucapkan belasungkawa terhadap korban bencana alam tapi dengan ekspresi tertawa dan intonasi yang riang sangatlah tidak tepat. Karena intonasi dan ekspresi tidak sesuai dengan materi pesan yang disampaikan.
  4. Take the opportunity (ambil kesempatan). Setelah ketiga tips di atas sudah dilakukan maka selanjutnya adalah ambil setiap kesempatan yang ada. Oleh karena itu, bersiap-siaplah untuk mendapatkan kesempatan itu dan setelah kesempatan itu datang, anda tidak boleh menolaknya. Ambil kesempatan itu dan persiapkan diri sebaik mungkin. Jadikan setiap kesempatan berbicara di depan publik sebagai jembatan untuk meraih kesuksesan anda. Dan jangan pernah takut membuat kesalahan pada penampilan anda, karena semakin sering berbicara di depan umum maka semakin lihai dalam mengatur kesalahan sebagai bahan evaluasi pada penampilan anda selanjutnya.

Yuk praktikan mulai dari sekarang, sesaat setelah anda membaca artikel ini.

Program One Day One Juz ala Dosen INAIFAS

Program One Day One Juz ala Dosen INAIFAS

Bagikan sekarang

Oleh : Siti Mutmainah, M.Pd. (Dosen Prodi PGMI INAIFAS)

Marhaban yaa Ramadhan. Dewasa ini, anak muda justru bangga menyebut dirinya sebagai kaum rebahan. Entah karena trend, hanya lelucon, atau hal itu memang sesuai dengan kondisi mereka. Kaum rebahan merupakan istilah untuk orang-orang yang lebih memilih untuk bersantai dan berbaring di kasur daripada mengisi waktu dengan hal yang positif dan produktif.

Biasanya kondisi rebahan ini sambil scrool tiktok, instagram atau media sosial yang lain. Jika kebetulan konten yang ditemui baik itu justru bermanfaat bagi mereka. Tapi sebaliknya jika menemui konten yang buruk akan berakibat buruk juga bagi mereka.

Terlebih di masa pandemi seperti saat ini, generasi milineal sudah terbiasa berada di rumah. Mereka yang sekolah, kuliah, kerja, banyak dilakukan dari rumah. Tentu saja dengan memanfaatkan teknologi, mereka dapat belajar, rapat atau kerja melalui zoom ataupun aplikasi yang lain. Dampak positifnya, mereka dapat tetap produktif meskipun hanya dengan rebahan di rumah.

Produktif itupun tidak sekedar masalah duniawi, menyibukkan diri dengan masalah akhirat itu juga produktif. Di bulan yang penuh rahmat ini, anak muda dapat memanfaatkannya dengan kegiatan positif, terlebih pahala ibadah di bulan suci Ramadhan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Ibadah di bulan suci ini bukan hanya dalam bentuk berpuasa, tetapi juga solat, tadarus al-qur’an dan yang lainnya.

Untuk tadarus al-qur’an, tidak semua anak muda memiliki kesempatan mengaji bersama-sama di pesantren, musholla, ataupun di masjid yang ada di lingkungan mereka. Alasannya mungkin karena letak tempat ibadah yang jauh ataupun karena masalah gender. Karena tidak semua masjid/mushola terbiasa melaksanakan tadarus qur’an bagi perempuan.

Lain halnya dengan salah satu Dosen PGMI INAIFAS Kencong-Jember, Ibu Siti Mutmainah, M.Pd berinisiatif untuk melaksanakan program tadarus al-qur’an secara online bagi mahasiswanya. “Hal ini bertujuan untuk menambah semangat beribadah terutama membaca al-qur’an di bulan suci ini,” kata Bu Muth sapaan akrabnya.

Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui grup Whatsapp dengan diikuti oleh 85 mahasiswa dari berbagai program studi di INAIFAS. Grup ini bernama One Day One Juz (satu hari satu juz) dibentuk pada awal ramadhan yaitu tanggal 3 April 2022.

Sesuai namanya, setiap anggota grup ditargetkan untuk menyelesaikan membaca 1 juz setiap hari. Dengan begitu semua anggota secara bergotong-royong dapat menghatamkan Al-Qur’an setiap hari. “Cara pembagian juz ini dengan sistem rolling, setiap hari secara bergantian anggota grup mendapat bagian juz yang berbeda,” terangnya.

Bisa jadi kegiatan kecil ini oleh sebagian orang dianggap kegiatan sepele, namun terdapat banyak nilai positif di dalamnya. Misalnya semangat berjuang melawan rasa malas, semangat bekerja sama, dan tentu saja bernilai ibadah. Hal ini diperkuat dengan testimoni dari beberapa mahasiswa:

“Alhamdulillah Bu dengan adanya program one day one juz lebih semangat lagi dalam membaca Alquran soalnya ada target yang harus di capai. Terimakasih Bu sudah mengajak saya bergabung di program nya njenengan. Semoga selalu bisa Istiqomah membaca Alquran bukan hanya di bulan Ramadhan bisa lanjut di bulan-bulan selanjutnya”, (Komentar Dwi Rachmawati, mahasiswa prodi PGMI semester 8).

“Dengan adanya kegiatan one day one juz, saya menjadi lebih semangat dalam membaca Al-Qur’an, lebih sering mengisi waktu luang dengan membaca Al-Quran dan dengan adanya kegiatan ini semoga membangkitkan saya untuk lebih rajin membaca Al-Qur’an ke depannya.” (Komentar Rosa Delia R, mahasiswa prodi PGMI semester 6).

“Saya sangat mengapresiasi dan sangat berterima kasih karena diadakannya kegiatan seperti ini karena kita dapat lebih terkoordinir dalam membaca Al-Qur’an dan lebih dapat membiasakan untuk meluangkan waktu kita sejenak untuk bersama2 mengkhatamkan al-Qur’an terutama dalam bulan suci ramadhan, karena dengan kebersamaan semua menjadi lebih menyenangkan tanpa mengurangi ke khusyu’an, ” (Komentar, Siti Sarah dari prodi PGMI semester 6).

“Assalamu’alaikum bu, Terima kasih sudah membuatkan kami grub yang sangat bermanfaat.
Alhamdulillah.. Sangat bersyukur dg adanya grub one day one juz, sangat memotivasi untuk berlomba2 dalam beribadah khususnya untuk diri saya sendiri, lomba untuk menjadikan saya lebih dekat dengan Al Qur’an. Awalnya saya berfikir apa saya bisa dan mampu? Ternyata amat sangat bisa dan saya bisa merasakan ketenangan batin, dan kemudahan dalam menjalani aktifitas setiap hari.” (Komentar Anti Lestari: mahasiswa prodi PGMI semester 6).

Dengan tanggapan positif dari adik-adik mahasiswa tersebut, semoga saja kegiatan ini juga dapat diterapkan oleh dosen-dosen ataupun struktural di INAIFAS Kencong Jember.

“Sehingga di rumah saja bukan lagi menjadi alasan untuk rebahan tapi juga dapat lebih produktif beribadah di bulan suci dan bulan-bulan lainnya,” pungkasnya.*(haz)

Sosialisasi dan Pembekalan PPL/PkM Bravo 2022

Sosialisasi dan Pembekalan PPL/PkM Bravo 2022

Bagikan sekarang

PPL/PkM Bravo (Based on Research & Innovation)
Oleh: Asni Furoidah M.Pd.I (Dosen Pendidikan Bahasa Arab INAIFAS)

Pada pertengahan bulan Maret lalu, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) mengadakan kegiatan sosialisasi & pembekalan PPL/PkM Bravo 2022 di Gedung Lt.5 Kampus II INAIFAS Kencong Jember.

PPL/PkM Bravo sendiri merupakan agenda tahunan prodi PBA sebagai ajang praktek pengalaman lapangan dan pengabdian kepada masyarakat dengan tujuan mengenalkan serta memberikan pengalaman belajar kepada Mahasiswa PBA agar menjadi calon guru bahasa Arab yang professional sesuai dengan keahlian masing-masing.

Pelaksanaan kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa PBA semester 7 beserta segenap dosen PBA.

M. Abdul Ghofur, M.Pd, selaku ketua tim PPL/PkM PBA Bravo menyampaikan arahan dan kebijakan pelaksanaan PPL/PkM hingga penulisan laporan dan jurnal kemahasiswaan An-Nuqtah. Pak Ghofur, sapaan akrabnya, berharap agar mahasiswa benar-benar mampu mengaplikasikan semua materi pembelajaran yang telah didapatkan pada bangku perkuliahan dan menjaga nama baik Institusi selama proses pelaksanaan PPL/PkM berlangsung.

Sosialisasi & Pembekalan PPL/PkM Bravo berlangsung pada hari Ahad, 13 Maret 2022 pukul 08.00-13.00 WIB. Mahasiswa menerima 6 materi sebagai alur kegiatan PPL/PkM Bravo, antara lain: Materi 1, Langkah-Langkah Perencanaan PPL/PkM, yang berisikan proses kerjasama antara pihak kampus dengan lembaga PPL/PkM. Materi 2, Pelaksanaan. Materi 3, Pengajaran dan Penyusunan Perangkat Pembelajaran. Materi 4, Perencanaan Riset. Materi 5, Penulisan Laporan Riset. Materi 6, Penulisan Jurnal, sebagai hasil riset PPL/PkM Bravo.

Program PPL dilaksanakan selama 40 hari sejak penerjunan mahasiswa PPL dan dilaksanakan dilembaga yang terdekat dengan alamat rumah Mahasiswa yang bersangkutan. Selama pelaksanaan PPL, mahasiswa Prodi PBA didampingi oleh guru pamong pengampu bahasa Arab. Sebelum melaksanakan kegiatan PPL, mahasiswa diharapkan merencanakan riset. Metode riset tidak dibatasi, boleh menggunakan kualitatif, kuantitatif, mix method, R&D atau meramu sendiri langkah-langkah riset dengan ketentuan tidak keluar dari keilmiahan riset dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perencanaan riset harus didiskusikan dengan DPL. Objek riset meliputi: media pembelajaran, metode pembelajaran, bahan ajar, evaluasi pembelajaran, kompetensi bahasa, problematika pembelajaran, soal dan pengukuran hasil belajar, model pembelajaran dan lain sebagainya yang berkaitan dengan pembelajaran dan pengajaran bahasa Arab pada tingkat MI/MTs/MA.

Selain itu, mahasiswa juga harus melaksanakan pengabdian kepada masyarakat sebagai bentuk perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pelaksanaan PkM ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Assunniyyah selama 1 bulan penuh. Para mahasiswa mengabdikan dirinya sebagai guru bahasa Arab yang ditugaskan untuk mengenalkan pelajaran bahasa Arab kepada para santri.

Setelah pelaksanaan PPL/PkM ini, mahasiswa diharapkan mampu menyusun laporan PPL/PkM berbasis riset dan men-submit naskah jurnal pada OJS dengan bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang nantinya hasil riset mahasiswa akan dipublikasikan pada laman jurnal An-Nuqtah sebagai hasil akhir pelaksanaan PPL/PkM Bravo ini.

Salam PBA Bravo!!

Soal Investasi, Belajarlah Dari Nabi Yusuf

Soal Investasi, Belajarlah Dari Nabi Yusuf

Bagikan sekarang

Uliyatul Mu’awwanah, M.E.IKaprodi Ekonomi Syariah INAIFAS Kencong Jember

Sering kali saya ditanya soal keuntungan saat menjadi investor. Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya tidak sesimpel yang kita pikirkan. Sebab, investasi bukan melulu soal duit yang diperoleh saat seseorang memutuskan untuk berinvestasi, melainkan lebih dari itu. Kenapa demikian? Oke kita bedah satu persatu.

Pertama, terminologi investasi membicarakan keuntungan di masa depan, bukan real time. Sedangkan kecenderungan manusia untuk dapat kaya secara instan nyaris menjadi faktor penghambat tingkat signifikansi ketercapaian tujuan investasi itu sendiri. Investasi bukan soal penghasilan tapi tentang kesediaan individu dalam menahan diri untuk tidak menghamburkan harta tanpa memikirkan efek jangka panjang. Masih ingat kisah Nabi Yusuf Alaihissalaam saat Mesir dilanda paceklik ekstrem? Kesuksesan Nabi Yusuf dalam menstabilkan ketahanan pangan membuatnya diangkat menjadi bendahara negara. Berkat skill ekonom futuristik yang ia miliki, Nabi Yusuf berhasil mengambil langkah prediktif dan solutif atas tindak lanjut dari pentakwilan mimpi sang raja yang melihat 7 ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina kurus serta takwil atas mimpi 7 butir gandum hijau sedang 7 butir lainnya kering.

Di era Nabi Yusuf, mimpi dapat dijadikan sebagai suatu isyarat pengetahuan yang dapat di benarkan sehingga kemudian ia memerintahkan untuk bercocok tanam 7 tahun lamanya sebagaimana biasa, kemudian tidak mengkonsumsi hasil panennya kecuali sedikit. Tidak hanya itu, Nabi Yusuf sebagai arsitek perekonomian Mesir juga mengambil langkah stategis dalam menangani krisis pangan dengan membangun gudang penyimpanan/lumbung alias bulog kalau dalam istilah sekarang. Hingga suatu ketika mengeringlah Sungai Nil dan Mesir dilanda kekeringan parah 7 tahun lamanya. Namun berkat kecermatan Nabi Yusuf, krisis ini bisa diantisipasi dan diberi solusi.

Kisah ini masyhur di kalangan para ekonom muslim dan diabadikan dalam al-Qur’an (lebih lanjut lihat Tafsir QS. Surat Yusuf 47-49). Dari kisah ini kita dapat melihat bahwasanya resesi ekonomi dapat diminimalisir dengan cara investasi. Masa pandemi saat ini misalnya, mereka yang tidak membiasakan untuk berinvestasi sedari dini akan menjadi kaum paling terdampak karena kemungkinan tidak ada pemasukan lain.

Lebih dekat lagi, ada Ali Wardhana Menteri Keuangan Republik Indonesia (1968-1983). Ketika menjabat sebagai orang nomor satu di keuangan negara, fenomena Oil Boom (1973) harusnya bisa menjadikan Indonesia sebagai negara kaya raya saat itu karena harga minyak bumi melonjak tinggi. Namun tak seperti negara penghasil minyak lainnya, Ali Wardhana justru mencium gelagat tak menyenangkan dari euphoria tersebut. Baginya, Indonesia tidak bisa hanya berpangku pada hasil penjualan minyak. Jika negara penghasil minyak lainnya memanfaatkan momen tersebut dengan menguatkan mata uang, Ali justru mampu memprediksi lebih jauh karena menurutnya jika ekspor dibiarkan terlalu lama dijual dengan harga tinggi maka daya saing komoditas akan melemah di mata perkenomian global.

Pendapatan negara dari hasil penjualan minyak justru ia investasikan pada sektor fundamental seperti pendidikan, infrastruktur, kesehatan dan manufaktur. Hingga suatu saat, terjadilah tragedi Dutch Disease (1986), saat harga minyak bumi jatuh. Negara penghasil minyak seperti Iraq, Nigeria dan Venezuela berada di ambang kebangkrutan, sementara perekonomian Indonesia tetap stabil. Ini juga menjelaskan bahwa prediksi Ali terbukti presisi. Ia mengajarkan setiap individu pelaku ekonomi haruslah memiliki determinasi serta Leadership Finance yang berani say no atas penawaran/ iming-iming untung banyak, misalnya dengan melakukan penerawangan di masa depan demi agar terhindar dari kolaps.

Kedua, instrumen investasi selalu mengarah pada Tangible maupun Intangible Asset (berwujud dan tak berwujud) serta jauh dari sifat Less Valuable seperti crypto, saham, obligasi, reksadana, properti, tanah, copyright, perjanjian waralaba, merek dagang, godwill dan seterusnya. Ketika instrumen tersebut diperjualbelikan maka masuk pada ranah trading. Trader berbeda dengan investor. Aktivitas trading yang mentraksasikan asset dengan valuasi tinggi tetaplah jual beli/ perdagangan/ perniagaan. Sedangkan jual beli ialah salah satu jalan menuju keberkahan, bahkan Rasulullah Muhammad juga melakukannya. Jika ingin untung dalam waktu singkat lakukanlah jual beli karena jika pintu rejeki ada 10, maka 9 di antaranya terdapat pada berdagang di samping berternak dan lainnya. Dari sini kita bisa lihat semakin jelas bahwa trading dan investasi itu berbeda.  

Sejujurnya, saya tidak tahu detail penyebab orang salah dalam memahami investasi. Hanya saja kecurigaan saya mengarah pada Syndrome Fear of Missing Out atau biasa disebut FOMO. Penyakit ini merupakan suatu perasaan cemas jika seorang individu ketinggalan tren. Parahnya, sindrom ini juga telah menyerang para trader maupun investor. Mereka kehilangan kontrol emosi dalam aktivitas transaksi jual beli maupun investasi sehingga menjadi serakah kemudian melupakan resiko yang harus ditanggung. FOMO berbanding lurus dengan Herding Behavior karena perasaan cemas takut ketinggalan akan menimbulkan perilaku irrasional. Mereka cenderung melakukan transaksi atas dasar insting ikut-ikutan tanpa disertai analisis intensif. Alhasil, ikut-ikutan justru akan masuk kategori dilarang sebab menimbulkan unsur gharar/ ketidakjelasan dalam transaksi.

Selanjutnya, kita perkecil dari skala luas/nasional di atas menjadi rumah tangga atau individu. Revenue/ pendapatan bisa diperoleh dari bekerja (jual beli, dll). Kebutuhan bisa dipenuhi dengan membelanjakan pendapatan yang diperoleh. Tapi pengalokasian anggaran tetaplah butuh ilmu seni. Seni berhutang hingga seni bayar cicilan, misalnya. Bagi saya tidak masalah jika kita menghabiskan gaji, tapi ingat habiskan dengan cara terarah dan terukur. Lakukan perencanan, pendayagunaan hingga penilai tambahan pada inputed cost.

Atau mungkin jika kita sedang berada dalam fase defisit, lakukan restructuring anggaran mulai dari renegoisasi hutang misalnya dengan tetap pada target stabilisasi ekonomi. Jangan sampai sindrom FOMO justru menjerumuskan anda para netizen budiman ke dalam korban referral khas Money Games. Sedikit mengencangkan ikat pinggang atau Naleni Weteng, kalau kata orang Jawa, yaitu dengan mulai membelanjakan harta berdasarkan fungsi bukan gengsi.

Ketiga lesson learned, keuntungan bisa diperoleh dari banyak cara. Jika mau, kita bisa memulainya from any start. Karena investasi terbaik adalah yang dicari, bukan yang ditawarkan. Jika tak punya asset/ harta untuk diinvestasikan mulailah dari investasi terhadap diri sendiri dengan mengisinya dengan pengetahuan-pengetahuan yang leverage. Karena investasi lebih ke pada defense atau keputusan untuk bersikap antisipatif atas berbagai ketidakpastian yang akan dihadapi di masa mendatang.

Akhir kata, tulisan ini tidak bermaksud menggurui dan bukan berarti sayalah orang yang paling tepat sasaran dalam mendistribusikan harta. Tapi kadang, flash sale di Shopee 12.12 misalnya juga akan meng-ijo-kan mata, kemudian jiwa shopaholic pun meronta. Tapi minimal sedikit sharing bisa menjadi semacam rem atau kendali bagi kita semua.

Terimakasih Semua. Happy Shoping…!