Pembaruan Pesantren Menjawab Tantangan

Pembaruan Pesantren Menjawab Tantangan

Bagikan sekarang

Wawancara Majalah AULA (Juni 2022) dengan Rijal Mumazziq Zionis, Rektor INAIFAS Kencong, Jember.

Gagasan pembaruan pendidikan pesantren yang dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim pasca pulang dari belajar di Makkah. Pembaruan dimulai dari sistem, metode pembelajaran hingga kurikulum pendidikan. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan santri.


Bagaimana anda melihat sosok Kiai Abdul Wahid Hasyim?

Sebagai seorang yang lahir, dididik, dan besar di kalangan pesantren, arus pemikiran Kiai Wahid Hasyim sangat kental dengan nilai-nilai Islam. Berkat kecerdasan yang luar biasa dan pergaulan yang luas, membuat dunia pergaulan Kiai Wahid Hasyim tidak hanya terbatas di lingkungan pesantren saja. Ia tampil menjadi tokoh nasional yang ikut mewarnai sejarah kemerdekaan, dan salah satu yang membidani konstitusi di Indonesia.

Bagaimana anda melihat sosok Kiai Wahid Hasyim sebagai tokoh pembaruan pesantren?

Gagasan pembaruan pendidikan pesantren dari Kiai Wahid Hasyim bisa dilacak semenjak ia pulang dari belajar di Makkah. Sejak saat itu ia mulai aktif membantu ayahnya mendidik para santri. Karena memiliki semangat perubahan yang tinggi dan didukung basis epistemologi Islam dan keilmuan modern, maka yang ia lakukan adalah mengupayakan pembaruan pendidikan di pesantrennya. Dalam berbagai pemikiran dan tindakannya, Kiai Wahid Hasyim menekankan perlunya pesantren melakukan inovasi agar up-date dan bergerak dinamis dengan ritme gelombang perkembangan zaman.

Dinamika sistem pendidikan pesantren adalah pergeseran, perubahan dan perkembangannya pesantren sesuai dengan perkembangan zaman. Dan faktor yang tidak bisa dipungkiri adalah relevansi kualitas dari sistem pendidikan pesantren sangat tergantung pada kualitas kiai sebagai tokoh kunci.

Melihat itu, menurut anda apa yang dilakukan Kiai Wahid Hasyim untuk pesantren?

Peningkatan kualitas para santri. Di antara sasaran perubahan yang ia lakukan adalah; metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar, tujuan dan harapan santri belajar di pesantren dan pengenalan mata pelajaran dari Barat. Secara garis besar pembaruan pendidikan yang dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim bisa diklasifikasikan dalam beberapa aspek: metode pengajaran, kurikulum dan pembaruan institusi.

Menurut anda pembaharuan apa yang dilakukan Kiai Wahid Hasyim?

Pembaruan di bidang metodologi pengajaran. Selain peran aktif seorang guru, yang paling menentukan keberhasilan pembelajaran adalah metode yang digunakan. Metode atau Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan.

Apakah ada perubahan pada metode pengajaran di pesantren yang dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim?

Ada. Kiai Wahid Hasyim mengkritik dua metode pembelajaran yang diterapkan di pesantren yaitu sorogan dan bandongan. Pada sistem sorogan, seorang guru harus mengawasi, menilai, dan membimbing secara individual kemampuan seorang santri. Di sisi lain, santri juga dituntut harus “mempresentasikan” kemampuannya dalam membaca kitab kuning face to face dengan sang kiai.

Sedangkan pada sistem bandongan, seorang guru akan membacakan, menerjemahkan, menerangkan, dan mengulas sebuah kitab kuning di hadapan sekelompok santri yang mendengarkan dan menyimak penjelasan tersebut sambil memberi catatan pada kitab miliknya sendiri. Namun Kiai Wahid Hasyim tidak ingin menghapus metode pengajaran ini, hanya saja ia mengusulkan untuk mengadopsi sistem tutorial, sebagai ganti dari metode bandongan.

Menurutnya, metode bandongan sangat tidak efektif dalam mengembangkan inisiatif santri. Hal ini disebabkan karena di kelas dimana metode bandongan diterapkan, santri hanya datang mendengar, menulis, dan menghafal pelajaran yang diberikan; tidak ada kesempatan bagi santri untuk mengajukan pertanyaan atau mendiskusikan pelajaran.

Kiai Wahid Hasyim sampai pada kesimpulan awal bahwa metode bandongan membuat santri pasif. Sistem bandongan menutup rapat pintu kreativitas dan inisiatif santri karena hanya berlangsung satu arah. Dialog antara kiai dan santri menjadi sesuatu yang “tabu” dalam metode bandongan.

Lantas apa tawaran Kiai Wahid Hasyim?

Untuk itulah ia menawarkan ide tentang pengajaran memakai metode tutorial. Metode ini tidak harus dilakukan oleh kiai secara langsung, tetapi juga bisa dilakukan oleh para santri senior selaku badal (wakil) dari kiai. Dengan metode ini, para santri dibiasakan untuk terlibat dalam diskusi intensif dengan para tutornya.

Selain itu, nampaknya dengan menerapkan sistem ini, Kiai Wahid Hasyim berharap dapat mengurangi hubungan patron-klien yang masih sangat kuat di antara kiai dan santri.

Selain itu, Kiai Wahid Hasyim juga mengoreksi harapan para santri belajar di pesantren. Ia mengusulkan agar kebanyakan santri yang datang ke pesantren tidak berharap menjadi ulama. Oleh karena itu mereka tidak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam mengakumulasi ilmu agama melalui teks-teks Arab.

Mereka dapat memperoleh ilmu agama dan buku-buku yang ditulis dengan huruf latin dan menghabiskan sisa waktunya untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dibarengi kemampuan menguasai keterampilan yang berguna secara langsung di tengah masyarakat dimana mereka berada.

Apakah ide Kiai Wahid Hasyim langsung diterapkan kala itu?

Dua usulan di atas masih belum diterima oleh KH M Hasyim Asy’ari, sebab ide putranya masih dianggap radikal dan bertolakbelakang dengan pemikiran para kiai saat itu.

Apakah Kiai Wahid menawarkan ide alternatif dalam pengembangan pesantren?

Ada. Seperti para santri tidak perlu menghabiskan waktu sampai puluhan tahun untuk belajar bahasa Arab dan mengakumulasi pengetahuan dari para kiai berbagai pesantren. Para santri dapat mempelajari agama Islam dari buku-buku yang ditulis dengan bahasa non-Arab. Para santri dapat memfokuskan waktunya untuk mempelajari berbagai pengetahuan dan keterampilan lainnya yang dapat digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri dan masyarakat.

Selain itu, adakah pembaharuan pesantren yang dilakukan oleh Wahid Hasyim?

Gagasan pembaruan pendidikan yang monumental adalah saat Kiai Wahid mempelopori berdirinya Madrasah Nizamiyah pada tahun 1935. Berdirinya Madrasah Nizamiyah berawal Kiai Wahid Hasyim melihat terbatasnya mata pelajaran yang diberikan di pesantren, membuat santri sulit bersaing dengan temannya yang belajar dengan menggunakan sistem pendidikan Barat.

Kelemahan santri, kurangnya penguasaan terhadap ilmu-ilmu Barat, seperti penguasaan bahasa asing dan keterampilan hidup. Dengan dibekali keterampilan hidup, ia berharap para santri mampu bersaing untuk memperebutkan posisi dan peranan penting di masyarakat sebagaimana lulusan lembaga pendidikan umum.

Apa keunggulan madrasah Nizamiyah?

Madrasah Nizamiyah memakai kurikulum integral antara ilmu agama dan ilmu umum. Kiai Wahid menolak anggapan adanya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Karena itulah, yang pertama kali ia lakukan melalui Madrasah Nizamiyah adalah dengan memperbarui kurikulum.

Institusi baru yang digagas oleh Kiai Wahid Hasyim menggunakan ruang kelas dengan kurikulum 70% pelajaran umum dan 30% pelajaran agama.
Meskipun ia tak pernah mengenyam pendidikan di sekolah Barat yang dikelola Belanda, akan tetapi dengan visi pendidikannya, Kiai Wahid memperkenalkan ilmu-ilmu umum (sekuler) di Madrasah Nizamiyah, seperti aritmatika, sejarah, geografi, dan ilmu pengetahuan alam, lalu disertai dengan pelajaran bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda.

Apakah ini tidak dikatakan kotomi ilmu?

Ada dualisme sistem pendidikan antara pendidikan agama Islam dan pendidikan umum yang memisahkan kesadaran keagamaan dan ilmu pengetahuan. Dualisme ini, bukan hanya pada dataran pemilahan tetapi masuk pada wilayah pemisahan, dalam operasionalnya pemisahan mata pelajaran umum dengan mata pelajaran agama, sekolah umum dan madrasah, yang pengelolaannya memiliki kebijakan masing-masing.

Sistem pendidikan yang dikotomik pada pendidikan Islam akan menyebabkan pecahnya peradaban Islam dan akan menafikan peradaban Islam yang kaffah (menyeluruh).

Penghapusan dikotomi keilmuan ini sesungguhnya jauh-jauh hari telah dilakukan oleh Kiai Wahid melalui gagasan praksis pembaruannya. Kesadaran akan tradisi keagamaan dan pandangannya akan pentingnya logika rasional telah banyak mempengaruhi pemikiran Kiai Wahid.

Kiai Wahid tetap proporsional memposisikan antara keduanya, sebagaimana tergambar dan tertuang dalam kebijakannya, saat menjadi Menteri Agama, untuk mendirikan Sekolah Guru Agama Islam (SGAI) yang memuat kurikulum-kurikulum umum.

Dengan memasukkan pelajaran-pelajaran umum tentu akan membentuk paradigma integratif dan interkonektif bagi guru-guru Agama sebagai tenaga pengajar yang berperan besar dalam menciptakan generasi unggulan dalam rangka mencipatakan masyarakat madani.

Menurut anda apa yang ada di dalam Madrasah Nizamiyah?

Pemikiran Kiai Wahid Hasyim tentang bahasa yang jauh hari sebelumnya ia terapkan di Madrasah Nizamiyah dengan memasukkan pengajaran bahasa asing. Selain itu, akibat dari terobosan melalui Madrasah Nizamiyah, maka jumlah santri juga semakin membludak. Ia dianggap sebagai pilot project pengembangan pesantren di masa depan. Selain itu, Kiai Wahid berusaha membawa terobosan di bidang pendidikan pesantren ini saat ia menjabat sebagai Ketua Departemen Pendidikan NU (LP Maarif).

Ia membentuk panitia kecil yang mendiskusikan kemajuan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan NU. Seperti madrasah umum di antaranya Madrasah Awwaliyah (dua tahun masa belajar), Madrasah Ibtidaiyyah (tiga tahun masa belajar), Madrasah Tsanawiyah (tiga tahun masa belajar), Madrasah Mu’allimin Wusta, Madrasah Mu’allimin Ulya. Kedua yaitu Madrasah Ikhtisasiyyah (sekolah dengan keahlian khusus), Madrasah Qud’at (sekolah hukum), Madrasah Tijarah (sekolah ekonomi), Madrasah Nijarah (sekolah kehutananan), Madrasah Zira’ah (sekolah pertanian).

Apakah itu semua diterapkan hingga saat ini?

Tidak semua. Hanya kategori pertama yang bisa dilaksanakan, sedangkan kategori kedua belum bisa dilaksanakan karena terbatasnya ahli yang dimiliki oleh kalangan pesantren maupun NU di bidang tersebut. Hal ini sesungguhnya menjadi tantangan bagi pesantren era sekarang untuk mengambangkan apa yang telah digagas oleh Kiai Wahid melalui berbagai varian lembaga pendidikan Islam di atas. Dengan demikian, pesantren memiliki kapasitas melahirkan kader-kader yang tak hanya mahir di bidang keagamaan saja, melainkan juga bisa mendayagunakan kemampuan terbaiknya untuk masyarakat.

Lantas apa dasar pendekatan pembaruan pendidikan yang dilakukan Kiai Wahid Hasyim?

Pada dasarnya ada tiga pendekatan pembaruan pendidikan yang dilakukan pada waktu itu, yaitu pengIslaman pendidikan sekuler modern, menyederhanakan silabus-silabus tradisional dan menggabungkan cabang-cabang ilmu pengetahuan lama dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan modern. AWH memilih melakukan aspek yang ketiga. Dengan demikian terjadi keseimbangan pola pikir para santri.

Apa strategi pembaruan pendidikan yang digagas oleh Kiai Wahid ini dikatakan berhasil, menurut anda?

Strategi pembaruan pendidikan yang dilakukan oleh Kiai Wahid, bisa dikatakan berhasil, karena beberapa hal penting yang selama ini diabaikan oleh kalangan modernis. Pertama, pembaruan yang dilakukan oleh Kiai Wahid tidak urban bias, maksudnya mengakar dan menyentuh akar rumput, karena para santri dan siswa madrasah umumnya adalah dari kalangan grass root. Kedua, meskipun membawa aroma modern, akan tetapi Kiai Wahid tidak menyerang dan mengucilkan ulama tradisional, karena sebagian besar umat Islam Indonesia berada di bawah pengaruh para ulama. Ketiga, kapasitas pribadi Kiai Wahid cukup mumpuni untuk melakukan proses pembaruan didukung dengan faktor kecerdasan, geneologis pesantren dan implikasi pergaulan dengan tokoh pergerakan Islam dari berbagai kelompok.
(Rofii Boenawi)

Khilafah, Negara Islam dan Pancasila

Khilafah, Negara Islam dan Pancasila

Bagikan sekarang

Hasil wawancara dengan saya (Rijal Mumazziq Z) ini dimuat tim redaksi di Majalah Al-Ittihad milik PP. as-Sunniyyah Kencong Jember, edisi 55/th. XVIII/1442 H.

Menurut anda apa sebenarnya khilafah itu?

Secara etimologi, khilafah berasal dari kata khalafa, artinya menggantikan atau menempati posisi. Sedangkan secara istilah, Imam al-Mawardi memaknai khilafah sebagai sebuah kepemimpinan umum dalam wilayah agama dan dunia sebagai pengganti Nabi Muhammad (ri-asatun ‘ammatun fi amrid-din wan dunya khilafatun ‘anin-Nabiy shallallahu ‘alaihi wasallam). Karena itu, pengganti Rasulullah disebut dengan khalifah, dan yang paling terkenal tentu saja al-Khulafa’ Ar-Rasyidun.

Karena konsep kepemimpinan itu senantiasa dinamis mengikuti alur zaman dan konteks sosial politik yang melingkupinya, maka pola pemilihan pemimpin yang sebelumnya bisa berlangsung dengan beberapa versi, seperti musyawarah antar Muhajirin dan Anshor di Tsaqifah Bani Sa’idah yang menghasilkan kompromi politik dengan mengangkat Sayyidina Abu Bakar sebagai pengganti (khalifah) Rasulullah.

Lalu menggunakan penunjukan sebagaimana Sayyidina Umar bin Khattab ditunjuk oleh Abu Bakar sebagai penggantinya. Dipilih melalui tim formatur sebagaimana yang dialami Sayyidina Utsman bin Affan, maupun dipilih secara langsung dan massif oleh rakyat sebagaimana dialami oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Coba dilihat, macem-macem kan? Namun ketika kepemimpinan umat beralih ke tangan Sayyidina Mu’awiyah bin Abi Sufyan, maka berubah menjadi kerajaan. Ana Awwalul Muluk, kata Sayyidina Mu’awiyah. Jadilah teokrasi. Dinasti politik. Kepemimpinan diwariskan berdasarkan genetika, ke anak cucu dan seterusnya. Akhirnya jadi dinasti. Pasif, dan tidak lagi dinamis seperti era khalifah empat.

Jadi saya kita pemahaman kayak begini ini, yaitu melalui bahasa dan aspek kesejarahan yang harus kita awali untuk lebih jelas membahas khilafah.

Bagaimana pandangan anda tentang khilafah?

Menurut saya khilafah itu memang bagian dari peradaban Islam. Bagian dari sejarah. Ini nyata, dan harus diakui, termasuk ketika Turki Utsmani runtuh. Itu juga bagian dari sejarah, lho. Namun, ketika sudah tidak ada lagi kekhalifahan yang ada, maka siyasah alias politik ini terus berkembang. Dan, umat Islam yang tinggal di berbagai wilayah bebas mengembangkan sistemnya masing-masing, tidak harus sama persis dengan kekhalifahan yang telah ada sebelumnya.

Misalnya, Maroko, Brunei Darussalam dan Saudi Arabia bercorak mamlakah (kerajaan), ada juga ke-amir-an seperti di Uni Emirat Arab, juga ada yang modelnya kayak Pakistan dan Iran yang mengklaim diri sebagai Republik Islam, juga ada yang kayak Malaysia dan Indonesia yang tidak mau menjadi “negara agama”, melainkan “negara beragama” atau bukan “Negara Islam” tapi “Negeri Muslim”.

Ini bagian dari Ijtihad politik masing-masing umat Islam di kawasannya? Sah-sah saja. Malah menarik, sebab ekspresi politik kenegaraan alias Siyasah Dusturiyah-nya berbeda-beda.

Kalau sekarang ada kelompok yang hendak mendirikan khilafah, bagi saya aneh. Mereka terjebak pada romantisme historis. Padahal zaman terus bergerak dinamis. Kalau dulu khalifah menjadi pusat kekuasaan, secara politik, intelektual dan spiritual, sekarang kekuasan sudah dipecah dalam wujud eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Ada mekanisme check and balance di antara ketiga lembaga tersebut, dan masa jabatan dibatasi, tidak lagi absolut.

Lagi pula, sampai saat ini mayoritas negara berpenduduk muslim menolak konsep negara khilafah yang sejak awal ditawarkan dan diperjuangkan oleh Syekh Taqiyyudin An-Nabhani itu. Bagi saya hidup itu kudu realistis. Nggak usah muluk-muluk mendirikan khilafah, jika sampai saat ini saja Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak mampu mewujudkan satu pun kampung ideal versi mereka. Awali dulu membentuk komunitas terkecil yang bisa melaksanakan cita-cita An-Nabhani, lalu berpikir soal negara.

Manusia memang aneh. Sering berpikir mau mengubah dunia, tapi dia sendiri gagal mengubah dirinya menjadi lebih baik. Hahahaha. Kan begitu kata Leo Tolstoy, sastrawan Rusia itu?

Sebenarnya apa substansi dari gagasan khilafah tersebut?

Baik Hizbut Tahrir maupun ISIS (Islamic State in Iraq and Syam) itu ingin umat Islam bersatu di bawah naungan khilafah. Mereka pengen kayak zaman Khulafa’ Ar-Rasyidun atau era kekhalifahan. Masalahnya, sekarang siapa yang ditawarkan jadi khalifah? Abu Bakar al-Baghdadi yang ditawarkan ISIS, atau Raja Salman (Arab Saudi), Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei) atau Pak Ismail Yusanto (juru bicara HTI) atau yang lain? Siapa di antara mereka yang mau, juga umat mana yang mau membaiat mereka? Belum lagi mekanisme pemilihannya, pakai cara apa? Konstitusinya menganut versi siapa, HT? ISIS? Atau kombinasi?

Buru-buru mikir khilafah, OKI alias Organisasi Konferensi Islam yang menghimpun negara-negara muslim saja lebih banyak nggak kompak dalam menyikapi isu sensitit umat Islam, seperti Palestina, Chechnya, Suriah, Rohingnya, dan seterusnya.

Apakah khilafah bisa ditegakkan di Indonesia?

Kalau saat ini, nehi, no, nggak bakal bisa. Alasannya, pertama, selama NU dan Muhammadiyah masih bergerak aktif menjadi benteng konstitusi dan moral Indonesia, cita-cita pengasong gagasan khilafah tidak akan pernah terwujud. Kedua organisasi ini berdiri sebelum Indonesia merdeka dan perwakilan keduanya, yaitu KH. A. Wahid Hasyim (NU) dan KH. Prof. Kahar Muzakkir (Muhammadiyah) terlibat dalam penyusuhan konstitusi Indonesia. Apakah mungkin seorang ibu akan membunuh anaknya? Mustahil, kan? Demikian logikanya.

Kedua, selama NU dan Muhammadiyah masih fokus pada pelayanan keummatan di bidang pendidikan dan sosial keagamaan, insyaAllah Indonesia masih baik-baik saja. Mengapa? Sebab di puluhan ribu lembaga pendidikan milik dua ormas ini, cita-cita Indonesia sebagai sebuah rumah bersama, sebagai sebuah negara Pancasila, masih terus dipelihara.

Ketiga, ada ciri unik dari ulama Indoenesia. Semakin sepuh usianya, semakin giat mengkampanyekan NKRI sebagai sebuah pilihan terbaik. Contohnya, Habib Lutfi bin Yahya, KH. Maimoen Zubair, KH. A. Mustofa Bisri, Abuya Muhtadi, dan banyak lain. Ini karena beliau-beliau menginginkan umat Islam yang mayiritas ini bisa menjadi rahmatan lil alamin, bukan hanya rahmatan lil muslimin.

Bagaimana Pancasila, apa tidak bertentangan dengan khilafah?

Ini pertanyaannya kurang galak nih, hahahaha. Bukan “Apakah Pancasila tidak bertentangan dengan khilafah?” melainkan, “Apakah Pancasila tidak bertentangan dengan Islam?”
Pola pertanyaan dengan mempertentangkan dua obyek yang tidak selevel ini modus cuci otak. Orang Wahabi biasanya pakai pertanyaan, “Pilih mana, pendapatnya ulama atau Rasulullah?” atau “Pilih mana, pendapat kiai atau hadits Nabi?” dan seterusnya.

Dulu orang Darul Islam juga bergerak menyasar anak muda Islam yang ghirahnya tinggi namun unyu-unyu itu dengan pertanyaan jebakan, “Pilih mana, al-Qur’an atau Pancasila dan UUD 45?”

Sekarang, pengasong ideologi khilafah juga menggunakan pertanyaan jebakan ini untuk menggat korban. Lalu bagaimana kita menyikapinya? Pertama, saya ingin mengutip pendapatnya KH. Mahrus Aly, Lirboyo, bahwa NU tidak ada impian apalagi mendirikan negara Islam. NU tetap mempertahankan negara Pancasila sampai akhir zaman. Komentar beliau ini diucapkan tahun 1960-an dan relevan sampai hari ini.

Yang kedua, menurut KH. Achmad Siddiq (Rais Aam Syuriah PBNU 1985-1991), Pancasila bukan agama, bukan pengganti agama, dan tidak dapat diposisikan sebagai pengganti agama. Di sini jelas kan, kalau Pancasila tidak bisa dikonfrontasikan dengan Islam, karena nggak level. Pancasila buatan manusia, Islam adalah agamanya Allah.

Kita harus bersyukur memiliki Pancasila yang menjadi konsensus kebangsaan sehinga bisa diterima oleh semua komponen bangsa. Tentu, silah pertama dan terakhir juga memiliki landasan etik di dalam al-Qur’an. Digoleki dalile, ono kabeh. Jawaharlal Nehru, pemimpin bangsa India itu kagum karena kita punya Pancasila yang bisa mempersatukan anak bangsa yang berbeda ini.

Para ulama Afganistan tahun 2013 kemarin juga datang ke PBNU lalu diajak ke UGM. Untuk apa? Belajar soal Pancasila. Mereka ingin negaranya punya ideologi pemersatu kayak Pancasila ini.

Mungkinkah khilafah bisa ditegakkan melalui proses demokrasi?

Ya bisa saja, asal HTI yang dibekukan oleh pemerintah itu ikut Pemilu, jadi partai politik. Kan jantan, tuh! Hahaha. Uji ketahanan publik. Jadi nggak cuma koar-koar saja, tapi ikut bertarung dalam sistem demokrasi di Indonesia. Gentle! Tapi, tentu saja mustahil, wong bagi mereka sistem demokrasi ini kufur, kok. Sistem taghut, kata mereka. Nggak apa-apa dituduh begitu. Santai saja. Mereka Hizbut Tahrir, kalau kita Hizbut Tahlil alias tukang tahlilan, mungkin juga Hizbut Takjil alias suka makan takjil ramadan, hahaha.

Bagaimana menurut anda pendapat sebagian kalangan yang mengatakan ide khilafah bisa mengancam NKRI?

Ya tentu saja mengancam. Makanya kita itu umat Islam kalau pengen ayem, menjadi mayoritas yang menyayomi, mayoritas yang berkualitas sebaiknya ikut dawuhnya Mbah Moen (KH. Maimoen Zubair), yaitu ikut PBNU, alias singkatan dari Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Lho, pas kan? Kalau sudah menerapkan PBNU tadi dalam konsep berbangsa dan bernegara, enak.

Sebab tujuan kita adalah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (QS. Saba’ 15) serta menjadi sebuah negara yang aman, rezeki melimpah dan penduduk yang beriman kepada Allah sebagaimana doa Nabi Ibrahim AS dalam QS. Al-Baqarah 126. Jadi negara harus aman terlebih dulu, baru mikir kesejahteraan, serta orang bisa menjalankan agama dengan baik. Dan, InsyaAllah semua bisa dijalankan di Indonesia, tanpa harus menunggu khilafah tegak.

Wallahu A’lam Bisshawab

(Mohon maaf jika fotonya tidak pakai kopiah dan berkaos oblong, padahal dimuat di majalah milik pesantren. Sebab redaktur Al-Ittihad hanya mencomot foto saya tahun 2014 ini di google, tanpa sepengetahuan saya. Padahal sudah saya siapkan foto saya yang lebih ganteng dari Aamir Khan. Hahaha)

Salam, Namaste!

Berkenalan dengan As-Shirat al-Mustaqim: Kitab Fiqh Generasi Awal di Nusantara

Berkenalan dengan As-Shirat al-Mustaqim: Kitab Fiqh Generasi Awal di Nusantara

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Jika pengokohan Islam di Jawa diawali dengan penguatan nilai nilai Islam melalui ajaran tasawuf, di Sumatera lebih kental nuansa fiqh-nya. Syekh Nuruddin Ar-Raniri, mutfi Aceh era Sultan Iskandar Tsani memproteksi rakyat dari ajaran tasawuf falsafi-nya Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Syamsudin Sumatrani, yang sebelumnya mendapatkan panggung di era Sultan Iskandar Muda. Pengokohan aspek fiqh Madzhab Syafi’i ini lebih menguat tatkala ulama kelahiran India ini menyusun kitab fiqh, As-Shirath al-Mustaqim.

Inilah kitab yang ditengarai sebagai karya komprehensif pertama yang ditulis ulama (yang ada) di Nusantara (meskipun Arraniri lahir dan wafat di India) yang membahas fiqh Madzhab Syafi’i. Karya setebal 347 halaman ini ditulis menggunakan bahasa Melayu klasik, beraksara Arab-Melayu, dan diulas dengan cermat dan taktis untuk pemula non Arab atau dalam bahasa penulis “….liyantafi’a bihi man la yafhamu bilisanil Arabi”.

Kitab ini merupakan hasil perasan dari Minhajut Thalibin-nya Imam Nawawi, Minhajut Thullab-nya Imam Zakariyya al-Anshari, Hidayatul Muhtaj Ibnu Hajar, kitab Anwar-nya Imam Ardabili, serta kitab ‘Umdatus Salik, sebagaimana keterangan dalam pengantar kitab ini.

Yang luar biasa adalah upaya Syaikh Arraniri yang lahir di India, menjadi mufti di Aceh, lalu kembali ke tanah kelahirannya dalam membumikan Madzhab Syafi’i di Nusantara. Beliau menjadi “koki intelektual” yang meracik pelbagai kitab berbahasa Arab untuk disajikan menggunakan bahasa Melayu bagi orang-orang awam. Syaikh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, India dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644. Ar-Raniri, yang namanya diabadikan menjadi perguruan tinggi di Banda Aceh, juga terkenal karena menulis banyak karya. Total ada 30 kitab yang dia tulis. Adapun yang masyhur adalah As-Sirath Al-Mustaqim dan Bustan As-Salatin.

Bapak Ideologis Madzhab Syafi’i di Nusantara

Syaikh Arraniri bisa dikatakan menjadi bapak ideologis Madzhab Syafi’i di Nusantara karena murid-muridnya menjadi pengembang madzhab ini dan memberikan sumbangsih dalam pembumian madzhab ini. Misalnya, Syaikh Abdurrauf Assinkili memberi komentar atas kitab Sirath al-Mustaqim melalui karyanya, Mir’atut Thullab, yang kabarnya kemudian dikembangkan lagi oleh ulama top asal Banjar, Syaikh Arsyad al-Banjari, melalui kitab Sabilul Muhtadin. Bahkan sampai saat inipun, kitab Sabilul Muhtadin tetap menyertakan Sirath al-Mustaqim di halaman tengah.

Ditinjau dari segi teknis, pola penulisan aksara Arab-Jawi menggunakan bahasa Melayu ini sedikit berbeda dengan yang dipakai di pesantren (Arab-Pegon). Misalnya di kitab ini, “bu-ku” ditulis menggunakan huruf (ba’) dan (kaf), tanpa ada (waw) sama sekali. “Ma-ka” ditulis (mim) dan (kaf), bukan mim-alif-kaf-alif. Juga banyak sekali yang berbeda dengan pola penulisan aksara pegon seperti yang lazim digunakan di pesantren.

Bersama dengan adik-adik mahasiswa IAIN Jember, di akhir 2015 silam, saya mengalihaksarakan isi kitab ini menjadi latin. Agak rumit, memang, karena adik-adik mahasiswa PGMI ini mayoritas berasal dari pendidikan non-pesantren sehingga mereka harus belajar sejak nol mengenai pola penulisan Arab-Pegon maupun Arab-Melayu. Tidak masalah, mereka dengan sabar dan tekun dibimbing sahabat-sahabat mereka yang sudah menguasai teknis penulisan aksara yang lahir dari inovasi ulama kita ini.

Perbedaan ini memang dimaklumi, sebab Sirath al-Mustaqim ditulis pada pertengahan tahun 1600-an alias beberapa abad silam. Lagi pula, kitab ini tampaknya sudah lama tidak beredar di Nusantara, meski pada awal 1700-an dan pertengan 1800-an masih digunakan di beberapa kesultanan sebagai referensi para qadli.

Di antara keunikan kitab ini adalah, meski ditulis oleh ulama India, disebarkan di Nusantara pada eranya, namun cetakan terakhir kitab ini justru diterbitkan oleh penerbit Musthafa Babi el-Halabi, Mesir, pada 1356 H/1937 M. Ini membuktikan jika pada dasawarsa 1930-an karya berbahasa Melayu ini juga banyak dikaji di kawasan Timur Tengah. Yang lebih unik, Syaikh Arraniri menggunakan frasa “sembahyang” untuk menyebut “shalat”. Sebuah strategi bahasa yang cukup cerdas sebagaimana dilakukan Walisongo.

Wallahu A’lam Bisshawab

Pernah dimuat di: http://www.halaqoh.net/2017/06/berkenalan-dengan-as-shirat-al-mustaqim.html?m=1

Kitab Kuning sebagai Freezer Bahasa Jawa yang Mulai “Punah”

Kitab Kuning sebagai Freezer Bahasa Jawa yang Mulai “Punah”

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa itu tafsir berbahasa Jawa. Tapi, uniknya, konteks berbahasanya berbeda dengan tafsir berbahasa Jawa lain, seperti al-Iklil fi Ma’ani at-Tanzil yang ditulis adik Kiai Bisri, KH. Misbah Zainal Musthofa. Juga berbeda dengan Qur’an Jawi, terjemah KH. Raden Bagus ‘Arfah dari keraton Surakarta, maupun Tafsir Qur’an Suci karya Prof. KH. R. Muhammad Adnan, Surakarta. Semua berbahasa Jawa, tapi corak berbahasa Jawanya berbeda.

Kiai Bisri menggunakan bahasa Jawa Tengah Pantura, yang bloko sutho, das-des, dan enggan basa-basi. Sedangkan Kiai Misbah menggunakan bahasa Jawa ala Jawa Timuran, karena beliau tinggal di Tuban. Ulasannya biasanya lebih panjang dibandingkan dengan penjelasan kakaknya. Kalau Kiai Raden Bagus ‘Arfah lebih halus lagi, karena Selain menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil, konteks penulisannya saat itu memang karena untuk kepentingan dakwah ala Keraton Surakarta. Kalau Prof. Raden Adnan lebih mudah dipahami, karena menggunakan bahasa Jawa yang tidak sehalus Kiai Raden Bagus ‘Arfah.

Yang pasti, beberapa tafsir bahasa Jawa ini sekaligus menjadi freezer budaya, alias “pengawet kata” bahasa Jawa. Pasalnya banyak sekali kata dalam bahasa Jawa yang dipakai dalam ketiga tafsir tersebut, yang justru saat ini tidak lagi digunakan dalam percakapan keseharian orang Jawa.

Dalam penafsiran QS. An-Nazi’at, yang saya bacakan Rabu kemarin lusa dan malam ini, Kiai Bisri menggunakan beberapa istilah Jawa yang saat ini nyaris “punah” karena tidak lagi atau jarang dipakai dalam komunikasi:

Gelataan/kelataan
Cemongok-cemongok lan cemekel-cemekel susune (ngeri randu)
Geter
Giris
Sajeng
Ngunus nyowo
Panggembor
Mungkur
Pawethone
Anjeleberake
Pacel
Rumangkang
Dingedhengake pertelo welo-welo
Mabeyur


Perhatikan berbagai istilah ini. Kosa kata ini masih populer ketika Kiai Bisri menulis al-Ibriz tahun 1950-an hingga satu dasawarsa berikutnya. Namun dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, semakin sedikit yang menggunakannya dalam konteks penutur-pendengar.

Kalaupun masih ada yang menggunakan, biasanya kalangan pesantren yang masih memakainya dalam konteks transfer pengetahuan melalui metode utawi iki-iku dalam kajian kitab kuningnya.

Bagi saya, kitab berbahasa Jawa telah menjadi freezer, pengawet kebudayaan; karena kita bisa melacak jejak leluhur kita dalam berbahasa, sekaligus konteks penggunaan bahasanya, dan sudut pandang pengetahuan yang ingin disampaikan oleh muallif, mufassir, maupun transmiter pengetahuannya (kiai yang mengajarkan sebuah kitab berbahasa Arab dan memaknainya dengan bahasa Jawa, menggunakan metode bandongan [seminar]).

Selamat belajar, selamat menikmati “kosa-kata” Jawa yang mulai hilang akibat dinamisasi dan akulturasi kebudayaan.

Wallahu A’lam Bisshawab

Mas Dodik, Hibah Laptop dan Ngaji Kitab bagi Para Pekerja Kantoran

Mas Dodik, Hibah Laptop dan Ngaji Kitab bagi Para Pekerja Kantoran

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Selasa (17/05) siang, saya berjumpa dengan Mas Dodik Ariyanto, Kepala PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) Regional Indonesia Timur. Mas Dodik menghadiahkan dua laptop dan dua router wifi untuk penguatan kinerja dan pengembangan literasi digital di kalangan santri, di kampus INAIFAS Kencong Jember.

Saya ucapkan terima kasih banyak atas kepedulian Mas Dodik, selaku Pimpinan PT Axiata Regional Indonesia Timur, khususnya dalam membantu kalangan santri, melalui Program Desa Digital Nusantara, khususnya Sub-Program “Dukungan XL Axiata Untuk Pondok Pesantren Menyongsong Era Digital”.

Mas Dodik, demikian saya menyapanya, pernah satu tim dengan saya saat masih di Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur, beberapa tahun silam.

Orangnya enak diajak ngobrol. Pembicara yang baik dan pendengar yang responsif. Dan pada siang tadi, banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapat dalam perbincangan selama dua jam di kantor PT XL Axiata, di Jl. Pemuda Surabaya.

Sebagai orang nomor satu di penyedia layanan seluler populer yang membidangi wilayah Indonesia Timur (Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Sulawesi, Maluku dan Papua), Mas Dodik membawa nuansa pesantren di perusahaannya.

Dia menguasai ilmu manajemen, tentu saja. Namun, yang lebih penting, Mas Dodik juga menguasai kitab kuning. Jadilah dia ngaji kitab saban malam Jumat secara daring. Pesertanya anak buahnya di perusahaan. Yang dikaji kitab Lubābul Hadīts karya Imam Jalāluddin As-Suyūthi. Metodenya pakai cara baca utawi iki iku ala pondok. Bahasa Jawa, diartikan secara letterlijk. Ulasannya pakai bahasa Indonesia, diselingi hikmah dan humor, tentu saja.

Pengajian sudah berlangsung setahun. Istiqomah malam Jumat. Responnya positif. Apalagi dalam setiap kajian, Mas Dodik juga menyertakan, lebih tepatnya mempromosikan, nama-nama ulama ala pesantren, yang bisa didengarkan kajiannya via YouTube. Yang paling sering dipromosikan adalah pengajian Gus Baha’. Sehingga banyak di antara anak buahnya yang menjadi penyimak kajian-kajian berbobot Gus Baha’.

Bagi saya, apa yang dilakukan Mas Dodik ini keren. Sebagai pimpinan, dia menerapkan prinsip 5 S: Sehat, Syukur, Semangat, Sabar dan Shalat. Dalam manajemen, dia menerapkan 3 C: Capacity, Capability, dan Communication. Dan dalam membuka ruang pengetahuan dan suplai ilmu agama, dia membumikan pengajian kitab di perusahaannya.

“Saya ngaji kitab setelah diperintah guru saya, KH. Muslih dan KH. Tajul Mafakhir. Beliau berdua dari Probolinggo.” tuturnya.

Ngaji di depan para profesional membutuhkan pendekatan khusus. Metode utawi iki iku ala pesantren dipakai, menurutnya, efektif untuk telaah dasar per kata dan kalimat, juga telaah kebahasaan (Nahwu-Sharaf). Selebihnya, pendekatan hikmah dan fadhail al-a’mal dipakai sebagai pendekatan psikologi agar lebih bisa diterima. Menurutnya, ngaji itu harus efektif dan menyenangkan.

Logika mudahnya, secara fisik dan psikis mungkin banyak yang bosan dan tegang dengan rutinitas kerja, kadangkala pulang kerja masih bertengkar dengan istri, atau mungkin sebelum pulang dimarahi atasan. Mereka butuh penyaluran stress. Butuh refreshing. Nah, ngaji bisa dijadikan sarana menyegarkan kembali pikiran dan ruhani.

Dampak kajian, beberapa anak buahnya menjadikan Mas Dodik sebagai tempat curhat. Bukan melulu soal pekerjaan, melainkan problem rumahtangga, terkhusus lagi soal fiqh. Banyak di antara mereka yang belum menguasai dasar-dasar thaharah. Terkhusus lagi soal fiqh ibadah.

Tak lupa, tadi Mas Dodik juga bercerita perkembangan jaringan para alumni pondok pesantren di beberapa perusahaan, baik yang sudah mapan, maupun yang skala start-up. Menjelang Usia Seabad NU, kaum diaspora santri yang bergerak dalam dunia profesional, harus diarahkan dan difokuskan pada penguatan jaringan maupun pembumian nilai-nilai Aswaja di perusahaan tempat mereka bernaung.

Saya bersyukur pertemuan tadi membawa mashlahat, dan banyak ilmu dan pengalaman Mas Dodik yang ditularkan ke saya.

Sukses dan berkah selalu ya Mas Dodik, juga untuk perusahaan yang njenengan pimpin.

Wallahu A’lam Bishshawab

Syekh Muhajirin Amsar Addari: Ahli Hadits dari Betawi

Syekh Muhajirin Amsar Addari: Ahli Hadits dari Betawi

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Dalam salah satu dawuhnya, Mbah KH. Maimoen Zubair menegaskan kebanggaan ulama dahulu terhadap kampungnya. Cirinya, menisbatkan nama diri dengan tempat kelahirannya. Biasanya dengan menambahkan ya’ nisbat di akhir nama kampung maupun kotanya. Misal, Imam Abu Zakaria An-Nawawi, yang dinisbatkan pada nama Desa Nawa, daerah Hauran, Suriah. Ada juga ad-Damanhuri, Assuyuthi, al-Bukhari, al-Kindi, al-Ghazi, al-Baihaqi, al-Jailani, hingga Imam as-Sya’rani yang dinisbatkan pada kampung Saqiyah Abu Sya’rah (Mesir) dan seterusnya.

Pola penisbatan semacam ini berbeda dengan tradisi di kawasan Maghribi (Afrika Utara), yang lebih menyukai penempelan nama kabilah. Misalnya, karena berasal dari kabilah Sanusi, maka Syekh Muhammad bin Yusuf, penulis Ummul Barahin, menggunakan As-Sanusi di belakang namanya. Termasuk kabilah Jazulah yang merupakan asal dari Syekh Sulaiman al-Jazuli, penyusun Dalail Khairat. Yang paling kondang tentu saja Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud alias Ibnu Ajurrum, penyusun kitab nahwu Jurumiyah, yang menggunakan nama Asshanhaji karena lahir dari kabilah Shanhajah.

Bagaimana dengan ulama Nusantara yang ada di Makkah? Yang pasti, keberadaan mereka di tanah haram ini dinisbatkan kepada asalnya: al-Bantani, al-Banjari, al-Falimbani, al-Baweyani, as-Sidarjawi, al-Bimawi, al-Jugjawi, al-Bughuri, al-Banyumasi, al-Batawi, al-Fadani hingga al-Kelantani. Mereka berkumpul, saling belajar dan berbagi. Mereka juga menghimpun diri dan bahkan bisa menyelenggarakan pendidikan melalui sebuah lembaga legendaris, Darul Ulum, Makkah.

Foto di atas saya dapatkan dari KH Dhiyaz Almaqdisi Muhajirin . Foto pengajar Madrasah Darul Ulum, Makkah tahun 1950-an. Ayahnya, Syekh Muhajirin Amsar Addari, duduk di samping Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Keduanya ahli hadits. Sama-sama produktif berkarya. Syekh Yasin keturunan Minangkabau, lahir dan wafat di Makkah, sedangkan Syekh Muhajirin lahir di Betawi, belajar dan mengajar di Makkah, lalu kembali ke tanah air merintis pesantren An-Nida’ al-Islamy, Bekasi. Mbah Maimoen Zubair, ketika berada di Makkah pada 1950-an sempat ngaji hadits kepada beliau, dan menyebutnya dengan panggilan hormat ‘Syaikhuna’.

Reputasi keilmuannya layak diacungi jempol. Syekh Muhajirin atau orang Betawi menyebutnya Tuan Guru Jirin, menulis empat jilid Misbahudz Dzalam, Syarah Bulughul Maram. Karya yang indah dan berbobot. Beberapa karya lainnya masih ditahqiq dan rencana diterbitkan lagi. Dalam catatan keluarga, kurang lebih ada 30 kitab yang ditulis. Kajiannya lintas disiplin ilmu: tafsir, nahwu, balaghah, ushul fiqih, ushulul hadits, faraid, sirah nabawiyah, mantiq, dan fiqh. Komplit, betul!

Dalam sebuah riwayat, Syekh Muhajirin pernah ditawari posisi sebagai mufti di salah satu negara bagian di Malaysia. Namun dengan halus menolak dan lebih memilih kembali ke Tanah Air, merintis pesantren dan mengajarkan ilmu kepada masyarakat. Sebagaimana ulama terdahulu, bangga dengan kampung halamannya.

Kecintaan terhadap tanah kelahiran bisa dimaklumi, sebab ditempa oleh ulama ‘lokal’ dengan kemampuan ‘internasional’. Dalam catatan Ustadz Rakhmad Zailani Kiki , penulis buku ‘Genealogi Intelektual Ulama Betawi’, Syekh Muhajirin ditempa oleh Guru Asmat (Kampung Baru, Cakung), H Mukhoyyar, Muallim H Ahmad, Muallim KH Hasbiallah (pendiri Yayasan Al-Wathoniyah), Mualim H Anwar, Muallim H Hasan Murtaha, Syekh Muhammad Tohir, Ahmad bin Muhammad murid dari Syekh Mansyur Al-Falaky, KH Sholeh Mamun (Banten), Syekh Abdul Majid, dan Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang).

Sebagaimana hukum bumerang, semakin jauh dilempar, kelak bakal kembali ke titik awal. Demikian pula dengan Syekh Muhajirin. Kelak, setelah menempuh pendidikan di Makkah, beliau pun kembali ke Tanah Air.

Pakar falak sekaligus ahli hadits kelahiran 10 November 1924 ini wafat di Bekasi 31 Januari 2003 M.

Wallahu a’lam bisshawab.

Artikel ini pernah dimuat di website NU.Online Jatim, 19 April 2021