Dua Prinsip Mencari Sekolah yang Tepat bagi Anak

Dua Prinsip Mencari Sekolah yang Tepat bagi Anak

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Ketika mencari TK, lalu MI untuk menyekolahkan Avisa Aurora Baldatina, anak sulung, mula-mula saya cari sekolahan yang secara ideologis, harakah dan amaliah-ilmiah berkaitan dengan prinsip dasar keislaman versi saya: Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyyah. Sebab, ada beberapa sekolah yang mengajarkan ayat-ayat qital (perang) kepada anak didiknya yang belum baligh. Saya merasa ngeri-ngeri sedap membayangkan anak saya ditempa bukan dengan ayat akhlak dan kasih sayang, tapi dengan ayat perang di dalam kondisi negara yang aman dan damai seperti ini.

Prinsip kedua. Saya mencari lingkungan sekolah ada tiang pengibar merah putih, ada upacara bendera, ada lambang Pancasila, foto presiden-wapres, foto pahlawan nasional, dan tentu saja anak-anak diajak riang gembira dengan menyanyi.

Saya nggak muluk-muluk. Saya pengen anak saya tumbuh dalam fitrah kanak-kanaknya: menyanyi dengan riang, bergerak aktif, dan mulai mengenal kecintaan terhadap bangsanya, negaranya, para pahlawan yang sudah berkontribusi untuk tanah airnya. Ini fondasi penting. Sebab, banyak sekolah yang hanya menekankan aspek keIslaman lantas mengenyampingkan ke Indonesiaan. Akhirnya, anak didik tumbuh dalam kepercayaan diri sebagai muslim, tapi minder sebagai bangsa Indonesia. Efek samping lain, pluralitas dan multikulturalisme Indonesia tidak menjadi titik poin penting dalam pembinaan karakteristik dasar siswa.

Saya orang NU yang tidak pernah memisahkan antara mencintai Islam dan Indonesia, sebagaimana ajaran para ulamanya. Keduanya melebur, tidak bisa dipisahkan. Islam adalah ruh, Indonesia adalah jasad.

Karena itu, bagi saya, yang paling penting dalam merancang masa depan anak adalah bagaimana mengenalkan mereka kepada Islam dan Indonesia secara bersamaan. Mencintai keduanya, sekaligus dididik untuk berkontribusi memajukan dua kutub ini.

Foto di atas adalah ruang guru di MI Nurul Huda, Gondangrejo, Cakru, Kencong Jember, yang saya potret sewaktu saya diminta memberikan ceramah dalam rangka perpisahan siswa, Sabtu (22/5), silam. Perhatikan, selain ada logo NU dan potret KH. Hasyim Asy’ari serta Bupati-Wabup, ada juga lambang Pancasila dan foto presiden-wapres (tidak terpotret), dan foto Bung Karno!

Ini penting, bagi saya. Bagaimana kecintaan terhadap para pendiri bangsa diperkenalkan sejak dini. Sukarno, peletak dasar Marhaenisme, memang secara idiologis berbeda dengan NU. Namun lembaga ini tidak menafikan jasanya bagi Indonesia. Saya bergembira, karena setelah memdengarkan Indonesia Raya, gendang telinga saya bergetat ditabuh mars Syubbanul Wathan yang dilafalkan secara meriah oleh para murid MI ini. Mars patriotik ciptaan salah satu pahlawan nasional, KH. A. Wahab Chasbullah.

Anda boleh berbeda prinsip dengan saya. Silahkan. Tapi masa depan Islam-Indonesia ada di tangan anak-anak kita. Memperkenalkan KeIndonesiaan akan membuat pribadi mereka mencintai tanah airnya. Sedangkan mendidik mereka dengan ajaran Islam akan membuat mereka tumbuh menjadi muslim yang baik yang berkontribusi memajukan bangsa dan negaranya.

Ya, mendidik mereka menjadi, dalam istilah KH. Abdul Wahid Hasyim, orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia. Yaitu, mereka yang bersyukur dan mendayagunakan segala potensi dan berbagai anugerah yang dilimpahkan oleh Allah kepada bangsa Indonesia, bukan mereka yang hanya menumpang hidup di negeri ini, lantas atas nama agama mencampakkan identitas kebangsaanya.

Kasus WNI yang bergabung dengan ISIS di Suriah, lalu setelah kalah mereka ingin kembali ke Indonesia, adalah cuontoh nyata. Pengen punya generasi parasit seperti ini? Jika tidak, ayo cari sekolah yang tepat buat buah hati kita. Yang mengajarkan keIslaman dan KeIndonesiaan secara seimbang.

WAllahu A’lam Bisshawab. (RM)

Haul Sukarno: Tiga Fase Pandangan Sang Proklamator Tentang Islam

Haul Sukarno: Tiga Fase Pandangan Sang Proklamator Tentang Islam

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Mencermati pemikiran Sukarno tentang Islam, menurut saya harus dibagi dalam tiga fase: 1925-1945, 1945-1955, hingga 1955-1967. Ini kalau diurut secara kronologis: Sukarno Muda, Sukarno Bapak Bangsa, dan Sukarno Ideolog Bangsa Pasca Pemilu/Nasakom.

Dalam hal keislaman-kebangsaan serta gaya orasi, Sukarno muda terpengaruh kakek buyut Maia Estianti, HOS. Tjokroaminoto; mengenai kelincahan gerak dan sekulerisme, dia terpengaruh Mustafa Kemal Attaturk; pandangan keislamannya teraliri purifikasi ala Muhammad bin Abdul Wahhab yang menjadi dogma rezim Ibnu Suud menjelang dan pasca penaklukan Hijaz. Dua hal yang aneh dan menarik. Apalagi kalau melihat gayanya menggunakan Marxisme sebagai landasan berpikir. Sukarno muda, bagi saya, adalah pemuda yang memamahbiak segala teori dan pengalaman orang lain, kemudian dia wujudkan dalam sosok Marhaen. Dia tak mau mengekor, enggan “membebek” dia ingin “me-rajawali”.

Di usia 30 an, ketika diasingkan ke Ende dan berkorespondensi dengan A. Hassan, pimpinan Persis, Sukarno mulai terpengaruh. Bahkan mengkritik konservatifme beragama dan bermazhab serta menyebut istilah “Hadroumautisme” untuk menunjukkan watak beragama yang kolot. Sadis!

Pasca 1940-an dia mulai matang. Lebih intens berdiskusi dengan Kiai Mas Mansyur ketika direkrut Jepang sebagai “propagandis”. Uniknya, dalam otobiografinya, menjelang Proklamasi dia mengakui memiliki seorang kiai yang dijadikan sebagai tempat keluh kesah manakala ada masalah. Dalam periode ini, dia melanjutkan polemiknya dengan Pak M. Natsir soal negara. Saya sepakat dengan pandangan KH. Salahuddin Wahid yang berpendapat apabila gesekan kubu nasionalis dengan Islamis dalam PPKI hingga Konstituante antara lain karena kubu Nasionalis-Religius masih teramat curiga dengan manuver Sukarno yang dianggap sekuler, pro pandangan Attaturk, dan dicurigai melakukan misi sekularisasi Indonesia ala Barat, meskipun pandangan ini tak sepenuhnya benar. (lain kali kita diskusikan hal ini, termasuk perdebatan dalam Konstituante).

Memasuki era 1950-an, Sukarno lebih sering diskusi dengan Kiai Abdul Wahab Hasbullah dan Pak Mulyadi Joyomartono (Muhammadiyah). Beberapa pertimbangan kenegaraan antara lain meminta pendapat Rais Am Syuriah PBNU tersebut. Sedangkan Mulyadi Joyomartono, seorang anggota Muhammadiyah, dijadikan sebagai partner diskusi dan tukar pendapat menjelang pidato-pidato Sukarno dalam penyelenggaraan hari besar Islam: Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, Nuzulul Quran, Tasyakuran 17 Agustus, peresmian Istiqlal, peresmian Masjid Baiturrahim, maupun pidato di depan ormas seperti Muhammadiyah, NU, dan sebagainya. Dalam pidato-pidato bertema Islam ini, Sukarno mengutip ayat, hadis, qaul ulama, pendapat orientalis tentang Islam, hingga tarikh seputar pemimpin muslim dalam sejarah. Di tengah-tengah pidatonya yang menggelegar, seringkali Sukarno meminta koreksi kepada Pak Mulyadi Joyomartono maupun KH. Idham Chalid.

Memasuki tahun 1960-an, di mana gesekan politik semakin keras dan dia nekat membubarkan Masyumi, teman diskusi Sukarno soal Islam adalah Kiai Saifuddin Zuhri dan Pak Mulyadi Joyomartono. Setidaknya dua nama ini yang sering disebut Sukarno dalam pidato-pidatonya tentang Islam.

Menurut saya, pandangan Bung Karno soal Islam sangat dinamis. Dia pembelajar yang baik, pembaca dan pendengar yang setia, sekaligus pengolah gagasan yang bagus. Dia mampu menjembatani antara negara dan agama agar tidak terpisah, tidak pula bersatu (integral) dengan mendirikan Kementerian Agama. Sebuah solusi jalan tengah yang logis.

Dalam urusan teknis, dia memugar makam Sunan Kalijaga–sekaligus mengaku apabila dia keturunan sang wali. Membangun Masjid Istiqlal dan Masjid Baiturrahim sekaligus menjadi imam salat saat meresmikan masjid di istana negara ini, dan meminta agar Masjid Biru di Saint Petersburg, Rusia, diperbaiki (sampai dikenal sebagai Masjid Sukarno), sekaligus memohon agar Nikita Khruschev memugar makam Imam Bukhari di Tashkent, Uzbekistan.

Melalui KAA, 1955, dan Gerakan Non-Blok dia greget mendorong beberapa negara muslim meraih kemerdekaannya. Dia menjalani lelaku doktrin tawasut, jalan tengah; dan tawazun, seimbang; dalam bertindak di dunia politik internasional.

Melihat Sukarno itu seperti melihat dua sisi mata uang. Anda harus melihat dalam posisi dia yang seperti apa: sebagai bapak bangsa dan pemersatu, atau melihatnya sebagai pengkhianat Islam yang tega menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta? Sebab pandangan ini akan melahirkan efek luar biasa.

NU dan warganya memilih opsi yang pertama. Karena itu jangan heran jika ada haul Sukarno di Blitar, yang biasanya diperingati bersama dengan tahlil akbar para syuhada. Ini unik, di dunia ini tampaknya hanya ada dua presiden yang kesadarannya diperingati (haul). Pertama, Presiden Gus Dur. Ini tidak aneh, karena GD tumbuh dalam komunitas Nahdliyin yang sering menggelar haul ulama dan waliyullah. Kedua, Presiden Sukarno.

Warga NU juga terbiasa memasang foto Sukarno di rumahnya berdampingan dengan foto KH. M. Hasyim Asy’ari dan ulama lainnya. Di sekolahan, foto Bung Karno juga banyak menghiasi ruang kelas lembaga di bawah naungan Ma’arif NU. Di Facebook tidak jauh beda. Banyak Nahdliyin yang menggunakan foto hitam putih maupun kolase foto sang proklamator.

Saya kira, faktor Sukarno inilah yang menjadi titik temu kaum nasionalis dan kaum muslim tradisional. Dia bukan hanya menjadi magnet, melainkan sekaligus perekat. Wallahua’lam

Mengenal Para Mufassir Indonesia

Mengenal Para Mufassir Indonesia

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Tersebutlah nama Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara. Gadis ini selalu berminat menyimak pengajian tafsir yang disampaikan KH. Muhammad Soleh bin Umar As-Samarani, guru para ulama di penghujung abad XIX. Bahkan, saking antusiasnya, Kartini mengikuti pengajian Kiai Soleh hingga ke Demak.

Dalam suatu pengajian yang dihelat di bangsal pendopo Kabupaten Demak, Kartini merasa kurang puas dengan uraian Kiai Soleh tentang tafsir al-Fatihah. Seusai pengajian, Kartini yang terkenal kritis memberanikan diri menemui Kiai Soleh.

Ia meminta kepada guru kinasihnya agar bersedia menerjemahkan dan menafsirkan Alquran dalam bahasa Jawa. Kiai Soleh, yang rendah hati, awalnya keberatan karena diperlukan prasyarat keilmuan yang berat menjadi seorang mufassir alias ahli tafsir Alquran.

“Tapi, bukankah Romo Guru sudah ahli dan menguasai ilmu-ilmu itu? Maka sekarang Ananda mohon sudi kiranya Romo Guru berkenan segera menulis untuk bangsa kita pada umumnya. Berupa kitab terjemahan dan tafsir Alquran dalam bahasa Jawa. Sebab hal itu akan menjadikan mereka memahami bisikan kudus dari kitab tuntunan hidup mereka. Dan, Romo Guru akan besar sekali jasanya,”

Mendengar permintaan Kartini, raut wajah kiai tua asal Darat-Semarang itu berseri. Seketika itu pula air mata Kiai Soleh tumpah, menangis haru mendengar pinta perawan bangsawan itu.

Bermula dari dialog di pendopo kabupaten itulah, setahun berikutnya kitab yang diidam-idamkan Kartini terbit. Judulnya Faidh al-Rahman fi Tafsir al-Qur’an. Kitab karya Kiai Soleh ini berukuran folio, dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894. Terdiri dari dua jilid, kitab ini menjadi referensi pribumi Jawa yang bermukin di tanah Melayu. Bahkan kaum muslim di Pattani, Thailand Selatan juga memakai kitab ini. Ditulis dengan aksara Arab Pegon, kitab tersebut dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat yang menjabat sebagai Bupati Rembang.

Kiai Soleh Darat wafat pada tanggal 28 Ramadan 1321 H, atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1903. Penulis produktif ini dimakamkan di komplek Pemakaman Umum Bergota Semarang.

Kiai Soleh, yang merupakan guru KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan, menandai salah satu fase perkembangan tafsir Alquran di Nusantara. Hampir sezaman dengan Kiai Soleh, terdapat nama Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (1813-18970, seorang ulama Banten yang menjadi guru besar di Haramain. Syekh Nawawi menulis sebuah kitab berjudul Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil yang selesai ditulis pada hari rabu, 5 Rabiul Awal 1305 H, ketika ia tinggal di Mekkah.

Sebelumnya, naskah tafsir ini disodorkan kepada ulama Mekkah dan Madinah untuk diteliti, lalu naskahnya dicetak di negeri itu. Atas reputasi keilmuannya yang luar biasa ini, para ulama menggelarinya sebagai “Sayyid ulama Hijaz”.

Kecemerlangan Kiai Soleh Darat dan Syekh Nawawi sebagai mufassir ini kemudian dilanjutkan oleh beberapa ulama pada dekade berikutnya. Corak metodologinya pun beragam, demikian pula dengan bahasa yang digunakan.

Pada era 1930-an, seorang ulama asal Sukabumi, KH. Ahmad Sanusi, menulis kitab tafsir lengkap 30 juz, Raudlatul Irfan fi Ma’rifat al-Qur’an menggunakan bahasa Sunda. Ia juga menulis karya lain seputar tafsir Alquran dengan corak berbeda. Total terdapat 75 karya tulis dengan beragagam perspektif keilmuan yang dihasilkan oleh ulama yang sempat aktif di Sarekat Islam dan BPUPKI ini.

Sezaman dengan Kiai Ahmad Sanusi ini, terdapat nama Syekh Mahmud Yunus. Nama terakhir ini selain terkenal dengan kamus Arab-Melayu yang ia ciptakan, rupanya masih memiliki karya tafsir. Judulnya Tafsir Al-Qur’an al-Karim dalam bahasa Indonesia.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Mahmud Yunus sendiri dalam Kata Pengantar di buku tafsirnya, ia memulai penulisannya pada bulan Nopember 1922 dan selesai pada 1938.

Di Indonesia, Syekh Mahmud Yunus adalah salah satu pelopor tafsir runtut 30 juz sesuai urutan mushaf. Setelah Syekh Mahmud Yunus, terdapat nama A. Hassan dengan al-Furqan: Tafsir al-Qur’an. Pendiri organisasi Persatuan Islam ini memulai menuliskan karyanya pada bulan Muharram 1347 H bertepatan dengan Juli 1928. Karena kesibukannya sebagai seorang aktivis organisasi dan dai, ia baru bisa merampungkan karyanya ini pada tahun 1956 M.

Selain itu, dari rahim tanah Sumatra, lahir pula kitab Tafsir al-Qur’an al-Karim yang ditulis oleh tiga serangkai, yaitu Ustadz A. Halim Hassan, Zainal Arifin Abbas, dan Abdurrahim Haitami. Penulisannya dimulai pada bulan Ramadan 1355 H di Langkat. Beberapa kali penulisannya sempat terhenti akibat Perang Dunia II dan langkanya stok kertas. Istimewanya, juz I dan II diterbitkan dalam bahasa Melayu dengan memakai aksara Arab untuk diajarkan di Sembilan kerajaan di Malaysia saat itu.

Setelah Indonesia merdeka, bangsa ini seolah tak pernah kekurangan stok mufasir. Di antara yang monumental ialah Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, yang mulai ia rintis melalui pengajian subuh di Masjid al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, 1958. Ketika Buya Hamka dipenjara di era Orde Lama, justru ia bisa lebuh fokus merampungkan karyanya ini. Hingga kemudian, pada 1967, karya ini terbit dengan judul Tafsir Al-Azhar.

Langkah ulama terkemuka dari Muhammadiyah ini juga hampir berbarengan dengan dirilisnya Tafsir Ibriz berbahasa Jawa yang ditulis oleh ulama NU, KH. Bisri Mustofa, ayahanda KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Adiknya, KH. Misbah Mustofa, Tuban, tak mau kalah. Ia menerbitkan pula Tafsir Iklil yang juga berbahasa Jawa.

Di Makassar, ada KH. Abdul Mu’in Yusuf yang menulis tafsir Alquran berbahasa Bugis dan ditulis menggunakan aksara tradisional Bugis. Selain itu, ada juga Anregurutta Daud Ismail yang menerapkan bahasa daerah Bugis dalam proses penafsiran Alquran.

Di Minangkabau, tercatat sekitar lima ulama yang menyumbangkan karya tafsir Alquran dengan bahasa Minangkabau. Pemilihan tafsir dalam bahasa lokal, urai Islah Gusmian dalam “Khazanah Tafsir Indonesia: dari Hermeneutika Hingga Ideologi” (2013), justru menunjukkan orientasi pragmatis, yaitu agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat lokal tertentu sesuai dengan bahasa yang digunakan. Luar biasa, bukan?

Di sisi lain, karya tafsir ulama Indonesia semakin beragam dan ditulis dengan beragam corak dan varian metodologi yang berbeda satu sama lain. Hasbi Asshiedqy bahkan menulis dua karya, yaitu Tafsir al-Bayan dan Tafsir An-Nur. Karya pertama selesai ditulis tahun 1971. Karena kurang puas dengan terbitan pertama, ia lalu menulis karya kedua.

Pihak Departemen Agama RI juga tidak mau kalah. Lembaga plat merah ini meluncurkan Alquran dan Tafsirnya yang setelah mengalami beberapa kali perbaikan bisa diterbitkan oleh Badan Wakaf UII Yogyakarta pada tahun 1995.

Pakar tafsir Alquran, Prof. Dr. Quraish Shihab kemudian menerbitkan karya monumentalnya, Tafsir Al-Mishbah dan Tafsir Al-Lubaab. Ada pula Prof. KH. Didin Hafiduddin dengan Tafsir al-Hijri-nya.

Yang pasti, jumlah tafsir Alquran di Indonesia sendiri, semenjak dakwah Walisongo, bisa dipastikan berjumlah ratusan manakala kita juga memasukkan beberapa obyek tafsir seperti Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Al-Kahfi, Tafsir An-Nisa’, Tafsir Surat Ya-Sin, Tafsir Juz Amma dan lain sebagainya, maupun beberapa tafsir tematik (pendidikan, feminis, sufistik, hukum, dan sebagainya).

Meski tulisan kali ini terlalu singkat membedah khazanah tafsir Nusantara (Indonesia), namun mengutip periodesasi tafsir Indonesia yang dilakukan oleh Howard M. Federspiel, ada beberapa fase perkembangan tafsir Indonesia yang menarik dicermati.

Generasi pertama, kira-kira permulaan abad ke-20 hingga awal 1960-an, yang ditandai dengan adanya penerjemahan dan penafsiran yang masih didominasi oleh model tafsir terpisah-pisah dan cenderung pada surat tertentu sebagai obyek tafsir. Generasi kedua merupakan penyempurnaan atas generasi pertama, yang muncul pada pertengahan tahun 1960-an.

Cirinya, biasanya memiliki catatan, catatan kaki, terjemahan per kata, dan kadang-kadang disertai indeks yang sederhana. Adapun tafsir generasi ketiga mulai muncul pada 1970-an yang telah berwujud penafsiran yang lengkap, dengan komentar-komentar yang luas terhadap teks yang disertai terjemahannya. Ini merupakan periodesasi tafsir di Indonesia yang dibuat oleh Howard M. Federspiel dalam “Kajian al-Qur’an di Indonesia” (1996).

Pelopor Tafsir di Nusantara

Siapakah yang mula-mula merintis tafsir di kawasan Nusantara? Tersebutkan seorang ulama besar asal Aceh, Syaikh Abdurrauf as-Sinkili (1615-1693). Azyumardi Azra, dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII” (2004) menilai bahwa as-Sinkili adalah ulama terkemuka dengan reputasi internasional. Sebab, matarantai intelektual dan tarekat yang membentang antara Hijaz dan Nusantara di kawasan Asia Tenggara melalui bertaut pada dirinya. Dengan reputasinya yang jempolan ini, As-Sinkili bahkan mengkader beberapa ulama dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Malaysia, hingga Thailand Selatan.

Sebagai pelopor tafsir Alquran di kawasan Nusantara, ia menulis Tarjuman al-Mustafid, sebuah kitab tafsir yang diulas menggunakan bahasa dan aksara Melayu-Jawi (Arab-Pegon). Bahasa yang dipilih ini merupakan lingua franca di zamannya karena menjadi bahasa pengantar dalam birokrasi pemerintahan, intelektual, hubungan diplomatik antar negara, hingga bahasa perniagaan.

Tarjuman al-Mustafid karya as-Sinkili ini sebenarnya telah didahului oleh Faraid al-Qur’an dan Tafsir Surah al-Kahfi. Namun sampai sekarang dua karya ini tiada diketahui siapa penulisnya. Dua karya ini ditengarai ditulis di era pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), atau bahkan di era sebelumnya, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah (1537-1604). Dan, as-Sinkili yang telah menulis Tarjuman al-Mustafid 30 juz lengkap sampai sekarang dianggap sebagai pelopor tafsir di Nusantara.

Melalui pemaparan singkat ini, pembaca bisa menilai kualitas dan kapabilitas keilmuan para ulama Nusantara, bukan?

Wallahu A’lam Bisshawab

Kitab Tafsir Terbitan Muhammadiyah di Kantor NU

Kitab Tafsir Terbitan Muhammadiyah di Kantor NU

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Di rak perpustakaan PCNU Surabaya banyak berjejal kitab lawas. Sebagian besar merupakan peninggalan KH. Khusaini Tiway, salah seorang pendiri dan penggerak GP Ansor. Siapa Kiai Khusaini?

Beliau ini dulunya juga merupakan salah satu komandan Laskar Hizbullah di era revolusi fisik. Namun, setelah kondisi Indonesia tenang beliau kembali ke habitat lawasnya sebagai pecinta ilmu dan penggerak NU Surabaya.

Di rak buku ini ada juga kitab-kitab peninggalan KH. A. Wahab Turcham, pendiri Yayasan Pendidikan dan Sosial Khadijah, Surabaya. Salah satu lembaga pendidikan terbesar di Surabaya yang berada di bawah naungan NU.

Di rak buku inilah, selain menemukan kitab langka karya KH. A. Wahab Chasbullah berjudul “Panyirep Gemuruh”, saya juga menjumpai kitab tipis terbitan Muhammadiyah. Judulnya “Tafsir As-Shirath al-Mustaqim” terbitan Moehammadijah Bahagian Taman Poestaka, 1349 H/1930 M.

Kitab lawas tersebut, sesuai dengan stempel di sampul, merupakan peninggalan Kiai Khusaini. Kitabnya Muhammadiyah tapi ditemukan di rak buku warisan kiai NU. Hal ini membuktikan keterbukaan wawasan generasi NU awal dalam mengakses ilmu pengetahuan, termasuk dari kelompok lain.

Kitab tafsir yang ditulis menggunakan bahasa Jawa ini terdiri dari dua jilid. Tapi saya hanya menemukan di rak jilid satu yang terdiri dari 117 halaman.

Dalam bebuka alias mukadimahnya, “Wushul Ja’far al-Muhammadi”, yang merupakan penyusun (?) atau (mungkin) pimpinan “Moehammadijah Bahagian Taman Poestaka”, menjelaskan apabila kitab ini ditulis untuk petunjuk bagi orang awam. Agar tujuan tercapai dan lebih memudahkan maka dirinya membaginya dalam dua juz.

Juz 1 berisi perkara dasar-dasar keIslaman dan keimanan. Sedangkan juz 2 berisi perkaraa ibadah (shalat, zakat, puasa, dan haji), termasuk pula mengenai bab akhlak.

Kitab tafsir juz 1 ini mengulas perkara keimanan melalui pendekatan ilmu kalam dengan menggunakan perangkat Imam Abu Hasan al-Asy’ari (sifat 20 Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Dengan demikian, secara ringkas bisa disimpulkan apabila generasi awal Muhammadiyah memiliki genealogi ilmu kalam Asya’irah yang tidak berbeda dengan adiknya, yaitu Nahdlatul Ulama.

Bagi saya, kitab ini membuka kembali nostalgia ideologis gerakan Muhammadiyah yang seide dan sepemahaman dengan NU dalam bidang teologi, yaitu Asya’irah/Asy’ariyah. Konsep teologi yang dicanangkan oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari, di mana dalam konsepsi NU dipadukan dengan konsep Abu Mansur al-Maturidi.

Lagi pula, melalui kitab ini, kita bisa membaca kembali benang merah intelektual KH. A. Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dengan salah satu mahaguru ulama Nusantara, KH. Soleh Darat. Nama terakhir ini menulis syarah berbahasa Jawa atas kitab teologis berjudul Jauharat at-Tauhid karya Syekh Ibrahim Al-Laqqani (w. 1631 M). Karya Kiai Soleh Darat ini berjudul Sabilul Abid. Meski ditulis menggunakan bahasa Jawa, namun ketika membuat syarah ini, Kiai Soleh merujuk salah satu karya terbaik Allamah Ibrahim al-Bajuri berjudul “Tuhfatul Murid”. Wallahua’lam.

Ketika Gus Dur Meriwayatkan Sebuah Kuburan

Ketika Gus Dur Meriwayatkan Sebuah Kuburan

Oleh : Rijal Mumazziq  (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

“Kang, kemarin saya mampir ke makam Mbah Kerto.” kata Gus Dur kepada Muhammad AS. Hikam. Hikam yang asal Tuban Jawa Timur itu bertanya antusias,  “Mbah Kerto itu siapa, Gus?”

“Loh, masak sampean ndak tahu. Itu makam yang di Bandungrejo, deket rumah sampean di Plumpang, Tuban.”

“Wah, saya malah nggak tahu Gus ada makam Mbah Kerto. Lagi pula, itu siapa, Gus?”

“Walaah, sampean ini gimana… .Mbah Kertowijoyo itu salah satu Waliyullah yang ada di Tuban. Saya dan Mbah Kiai Abdullah Faqih Langitan sering ke sana. Yang jaga makam kan Mbah Noko, dulu santrinya Almaghfurlah ayah sampean, KH. Abd. Fatah…”

Dialog di atas terjadi di era 1990-an. Muhammad AS Hikam memuat obrolan tersebut dalam bukunya, Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita (Bandung: Yrama Media, 2013).

Selama puluhan tahun, makam Mbah Kertowijoyo banyak didatangi para pegiat klenik dengan kelakuan yang aneh-aneh. Masyarakat malah menganggap apabila Mbah Kertowijoyo adalah tokoh Kejawen.

Hingga akhirnya, Gus Dur bersama KH. Abdullah Faqih (Pengasuh PP. Langitan Tuban) mulai rutin berziarah dan tahlilan di sana, serta membersihkan makamnya. “Islamisasi makam” dijalankan. Penjaga makam kemudian juga berasal dari seorang santri. Siapa sebenarnya Mbah Kertowojoyo ini hingga Gus Dur dan KH. Abdullah Faqih memuliakannya?

Dalam buku tersebut, Muhamamd AS Hikam menyebut apabila Mbah Kertowijoyo bernama asli Sayyid Abdurrahman bin Abu Bakar al-Husaini, seorang dzuriyyah Rasulullah yang juga salah satu penasehat militer zaman Amangkurat II.

Dalam folklore tentang riwayat hidup Mbah Kertowijoyo diceritakan bahwa beliau hijrah ke daerah Tuban setelah Amangkurat II berkuasa dan pro Belanda. Mbah Kertowijoyo pun bergabung dengan pasukan Trunojoyo yang melakukan pemberontakan melawan gabungan kekuatan kolonial dan kesultanan Mataram yang anti terhadap para ulama itu.

Kekalahan Trunojoyo membuat Mbah Kertowijoyo mengingkir ke Jatim. Demi menghindari endusan telik sandi Mataram, beliau mengubah namanya menjadi Kertowijoyo. Nama ini beliau gunakan hingga akhir hayatnya. Masyarakat sangat menghormatinya, karena selain ahli di bidang agama, beliau juga memiliki ilmu kanuragan tinggi dan pakar di bidang pengobatan. Generasi setelahnya juga mempercayai apabila Mbah Kertowijoyo merupakan seorang waliyullah.

Sayang sekali, ratusan tahun setelah beliau wafat, makamnya tidak terawatt. Kalaupun ada pengunjung, tiada lain hanya untuk melakukan ritual aneh-aneh seperti berharap bisikan gaib seputar lotere SDSB dan sebagainya. Jauh dari nuansa Islam.

Akhinya, di awal 1990-an itulah, Gus Dur bersama KH. Abdullah Faqih berusaha membersihkan kembali makam Mbah Kertowijoyo. Usaha ini tidak sia-sia. Peziarah kembali ramai dan lantunan ayat suci Alquran serta zikirnya kembali mengalun di area makam. Bahkan, haul Mbah Kertowijoyo alias Sayyid Abdurrahman bin Abu Bakar al-Husaini setiap tahun juga ramai dihadiri para peziarah. Langkah Gus Dur dan KH. Abdullah Faqih bisa dilihat dari berbagai perspektif.

Pertama, keduanya melakukan eskavasi spiritual-arkeologis yang sangat bernilai karena telah “menggali” makam seorang waliyullah yang hidup empat abad silam.

Kedua, Gus Dur dan KH. Abdullah Faqih telah mengembalikan martabat makam tersebut: dari yang sebelumnya hanya menjadi jujukan pencari nomor lotere hingga kemudian menjadi destinasi wisata spiritual yang ramai hingga kini.

Ketiga, sebagai bagian dari penggemar ritus ziarah kubur makam auliya, Gus Dur telah melakukan langkah taktis menyambungkan kembali akar genealogis-spiritualistik yang sebelumnya terputus.

Masyarakat akhirnya tahu jika makam di Plumpang Tuban tersebut berisi jasad seorang ulama cum penasehat militer di era Mataram, bukan seorang tokoh Kejawen sebagai mana desas-desus sebelumnya.

Dengan demikian, langkah Gus Dur di atas ini bisa disebut sebagai salah satu langkah mempromosikan (makam) seorang ulama. Yang belum tahu akhirnya mengerti, yang penasaran akhirnya paham, dan yang salah paham akhirnya memaklumi.

Wallahu A’lam Bisshawab

Cara Gus Dur Mempromosikan Gus Mus

Cara Gus Dur Mempromosikan Gus Mus

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Rumah Almarhum Kiai Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh dan rumah Gus Mus tidak bisa dibilang jauh. Daerahnya bersebalahan. Kiai Sahal di Pati. Sementara Gus Mus di Rembang. Tapi yang membuat dua kiai hebat ini bertemu, berkenalan lalu menjadi karibnya, adalah Gus Dur, seorang yang tinggalnya lumayan jauh dari Pantura. Bagaimana Gus Dur mengenalkan Kiai Sahal dan Gus Mus?

Lewat sebuah “proyek” terjemahan: Ensiklopedia Ijma karya Sa’di Abu Habib. Ya, Gus Dur mempertemukan kedua lewat proyek ilmu, bukan proyek membuat jembatan. Nah, Gus Dur sendiri mengenalkan Kiai Sahal ke khalayak luas dengan mengulas lewat tulisan perspektif fikih, bagaimana Gus Dur mengenalkan Gus Mus?

Di antara salah satu kelebihan Gus Dur adalah bisa melihat talenta tersembunyi kawan-kawannya. Gus Mus alias KH. Mustofa Bisri merasakannya. Gus Dur tahu jika sahabat karibnya tersebut punya bakat di bidang sastra. Maka ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta di era 1980-an, dan saat itu konflik Palestina-Israel membara, Gus Dur menyelenggarakan acara “Malam Solidaritas untuk Palestina” 1982.

“Saya diminta Gus Dur untuk membaca puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Padahal saya hanya orang desa dan santri sarungan yang tak mengerti sastra dan puisi kok diminta tampil di Ibu Kota,” kata Gus Mus dikutip dari buku Gus Dur Dalam Obrolan Gus Mus karya KH. Husein Muhammad (2015).

 “Rakyat Palestina sedang berjuang mati-matian untuk merebut kembali tanah air mereka yang dicaplok Israel. Mereka adalah bangsa yang tertindas dan terusir dari tempat kelahiran mereka sendiri. Para pengurus sepakat atas gagasan ini. Lalu, Gus Dur mengusulkan agar acara itu diisi dengan pembacaan puisi-puisi karya penyair Palestina. Beberapa di antaranya adalah Nizar Qabbani, Mahmud Darwisy, dan lain-lain,” kenang Gus Mus.

Akhirnya, acara tersebut digelar. Isinya antara lain parade pembacaan puisi karya penyair masyhur Palestina. Banyak penyair terkemuka yang ikut ambil bagian dalam acara itu seperti Taufik Ismail, Subagyo Sastrowardoyo, WS Rendra, hingga D. Zamawi Imroan. Sayang sekali, dari berbagai penyair, tak ada satu pun yang bisa membacakan puisi dalam bahasa Arab.

Tak kehilangan akal, Gus Dur menelepon Gus Mus, memintanya hadir. “Gus Dur menelepon dan meminta saya membaca puisi dalam bahasa Arab di arena bergengsi itu. Eh, saya malah bingung lagi. Apa yang akan saya bacakan?” kata Gus Mus.

Meski grogi, namun penampilan Gus Mus dalam acara tersebut mendapatkan apresiasi. Dengan cepat, Gus Mus juga banyak belajar dari para penyair lain. Semenjak itulah kiai asal Rembang semakin moncer berkarya. Puisi-puisinya, yang menyentil dan mengkritik sana-sini, kondang dengan istilah “Puisi Balsem”. Seperti balsem, terasa panas, tapi menyembuhkan.

Dalam Puisi Balsem ini, Gus Mus tak hanya mengkritik kepongahan kekuasaan, melainkan juga mencerca egoisme manusia, termasuk pula dengan jenaka mengajak pendengar puisinya menertawakan diri sendiri.

Ketika eskalasi konflik Palestina-Israel kembali membara beberapa tahun terakhir, Gus Mus menggelat acara “Doa untuk Palestina” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Agustus 2017. Sebuah pagelaran yang mengingatkan pada kiprahnya sebagai penyair “pemula” di lokasi yang sama, 35 tahun sebelumnya.

Bagi saya, cara Gus Dur melambungkan nama Gus Mus, sekaligus melemparkan beliau dalam jagat sastra cukup unik. Sebagai seorang cendekiawan yang mulai naik daun, salah seorang petinggi PBNU sekaligus menjabat sebagai Ketua DKJ, Gus Dur mendapatkan protes para kiai NU. “Kiai kok merangkap ketua ludruk,” demikian di antara ledekan yang terdengar.

Toh, sebagaimana biasa, Gus Dur tak peduli. Dia memilih menggerakkan para sastrawan menyuarakan kebenaran dan memberi ruang berekspresi. Malam Solidaritas Palestina itulah di antara idenya sebagai Ketua DKJ. Pada malam itu pula, Gus Dur memaksa sahabat karibnya berposes sebagai seorang penyair.

Kita pantas bersyukur dengan “pemaksaan” yang dilakukan Gus Dur kepada Gus Mus. Inilah cara Gus Dur mendorong pemilik talenta mengekspresikan bakatnya. Dan, kita tahu, itu berhasil!