Belajar Mencintai Indonesia

Belajar Mencintai Indonesia

Bagikan sekarang

Oleh Rijal Mumazziq Z (Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah [INAIFAS] Kencong Jember)

“Kalau negara lain menge­muka­kan kemakmuran dan kemerdekaan (prosperity and liberty) seba­gai tujuan, maka negara kita lebih menekankan prinsip keadil­an daripada prinsip kemerdekaan itu.”

(KH. Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita, hlm. 168)

            Ketika memproklamasikan kemerdekaan, 17 Agustus 1945, para pendiri bangsa mencita-citakan sebuah negara yang selain bebas dari penjajahan, juga memiliki asas ketaatan terhadap hukum, menjamin kemerdekaan beragama, berserikat, dan berpendapat, serta berdaulat secara ekonomi, politik, pertahanan. Konsep kedaulatan ini dituangkan dalam pasal-pasal UUD 1945.

            Hanya saja, tidak semudah itu menegakkan cita-cita mulia ini. Banyak hambatan yang dialami. Baik karena faktor eksternal, maupun internal. Perlu usaha sungguh-sungguh agar ide visioner itu tidak hanya menjadi tulisan di atas kertas saja.

            Ketika membicarakan kemerdekaan Indonesia, maka ada dua hal yang pantas kita cermati. Pertama, kemerdekaan ini ada karena jerih payah pendahulu kita, lintas suku dan etnis, serta lintas agama. Mereka menihilkan sekat perbedaan, mengupayakan persatuan untuk menyongsong kemerdekaan, dan mewariskan hal berharga ini kepada kita. Kedua, kita memang tidak ikut berjuang secara fisik pada saat negara ini didirikan, maka menjadi kewajiban bagi kita mempertahankannya serta mengisinya agar cita-cita para pendiri bangsa dan para pejuang bisa diwujudkan. Mencintai Indonesia tidak membutuhkan dalil. Karena ini perkara asasi. Kalaupun ada yang menanyakan dalilnya, kita jawab, dalilnya sudah berulang kali disebutkan di dalam QS.Ar-Rahman, yaitu Fabiayyi ala-I Rabbikuma Tukadzdziban? Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kemerdekaan adalah sebuah nikmat dari Allah. Anugerah dari-Nya yang selain wajib kita syukuri, juga kita isi dengan aktivitas yang bermanfaat, agar kita tidak menjadi hamba-Nya yang kufur nikmat.

            Berbicara soal tujuan kemerdekaan dan aktivitas mengisinya, menarik apabila dalam hal ini kita menengok doa Nabiyullah Ibrahim alaihissalam yang diabadikan oleh Allah di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 126:

وَ إِذْ قالَ إِبْراهيمُ‏ رَبِّ اجْعَلْ هذا بَلَداً آمِناً وَ ارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَراتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ قالَ وَ مَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَليلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلى‏ عَذابِ النَّارِ وَ بِئْسَ الْمَصير

Dan( ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman:” Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”

Doa yang hampir sama dimunajatkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam di dalam QS. Ibrahim [14]: 35:

وَإِذْ قالَ إِبْراهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”

Ada satu aspek menarik yang pantas kita cermati dalam doa di atas. Yaitu Nabi Ibrahim  mendahulukan doa untuk keamanan negerinya, lantas disambung dengan kemakmuran penduduknya, kemudian dilanjutkan dengan permohonan agar Allah meneguhkan keimanan penduduknya, beserta anak cucu beliau.

Dalam Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli menjelaskan apabila doa ini dikabulkan oleh Allah dengan menjaga negeri Nabi Ibrahim alaihissalam, yaitu Makkah, sebagai sebuah tanah yang suci, yang tiada seorang-pun boleh dianiaya apalagi ditumpahkan darah di dalamnya, tiada satupun hewan yang boleh diburu, apalagi dirusak alamnya. Syihabuddin Al-Alusi, dalam Ruh al-Ma’ani, juga menandaskan, doa utama Nabi Ibrahim alaihissalam mengandung dua prioritas, keamanan dan kesejahteraan penduduknya.

            Ayat di atas juga menjadi bukti apabila para Rasul senantiasa mencintai tanah airnya. Sebagaimana Makkah yang berbarakah lantaran doa Nabi Ibrahim, Madinah al-Munawwarah juga dinaungi keberkahan lantaran doa Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Maka tidak heran jika hingga saat ini pun para ulama juga mengikuti langkah keduanya, yaitu senantiasa mendoakan keberkahan tanah airnya. Dalam setiap khutbah kedua menjelang shalat Jumat, selalu diselipkan doa bagi Indonesia dan bagi negeri muslim lainnya. Lagipula, di Indonesia, semakin sepuh usia seorang ulama, semakin sering beliau-beliau menyampaikan ceramah pentingnya mencintai Islam sekaligus mencintai Indonesia. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Islam adalah ruh, Indonesia adalah jasad. Saling menopang. Setidaknya ini bisa kita cermati dalam ceramah almaghfurlah KH. Maimoen Zubair, KH. A. Mustofa Bisri, KH. Miftachul Akhyar, KH. A. Mustofa Bisri, dan ulama lain.

***

Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, maka kita bersyukur apabila selama ini keamanan dan ketertiban negeri ini bisa dijalankan dengan baik, walaupun tentu saja masih ada kekurangan di sana sini. Ketika sebuah negara memiliki keamanan yang stabil, maka penduduknya bisa meningkatkan kesejahteraan ekonominya, menyalurkan aspirasi politiknya dengan baik, dan bisa menikmati akses pendidikan dengan baik pula.

            Aspek stabilitas keamanan ini belum kita jumpai di beberapa negara muslim di kawasan lain. Di Afganistan, Suriah, dan Libya, ketika terjebak perang saudara, maka fokus penduduknya tidak lagi pada peningkatan kesejahteraan, melainkan pada mempertahankan diri dan pemulihan keamanan. Anak-anak tidak lagi mendapatkan akses pendidikan yang layak, orangtua juga tidak bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Sebab, selain kekhawatiran menjadi korban kekerasan bersenjata, mereka merasa tidak aman. Jika sudah tidak merasa aman, maka pikiran juga tidak tenang. Jika pikiran kalut, maka bagaimana bisa diharapkan bisa nyaman di dalam belajar dan menjalani kehidupan.

            Di sinilah pentingnya kita menikmati kemerdekaan. Memang, tidak ada negara yang secara ideal bisa menyelenggarakan cita-cita mereka, namun secara lebih realistis Indonesia bisa memiliki tiga ciri sebuah negara damai: kemerdekaan berserikat dan berpendapat, akses pendidikan bagi penduduknya, dan peningkatan kualitas ekonomi warganya.

Diabadikannya doa Nabi Ibrahim alaihissalam di dalam dua ayat di atas, menjadi ibrah bagi kita, betapa pentingnya menjaga keamanan dan ketentraman sebuah negeri. Jangan sampai penduduknya saling bermusuhan, jangan lagi ada upaya memecah belah bangsa ini, dan kita berharap apabila setelah keamanan ini terpenuhi, maka Indonesia bisa menjadi sebuah negara sejahtera, sebagaimana indikator dalam doa Nabi Ibrahim alaihissalam di atas.

Kesejahteraan sebuah negara, antara lain, bisa dilihat dalam indeks kualitas sumberdaya manusianya dan income perkapita. Saat ini, tingkat pendidikan warga Indonesia semakin naik. Akses meraih beasiswa semakin variatif. Walaupun kue kesejahteraan masih dinikmati sebagian orang superkaya di Indonesia, namun kita bersyukur apabila peluang peningkatan kesejahteraan ekonomi bisa lebih terbuka saat ini. Hal ini bisa dilihat melalui semakin variatifnya cara “nggolek duwit” setelah merebaknya media sosial. Saat ini, anak-anak muda tidak lagi terpaku pada pekerjaan formal, melainkan lebih terbuka pada kerja kreatif yang cerdas. Menjadi vlogger, desainer freelance, youtuber, hingga pebisnis daring. Generasi ini tidak lagi “diatur oleh jadwal”, melainkan “membuat jadwal tersendiri”, tidak lagi menjadi karyawan bagi orang lain, melainkan menjadi majikan bagi diri sendiri. Lebih kreatif, inovatif, dan independen. Dulu, untuk mencapai derajat kemakmuran ekonomi, setidaknya minimal usia 30 tahun. Namun, saat ini bisa kita lihat anak-anak muda kreatif ini bisa mengembangkan bisnisnya sesuai dengan minat dan talentanya. Mereka menjadi tajir bahkan di bawah usia 30 tahun. Dulu, ibu rumahtangga tidak memiliki aktivitas sampingan. Namun hingga kini marketplace yang bervariasi rata-rata digerakkan oleh ibu-ibu muda yang bisa mengembangkan bisnisnya secara daring.

Saat ini, memang tidak perlu terjebak pada romantisme historis, melainkan pada upaya mengisi kemerdekaan Indonesia dengan baik. Yang sudah ada, kita pertahankan. Yang belum beres, kita perbaiki. Yang belum terealisasi, kita wujudkan. Yang sudah mapan, tidak usah dibongkar. Hanya dengan cara ini kita bisa membantu membumikan doa Nabi Ibrahim alaihissalam di tanah air tercinta, stabilitas keamanan, kesejahteraan yang membaik, dan iman penduduknya yang kokoh. Dengan cara ini, sebagaimana kata Gus Dur di awal tulisan ini, keadil­an bisa diwujudkan.

Kalaupun saat ini ada keluhan dan cacimaki atas kondisi Indonesia yang ironisnya dilontarkan oleh warganya, yang hanya berpikiran negatif atas tanah airnya, maka saya teringat dengan kalimat yang dilontarkan KH. Chamim Djazuli (Gus Miek) kepada Gus Dur, pada suatu ketika, “…Indonesia masih baik-baik saja, Gus. Yang belum baik itu, saya dan anda….”

Wallahu A’lam Bisshawab

Dirgahayu, Indonesia-Ku!

“Artikel ini telah dimuat di Majalah Madrasatul Qur’an Times Tebuireng, edisi Juli-September 2021”

Prof. Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi: Perpustakaan Berjalan

Prof. Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi: Perpustakaan Berjalan

Bagikan sekarang

@Rijal Mumazziq Z

Alhamdulillah, saya berguru ke beliau saat kuliah S1 dan S2 di UIN Sunan Ampel Surabaya. Sering pula sowan ke ndalemnya yang waktu itu ada di Wonokromo Surabaya. Beliau mengajar kelas kami mata kuliah Fiqh Siyasah dan Sejarah Peradaban Islam. Bahasa lisan dan tulisannya sama-sama bagusnya. Referensi yang beliau gunakan juga komplit: Indonesia, Arab dan Inggris. Maklum, alumni pesantren yang kemudian melanjutkan pendidikan strata duanya di Universitas McGill Kanada. Perpaduan kiai dan akademisi.

Saat mengajar, jika menjelaskan sesuatu secara lisan, beliau menyebut salah satu rujukan buku secara lengkap: nama penulis judul, penerbit, hingga daftar halamannya pula! Tak heran jika kami menjuluki beliau perpustakaan berjalan.

Di S1 pula, saya juga diajar beliau materi Filsafat Islam, dimana kewajiban kami saat itu meresensi buku “PARA PENCARI TUHAN: Dialog Al-Quran, Filsafat dan Sains dalam Bingkai Keimanan” karya Syaikh Nadim al-Jisr. Buku yang bagus dan bermutu. Menyajikan dialog-dialog filosofis tentang sains dan teologi. Yang asyik, beliau memberi Nilai A+ dan hadiah Rp 100.000 bagi beberapa resensi yang bagus. Saya dapat keduanya. Lumayan, nominal itu cukup buat makan dan ngopi seminggu.

Di S2 pada kampus yang sama, saya diajar beliau Ushūl Fiqh. Waktu itu saya diberi tugas menulis makalah pemikiran Dr. Ahmad Arraysūnī, pakar Ushūl Fiqh Maroko, yang dijuluki “juru bicara” Abū Ishāq Asy-Syathibī, peletak rancang bangun konsep Maqāshid Asy-Syarī’ah.

Awalnya, materi Ushūl Fiqh diasuh Prof. Dr. KH. Sjechul Hadi Permono, pakar zakat dan waris itu. Namun setelah wafatnya beliau, MK ini diampu oleh Prof Mawardi.

Waktu itu pula, pada 2011, buku karya Prof. Mawardi terbit. Judulnya “FIQH MINORITAS ; Fiqh Al-Aqalliyyāt dan Evolusi Maqāshid al-Syarī‘ah dari Konsep ke Pendekatan” yang diterbitkan LKiS Yogyakarta. Isinya mantab betul! Waktu itu, kami diminta untuk mendiskusikan buku tersebut di kelas, dan juga diminta oleh Prof. Mawardi untuk memberikan masukan dan kritik atas buku yang beliau tulis di atas. Sebuah pertanggungjawaban ilmiah yang menarik!

Selain tugas makalah, Prof. Mawardi juga meminta kami membaca dan menulis resensi atas novel karya budayawan-sastrawan Prof. Kuntowijoyo. Judulnya, “Impian Amerika”. Novel budaya yang asyik. Mengisahkan kurang lebih 30 orang diaspora Indonesia yang datang ke New York dengan tujuan masing-masing. Syakir dari Aceh, Suleman dari Madura, Sukiman dari Yogyakarta, dan sebagainya. Adaptasi budaya dan kecermatan dalam mempertahankan prinsip keIndoensiaan dirangkai dengan baik oleh Prof. Kuntowijoyo.

Tahun 2018, bulan April, acara diskusi dan pelatihan Metodologi Islam Nusantara digelar di Pesantren Alif Laam Min, Surabaya, yang diasuh Prof. Mawardi. Beliau bukan saja bertindak sebagai tuan rumah yang baik, melainkan juga sebagai pemateri yang ciamik. Kalau menyampaikan ulasan, walaupun tetap akademis dan ilmiah, Prof. Mawardi selalu menyelipkan dua kategori humor untuk menertawakan diri sendiri: joke tentang santri dan ledekan tentang orang Madura. Dua kategori yang melekat pada diri beliau.

Saya masih ingat dalam acara Pelatihan Metodologi Islam Nusantara tersebut, beliau menyampaikan joke orang Madura kaya yang sedang berada di restoran Eropa. Dia melihat tikus berkeliaran di sekitar meja. Karena lupa bahasa Inggris-nya tikus, tapi ingat sosok Jerry dalam serial kartun Tom and Jerry, akhirnya dengan percaya diri dan logat Madura yang kental, dia bilang ke pelayan, “Excuse me. There is Jerry here!” sembari menuding tikus di pojokan.

28 Januari 2020 silam, INAIFAS Kencong Jember mengundang beliau untuk menjadi pemateri dalam Studium Generale. Dalam kondisi yang masih capek setelah mengisi seminar di Turki, beliau langsung ke Kencong, Jember, memberi motivasi bagi adik adik mahasiswa. Penyampaiannya tetap menarik, sistematis, kaya data dan referensi, dan tentu saja humoris. Gestur tubuhnya juga khas saat memotivasi: berdiri, ekspresi wajah yang mendukung, juga berjalan kesana-kemari. Perpaduan komplit retorika ala mubalig dan kecerdasan akademisi. Lucu tapi penuh data!

Sebagai murid, tentu saya bersedih kehilangan sosok guru multitalenta seperti beliau. Namun melihat kiprahnya di dunia pendidikan dan dakwah, saya lega. Karena ilmu yang beliau berikan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Pesantren Alif Lam Mim yang beliau dirikan juga menjadi prasasti kepeduliannya atas pengembangan dakwah Islam berbasis pesantren di Kota Metropolitan Surabaya.

Selamat jalan, guruku. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya, menaungi alam kubur beliau dengan cahaya al-Qur’an dan shalawat…lahul Fatihah

Bu As dan Jalan Pengabdiannya

Bu As dan Jalan Pengabdiannya

Bagikan sekarang

@ Rijal Mumazziq Z

Sejak INAIFAS berdiri, 1998, Bu Hj. Nur Asiyah Jamil sudah bergabung sebagai staf. Di bagian bendahara, lantas menjadi staf administrasi umum. Semua mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen mengenalnya. Sebab beliau ujung tombak pelayanan.

Jadi, total 23 tahun beliau mengabdi di kampus hijau ini. Sejak kampus merintis perkuliahan di gedung TPQ Masjid Al-Falah Kencong, lantas pindah ke MA Yunisma, kemudian menempati gedung yang sekarang menjadi kampus induk. Dua dekade mengabdi dengan sepenuh hati dan keikhlasan. Di kancah sinematografi maupun olahraga, pengabdian ini biasanya diganjar dengan penghargaan Life Time Achievement Award. Dalam birokrasi negara, pengabdian hampir atau lebih dari dua dekade diberi Satyalancana Karya Satya. Untuk Bu As, atas pengabdiannya, insyaAllah INAIFAS juga akan memberikan penghargaan dan apresiasi atas loyalitas dan kerja kerasnya selama 23 tahun ini dalam wisuda mendatang. Walaupun tentu saja yang menerimanya adalah putranya. Mengapa?

Bu As, orang yang kami anggap sebagai ibu karena kesabaran dan ketelatenan menjadi penjaga gawang birokrasi kampus, pagi ini, Sabtu 14 Agustus 2021, berpulang ke Rahmatullah. Beliau wafat setelah dirawat di RS Haryoto Lumajang. Semenjak dirawat, setiap hari, para dosen, struktural kampus senantiasa mendoakan bersama-sama dan menanyakan perkembangan kondisinya kepada putra yang menjaganya di RS.

Soal nama yang disandangnya, Nur Asiyah Jamil, saya pernah bertanya ke beliau. Mengapa namanya sama dengan salah satu penyanyi religi legendaris kelahiran Medan, yang lagu-lagunya, antara lain “Panggilan Haji” dan “Selimut Putih” populer di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei di era 1970-an hingga dasawarsa berikutnya.

Saat itu, Bu As menjawab kurang lebih, mungkin ayah saya (KH. Imam Bashori) mengagumi penyanyi ini lalu menyematkannya saat saya lahir. Beliau menjawab sambil tersenyum ramah, sebagaimana cirikhasnya.

Ya, selama bergaul dengan Bu As, mahasiswa dan alumni mengenangnya sebagai pribadi yang ramah, grapyak, dan telaten. Para dosen dan tenaga kependidikan juga mengenangnya demikian, selain kedisiplinannya dan kesabarannya. Tidak pernah kita jumpai Bu As mengeluh dalam melayani mahasiswa yang meminta pelayanan birokrasi. Juga tidak pernah kita jumpai wajahnya muram. Selalu tersenyum. Mengesankan. Kesan ini pula yang tampaknya melekat pada para alumni.

Seringkali, ketika bertemu alumni yang lama tidak ke kampus, mereka menanyakan kabar Bu As. Apakah sehat? Apa masih kerja di INAIFAS. Saya jawab, ya. Mereka lega. Artinya, Bu As telah memberi kesan mendalam pada alumni melalui pelayanannya yang ramah dan manusiawi saat mereka menjadi mahasiswa.

Bu As memang menjaga penampilannya. Selalu rapi. Lengkap sudah dengan keceriaan dan ketenangannya dalam meladeni mahasiswa. Agar tetap santai, di komputer-nya tersedia lagu kenangan dan musik India. Dua corak musik ini yang menjadi kesukaannya. Saat pelayanan tidak ramai, biasanya Bu As menyetelnya agak nyaring. Dan, kami yang ada di ruangan akademik, menikmati pilihan lagunya.

Kalau ngobrol dengan siapapun, Bu As menempatkan diri sebagai pendengar yang baik. Tidak pernah menyela omongan tapi merespon dengan penuh perhatian. Posisi duduknya juga selalu menghadap lawan bicaranya. Kalaupun yang mengajak ngobrol adalah orang yang usianya di bawahnya, biasanya menggunakan kata Mas atau Mbak. Jika masih mahasiswa, beliau memanggilnya dengan sapaan “Dik, Le (tole) atau Nduk.” Nguwongke Uwong. Memanusiakan Manusia.

Kalaupun Bu As menerima pemberian, dari jajan, makanan, atau hadiah, beliau menerima dengan raut gembira. Muka yang berseri-seri dengan iringan ucapan terimakasih. Jika beliau punya rezeki, biasanya dibagi ke para sahabat di kampus. Dari makanan, buah hingga jajanan. Semua kebagian.

Salah satu keteladanan yang sulit kami tiru dari Bu As adalah kedisiplinannya. Pukul 13.00 WIB sesuai dengan jadwal ngantor, beliau selalu tiba tepat waktu. Biasanya mengendarai Honda Beat putih kesayangannnya. Kalaupun meleset, maksimal hanya 5 menit. Padahal beliau juga punya kesibukan di rumah. Selain merawat suami yang sakit dalam beberapa tahun ini, Bu As juga mengontrol sawah miliknya. Jadi sebelum berdinas di kampus, beliau menyelesaikan urusan pribadinya lebih dulu. Dari beres-beres rumah, aktif di kegiatan kemasyarakatan, hingga mengantar konsumsi bagi para penggarap sawahnya. Jika sudah beres, tuntas, baru berangkat dari rumahnya di Kraton, Kencong.

Ketika jadwal kerja berakhir pukul 16.30 WIB, beliau langsung melakukan absen via finger print, sebagaimana absen kedatangan. Mas Amak Fadholi, bendahara kampus, mengenangnya sebagai salah satu pegawai yang absen finger print-nya jarang kosong. Nyaris penuh saban bulan. Tentu, Bu As juga mendapatkan kompensasi nominal atas kedisiplinannya, karena kampus telah menyediakan tunjangan kehadiran dan kedisiplinan pegawai.

Ketika tiba dan berpapasan dengan para sahabat di kampus, Bu As selalu melontarkan pertanyaan khas, “Bagaimana kabarnya? Sehat nggih?”
Sebuah pertanyaan yang mengandung perhatian dan doa. Perhatian ini pula yang saya dapatkan dua hari setelah ibu saya wafat. Bu As chat, memberi belasungkawa, sekaligus memberi motivasi berharga agar kuat sepeninggal ibu. Ya Allah….

Sebagai pegawai yang dituakan, baik dalam waktu pengabdian maupun secara usia, kami melihatnya bukan saja sebagai sosok senior, melainkan ibu. Sebab, semua struktural INAIFAS usianya di bawah beliau. Kalaupun ada rapat rutinan saban Selasa, Bu As pula yang dengan sabar belanja kesana-kemari mempersiapkan konsumsi. Demikian pula jika kampus punya gawe besar, Bu As lah yang mengkoordinir teknis perdapuran.

Beliau adalah tipikal ibu yang merawat bayi STAIFAS, lalu tumbuh berkembang menjadi INAIFAS, dan juga tetap mengawal menuju kedewasaan menjadi Universitas.

Selamat jalan Bu As, kami selalu merindukan panjenengan. Rindu yang tak mungkin terbalas, tentu saja, adalah ketika merindukan orang yang tak mungkin kembali.

Mewakili kampus, atas nama rektor, saya turut berempati dan berbelasungkawa atas wafatnya Bu Hj Nur Asiah Jamil. Mohon dimaafkan atas kesalahannya, dan kita mendoakan semoga khidmah beliau di INAIFAS dicatat sebagai amal jariyah yang pahalanya senantiasa mengalir dan menerangi alam kuburnya. Lahal Fatihah

Gus Mus dan Romantismenya

Gus Mus dan Romantismenya

Bagikan sekarang

@ rijal mumazziq z

Pada 18 Maret 2017, bersama Mas Ach Tirmidzi Munahwan, saya jualan buku di pintu gerbang masuk Pondok Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang. Saat itu ada acara pertemuan alim ulama. Acara ramai, jadi saya buka lapak. Waktu itu, saya juga diajak Kiai Labib Asrori dan Gus Cholil Mustamid Asrori ke ndalemnya Gus Abdullah Muava Aly.

Setelah bakulan selesai, kami menuju Leteh, Rembang. Di jalan, saya dicegat maskaji Hamam Muhlishun. Juragan kopi ini mentraktir kami gurami bakar dan degan bakar. Enak banget. Setelah kenyang, barulah kami menuju Leteh.

Di sana ada acara kopdar. Ketemuan dengan Kiai Yahya Cholil Staquf, Mbah Triwibowo Budi Santoso, Gus Rizal Wijaya, Mas Arif Jauhari, Mbak Kalis Mardiasih, Maskaji Mas Achmad Muchammad, Mas Imam Badrus Samsi, Mas Munawir Aziz dan sebagainya. Ketemu, ngobrol dan makan sambel terong bersama di atas talam. Sudah enak, guyub pula.

Menjelang shalat Isya’, saya duduk di aula mushala di samping ndalem. Tak disangka, KH. A. Mustofa Bisri datang mau ngimami shalat. Alih-alih langsung menyalami beliau, saat itu ada  perasaan aneh menjalari hati saya. Terpesona, lebih tepatnya. Sosok Gus Mus berjalan anggun. Wajahnya, seperti biasa memancarkan keteduhan. Adem. Beliau berkemeja putih, bersarung putih, dan berpeci putih. Rambut dan alis beliau juga memutih. Serba putih. Elegan dan mempesona. Wangi, pula.

Teman-teman yang lain mengerubungi beliau, mencium tangannya dengan takzim. Saya masih terpaku. Tidak ikut merubung, hanya mengamati dari luar kerumunan. Beberapa detik saya menikmati perasaan ini. Maknyes di hati. Seneng. Bahagia karena untuk kedua kalinya saya bisa menatap beliau secara langsung, setelah pisowanan pertama kali pada 2014 bersama sahabat Mas Ahsanul Fuad.

Dalam sowan kali itu pula, saya minta izin membalagh Tafsir al-Ibriz dalam pengajian rutin di desa. Tafsir ini karya ayahanda beliau, KH. Bisri Mustofa. Beliau memberi izin setelah saya cerita jika saya sewaktu MTs mengaji Tafsir al-Ibriz dan Al-Iklil (karya adik Kiai Bisri, yaitu KH. Misbah Zainal Mustofa), secara sorogan kepada pakde saya, (alm.) KH. Achmad Zaini Syafawi, pengasuh PP. Mabdaul Ma’arif, Jombang-Jember. Saya meminta izin, semata-mata untuk mencari keridhoan dzuriyah KH. Bisri Mustofa, juga menyambung sanad keilmuan agar semakin berbarakah.

*

Soal sastra dan kajian kepuisian karya Gus Mus, sudah banyak yang membahas, dari artikel jurnal, skripsi, mungkin pula tesis. Sudah banyak. Juga kupasan dalam buku. Puisi-puisi Gus Mus memang asyik, menggelitik dan menyentil. Karena itu dijuluki “Puisi Balsem”. Hangat, mungkin pula panas menyengat, tapi menyembuhkan. Puisinya sederhana tapi bermakna, sebagaimana karya Kiai D. Zawawi Imron. Puisi beliau berdua, bagi saya, enak dinikmati dan tidak njlimet. Juga tidak berpretensi mengolah-alih kata hingga merumit-rumitkan kalimat. Tahu sendiri-kan, di Indonesia, biasanya semakin sulit dipahami sebuah puisi, semakin dianggap bermutu. Semakin bikin pening dan multitafsir, semakin dinilai keren. Inilah salah kaprah itu. Sehingga banyak puisi berjarak dengan kenyataan. Mengawang-awang. Selain Gus Dur, hampir semua karya Gus Mus saya koleksi dan meminta beliau menandatangani semua karyanya, tatkala saya sowan pertama kali, Mei 2014. Yang lucu, ada salah satu buku antologi tulisan tentang perempuan, dimana kolom beliau dijumpai di dalamnya, namun Gus Mus sendiri sudah tidak mengkoleksi bukunya.

“Wah, beli dimana buku ini. Saya sendiri sudah tidak punya.” kata beliau sambil terkekeh.

Satu hal lagi yang menjadi teladan bagi saya pribadi. Gus Mus dan (almarhumah) Bunyai Fatma dalam banyak kesempatan selalu foto berdua. Posenya sederhana tapi magnetik. Senantiasa berdampingan. Mepet. Seringkali Gus Mus yang menempatkan tangannya di pundak istri. Foto mangetik yang memancarkan cinta. Tidak memperlihatkan kemesraan secara ekstravagan dan “norak”, tapi menebarkan aura kedamaian. Memberi pesan kepada siapapun yang melihat, bahwa keduanya saling mendukung satu sama lain. Menyiratkan pesan, kami pasangan yang lama menikah dan terus belajar mencintai satu sama lain.

Karena itu, jika ada sebagian orang yang malu mengajak istrinya berfoto juga enggan menampilkan foto berdua di media sosial, dengan dalih budaya maupun agama, Gus Mus lain.

Saya melihatnya dalam wujud seorang suami yang bangga dengan keberadaan istri di sampingnya. Di berbagai foto beliau berdua, saya melihat kasih sayang Gus Mus yang memperlihatkan sosok pendamping hidupnya, sigaring nyawanya (separuh jiwanya), dan ibu yang melahirkan buah hatinya. Sebuah gambar yang memberi pesan, bahwa ada peranan istri dalam pribadi suami. Dan, hanya suami yang keren yang bisa mendudukkan istri setara di sampingnya.

Jejak romantisme Gus Mus juga bisa terlacak dari berbagai sajak, yang secara khusus dibuatkan untuk belahan jiwanya. Salah satu puisi cinta Gus Mus yang saya sukai adalah “Sajak Cinta”. Anda bisa mendengarkannya di kanal Youtube GusMus Channel.

SAJAK CINTA

Cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta Romeo kepada Juliet si majnun Qais kepada Laila
belum apa-apa
temu pisah kita lebih bermakna
dibandingkan temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam
dan Hawa

aku adalah ombak samuderamu
yang lari datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir bagai badai anginmu

aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu
aku adalah titik-titik hurufmu
kata-kata maknamu

aku adalah sinar silau panasmu
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu

aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu

aku adalah a-k-u
k-a-u
mu

Ketika sang istri wafat, 30 Juni 2016, Gus Mus secara khusus membuatkan puisi untuk garwa-nya, yang kemudian di-posting di laman fesbuknya.

AKU MELIHATMU

aku melihatmu
tersenyum bersama embun pagi
aku melihatmu
bernyanyi bersama burung-burung
aku melihatmu
bergerak bersama mentari bersama angin dan mega-mega
aku melihatmu
terbang bersama sekumpulan burung gereja
aku melihatmu
berenang bersama ikan-ikan dan lumba-lumba

aku melihatmu
meratap bersama mereka yang kelaparan
aku melihatmu
merintih bersama mereka yang kehausan
aku melihatmu
mengaduh bersama mereka yang kesakitan

aku melihatmu
berdendang bersama ibu yang meninabobokkan anaknya
aku melihatmu
melangkah bersama hamba yang berjuang menggapai citanya

aku melihatmu dalam gelap
aku melihatmu dalam terang
aku melihatmu dalam ramai
aku melihatmu dalam senyap

aku melihatmu
kau melihatku.

Ramadan 1437 H

Di kesempatan lain, dampingi Prof. Quraish Shihab, beliau membacakan puisi untuk istri di acara Mata Najwa.

SIDIK JARI

di sini sidik jarimu ada di mana-mana
ada di jendela
ada di seantero ruang ini
maka alibimu tak bisa diterima
kau tak mungkin
di tempat lain.

(Awal Syawal 1437)

Jika belum cukup membuktikan romantisme beliau, bisa dilihat dalam sebuah foto yang di-posting di fesbuk. Foto beliau sendirian, disertai kepsyen menarik. Lirik cinta yang padat dan indah. “Pedih bagaimanapun, kuterima rindu ini sebagai hukuman atas cintaku padamu…” tulis Gus Mus.

Dari Gus Mus, kita belajar bahwa pernikahan adalah proses saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Dawuh Gus Mus dalam salah satu cuitannya di Twitter, 24 November 2013, menandaskan hal itu. “Pria mendambakan istri yang sempurna. Perempuan memimpikan suami yang sempurna. Keduanya tidak tahu bahwa mereka diciptakan untuk saling menyempurnakan.”

Wallahu A’lam Bisshawab

Pondok Pesantren: Noktah Awal Peradaban Islam Indonesia[1]

Pondok Pesantren: Noktah Awal Peradaban Islam Indonesia[1]

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z[2]

Mendiskusikan pesantren, berarti membicarakan kiprah lembaga yang berusia lebih dari setengah millennium. Walaupun menjadi sentra pendidikan Islam, namun keberadaannya juga menjelma lembaga sosial, kultural, bahkan politik. Untuk memahami sejarah Islam di Indonesia, maka mula-mula harus melihat salah satu unsur terpentingnya, yaitu pendidikan. Dan, salah satu lembaga yang tahan banting hingga saat ini di dalam mewujudkan peradaban Islam di Indonesia adalah pondok pesantren.

Ciri pesantren, menurut Zamakhsyari Dhofier, ditandai dengan lima unsur utama: kiai, santri, pengajaran kitab kuning, asrama/pemondokan, dan masjid.[3] Kelima pilar ini menjadi syarat mutlak. Ada kiai tanpa santri, tanpa masjid, tanpa asrama, maka diragukan kualitasnya. Ada masjid, ada kiai, ada santri, tapi tak ada asrama, maka itu disebut majelis taklim. Ada kiai, santri, pengajaran kitab, tapi tak ada asrama dan masjid, maka itu disebut madrasah diniyah. Ada asrama, tapi tiada kiai dan santri, tanpa pengajaran, maka itu hanya pemondokan alias hotel.

Dalam kajian historis, keberadaan pesantren ini berkembang sejak era Walisongo. Unsur-unsur kependidikan yang sudah mengakar di Jawa tidak dibuang. Melainkan direformasi dan dimodifikasi. Di wilayah pedagogik, pesantren dan etika relasi kiai-santri-masyarakat sebagian diramu dari watak pendidikan Jawa saat itu, dari Mandala, Ashram, hingga Padepokan, dan sentuhan kitab etik bagi pelajar seperti Ta’limul Muta’allim dan pesulukan. Aguk Irawan MN telah melacak akar etika pesantren ini dalam bukunya Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara (Dari Era Sriwijaya sampai Pesantren Tebuireng dan Ploso).[4] Dalam perkembangannya, pesantren memiliki orisinalitas yang berbeda dengan konsep kuttab, madrasah dan jami’ah. Dari sini kita bisa menilai apabila pesantren bukan saja menjadi fondasi pendidikan Islam saja, melainkan juga para dinamisasi budaya. Yang tidak sesuai dengan misi dakwah dan pendidikan dibuang, yang masih relevan dipertahankan dan dikembangkan. Karena dinamika ini, maka hingga setengah millennium, pesantren menjadi sebuah ”warisan pendidikan dan budaya” yang tetap anggun hingga kini.

Ampel Denta dan Giri Kedaton: Prototip Awal Pesantren Sebagai Kaderisasi Dai

Di era Walisongo, pesantren telah menjadi kawah candradimuka kaderisasi para dai yang hendak dikirim ke luar Jawa. KH. Abdul Ghafur Maimoen, dalam sebuah seminar yang digelar di Surabaya dalam rangka Haul Sunan Ampel,[5] menilai apabila Ampel Denta, tanah perdikan yang dipimpin oleh Sunan Ampel di Surabaya, telah menjadi lahan persemaian kaderisasi dai ini. Para santri yang dianggap sudah mumpuni, dikirim ke wilayah Nusantara Timur melalui rute armada dagang yang dikelola dengan baik oleh Nyi Gede Pinatih, salah satu saudagar kaya di Tuban. Sang saudagar ini, selain memuat komoditas ekspor, juga mengangkut para santri Sunan Ampel ke wilayah timur. [6]

Sunan Giri, anak angkat Nyi Gede Pinatih, kemudian menjadi santri kinasih Sunan Ampel. Kelak beliau melanjutkan proyek Islamisasi wilayah Nusantara Timur. Beliau kemudian mendirikan Giri Kedaton sebagai titik pijak penyebaran Islam. Jika di Sumatera ada Kerajaan Aceh yang punya reputasi politik dan dakwah jempolan dalam kurun abad ke-XVI-XVII, maka di era yang semasa, Giri Kedaton memainkan peranan yang sama. Khususnya pada penguatan jaringan Islam di Nusantara Timur.

Dalam salah satu perbincangan, Gurutta Ahmad Baso, penulis yang konsen di penelaahan naskah klasik Nusantara menjelaskan apabila di kemudian hari, Giri Kedaton menjadi sentra pendidikan kaum bangsawan muslim dari wilayah timur. Seorang pangeran bakal dikirim ke Giri Kedaton yang berlokasi di Gresik, belajar agama dan tata negata, sebelum kemudian dilantik menjadi raja. Raja-raja kepulauan Maluku, Sulawesi dan Sumbawa banyak menempuh pendidikan di Giri Kedaton. Para santri lainnya diutus Sunan Giri menebarkan Islam di Gowa, Tallo, Bali, Sumbawa, Ternate, Banjar dan beberapa kepulauan lain. Termasuk kawasan pesisir Papua. Proses islamisasi di Papua bahkan berjalan penuh tantangan. [7]

Giri Kedaton kemudian menjadi perlambang restu bagi para sultan dari berbagai daerah. Tak sah rasanya jika seorang sultan belum mendapatkan legitimasi dari Giri Kedaton. Dengan demikian, Giri Kedaton yang di awal fokus pada pendidikan dan dakwah, mulai merambah wilayah politik.  Jika Gajahmada dianggap sebagai “pemersatu” Nusantara melalui kiprah politiknya, maka Sunan Giri bisa disebut sebagai pemersatu melalui kiprah pendidikan dan dakwahnya, sebagaimana pendapat KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia.

Argumentasi Kiai Abdul Ghofur Maimoen dan Gurutta Ahmad Baso di atas dikuatkan dengan tulisan Hilful Fudhul Sirajudin Jaffar. Penulis asal Bima ini mengupas jaringan Walisongo ini dalam Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur. Buku ini bagus kita telaah untuk membantah anggapan dakwah Islam di luar Jawa hanyalah proyek “Jawanisasi” sebagaimana sinisme beberapa tokoh. Berbagai naskah lokal, yang bersumber dari notula dakwah maupun catatan para penulis keraton luar Jawa di masa silam, menunjukkan relasi erat, alih-alih dominasi budaya Jawa atas daerah lain, antara Jawa sebagai sentral dengan kawasan lain sebagai penyangga. Sanad ilmiah, ideologis dan ruhaniah yang tersimpul rapi satu dengan lainnya. Kajian Lontara di Bugis, dari Lontara Gowa, Lontara Wajo, Sangaji Kai, dan sebagainya juga memperkuat pendapat simpul keilmuan yang kokoh ini.[8]

Di sisi lain, Sunan Kalijaga memilih melakukan kaderisasi di setiap daerah. Ada banyak jejak keberadaan salah satu walisongo yang dikaruniai usia panjang ini, yang biasanya ditandai dengan adanya petilasan. K.Ng.H. Agus Sunyoto, dalam Atlas Walisongo, mengurai jejak dakwah Sunan Kalijaga di berbagai kepulauan di Nusantara, berikut juga jejaring-jejaring para santrinya.[9]

Dari ini, kita bisa melihat apabila sejak awal, para Walisongo melakukan upaya inovatif dalam menjalankan misi dakwah Islam. Bukan menggunakan kekuatan politik, melainkan menitikberatkan pada aspek dakwah dan kiprah kependidikan. Ini yang tampaknya menjadi kunci dari keberhasilan dakwah damai di kawasan Nusantara yang membentang dari Pattani, Malaysia, Singapura, Brunei, Mindanao-Filipina, dan Indonesia.

Amongrogo, Diponegoro dan Referensi yang Digunakan di Pesantren Jawa Abad XVIII-XIX

            Berbeda dengan era Walisongo yang masih dalam proses pembentukan awal pesantren, di era Kesultanan Mataram hingga era Ngayogyakarta dan Kartasura, kronik yang menyebutkan keberadaan pesantren dan nama pengasuhnya, sangat terbatas. Kecuali kita dapati dalam salah satu mahakarya R. Ng. Yasadipura II, Serat Centhini.[10] Syekh Amongraga, keturunan Sunan Giri, dikisahkan menjadi santri kelana yang melakukan rihlah ilmiah di berbagai pesantren di sekujur Pulau Jawa.

Dalam pengelanaan ini, sebagaimana diceritakan dalam Serat Centhini, yang dijuluki sebagai Ensiklopedi Jawa, terlacak bahan bacaan para santri saat itu (abad XVIII-XIX). Di bidang pekih, menggunakan MukarrarSudjakKitab Ibnu KajarIlahSukbah, dan Kitab Sittin. Selain itu, dalam bait-bait Centhini, juga tertera kitab di bidang teologi. Antara lain, SemarakandiKitab DuratTalmisanAsanusiPatakul MubinBayan TasdikSail, dan Djuahiru. Dalam bidang tafsir, disebut Tepsir Djalalen dan Tepsir Baelawi. Di bidang tasawuf, digunakan silabus kitab-kitab yang mengajarkan kesempurnaan hidup dan pola tazkiyatun nafs, antara lain NglumudinAdkia, dan Insan Kamil. Selain Insan Kamil karya al-Jili yang filosofis dan rumit, semua referensi di atas masih mayoritas digunakan oleh para santri hingga saat ini. [11]

Dalam perkembangannya, kita temukan juga sudut pandang yang menarik atas referensi yang digunakan di berbagai pesantren pada saat Pangeran Diponegoro hidup. Selain Taqrib, sang pangeran juga mempelajari al-Muharrar-nya Imam Ar-Rafi’i (w. 623 H/1226 M) dan Lubab al-Fiqh karya al-Mahamili (w. 415 H/1024 M). Di sisi lain, dia juga belajar Fath al-Wahhab karya Zakariyya al-Anshari (w. 926 H). Ketika pada akhirnya bergerilya, Diponegoro mengajarkan Taqrib dan juga kitab politik At-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk karya Imam al-Ghazali, kepada para bangsawan pendukungnya. Sedangkan Kiai Mojo, penasehatnya, kebagian tugas mengajarkan Fath al-Wahhab kepada para laskar ulama. “Bahkan, kitab fiqh ini dijadikan sebagai rujukan dalam bernegosiasi dengan kompeni Belanda saat mengajukan perundingan damai.” tulis Ahmad Baso dalam Islam Nusantara: Ijtihad Jenius dan Ijma’ Ulama Indonesia.[12]

Di bidang politik, Pangeran Diponegoro menggunakan kitab Taj al-Salatin karya Bukhari al-Jauhari, seorang keturunan Persia yang mengabdi di era Sultan Sayyidil Mukammil (1588-1604), Raja Aceh. Kitab yang diselesaikan pada 1603 ini berisi etika menjalankan pemerintahan bagi para birokrat. Termasuk, ada riwayat jika Sang Pangeran di masa mudanya mempelajari karya Syekh Nurruddin Ar-Raniri, berjudul Bustanus Salatin. Karya sebanyak tujuh jilid yang dinilai oleh Azyumardi Azra sebagaireferensi yang tak tergantikan dalam merekonstruksi sejarah awal Islam di wilayah Melayu-Indonesia.[13] Selain dua karya di atas, ada juga kitab berbahasa Melayu yang dirujuk oleh sang pangeran. Judulnya Sulalat al-Salatin. Karena terkesan dengan beberapa kitab ini, ia kemudian merekomendasikannya kepada adiknya, calon Sultan Hamengkubuwono IV, manakala sedang ditempa di keraton.

Selain itu, Diponegoro mulai menyukai tasawuf dengan mengagumi kitab Topah alias al-Tuhfat al-Mursalah ila Ruh an-Nabi karya Muhammad bin Fadlullah al-Burhanpuri, India. Jadi, kitab Topah ini bercorak tasawwuf dan banyak digunakan dalam penguatan ruhaniah pengikut Tarekat Syattariah yang saat ini berada di keraton. Dengan demikian, kitab Topah  yang disebutkan dalam Babad Diponegoro adalah karya al-Burhanpuri, bukan Tuhfat al-Muhtaj-nya Imam Ibn Hajar al-Haitami, bukan pula Tuhfat at-Thullab karya Imam Zakariya al-Anshari maupun Tuhfat al-Habib al-Bujairimi, dimana ketiganya merupakan corak kitab fiqh.

Di samping mempelajari kitab-kitab di atas, pangeran juga mempelajari etika seorang negarawan dan ketatanegaraan yang diadopsi dari karya klasik Arab dan Persia seperti At-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk karya Imam al-Ghazali. Bacaan-bacaan fiqh dan tasawwuf yang dimamahbiak sang pangeran beserta para anggota kerajaan lain, masuk di lingkungan istana melalui jejaring para ulama yang ada di pesantren, juga di masjid pathoknagari, yang dikelola oleh ulama birokrat kerajaan.[14]

Dalam karyanya, Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, Peter Carey menulis sebuah fase ketika sudah akil balig, Raden Mas Ontowiryo, nama lahir Diponegoro, menggunduli rambutnya, menggunakan pakaian ala santri, menyamar dengan menggunakan nama Abdurrahim, dan menjalani kehidupan sebagai santri kelana. Menjelajahi beberapa pesantren yang ada, sowan kepada para ulama, dan mengunjungi makam-makam keramat di wilayah kekuasaan ayahnya.

Pisowanan yang dia lakukan sejak belia ini yang menjadi salah satu penyebab kuatnya dukungan di kalangan ulama kelak ketika dia mendeklarasikan Perang Jawa (1825-1830). Dalam catatan Carey, kurang lebih ada 108 kiai, 31 haji, 15 syekh, 12 penghulu Keraton Yogyakarta, dan 4 kiai-guru (mursyid tarekat) yang turut berperang bersama Diponegoro. Yang paling terkenal tentu saja Kiai Mojo, ideolog Perang Jawa yang banyak disebut sebagai penasehat spiritual-intelektual sang pangeran. Juga penghulu Kiai Muhammad Bahwi, yang kelak dalam Perang Jawa dikenal sebagai Muhammad Ngusman Ali Basah. Sebelumnya ia mengabdi sebagai ketua forum ulama Masjid Suranatan (masjid pribadi Sultan). Tokoh lainnya adalah Haji Badaruddin, komandan korps Suranatan yang sudah dia kali naik haji atas biaya keraton dan memiliki pengetahuan tentang sistem pemerintahan Turki Usmani.[15]

Dari berbagai referensi yang digunakan di masa Diponegoro, maupun yang tertera dalam naskah Serat Centhini, alam pengetahuan kalangan santri saat itu sangat kosmopolit. Bukan saja naskah berbahasa Arab yang digunakan, melainkan juga Melayu, Jawa Kuno, dan juga terjemahan dan saduran dari bahasa Persia.

Pesantren dan Konsep Think Globally Act Locally

Salah satu ciri mendasar pesantren adalah ikatan historisnya yang kokoh dengan lokasi dimana ia berdiri. Semacam memperkuat akar kebudayaan dan penguatan unsur lokalitas. Pesantren kuno, yang berdiri dalam kurun abad ke 18 hingga dua abad setelahnya, lebih terkenal dengan nama desa. Gebang Tinatar, Ponorogo;[16] Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, Lirboyo, Sidoresmo, Sidogiri, Ploso, Rejoso, Genggong, Paiton, Sukorejo, semua di Jawa Timur; Guluk-Guluk, Bata-Bata, Banyuanyar, Kademangan, di Madura; Kajen, Tegalrejo, Sarang, Leteh, di Jawa Tengah; Krapyak Yogyakarta, hingga di Suryalaya, Cipasung, Buntet, di Jawa Barat: semua adalah nama desa. Keberadaan pesantren turut mempopulerkan nama kampung-kampung ini.

Desa adalah penyangga peradaban, sokoguru yang menopang orang-orang hebat, tapi seringkali dipandang remeh sebagai wilayah periferal, tidak kosmopolit, ketinggalan zaman, dan anggapan pejoratif lainnya. Namun, berkat kiprah para kiai ini, kita memahami bahwa mereka bukan saja senafas dengan kehidupan orang kampung, melainkan juga mempopulerkan desa kelahirannya, atau lokasi tempat mereka mendirikan pesantren ke kancah nasional, bahkan internasional. Para kiai pendiri ini mengikuti jejak para pendahulunya yang selalu bangga dengan identitasnya sebagai “wong ndeso” dan identitas primordialnya: Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Tarmasi, Syekh Sholeh bin Umar As-Samarani, Syekh Mukhtar al-Bughuri, Syekh Baqir al-Jugjawy, Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Khatib Minangkabawi, Syekh Khatib As-Sambasi, Syekh Abdul Ghani al-Bimawi, Syekh Yusuf al-Maqassary, dan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, dan sebagainya.

Penisbatan diri dengan nama daerah asalnya ini memang menjadi ciri khas tradisi keilmuan Islam. Dalam salah satu dawuhnya, Mbah Maimoen Zubair menegaskan kebanggaan ulama dahulu terhadap kampungnya. Cirinya, menisbatkan nama diri dengan tempat kelahirannya. Biasanya dengan menambahkan ya’ nisbat diakhir nama kampung/kotanya. Misalnya, Imam Abu Zakaria An-Nawawi, yang dinisbatkan pada nama desa Nawa, daerah Hauran, Suriah. Ada juga ad-Damanhuri, Assuyuthi, al-Bukhari, al-Kindi, al-Asfihani, an-Naisaburi, al-Baihaqi, al-Jailani, hingga Imam as-Sya’rani yang dinisbatkan pada kampung Saqiyah Abu Sya’rah (Mesir) dst.

Pola penisbatan semacam ini berbeda dengan tradisi di kawasan Maghribi (Afrika Utara), yang lebih menyukai penempelan nama kabilah. Misalnya, karena berasal dari kabilah Sanusi, maka Syekh Muhammad bin Yusuf, penulis Ummul Barahin, menggunakan As-Sanusi di belakang namanya. Termasuk kabilah Jazulah yang merupakan asal dari Syekh Sulaiman al-Jazuli, penyusun Dalail Khairat. Yang paling kondang tentu saja Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud alias Ibnu Ajurrum, penyusun kitab nahwu Jurumiyah, yang menggunakan nama Asshanhaji karena beliau lahir dari kabilah Shanhajah.

Berpikir global bertindak lokal ini juga bisa lacak dari peran pesantren sebagai juru rawat bahasa lokal. Dalam tradisi pembacaan kitab klasik di pesantren, lazim kita jumpai penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa maknawi (makno gandul) dan bahasa pengantar dalam bentuk metode sorogan (tutorial) dan bandongan (seminar). Jawa, Sunda, Madura, Melayu, antara lain bisa kita jumpai dalam tradisi ini.

 Bagi saya, ini adalah upaya jenius dalam melindungi kepunahan bahasa-bahasa lokal, sungguhpun di dalam memaknai kata per kata, banyak sekali kosakata bahasa daerah yang mulai asing karena jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Misalnya, mertela-ake (menerangkan), ndepe-ndepe (merendahkan diri), kepailan (paceklik), rojokoyo (hewan peliharaan), pepaes (perhiasan), aris (murah hati), dodot (pakaian), melanggeri (memberi definisi), dan seterusnya. Ini adalah bahasa Jawa namun penggunaannya sehari-hari nyaris tidak dijumpai. Namun, di pesantren, istilah ini tetap terlestarikan dalam frekwensi ilmiah untuk memaknai kata berbahasa Arab. Di dalam penggunaan bahasa Sunda, Madura, maupun Melayu, tampaknya juga akan dijumpai beberapa kosakata lokal yang sudah punah.

Jangan lupa, pelestarian kosakata Jawa ini bisa berlangsung dengan baik juga berkat “bantuan” aksara Arab-Pegon, abjad Hijaiyah yang telah dimodifikasi sesuai dengan tradisi intelektual di Jawa, Sunda, dan Madura, yang secara penulisan sedikit berbeda dengan Arab-Jawi (Melayu). Di lain pihak dalam ruang lingkup yang sama, para ulama kita juga menganggit kitab berbahasa lokal. Misalnya yang dilakukan Syekh Soleh Darat, KH. Asnawi Kudus, KH. Bisri Mustofa, Ajengan Hasan Mustofa, Ajengan Ahmad Sanusi, Habib Utsman bin Yahya, dan sebagainya. Sebuah upaya menjaga agar identitas dan jatidiri tidak luntur.

Selain dua aspek penjaga kebudayaan di atas, pesantren memiliki kontribusi dalam ruang lingkup yang lebih besar sebagai lembaga yang banyak melahirkan para mujahidin dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Tidak perlu saya ulas panjang lebar bagaimana perjuangan para ulama dan santri ini.[17] Sudah gamblang nan jelas. Cetho Welo-Welo dalam istilah Jawa.

Masih ada banyak aspek menarik dari pesantren yang perlu dikupas lebih lanjut. Misalnya, sanad ilmu dan rohani para ulama pesantren, relasi antara kiai dengan satu kiai lain melalui “besanan”, tradisi ilmu hikmah, kanuragan, dan pertabiban, tradisi kepenulisan dalam multibahasa (Arab, Indonesia, dan daerah), kiprah politik kebangsaan para kiai, jaringan internasional ulama Nusantara dengan Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Selatan, dan sebagainya.

Yang pasti, mengabaikan keberadaan pesantren dalam lanskap sejarah peradaban Islam Indonesia adalah sebuah hal yang ahistoris, antiklimaks, dan ironis.

Wallahu A’lam Bisshawab


[1] Makalah ini disampaikan dalam Studium Generale dengan Tema “Pesantren dan Sejarah Islam di Indonesia”, yang diselenggarakan oleh Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta, Kamis, 12 Agustus 2021.

[2] Penulis adalah Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah (INAIFAS) Kencong Jember.

[3] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai (Jakarta: LP3ES, 1995), 44-60.

[4] Selengkapya bisa dibaca dalam Aguk Irawan MN., Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara (Dari Era Sriwijaya sampai Pesantren Tebuireng dan Ploso) (Bandung: Iiman, 2019).

[5] Seminar Nasional “Metode dan Dakwah Sunan Ampel Sebagai Fondasi Islam di Indonesia” dalam rangka Haul Agung Kanjeng Sunan Ampel 568. Diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel (STIBADA MASA) & Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) Jawa Timur di Hotel Pesona Surabaya, 30 April 2017.

[6] Dalam cerita yang berkembang, Nyi Gede Pinatih inilah yang ‘menemukan’ peti berisi bayi yang terapung di lautan. Bayi ini dinamakan Jaka Samudra, alias Raden Paku, kelak bergelar Sunan Giri. Anak Maulana Ishaq dengan putri raja Blambangan. Semacam ‘Pangeran yang Terbuang’ dalam mitologi berbagai negara, yang akhirnya bisa menjadi raja.

[7] Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa, dalam rihlah dakwahnya di Papua, pernah menuturkan apabila di di tengah perjalanan naik mobil menuju pedalaman, dirinya ketiduran. Di dalam mimpi, beliau didatangi sosok berjubah berwajah Arab, yang mengaku apabila dirinya terbunuh saat berdakwah di kawasan ini ratusan tahun silam. Mimpi yang menyadarkan betapa beratnya medan dakwah di masa lampau.

[8] Kecurigaan, atau sinisme sebagian orang atas “Jawanisasi” yang dilakukan oleh Walisongo dulu, dan para santri Jawa yang berangkat dakwah di luar pulaunya, dulu dan sekarang, hanyalah asumsi prematur. Dugaan yang mengalami ejakulasi dini. Terburu-buru. Ceroboh. Sebab, dalam buku tersebut Hilful Fudhul sebagai peneliti menyajikan ulasan yang bertumpu pada manuskrip-manuskrip lokal.

[9] Selengkapnya baca Agus Sunyoto, Atlas Walisongo (Bandung: Iiman, 2017).

[10] Serat Centhini yang kita kenal sekarang ini dalam 12 jilid yang terdiri dari 772 satuan bait (baca: “pada”) dikarang di zaman Pakubuwana V di tahun Jawa 1742 atau 1814 M. Kemungkinan besar pangeran Mataram yang kelak bergelar Pakubuwana V inilah yang menunjuk dewan penulis yang terdiri dari: R.Ng Yasadipura II, Raden Ranggasutrasna, serta Raden Sastradipura. Kita tahu, Yasadipura II, sang pujangga keraton tersebut, adalah santri Kiai Kasan (Iman) Besari di Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo, tempat pelarian Pakubuwono II saat pemberontakan Tionghoa (Geger Pacinan, 1742) pecah. Ronggasutrasno pujangga Istana terkemuka penggubah beberapa tembang, sedangkan R. Ng. Sastradipura pernah pernah tercatat mengganti namanya menjadi Ahmad Ilhar setelah kepulangan Haji dari tanah Mekkah, serta mengarang berbagai suluk terkemuka. Selengkapnya bisa dibaca dalam Irfan Afifi, SayaJawa, dan Islam (Yogyakarta: Tanda Baca, 2019).

[11] Ulasan atas sastra Jawa-Islam klasik yang asyik bisa kita jumpai dalam karya Nancy K. Florida, Jawa-Islam di Masa Kolonial, Irfan Afifi (ed.) (Yogyakarta: Buku Langgar, 2020).

[12] Ahmad Baso, Islam Nusantara: Ijtihad Jenius dan Ijma’ Ulama Indonesia (Jakarta: Pustaka Afid, 2015), 71.

[13]  Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia (Jakarta: Kencana, 2004), 228.

[14] Sebagai bangsawan Jawa, Diponegoro juga menyukai karya adaptasi klasik seperti Bharatayudha, Serat Rama, Bhoma Kawya, Arjuna Wijaya, dan Arjuna Wiwaha. Catatan ini disebutkan dalam Babad Kedungkebo. Naskah ini ditulis oleh Cokronegoro I, Bupati Purworejo pertama, sahabat Pangeran Diponegoro saat berguru kepada Kiai Taftazani (Taptojani), dan lantas menjadi menjadi lawannya dalam Perang Jawa. Cokronegoro I yang memihak Belanda telah menjadi “pemandu jalan” dalam gerilya di wilayah Bagelen (1825-2830). Ia dibantu Basah Abdullatif Pangalasan, salah satu komandan laskar Diponegoro yang menyerah, dalam proses menulis Babad Kedungkebo yang berisi lika-liku Perang Jawa versi dirinya dan Belanda, dan menjadi manuskrip penting selain Babad Diponegoro yang ditulis oleh Sang Pangeran. Keren sekali, detail Perang Jawa yang ditulis oleh dua lelakon penting.

Selain itu, teks lain yang diajarkan kepada sang pangeran adalah Joyo Lengkoro Wulang yang salinannya pernah ditemukan di markas besar pasukannya di Goa Selarong pada Oktober 1825. Naskah berbahasa Jawa ini menjelaskan aspek-aspek kenegarawanan dalam bentuk kisah seorang pangeran muda yang berkelana (lelono) ke seluruh Jawa dan berjumpa dengan banyak guru sekuler, guru agama, dan guru mistik. Menurut Peter Carey dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855), ini adalah teks yang memiliki daya tarik universal di antara elit keraton, yang menjadi lambang cita-cita pendidikan ideal bagi para ksatria muda.

[15]  Selengkapnya baca Zainul Milal Bizawie, Jejaring Ulama Diponegoro: Kolaborasi Santri dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Awal Abad ke-19 (Jakarta: Pustaka Compass, 2019).

[16] Pesantren kuno yang didirikan oleh Kiai Ageng Muhammad Besari. Terletak di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Menjadi tempat suaka politik Pakubuwono II, Raja Kasunanan Kartasura, saat terjadi kudeta atas dirinya, 1742. Pesantren ini juga menjadi tempat berguru Ranggawarsita dan kakeknya, R. Ng. Yasadipura II, penyusun Serat Centhini. Mencapai puncak keemasan di era Kiai Ageng Hasan Besari, cucu Kiai Ageng Muhammad Besari.

[17] Zainul Milal Bizawie, salah satu sejarawan NU, mengupas kontrubusi kiai dan santri ini, antara lain, melalui tiga karya terbaiknya: Jejaring Ulama Diponegoro: Kolaborasi Santri dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Awal Abad ke-19 (Jakarta: Pustaka Compass, 2019), Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama Santri (1830-1945) (Jakarta: Pustaka Compass, 2016), dan Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad: Garda Depan menegakkan Indonesia (1945-1949) (Jakarta: Pustaka Compas, 2014).

Luqman Hakim dan Pendidikan Akhlak Bagi Anak

Luqman Hakim dan Pendidikan Akhlak Bagi Anak

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Hadirin yang Dimuliakan oleh Allah

            Alhamdulillah pada kesempatan Jumat ini, Allah memberi kita rezeki berupa umur dan kesehatan sehingga kita bisa melaksanakan ibadah kali ini. Kita selalu berharap apabila Allah segera melenyapkan wabah ini dan kita bisa berinteraksi sosial dengan normal sebagaimana sebelumnya. Tiada sikap seindah bersyukur kepada Allah, dan tiada pangkat mulia, kecuali derajat al-Muttaqin. Oleh karena itu, marilah kita selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannnya agar kita termasuk orang-orang yang bertaqwa.

Jamaah Jum’at yang berbahagia

Di dalam al-Qur’an, ada beberapa pribadi spesial. Di antaranya, Luqman al-Hakim. Beliau bukan Rasul, tapi namanya diabadikan di dalam Al-Qur’an menjadi nama surat. Namanya Luqman bin Faghur bin Nakhur bin Tarih. Dalam salah satu riwayat, beliau merupakan keponakan Nabi Ibrahim AS. Dikaruniai usia 1000 tahun, hingga menjumpai zaman Nabi Dawud. Awalnya beliau menjadi mufti, lantas ketika Dawud Alaihissalam diangkat menjadi Nabi, beliau meninggalkan jabatan muftinya dan memilih menjadi murid Nabi Dawud. Ini adalah berdasarkan riwayat yang termuat dalam Tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa.

Dalam versi lain, beliau diceritakan berasal kawasan Afrika. Ada beberapa orang kulit hitam yang istimewa: Bilal bin Rabah, Mihja’ budaknya Umar bin Khattab, Luqman al-Hakim, dan Raja Negus (Najasyi). Hal ini berdasarkan salah satu hadits yang dikutip oleh KH. Thoifur Ali Wafa, dalam Tafsir Firdaus al-Na’im Bi-taudhihi Ma’ani Ayatil Qur’anil Karim.

Jamaah Jum’at yang Berbahagia

Sosok istimewa ini diabadikan kisahnya oleh Allah di dalam Surat Luqman. Dalam ayat 12 hingga 19, Allah mengabadikan percakapannya dengan putranya. Perbincangan penuh kasih sayang. Obrolan yang mendidik penuh hikmah. Selain menekankan ibadah vertikal kepada Allah, Luqman juga menandaskan sikap yang harus dimiliki seorang manusia di hadapan manusia yang lain.

Di dalam Ayat 12, Luqman berpesan kepada anaknya tentang pentingnya rasa syukur. Di dalam ayat berikutnya, dia berpesan agar menjaga ketauhidan. Sedangkan di ayat ke 14 dan 15, Luqman berpesan agar berbakti kepada orangtua. Adapun dalam ayat ke 16, tentang balasan semua amal yang dikerjakan. Dan, dalam ayat berikutnya, Luqman berpesan tentang pentingnya shalat, berdakwah, dan bersabar.

Adapun dalam khutbah Jum’at kali ini, saya fokus pada pembahasan pendidikan akhlak yang berdimensi sosial kemasyarakatan. Dalam Surat Luqman ayat 18, beliau berpesan kepada anaknya agar jangan bersikap sombong dan angkuh.

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman : 18)

Melalui ayat ini, pendidikan akhlak yang pertama adalah tentang sikap tawadlu’, rendah hati, dan larangan sombong. Tidak boleh seseorang merendahkan orang lain karena perbedaan strata ekonomi, warna kulit, suku dan perbedaan lainnya. Hal ini berkaitan dengan etika kehidupan sosial. Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban bagi seorang ayah untuk mula-mula mengajarkan sikap rendah hati kepada buah hatinya, sebagaimana dicontohkan oleh Luqman Hakim.

Dalam sebuah hadits diceritakan sikap Rasulullah ketika berjumpa dengan orang lain. Beliau selalu menampakkan wajah gembira, tersenyum ramah, dan ketika berkomunikasi, selalu menghadapkan tubuhnya kepada lawan bicaranya. Tidak memalingkan muka, apalagi mengabaikan lawan bicaranya. Sebuah akhlak yang luhur dan etika berkomunikasi yang baik yang dicontohkan beliau shallahu alaihi wasallam.

Sedangkan dalam ayat ke- 19 dari Surat Luqman, beliau memberi pesan:

 Artinya: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Dalam Tafsir Jalalain, perintah agar sederhana dalam berjalan di dalam ayat tadi ditafsirkan sebagai sikap tengah-tengah, atau tidak berjalan terlampau cepat juga tidak lambat. Berjalan dengan anggun. Adapun suara keledai berarti suara meringkik dan melengking. Suara keras yang tidak enak didengar. Dengan demikian, Luqman berpesan agar di dalam melangkah tidak terlampau cepat dan pelan, melainkan berjalan dengan baik. Demikian pula dengan berkomunikasi, tidak bersuara keras yang bisa mengganggu lawan bicaranya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Apa yang saya sampaikan tadi adalah pendidikan dasar akhlak. Pelajaran etika sosial kemasyaraatan. Saat ini ada banyak orangtua yang bangga dengan capaian pendidikan anak, tetapi abai dalam pendidkan akhlak dan dasar-dasar pergaulan sosial. Sehingga ada banyak contoh, anak yang berbicara keras dan membentak mereka yang lebih tua. Bahkan, berani melakukan tindakan kasar kepada orangtuanya. Dalam hal ini, kita harus ingat, apa yang dilakukan anak seringkali bermula dari sikap orangtua yang memberi contoh buruk. Anak adalah peniru ulung. Dia belajar dari lingkungannya. Dari sekelilingnya. Dan, yang lebih mengkhawatirkan adalah, apa yang kita lakukan kepada orangtua kita saat ini, baik atau buruk, itulah yang akan dilakukan oleh anak kita kelak. Dalam Pepatah Arab disebutkan:

Artinya: “Contoh perbuatan lebih berpengaruh daripada perkataan.”

Dengan demikian, mula-mula orangtua harus memberi teladan. Jika orangtua memerintahkan anak beribadah, maka dia harus memberi contoh terlebih dulu. Apabila orangtua menunjukkan sikap baik kepada lingkungan sosial, maka anak akan belajar menirunya, baik dalam ucapan maupun tingkah laku. Inilah yang disebut dengan psiko-sosial, ketika secara psikologis manusia dibentuk oleh lingkungan sosial di sekitarnya, dan kemudian ikut mempengaruhi perubahan sosial pula.

Khutbah II