Tiga Jurus Kunci Gus Dur

Tiga Jurus Kunci Gus Dur

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Ada tiga jurus kunci yang digunakan Gus Dur dalam bersikap: keIslaman, keIndonesiaan dan Kemanusiaan. Di dalam aspek keislaman, sebagai pemikir yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama, sikap Gus Dur jelas memperjuangkan fikrah Nahdliyyah, antara lain: Fikrah tawassuthiyyah (pola pikir moderat) yang senantiasa bersikap tasamuh (toleran), tawazun (seimbang-proporsional), dan i’tidal (adil).

Selain itu ada Fikrah Tasamuhiyyah alias pola pikir toleran, Fikrah Ishlahiyyah (pola pikir reformatif), Fikrah Tathawwuriyah (pola pikir dinamis), dan Fikrah Manhajiyyah (pola pikir metodologis sesuai dengan manhaj yang telah ditetapkan oleh NU).

Dalam aspek keindonesiaan, Gus Dur mengikuti kontur sikap NU yaitu NKRI sebagai bentuk final bernegara Indonesia, Pancasila sebagai dasar negara, serta konsensus politik Ukhuwah Wathaniyah alias persaudaraan sebangsa-setanah air. Gus Dur meletakkan persaudaraan ini sebagai sebuah sikap yang jelas di tengah pluralisme dan multikulturalisme Indonesia. Ketika menyikapi konflik Ambon antara Islam-Kristen, Gus Dur tidak bertindak sebagai “politisi” yang memanfaatkan kasus ini sebagai dongkrak pengaman posisinya sebagai RI-1, melainkan menjadi “negarawan” yang berjuang mempersatukan kembali kaum Muslimin dan Nasrani di Maluku. Gus Dur sadar apabila mereka yang bertikai adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Sedangkan aspek kemanusiaan menjadi parameter Gus Dur saat bertindak sebagai Guru Bangsa. Sebagai guru, pantang baginya menolak anak-anaknya yang curhat atas nasibnya sebagaimana yang dialami Dorce, Inul, Ahmad Dani dan sebagainya; meminta perlindungan karena merasa didzolimi, sebagaimana yang dialami Jemaat Ahmadiyah, Sunda Wiwitan, dan sebagainya; maupun orang-orang yang sowan ke ndalemnya dan mengutarakan kebutuhannya: nyadong doa, minta nama untuk anak, curhat dagangan yang sepi, sambat rumah tangga, utang duwit, hingga minta sangu.

Jika kita melihat guru-guru sufi di masa lampau yang membuka hatinya menerima siapapun, membuka uluran tangan bagi orang-orang pinggiran, membimbing mereka yang dinista dengan sikap yang ngemong, lalu mengapa kita masih heran melihat sikap Gus Dur yang segaris dengan sikap para sufi ini?

Sebagai seorang yang lahir dari kultur santri, Gus Dur mencintai para ulama. Dua hari setelah dilantik sebagai RI-1, alih alih mengumpulkan para politisi dan pengusaha untuk melakukan deal politik dan bagi-bagi jatah kursi, Gus Dur malah sowan ke KH. Abdullah Salam, Kajen, Pati. Mbah Dullah seorang ulama sepuh yang asketis, hafal al-Qur’an, rendah hati, dengan wajah bersih bercahaya. Gus Dur datang melalui pintu belakang, melawati jemuran dan dapur ndalem, lalu membungkukkan tubuh mencium tangan Mbah Dullah.

Gus Dur mengulang tradisi raja Nusantara yang meletakkan resi-pandhita sebagai kontrolir kekuasaan, mengulang kembali ritus tatkala raja yang baru dilantik meletakkan mahkota, berbaju putih, dan menanjaki bukit tanpa alas kaki semata-mata sowa meminta nasehat kepada para pertapa agung. Gus Dur juga mengulang tradisi para sultan yang membungkuk di hadapan para ulama, yang melepas jubah kebesarannya semata-mata untuk meminta kucuran doa keberkahan dari mereka.

Ketika melakukan kunjungan ke Nigeria, Gus Dur merombak aturan protokoler kepresidenan dengan cara SOWAN terlebih dulu ke seorang ulama di Kano, sebuah kota besar di negeri penggila sepakbola itu. Pak Bambang Semedi, salah seorang wartawan istana negara yang ikut lawatan kenegaraan ini, menuturkan apabila Gus Dur berpinsip berkunjung ke ulama terlebih dulu, baru ke presidennya. Di Mesir, Gus Dur juga melakukan hal yang sama. Sebelum bertemu dengan Presiden Husni Mubarak, Gus Dur terlebih dulu menghadap ulama Universitas al-Azhar, yang juga tempatnya menimba ilmu di masa lalu (saya kesulitan melacak foto-foto beliau dalam kunjungan ini). Setelah sowan ulama selesai, barulah kunjungan kenegaraan dilakukan.

Yang juga saya suka dari Gus Dur adalah gesturnya saat sowan para ulama. Silahkan searching foto Gus Dur saat sowan KH. Abdullah Salam, tatkala dengan takzim mencium tangan KH. Turaichan Adjhuri, saat menunduk mencium tangan KH. Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom); bersimpuh saat sowan ke Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid, Lombok; saat bersama Tuan Guru Muhammad Zaini Abdul Ghani Martapura (Guru Ijai); tatkala bersama Habib Lufti bin Ali bin Yahya; saat bersama al-Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad BilFaqih, PonPes Darul Hadist Malang; ketika sowan Habib Ahmad Sokaraja; bersama Syaikh Hisyam Kabbani maupun Syaikh Nadzim Haqqani; bersama Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, hingga bersama KH. Shonhaji Chasbullah Kebumen. Semua menunjukkan gestur spontan kerendahan hati sebagai seorang santri yang sedang berhadapan dengan gurunya.

Bahkan, dalam sebuah foto lama, dikelilingi beberapa orang yang berjongkok, Gus Dur duduk iftirasy (seperti duduk tasyahud awal) sedang melantunkan doa. Ini adalah foto yang diambil pada akhir Januari 1989, saat Gus Dur akan berziarah ke makam Sayyid Jamaluddin al Akbari al Husaini yang wafat pada tahun 1310 M dan dimakamkan berdampingan dengan Raja Tosora Lamaddusila di Tosora (situs purbakala), Wajo, Sulawesi Selatan. Saat itu jembatan menuju makam leluhur para Walisongo itu terputus. Oleh karena itu rombongan peziarah ini memilih berdoa tak jauh dari jembatan. “Sayid Jamaluddin Akbar belum berkenan kita kunjungi,” kata Gus Dur saat itu. Menurut Gus Dur, ia mendapat pesan dari kakeknya Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, supaya menziarahi 27 makam Wali di Indonesia.

Saat itu doa dipimpin oleh Sayyid Abu Bakar Alatas. Gus Dur berjanji akan datang lagi secara incognito (tidak resmi). Belakangan diketahui Gus Dur telah datang secara diam-diam dan berdua dengan Habib Abubakar Alatas, dan menziarahi beberapa makam wali di Sulsel seperti makam Syech Yusuf al Khalawatiyah al Makassari di Gowa, Makam Syekh Jamaluddin al Akbari al Husaini di Tosora Kabupaten Wajo, makam Syekh Datok Ri Bandang dan Makam Pangerang Diponegoro di Makassar, makam Tuan Bojodi Kajuara Bone, makam Kareng Lolo Bayo Sanrabone Takalar, dan beberapa makam waliyullah di Sulsel.

Kecintaannya kepada para ulama, yang masih hidup maupun sudah wafat, tak perlu diragukan. Dalam beberapa perjalanan ke sebuah kota menggunakan mobil, beliau sering tiba-tiba meminta sopir agar membelokkan kendaraan menuju ke makam seorang ulama, baik makam yang sudah masyhur, maupun makam kuno yang tampak tak terawat. Soal eskavasi arkeologis-spiritual, Gus Dur hanya bisa disaingi Gus Miek alias KH. Chamim Djazuli, perintis Jamaah Semaan Kitab (Mantab) dan Dzikrul Ghafili. Keduanya tahu makam-makam keramat para wali, baik yang sudah masyhur maupun yang masih mastur.

Dalam biografinya yang ditulis Greg Barton, Gus Dur menjelaskan apabila sejak remaja dirinya gemar melakukan ziarah makam para wali dengan berjalan kaki. Dia mengunjungi makam wali di sebelah selatan Jombang hingga tembus ke wilayah pantai selatan Jawa dengan berjalan kaki melewati rute yang tidak banyak ditempuh orang. Di makam-makam ini Gus Dur berdoa dan bermeditasi pada tengah malam. Kurang lebih 100 km dia tempuh dengan tekad kuat setelah berhasil menghafal 1000 bait Alfiah ibn Malik. Seringkali dalam perjalanan pulang, ada pengendara yang mengetahui statusnya sebagai cucu KH. M. Hasyim Asy’ari dan menawarkan tumpangan untuk kembali ke Jombang.

Di Mesir dan Irak, ketika secara estafet berkuliah (meski lebih banyak berada di perpustakaan dan bioskop hahaha), Gus Dur rutin berkunjung ke makam ulama. Makam Syaikh Abdul Qadir al-Jilani di Baghdad adalah salah satu jujugan favoritnya. Kelak ketika dirinya sudah pulang ke Jombang, dan mulai mengajar di Denanyar dan Tebuireng, salah seorang murid kakeknya yang bernama Kiai Shobary menyuruhnya mengajar Qawaid Fiqhiyyah. Setelah itu, Kiai Shobary memintanya mengajar Kitab Al-Hikam Al-Athaiyyah karya Ibn Athaillah Assakandari, salah satu kitab tasawuf yang melegenda.

Dengan mengajar tasawuf ini pula Kiai Shobary berhasil membuat Gus Dur berjanji agar setiap selapan (35 hari) sekali berziarah ke makam kakek dan ayahnya untuk berdoa dan menghafalkan beberapa surah al-Qur’an.

Menyebut Gus Dur sebagai pionir Liberalisme Indonesia–sebagaimana tengara Charles Kurzman yang diamini oleh banyak kalangan muslim– saya kira kurang tepat, sebab sungguh ajaib dan aneh jika ada orang liberal yang mencium tangan ulama, gemar berziarah ke makam waliyullah, dan banyak mengutip naskah klasik di bidang fiqh dan tasawuf maupun merujuk kearifan para kiai dalam penyelesaian sebuah masalah, melalui berbagai ulasan karyanya dan wawancaranya. Wallahu A’lam Bisshawab

Gus Dur Sebagai Kata Kunci

Gus Dur Sebagai Kata Kunci

Oleh : Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Mas Abdul Wahab, ketika memulai dakwahnya di pelosok Papua, justru diberi fasilitas sebuah rumah yang biasa digunakan sebagai basecamp. Pemiliknya adalah Bapak Antonius Rahail, seorang Katolik taat.

Mengapa Pak Antonius menyediakan rumahnya sebagai fasilitas penunjang pendidikan dan dakwah muslim? Jawabannya: karena Gus Dur. Ya, nama terakhir ini sangat dihormati oleh Pak Antonius karena baginya Gus Dur telah mengembalikan martabat rakyat Papua dengan mengembalikan nama “Irian” menjadi “Papua” kembali. Alasan alternatif, selama hidupnya Gus Dur banyak melindungi kebebasan beragama pemeluk agama lain. Jadi wajar apabila ada orang Katolik yang melakukan balas budi dengan cara meyediakan rumahnya sebagai fasilitas dakwah nahdliyyin, dengan tujuan membalas budi kebaikan Gus Dur.

Di Lowoksuruh, Wendit, Malang, ketika KH. Agus Sunyoto mendirikan sebuah rumah dan pesantren Tarbiyatul Arifin, beliau melihat apabila desanya merupakan salah satu desa yang mayoritas dihuni orang non-mulim. Bahkan ada dua gereja di situ. Satu gereja Katolik, satu lagi gereja Kristen Shallom. Acara misi dua gereja ini berjalan dengan menyasar warga-warga miskin. Bahkan untuk mengakrabkan anak-anak dengan gereja, pengelolanya menyediakan semacam taman bermain di teras gereja. Tak heran jika Pak Agus Sunyoto awalnya kaget melihat bocah-bocah berjilbab keluar dari komplek gereja dengan riang gembira. Rupanya mereka habis bermain-main di terasnya.

Melihat hal ini, sebagai upaya melindungi aqidah anak-anak, Pak Agus pun memutuskan mendirikan Raudlatul Athfal (TK). Sebagai pendatang baru yang tinggal di sebuah desa dengan kompleksitas agama penduduknya, membuat Pak Agus mempertimbangkan aspek manusiawi dan mengutamakan kecerdikan dalam dakwahnya. Sebelum pesantren binaannya berdiri disertai perintisan TK, penulis buku Atlas Walisongo ini berusaha menjinakkan kawasannya terlebih dulu. Saat itu, musala di sekitar lingkungannya belum ada. Agar pendirian musala, pesantren serta TK tidak menimbulkan gesekan antar warga, maka Kiai Agus melakukan pendekatan terhadap pendeta dan beberapa tokoh Katolik setempat. Di sisi lain, beliau juga mengurus surat izin lembaganya ke Kemenag Malang.

Berhadapan dengan para tokoh masyarakat dan pemimpin gereja, dengan cerdik Pak Agus menggunakan keyword “Gus Dur” sebagai pembuka. Beliau memperkenalkan diri sebagai pengurus Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi) NU, lalu mendiskusikan kerukunan umat beragama dan bingkai keislaman dan kebangsaan, dan tak lupa menyebut diri sebagai santri ideologis Gus Dur. Tak lupa, karena mereka juga menyukai Bung Karno, Pak Agus membuka ruang diskusi nasionalisme melalui jalan pikiran Bung Karno yang gandrung persatuan itu. Ampuh, melihat karakter Pak Agus yang “en-U” banget dan melihatnya sebagai bagian dari murid Gus Dur sekaligus pengagum Bung Karno, beberapa tokoh masyarakat ini pun ikut tandatangan atas nama warga setempat dengan menyetujui pendirian lembaga pendidikan yang akan didirikan Pak Agus.

Setelah lembaga pendidikan Islam Tarbiyatul Arifin berdiri, Pak Agus langsung membuka pengajian untuk warga sekitar. Agar anak-anak kuat akidahnya, beliau juga mendirikan unit Raudlatul Athfal. Lucunya, ada beberapa anak-anak non-muslim bersekolah di sini dan mereka sampai hafal beberapa surat pendek. Bahkan seorang anak Kristen sampai hafal 22 surat pendek. Dia sekarang bersekolah di SDN, sedangkan adiknya masih duduk di tingkat dasar RA Tarbiyatul Arifin. Di RA ini anak-anak juga diajari kesenian tari Remo sebagai wujud pelestarian budaya.

Adapun para pemuda diajari berkesenian melalui grup shalawat Al-Banjari. Di pondok ini juga terdapat langgar wakaf Sunan Kalijaga. Demi toleransi terhadap warga sekitar, Pak Agus sengaja tidak menggunakan speaker saat mengumandangkan adzan.

Mas Abdul Wahab dan Pak Agus Sunyoto telah membuka sebuah ruang dialogis-interaktif dengan pemeluk agama lain menggunakan kata kunci “Gus Dur”. Andaikata saat itu dakwah yang dilakukan keduanya menampilkan pendekatan yang kaku dan raut muka bengis, mungkin bakal lebih banyak resistensi dari penduduk lokal. Namun karena menggunakan nama Gus Dur sebagai keyword, maka keberadaannya lebih mudah diterima karena mereka yang non-muslim sedikit banyak memahami jalan pikiran Gus Dur sebagai perekat kebangsaan.

******
Gus Dur, kita tahu beberapa tahun silam menugaskan para Banser membantu aparat kepolisian berjaga di gereja. Banser bukan menjaga bangunannya, tapi membantu terlaksananya kebebasan beragama. Bahkan, Riyanto, salah seorang Banser harus gugur dalam tugasnya tatkala menenteng bom yang diletakkan di gereja Mojokerto oleh jaringan teroris Fathurrahman Al-Ghozi saat secara estafet meledakkan gereja di beberapa titik.

Sebagai Guru Bangsa, Gus Dur meletakkan aspek pluralitas dan multikulturalisme sebagai bagian tak terpisahkan bangsa ini. Beliau memberi contoh yang tak terucapkan, menjaga kerukunan antar umat beragama, & secara tersirat memberi contoh “kami telah melindungi saudara seiman kalian di sini, jadi tolong lindungi saudara-saudara kami yang berada di situ, di wilayah non-muslim.”

Ketika peristiwa pembakaran masjid di Tolikara terjadi, Idul Fitri 2015, dan beberapa ormas menyerukan jihad ke sana, Banser memilih bekerja dalam diam sembari menyerahkan kasus ini ke aparat penegak hukum. Mereka mempersiapkan fisik, logistik dan mental untuk berangkat ke sana, menjelang Idul Adha. Tak kurang dari 15 Banser pilihan berangkat ke lokasi setelah sebelumnya mengikuti prosesi pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan Maulid Simtudduror di rumah Nusron Wahid, Ketum GP Ansor saat itu. Setelah acara usai, rombongan ini berziarah ke makam Habib Husein bin Abu Bakar bin Abdillah Luar Batang. Tanpa disengaja, di lokasi ini mereka bertemu Habib Lutfi bin Yahya, Rais Aam Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah. Mereka pun minta restu kepada ulama nasionalis ini.

Utusan PBNU ini tiba di Bandara Sentani, lalu berangkat ke lokasi dengan didampingi Banser setempat. Lalu tim menuju Bandara Wamena yang dilanjutkan perjalanan darat ke Tolikara.

Di lokasi, sebagaimana laporan AULA Nopember 2015, mereka disambut Muspida setempat dan imam Masjid Tolikara, K. Ali Mashar. Persiapan shalat Idul Adha segera dilakukan di masjid Koramil. Para pemuda GIDI (Gereja Injili di Indonesia) yang ditengarai beberapa minggu sebelumnya terlibat pembakaran masjid, mereka malah mendekat dan ikut membantu Banser menjaga keberlangsungan Idul Adha. Ketika orang-orang GIDI tahu jika yang datang adalah Banser, yang mereka tahu sebagai “anak-anak Gus Dur”, para pemuda ini malah merasa segan atas peristiwa pembakaran masjid. Karena itu, mungkin untuk sedikit menebus rasa bersalah, mereka ikut pengamanan Idul Adha lalu ikut menyumbang 5 ekor sapi.

—-
Bagi saya Gus Dur telah mengajarkan aspek substantif dalam konteks beragama dalam keberagamaan melalui sikap “….kami telah melindungi saudara seiman kalian di sini, jadi tolong lindungi saudara-saudara kami yang berada di situ, di wilayah non-muslim.”, maupun prinsip mayoritas melindungi minoritas dan minoritas menghormati mayoritas.

Kedua prinsip memang enteng diucapkan namun dalam kenyataannya dibutuhkan kesabaran dan kehendak meredam ego sektarian agar kerukunan berbangsa dan bernegara tetap terjaga. Nggak usah adigang adigung adiguna menjadi mayoritas, juga tak perlu merengek manja sebagai minoritas. Semua harus tahu diri.

Semoga nama Gus Dur tetap menjadi “kata kunci” yang tepat untuk keberislaman dan keindonesiaan. (RM)

(Dimuat di Majalah TEBUIRENG, tahun 2017)

Kiai Wahab Turcham: Penggerak Pendidikan Perempuan dari Surabaya

Kiai Wahab Turcham: Penggerak Pendidikan Perempuan dari Surabaya

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Nama ini tidak banyak dikenal, apalagi nasional, di Surabaya saja, di mana dia berjuang, namanya tidak banyak dikenal. Saya sowan sana sini untuk mencari tahu lebih dalam, hasilnya masih dangkal. Karena itulah, catatan saya ini teramat pendek, untuk sosok yang sanad ilmu dan jejaring sosialnya cukup kuat. Siapakah dia?

KH. A. Wahab Turcham, namanya. Abdul Wahab dari Surabaya, putra dari Kiai Turcham. Jika Abdul Wahab dari Jombang, putra Kiai Chasbullah, kita sudah banyak mengenalnya.

Di deretan foto di atas, wajahnya saya lingkari. Ia tokoh NU di Surabaya, rumahnya banyak dihampiri, tempat makan, tempat menginap, saat ulama atau tokoh nasional datang ke Surabaya. Wahab Turcham gigih dalam dunia pendidikan. Untuk pendidikan Islam Surabaya, tidak hanya pesantren, tapi juga sekolah, ia salah satu pentolan. Pilih tanding tekadnya. Di Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Khadijah, Surabaya, ia salah satu muasis.

Kiai Wahab Muda

Kiai Wahab Muda

Kiai Wahab Sepuh

Kiai Wahab Sepuh

Ini adalah foto Ittihad As-Syubban, yang bernaung di bawah NU wilayah Wonorejo Surabaya, 1931. Beliau bergabung di organisasi ini di usia belia, 16 tahun.

Kelak, Kiai Wahab Turcham dikader oleh Kiai Abdul Wahab Chasbullah di Nahdlatul Wathan, lalu digembleng oleh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari di Tebuireng, sekaligus berkenalan dan bersahabat dengan Kiai Abdul Wahid Hasyim. Nama terakhir inilah yang banyak memengaruhinya terkait gagasan pembaruan pendidikan Islam.

Persentuhannya dengan Kiai Wahid membuatnya tertarik mendirikan Madrasah Muallimat, sekolah khusus kaum hawa, pada 2 Dzulhijjah 1372 H/ 1 Agustus 1954. Di kemudian hari, lembaga ini berkembang pesat dan setelah beberapa kali mengalami perubahan nama, pada akhirnya menjadi Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Khadijah. Selingan: Jika orang Muhammadiyah berdakwah dengan nama Aisyah, maka NU mengabadikan Khodijah dalam perjuangannya.

Ketika Yayasan Khadijah Surabaya dipindah dari Kawatan ke Wonokromo tahun 1960-an, suasana politik memanas. PKI via Pemuda Rakyat menyerobot tanah milik Muslimat NU yang diperuntukkan bagi Yayasan Khadijah. Tanah ini dikapling, dikasih patok, dan diberi bendera Palu Arit. Mottonya, serobot dulu, urusan belakangan (jangan ada lagilah motto begini).

Nggak terima, Banser mencopoti patok, mencabut bendera Palu Arit, dan menggantinya dengan bendera NU. Bentrok terjadi. Banser memukul mundur Pamuda Rakyat dan BTI. Mottonya, pukul dulu urusan belakangan (jangan ada lagilah motto begini).

Agar aman, Banser siap siaga berjaga siang malam. Mengamankan aset tanah milik Muslimat NU tersebut.

Di tanah inilah sampai sekarang gedung dan pesantren putri yang dikelola Yayasan Khadijah awet berdiri. Demikian, sangat singkat. Semoga pada masa yang akan datang kita dapat menemukan informasi-informasi tentang beliau yang lebih mendalam lagi. Tentu saja ini tugas anakmuda. Alfatihah untuk Kiai Wahab Turcham, Penggerak Pendidikan Perempuan Surabaya.

Humor Gelap Gus Dur, Ustaz Abdul Somad, dan Kehidupan Agama Kita

Humor Gelap Gus Dur, Ustaz Abdul Somad, dan Kehidupan Agama Kita

Gus Dur punya stok humor gelap (dark joke) yang komplit, baik yang berkisah agama, etnis, dan tentu saja humor gelap yang menghina diri sendiri. Khusus dua hal yang disebut pertama, agama dan etnis, jika dijadikan humor bisa menyinggung, atau bahkan bikin marah sebagian pemeluk agama, atau etnis tertentu.

Tapi, hingga kini humor gelap Gus Dur awet. Soal kedekatan dengan Tuhan, misalnya, Gus Dur membandingkan antara orang Hindu, Kristen dan Islam. Orang Hindu memanggil tuhan dengan istilah Om, pemeluk Kristen dengan sebutan Bapa, nah orang Islam bagaimana, Gus? Boro-boro dekat, mau manggil Tuhan saja harus pake toa.

Silakan cari lagi soal Anak Tuhan Masuk Kristen, atau humor Kutang yang Bisa Dijadikan Topi Yahudi yang membuat Simon Peres, tokoh Yahudi terbahak-bahak.

Cerita ledekan Gus Dur pada Peres di bawah ini saya baca di Alif.ID. Humor itu lewat sanad sastrawan terkemuka Ahmad Tohari.

“Pak Peres, negeri Anda akan kaya raya jika mau mengimpor kutang dari Perancis,” usul Gus Dur pada Shimon Peres.

“Kenapa?” tanya Peres penasaran.

Imporlah kutang dari Perancis. Sesampai di Israel, kutang itu dipotong jadi dua,” Gus Dur menjelaskan. Peres makin penasaran.

“Nah, setelah dipotong jadi dua, baru dijual. Kutang yang aslinya hanya bisa dipakai satu orang, di Israel bisa dipakai dua orang, asal dipotong dulu. Dan itu artinya bisa mendatangkan untung lipat dua. Jangan lupa, tali-tali pengikatnya dibuang dulu,” jelas Gus Dur tambah panjang.

“Mana bisa kutang dipotong jadi dua dan mendatangkan untung berlipat???” tanya Peres. Rasa penasarannya makin menjadi-jadi.

“Ya kan kalau sudah jadi dua, namanya bukan kutang lagi. Kalian bisa memakai kutang sebagai topi untuk pergi ke tembok ratapan,” terang Gus Dur enteng.

“Hahahaha…hahahahaha….hahahaha…” kali ini Peres paham, dan langsung tertawa terpingkal-pingkal.

Topi Yahudi bernama Kipah. Bentuknya bulat. Dipakai oleh pendeta atau rabi. Diletakkan di atas ubun-ubun, agak ke bawah sedikit.

Ada juga humor Gus Dur soal Pastur yang Hendak Disantap Harimau, Sopir Mikrolet yang Masuk Surga Duluan Dibanding dengan Kiai dan Pastur, atau yang bersifat etnikal: Orang Madura dan Agama Khong Guan, dan Salam Horas Ala Jawa, serta Kondektur Metromini dari Batak.

Joke etnikal terakhir ini disampaikan Gus Dur ketika memberikan pengantar pidato kenegaraan menyambut HUT ke-55 Kemerdekaan RI di Sidang Paripurna DPR Agustus 2000. Sebuah acara resmi. Luar biasa. Serius tapi santai.

Di tengah-tengah pidato tanpa teks itu, Gus Dur bercerita tentang seorang kondektur bus asal Sumatera Utara yang bergelantungan di pintu bus. Ketika bus melaju kencang, rupanya sopir tak tahu kalau sang kondektur terjatuh tersenggol bus lain. Sang kondektur pun jatuh tersungkur, kepalanya langsung membentur jalan dan retak, napasnya sudah senin-kemis (terputus-putus).

Saat itulah datang seorang Betawi yang mencoba menolong kondektur yang sekarat itu. “Bang, nyebut Bang, nyebut,” katanya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga kondektur  itu.

Maksud orang Betawi ini agar kondektur yang sekarat tadi menyebut Syahadat La ilaaha illallah, sebelum meninggal. Tapi karena kondektur tadi bukan orang Islam, dia mengaitkan permintaan nyebut tadi dengan profesinya.

Maka sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, kondektur tadi nyebut, “Blok M-Depo… Blok M-Depo….”

Joke yang membuat anggota DPR terpingkal-pingkal.

***

Oke. Silakan cari humor gelap Gus Dur yang berceceran di internet. Seabrek, jumlahnya. Anehnya, sangat jarang, bahkan nyaris tidak ada yang kemudian tersinggung berat dengan humor yang sensitif ini. Kalau pelontarnya orang lain, saya haqqul yaqin bakal banyak yang sewot, marah, bahkan menggugat secara hukum segala.

Ada beberapa alasan mengapa Gus Dur santai saja melontarkan humor gelapnya, dan tidak khawatir ada yang tersinggung.

Pertama, Gus Dur sering meledek dan menertawakan dirinya, bahkan komunitasnya (santri, kiai, dan NU). Sangat banyak sekali humor yang menertawakan diri sendiri. Anda mungkin sudah hafal humor yang beliau lontarkan di hadapan Bill Clinton, Fidel Castro, Jacques Chirac, hingga Raja Fahd, dan lain sebagainya. Gus Dur meledek diri sendiri terlebih dulu, lantas melontarkan jokenya pada saat yang tepat. Meledaklah tawa para pimpinan negara ini. Jadi, lontaran humor ini tidak menimbulkan masalah, melainkan malah melahirkan keakraban antara kedua belah pihak.

Kedua, soal humor gelap yang sensitif, Gus Dur melesatkan humornya dalam suasana keakraban, kedekatan, dan kasih sayang sesama pemeluk agama, bukan atas dasar kebencian, fasisme dan rasialisme. Narasinya pas, sentuhannya tepat, dan dilontarkan dalam suasana dan momen yang pas. Dalam istilah Jawa, tahu empan-papan. Paham situasi dan kondisi.

Ketiga, Gus Dur paham psikologi massa. Gus Dur bisa membawakan humor dalam suasana maupun komunikasi komunal dengan teknik dan pilihan guyonan yang berbeda. Saat berceramah di hadapan ibu-ibu nahdliyyat di desa, maupun dalam pengajian umum, atau di depan acara resmi, maupun dalam seminar, pilihan humornya tidak sama. Teknik penyampaiannya juga berbeda. Disesuaikan dengan mustami’in-nya. Ini yang membuat kualitas humornya selalu segar dan tidak basi.

Keempat, humor gelap Gus Dur dilontarkan dalam rangka otokritik, mengkritik diri sendiri, mengkritik golongan sendiri. otokritik ini sangat penting, termasuk untuk kehidupan beragama, agar tidak sombong dan merasa benar. Dalam poin ini saya merasa harus menyebut Ustaz Abdul Samad (di poin nomor 1-3 sudah pengen menyebutnya, tapi saya tahan, di sini saja) yang harusnya meniru ini.

Saya sangat yakin, andai Gus Dur ditanya tentang salib dan patung, maka jawabannya bukan merendahkan keyakinan liyan, sambil menglorifikasi keyakinan sendiri. Terpaksanya merendahkan keyakinan orang lain, maka Gus Dur akan memakai jurus dan ilmu agar orang tertawa, bukan tersinggung, seperti humor-humor yang saya contohkan di atas. Kurang apa Gus Dur menghina Yahudi, tapi toh Simon Peres tidak tersinggung, sebaliknya, malah terkekeh-kekeh.

Karena itu, soal ledek-meledek dan humor gelap, Gus Dur adalah master. Maestro. Shifu. Mahaguru. Tidak bisa dikopipaste dan tidak bisa ditiru sembarangan. Humor sensitif yang dilesatkan dalam koridor cinta akan menimbulkan ledakan tawa dan keakraban. Sebab kasih sayangnya melampaui ledekan dan candaannya. Sebagaimana ayah membercandai anak-anaknya. Hangat dan akrab. Wallahua’lam.

Hari Pramuka: Kepanduan Muslim dan Kontribusinya bagi Perjuangan Bangsa

Hari Pramuka: Kepanduan Muslim dan Kontribusinya bagi Perjuangan Bangsa

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Takashi Shiraishi, peneliti Jepang itu, menyebut era 1910 hingga dasawarsa berikutnya sebagai Zaman Bergerak. Ketika kaum pribumi bersemangat menghimpun diri, memamahbiak ide-ide progresif, hingga keaktifan berserikat.

Soal kepanduan, alias Pramuka, yang hari ini diperingati hari lahirnya, organisasi Islam Indonesia punya sejarah yang khas. Ketika kepanduan mulai tumbuh di era 1920-an, dimana Muhammadiyah mengaktivasi gerakan Hizbul Wathan, lantas H. Agus Salim aktif pula bergerak ke daerah-daerah dalam rangka menjaring pandu muda, saat itu pula tunas kepanduan mulai mekar. Apalagi ketika bapak pandu dunia Lord Baden Powell, berkunjung ke Batavia, 1934, semangat dan semaraklah gerakan ini.

Anshoru Nahdlatoel Oelama (ANO) juga mendirikan organisasi kepanduan. Sebelum berdiri NU, namanya Ahlul Wathan, bagian dari Syubbanul Wathan, organisasi kepemudaan yang dirintis oleh KH. Abdullah Ubaid dan KH. A. Wahab Chasbullah.

Cikal bakal GP Ansor itu baru mendirikan Pandu Ansor tahun 1937. Mereka punya drumband yang secara atraktif tampil perdana di Muktamar NU di Malang, 1937. Mereka berparade menggunakan mars dan drum band, hingga menggunakan jas dan dasi. Khusus yang terakhir, para ulama tetap keberatan. Alasannya, itu baju “kaum kafir”. Man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari kaum tersebut. Menyikapi hal ini, beberapa eksponen ANO, seperti KH. Abdullah Ubaid, KH. Tohir Bakri, dan beberapa aktivis lain menjelaskan. Kurang lebih, jas dan dasi kami pakai sebagai strategi perlawanan, karena dengan menggunakan baju ini kami sebagai pribumi merasa setara dengan mereka. Para kiai manggut-manggut. Sebagian menerima. Apalagi, kaum muda ini melengkapi jas-dasi ini dengan kopiah hitam. Lengkap sudah.

Langkan mendirikan organisasi kepanduan memang tepat. Mengikuti jejak Muhammadiyah yang sudah punya kepanduan Hizbul Wathan, SI dengan Sarekat Islam Afdeling Padvinderij yang kemudian diganti menjadi Sarekat Islam Afdeling Pandu (SIAP), Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB), dan sebagainya. Komplit. Bersaing dalam kebaikan.

Orang Arab Hadrami tak mau kalah. Keturunan Arab yang punya nasionalisme tinggi memilih mendirikan Pandu Arab, 1937. Pendirinya, antara lain Habib Hussein Shihab, ayahanda Sayyid Muhammad Rizieq Shihab, imam besar FPI.

Di kemudian hari, keturunan Arab lainnya, Habib Hussein Mutahar, pejuang kemerdekaan, komposer pencipta Hymne “Syukur”, mars “17 Agustus”, dan banyak lagu anak-anak juga menjadi bapak pandu Indonesia karena bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX mempersatukan organisasi kepanduan di tanah air dalam wadah Praja Muda Karana (Pramuka).

Organisasi Pandu: Penyedia Stok Pejuang

Pandu Ansor, SIAP, NATIPIJ, maupun Hizbul Wathan, semakin giat menyelenggarakan dan membina kepanduan di akhir 1930-an. Sayang, ketika Jepang menjajah, semua wadah pandu dibekukan.

Hingga ketika Jepang membuka batalion PETA, Heiho, lantas Hizbullah, banyak para pandu muda yang bergabung. Di Malang, ada Hamid Rusydi, mayoret drumband ANO dan pandu Ansor yang menjadi pimpinan PETA, lantas memimpin gerilya. Mayor Hamid Rusydi yang gugur di Malang Selatan akhir 1949, namanya diabadikan menjadi terminal dan nama jalan protokol

Di skala nasional, ada Jenderal Sudirman, anggota pandu Hizbul Wathan yang kemudian menjadi guru, lantas menjadi perwira PETA, kemudian menjadi Panglima TNI.

Di Sumatera, mantan anggota kepanduan juga banyak yang bergabung dengan Gyugun, tentara sukarelawan bentukan Jepang. Di kemudian hari, anggotanya banyak yang masuk TNI dan menjadi gerilyawan pejuang selama revolusi fisik. Jelaslah apabila kepanduan bukan hanya soal tali temali, simaphore, dan baris berbaris. Wadah aktivitas ini menjadi pemasok terpenting para penggerak perjuangan bangsa ini. Wallahu a’lam bisshawab

Setelah Mbah Hasyim Asy’ari, Sang Putra Zaman adalah Mbah Moen

Setelah Mbah Hasyim Asy’ari, Sang Putra Zaman adalah Mbah Moen

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Dalam ceramahnya, KH. Maimoen Zubair menjelaskan sosok KH. M. Hasyim Asy’ari sembari mengutip maqalah al-Insan Abna-uz Zaman, manusia adalah anak zamannya. Menurut beliau, pendiri NU itu layak dijuluki sebagai abna-uz zaman. Mengapa?

Sebab, di eranya, nyaris semua ulama di Jawa dan Madura terkoneksi dengannya. Bahkan, tidak ada ceritanya seorang menjadi ulama besar, kecuali pernah beristifadah dalam hal keilmuan dengan Kiai Hasyim.

Para masyayikh pondok Sarang, juga Lasem, Lirboyo, Ploso, hingga Buntet, punya kaitan keilmuan dengan beliau. Mbah Moen bertanya: Lalu di mana sekarang Sang Putra Zaman?

“Wallahu a’lam, hanya Allah yang paling mengerti,” Mbah Moen menjawab sendiri pertanyaannya.

Apa yang disampaikan oleh Mbah Moen bagi saya menarik. Sebab, saya meyakini, beliaulah yang menjadi sang Abna-uz Zaman dalam kurun seperempat abad terakhirAda beberapa alasan mengapa hal ini layak disampaikan.

Pertama, soal keilmuan, Mbah Moen adalah ulama pilih tanding. Di Indonesia, murid-muridnya menyebar dan mendirikan banyak pesantren, berkiprah di bidang politik, hingga menjadi akademisi. Jejaring alumni Sarang ini menjadi gugusan yang kokoh, khususnya dalam kajian fikih.

Silakan dilihat, dalam forum bahtsul masa-il, khususnya di Jawa Tengah, peranan para santri Mbah Moen demikian menonjol. Sebagai seorang ‘allamah, faqih, muarrikh, sekaligus ahli hikmah, beliau sudah mencapai al-mutabahhir fil-‘ulum, atau dalam bahasa mudahnya, ilmune nyegoro. 

Yang luar biasa, Mbah Moen juga menjadi tempat para Sadat Alawiyyin atau para Habaib berguru. Habib Soleh bin Ali Alatas, Tegal, sempat sembilan tahun mondok di pesantren Al-Awar, sebelum berangkat ke Tarim, Hadramaut.

Demikian pula dengan Habib Abdullah Zakky al-Kaff, Bandung, dan banyak nama habib lainnya. Para dzurriyah Rasulullah ini sangat menghormati gurunya. Sebaliknya, Mbah Moen sangat mencintai mereka. Sudah banyak kisah seputar penghormatan dan kecintaan Mbah Moen ini kepada para habaib. Silakan dicari. Bahkan, ketika prosesi pemakaman di Ma’la, KH. Najih Maimoen dan KH. Wafi Maimoen secara khusus meminta kepada Habib Rizieq Syihab dan menantunya, Habib Hanif Alatas, untuk mendoakan ayahandanya. Perkara terjadi polemik terkait hal ini, itu urusan lain. Yang pasti, Mbah Moen adalah muhibbin dengan kualitas kecintaan 24 karat kepada Baginda Rasulullah dan keturunannya. Paham kan? 

Kedua, memiliki jejaring ulama dunia. Harus diakui, selain dicintai para ulama di Indonesia, Mbah Moen adalah satau satu jujukan para ulama luar negeri, dari Mesir, Saudi Arabia, Lebanon, Yordania, Libya, Maroko, Suriah, Yaman dan sebagainya. Para ulama ini, selain bersilaturahim, biasanya juga meminta sanad keilmuan dan hadits kepada Mbah Moen. 

Biasanya, para ulama ini berkunjung ke kediaman Mbah Moen sebelum maupun sesudah menghadiri acara pagelaran internasional yang digelar PBNU, seperti ICIS, ISOMIL, multaqa shufi al-‘alami, hingga konferensi internasional ulama bela negara yang dihelat Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan beberapa kali. Ada juga yang sowan sebelum menghadiri acara yang digelar oleh murid-muridnya. Misalnya Habib Salim Asy-Syathiri (Yaman), Syekh Yusri Rusydi Jabr al-Hasani (Mesir), Syekh Rajab Dieb (Suriah), Syekh Abdul Hadi al-Khorsah (Lebanon), dan sebagainya. 

Ketika  beliau wafat, para ulama di luar negeri juga menyampaikan duka cita mendalam. Termasuk Habib Umar bin Hafidz, Yaman, salah seorang ulama berpengaruh di dunia Islam, yang menyampaikan belasungkawanya dalam telekonferensi ngaji kitab karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari yang digelar PBNU.

Mbah Moen adalah salah satu, atau mungkin generasi terakhir, ulama Nusantara yang menjumpai era kakek-anak-cucu keluarga Sayyid al-Maliki di Mekkah. Salah seorang keluarga ulama tersohor dan berpengaruh di Hijaz. Beliau berguru kepada Sayyid Alawi al-Maliki, kemudian berkarib dengan putranya, Sayyid Muhammad, lantas dengan cucu sang guru, Sayyid Ahmad. Komplit sudah. Berjumpa dan berguru kepada kakek hingga cucu; Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi al-Maliki. Mbah Moen sangat mencintai keluarga gurunya ini. Bahkan, terdapat foto yang magnetik: beliau mencium tangan Sayyid Ahmad.

Demikian eratnya koneksi antara keluarga Mbah Moen dengan keluarga al-Maliki, Mbah Moen setiap kali umrah dan haji senantiasa sowan ke Rushaifah, kediaman keluarga besar generasi al-Maliki. Selebihnya, putra, menantu dan para santri beliau juga banyak yang mondok di keluarga yang terpandang dalam keilmuan ini. Yang paling mutakhir, prosesi salat jenazah dipimpin oleh Sayyid Ashim bin Abbas bin Alawi bin Abbas al-Maliki.

Keluarga al-Maliki memang memiliki relasi kuat dengan para pelajar Nusantara. Sejak era Sayyid Abbas, guru dari Kiai Hasyim Asy’ari; lalu dilanjutkan putranya, Sayyid Alawi; hingga cucu, Sayyid Muhammad dan cicitnya, Sayyid Ahmad.

Dalam kajian keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah di kawasan Nusantara, keluarga al-Maliki menjadi jujugan para pelajar, selain keluarga Syekh Ismail Zain al-Yamani. Selebihnya, ‘Allamah Habib Zen bin Ibrahim bin Sumaith di Madinah juga menjadi destinasi studi para pelajar Indonesia dalam kurun tiga dasawarsa terakhir. Dalam karyanya, al-Ulama al-Mujaddidun, Mbah Moen bahkan menempatkan Habib Zen sebagai salah seorang mujaddid (reformer) di abad 14 hijriah.

Perjalanan keilmuan Mbah Moen memang menyiratkan kegigihan seorang pelajar. Setelah mondok di Lirboyo, kemudian berguru kepada para masyayikh di Rembang, beliau berguru ke Makkah dan menjumpai generasi emas: Syekh Hasan Masysyath, Syekh Amin Quthbi, Sayyid Alawi al-Maliki, dan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani.

Dalam salah satu riwayat, beliau juga berguru kepada KH. Abdullah bin Nuh dan mengaji Ihya’ Ulumiddin kepada beliau, sserta kepada muhaddits asal Betawi, Syekh Muhajirin Amsir Addari, penulis Misbahudz Dzalam, syarah Bulughul Maram.

Lengkap sudah. Mbah Moen telah menimba pengetahuan dari berbagai sumur ilmu. Beliau menghimpun keilmuan Islam klasik melalui kitab turats, mereguk kecintaan terhadap dzurriyah Rasulullah, sekaligus mewarisi kebijaksanaan ala ulama Nusantara. Semua diracik sedemikian rupa hingga menghasilkan keilmuan Islam yang merindang dan keindonesiaan yang mengakar kuat. Inilah yang menjadikannya Sang Anak Zaman. Wallahu a’lam Bisshawab