Perempuan Ahli Hadits asal Indonesia

Perempuan Ahli Hadits asal Indonesia

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Di dalam ‘Iqdul Faridtsabat alias catatan matarantai keilmuan yang disusun oleh Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, terdapat satu nama yang mencorong. Ulama di jalur transmisi pengajaran Shahih Bukhari yang diterima Syekh Yasin semua laki-laki, tapi dia sendirian. Dia perempuan, namanya Syaikhah Fatimah binti Abdusshamad al-Falimbani. Ya, nama ini ada di urutan ke-lima dari bawah.

Persisnya, (1) Syaikh Yasin Al-Fadani mendapatkan sanad Shahih Bukhari dari (2). Syaikh Abdul Karim bin Ahmad Khatib bin Abdil Lathif bin Muhammad Ali bin Ahmad Al-Minangkabawi; beliau menerima dari: (3). Al-Allamah As-Syaikh Ahmad bin Abdil Latif Al-Khatib Al-Minangkabawi; dimana beliau belajar kepada: (4). Syaikh Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi.

Mahaguru ulama Nusantara ini menerima dari: (5.) Syaikhah Fathimah binti Abdusshamad Al-Falimbani; beliau menerima dari ayahnya, yaitu (6). Syaikh Abdusshamad bin Abdirrahman Al-Falimbani; beliau menerima dari: (7). As-Syaikh ‘Aqib bin Hasanuddin bin Ja’far Al-Falimbani; beliau menerima dari gurunya, dimana gurunya juga menerima sanad ini dari gurunya dan seterusnya hingga ke Imam Bukhari.

Transmisi ilmu ini penting. Sangat penting. Karena itu setiap ulama biasanya mencatat matarantai keilmuan yang dia terima. Agar jelas gurunya, bersambung kepada gurunya, hingga ke penulis kitab.

Sanad seperti ini memegang peranan penting karena sanad adalah semacam jaminan bahwa keilmuan kita didapatkan dari pemegang otoritas agama itu sendiri. Bukan suatu yang didapatkan secara sembarangan. Inilah yang membedakan antara ajaran Islam dengan keilmuan yang lain.

Hebatnya, nama perempuan ini menyembul di antara nama para jawara di bidang hadits. Nisbat daerahnya bukan al-Bashri (Irak), al-Ashfihani (Persia), Al-Makki (Hijaz), atau az-Zabidi (Yaman), melainkan al-Falimbani alias Palembang. Ini membuktikan kepercayaan dirinya sebagai seorang perempuan yang mau berusaha keras mendalami keilmuan hadits, serta didukung oleh ayahnya, Syekh Abdusshamad al-Falimbani, seorang mujahid, mursyid, sufi, dan penulis produktif.

Meski kultur patriarkhis sangat kuat, namun Fathimah yang hidup di abad ke 19 enggan menolak konstruksi sosial budaya ini. Dia dididik oleh ayahnya, dan mewarisi kekayaan intelektual yang dia peroleh dengan kerja keras hingga mendapat gelar prestisius, Syaikhah, alias guru besar perempuan.

Saya juga kagum dengan para ulama yang enggan mengurung anaknya di ruang belakang dengan alasan “perempuan hanya konco wingking”. Syekh Abdusshamad al-Falimbani memang pengecualian itu. Beliau mendidik putrinya dengan caranya sendiri di tengah budaya Arab (karena beliau hidup di Mekkah) yang sangat kuat cengkraman patriarkhisnya.

Saya jadi ingat dengan penjelasan Ustadz Ahmad Ginanjar Sya’ban dalam Sekolah Islam Nusantara, April 2018 silam di Pesantren Alif Lam Mim, Surabaya, tentang ulama perempuan di dunia Islam.

Filolog muda ini menjelaskan apabila pada abad keempat belas Hijriyah atau abad ke sembilan belas Masehi, ulama perempuan ahli hadits di dunia Islam itu hanya tiga.

Pertama, Syaikhah Ummatullah binti ‘Abd al-Ghani al-Dahlawi, Delhi, India. Kedua, Syaikhah Fathimah binti Ya’qub al-Makki dari Mekkah. Dan ,ketiga, tentu saja Syaikhah Fathimah binti Abdusshamad al-Shamad al-Falimbani.

Selain Syaikhah Fathimah binti Abdusshamad ini, ada juga Syaikhah Khairiyah binti Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari. Nama terakhir ini bermukim lama di Mekkah, mendirikan madrasah khusus cewek, kemudian pada tahun 1950-an kembali ke tanah air, karena kecintaannya terhadap kampung halamannya di Jombang.

Di sini jelas, ulama sekaliber Syekh Abdusshamad al-Falimbani dan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari mendorong putrinya agar setara di bidang keilmuan dengan kaum laki-laki. Setara di hadapan pengetahuan dan tidak ada perbedaan kelamin dalam kontribusi menyebarkan ilmu.Sekilas poin yang saya sampaikan dalam Sekolah Islam Gender (SIG) yang diselenggarakan oleh Kopri PMII Fak Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember, Jumat, 5 Maret 2020/11 Rajab 1441 H

Kiai Ghufron Faqih dan Jejaring Tebuireng di Surabaya

Kiai Ghufron Faqih dan Jejaring Tebuireng di Surabaya

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Ketika Kota Malang jatuh ke tangan Sekutu, 23 Juli 1947, Bung Tomo mengurus dua kurir menyampaikan kabar ini kepada KH. M. Hasyim Asy’ari. Saat itu, Kiai Hasyim sedang ngobrol dengan KH. Adlan Aly dan KH. Ghufron Faqih, pimpinan Barisan Sabilillah Surabaya.

Di film Sang Kiai (2013), sosok Kiai Ghufron digambarkan berambut ikal, berpeci hitam rapi, dengan menyandarkan sorban di pundak kirinya. Dirinya yang dengan sigap menolong Kiai Hasyim yang pingsan setelah shock mendengar kabar kejatuhan Kota Malang ke tangan musuh. Detik-detik kewafatan Kiai Hasyim yang ada dalam film Sang Kiai diadaptasi dari keterangan para saksi mata yang termuat dalam karya Abubakar Atjeh, “Sedjarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar” (1957), halaman 115-119.

Nama KH. Ghufron Faqih memang tidak sepopuler ulama Surabaya lain. Namun, kiprahnya tidak bisa diremehkan. Dalam Muktamar NU ke-15 yang digelar di Surabaya, 1940, namanya masuk dalam struktur Tanfidziyah HBNU bagian Dakwah bersama KH. A. Manaf Murtadlo.

Ketika Barisan Sabilillah dibentuk pada 7 Nopember 1945, dirinya ditunjuk sebagai pimpinan di Surabaya. Bersama Laskar Hizbullah dan kelaskaran lain, Kiai Ghufron bahu membahu mempertahankan Surabaya dari gempuran Sekutu. Sayangnya, tidak seperti Hizbullah yang sudah banyak diulas di beberapa buku, kiprah Barisan Sabilillah masih samar-samar dan tercecer di banyak buku.

Sejak awal November 1945, bersama para ulama lain, Kiai Ghufron yang lahir pada 1901 ini bermarkas di rumah Kiai Yasin, di Blauran Gang 1, Surabaya, di bawah komando Markas Besar Oelama Djawa Timur (MBODT). Di depan gang ini, kata Des Alwi dan Hario Kecik dalam memoarnya tentang Pertempuran Surabaya, setiap malam diadakan prosesi doa bersama dan pembagian air suwuk oleh para kiai yang diikuti para pejuang. Ketika markas ini dibom Sekutu, menjelang akhir November 1945, para ulama memindahkan markasnya di Waru, Sidoarjo. (Bangunan MBO alias Markas Besar Oelama yang puluhan tahun merana kini sudah dikelola oleh GP Ansor Jawa Timur, syukurlah!)

***

Bisa dibilang, para penggerak NU di kawasan Surabaya di era awal berdirinya, hingga era revolusi kemerdekaan, baik level HBNO maupun Ranting, merupakan “Jaringan Tebuireng”. Adik Kiai Ghufron, Rosyad namanya, bahkan menjadi sopir pribadi KH. A. Wahid Hasyim.

Dalam “Berangkat Dari Pesantren”, KH. Saifuddin Zuhri menyebut Rosyad, santri Tebuireng itu, yang kesana kemari mengendarai kuda besi Chevrolet Cabriolet milik Kiai Wahid Hasyim. Rosyad sekaligus menjadi kurir Kiai Wahid dalam komunikasi rahasia di antara jejaring yang dibina Kiai Wahid selama gerilya.

Selain Kiai Ghufron dan Rosyad, ada alumni Tebuireng lain, seperti KH. A. Manaf Murtadlo, KH. A. Aziz Diyar, KH. A. Wahab Turcham dan KH. Fattah Yasin. Nama terakhir ini pernah disekap Kempeitai gara-gara dicurigai bersikap anti-Jepang. Sikapnya memang keras dan blak-blakan, khas Arek Suroboyo. Bung Karno menyukainya gayanya ini dan tiga kali menunjuknya sebagai menteri. Bung Karno tahu kiprah Kiai Fattah muda sejak 1938, ketika alumni Tebuireng ini menjadi aktivis Ansor dan Gerindo alias Gerakan Rakyat Indonesia, partai politik yang lebih radikal dibandingkan dengan PNI maupun Parindra.

Baik Kiai Manaf Murtadlo, Kiai Aziz Diyar, Kiai Wahab Turcham maupun Kiai Fattah Yasin, merupakan para pendiri Madrasah Muallimat di Kawatan, Surabaya pada 1954, yang kelak berkembang menjadi Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Khadijah, Surabaya. Kini, lembaga pendidikan khusus kaum hawa yang didirikan oleh jaringan alumni Tebuireng ini menjadi salah satu yang terbaik di Surabaya. Menaungi Playgroup, TK, SD, SMP, SMA dan panti asuhan. Sedangkan nama KH. Ghufron Faqih, yang wafat pada 1950, diabadikan sebagai nama SD di kawasan Simokerto, Surabaya. Wallahu a’lam bisshawab

Di Bandara Soetta, Berjumpa Kiai yang Punya 200 Karya

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Di Jombang, ada KH. A. Aziz Masyhuri (1942-2017), ulama yang telah menulis lebih dari 200 karya, baik berbahasa Arab maupun Indonesia. Beliau menguasai beragam cabang ilmu: dari fiqh, tafsir, tasawuf, dan lain-lain. Tak hanya itu, beliau juga jagoan Bahtsul Masail sejak muda. Ini di antara alasan KH. Bisri Syansuri, Rais Am Syuriah PBNU, sekaligus Pengasuh PP. Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, menjodohkannya dengan cucunya.

Di Kediri, tak jauh dari Jombang, ada KH. A. Yasin Asmuni. Kelahiran 1963, kiai ini menghasilkan tak kurang dari 200 karya tulis, 95% berbahasa Arab. Karyanya lintas disiplin ilmu: dari tafsir hingga fikih. Dari tasawuf hingga akidah, dan seterusnya. Di antara ciri khas karyanya, singkat, padat, praktis dan mudah dipahami.

Saya berjumpa dengan beliau di Bandara Soetta, kemarin petang. Beliau bersama KH. A. Sadid Djauhari, Pengasuh PP. As-Sunniyyah, Kencong Jember, sepulang dari acara Bahtsul Masail Pra Munas-Konbes NU 2020 di Pesantren Al-Falakiyah Pagentongan, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (02/03/20).

*

Dua tahun silam, ketika bertanya kepada penjual kitab dari Kediri, berapa total biaya yang dibutuhkan untuk memborong semua karya Kiai Yasin, dia menjawab, kurang lebih 3.700.000. Harga yang sepadan untuk menebus kurang lebih 200 karya beliau.

Saya kira, kemampuan seperti ini lahir karena tempaan dari para Masyayikh Lirboyo, maupun karena ketelatenannya dalam mengumpulkan referensi lantas mengolahnya menjadi karya otentik. Sebagai senior dalam kajian Bahtsul Masail di level Jawa Timur, maupun nasional, Kiai Yasin punya kemampuan analisis teks yang mumpuni yang disertai dengan ulasan panjang yang kece. Kebiasaan berdiskusi panjang disertai maraji’ komplit ini yang membuat kemampuan Kiai Yasin berkembang. Lebih mudahnya mungkin seperti ini, ada masyarakat bertanya, Kiai Yasin memberikan jawaban yang sangat panjang dan komplit, lalu dikembangkan lagi menjadi sebuah kitab.

Dari banyak karya Kiai Yasin, saya hanya punya beberapa. Di antaranya Tafsir Bismillahirrahmanirrahim, Tafsir Muawwidzatain, Tafsir Al-Ikhlas, dan Tafsir Ayat Kursi, serta Udhiyyah Ahkamuha wa Fadlailuha.

Selain karya yang berjibun, Kiai Yasin yang mengasuh PP. Hidayatut Thullab, Pethuk, Semen, Kediri, ini juga mempopulerkan “kitab makno Pethuk”.

Ini adalah jenis kitab kuning, tebal maupun tipis, klasik maupun kontemporer, yang sudah diberi makna gandul, sudah “sah-sahan”, penuh terjemahan antar baris (interlinear translation). Harga jualnya lebih tinggi dibandingkan dengan kitab kosongan. Sampai saat ini, di beberapa koperasi pondok pesantren, biasanya juga menyediakan Kitab Makno Pethuk ini.

Profil ulama seperti Kiai Yasin Asmuni beserta karyanya ini harus dipopulerkan. Biar semakin banyak yang mengkaji karya beliau, dan “….biar umat tahu” (dalam istilah gaul ala Hijrah) jika ada ulama NU yang Istikamah bergerak mencerdaskan umat melalui karya-karyanya. Sehat selalu, kiai….

Catatan Seputar Mualaf: dari Yahya Waloni hingga Martin Lings

Catatan Seputar Mualaf: dari Yahya Waloni hingga Martin Lings

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Beberapa tahun silam di Jember ada mualaf. Kabarnya mantan pemeluk Hindu. Dia sering bertamu ke beberapa tokoh agama dan bercerita soal hidayah yang dia raih. Sambil dengan halus minta fulus. Awalnya sih oke. Tapi kalau tiap bulan nodong “jatah” sembari mengandalkan status mualafnya, padahal secara fisik masih sehat dan kuat bekerja, berarti ada yang nggak beres.

Dan, benar, setelah ditelusuri, dia pengangguran. Kerjaannya hanya minta-minta dan tidurnya di hotel. Gileeee.

Kalau ada orang masuk Islam, saya senang. Ada saudara baru dalam keimanan. Harus diperlakukan dengan baik. Maklum, pendatang baru. Dihormati. Jangan heran kalau mualaf menjadi salah satu penerima zakat, meskipun di zaman Sayidina Umar, mekanismenya diperketat karena ada indikasi dijadikan modus ekonomis belaka.

Di era awal dakwah di Nusantara, para dai juga memilih pola dakwah top-down. Raja diislamkan dulu, agar rakyat bisa ikut. Ini pola di Samudera Pasai, Aceh, Malaka, Gowa-Tallo, dan kawasan Jaziratul Muluk (Maluku). Para raja mualaf ini kemudian banyak membantu syiar dakwah Islam di kawasan sekitar kerajaannya.

Saat ini pun konversi agama masih terjadi. Dari non-muslim ke Islam, begitu pula sebaliknya. Di kalangan artis, Dedy Corbuzier masuk Islam, setelah sebelumnya ada Lukman Sardi yang murtad. Ada juga Salmafina yang pindah agama, juga Roger Danuarta yang berikrar syahadat. Skor imbang lah, 2-2..hahaha…

Di wilayah lain juga banyak. Namun berbeda perlakuan. Ada yang menyambut baik para mualaf, sembari memberinya tempat untuk menceritakan kronologinya mendapatkan pencerahan atau hidayah, memberinya panggung berceloteh tanpa batas dan seterusnya. Padahal sudah seharusnya kita katakan “cukup” agar tidak nggladrah/nglantur menjelek-jelekkan agama lawasnya atau ngomong di luar kapasitas keilmuannya dan kapabilitasnya. Benar, kita katakan “Stop” atau “Wis, Cukup!” saja.

Sebab, kalau dikasih panggung orang begini rawan memicu masalah. Dia ngomongin kesalahan agama lamanya. Padahal dia juga bukan teolog, hanya orang awam. Akhirnya ngawur. Ya sama kalau orang murtad dikasih panggung di gereja, misalnya, dia bakal ngomongin Islam dengan cara yang salah. Akhirnya malah memicu masalah dan kesalahpahaman. Sebagaimana beberapa tahun silam, ada orang murtad ngaku bekas ulama, dikasih waktu buat ngoceh di gereja, akhirnya malah ngomong soal Islam versi dia. Padahal bohong semua.

Ada beberapa mualaf di Indonesia. Mereka ini saudara kita dalam iman. Jangan dikritik prosesnya menjadi mualaf, sebab itu layak diapresiasi, tapi kritik kelakuannya setelah menjadi muslim jika memang layak dikritik. Yahya Waloni, misalnya. Ini orang konyol, sedikit tampak tolol. Ya harus dikritik kalau dia bikin masalah, jangan malah diberi panggung untuk ceramah ngawurnya. Felix Siaw bagaimana? Mbuh lah.

Karena itu, saya angkat kopiah pada beberapa mualaf yang sadar diri dan tahu diri untuk berproses dan mendalami Islam secara matang dan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk “menjadi”. Bukan makcling, bersyahadat, lantas diberi panggung untuk ceramah yang isinya ngelantur. Bisa berabe.

Karena itu, saya salut pada Syekh Mus’ab Luke Martin Penfound. Dia masuk Islam di awal 2000-an, lantas nyantri kepada Habib Umar bin Hafidz, Yaman, selama lebih dari 15 tahun. Mendalami Islam dari jalur sebenarnya, berproses sesuai dengan mekanisme yang ada, dan belajar berbagai fan keilmuan. Tidak terburu-buru menjadi “ulama”.

Kalau berguru pada jalur yang tepat hasilnya juga oke. Martin Lings, contoh lain, selain mempelajari bahasa Arab dan keilmuan Islam secara mendalam, dia juga berada pada jalur sufisme. Karena itu tangga keilmuannya juga bertahap sebab ada pembimbingnya di Tarekat Syadziliyah. Pemahaman keilmuan Islam, khususnya dalam Tarikh dan amaliah tarekatnya sama baiknya dengan pengetahuan mendalamnya terhadap naskah-naskah Shakespeare. Mengikuti pemikiran Abu Bakar Sirajuddin, nama muslim Lings, akan mempertautkan kita pada gagasan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad), filsuf perenial yang eksentrik itu.

Ada banyak mualaf berkelas yang menuangkan gagasamnya melalui karyanya. Khususnya dalam pergolakan batinnya maupun pendalamannya mengenai Islam. Tulisannya simpatik tanpa harus meracau keburukan agama lawasnya. Murad W. Hoffman, Leopold Weiss (Muhammad Asad, tafsir al-Qur’annya sangat bagus. Beli ke saya saja hahahaa), Maryam Jameela, hingga profesor cantik Ingrid Mattson yang renungan al-Qur’annya enak dinikmati itu.

Oke. Jika dirasa terlalu berat, kira menziarahi jalan hidup dua muallaf melalui otobiografinya. Kalau yang agak elegan bisa kita temukan dalam buku karya Prof. Jeffrey Lang, “Aku Beriman, Maka Aku Bertanya”. Lang adalah Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat, yang menjadi muallaf setelah sekian lama mengajukan pertanyaan-gugatan kritis dalam teologi dan berbagai aspek hingga pada akhirnya dia mendapatkan hidayah. Tuturan dalam bukunya asyik, kritis, namun tidak ada cacimaki terhadap agama lawasnya.

Selain Lang, ada Kapten James “Yusuf” Yee juga menulis “For God and Country”. Buku bagus yang edisi Indonesianya dicetak dengan luks ini berkisah awalmula dirinya sebagai warga AS keturunan Tionghoa, masuk West Point–akademi militer bergengsi di AS, ditugaskan di Suriah, kemudian memeluk Islam. Setelah itu dia menghadapi berbagai masalah saat ditugaskan di Guantanamo dan harus mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari sesama rekan tentaranya, karena Yee–sebagai perwira AS–justru memperlakukan tahanan dengan baik. Yee memang tidak berkisah panjang lebar soal awal mula ketertarikannya dengan Islam, tapi cukup memadai untuk menggambarkan pergulatan batinnya hingga sampai pada hidayah dan kehidupannya di AS sebagai seorang keturunan Tionghoa sekaligus muslim.

Kalau dari jalur pemikir Salafi, ada Dennis Bradley Philips atau yang masyhur dengan nama Abu Ameenah Bilal Philips. Buku karya pria kelahiran Jamaika ini bagus dan layak diapresiasi secara ilmiah, sebab dia melewati jalur akademik untuk menjadi seorang ahli: mendalami bahasa dan fiqh di Univ. Raja Saud dan Universitas Madinah, setelah sebelumnya belajar bahasa Arab dengan baik.

***

Hidayah itu istimewa dan keimanan itu sangat esensial. Sebab pergulatan batin dan perjalanan menggapai hidayah itu seringkali menjadikan seseorang lebih dewasa bersikap dan bahkan lebih mendalam menjalankan ajaran agama barunya. Ikuti proses dan tahapan keilmuan yang ada, biar tidak menabrak pakem dan melantur kesana-kemari.

Kalaupun ada yang masih emosional, sensitif, kemudian menjual “kejelekan” agama lawas maupun ideologi lamanya ya anggap saja masih belum move on dan masih terbayang-bayang masa lalu. Melupakan mantan dan masa lalu, lantas fokus pada kenyataan sekarang itu memang sulit. Eh….

KH. A. Aziz Masyhuri dan Para Penjaga Ingatan

KH. A. Aziz Masyhuri dan Para Penjaga Ingatan

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Di Indonesia, ada tiga orang penyelamat dokumen-arsip alias dokumentator yang saya kagumi.

Pertama, Des Alwi. Anak didik Bung Hatta dan Sutan Sjahrir ini dikenal gigih mendokumentasikan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah bangsa Indonesia, khususnya saat era revolusi fisik. Selain menjadi pelaku sejarah, ketekunannya mengumpulkan dokumentasi (foto, rekaman suara, dan rekaman gambar), maupun mendokumentasikan aspek-aspek yang bagi orang lain remeh, membuat pria kelahiran Banda Neira ini menjadi salah satu referensi terpercaya bagi peneliti dan pengkaji sejarah.

Kedua, HB Jassin. Paus sastra Indonesia ini dengan tekun menyimpan karya-karya sastrawan Indonesia era Hindia Belanda hingga era Orde Baru. Baik yang sudah berbentuk buku, kliping media massa, bahkan sekadar catatan-catatan tulisan tangan yang berserak. Pusat Dokumentasi HB Jassin di Jakarta adalah bukti ketekunannya. Sayang, minimnya perhatian pemerintah terhadap “harta karun intelektual” yang ia tinggalkan ini membuat nasih ratusan ribu dokumen-arsip merana, persis nasib perpustakaan Bung Hatta!

Ketiga, KH. Abdul Aziz Masyhuri. Kegigihan Pengasuh PP. Al-Aziziyyah Denanyar Jombang ini dalam mendokumentasikan arsip NU dan banomnya pantas diapresiasi. Beliau dengan tekun mengumpulkan hasil Bahtsul Masail NU saat Munas, Konbes maupun Muktamar NU dari masa ke masa hingga terbit menjadi buku Ahkamul Fuqaha: Hasil Keputusan Munas, Konbes, dan Muktamar NU sejak tahun 1926 hingga muktamar paling mutakhir setebal hampir 1000 halaman.

Begitu pula yang beliau lakukan dengan menghimpun hasil bahtsul masail Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah dari Muktamar ke Muktamar dengan judul al-Fuyudlat ar-Rabbaniyyah. Kedua buku di atas diterbitkan Khalista. Ini belum mencermati keuletan beliau yang dengan tekun menulis buku dengan beragam topik. Setidaknya, lebih dari 150 judul buku yang telah beliau himpun, sunting, tulis, atau diterjemahkan. Penerbit Imtiyaz yang saya kelola mendapatkan kehormatan menerbitkan salah satu karya ulama kelahiran Tuban ini, “Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf” (2015).

Bagi beliau tiada hari tanpa menulis. Saat sowan bersama sahabat saya, Ahsanul Fuad ( Jati Mulyo Jombang ) menjelang muktamar NU 2015 silam, beliau bercerita apabila zaman dulu proses kepenulisannya diawali dengan cara manual: menulis tangan. Kemudian saat ada mesin ketik beliau pun memanfaatkannya.

Saat menulis KH. Bisri Sjansuri: Cita Cita dan Pengabdiannya (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), beliau masih ingat apabila mengetik naskah buku ini secara langsung di kantor percetakan di Surabaya selama beberapa hari. “Saya ngetik di situ, ya tidur di situ sampai selesai tulisan buku tersebut,” kata Kiai Aziz sambil terkekeh mengingat momen puluhan tahun silam itu. Kiai Aziz sengaja ngebut menulis biografi gurunya tersebut atas perintah Ny. Hj. Solihah Wahid Hasyim (ibunda Gus Dur) semata-mata mengejar momentum 1000 hari wafatnya Kiai Bisri Sjansuri, 1983, sebab buku bersampul coklat tersebut dibagikan di acara peringatan kematian besan KH. M. Hasyim Asyari itu.

Pada saat sowan itu, beliau juga menunjukkan fotokopian sebuah kitab tipis berjudul An-Nushush al-Islamiyyah fi Radd al-Wahhabiyyah karya Wakil Rais Akbar NU, KH. Faqih Maskumambang, Gresik. Kitab ini terbitan salah satu penerbit di Kairo, 1922, dan sempat lama tidak terdeteksi keberadaannya hingga kemudian Kiai Aziz menemukannya. Sebelum merekomendasikan agar kitab ini diterjemahkan dan diterbitkan ulang beserta teks aslinya, Kiai Aziz melakukan “izin” terlebih dulu kepada Kiai Faqih Maskumambang dengan menziarahi makamnya.

Gus Abdul Muiz Aziz, putra beliau, melalui WA mengirimkan sebuah foto saat Kiai Aziz duduk membaca tahlil di sebuah makam sederhana yang terkepung ilalang dan nyaris tanpa perawatan memadai. Itulah makam ulama besar yang polemiknya dengan Kiai Hasyim Asyari mengenai hukum kentongan juga diabadikan secara kreatif melalui kitab.

Atas rekomendasi Kiai Aziz, terjemahan kitab an-Nushush al-Islamiyah fi Radd al-Wahhabiyyah ini kemudian diterbitkan oleh Penerbit Sahifa dengan judul “Menolak Wahabi, Membongkar Penyimpangan Sekte Wahabi; dari Ibnu Taimiyah hingga Abdul Qadir At-Tilmisani” (2015).

Kiai Aziz Masyhuri dan Kiai Bisri Sjansuri

Ustadz Aziz Ja’far, seorang santri Kiai Aziz bercerita, apabila gurunya tersebut punya kebiasaan menulis di ruangan pribadinya. Para santrinya juga paham, apabila lampu kamar masih menyala berarti di situ gurunya sedang menulis. Ketika kesehatan Kiai Aziz mulai terganggu, beliau kembali menulis tangan, lalu ada santri yang kebagian mengetiknya di komputer/laptop dan hasilnya tinggal ditashihkan kepadanya. Tak heran jika sampai akhir hayatnya, Kiai Aziz telah menulis lebih dari 150 karya dalam berbagai bentuk: karya orisinal, terjemahan, saduran, dan ringkasan. Ciri khas lainnya, beliau selalu menyertakan teks asli yang berbahasa Arab di setiap buku yang beliau terjemahkan.

“Jika ada tamu istimewa yang datang ke Pondok Denanyar, biasanya kegiatan ngaji di asrama diliburkan. Para santri kemudian dihadirkan di masjid induk untuk menyambut dan mendengarkan ceramahnya. Kadang ada syaikh dari al-Azhar Kairo, guru besar dari Sudan, ulama/habib dari Yaman, para menteri dari Jakarta dan tokoh-tokoh lainnya. Di situlah Kiai Aziz Masyhuri mendampingi,” tulis A Afif Amrullah, santri Kiai Aziz lainnya, dalam status facabooknya.

Juli 2014 silam, saya ditelepon Kiai Aziz agar menghadap beliau. Saya sowan dan diminta mencari karya beliau yang masih ketikan lama di tengah tumpukan berbagai buku di perpustakaan pribadi Kiai Aziz yang tersedia di samping ndalem. Terus terang saya kebingungan karena harus mencari naskah di tengah beberapa manuskrip yang berceceran di meja maupun berjejalan di dalam rak. Ketemulah naskah berjudul “Ensiklopedi Tokoh Tarekat”. Sebuah naskah berisi biografi para sufi agung dari masa ke masa yang di-layout dengan sederhana. Beliau memasrahkan ke saya agar mengetik ulang naskah tersebut, dan jika memungkinkan, sekaligus menerbitkannya.

Saat sowan itu pula Kiai Aziz bercerita mengenai KH. Bisri Sjansuri, guru sekaligus kakek dari istrinya, Ny. Hj. Azizah Aziz Bisri Sjansuri.

Tahun 1979, Kiai Aziz mendampingi Kiai Bisri saat Muktamar NU XXVI, tahun 1979 di Semarang. Di sana, banyak tamu luar negeri yang disamping ikut menyaksikan berlangsungnya muktamar juga menemui Mbah Bisri. Banyak tamu yang mengagumi keberhasilan Mbah Bisri dalam memimpin NU meskipun usia pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang Jawa Timur itu sudah senja.

Di antara sekian banyak tamu, terdapat seorang guru besar Masjidil Haram bernama Syekh Zakariya bin Syekh Abdillah Billah yang mengikuti rombongan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani Makkah. Syekh Zakariya punya beberapa karya tulis, di antaranya berjudul al-Jawahirul Hisan yang saat itu belum selesai dia tulis. Dalam karya tersebut, Syekh Zakariya ingin memasukkan biografi Mbah Bisri. Untuk keperluan itu, Kiai Aziz Masyhuri, yang merupakan cucu menantu Mbah Bisri, diwawancarai oleh Syekh Zakariya. Di antara pertanyaannya adalah mengenai karya tulis Mbah Bisri yang sudah dicetak. ”KH. Bisri Sjansuri memang tidak banyak menulis karya berupa buku,” jawab Kiai Aziz.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah Denanyar ini memaklumi pertanyaan tersebut, sebab untuk mengukur kebesaran seseorang kadang-kadang dinilai dari banyaknya buku dibuat. Namun, melihat kiprah Mbah Bisri, jelas penilaian di atas kurang tepat. Sebab, karya monumental Mbah Bisri bersama beberapa ulama lain adalah organisasi bernama Nahdlatul Ulama serta orang-orang besar yang dibimbing Mbah Bisri dalam rapat, pengajian di rumah dan masjid, diskusi di dalam perjalanan, di dalam rapat politik, maupun dalam berbagai kesempatan lain.

Buah pikirannya juga terurai di mana-mana, dalam banyak kesempatan dan peristiwa, dikembangkan oleh banyak kader dan santri, dan tidak sempat dibukukan. Adapun perkara minim dan nihilnya pendokumentasian gagasan dan buah pemikiran Mbah Bisri ini juga dapat dimaklumi karena selama beliau hidup tidak memiliki seorang sekretaris maupun asisten pribadi yang bertugas mencatat pemikirannya. Jadual yang sangat padat dan aktivitasnya sebagai pemimpin umat, sejak muda hingga menjelang kewafatan pada usia kurang lebih 96 tahun, ternyata dirasa cukup kurang untuk bisa memiliki waktu luang menulis buku.

Sebaliknya, dalam kurun 70 tahun, waktunya digunakan untuk membina umat, mengasuh pesantren, menemani kalangan ulama, berdiskusi dengan politisi dan kelompok pergerakan, berjuang di era perang kemerdekaan, dan menyediakan diri sebagai nahkoda NU.

Benar, Mbah Bisri memang tidak sempat menulis buku beraksara A, B, C maupun Alif, Ba, Ta dan seterusnya, tapi beliau telah menulis dalam jiwa para santri, kader, dan masyakat melalui keteladanan selama hidupnya. Jadi, Mbah Bisri tidak menulis buku, karena hidupnya adalah teks terbuka yang bisa dibaca oleh siapapun.

Multitalenta

Selain menulis di berbagai tema: fiqh, tasawuf, tafsir, hadits, tarikh, ushul fiqh, ilmu kalam, balaghah, menyusun mahfudzat, maupun menerjemahkan berbagai karya ulama, yang pantas dikagumi dari Kiai Aziz adalah kemauan kuatnya untuk menyebarluaskan karyanya meskipun harus difotokopi secara sederhana.

Saya masih ingat apabila dalam momentum Muktamar NU di Makassar, 2010, Kiai Aziz bersama putranya, Gus Abdul Muiz, menitipkan buku 99 Kiai Kharismatik Indonesia Jilid 3 karya beliau yang di-layout dan difotokopi secara sederhana dan dijilid manual kepada saya untuk dijualkan. Meski tidak habis seluruhnya, namun karya ini banyak diapresiasi oleh para muktamirin. Selain itu, Kiai Aziz juga membawa dan menitipkan beberapa puluh eksemplar terjemahan kitab Al-Inshaf fi Asbabil Ikhtilaf karya Syah Waliyullah Ad-Dahlawi (dengan tetap menyertakan teks aslinya). Beberapa bulan kemudian, Pustaka Pesantren (LKiS Grup) menerbitkan karya ini dengan judul Beda Pendapat di Tengah Umat (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, Agustus 2010).

Ketika Muktamar Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah di Malang, 2012, Kiai Aziz juga menitipkan ke saya sebuah karya terjemahan sebuah kitab dengan tetap menyertakan teks aslinya. Kalau tidak salah ingat Is’aful Muslimin wal Muslimat karya M. Al-‘Arabi yang diterjemahkan menjadi Hadiah Pahala.

Terakhir kali mencium tangan beliau saat ada pertemuan para kiai di Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo Asembagus Situbondo, 13 Januari 2017, silam. Berpulangnya beliau adalah kehilangan besar bagi NU. Sebab, beliaulah yang selama ini dengan telaten mengumpulkan “remah remah” dokumentasi organisasi yang jarang diperhatikan atau setidaknya tidak dianggap penting bagi kebanyakan orang.

Bagi saya, ketiga orang di atas, khususnya Kiai Aziz Masyhuri, adalah pionir yang menjaga denyut nadi ingatan manusia agar terus berjuang melawan lupa. Dalam istilah Milan Kundera, perjuangan manusia adalah perjuangan melawan lupa. Sebab, sudah menjadi karakteristik dasar manusia, apabila terlampau sering melupakan hal-hal esensial yang penting namun tidak dianggap penting. Dan, para penyelamat ingatan inilah yang paring berperan dalam menjaga agar kita terus ingat dan tidak lupa mengenai kesejarahan kita.

Lagi pula, di kalangan NU, Kiai Aziz adalah dokumentator tangguh hal ihwal organisasi ini setelah era Kiai Umar Burhan, Gresik, santri KH. Hasyim Asyari, yang punya ketelatenan dan keistiqamahan di atas rata-rata dalam mengumpulkan dan merawat berbagai pernak pernik ke-NU-an. Tak heran juga apabila para peneliti asing seperti Martin van Bruinessen, Andree Feillard, Mitsuo Nakamura, dan Ken Miichi, begitu menghormati pribadi dan keilmuan Kiai Aziz Masyhuri.

Upaya yang dilakoni para penjaga ingatan seperti Des Alwi, HB. Jassin dan almukarram KH. A. Aziz Masyhuri memang tidak mudah di tengah ketidakpedulian bangsa kita terhadap arsip-dokumentasi-manuskrip. Padahal ketiganya merupakan perekam dinamika zaman sekaligus penanda kemajuan intelektual dalam kurun tertentu!

Akhirnya, semoga jejak langkah beliau bertiga dalam “menjaga dan mewariskan ingatan” kepada bangsa ini menjadi amal jariyah di akherat, di mana pahalanya senantiasa mengalir bagi beliau bertiga.

Wallahu A’lam Bisshawab.

(Tulisan di atas sudah dimuat dalam “Kiai Kantong Bolong” (Cet. II, April 2018).

NU Sering Terlambat, Tapi…..

NU Sering Terlambat, Tapi…..

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Secara organisatoris, NU berdiri pada 16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926. Artinya, ormas ini berusia 97 tahun dalam hitungan hijriyah, dan 94 tahun dalam hitungan masehi. Secara matematis, NU sudah tua dengan berbagai dinamikanya.

Di Indonesia sendiri ada beberapa ormas Islam yang sudah melampaui usia 1 abad. Mereka berkembang dan melewati berbagai konflik dan dinamika yang ada. Masing-masing juga menyumbangkan kader terbaiknya bagi Islam dan Indonesia. NU, misalnya, punya posisi yang kuat di zaman Orde Lama, namun “dihabisi” di zaman Orde Baru. Puluhan tahun orang-orang NU dihambat, namun ndilalah Allah mentakdirkan Gus Dur sebagai presiden, dan kini KH. Makruf Amin sebagai RI-2. Bisa dibilang, NU kadangkala keteteran, lalu solid. Kadang telat, namun bisa menyusul. Sering diremehkan, namun terbukti handal. Dan, seterusnya.

Dalam sejarahnya, ada keterlambatan-keterlambatan yang sering dialami oleh NU. Namun, perlahan dan pasti, NU bisa mengejar ketertinggalan itu, melakukan modifikasi dan inovasi serta penguatan kembali beberapa hal yang dianggap “keteteran”. Di antaranya:

Pertama, NU dianggap terlambat berdiri. Di saat kaum Hadrami Alawiyyin menghimpun diri dalam Jam’iyyatul Khair (1905), kaum saudagar muslim Jawa berkumpul dalam Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 1906, yang kemudian bermetamorfosis secara progresif dalam menjadi Sarekat Islam (SI) pada 1911, kaum muslim reformis mendirikan Muhammadiyah pada 1912, kaum Arab modernis mendirikan al-Irsyad pada 1914, dan sebagainya, kaum muslim tradisional masih belum bergerak menghimpun diri secara resmi. Hanya ada semacam madrasha kaderisasi seperti Nahdlatul Wathan dan wadah pengasahan intelektual seperti Taswirul Afkar yang diinisiasi ulama muda, KH. A. Wahab Chasbullah di Surabaya.

Padahal secara amaliah, konteks ilmiah dan semangat berjamaah, kaum muslim tradisionalis ini sudah terbentuk lama. Hanya belum ada “merk”-nya. Ibarat makanan, sudah diwariskan secara turun temurun, dari generasi ke generasi, hanya belum mendapatkan istilah atau “merek dagang” saja. Sebab, sebagai bagian dari ajaran ahlussunnah wal jamaah, amaliah dan konteks ilmiah komunitas muslim tradisionalis ini berakar selama ratusan tahun: secara metodologi dakwah mereka ikut ajaran Walisongo, dalam fiqh mengikuti madzhab Syafi’i dan tiga madzhab lain, secara teologi berporos pada ajaran Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, serta dalam tasawuf berporos pada Imam al-Ghazali dan Abu Hasan As-Syadzili. [1] Sudah ada, tapi belum terwujud!

Bukan perkara administratif saja yang membuat organisasi ini “telat”, namun soal spiritual. KH. M. Hasyim Asy’ari tidak mau gegabah mendirikan sebuah wadah sebelum diberi izin oleh KH. Kholil Bangkalan. Setelah diberi isyarat khusus melalui KH. As’ad Syamsul Arifin, Kiai Hasyim setuju, dan KH. A. Wahab Chasbullah menjadi penggerak militan bersama KH. Bisri Syansuri. Petunjuk langit seperti inilah yang menjadi salah satu ciri khas NU dalam berorganisasi dalam kurun nyaris seratus tahun. Jika dicermati, trio pendiri NU ini memanfaatkan beberapa hal untuk menghimpun para ulama dalam organisasi baru ini: jaringan murid Syaikhona Kholil Bangkalan, jaringan ulama alumni Tebuireng, jaringan ulama alumni Haramain (Makkah-Madinah), mantan aktivis Sarekat Islam [2], dan jejaring anak cucu Laskar Diponegoro [3]. Keterlambatan ini dibalas dengan militansi dan progresifitas aktivis NU.

Pada saat mendirikan NU, Kiai Wahab juga membentuk sayap Lajnatun Nashihin, semacam divisi propaganda yang berisi para pemuda yang cakap dalam keilmuan dan keorganisasian. Dampaknya luar biasa dalam perkembangan NU di berbagai daerah. Dan, kini, menjelang satu abad, NU memiliki struktur yang kokoh, dan berkembang dari pusat ke daerah, bahkan jaringan PCI (Pengurus Cabang Istimewa) NU yang tersebar di berbagai negara. Selain PCI NU, ada juga NU Afganistan. Pendiri dan aktivisnya orang Afganistan asli yang terpikat dengan NU dan ingin menduplikasi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di negara yang terlibat perang saudara hampir 30 tahun itu.

Kedua, keterlambatan dalam penataan organisasi. James Peacock, dalam bukunya Purifying the Faith, menjelaskan kunjungannya ke kantor Muhammadiyah dan NU di berbagai daerah. Ketika di awal tahun 1970-an mengunjungi kantor Muhammadiyah di Makassar, dia mendapati kantor yang rapi, manajemen yang tertata disertai dengan pegawai administrasinya. Ketika kemudian mendatangi kantor NU, dia hanya menjumpai penjaga yang duduk santai, serta tidak menemukan data dan dokumen yang dibutuhkan orientalis itu. Uniknya, penjaga kantor itu justru mengajak bule AS itu cangkruk di warung kopi, dan berdiskusi panjang lebar tentang berbagai hal. [5]

Memang, tampaknya karakteristik tempat kelahiran dua organisasi juga turut andil dalam karakteristik keorganisasiannya. Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, dengan segala ewuh-pakewuh dan tradisi kepriayiannya, sedangkan NU lahir di Surabaya yang lebih multikultural, blokosutho, dan egaliter. Jangan heran jika dalam Muktamar 2015, Jawa Pos agak sinis dengan menurunkan headline, “Laporan dari Muktamar: Muhammadiyah Teduh, NU Gaduh”, pasalnya dalam pemilihan Ketua Umum, mekanisme di Muhammadiyah tampak lebih halus ala priyayi, mirip rapat keluarga. Sedangkan di NU cenderung egaliter, dan dalam tataran praktis lebih ramai ala bahstul masa-il, dan mirip musyawarah. Tak hanya itu, dalam realitas lain, Muktamar NU lebih merakyat dibanding dengan Muktamar Muhammadiyah. Iqbal Aji Daryono, esais berlatar belakang Muhammadiyah, menuturkan pengalamannya mencermati riuh muktamar 2 ormas ini. Di Muktamar Muhammadiyah, hanya sedikit penjual pernak pernik organisasi seperti kaos, gantungan kunci, maupun poster. Juga nyaris tidak dijumpai para romli alias rombongan liar. Di dalam Muktamar NU, sebaliknya. Romli julahnya lebih banyak dibandingkan dengan pengurus struktural yang datang. Kondisinya bukan hanya lebih merakyat, melainkan juga heboh. Jangankan jualan poster ulama dan cinderamata NU, tukang bekam, penjual obat kuat, sampai pengecer mainan anak pun ada. Benar-benar meriah. Bukankah ini yang kita jumpai di sekitar arena Muktamar NU?

Meski sempat tertinggal dalam hal kerapian berorganisasi, NU bisa menata diri. Database NU dalam kurun 20 tahun terakhi ini lebih rapi, meskipun ada kekurangan di sana-sini. Manajemen juga bagus, penataan dan pendataan aset organisasi juga oke. Soal aset organisasi, Jawa Pos bulan Desember silam melaporkan apabila lahan senilai 40 miliar di Gresik sudah kembali menjadi asset PCNU Gresik setelah beberapa tahun dikuasai secara personal [6]. Satu bulan sebelumnya, gedung bersejarah Markas Besar Olema Djawa Timoer (MBODT), di Waru Sidoarjo yang sebelumnya tidak terawat diserahkan ke PBNU oleh KH. Asep Saifuddin Chalim, Pengasuh PP. Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. Rumah sakit, klinik, panti asuhan, dan perguruan tinggi di bawah naungan NU juga bagus. Total, hingga tahun 2019, ada 262 kampus yang berada di bawah naungan NU maupun berafiliasi dengan NU.

Dulu, NU diledek tidak bisa membuat kampus maju seperti Muhammadiyah, kini anggapan tersebut bisa dibantah. Ada beberapa kampus terbaik NU, antara lain Universitas Islam Malang dan Universitas NU Surabaya (UNUSA), juga UNUSIA Jakarta. Lembaga-lembaga ini menjadi contoh progresifitas di bidang manajemen pendidikan. Di berbagai daerah juga mulai berdiri kampus NU, yang meski perlahan-lahan, namun menunjukkan perkembangan yang bagus. Penulis yang menjadi salah satu pengurus Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) NU Jawa Timur, hampir setiap hari mendapatkan laporan perkembangan kampus NU di berbagai daerah melalui grup Whatsapp.

Ketiga, mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan. Dulu, pada tahun 1950, KH. A. Wahid Hasyim menilai apabila mencari sarjana di tubuh NU sama sulitnya dengan mencari penjual es di tengah malam. Kini, setengah abad berlalu, pesimisme Kiai Wahid dibayar tuntas. Dalam kurun 30 tahun terakhir, dengan gerbong yang dimotori putranya sendiri, KH. Abdurrahman Wahid, NU melewati dinamika luar biasa. Anak-anak muda NU bukan hanya menjadi alumni universitas di Timur Tengah, melainkan juga Barat. Wawasan keagamaan mereka meningkat melalui persentuhan dengan peradaban lain, atau dalam istilah Gus Dur disebut dengan “Islam Kosmopolitan”. Adanya ISNU alias Ikatan Sarjana NU maupun Lakpesdam memang bagus dalam mewadahi para intelektual NU. Kini, amunisi NU di bidang pendidikan dan pemikiran komplit. Mencari magister, doktor, dan professor NU di bidang apapun ada.

Kaderisasi ulama juga bagus. Kini, para ulama muda tampil, ada KH. Afifuddin Dimyathi (Jombang) melalui karya-karyanya, KH. Bahauddin Nursalim (Rembang) melalui kajian-kajian ilmiahnya, dan KH. Yahya Cholil Tsaquf melalui kiprah internasionalnya. Ini belum lagi menghitung kontribusi mubaligh seperti Gus Muftah dan Gus Muwafiq dengan gayanya masing-masing yang khas. Jika masih kurang, ada lagi intelektual yang mahir dalam kajian keilmuan Islam klasik dan modern maupun cantolan referensi Baratnya yang membludak. Siapa? Prof. Nadirsyah Hosen, Ph.D. Ada juga Gus Ulil Abshar Abdalla yang kini melakukan gebrakan dengan kajian online dua kitab babon di bidang tasawuf: Ihya Ulumiddin dan al-Hikam.

Forum bahtsul masa-il di berbagai daerah, biasanya digerakkan oleh MWC maupun PC juga bagus. Apalagi? Cek keberadaan Aswaja Center di berbagai daerah yang menjadi kawah candradimuka para pejuang ideologis NU. PKPNU dan MKNU juga bagus dalam penguatan karakteristik para muharrik NU. Penerbit-penerbit buku ke-NU-an kini juga semakin percaya diri melakukan bantahan terhadap buku Wahabi maupun penguatan ke-aswaja-an.

Keempat, di bidang ekonomi. Ini adalah tantangan paling serius dalam menyongsong satu abad NU. Potensi jumlah warga NU belum termanfaatkan secara baik. Kalaupun ada unit usaha milik NU, maupun dikelola Banom NU, biasanya masih membutuhkan manajerial yang bagus. Keberadan paguyuban Saudagar NU masih elitis, dan organisasi seperti Himpunan Pengusaha NU juga belum banyak berkontribusi dalam peningkatan gerakan santripreneurship di kalangan masyarakat NU.

Kelima, penguasaan media. Sebelum tahun 2015, NU babak belur di media sosial. Di dunia maya, kalau kita ketik “Apa Hukum Tahlilan?” maka yang keluar adalah jawaban bid’ah dhlalalah, mengandung kesyirikan, dan sebagainya, yang dikeluarkan oleh top rangking media Wahabi. Maklum juga, dulu Menkominfo dijabat oleh Tifatul Sembiring dari PKS. Namun, ketika Menkominfo dijabat oleh Rudiantara, sejak 2014, maka kebijakan menteri ini adalah menutup website porno dan ekstremis. Dampaknya, beberapa website yang selama ini melancarkan fitnah kepada NU juga ikut tergulung. Masih ingat website PKSPiyungan yang banyak hoaks, atau arrahmah.co(.) yang meresahkan karena menyebarkan konten terorisme itu? Dalam istilah lain, ditutupnya website beginian serta merta juga menghilangkan sumber kopi paste dalil bagi para pemfitnah NU.

Dan, yang pantas disyukuri, sejak awal 2019, media milik NU atau yang dikelola oleh jaringan santri ini, mulai merangkak naik. NU.Online, misalnya, menduduki puncak klasemen sebagai media online yang sering dirujuk dalam kajian keislaman. Disusul oleh Islami.co dan Alif.id yang notabene dikelola oleh jaringan kaum muda NU. Selanjutnya ada bincangsyariah.co yang dikelola oleh anak-anak muda yang secara afiliasi ideologis dan gerakan selaras dengan NU.

****

Melalui berbagai ulasan di atas, di mana NU selalu ketinggalan terlebih dulu, namun bisa menyusul di etape terakhir, mengingatkan saya pada slogan “Lakon mesti menang keri!”. Tak perlu pesimis dengan celotehan orang-orang yang menanamkan “keraguan” terhadap organisasi ini. Ayo berkhidmah dengan ikhlas. Jangan pernah bertanya kita dapat apa dari NU? Melainkan, apa yang akan kita persembahkan untuk NU. Siap menjadi ujung tombak, sekaligus ujung tombok!

Wallahu A’lam Bisshawab

Endnote:

[1] Selengkapnya lihat Risalah Ahlussunnah wal-Jama’ah karya Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari

[2] Konflik di internal Sarekat Islam sejak 1918 membuat pamor organisasi ini merosot pada pertengahan 1920-an. Sehingga beberapa aktivis SI di berbagai daerah pindah haluan ke ketika NU berdiri pada 1926. Bahkan, dua pendiri NU seperti KH. Raden Asnawi dan KH. A. Wahab Chasbullah adalah duet Ketua dan Sekjen Sarekat Islam Cabang Makkah pada trahun 1910-an. Proses konversi organisasi dari SI ke NU ini diceritakan oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam Berangkat Dari Pesantren (Yogyakarta: LKiS, 2012)

[3] Selengkapnya bisa dibaca di buku karya Zainul Milal Bizawie, Jejaring Ulama DIponegoro: Kolaborasi Santri dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Pada Awal Abad ke-18 (Jakarta: Pustaka Compass, 2019)

[4] Dampak dari divisi propaganda NU ini positif. Muktamar NU ke-1, 14-16 Rabiul Awal 1345 H (21-23 September 1926) dilaksanakan saat NU masih berusia 8 bulan. Pesertanya terdiri dari 93 ulama dari Jawa dan Madura, ditambah dengan KH. Abdullah dari Palembang dan KH. Abu Bakar dari Kalimantan serta KH. Abdul Qadir dari Martapura. Dalam perkembangan berikutnya, pada muktamar keempat yang dipusatkan di Hotel Arabistan, Semarang, 12-15 Rabiuts Tsani 1348 H (17-20 September 1929), dihadiri tak kurang dari 1450 peserta muktamar; 350 kiai, 900 pendamping (pengiring kiai) dan 200 pimpinan Tanfidziyah. Bagaimana dengan perkembangan Cabang NU? Total pada tahun itu terdapat 63 Cabang NU dengan rincian 13 Cabang di Jawa Barat, 27 cabang di Jawa Tengah serta 23 cabang NU di Jawa Timur, termasuk Madura. Data perkembangan NU era awal ini bisa dijumpai dalam Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama (Surabaya: Bisma Satu, 1999).

[5] Ahmad Baso, “Agama NU” untuk NKRI (Jakarta: Pustaka Afid, 2013), 27-28. [6] Jawa Pos, halaman Modern West, 20 Desember 2019.