Soal Investasi, Belajarlah Dari Nabi Yusuf

Soal Investasi, Belajarlah Dari Nabi Yusuf

Bagikan sekarang

Uliyatul Mu’awwanah, M.E.IKaprodi Ekonomi Syariah INAIFAS Kencong Jember

Sering kali saya ditanya soal keuntungan saat menjadi investor. Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya tidak sesimpel yang kita pikirkan. Sebab, investasi bukan melulu soal duit yang diperoleh saat seseorang memutuskan untuk berinvestasi, melainkan lebih dari itu. Kenapa demikian? Oke kita bedah satu persatu.

Pertama, terminologi investasi membicarakan keuntungan di masa depan, bukan real time. Sedangkan kecenderungan manusia untuk dapat kaya secara instan nyaris menjadi faktor penghambat tingkat signifikansi ketercapaian tujuan investasi itu sendiri. Investasi bukan soal penghasilan tapi tentang kesediaan individu dalam menahan diri untuk tidak menghamburkan harta tanpa memikirkan efek jangka panjang. Masih ingat kisah Nabi Yusuf Alaihissalaam saat Mesir dilanda paceklik ekstrem? Kesuksesan Nabi Yusuf dalam menstabilkan ketahanan pangan membuatnya diangkat menjadi bendahara negara. Berkat skill ekonom futuristik yang ia miliki, Nabi Yusuf berhasil mengambil langkah prediktif dan solutif atas tindak lanjut dari pentakwilan mimpi sang raja yang melihat 7 ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina kurus serta takwil atas mimpi 7 butir gandum hijau sedang 7 butir lainnya kering.

Di era Nabi Yusuf, mimpi dapat dijadikan sebagai suatu isyarat pengetahuan yang dapat di benarkan sehingga kemudian ia memerintahkan untuk bercocok tanam 7 tahun lamanya sebagaimana biasa, kemudian tidak mengkonsumsi hasil panennya kecuali sedikit. Tidak hanya itu, Nabi Yusuf sebagai arsitek perekonomian Mesir juga mengambil langkah stategis dalam menangani krisis pangan dengan membangun gudang penyimpanan/lumbung alias bulog kalau dalam istilah sekarang. Hingga suatu ketika mengeringlah Sungai Nil dan Mesir dilanda kekeringan parah 7 tahun lamanya. Namun berkat kecermatan Nabi Yusuf, krisis ini bisa diantisipasi dan diberi solusi.

Kisah ini masyhur di kalangan para ekonom muslim dan diabadikan dalam al-Qur’an (lebih lanjut lihat Tafsir QS. Surat Yusuf 47-49). Dari kisah ini kita dapat melihat bahwasanya resesi ekonomi dapat diminimalisir dengan cara investasi. Masa pandemi saat ini misalnya, mereka yang tidak membiasakan untuk berinvestasi sedari dini akan menjadi kaum paling terdampak karena kemungkinan tidak ada pemasukan lain.

Lebih dekat lagi, ada Ali Wardhana Menteri Keuangan Republik Indonesia (1968-1983). Ketika menjabat sebagai orang nomor satu di keuangan negara, fenomena Oil Boom (1973) harusnya bisa menjadikan Indonesia sebagai negara kaya raya saat itu karena harga minyak bumi melonjak tinggi. Namun tak seperti negara penghasil minyak lainnya, Ali Wardhana justru mencium gelagat tak menyenangkan dari euphoria tersebut. Baginya, Indonesia tidak bisa hanya berpangku pada hasil penjualan minyak. Jika negara penghasil minyak lainnya memanfaatkan momen tersebut dengan menguatkan mata uang, Ali justru mampu memprediksi lebih jauh karena menurutnya jika ekspor dibiarkan terlalu lama dijual dengan harga tinggi maka daya saing komoditas akan melemah di mata perkenomian global.

Pendapatan negara dari hasil penjualan minyak justru ia investasikan pada sektor fundamental seperti pendidikan, infrastruktur, kesehatan dan manufaktur. Hingga suatu saat, terjadilah tragedi Dutch Disease (1986), saat harga minyak bumi jatuh. Negara penghasil minyak seperti Iraq, Nigeria dan Venezuela berada di ambang kebangkrutan, sementara perekonomian Indonesia tetap stabil. Ini juga menjelaskan bahwa prediksi Ali terbukti presisi. Ia mengajarkan setiap individu pelaku ekonomi haruslah memiliki determinasi serta Leadership Finance yang berani say no atas penawaran/ iming-iming untung banyak, misalnya dengan melakukan penerawangan di masa depan demi agar terhindar dari kolaps.

Kedua, instrumen investasi selalu mengarah pada Tangible maupun Intangible Asset (berwujud dan tak berwujud) serta jauh dari sifat Less Valuable seperti crypto, saham, obligasi, reksadana, properti, tanah, copyright, perjanjian waralaba, merek dagang, godwill dan seterusnya. Ketika instrumen tersebut diperjualbelikan maka masuk pada ranah trading. Trader berbeda dengan investor. Aktivitas trading yang mentraksasikan asset dengan valuasi tinggi tetaplah jual beli/ perdagangan/ perniagaan. Sedangkan jual beli ialah salah satu jalan menuju keberkahan, bahkan Rasulullah Muhammad juga melakukannya. Jika ingin untung dalam waktu singkat lakukanlah jual beli karena jika pintu rejeki ada 10, maka 9 di antaranya terdapat pada berdagang di samping berternak dan lainnya. Dari sini kita bisa lihat semakin jelas bahwa trading dan investasi itu berbeda.  

Sejujurnya, saya tidak tahu detail penyebab orang salah dalam memahami investasi. Hanya saja kecurigaan saya mengarah pada Syndrome Fear of Missing Out atau biasa disebut FOMO. Penyakit ini merupakan suatu perasaan cemas jika seorang individu ketinggalan tren. Parahnya, sindrom ini juga telah menyerang para trader maupun investor. Mereka kehilangan kontrol emosi dalam aktivitas transaksi jual beli maupun investasi sehingga menjadi serakah kemudian melupakan resiko yang harus ditanggung. FOMO berbanding lurus dengan Herding Behavior karena perasaan cemas takut ketinggalan akan menimbulkan perilaku irrasional. Mereka cenderung melakukan transaksi atas dasar insting ikut-ikutan tanpa disertai analisis intensif. Alhasil, ikut-ikutan justru akan masuk kategori dilarang sebab menimbulkan unsur gharar/ ketidakjelasan dalam transaksi.

Selanjutnya, kita perkecil dari skala luas/nasional di atas menjadi rumah tangga atau individu. Revenue/ pendapatan bisa diperoleh dari bekerja (jual beli, dll). Kebutuhan bisa dipenuhi dengan membelanjakan pendapatan yang diperoleh. Tapi pengalokasian anggaran tetaplah butuh ilmu seni. Seni berhutang hingga seni bayar cicilan, misalnya. Bagi saya tidak masalah jika kita menghabiskan gaji, tapi ingat habiskan dengan cara terarah dan terukur. Lakukan perencanan, pendayagunaan hingga penilai tambahan pada inputed cost.

Atau mungkin jika kita sedang berada dalam fase defisit, lakukan restructuring anggaran mulai dari renegoisasi hutang misalnya dengan tetap pada target stabilisasi ekonomi. Jangan sampai sindrom FOMO justru menjerumuskan anda para netizen budiman ke dalam korban referral khas Money Games. Sedikit mengencangkan ikat pinggang atau Naleni Weteng, kalau kata orang Jawa, yaitu dengan mulai membelanjakan harta berdasarkan fungsi bukan gengsi.

Ketiga lesson learned, keuntungan bisa diperoleh dari banyak cara. Jika mau, kita bisa memulainya from any start. Karena investasi terbaik adalah yang dicari, bukan yang ditawarkan. Jika tak punya asset/ harta untuk diinvestasikan mulailah dari investasi terhadap diri sendiri dengan mengisinya dengan pengetahuan-pengetahuan yang leverage. Karena investasi lebih ke pada defense atau keputusan untuk bersikap antisipatif atas berbagai ketidakpastian yang akan dihadapi di masa mendatang.

Akhir kata, tulisan ini tidak bermaksud menggurui dan bukan berarti sayalah orang yang paling tepat sasaran dalam mendistribusikan harta. Tapi kadang, flash sale di Shopee 12.12 misalnya juga akan meng-ijo-kan mata, kemudian jiwa shopaholic pun meronta. Tapi minimal sedikit sharing bisa menjadi semacam rem atau kendali bagi kita semua.

Terimakasih Semua. Happy Shoping…!

Upaya Mencegah Pernikahan Usia Dini Melalui FDS

Upaya Mencegah Pernikahan Usia Dini Melalui FDS

Bagikan sekarang

Oleh: Minhajul Abidah, M.H. (Dosen Prodi Hukum Keluarga Islam [HKI] INAIFAS)

Pernikahan merupakan sebuah ritual suci untuk mengikat sebuah janji nikah yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan secara norma agama, norma hukum dan norma sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan kesiapan dan kematangan mental untuk mencapai rumah tangga sejahtera.

Pengertian pernikahan juga telah diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 1 bahwa perkawinan (pernikahan) adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasar Ketuhanan Yang Mana Esa.[1]

Dalam diskursus fiqih (Islamic Jurisprudence) tidak ditemukan kaedah yang membatasi usia nikah. Dan para fuqaha hanya menyatakan bahwa tolok ukur kebolehan perempuan di bawah umur untuk digauli ialah butuh kesiapannya melakukan aktifitas seksual (wath’iy) berikut segala konsekuensinya, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui, yang ditandai dengan datangnya masa pubertas. Sesuai dengan perkataan Al-Qorori “Hingga si gadis kecil mencapai kesempurnaan dan kematangan fisik”.[2]

Remaja pada usia 10 hingga 18 tahun merupakan masa pubertas. Masa ini juga disebut masa akil baligh yakni secara biologis telah siap untuk bereproduksi. Namun apabila dilihat dari segi psikis, sosial, ekonomi dan lain-lain tidaklah demikian, mereka harus mendapat perhatian khusus karena usia mereka masih usia sekolah. Sebagai orang tua harus dapat mengawal dengan baik anak yang akan memasuki umur reproduksi dimana persoalan reproduksi bermula dari adanya pernikahan atau perkawinan.

Tren pernikahan usia dini yang tetap tinggi disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya rendahnya tingkat pendidikan, ketidaksiapan finansial, kemiskinan dan lain sebagainya. Berikut adalah beberapa faktor pernikahan dini :

  1. Faktor ekonomi

Kesulitan ekonomi menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya pernikahan dini, keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi akan cenderung menikahkan anaknya pada usia dini. Pernikahan ini diharapkan menjadi solusi bagi kesulitan ekonomi keluarga. Dengan pernikahan ini diharapakan mengurangi beban ekonomi keluarga. Sehingga dapat sedikit mengatasi kesulitan ekonomi. Di samping itu, masalah ekonomi yang rendah dan kemiskinan menyebabkan orang tua tidak mampu mencukupi kehidupan anaknya dan tidak mampu membiayai sekolah sehingga mereka memutuskan untuk menikahkan anaknya dengan harapan sudah lepas tanggung jawab untuk membiayai kehidupan anaknya ataupun dengan harapan anaknya bisa memperoleh penghidupan yang lebih baik

  • Orang tua

Pada sisi lain, terjadinya pernikhan dini juga dapat disebabkan karena pengaruh bahkan paksaan orang tua. Ada beberapa orang tua menikahkan anaknya secara dini, karena khawatir anaknya terjerumus dengan pergaulan bebas dan berakibat negatif. Karena ingin melanggengkan hubungan dengan relasinya dengan cara menjodohkan anaknya. Juga menjodohkan dengan anak saudaranya supaya hartanya tidak jatuh di tangan orang lain, tetapi tetap dipegang oleh lingkaran keluarga besarnya.

  • Kecelakaan

Terjadinya hamil di luar nikah akibat melakukan hubungan yang melanggar norma, memaksa mereka untuk melakukan pernikahan dini, guna memperjelas status anak yang dikandungnya. Pernikahan ini memaksa mereka menikah dan bertanggung jawab untuk berperan sebagai suami istri serta menjadi ayah dan ibu, sehingga hal ini akan berdampak dengan penuaan dini, karena mereka belum siap lahir dan batin. Di samping itu, dengan kehamilan di luar nikah dan ketakutan orang tua akan hamil di luar nikah mendorong anaknya untuk menikah di usia yang masih belia.

  • Melanggengkan hubungan

Pernikahan dini dalam hal ini sengaja dilakukan yang sudah disiapkan semua, karena dilakukan dalam rangka melanggengkan hubungan yang terjalin antara keduanya. Hal ini menyebabkan mereka menikah di usia belia, agar statusnya ada kepastian. Selain itu, pernikahan ini dilakukan dalam rangka menghindari perbuatan yang tidak sesuai dengan norma agama dan masyarakat. Dengan pernikahan ini diharapkan membawa dampak positif bagi keduanya

  • Karena tradisi keluarga (kebiasaan nikah usia dini pada keluarga dikarenakan agar tidak dikatakan perawan tua).

Pada beberapa keluarga tertentu, dapat dilihat ada yang memiliki tradisi atau kebiasaan menikahkan anaknya pada usia muda, dan hal ini berlangsung terus menerus, sehingga anak anak yang ada pada keluarga tersebut secara otomatis akan mengikuti tradisi tersebut. Pada keluarga yang menganut pola ini, biasanya didasarkan pada pengetahuan dan informasi yang diperoleh bahwa dalam Islam tidak ada batasan usia untuk menikah yang penting adalah sudah mumayyiz (baligh dan berakal), sehingga sudah selayaknya dinikahkan.

  • Karena adat istiadat dan kebiasaan setempat

Adat istiadat yang diyakini masyarakat tertentu semakin menambah prosentase pernikahan dini di Indonesia. Misalnya keyakinan bahwa tidak boleh menolak pinangan seseorang terhadap putrinya walaupun masih berusia 16 tahun. Hal ini terkadang dianggap menyepelekan dan menghina orang tua

  • Rendahnya pengetahuan

Rendahnya kesadaran terhadap pentingnya pendidikan adalah salah satu pendorong terjadinya pernikahan dini. Para orang tua yang hanya bersekolah hingga tamat SD merasa senang jika anaknya sudah ada yang menyukai, dan orang tua tidak mengetahui adanya akibat dari pernikahan muda ini. Di samping perekonomian yang kurang, faktor pendidikan orang tua yang rendah akan membuat pola pikir yang sempit. Sehingga akan mempengaruhi orang tua untuk menikahkan anaknya.[3]

Berdasarkan uraian  di atas, maka perlu adanya tindakan untuk mencegah pernikahan dini, salah satunya dengan mengubah pola pikir masyarakat dengan pendampingan dan melakukan penyuluhan terutama kepada masyarakat yang berekonomi lemah.

Family Development Session (FDS) dikenal dengan istilah Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) merupakan pertemuan kelompok secara rutin tiap bulan yang dilaksanakan oleh Pendamping Sosial PKH bersama dengan keluarga penerima manfaat yang lazim disebut KPM PKH. KPM PKH adalah keluarga penerima manfaat di mana mereka merupakan keluarga kurang mampu dan menjadi penerima bantuan pemerintah dengan bersyarat, artinya penerima manfaat memiliki salah satu komponen yang sudah ditetapkan yaitu komponen pendidikan meliputi SD, SMP, SMA, komponen kesehatan meliputi ibu hamil dan balita, serta komponen kesejahteraan sosial meliputi lansia dan disabilitas.

Dalam FDS tersebut secara bergantian KPM PKH menerima penyuluhan tentang pendidikan dan pengasuhan anak, cara mengelola keuangan keluarga, cara menjaga kesehatan dan kebersihan rumah dan lingkungan, perlindungan anak, cara melayani lansia dan disabilitas, dan sebagainya.

Tujuan dari FDS atau P2K2 ini adalah untuk mengubah pola pikir KPM PKH untuk bisa lebih produktif, di antaranya meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya pendidikan dan pengasuhan anak sehingga terhindar dari melakukan pernikahan dini terutama kepada anak-anaknya. Salah satu komitmen yang dibangun dalam pertemuan kelompok tersebut adalah memastikan anak-anak KPM bisa mengenyam pendidikan sampai lulus SMA dengan bantuan yang diterima dari pemerintah berupa biaya pendidikan dan kesehatan mulai dari si ibu hamil sampai dengan anak lulus SMA.

Senada dengan hal tersebut P2K2 merupakan proses belajar secara  terstruktur untuk memperkuat terjadi perubahan perilaku pada KPM. Secara umum P2K2 bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman mengenai pentingnnya pendidikan, kesehatan dan pengelolaan keuangan bagi keluarga. Adapun Tujuan Khusus P2K2 adalah untuk:

  1. Meningkatkan pengetahuan praktis mengenai kesehatan, pendidikan dan pengasuhan, ekonomi, dan perlindungan anak.
  2. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keluarga PKH mengenai kondisi, kebutuhan dan perawatan yang dibutuhkan lansia dan orang dengan disabilitas berat.
  3. Membangun kesadaran peserta PKH terhadap pentingnya pemenuhan kewajiban dalam bidang kesehatan dan pendidikan dalam PKH
  4. Menjaga dan memperkuat perubahan perilaku positif terkait pendidikan dan pengasuhan, kesehatan, ekonomi dan perlindungan anak.
  5. Menjaga dan memperkuat perubahan perilaku positif terkait perawatan dan pemeliharaan terhadap lansia dan orang dengan disabilitas berat
  6. Meningkatkan ketrampilan orang tua dalam bidang pendidikan dan pengasuhan anak, kesehatan, ekonomi dan perlindungan anak
  7. Meningkatkan kemampuan peserta untuk mengenali potensi yang ada pada diri dan lingkungannya agar dapat digunakan dalam peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.[4]

Adapun modul yang disampaikan dalam P2K2 atau FDS meliputi :

  1. Modul Pendidikan dan Pengasuhan anak terdiri dari :
  2. Menjadi orang tua yang lebih baik
  3. Memahami perilaku anak
  4. Memahami cara anak usia dini belajar
  5. Membantu anak sukses di sekolah
  6. Modul pengelolaan keuangan terdiri dari :
  7. Mengelola keuangan keluarga
  8. Cermat meminjam dan menabung
  9. Memulai usaha
  10. Modul Kesehatan terdiri dari :
  11. Masalah gizi di Indonesia
  12. Pelayanan ibu hamil
  13. Pelayanan ibu bersalin
  14. Pelayanan ibu nifas dan ibu menyusui
  15. Pelayanan bayi usia 0 – 28 hari
  16. Pelayanan bayi usia 29 – 11 bulan
  17. Pelayanan anak usia 12 – 59 bulan
  18. Pelayanan remaja
  19. Perilaku hidup bersih dan sehat
  20. Modul perlindungan anak terdiri dari :
  21. Kekerasan terhadap anak
  22. Penelantaran dan eksploitasi
  23. Modul lansia terdiri dari :

Peningkatan kesejahteraan sosial bagi lansia

  • Modul disabilitas terdiri dari :

Pelayanan bagi disabilitas berat.[5]

Modul tersebut akan disampaikan dalam pertemuan kelompok secara intens mulai dari modul 1 hingga modul 6.  Maka perlu adanya tindakan pencegahan pernikahan dini yakni perlunya intensitas yang lebih bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dalam mendampingi  kegiatan penyuluhan secara rutin. Motivasi dan komunikasi yang baik dibangun melalui pertemuan yang akan diterapkan dalam kehidupan berkeluarga baik dengan anaknya maupun dengan suaminya.

Melalui kegiatan pertemuan kelompok atau FDS ini, diantanya ibu KPM akan mendapatkan kesadaran tentang pentingnya mengasuh anak sehingga akan terbangun kerjasama dengan suaminya untuk bisa bertindak sebagai teman manakala anaknya sudah memasuki usia remaja. Diharapkan pernikahan dini yang terjadi kepada orang tua dalam hal ini KPM PKH tidak lagi terjadi kepada anak KPM PKH, bahkan dia akan mampu hidup mandiri, berkecukupan dan berpengetahuan sehingga dapat memutus rantai kemiskinan antar generasi, terbentuk mindset yang baik serta berperilaku menuju kehidupan sejahtera.


[1] Rizem Aizid, Fiqh Keluarga Terlengkap (Yogyakarta: Laksana, 2018), h. 44

[2] Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat (Jakarta: Kencana, 2010), dalam Jurnal Hukum Keluarga Islam, Agus Mahfudin dan Khoirotul Waqi’ah, “Pernikahan Dini dan Pengaruhnya terhadap Keluarga di Kabupaten Sumenep Jawa Timur”.

[3] Fauziatu Shufiyah, “Pernikahan Dini menurut Hadis dan Dampaknya”, Jurnal Living Hadis, Vol 3 Nomor 1, Mei 2018, 60

[4] Lindayasos, “Implementasi Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) Program Keluarga Harapan (PKH) Di Komunitas Adat Kampung Kuta, Desa Karang Paninggal, Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis”, Jurnal Ilmiah Perlindungan & Pemberdayaan Sosial Vol. 01 No.1, Juli 2019.

[5] Direktorat Jendral Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI, Bimtek Program Keluarga Harapan, 2016.

Talk Show PGMI dari Masa ke Masa

Talk Show PGMI dari Masa ke Masa

Bagikan sekarang

HMPS PGMI (Himpunan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah) INAIFAS Kencong menggelar acara Talk Show ke-PGMI-an dan MKMB (Menjalin Keakraban Mahasiswa Baru) PGMI dengan tema “PGMI dari Masa ke Masa”.

Acara ini diselenggarakan di kampus induk INAIFAS, di mulai pada pukul 14.00– 16.20 WIB. Acara talk show dan MKMB PGMI ini dihadiri sebanyak 39 peserta dari angkatan 2017-2021 serta dosen-dosen PGMI. Acara dimulai dengan pembacaan kitab suci al-Qur’an, menyanyikan lagu kebangsaan nasional, Yalal Wathon dan Mars INAIFAS oleh seluruh peserta yang hadir.

Kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan oleh Ketua HMPS PGMI Periode 2020/2021, Mandataris Presiden Mahasiswa DEMA-I INAIFAS, Kaprodi PGMI, dan Dekan Fakultas Tarbiyah.

Kaprodi PGMI, Ibu Mar’atus Sholihah, M.Pd.I dan Dekan Fakultas Tarbiyah, Bapak M. Bustanul Ulum, M.Pd.I menguatkan mahasiswa baru untuk aktif dan berdedikasi dalam mengikuti kegiatan-kegiatan ke-PGMI-an, terutama kegiatan HMPS. Karena kegiatan-kegiatan di luar bangku kuliah akan mampu memberikan soft-skill kepada mahasiswa yang bermanfaat nantinya ketika mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan sarjana. Namun, mahasiswa juga diarahkan untuk tetap menyeimbangkan kegiatan akademik dan kegiatan non-akademik, yaitu kegiatan berorganisasi.

Dua narasumber hadir dalam acara ini, Ibu Khurin’in Ratnasari, M.Pd. selaku dosen PGMI dalam bidang Pendidikan Matematika dan Statistik serta Mbak Susi Nur Fadilah, S.Pd. selaku alumni PGMI angkatan pertama yang membawa nama harum PGMI INAIFAS di tingkat nasional dengan berbagai keikutsertaannya pada kegiatan IMPI (Ikatan Mahasiswa PGMI Se-Indonesia).

PGMI INAIFAS sendiri merupakan prodi baru yang sudah berkembang sejak Tahun 2016.

“PGMI INAIFAS dari masa ke masa berkembang dengan baik, dengan adanya prestasi-prestasi yang telah diraih oleh para dosen PGMI atau pun dari mahasiswanya. Tidak lupa tetap utamakan adab di mana pun, sebab orang berilmu belum tentu beradab dan orang beradab pasti berilmu, sebagai calon pendidik tumbuhkan pendidikan karakter bernilai pada diri kita agar kita dapat menyalurkan juga pada anak didik kita nanti.” ujar Bu Khurin, narasumber utama.

Setelah uraian Ketua Pengelola Jurnal INAIFAS di atas, penyampaian materi selanjutnya diutarakan oleh narasumber kedua, Mbak Susi Nur Fadilah, S.Pd. yang sekarang sudah aktif menjadi seorang guru di MI.

Mbak Susi menegaskan bahwa semua yang mengambil Prodi PGMI otomatis akan masuk dalam keanggotaan HMPS PGMI. “Kita sebagai mahasiswa harus banyak mencari pengalaman lewat organisasi, jangan hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Penting kiranya untuk aktif di organisasi keprodian tingkat nasional, yaitu IMPI selain tingkat lokal. IMPI memberikan banyak sekali akses pada pengembangan akademik dan non-akademik mahasiswa melalui perkumpulan-perkumpulan yang diadakan setiap tahunnya, seperti Muswil (Musyawarah Wilayah) dan Mubes (Musyawarah Besar).” kata Mbak Susi, sapaan akrab narasumber kedua ini.

Agenda rutinan HMPS PGMI ini sudah kesekian kalinya dilakukan selain agenda-agenda yang berbentuk lomba, baik bagi peserta didik jenjang madrasah ibtidaiyah maupun perlombaan pada jenjang perguruan tinggi.

“Semoga ke depannya PGMI bisa berkembang dengan banyaknya prestasi-prestasi dan kontribusi-kontibusi yang dilakukan oleh para dosen dan mahasiswanya.” tutur Bu Mar’atus Sholihah, M.Pd.I, Kaprodi PGMI.

(Laporan kegiatan ini ditulis Mar’atus Sholihah dan Anti Lestari)

PENTINGNYA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS KEBUDAYAAN ISLAM

PENTINGNYA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS KEBUDAYAAN ISLAM

Bagikan sekarang

Oleh: Yovita Dyah Permatasari, M.Pd.
(Dosen Bahasa Inggris INAIFAS)

Upaya peningkatan kualitas SDM di dunia akademik salah satunya dilakukan dengan menguasai bahasa asing, yaitu bahasa Inggris.

Menurut UUD RI (2003) bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk menunjang kemampuan bahasa asing siswa. Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional, atau dapat disebut dengan Bahasa Lingua Franca (bahasa penghubung) yang menuntut peserta didik harus dapat menguasai bahasa asing ini.

Secara tidak langsung penguasaan bahasa Inggris bermanfaat bagi peserta didik sebagai bekal mereka baik dalam dunia pendidikan ataupun di dunia kerja.  

Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyah Kencong Jember merupakan sebuah institusi perguruan tinggi yang berbasis Agama Islam. Sebagai lembaga keIslaman pengajaran bahasa Inggris dapat diaplikasikan dengan memberikan materi yang berhubungan dengan kebudayaan Islam di Indonesia.

Kita ketahui bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki beragam kebudayaan yang beragam, perbedaan suku, adat, budaya, agama dan bahasa menjadikan warga negara Indonesia harus dapat bertoleransi secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat (Undang – Undang RI: 2003). 

Landasan UU ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki ciri khas yang unik dibanding dengan negara Native Speaker. Penguasaan Bahasa Ingris berpengaruh pada kesiapan mental peserta didik agar dapat bersaing dan siap dalam menghadapi arus global yang semakin hari menjadi Unpredictable. Dengan membangun benteng mental dan psikologi mahasiswa yang lebih tangguh, pembelajaran Bahasa Inggris dapat diimplementasikan dengan nilai–nilai kebudayaan Islam di Indonesia.  

Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan di dunia di mana bahasa ini menjadi bahasa ibu bagi lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia dan setiap hari jutaan orang menggunakan bahasa Inggris di tempat kerja, kehidupan dan sosial (Iriance: 2018). 

Adapun Skills dalam menguasai bahasa Inggris anta lain adalah: reading, speaking, listening dan writing. Ke-empat skills tersebut harus dikuasai peserta didik untuk dapat menjadi lulusan perguruan tinggi yang berkualitas. Meskipun peserta didik bukan berlatar belakang prodi Bahasa Inggris, namun apabila mereka dapat menguasai bahasa asing ini, mereka mendapatkan peluang yang cukup besar untuk masuk di perusahaan – perusahaan, lembaga, institusi baik asing atau dalam negeri yang memiliki potensi dan output yang berkualitas. Skills Bahasa Inggris yang dibuktikan dengan sertifikat TOEFL dapat dikatakan bahwa mahasiswa tersebut memiliki kompetensi di bidang penguasaan bahasa Inggris.

Sayangnya, terkait dengan pemenuhan kebutuhan mahasiswa tersebut, terkadang masih terhalang oleh biaya Tes TOEFL. Tes TOEFL adalah sebuah tes pengukuran Skills dalam penguasaan Bahasa Inggris. Biaya tes TOEFL (Tes of English as a Foreign Language) yang tergolong tinggi, membuat mahasiswa enggan untuk memiliki sertifikat. Tes TOEFL sendiri juga bervariasi, tergantung jenis tes yang dibutuhkan. Terdapat 2 jenis TOEFL, yaitu TOEFL ITP (Instituional Testing Program) dan TOEFL IBT (Internet Based Test). Dalam TOEFL ITP, skor tes akan bersifat institusional atau hanya berlaku pada institusi tertentu dan negara tertentu. Skor maksimal TOEFL ITP adalah 500 hingga 600.

Dari informasi yang diperoleh biaya Tes TOEFL berkisar antara Rp 500 ribu – 1 juta rupiah dengan ketentuan 1x tes. Selain itu, tidak semua lembaga kursus Bahasa Inggris dapat mengeluarkan sertifikat. Hanya lembaga kursus yang memiliki ijin tertentu saja yang bisa mengeluarkan sertifikat TOEFL.

Opini lain menyebutkan bahwa, peserta didik sebagai penerus bangsa, harus dapat menyaring arus negatif yang masuk dari negara barat. Memang, ketika kita memperlajari bahasa asing maka, secara tidak langsung kita mempelajari budayanya. Namun, sebagai generasi bangsa yang memiliki mental agama yang kuat sebagai muslim hendaknya, saat kita memperlajari bahasa asing kita harus menjaga kualitas kebangsaan kita tanpa harus merubah culture/ adat istiadat dan kebiasaan dimana kita berasal.

Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa Inggris dapat diformulasikan dengan mengimplementasikan pembelajaran bahasa Inggris berbasis kebudayaan Islam di Indonesia. Hal ini sebagai upaya melestarikan kebudayaan Islam di Indonesia yang memang harus kita jaga dan lestarikan. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi harus lebih ditingkatkan baik secara mutu akademik ataupun non akademik.

Saat ini, mahasiswa diharuskan menempuh mata kuliah Bahasa Inggris sebanyak 6 SKS di INAIFAS pada prodi, selama menempuh jenjang S1. Karena itu, mata kuliah Bahasa Inggris merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa.

Apabilamereka belum menempuh pada mata kuliah Bahasa Inggris I, maka mereka tidak dapat menempuh mata kuliah bahasa Inggris II, dan bahasa Inggris III. Sebaliknya, jika tidak lulus pada mata kuliah berjalan, mereka harus mengulang mata kuliah Bahasa Inggris, dengan cara mengikuti SP (Semester) pendek. Hanya saja kondisi seperti ini bisa berbeda di setiap kampus.

Penerapan pembelajaran Bahasa Inggris berbasis kebudayaan Islam di perguruan tinggi dapat dijadikan sebagai upaya untuk melestarikan, dan menjaga kebudayaan Islam di Indonesia. Secara praktis, skema seperti ini bisa diajarkan melalui penggunaan buku sejarah peradaban Islam yang telah ditulis oleh para intelektual menggunakan bahasa Inggris untuk dipakai sebagai bahan tugas reading text.

Mahasiswa diminta mengunduh buku tersebut, membaca poin bahasan perkembangan peradaban dan kebudayaan di Indonesia, lantas menuliskan poin-poin penting di dalam buku tersebut melalui makalah singkat.

Ulasan buku berbahasa Inggris seperti ini bisa meningkatkan kemampuan berbahasa, analisis teks, sekaligus kecermatan untuk menerjemahkannya dengan baik. Manfaat lain, mahasiswa juga bisa mendapatkan pengetahuan tambahan atas kebudayaan Islam di Indonesia.

Dengan pola pembelajaran seperti ini, kita berharap apabila penguasaan mahasiswa atas bahasa asing semakin meningkat dan pengetahuan mahasiswa atas kebudayaan Islam juga berkembang.

Wallahu A’lam Bishshawab

Silabus Pendidikan Seks dan Rumahtangga ala Pesantren (Bag.2) – | – Kajian Kitab Uqudul Lujain

Silabus Pendidikan Seks dan Rumahtangga ala Pesantren (Bag.2) – | – Kajian Kitab Uqudul Lujain

Bagikan sekarang

Oleh: Zaenuri, M.Pd (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab INAIFAS)

INDENTITAS BUKU

Judul             : UQUUDU LUJAIN FII BAYAANI  HUQUUQUZ ZAUJAINI

Penulis          : SYEKH NAWAWI BIN UMAR AL-BANTANI AL-JAWI

Genre           : Hak-Hak  Suami Isteri

Kitab UQUUDU LUJAIN FII BAYAANI  HUQUUQUZ ZAUJAINI menguraikan hubungan antara suami dan isteri dan berbagai hak keduanya. Buku ini sangat cocok untuk dijadikan pedoman hidup menuju keluarga sakinah, mawaddah. warahmah.

Pada pembahasan yang pertama kitab ini menjelaskan hak-hak istri. Di antaranya, suami harus memenuhi kebutuhan sandang pangan kepadanya, sebagaimana dia (suami) memenuhi kebutuhan logistiknya, larangan melakukan kekerasan fisik seperti menampar wajah, serta tidak menjelek-jelekkannya.

Hendaknya seorang suami selalu memperhatikan nafkahnya sesuai dengan kesanggupannya. Hendaknya suami selalu bersabar jika menerima cercaan isterinya, atau perlakuan-perlakuan tidak baik lainnya. Hendaknya suami mengasihani isterinya, yaitu dengan bentuk memberi pendidikan secara baik, Barang siapa bersabar atas keburukan perilaku istrinya maka Allah S.W.T akan memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan Allah S.W.T kepada Nabi Ayyub AS atas cobaan yang diterimanya. Dan barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan suaminya maka Allah S.W.T memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan kepada Asiyah istri Fir’aun.

Dan pada pembahasan ini juga disebutkan pengajaran yang harus didapat sang istri dari suaminya. Hendaknya seorang suami selalu menuntun isterinya pada jalan yang baik. Memberi pendidikan kepadanya berupa pengetahuan agama (Islam), meliputi hukum-hukum bersuci (thaharah) dari hadats besar. Misalnya tentang haid dan nifas, juga dalam masalah ibadah. Meliputi ibadan fardhu (wajib) dan sunnahnya. Pengetahuan tentang shalat, zakat, puasa dan haji, dan sebagainya.

Pada pembahasan yang kedua kitab ini menguraiakan hak hak suami dengan uraian sebagai berikut: Sebaik-baik istri adalah apabila dipandang oleh suaminya menyenangkan, mentaatinya, juga kalau suaminya pergi dia menjaga hartanya. Bagaimana jika seorang isteri berakhlak buruk kepada suaminya? Menurut Syekh Nawawi al-Bantani, penulis kitab ini, hal tersebut bagaikan orangtua renta yang memikul beban berat. Sedang isteri yang menyenangkan suami dan menimbulkan ketenangan di hatinya, maka itu ibarat mahkota yang dilapisi emas.

Selain itu, Syekh Nawawi al-Bantani juga menyertakan kewajiban isteri terhadap suami, antara lain:

  1. Memiliki sikap pemalu di hadapan suami sepanjang waktu.
  2. Merendahkan pandangannya di hadapan suami.
  3. Mentaati apa yang diperintah suami.
  4. Menyongsong kedatangan suami dan mengantarkannya ketika keluar rumah.
  5. Menampakkan rasa cinta dan bergembira di hadapannya.
  6. Menyerahkan dirinya secara penuh di sisi suaminya ketika di tempat tidur.
  7. Memperhatikan kebersihan mulutnya dan menggunakan wewangian.
  8. Berpenampilan menarik di hadapan suami dan tidak berhias jika suami sedang pergi.

Selain itu, penulis kitab ini juga menyertakan warning: seandainya seorang istri waktu malam beribadah kepada Allah SWT dan siangnya selalu berpuasa, sementara suaminya mengajak dia tidur bersama (jima’) tetapi dia terlambat memenuhi panggilan (ajakannya), maka kelak di hari kiamat ia datang dalam keadaan terantai dan terbelenggu, serta ia dikumpulkan bersama setan di neraka yang paling bawah. Bilamana seorang isteri yang diajak suaminya bersetubuh, lalu dia mengulur-ngulur waktu hingga suaminya tertidur, maka dia terlaknat. Apabila seorang istri bermuka masam di hadapan suaminya maka ia berada dalam kemurkaan Allah hingga ia tersenyum kembali dan berusaha meminta keridhoannya. Dan mana saja isteri yang keluar rumahnya tanpa mendapat restu suaminya maka ia dilaknati para malaikat hingga kembali. Dan, apabila seorang istri berkata pada suaminya : “Sama sekali aku belum pernah melihat engkau berbuat baik”, maka Allah SWT memutuskan rahmat baginya kelak di hari kiamat. Apabila seorang istri yang menuntut cerai suaminya tanpa ada perkara yang memperbolehkan (alasan yang jelas), maka haram baginya menikmati bau harumnya surga.

Adapun pada bagian yang ketiga, kitab ini menjelaskan tanggung jawab suami istri dengan uraian bahwa, pertama kali yang tanyakan pada isteri di hari kiamat adalah tentang shalatnya dan suaminya. Begitu juga bagi suami, kelak yang ditanyakan pertama kali mengenai shalatnya, kemudian tentang istrinya dan perkara-perkara yang yang lain. Dengan demikian, masing-masing memiliki tanggungjawab berat sebagai pribadi yang kelak semua perbuatannya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah S.W.T.

Di sisi lain, penulis kitab juga menyertakan empat kriteria wanita yang masuk surga, yaitu:

  1. Istri yang memelihara kesucian (kehormatan dirinya).
  2. Menaati suaminya, banyak anaknya, penyabar, menerima apa adanya.
  3. Mempunyai rasa malu.
  4. Kalau suaminya sedang pergi dia memelihara dirinya dan harta suaminya

Sedangkan empat macam wanita yang masuk neraka:

  1. Istri yang berlisan buruk pada suaminya.
  2. Kalau suaminya sedang pergi ia tidak menjaga kehormatan dirinya.
  3. Istri yang berani pada suami.
  4. Isteri yang membebani suaminya dengan beban yang tidak sanggup dipikulnya.

Pada bagian ini juga dibahas tentang berbagai pahala istri sebagaimana berikut: Apabila seorang istri sedang hamil, maka para malaikat memohonkan ampunan untuknya, dan setiap harinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah SWT mencatat pahala baginya seperti pahala orang orang yang berjihad di jalan Allah SWT. Apabila telah melahirkan, maka dibebaskan dari segala dosa. Apabila seorang istri yang tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang. Ketika seorang istri mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatat untuknya memperoleh seribu kebajikan dan mengampuni seribu keburukannya, meninggikan seribu kali derajat untuknya dan semua makhluk yang berada di bawah sinar mentari memohonkan ampun untuknya. Dalam bab ini, Syekh Nawawi juga menyertakan ulasan siksa bagi kaum wanita yang durhaka.

Pengarang kitab juga menyertakan beberapa hal yang harus dilakukan seorang istri, yaitu:

  1. Mudah menerima keadaan (qana’ah), berbakti dan mentaati suami.
  2. Hendaknya seorang istri menjadi sebagai perempuan yang selalu didambakan dan dirindukan lantaran tatapan mata dan ciumannya.
  3. Ketika bercumbu mesra dengan suaminya dalam selalu keadaan harum melekat dalam dirinya.
  4. Hendaknya seorang istri selalu memperhatikan waktu makan dan tidur suaminya.
  5. Hendaknya seorang istri pandai pandai memelihara harta dan rahasia keluarga suami yang dapat mempermalukan dirinya.
  6. Hendaknya seorang istri jangan menentang perintahnya, dan jangan suka menyebarkan rahasia suami.

Sedangkan pada bab kelima, pengarang membahas tentang yang relasi antara laki laki dan perempuan. Diharamkan bagi kaum lelaki memandang kaum wanita yang bukan mahramnya, begitu juga kaum wanita melihat kaum lelaki yang bukan mahramnya. Juga dibahas aturan relasi pria-wanita dan jebakan-jebakan setan yang rawan muncul dari keduanya.

Sedangkan pada bagian yang keenam dibahas cara membentuk rumah tangga islami. Dalam Islam pernikahan itu mempunyai nilai yang sangat suci, agung dan sakral. Suami sebagai qawwam (pemimpin) dan istri sebagai ribatul bait (pengatur) rumahtangga. Setelah Ijab kabul selesai diucapkan, maka konsekwensinya:

  1. Yang awalnya haram menjadi halal.
  2. Terjadilah pemindahan tanggung jawab seorang wanita dari orang tua/wali ke suaminya.
  3. Keikhlasan seorang wanita dipimpin oleh suami dan taat pada suami.

Pada bagian ini juga dibahas tentang rumah tangga yang Islami dan tipenya:

1. RUMAH TANGGA BISNIS

Pada awal dibinanya rumah tangga ini telah dihitung-hitung berapa keuntungan materi yang akan diperoleh. Bila aku menikah dengan si fulan, tabunganku akan bertambah saat dan setelah menikah. Apa pasanganku nanti dapat menambah hartaku atau malah akan mengurangi. Dan bila kami nanti punya anak, berapa anak yang kira-kira dapat menguntungkan usaha yang kami jalankan saat ini.

2. RUMAH TANGGA “BARAK”

Yang terdengar dari rumah tangga ini hanya perintah-perintah atau komando-  layaknya jendral kepada kopralnya. Bila si kopral tidak melaksanakan atau lalai menjalankan tugas, maka konsekwensinya adalah hukuman.

3. RUMAH TANGGA “ARENA TINJU”

Bila suami dan istri merasa memiliki derajat, kekuatan dan posisi yang setara serta pendapatnya. Bila ada perbedaan atau salah faham, maka dimulailah “pertandingan” yang cekcok, baku hantam atau baku UFO (piring terbang). Masing-masing berusaha mencari kemenangan dengan berbagai cara. Tidak ada kata damai sebelum salah satunya menyerah.

5. RUMAH TANGGA ISLAMI

Di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam,. Mereka saling mencintai karena Allah, saling menasehati. Setiap anggota betah tinggal di dalamnya karena ada suasana sakinah, mawaddah dan rahmah. Keluarga ini bagaikan surga dunia, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: baiti jannatii artinya Rumahku adalah Surgaku. Karena di dalamnya penuh dengan kedamaian yang sejati.dan didasarkan pada nilai-nilai Islami.

Bagi suami istri yang ingin kelurganya menjadi kelurga islami dan kelurga yang sakinah, mawaddah, warahmah buku ini cocok untuk dipelajari.Wallahu A’lam Bisshawab

Sambut Mahasiswa Baru Pascasarjana, INAIFAS Gelar Orientasi

Sambut Mahasiswa Baru Pascasarjana, INAIFAS Gelar Orientasi

Bagikan sekarang

Kegiatan orientasi mahasiswa baru Pasacasarjana di lingkungan INAIFAS Kencong Jember diselenggarakan hari Sabtu (2/10/2021). Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut, selain diikuti oleh mahasiswa baru jenjang S2 juga dihadiri unsur pimpinan INAIFAS dari tingkat Institut, Fakultas dan Pascasarjana. Acara ini sekaligus memperkenalkan unsur pimpinan INAIFAS kepada mahasiswa S2 tahun akademik 2021-2022.

Direktur pascasarjana INAIFAS, Dr. Titin Nurhidayati, S.Ag., M.Pd. dalam sambutannya setelah mengucapkan selamat datang kepada para mahasiswa baru program magister pascasarjana, juga menyampaikan tujuan dilaksanakan kegiatan orientasi. Menurutnya, acara ini merupakan upaya mengenalkan kampus INAIFAS, memberikan pengetahuan, wawasan dan pengenalan sistem belajar pendidikan pascasarjana kepada mahasiswa baru. “Karena program magister PAI ini menerima mahasiswa dari multidisiplin, bukan hanya mahasiswa lulusan prodi PAI saja, tapi juga ada mahasiswa lulusan dari prodi disiplin yang lain,” kata perempuan kelahiran Surabaya ini.

Bu direktur juga menyampaikan kegembiraan atas animo masyarakat. Walaupun di era transisi pandemi menuju new normal, menurutnya, jumlah pendaftar membludak. Total ada 65 mahasiswa baru S2. “Yang lulus melalui jalur seleksi reguler ada 20 orang; melalui jalur tahfidz ada 1 mahasiswa, sedangkan melalui jalur beasiswa kepala madrasah/kepala sekolah di wilayah GERBANGMASKU ada 40 orang, sisanya jalur beasiswa As-Sunniyyah terdapat 4 orang mahasiswa,” tuturnya disambut tepuk tangan peserta.

Selain mendapatkan penjelasan tentang bagaimana sistem pembelajaran yang ada di pascasarjana, para mahasiswa baru juga dibekali pengetahuan sistem pengajuan dalam penyelesaian tugas akhir mereka dan juga sistem perkuliahan mata kuliah yang mereka tempuh nantinya. Dikonfirmasi setelah memberikan penjelasan tentang tugas akhir, Nanang Budianto, M.Pd.I., menyatakan “Diharapkan hal ini dapat meminimalisir kesalahan dan kendala terkait akademik, sehingga jalannya studi bisa lancar tanpa ada kendala”,  ujar Pak Nanang, Kaprodi PAI Pascasarjana.

Di akhir orientasi, bu direktur berharap mudah-mudahan para mahasiswa pascasarjana tidak kerasan kuliah. “Kalau kerasan nanti program magister yang seharusnya selesai dalam 4 semester, malah molor. Jangan sampai ikut tren mahasiswa yang senang menyelesaikan studinya di masa injury time karena terkendala tugas akhir. Sebab tesis yang bagus itu tesis yang selesai ditulis,” tukasnya disambut tepuk tangan peserta.

Di sisi lain, Wakil Rektor I, Dr. Asnawan, M.S.I.,  ketika menyampaikan sambutan, arahan dan pembukaan menyampaikan, INAIFAS Kencong Jember akan berubah bentuk menjadi universitas. Karena itu, keberadaan pascasarjana sangat berperan sebagai unit yang mendorong pencapaian itu. “Maka inovasi mahasiswa dan dosen pascasarjana dalam riset kolaborasi menjadi sangat urgen,” kata pria kelahiran kepulauan Sapudi, Sumenep, Madura, ini. Selain Direktur dan Warek I yang menyampaikan pentingnya inovasi mahasiswa pascasarjana, orientasi ini juga menghadirkan KH. A. Sadid Jauhari, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Falah As-Sunniyyah Kencong yang memberikan wawasan pentingnya penguatan kajian keislaman berbasis Ahlussunnah Wal Jamaah. Setelah Kiai Sadid, giliran KH. Khoiruzzad Maddah menyampaikan pentingnya metodologi dakwah dan metodologi berpikir bagi generasi muda Islam. (laporan kegiatan ini ditulis oleh Direktur Pascasarjana, Dr. Titin Nurhidayati, M.Pd.)