NU, Makna Sabilillah dalam Distribusi Zakat, dan Fatwa Tentara Perempuan

NU, Makna Sabilillah dalam Distribusi Zakat, dan Fatwa Tentara Perempuan

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Pada tanggal 23-26 Rabiul Akhir 1365 H atau 26-29 Maret 1946, Muktamar NU ke-16 berlangsung di Purwokerto. Momentum ini bukan hanya dihadiri oleh para pengurus NU saja, melainkan banyak juga anggota Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah yang hadir. Tak sedikit pula yang datang dengan memakai seragam kebesarannya berikut bersenjata lengkap. Beberapa pengurus Partai Masyumi dan ormas Islam lainnya juga hadir sebagai tamu undangan.

Foto. 1

Dalam resepsi muktamar, Panglima Besar Jenderal Sudirman memberi pidato sambutan yang isinya memuji NU yang telah memberi arah jalan revolusi dengan “Resolusi Jihad”nya pada tanggal 22 Oktober 1945.

Adapun dalam khutbah iftitah yang disampaikan menggunakan bahasa Arab, sebagaimana yang dikutip oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam memoarnya, “Berangkat dari Pesantren”, Rais Akbar Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menyampaikan beberapa poin penting, antara lain tentang pentingnya persatuan umat Islam.

Karena digelar pertama kalinya setelah Indonesia merdeka, maka keputusan-keputusan muktamar NU mayoritas berkaitan dengan bagaimana mempertahankan negara yang baru diproklamasikan.

Sebagai organisasi yang senantiasa mendasarkan keputusan organisasinya menggunakan aspek fiqh, wajar jika dalam memutuskan berbagai persoalan keummatan, dari soal yang sepele hingga perkara berat seputar kenegaraan, fiqh senantiasa dipakai oleh NU sebagai titik tolak.

Dalam memutuskan Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945, yang kemudian juga disusul dengan seruan jihad bagi setiap muslimin melalui khutbah iftitah di muktamar ini, Kiai Hasyim sebagai Rais Akbar NU juga memberi legitimasi kewajiban perjuangan kemerdekaan melalui berbagai keputusan muktamar yang 80% isinya berkaitan dengan perkara perang.

“Bagaimana hukumnya kita berperang untuk menolak musuh yang sudah menginjakkan kakinya di tanah air kita seperti yang telah terjadi sekarang ini?” demikian pertanyaan yang diajukan oleh Pengurus Cabang NU Jombang.

Secara jelas, muktamirin menyepakati:

Pertama. Bahwa berperang menolak penjajah dan para pembantunya adalah fardlu ‘ain atas tiap-tiap jiwa, baik laki-laki maupun perempuan, dan anak-anak juga sama berada di tempat yang dimasuki oleh mereka itu (penjajah dan pembantu-pembantunya).

Kedua. Wajib ain pula atas tiap-tiap jiwa yang berada dalam tempat-tempat yang jaraknya kurang dari 94 Km. terhitung darti tempat mereka itu (musuh).

Ketiga. Wajib kifayah atas segenap orang-orang yang berada di tempat-tempat yang jaraknya ada 94 Km. tersebut.

Jikalau jiwa-jiwa yang tersebut dalam nomor 1 dan dua di atas tidak mencukupi untuk menolaknya maka jiwa yang tersebut di dalam nomor 3 wajib membantu sampai cukup.

Keputusan-keputusan ini dirujuk dari kitab At-Tajrid li Naf’ al-‘Abid (jilid IV hal. 251) karya Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bajuri (jilid II, hal. 269), Fathul Wahab karya Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari yang dinukil dari kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh Manhaj at-Thullab (juz V, hal. 191), serta karya Imam Nawawi, Raudlatut Thalibin (jilid X, hal. 1214-1215). Selain itu, karya Ibnu Abidin yang berjudul Radd al-Mukhtar (hal. 219-220) juga dijadikan rujukan. Tak ketinggalan, Al-Hawi al-Kabir (jilid XVIII, hal. 161-162) karya Imam al- Mawardi juga menjadi referensi pengambilan keputusan NU ini.

Keputusan bahtsul Masa-il di atas menjadi salah satu indikator bahwa NU sangat berhati-hati mengeluarkan keputusan hukum dan tidak mau tergesa-gesa menyikapi setiap permasalahan keummatan. Kalaupun sudah bulat diputuskan, maka resiko apapun akan dihadapi.

Selain kewajiban jihad di atas, yang juga diilhami dari semangat “Resolusi Jihad” beberapa bulan sebelumnya yang berhasil menggerakkan perlawanan di Surabaya, Ambarawa, dan beberapa wilayah lainnya, kewajiban individu (wajib ‘ain) ini juga selaras dengan taktik “perang semesta” yang menjadi salah satu kreno perang yang dijalankan oleh TKR (TNI) saat itu.

Foto. 2

Fungsionalisasi Zakat

Selain keputusan di atas, ada juga keputusan lainnya yang ikut menunjang aspek kebutuhan perang. PC NU Gresik menyodorkan pertanyaan sekaligus pertimbangan bagaimana hukumnya membagi zakat di masa itu kepada kelompok Sabilillah mengingat kondisi tanah air yang genting. PCNU Gresik juga memberikan penjelaskaan bahwa saat itu Laskar Hizbullah yang telah berjihad fi sabilillah nyatanya juga tidak mendapatkan bantuan memadai dari pemerintah. Selain itu, karena di beberapa tempat telah terjadi pertempuran antara Laskar Hizbullah dengan pasukan musuh, maka bagaimana seharusnya aturan pembagian zakat kepada mereka?

Di antara jawaban yang menjadi keputusan resmi muktamar ini adalah:

Bahwa pada waktu sekarang wajib memberikan zakat bagian sabil pada Sabilillah yang telah ada di tanah air kita ini, sekalipun mereka itu kaya raya.

(Laskar) Hizbullah yang telah ada pada sekarang ini adalah termasuk Sabilillah tersebut.

Adapun aturan pemberian barang zakat tersebut adalah sebagai berikut:

(Barisan) Sabilillah dan (Laskar) Hizbullah tadi harus diberi bilamana mereka itu akan berangkat perang atau tinggal di markas pertahanan.

Para warga Sabilillah yang memang wajib diberi nafkah oleh mereka harus diberi bagian dari barang zakat sampai kadar kecukupannya.

Apabila warga Sabililah tersebut sudah pulang dari peperangan atau markas pertahanan, kemudian barang zakat yang telah diterima tadi ada kelebihan, sedang pemakaiannya cukup sederhana, maka kelebihan itu wajib dikembalikan.

Orang yang wajib zakat boleh menyerahkan barang zakat tersebut kepada para nazhir Sabilillah tadi untuk diterimakan kepada mereka.

Keputusan di atas ini dirujuk dari kitab Hasyiyah al-Bajuri (jilid I, hal. 295), I’anatut Thalibin (Jilid II, hal. 219), Minhajul Qawim karya Ibnu hajar al-Haitami (hal. 110), As-Syarhul Kabir (jilid II, 700-101), hingga Minat al-Jalil li Mukhtashar al-Khalil (Jilid II, hal. 91).

Keputusan mengenai penggolongan Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah sebagai bagian dari Sabilillah yang bisa menerima zakat sangat membantu logistik serdadu swasta ini. Pasalnya, karena dua kelaskaran ini bukan merupakan bagian secara langsung dari unit TKR (TNI), maka secara pendanaan dan soal logistik mereka tidak menerima dana dari negara. Lagi pula bisa dipahami jika saat itu kondisi kas negara yang baru merdeka masih sangat belum stabil. Keputusan ini kelak juga cukup membantu keberlangsungan perjuangan Hizbullah dan Sabilillah saat menghadapi gempuran serdadu Belanda dalam Agresi Militer I, Juli 1947.

Foto. 3

Terdapat kecurugiaan mendasar jika Belanda sengaja melakukan agresi militer ini pada bulan Juli 1947 karena selain mulai banyak gesekan antar laskar rakyat, agresi ini bertepatan pada bulan puasa. Bahkan, pada agresi militer pertama inilah banyak pondok pesantren dibakar oleh serdadu KNIL dan NICA karena dianggap menjadi sarang pejuang kemerdekaan. Tak sampai tiga hari agresi ini dilakukan, Belanda sudah berhasil merebut kota Malang yang menjadi basis pertahanan TNI, Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah. Jatuhnya benteng terakhir pertahanan di selatan Jawa Timur inilah yang menyebabkan KH. Hasyim Asy’ari terkejut dan merasa sedih hingga menyebabkan kesehatannya drop lalu wafat.

Dalam bahtsul masa-il ini pula ditetapkan bahwa para pejuang yang wafat di medan perang sebagai syuhada’ tidak boleh dibawa pulang ke rumahnya atau ke tempat lain untuk dikubur di tempat, tetapi wajib dikubur di lokasi gugurnya.

Tentara Perempuan

Dengan demikian bisa dipahami jika keputusan-keputusan NU semakin menggenjot perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Terlebih, dalam muktamar tahun 1946 ini pula ada salah satu keputusan yang memperbolehkan perempuan berpakaian seragam tentara.

Di zaman itu, meski banyak dilibatkan dalam urusan medis dan pemenuhan logistik di belakang front pertempuran, kaum perempuan belum banyak terjun sebagai prajurit. Namun, manakala dalam kondisi darurat perang, hukumnya fardlu ‘ain bagi laki-laki maupun perempuan melakukan perjuangan, sebagaimana seruan Kiai Hasyim dalam khutbah iftitah. Selain itu, asalkan menutup aurat, perempuan diperbolehkan menggunakan seragam tentara, baik pada saat latihan maupun manakala terjun di front pertempuran. Pendapat ini dirujuk berdasarkan kitab Fathul Mu’in (juz IV hal. 196-197), dan  I’anatut Thalibin (Juz IV, hal. 196).

Foto. 4

Keputusan yang berkaitan dengan kaum perempuan ini juga selaras dengan keputusan lainnya, yakni meresmikan Muslimat Nahdlatul Ulama sebagai badan otonom NU. Ini merupakan keputusan yang memiliki dampak strategis dalam perkembangan NU beberapa tahun berikutnya, khususnya dalam mengimbangi sayap organisasi keperempuanan kiri-kiri seperti Gerwani, maupun dalam soal propaganda melalui majelis-majelis pengajian yang dikomando para ibu-ibu Muslimat NU.

Wallahu A’lam Bishshawab

Keterangan Foto:

  1. Pengumuman Perpindahan Markas Barisan Sabilillah, dari Alun-alun Bunder No. 3 Malang, ke Jl. Surapati 01 Malang. Ihwal korespondensi beralamat di Jl. Ijen No. 63 Malang. Tertanggal 20 Oktober 1946. Ditujukan kepada Kementerian Penerangan RI di Jawa Timur. Sumber: Arsip Nasional Belanda.
  2. Patroli Belanda berjalan melalui perkebunan kelapa sawit. Di hadapan mereka sebuah papan bertuliskan “Pembinaan Perlengkapan Hisboellah/Sabillillah Perbaoengan Keboen Bonbongan”. Lokasi di Sumatera. Tanggal 29 Juli 1948. Sumber: Arsip Nasional Belanda.
  3. Salah satu anggota Laskar Hizbullah (Hisboellah) yang tertangkap pada 17 April 1947 di Prambon, Sidoarjo. Sumber: Arsip Museum Maritim Belanda.
  4. Salah satu apel Laskar Hizbullah.

(Artikel ini telah dimuat di NU Online Jatim, 01 Mei 2022)

KH. A. Sadid Jauhari dan Hakikat Rizqan Wasi’an

KH. A. Sadid Jauhari dan Hakikat Rizqan Wasi’an

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Dalam acara Peringatan Nuzulul Qur’an di INAIFAS, Kamis (21/04), KH. A. Sadid Jauhari antara lain mengupas makna rizqan wasi’an (rezeki yang luas). Dalam beberapa redaksi doa, ada dua istilah yang dipakai, wasi’an, luas; dan thayyiban, baik.

Uniknya, menurut beliau, redaksi yang dipakai adalah wasi’an dan thayyiban, luas dan baik; bukan katsiron, banyak. Beliaupun mengutip salah satu doa yang termuat dalam kitab Abwabul Faraj karya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki.

اَللهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ اَنْ تَرْزُقَنِىْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَمَشَقَّةٍ وَلاَضَيْرٍ وَلاَنَصَبٍ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْ

Ya Allah, aku minta pada Engkau agar melimpahiku rizki yang halal, luas, dan baik tanpa kesusahan, tanpa kemelaratan dan tanpa kepayahan. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”

Menurut Kiai Sadid, makna rizqan wasi’an ini punya kedalaman makna. Allah menggelar rizki yang luas, melimpah, bukan banyak. Ketika memohon doa agar diperluaskan rizqinya, berarti juga berdampak pada apa yang diperoleh dan dimanfaatkan dari yang diraih.

Ketika Allah memberi nikmat pada hambaNya, Dia tidak menganugerahkan apa yang diinginkan oleh sang peminta, melainkan pada apa yang dia butuhkan.

Karena itu, ada banyak orang yang walaupun secara ekonomi biasa saja, pas-pasan, namun ketika dia membutuhkan materi, misalnya, secara asyik Allah mencukupinya. Bulan depan dia butuh membiayai anak sekolah dan mondok, walaupun hari ini belum ada rezeki, namun pada saat menjelang kebutuhan, Allah mencukupinya.

Dia ingin berangkat ke Baitullah, namun terkendala ekonomi, lantas ada yang memberangkatkannya, itu juga bagian dari rezeki yang luas.

Secara berkelakar, Kiai Sadid mengistilahkan rezeki berupa Yen. Yen di sini bukan mata uang Jepang, melainkan falsafah Jawa, Yen Njaluk Bakale Dikabulne Gusti Allah, Yen Butuh Bakale Dicukupi. Artinya, jika memohon kepada-Nya, Dia bakal mengabulkan permohonan hamba-Nya. Jika butuh, maka Allah akan mencukupi kebutuhan hamba-Nya.


Dari penjelasan Kiai Sadid, kita paham, bahwa rezeki yang luas bukan saja materi, melainkan ketercukupan dan keberkahan. Cukup bisa membuat hati tidak tamak, barakah bisa menjadikan rezeki yang diperoleh berlimpah kebaikan dan kemanfaatan.

Tidak heran jika KH. A. Mustofa Bisri pernah dawuh, jangan mencari banyak, tapi carilah berkah.

Harta banyak, tapi sakit-sakitan, juga tidak bisa menikmatinya. Harta banyak, tapi pelit, juga tidak bisa memanfaatkannya untuk kemanfaatan orang lain dan buat investasi akherat. Harta banyak, tapi pada akhirnya menyebabkan keluarganya berebut warisan.

Di sinilah makna rizqan wasi’an menemukan makna esensialnya. Bahwa, rezeki bukan saja bermakna materi. Terlalu sempit jika memaknainya demikian. Rezeki yang luas bisa bermakna keluarga yang harmonis, anak-anak yang sholih sholihah, mertua dan tetangga yang baik. Kesehatan yang fit juga bagian dari rezeki, sehingga bisa bekerja dengan baik dan memanfaatkan kesehatan untuk beribadah.

Wallahu A’lam Bishshawab

Masih Tentang Modal Usaha: Ada yang Mau tapi Malu

Masih Tentang Modal Usaha: Ada yang Mau tapi Malu

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Ada dua hal yang harus dicermati dari penyaluran modal kewirausahaan melalui skema zakat produktif bagi para guru ngaji.

Pertama. Kekurangannya terletak pada kontroling dan monitoring. Khususnya agar aset tidak dijual oleh penerima. Saya pernah menyalurkan zakat maal titipan Kang Indrajati untuk seorang guru ngaji. Saya salurkan dengan catatan harus dibelikan anak ayam beserta pakannya. Harapannya agar kelak bisa dikembangkan. Tapi ternyata setelah ayam bocil ini gede, langsung dijual dan keuangan tidak diputar lagi untuk pengembangan. Mandeg. Padahal harapannya agar fulus yang kembali modal ataupun dihasilkan bisa dibelikan anak ayam lagi yang lebih banyak.

Tapi ada juga guru ngaji yang bisa mengembangkan usaha jualannya setelah mendapatkan bantuan modal dari zakat maal ini. Intinya tergantung pada pola pikir dan kecerdasan finansial mereka juga. Oke ini dua kasus berbeda di Jember.

Di Surabaya ada tetangga saya dikasih rombong bagus oleh salah satu lembaga nirlaba. Konsep awalnya dipakai jualan gorengan. Tapi pada akhirnya juga nganggur dan dijual dengan alasan kepepet. Aset dan alat produksi pun hilang.

Kedua, pentingnya menumbuhkan minat wirausaha. Ini yang penting. Karena ada tipikal yang mau tapi malu. Mau dananya, tapi malu berwirausaha. Sisanya faktor gengsi. Makanya saat ini saya lebih condong membantu penyaluran zakat maal ke beberapa guru ngaji yang masuk kategori asnaf yang punya mentalitas wirausaha, minimal tidak gengsian, dan juga sudah punya usaha di rumahnya, misalnya jualan sosis goreng, atau punya usaha warung kecil-kecilan. Cara ini dipakai agar kebutuhan modalnya bisa dikembangkan melalui pemberian para muzakki. Cita-cita KH. MA. Sahal Mahfudz ya begini, menaikkan derajat mustahiq yang kelak diharapkan menjadi muzakki. Cita-cita elegan!

Di INAIFAS pula, saya pernah disambati mahasiswi yang kesulitan ekonomi dan berasal dari keluarga miskin. Diikutkan Beasiswa Pemkab Jember tidak lolos. Tampaknya terkait IPK-nya yang rendah. Pengennya dapat keringanan biaya dari kampus. Saya tawari modal usaha (dana titipan dari sahabat dokter di Surabaya), kurang lebih Rp 1,5 juta. Dana tersebut saya tawarkan untuk beli rak kaca kecil, kompor dan elpiji, sisanya buat beli sosis, krupuk udang mentah, tempura, minyak goreng, saos, dll. Saya berharap dia bisa berwirausaha di rumah dengan skema tersebut dan hasilnya bisa dicicil buat biaya kuliah. Apa jawabnya?

“Saya malu jualan, pak!”

Aduuuuh gregeten tenan. Akhirnya ya nggak saya salurkan bantuan modal tersebut. Yang saya jumpai, ada 2 mahasiswa yang ketika ditawari modal, pikirannya malu atau gengsi.

Kudu tak hih ae!😂

Makanya seminggu silam, INAIFAS memilih memberi Beasiswa Modal Usaha bagi mahasiswa yang punya usaha sudah jalan dan tidak punya tanggungan keuangan di kampus. IPK nya saya syaratkan minimal 3,6. Alhamdulillah lolos 5. Masing-masing dapat Rp 1 jutaan. Lumayanlah.

Kesimpulannya, tawaran kail tidak mesti disambut gembira. Ada kalanya yang diinginkan hanya ikan. Enggan berproses. Alasannya variatif. Tapi lebih banyak yang malu, gengsi, dan enggan cari duwit dengan cara begitu.

Kesimpulannya perlu monitoring secara berkelanjutan juga pelatihan di awal untuk membentuk mindset bahwa aset pokok tidak boleh dijual terburu-buru dengam alasan kepepet.

Wallahu A’lam Bishshawab

Guru Ngaji dan Formula Pemberdayaan Melalui Zakat Produktif

Guru Ngaji dan Formula Pemberdayaan Melalui Zakat Produktif

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Apakah para guru ngaji itu layak menerima zakat dengan kategori ‘fi sabīlillah’? Sebagian kecil memperbolehkan dengan memasukkannya pada kategori sabīlul khair, sebagian tidak. Jalan tengahnya, para guru ngaji yang menjadi mustahiq kategori fakir dan miskin, bahkan gharīm, diberi. Banyak, sangat banyak guru ngaji yang masuk kategori ini. Syukur-syukur jika mereka diberi zakat produktif seperti modal usaha agar kesejahteraannya meningkat. Jika kesejahteraan meningkat, kaderisasi bagi putra-putrinya untuk mengenyam jenjang pendidikan lebih tinggi bisa dipenuhi.

Pada titik ini saya ikut pendapat KH MA Sahal Mahfudh dengan konsep zakat produktif. Zakat maal dari para muzakki itu tidak perlu diecer dengan jumlah yang tidak seberapa, apalagi dengan mendatangkan mustahik ke rumahnya, lantas membagi-bagikan dengan syarat antrean membludak hingga banyak yang pingsan. Ini kurang manusiawi.

Solusinya? Dicarikan para mustahiq yang punya potensi ekonomi, kasih modal yang cukup, didampingi hingga usahanya berkembang. Kiai Sahal sudah mewujudkannya dengan bercerita usahanya mengentaskan tukang becak. Hal ini ditulis dalam buku ‘Nuansa Fiqh Sosial’ (LKiS, 1994: 101). Dari yang hanya penyewa becak milik Tionghoa dengan ongkos sewa per hari, hingga dibelikan oleh Kiai Sahal sebuah becak yang menjadi hak milik si pengayuhnya. Kiai Sahal mengubah modal kapital. Dari pasif ke produktif. Dari hak sewa ke hak milik. Dari tidak berkuasa pada alat produksi, hingga memiliki secara mandiri dan independen alat produksi/alat kerja. Gagasan seperti ini layak dikukuhkan dan diterapkan.

“Dengan cara ini, meskipun dia tidak menjadi kaya, tetapi jelas ada perubahan sosial.” tulis Kiai Sahal dalam ‘Nuansa Fiqh Sosial’ (Yogyakarta: LKiS, 1994), halaman 101.

Saya sudah menerapkan gagasan zakat produktif ala Kiai Sahal ini. Melalui dana zakat maal titipan beberapa sahabat, saya membelikan mesin diesel untuk seorang mustahiq di Ponorogo, mesin jahit untuk seorang penyandang disabilitas di Jember, pembelian alat penetas telur di Jember, dan beberapa penerapan lain.

Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kencong bekerja sama dengan Unit Pengumpul Zakat, Infak dan Shadaqah (UPZIS) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember juga menerapkan konsep ini dengan membelikan gerobak dan bantuan modal bagi mahasiswa miskin yang punya jiwa kewirausahaan. Hasilnya, usahanya tambah berkembang.

Intinya, dalam konsep zakat produktif ala Kiai Sahal, zakat yang terdistribusikan harus mengarah pada kegiatan yang lebih produktif, bukan konsumtif. Dimanfaatkan oleh mustahiq untuk kebutuhan primer, bukan sekunder, apalagi tersier. Digunakan dalam kegiatan yang terarah dan berkelanjutan, bukan dadakan. Tidak spontan, melainkan punya dampak berkelanjutan.

Dengan demikian, kegiatan ini mengarah pada konsep pemberdayaan sesuai dengan kemampuan, keterampilan dan potensi mustahik. Bukan lagi menyuruh mustahiq antre di depan rumah orang tajir lalu masing-masing diberi amplop yang isinya tidak seberapa itu. Bukan lagi mengecer uang dalam amplop yang seringkali malah dipakai kebutuhan konsumtif oleh penerima. Pola pemberdayaan mustahiq melalui zakat produktif semacam ini juga dijelaskan oleh Syekh Zakaria al-Anshari dalam Fathul Wahhab dan Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihāyatuz Zain.

Dengan demikian, kita perlu memberdayakan para guru ngaji yang kategori fakir dan miskin melalui konsep zakat produktif ini. Banyak dari mereka yang terseok-seok secara ekonomi, padahal pada saat yang sama panggilan jiwanya tetap mewajibkan dirinya mendarmabaktikan ilmu dan waktunya dengan mengajar ngaji. Dan, tentu, mengajar ngaji identik dengan bisyarah seikhlasnya. Kalaupun ada biaya bulanan, jumlahnya tidak seberapa, sebab masyarakat bakal mencibir guru ngaji yang menerapkan ‘tarif’. Banyak dari sahabat, saudara dan tetangga kita yang sudah rela mengajar ilmu agama tapi tidak sejahtera secara ekonomi. Saya membayangkan, mereka diberi pelatihan kewirausahaan, setelah itu mendapatkan zakat maal untuk pengembangan ekonominya. Tidak perlu muluk-muluk dulu. Pengembangan ekonomi mikro bisa menjadi awal yang baik.

Saran lain, acara-acara keagamaan yang gebyar nan bombastis atas nama syiar dikurangi. Selain kadang menyedot dana besar namun tidak meninggalkan atsar yang menggerakkan dan memberdayakan, acara semacam ini lebih bersifat festival. Saya usul, kemasannya bisa disederhanakan, dan dana dialihkan pada pemberdayaan fakir miskin dan yatim di sekitar. Anak-anak yatim dari keluarga tidak mampu bisa dipondokkan dan dikuliahkan melalui dana ini melalui formula beasiswa. 5 hingga 10 tahun, hasilnya bisa dipanen: yatim yang berdaya guna secara keilmuan. Kaderisasi ulama. Apakah saya hanya berwacana saja? Tidak. Kampus Inaifas melalui UPZIS sudah menerapkannya melalui formula beasiswa bagi yatim berprestasi. Beberapa sahabat yang menitip dana ke saya, alih-alih saya salurkan untuk kegiatan keagamaan yang gebyar meriah, saya lebih memilihnya dengan menggelontorkannya dalam format beasiswa santri di Pondok Pesantren Mabdaul Ma’arif Jombang, Jember, maupun unit pendidikan di dalamnya. Termasuk pada format pemberdayaan kaum miskin melalui pola zakat produktif.

Kembali ke bahasan guru ngaji. Bagi saya guru harus bermartabat. Tampil ‘mbois’ dan sedap dipandang walaupun sederhana. Bahasan apakah guru ngaji layak diberi zakat dalam kategori fi sabīlillah atau tidak, ini wacana fiqih. Bisa diperdebatkan. Tapi memberi para guru ngaji yang fakir dan miskin dengan formula zakat produktif adalah alternatif memberdayakan mereka.

Menutup tulisan ini, saya teringat kalimat motivatif dari KH Ahmad Shodri, ulama Betawi pimpinan Yayasan Al-Wathoniyah Asshodriyah Cakung Jakarta Timur, pada Ramadan 2019.

Di depan ratusan guru ngaji yang diundang berbuka puasa bersama di masjid yang didirikan, sang kiai dawuh: “Elu-elu ini guru ngaji. Pembawa ilmu agama. Penampilan harus keren. Harus perlente. Nih Elu-elu semua gua kasih sarung BHS, parcel, juga uang. Jangan khawatir, jumlahnya banyak. Entar elu cek deh. Gua kasih sarung mahal agar orang tua santri elu hormat dengan ilmu yang elu miliki. Kagak ngremehin elu. Jadi guru harus bermartabat. Jangan sampe karena pakaian elu jelek, akhirnya orang bilang ke anaknya, eh tong jangan bercita-cita jadi guru ngaji deh, entar elu miskin kayak guru elu. Nah kayak begini ini gua kagak demen. Jadi, elu harus bermartabat di mata para santri elu. Paham ye?”

Wallahu a’lam bishshawab.

Beasiswa Modal Usaha bagi Mahasiswa INAIFAS

Beasiswa Modal Usaha bagi Mahasiswa INAIFAS

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

November tahun lalu, Warek III Inaifas, Abah Mohammad Dasuki, jalan-jalan ke alun-alun Tanggul setelah ziarah ke Makam Habib Sholeh bin Muhsin al-Hamid. Di alun-alun itu beliau disapa oleh suami istri pedagang pentol. Ternyata sejoli ini mahasiswa INAIFAS. Jika pagi, Yulifan Adi Anggara (Prodi PAI/2017), mahasiswa tersebut menjadi satpam di salah satu SMP. Manakala siang-sore, dia bersama istrinya, Siti Nur Baeti (Prodi ES/2019) kuliah di kampus hijau. Selepas magrib, keduanya berjualan cilot/pentol. Hasilnya bisa dipakai hidup sehari-hari dan biaya kuliah. Keren ya!

Akhirnya, dalam Harlah INAIFAS ke-23, November tahun lalu, keduanya mendapatkan suntikan modal dari kampus. Setahun sebelumnya, Inaifas juga memberi Beasiswa Modal Usaha ini bagi Alex Nur Adi Wibowo, mahasiswa Prodi PGMI, yang sehari-hari berjualan telor gulung. Oleh pihak LAZISNU Care PCNU Kencong yang dipimpin Ustadz Imam Imam Syafi’i, Alex juga diberi tambahan modal. Hasilnya, dirupakan rombong jualan.

Kemarin lusa, dalam rangkaian acara Safari Ramadan yang dipimpin oleh Kaprodi PAI, Pak Johan Idrus Tofaynuddin, Inaifas kembali memberi Beasiswa Modal Usaha bagi 5 orang. Seleksi sudah berjalan. Nama-nama mahasiswa wirausahawan/wirausahawati direkomendasikan oleh para kaprodi. Saya kebagian nyeleksi. Rasanya senang melihat kegigihan dari adik-adik mahasiswa dalam merintis usaha.

Jenis usahanya variatif. Ada yang berjualan kripik usus, makaroni, krupuk, dan cemilan jenis lainnya. Ada juga yang membuat kue, kopi keliling menggunakan motor roda tiga, coklat, dll. Sebagian lagi mencari fulus secara daring: jualan jilbab, baju muslimah, aksesoris, hingga amplop angpau lebaran.

Beasiswa Modal Usaha ini juga kami ambilkan dari dana Unit Pengumpul Zakat Infaq dan Sedekah (UPZIS) INAIFAS yang diketuai oleh Gus H. Zuhairuzzaman Dekan Fak. Syariah dan juga Katib Syuriah PCNU Kencong. Setidaknya, dengan cara ini Inaifas tidak hanya menjadi lembaga pendidikan saja, melainkan menjelma lembaga dakwah dan pemberdayaan sosial.


Melihat antuasiasme mereka dalam berwirausaha, saya jadi ingat saat kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya dulu. Semester 1-3 saya masih dibiayai orangtua, namun selepas itu saya cari fulus sendiri buat biaya hidup dan membiayai kuliah.

Caranya, berjualan buku. Kadang bersama Masyai Fathul Qodier, saat ini dewan pakar Aswaja Center PWNU Jatim dan dosen IAI KH. A. Chalim Mojokerto. Yang sering jualan bersama Mas Ach Tirmidzi Munahwan, sahabat yang saya anggap saudara kandung, dalam beberapa acara NU. Mas Tirmidzi ini orangnya ulet, tahan banting, dan selalu ceria. Banyak suka duka yang kami alami. Yang pasti, dari berjualan buku, kami bisa membiayai kuliah hingga lulus, dan belajar nulis, khususnya meresensi buku, juga lantaran jualan buku. Sisanya, beli rumah, mobil dan tanah juga dari dagang buku ini.

Kini, kami tetap jualan buku dan kitab. Saya menggawangi Penerbit Imtiyaz, Mas Tirmidzi memimpin Penerbit Muara Progresif. Kami berdua dididik oleh salah satu master perbukuan di Surabaya, Kiai Ma’ruf Asrori, Direktur Penerbit Khalista yang banyak menerbitkan buku-buku ke-Aswaja-an dan ke-NU-an. Beliau adalah ayah kedua bagi kami. Dari Kiai Ma’ruf kami belajar dagang, menulis artikel dan resensi, menulis buku, hingga teknik editing naskah; juga mengakrabi calon pembeli dan pelanggan, serta soal remeh temeh tapi penting: menata buku dengan rapi di dalam kardus, dan tali-temali kardus agar kuat.


Melihat proses usaha yang dilakoni adik-adik mahasiswa INAIFAS, saya senang. Saya berharap mereka selalu semangat menapaki jalan dagang ini, dan bisa mengembangkannya dengan inovasi yang dimiliki.

Tentu saja saya atas nama kampus mengucapkan terima kasih banyak kepada Mas KH. Dr. Asrorun Ni’am Sholeh, Deputi III Kemenpora, yang sejak 2019 membina kampus INAIFAS dengan program kewirausahaan serta menyuntikkan modal bagi mahasiswa kami, juga kepada Mas Abdullah Muhdie, aktivis IPNU UINSA dan IPNU Jatim, yang kini berkiprah di Kemenpora RI, yang selalu mendukung program kepemudaan INAIFAS.

Juga kepada para sahabat dermawan/wati yang sudah menjadi orangtua asuh mahasiswa kami, kepada Bank Syariah Indonesia Kencong, Mas Ali Sadikin Asmoroyudo, yang rutin memberi beasiswa, juga untuk Ibu Evi Arifiyah, Kepala Bank Jatim Kencong, yang juga menyiapkan beasiswa.

Ayo Kuliah di INAIFAS. Kampus Beasiswa.

Jenis Beasiswa S1:

  1. Beasiswa KIP/Bidik Misi
  2. Beasiswa Madin Pemprov Jatim
  3. Beasiswa Pemkab Jember
  4. Beasiswa Prestasi Akademik
  5. Beasiswa Prestasi non-Akademik
  6. Beasiswa UPZIS INAIFAS
  7. Beasiswa Aktivis IPNU-IPPNU
  8. Beasiswa Aktivis PMII
  9. Beasiswa Orangtua Asuh (BETA)
  10. Beasiswa Tahfidzul Qur’an
  11. Beasiswa Bank Syariah Indonesia (BSI)
  12. Beasiswa Jalur Undangan
  13. Beasiswa Tes Seleksi
  14. Beasiswa Bank Jatim
  15. Beasiswa Modal Usaha

Jenis Beasiswa Pascasarjana:

  1. Beasiswa Tahfidzul Qur’an
  2. Beasiswa Guru Madin Pemprov Jatim
  3. Beasiswa Pemkab Jember
  4. Beasiswa Rektorat
3 Aset Penting Yang Harus Kita Miliki Agar Sukses

3 Aset Penting Yang Harus Kita Miliki Agar Sukses

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Aset ada tiga. Aset tidak bergerak berupa rumah, tanah, sawah, tegalan, dll , termasuk emas, yang valuasinya naik saban tahun. Tidak bakal rugi juga “memaksa” diri bekerja keras menyediakan jenis aset ini.

Gus Baha’, dalam salah satu nukilan ceramah yang saya temui di Tiktok, pernah bilang kalau beliau membangun beberapa rumah sederhana untuk diwariskan ke anak-anaknya kelak. Anak beliau dua (sebagaimana dituturkan dalam ceramah), tapi Gus Baha’ punya 3-4 rumah. Pertimbangan beliau soal agama. Jangan sampai kelak ketika anak-anak beliau berdakwah masih direpotkan urusan keluarga. Faktor lain, dengan mengutip Surat Al-Hasyr ayat 9, beliau bilang kalau para sahabat Anshar dipuji Allah bukan lantaran keimanannya, melainkan karena membangun rumah lebih dulu.

Sedangkan jenis yang kedua adalah aset yang valuasinya turun. Biasanya bersifat teknologikal. Hape, laptop, kendaraan, dan barang elektronik. Setiap bulan nilainya pasti turun. Harga purnajual pasti meleset anjlok.

Soal aset ini, kita bisa melihat, kadang yang pendapatannya di bawah Rp 5 juta/bulan punya tegalan, sawah, dan bisa membangun rumah. Bisa kita lihat skema manajemen ala orangtua atau leluhur kita. Penghasilan tak sebanyak kita, tapi mampu mewariskan aset berharga. Sedikit atau banyak.

Sebaliknya, yang penghasilannya puluhan kali lipat, malah hanya menghabiskan fulus untuk menumpuk aset bergerak. Kendaraan lebih dari satu, hape beberapa, peralatan elektronik yang sebenarnya tidak dibutuhkan, namun hanya diinginkan, dikoleksi. Pola yang kedua ini, biasanya karena pertimbangan faktor gengsi, bukan fungsi. Secara fungsional, cukup punya 1 sepeda motor/mobil untuk menunjang mobilitas. Tapi karena dikelilingi teman-teman yang bersaing soal “kemapanan”, akhirnya memaksa untuk menaikkan gengsi dengan kendaraan yang di atas kemampuan ekonominya. Honda Beat cukup, tapi lingkungan memaksa agar beli motor sport. Semata-mata agar terlihat kaya, bukan kaya beneran. Padahal pilar ekonominya rapuh. Di sini rawan kredit macet (jika belinya kredit lho ya).

Faktor gengsi ini yang rawan menjadikan diri kita kemaruk/kemrungsung/serakah. Faktor BOS (Barang, Orang, dan Situasi) yang terkadang membuat seseorang ingin eksistensinya diakui oleh lingkungan sekitarnya. Erich Fromm menyebut pola ini sebagai “Having Mode” alias bahagia dengan memiliki untuk dikoleksi atau dipamerkan. Dalam pola interaksi sosial menjelang lebaran, banyak kaum urban yang memilih untuk menggadaikan barangnya, semata-mata untuk membeli benda lain yang bisa dipamerkan saat pulang kampung, walaupun tetangga yang dipameri juga tidak peduli. Di sisi lain, dalam interaksi di dunia maya, kecenderungan seperti ini melahirkan aksi-aksi flexing, yang kemudian memunculkan istilah Crazy Rich dan Sultan, juga tayangan reality show bertajuk Sobat Misqueen (Trans7), Indosiar x 7 Crazy Rich Indonesia (Indosiar), dan Crazy Rich (Trans TV). Padahal aksi flexing ini bagian dari branding dan marketing, yang juga rawan manipulasi dan penipuan (ah, jadi ingat Indra Kenz).

Yang ketiga, aset dinamis. Ini berupa jaringan persahabatan. Aset ini yang harus diperhatikan, dirawat, dan dipertahankan. Sepintar apapun kita, kalau tak punya jaringan ya mandeg. Sekeren apapun kita kalau para sahabat menjauh karena karakter kita yang menyebalkan, kita bakal statis.

Soal aset dinamis ini, saya teringat pesan almarhum bapak saya, H Saifuddin Mujtaba (semoga Allah melapangkan kubur beliau), “Kalau kamu berpikir di dunia ini isinya hanya orang berperilaku buruk, nggak lama Allah bakal mewujudkan prasangkamu. Sebaliknya jika kamu berpikir masih banyak orang baik di sekitarmu, niscaya Allah menggerakkan mereka agar bersahabat denganmu.”

Wallahu A’lam Bishshawab