Guru Dronacharya

Guru Dronacharya

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I

Saya tidak begitu paham wayang. Tapi saya suka beberapa ceritanya, baik carangan maupun pakem. Di antaranya, carangan berjudul Bimasuci alias Dewaruci, kisah pencarian hakikat jatidiri yang dilakoni Bima; serta tentang Ekalaya, salah satu pakem Mahabarata.

Baik Bima maupun Ekalaya adalah tipikal murid yang taat kepada gurunya. Apesnya, keduanya sama-sama punya guru yang kharismatik namun culas. Namanya Guru Durna alias Resi Drona atau Dronacharya. Dengan licik, menjelang Baratayudha, Resi Durna meminta agar Bima mencari air kehidupan, baik di gunung maupun menyelam ke dasar samudera.

Perintah ini hanya akal-akalan Resi Durna agar Bima tewas dalam melaksanakan titahnya. Sebuah konspirasi jahat, tentu saja. Tujuannya, agar kekuatan Pandawa susut karena Bima telah berkalang tanah. Sayang, siasat licik ini gagal. Bima selamat. Bahkan Sang Werkudara ini berjumpa dengan dewa kerdil, Dewaruci, seukuran telapak tangannya. Liliput yang berwajah dirinya, dan sebenarnya merupakan hakikat dari jatidiri Bima yang sebenarnya. Dialog antara Bima dengan Dewaruci ini yang menjadi titik tumpu cerita. Silahkan cari di YouTube, saya suka sekali bakti Bima sebagai murid, maupun dialog “berat”nya bersama Dewaruci.

Murid lain, Ekalaya, adalah jagoan yang punya kemampuan memanah yang baik. Dia bersaing dengan Arjuna. Sayang, Resi Durna lebih memilih Arjuna, yang berasal dari kaum priyayi, dibanding dengan Ekalaya, yang berasal dari kasta rendahan. Ekalaya terusir, tapi dia tetap berlatih memanah. Dia membuat patung serupa Resi Durna. Setiap kali berlatih memanah, dia menyembah patung itu. Ekalaya juga meminta restu kepada patung yang dia buat dari jejak tanah Resi Durna itu. Baginya, ini adalah wujud ketakziman seorang murid kepada guru.

Di kemudian hari, Resi Durna terkejut mengetahui kemampuan memanah Ekalaya yang semakin baik. Khawatir bakal menyaingi kemampuan murid kesayangannya, Arjuna, Guru Durna kembali bersiasat licik. Dia tahu jika Ekalaya senantiasa menghormatinya sebagai guru, walaupun dia pernah mengusirnya. Karena itu, Resi Durna meminta bukti loyalitas Ekalaya sebagai murid. Caranya, harus memotong jari telunjuknya. Bukti kepatuhan murid kepada guru. Ekalaya taat. Dia memotong jemarinya. Hilang sudah kemampuan memanahnya, sebab mustahil dia melesatkan anak panah tanpa jari telunjuk. Talenta Ekalaya hancur, karier Arjuna semakin melesat. Semua gara-gara kelicikan Resi Durna.


Bima dan Ekalaya adalah para murid yang ingin membuktikan cintanya. Sehormat-hormatnya. Namun sang guru, Resi Durna, malah berniat mencelakakannya. Sebagaimana Bima dan Ekalaya, banyak murid bertalenta harus “patah” karena ulah gurunya. Banyak dari mereka yang minder akibat ucapan pesimistik dari gurunya. Ucapan yang merendahkan martabatnya dan menghancurkan kepercayaan dirinya. Kalimat-kalimat teror yang mengguncang psikisnya.

Siswa yang tidak bisa matematika, misalnya, diteror sedemikian rupa karena gagal mengerjakan tugas. Ada pula siswa yang tidak mahir sains disebut tidak punya masa depan (padahal bakatnya di bidang musik). Ada juga yang tidak bisa ilmu nahwu, misalnya, kepercayaan dirinya jatuh karena gurunya bilang, “Madesu” alias Masa Depan Suram. Kutukan-kutukan yang disadari atau tidak bekerja di alam bawah sadar para siswa. Mereka lulus dari sebuah institusi pendidikan sembari membawa beban “kegagalan”, maupun memendam kesumat.

Menjadi murid itu sulit. Apalagi menjadi guru. Karena itu, di dalam Adabul Alim wal Muta’allim, KH. Hasyim Asy’ari memberi beberapa poin petunjuk: tips menjadi santri yang baik, juga tatacara menjadi guru yang baik. Ada 7 poin yang beliau sampaikan. Di antara hal yang paling penting bagi seorang guru, kata Kiai Hasyim, menata niat sebelum mengajar. Semata-mata hanya untuk mendapatkan ridla Allah. Ini sulit, tentu saja. Tapi harus dilakukan. Perlahan-lahan. Saran lain, guru harus bisa bersabar terhadap murid yang niatnya melenceng. Berat nian, gaes!

Okelah, jadi guru itu berat. Sulit. Tapi cerita Mahabharata di atas mengajarkan, kalau jadi guru harus bisa bersikap adil. Kepada diri sendiri maupun kepada murid. Jangan hanya karena tidak suka, maka murid dicueki. Jangan karena terlalu sayang, murid dimanja. Jangan karena terlalu menganggap diri kita pandai, lantas enggan belajar. Jangan sampai karena merasa telah pintar, akhirnya malah enggan menjawab “saya tidak tahu”. Jika tahu, jawablah. Jika tidak tahu, bilang apa adanya. Toh kalimat ini tidak akan meruntuhkan derajat dan kemuliaan seorang guru.

Menjadi murid juga tidak kalah berat. Sebagaimana Bima dan Ekalaya, mula-mula harus menata hati. Merendah, sebab, sebagaimana watak air, ilmu tidak akan pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi. Bima dan Ekalaya adalah murid yang menundukkan jiwanya di hadapan guru, menata etika terlebih dulu sebelum belajar hal baru, dan senantiasa menata lelaku penghormatan kepada resinya. Karena itu, Bima memperoleh kekuatannya justru ketika hendak dijerumuskan oleh gurunya, dan Ekalaya mengembangkan potensinya justru setelah diremehkan dan diusir oleh gurunya. Menjadi murid yang baik itu sesulit menjadi guru yang baik. Yang mudah itu menjadi papan tulis. Hehehe.

Jangan sampai kita menjadi Resi Drona yang licik, yang menghambat pertumbuhan potensi muridnya, karena tujuan jangka pendek.

Menjadi guru inspiratif memang tidak mudah, namun proses jangka panjang bisa menjadikan diri kita pendidik yang baik bagi para siswa. Guru yang bukan saja mengajar, melainkan mendidik, memahat jiwa dan mengukir akhlak muridnya, sekaligus memahami karakter murid dan melejitkan potensinya.

Kita berutang contoh pada karakter H.O.S. Tjokroaminto. Dia mendidik para remaja di kos-kosan miliknya. Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso, Kartosoewirjo, adalah para remaja yang dia tempa di sudut rumahnya di Surabaya. Kelak, kita tahu, para muridnya ini menjadi bagian dari para pejuang yang, walaupun berbeda ideologi, ikut mewarnai perjalanan bangsa ini. Jadi, nasionalisme Indonesia bisa dikatakan tumbuh di kos-kosan sempit di Peneleh, Surabaya, tempat kakek buyut Maia Estianti itu menempa para kadernya.

Di sudut lain, ada Syaikhona Kholil Bangkalan. Seorang ulama yang terkenal keramat dan menjadi guru banyak ulama. Sebagian besar jaringan murid yang beliau bina menjadi ulama pejuang bangsa, bahkan menjadi pahlawan nasional: KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. A. Wahab Chasbullah, KH. As’ad Syamsul Arifin, dan sebagainya.

Baiklah, kita memang bukan para raksasa ilmu yang secara ideal berhasil menempa kader-kadernya sesuai dengan potensinya masing-masing, tapi minimal dengan berkaca pada sosok-sosok inspiratif seperti Butet Manurung di komunitas Suku Anak Dalam di Jambi yang tergambar melalui Sokola Rimba (2013), matematikawan Anand Kumar dalam Super 30 (2019), maupun Erin Gruwel dalam Freedom Writers (2007), atau para tokoh rekaan seperti Ram Shankar Nikumbh dalam film Taare Zamen Par (2007), Naina Mathur dalam Hichki (2018), Gita Rani dalam Raatchasi (2019), maupun John Keating dalam film klasik Dead Poet Society (1989).

Dengan berbagai tokoh di atas, nyata maupun rekaan, kita memerlukan inspirasi menjadi guru yang baik. Karena ada unsur “menjadi”, maka dibutuhkan proses, tidak instan, bukan sim salabim, tidak kun fayakun. Ada proses di dalamnya, baik internal, melalui peningkatan kualitas diri; maupun eksternal, melalui interaksi dengan orang lain. Dengan cara—meminjam istilah Tan Malaka—terbentur, terbentur, lalu terbentuk.

Wallahu A’lam Bishshawab

(Sepotong Kata Pengantar yang saya buat untuk buku Menjadi Guru Inspiratif di Era Digital” yang dieditori oleh Ustadz Dr. Masyhari M.Pd.I )

KH Ahmad Sadid Jauhari dan Rahasia Rezeki Barakah

KH Ahmad Sadid Jauhari dan Rahasia Rezeki Barakah

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Sahabat saya, Ustadz Ahmad Athoillah, pernah menulis di linimasa Fesbuknya. Dengan mengutip pendapat temannya, dia menulis: Kalau saya amati dan rasakan, apabila beberapa hari malas ngajar alif ba’ ta’ kepada anak-anak, maka rezeki saya jadi seret. Kalau aktif dan semangat ngajar, rezeki rasanya juga ikut lancar.

Bagi saya, ‘ilmu titen’ di atas sangat menarik. Jika dirasionalkan, tampak tidak masuk akal. Tapi jika diselaraskan dengan hakikat rezeki, ada benarnya.

Soal misteri rezeki ini, saya jadi ingat apa yang disampaikan oleh KH A Sadid Jauhari, Pengasuh Pondok Pesantren Assunniyah, Kencong, Jember. Beliau pernah bercerita:

Ada seorang ustadz yang mulai sering membolos ngajar karena kesibukan berdagang. Pada akhirnya, jam mengajarnya di pondok keteteran. Karena sering absen, dia izin ke pengasuh agar ‘istirahat mengajar’ selama beberapa bulan mendatang. Tujuannya, agar lebih fokus berdagang. Kiai mengizinkan walau berat hati.

Beberapa bulan kemudian, ustadz ini datang lagi. Kali ini curhat kalau usahanya malah kocar-kacir. Ekonomi mulai seret. Oleh kiai disarankan agar mengajar ngaji lagi. Saran dituruti.

Dan, ketika mengajarnya mulai istikamah, uniknya, bisnisnya malah jalan dan berkembang.

Jadi, laba memang dapat dari berdagang, tapi soal rezeki itu wewenang dari Allah. Jalurnya pun bermacam-macam. Kalau kita mendarmabaktikan waktu dan ilmu yang dimiliki untuk santri atau masyarakat dengan ikhlas, walaupun dengan bisyarah yang ‘apa adanya’ dengan tetap memiliki pekerjaan utama maupun sampingan, insyaallah rezeki bakal dicukupi.

Allah menjamin rezeki setiap hamba-Nya melalui jatah yang ditebar (ar-rizq al-maqsum). Untuk meraihnya ada tiga langkah yang harus dilakukan, yaitu al-masy-yu (berjalan), al-intisyar (bertebaran) dan al-ibtigha’ (mencari). Ketiga kunci ini ada para rumus baku. Apa itu? Kerja, kerja, kerja, meminjam istilah Pak Jokowi. Karena itu, tidak pantas bagi seorang muslim hanya ongkang-ongkang saja menunggu jatah rezekinya. Karena itu Sayyidina Umar pernah menegur sahabatnya yang tidak bekerja. Beliau bahkan menyitir surat Yusuf ayat 55, ketika Nabi Yusuf secara profesional mengajukan dirinya sebagai bendahara kerajaan: Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.

Karena itu, wajib bagi seorang pengajar memiliki pekerjaan tetap, di samping kesibukannya sebagai pendidik. Pekerjaan sampingan yang ditekuni seorang guru tidak akan membuat muruahnya jatuh. Justru dengan memiliki pekerjaan tetap yang bisa menopang ekonominya, dia telah bertindak gentle! Walaupun kadangkala pekerjaan tersebut terasa remeh-temeh atau bahkan ‘hina’ di mata sesama manusia.

Setidaknya, pesan KH Maimoen Zubair ini tetap harus dijadikan patokan bagi para pendidik: Nak, kamu kalau jadi guru, dosen atau jadi kiai kamu harus tetep usaha, harus punya usaha sampingan biar hati kamu nggak selalu mengharap pemberian ataupun bayaran orang lain, karena usaha yang dari hasil keringatmu sendiri itu barokah.

Apa yang disampaikan Kiai Sadid dan Mbah Moen di atas juga selaras dengan yang pernah disampaikan oleh almaghfurlah KH A Zaini Syafawi, Pengasuh Pondok pesantren Mabdaul Ma’arif, Jombang-Jember, kepada saya, suatu ketika: Barokah itu muncul, antara lain, karena khidmah di wilayah tarbiyah.

Artikel ini pernah dimuat di NU Online Jatim https://jatim.nu.or.id/tokoh/kh-sadid-jauhari-dan-rahasia-rezeki-barakah-I3uZy

Ayo, Berdayakan Yatim Melalui Kas Masjid

Ayo, Berdayakan Yatim Melalui Kas Masjid

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Kalau dapat titipan duit dari sahabat, yang statusnya bukan zakat, biasanya saya “ogah” menyalurkannya ke masjid. Saya memilih menyalurkan ke anak yatim, atau untuk nyangoni guru-guru ngaji, khususnya TPQ.

Mengapa? Masjid sudah kebanyakan uang, sampai takmirnya kadang bingung mau mentasharrufkan. Akhirnya “hanya” dipakai memperindah bangunan saja. Untuk pembangunan sumber daya manusia, ya minim.

Titipan dana sedekah, maupun titipan dana untuk anak yatim biasanya juga saya pakai melunasi biaya pendidikan dan membelikan kebutuhan sekolah, juga melunasi tanggungan syahriah mereka di TPQ. Pasalnya, banyak, sekali lagi banyak, anak-anak yatim yang punya tanggungan keuangan di sekolahnya maupun di TPQ. Kalaupun ada yang mondok, biasanya juga saya bayarkan untuk syahriah sekian bulan. Ini lebih praktis menjamin manajemen keuangan lembaga (yang ikut tersendat manakala ada tunggakan dari santri) dan juga keberlangsungan pendidikan mereka.

Kita memahami, sepeninggal ayahnya (aduuuh mewek saya rek!) adik-adik ini membutuhkan kasih sayang juga topangan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Kalaupun ada sangu bagi mereka, biasanya masyarakat memilih membantu di saat Ramadan dan Muharram saja. Selebihnya jarang yang peduli pada kebutuhan bulanan, khususnya sandang pangan dan pendidikan.

Padahal, andaikan, dana masjid dipakai untuk membiayai mereka sejak dini dan juga memondokkan mereka niscaya 10 tahun mendatang masjid sudah berhasil memanen kader-kader utama calon imam dan guru ngaji yang siap mendarmabaktikan ilmunya bagi masyarakat sekitar masjid. Dengan menjadi takmir, imam rawatib dan khatib Jumat, juga guru TPQ yang kompeten juga guru ngaji kitab di masjid. Ayo silahkan dicek, berapa banyak masjid yang hanya megah bangunannya, banyak saldonya, tapi nggak ada kegiatan ngaji kitabnya.

Setidaknya ini yang saya sampaikan saat ngisi Nuzulul Qur’an di Masjid Al-Mukhlasin, Benjeng, Gresik, akhir Ramadan kemarin. Agar kotak amal dibagi tiga: untuk amal jariyah pengelolaan masjid, anak yatim (beasiswa), dan dana sosial (buat beli kitab, konsumsi jamaah juga bisyaroh guru ngaji kitab). Jamaah sepakat, walaupun nggak tahu sudah dilaksanakan apa belum.

Tak masalah, minimal saya sudah melaksanakannya di Masjid Ulil Azmi PP. Mabdaul Ma’arif Jombang-Jember. Ada ngaji kitab rutinan mingguan dan bulanan, yang disertai konsumsi jamaah, juga Bank Beras, dan beasiswa yatim. Dana dari mana? Sebagian ya dari kotak amal yang dibagi 3 tadi. Di Masjid Al-Falah Kencong Jember, skema 3 kotak ini juga sudah dilaksanakan dalam kurun 5 tahun terakhir.

Dengan cara ini, minimal kita melaksanakan dawuhnya Habib Lutfi bin Yahya dalam sebuah kesempatan, mengenai pembagian kotak amal masjid menjadi tiga tadi. Tujuannya, agar masyarakat hatinya ta’alluq dengan masjid.

Kalau demikian, kita tidak usah khawatir masjid bakal diserobot oleh kelompok sebelah, sebab mekanisme menjadikan masjid sebagai sentra keilmuan dan sosial sudah berlangsung. Dan, pembibitan ulama juga sudah dipupuk melalui skema dana pendidikan anak yatim tadi.

Anak-anak yatim yang tumbuh dan besar dari masjid banyak yang kemudian menjadi ulama besar: Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dll. Mereka keasyikan belajar di masjid melalui skema ngaji rutinan, ya rutinan, cikal bakal madrasah bernama Kuttab.

Kuttab inilah yang bisa kita hidupkan melalui ngaji rutinan di masjid. Yang datang hanya 1-2 tidak masalah. Butuh mental dan kesabaran untuk mengembangkannya dan mempertahankannya. Yang terpenting adalah membangun masjid bukan bangunannya saja, melainkan juga pada pengembangan sumberdaya manusianya.

Selain itu, saya merasa risih jika melihat masjid kosong melompong dari literasi. Nggak ada ngaji rutinan, juga nggak ada perpustakaan. Padahal perpustakaan ini fondasi utama keilmuan. Imam, khotib, maupun masyarakat bisa mencari referensi di sini. Sisanya, koleksi buku-buku anak kudu diperbanyak. Anak-anak jangan dipaksa membaca. Kita hanya butuh menyediakan taman baca sesuai keinginan dan kecenderungannya. Kalau ini sudah dirintis, kita bakal melihat anak-anak yang ndelosoran sambil baca buku, bukan yang rebahan sambil main hape. Setidaknya, skema ini sudah dilaksanakan oleh Masjid al-Huda di desa saya. Ada ngaji rutinnya, juga ada rintisan perpustakaannya. Keren kan?

Tapi, bagi yang sepemikiran dengan saya, kudu ingat, bakal banyak yang menentang. Sebab pola seperti ini masih asing. Belum biasa. Padahal jika hendak diterapkan, minimal dengan skema 3 jenis kotak amal, maka pemberdayaan anak yatim bisa dilakukan. Mereka disekolahkan, dipondokkan dan dikuliahkan dengan dana yatim kotak amal. Dengan cara ini, 6-9 tahun mendatang hasil pembibitan ini bisa dipanen. Kaderisasi imam dan khatib berjalan dengan baik. Sehingga tidak ada lagi masjid yang nge-bon alias impor imam dari kampung sebelah, atau bahkan mendatangkan imam dari kelompok sebelah. Cukup dari warga desa setempat. Dari anak anak yatim yang kelak siap menjadi pengelola masjid.

Wallahu A’lam Bishshawab

Mengharmoniskan KeIslaman dan KeIndonesiaan: Belajar dari Kearifan Para Ulama Kita

Mengharmoniskan KeIslaman dan KeIndonesiaan: Belajar dari Kearifan Para Ulama Kita

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

“Kebanyakan kiai dulu tidak mengenal apa itu nasionalisme produk Barat. Kesadaran mereka dari awal: Indonesia ini rumah kita, maka harus kita jaga dan tidak boleh dijajah atau dirusak. Sebab itu, santri yang tak mencintai negerinya akan kualat oleh tuah KH. A. Wahab Chasbullah dan KH. M. Mbah Hasyim Asyari, dan kiai-kiai lain yang menyimpan Indonesia dalam urat nadinya.” (KH. A. Mustofa Bisri)

Pasca-reformasi, semakin banyak saudara-saudara sebangsa kita yang menggugat format Ke-Indonesiaan. Ada yang menyodorkan ide negara federal seperti AS–meskipun ide ini hanya bertahan beberapa bulan saja karena tidak ada yang mengapresiasi—ada juga yang menyodorkan konsep Negara Islam, bahkan ada juga yang menawarkan gagasan Khilafah Islamiyah. Tawaran-ide yang apabila dibiarkan lambat laun akan menggerogoti keIndonesiaan sebagai sebuah rumah bersama. Sebagai seorang santri, saya bersyukur apabila di Indonesia kaum muslimin telah menemukan format ideal relasi antar Islam dan Negara, di saat beberapa negara lain terancam menjadi “negara gagal”.

Setidaknya hingga saat ini ada beberapa negara muslim yang terancam menjadi negara gagal akibat ketidakberhasilan mensintesakan antara kebangsaan dan keislaman. Afganistan dan Somalia adalah dua negara yang paling mencolok kegagalannya dalam mewujudkan harmoni antara kebangsaan dan KeIslaman. Keduanya dipertentangkan. Seolah menjadi warga negara yang baik belum menjadi jaminan menjadi muslim yang baik. Di Afganistan, kelompok Taliban dan ISIS cabang Afganistan (nyaris identik tetapi saling bermusuhan) saling serang dengan kubu pemerintah Ashraf Ghani yang didukung AS dan sekutunya. Di Somalia, kubu Asy-Syabab merongrong kedamaian negara miskin tersebut. Di Nigeria, ada kelompok Boko Haram yang beberapa kali melancarkan serangan brutal di dalam negeri dan di Kenya.

Di Libya juga sama. Pasca tergulingnya Moammar Qadafi, kubu sekuler-demokrat punya pemerintahan tersendiri yang berkubu di Tripoli, sedangkan kubu Islamis yang berbaiat ke NIIS berkantor di Sirte. Mereka juga punya pemerintahan tersendiri. Masing-masing kubu bersikeras dengan idealismenya, dan Libya terancam pecah dan menjadi negara gagal.

Irak, bagaimana? Kubu pemerintahan yang didominasi kaum Syiah harus berhadapan dengan kubu NIIS, al-Qaidah, maupun kelompok suku-suku yang didominasi kaum Sunni. Kaum Kurdi juga turut membentuk front yang lebih pragmatis. Campur tangan AS turut memperumit kondisi Irak. Suriah, tetangga Irak juga mengalami nasib yang sama. Kubu Bashar Assad tak mau menyerah menghadapi pemberontak yang secara ideologis juga terbelah. Ada Free Syrian Army yang sekuler dan didukung AS; Jabhat Ah-Nushra yang merupakan al-Qaidah Cabang Suriah; ISIS yang lebih brutal; hingga Ahrar As-Syam dan brigade Nuruddin Zanki yang anggotanya lebih majemuk. Di palagan Suriah ini, ada bangsa Kurdi yang juga berkepentingan mendirikan negara Kurdi independen yang lepas dari Irak maupun Suriah.

Apa kabar Yaman? Negara miskin ini malah babak belur dirudal oleh tetangga tajirnya, Arab Saudi, yang semakin khawatir pengaruh Syiah Houthi.

Siapa yang diuntungkan atas konflik ini? Negara Barat dan para pialang senjata. Korbannya tentu saja rakyat. Semua yang berkonflik beragama Islam, lantas mengapa tidak bisa duduk bersama merumuskan yang terbaik untuk semua? Sebagaimana kata Syaikh Abdullah bin Bayyah, “Jika mereka yang berkonflik mengaku menginginkan perdamaian, lantas mengapa tidak langsung saja mengakhiri perang dan duduk bersama?”

Saya melihat, selain ketidakadilan sosial dan ekonomi serta campur tangan asing, di dalam setiap konflik ada egoisme sektoral, baik egoisme sektarian maupun egoisme primordial (kesukuan). Egoisme sektarian antara lain ditandai dengan keengganan hidup dengan mereka yang berbeda madzhab maupun berbeda ideologi, serta berusaha memaksakan format keagamaan tunggal sebagai wujud dominasi. Hal ini bisa kita lihat di Afganistan, tatkala etnis Hazara yang minoritas dan berpaham Syiah dibunuhi oleh Taliban dan ISIS yang menganggap Syiah sebagai “murtadin”. Egoisme sektarian ini juga tampak melihat apa yang terjadi di Nigeria, Somalia, Libya, Irak dan Suriah tatkala saudara kita yang berpaham keras memaksakan kehendak dan paham keislamannya kepada warga negara lainnya. Akibatnya, tak ada kompromi di sini. Sedangkan egoisme primordial bisa kita lihat di Irak dan Libya ketika beberapa kabilah turut serta dalam perang saudara. Di Afganistan, egoisme primordial tampak pada saat etnis mayoritas Pushtun terlibat kontestasi yang pelik dengan etnis Tajik. Campurtangan AS turut memperuncing konflik di Afganistan ini.

Ketika terseret revolusi Musim Semi Arab, Mesir nyaris perang saudara, apalagi ketika Muhammad Mursi dikudeta Jenderal As-Sisi. Kaum nasionalis dan kubu Ikhwanul Muslimin berhadap-hadapan bahkan saling serang. Untunglah ada para ulama al-Azhar yang berusaha menengahi konflik ini meskipun mereka juga mendapatkan tudingan sebagai pendukung As-Sisi. Universitas al-Azhar, yang sejak awal menjaga netralitasnya dalam berpolitik praktis, kecuali politik kebangsaan, turut andil dalam menjaga stabilitas politik di Mesir. Andaikata tidak ada penengah, maka bukan mustahil jika Mesir bakal bersimbah darah dan stabilitasnya semakin terpuruk.

Di Tunisia, kwartet Liga Nasional turut menjaga stabilitas negara tersebut sehingga tidak terjerumus perang saudara usai Musim Semi Arab. Namun, jika dicermati, Tunisia bisa terhindar dari perang saudara karena di negara tersebut ada Partai An-Nahdlah yang memilih berkompromi dengan kaum nasionalis. Sebagai partai dominan, An-Nahdlah yang seideologi dengan Ikhwanul Muslimin bisa saja melakukan Islamisasi besar-besaran, namun mereka memilih jalan perjuangan bukan sebagai “penguasa” melainkan sebagai “pengontrol” atas jalannya pemerintahan sembari menyesuaikan corak ideologi Islamisnya dinamika kebangsaan di Tunisia.

Lantas mengapa semua konflik di atas kebanyakan melanda berbagai negara yang dihuni mayoritas kaum muslimin? Secara kasat mata, pola mengerikan seperti di atas terjadi antara lain antara lain karena pertukaran ide dan perumusan konsep “rumah bersama” menemui jalan buntu; antara kaum demokrat-nasionalis, pengusung negara Islam hingga pengerek konsep khilafah ala ISIS alias Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) masing-masing bersikukuh mempertahankan konsep idealisme.

Pager Mangkok dan Pager Tembok

Sebagai seorang santri, saya melihat apabila konsep NKRI adalah upaya final mewujudkan konsep berbangsa dan bernegara. Inilah ijtihad kebangsaan umat Islam Indonesia yang bisa diterima oleh umat lain sebagai “rumah bersama”. Tidak perlu diubah menjadi Negara Islam, bahkan kekhilafahan. Kalaupun ada kekurangan, mari diperbaiki. Bukan lantas dicaci-maki lalu berusaha merobohkan tembok bahkan fondasi kebangsaannya. Terlalu beresiko apabila sebuah fondasi dihancurkan. Saya teringat wejangan dari salah satu santri KH. M. Hasyim Asy’ari yang bernama KH. Muchith Muzadi, pada saat saya sowan ke kediamannya, malam Idul Fitri, tahun 2008 silam.

KH. A. Muchith Muzadi mengibaratkan, Indonesia adalah sebuah rumah besar yang dibangun secara gotong royong. Ibarat membangun rumah yang akan ditinggali bersama-sama, fondasinya didirikan kaum muslimin, temboknya didirikan kaum Nasrani, pintunya dibuat oleh kelompok Hindu, gentengnya dipasang oleh umat Budha, sedangkan kaum Konghucu bagian memperindah suasana dengan ragam cat yang berwarna warni. Semua punya andil dan wajib bagi semua kelompok menjaga harmoni antar penghuni rumah dan bersama-sama menjaga kelestarian rumah besar bernama Indonesia. Manakala ada penghuni rumah maupun orang asing yang mau merobohkannya, maka harus dicegah, bagaimanapun caranya.

Bagi saya, ini adalah salah satu pandangan brilian dari seorang ulama mengenai penempatan aspek Keislaman dalam keIndonesian. Ini adalah salah satu fundamen kearifan lokal ala ulama kita, yakni berusaha secara aplikatif menempatkan relasi Islam dan Indonesia sebagai relasi jiwa dan raga. Jika Islam sebagai agama, maka Indonesia sebagai negara-bangsa. Keduanya membentuk Islam Indonesia, yang berusaha menjiwai bangsanya, bukan sekadar Islam di Indonesia. Oleh karena itu, apabila dicermati, di antara keunikan Indonesia adalah mampu mengkombinasikan keIslaman dan kemodernan, keislaman dan demokrasi, serta keislaman dan kebangsaan. Andaikata mau, para ulama bisa saja menjadikan negara ini berbentuk Negara Islam, tetapi mereka bersepakat apabila republik adalah pilihan yang tepat sebagai bentuk negara.

Untuk mengkawinkan aspirasi Islam ke dalam aspirasi ke-Indonesiaan, mesti menempatkan dulu Islam sebagai sistem dari kultur Indonesia. Dengan demikian kemunduran atau kemajuan Islam akan tercermin dalam maju atau mundurnya moralitas dan intelektualitas bangsa. Dalam hal ini, terjadilah proses asimilasi, misalnya Islamisasi Jawa maupun Jawanisasi Islam, yang saling menyatu dan memperkaya. Ini karena Islam sejak awal tidak datang untuk menaklukkan Jawa melainkan mengembangkan masyarakat Jawa yang sudah beradab dengan mengakui hak-hak kultural masyarakat setempat yang selama ini mereka jalankan dan kembangkan. Lagi pula, Islam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, selama ini dinilai memiliki konsep dan bentuk politik yang berbeda dari wilayah negeri muslim Afrika Utara, Semenanjung Arab, maupun Asia Selatan. Islam di wilayah ini memiliki karakter yang khas. Misalnya cenderung toleran, moderat, dan inklusif. Selain itu ia lebih bersifat kultural, dan tidak politis struktural.

Kekhasan ini terbentuk melalui proses sosiologis-kultural yang panjang, yang antara lain bisa ditelusuri melalui kebiasaan kolektif melalui ritus-ritus acara keislaman, atau yang di sebut oleh Azyumardi Azra sebagai tradisi Islam yang “berbunga-bunga”, maksudnya kebiasaan kaum muslimin yang senantiasa menyelenggarakan ritus-ritual keagamaan secara kolektif.
Ketika pernikahan, maka tetangga diundang melalui walimatul urusiy, lalu ketika hamil 3 dan 7 bulan kerabat dan tetangga diundang untuk ikut mendoakan, ketika akikah yang disertai walimat tasmiyah juga ada makan bersama, kemudian ketika anak bisa berjalan, ada acara selamatan yang mendoakan keselamatan dan kesolehan si anak. Demikian pula saat anak khatam juz amma, khatam al-Qur’an, lulus ujian, nisfu sya’ban, maulidan, dan berbagai tradisi sebagainya. Semua ada ritusnya, ada doa keselamatan di dalamnya. Ketika menempati rumah, tasyakuran umrah, walimah haji, dan sebagainya, semua ada doa, dan tentu saja makan-makannya. Dalam kacamata ekonomis ini terlihat pemborosan, namun sebagai perekat sosial, ini adalah sebuah tradisi mulia yang selain bisa mempererat tali silaturrahim juga bisa menjadi salah satu kultur penyangga keutuhan bangsa. Semakin sering berkumpul sambil makan bersama, semakin kuat ikatan emosional yang memupuk soliditas dan solidaritas kolektif. Jika ini terus dirawat dan dipelihara, maka lebih mudah dicarikan jalan keluarnya apabila ada masalah. Dalam falsafah Jawa, ada ungkapan “pager mangkok luwih kuwat tinimbang pager tembok”. Guyub rukun dengan kerabat dan tetangga lebih baik daripada membangun pagar tinggi tapi abai dengan sekitar.

Selain itu, berbagai tradisi di atas ini adalah salah satu wujud “Islamisasi Masyarakat”. Jika masyarakat sudah Islam(i) otomatis pula negara ikut Islam(i). Ini khas Walisongo, taktik bottom up. Taktik bottom up ini evolutif namun bertahan lama, berbeda dengan implementasi top-down yang revolutif dan banyak konsekwensi logisnya. Maka, implementasi taktik ini adalah penguasaaan medan dengan mendirikan pesantren, bukan LSM Islam partikelir, atau ormas swasta atas nama “Islam”.

KH. Maimoen Zubair, dalam acara peringatan 7 hari wafatnya KH. A. Aziz Masyhuri Denanyar menceritakan kisahnya di tahun 1948. Saat itu di perjalanan beliau mampir di sebuah desa. Tidak ada musala, juga tidak ada masjid meskipun mayoritas penduduknya mengaku muslim. Mereka muslim tapi tidak menjalankan sembahyang. Namun kini, lanjut Mbah Moen, kita bisa melihat semangat kaum muslimin dalam menjalankan agamanya. Masjid dan musala ada di setiap desa. Acara keagamaan juga semarak. Berdasarkan cerita Mbah Moen, kita bisa melihat apabila keislaman adalah sebuah proses yang terus berjalan. Demikian pula dengan relasi antara keIslaman dan keindonesiaan.

Dalam batas pemahaman saya, yang ingin diwujudkan para ulama kita, khususnya yang berada di kalangan NU dan Muhammadiyah, bukan “Islam Hizby” alias Islam sebagai sebuah organ, entitas, kelompok, golongan, melainkan “Islam Hadlary” alias Islam sebagai sebuah peradaban yang menjadi payung Nusantara, menjadi motor penggerak, sekaligus menjadi pelopor. “Islam Hizby” telah mengalami kegagalan di Timteng pada dasawarsa ini, karena saling baku bunuh dan klaim kebenaran kelompok. Kini, harapan tinggal tersemat pada “Islam Hadlary” yang tidak akan tumbuh kecuali dengan mengapresiasi heterogenitas, koeksistensi, dan multikulturalisme.

NU dan Muhamamdiyah menyadari bahwa membangun dan mempertahankan Indonesia tidak bisa dilakukan kecuali dengan cara menggandeng tangan pihak lain. Peradaban mustahil dibangun dengan egosentrisme sektarian, karena peradaban hanya bisa diwujudkan oleh mereka yang berjiwa besar yang memahami hakikat multikulturalisme, pluralisme serta sikap koeksistensi.

Menutup tulisan ini, saya kutip salah satu ucapan keren dari Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, salah seorang ulama nasionalis, “Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalirkan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat Merah-Putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jati diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran.”

Wallahu A’lam Bisshawab

(Makalah yang saya sampaikan dalam acara kajian Islam yang digelar oleh Sie Kerohanian Islam Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Kamis Malam Jumat, 27 April 2017)

Pernah dimuat di :http://www.halaqoh.net/2017/04/mengharmoniskan-keislaman-dan.html?m=1

Cara Unik IPNU-IPPNU Cakru Bangun Kemandirian Organisasi

Cara Unik IPNU-IPPNU Cakru Bangun Kemandirian Organisasi

Bagikan sekarang

Oleh: Drs. H. Khumaidi, M.Hum (Rektor INAIFAS Periode 2014-2018)

Tiada terduga uang yang semula hanya 100 ribu kini sudah menjadi 100 juta. Prestasi yang cukup membanggakan itu dialami oleh ABG NU Cakru, Kencong ini dengan program bernama Kas Bersama.

Kas bersama itu bermula dari konsep ABG NU yang ada di IPNU IPPNU. Dari hasil diskusi beberapa orang menghasilkan keputusan yang cemerlang dan berani, yaitu membangun ekonomi organisasi secara mandiri.

Keputusan itu diawali serentak dengan penanaman pisang di masing-masing anggota bahkan ada sebagian warga yang juga nimbrung di dalamnya. Dari hasil penanaman pisang ini beberapa bulan berikutnya sudah menampakkan hasilnya.

Mereka setor keuangan pisang yang sudah terjual di pertemuan rutin mulai dari 5000 sampai sepuluh ribu rupiah tahun itu. Dana tersebut kemudian diputar dengan cara dikembangkan melalui ternak kambing, kebutuhan mandi, kaos organisasi dan lain-lain.

Kas tersebut kini sudah menjadi 100 juta rupiah. Pengembangan yang cukup mempercepat tercapainya kas bersama tersebut dengan cara peminjaman kepada segenap pengurus dan pembina dengan pengembalian 1 musim sekali (karena pertanian palawiija) dengan tidak menentukan imbalan yang diberikan.

Namun dengan komitmen bersama akhirnya rata-rata memberi imbalan yang tidak ditentukan, agar tidak jatuh pada hukum haram menurut syariat agama.

Sebenarnya kalau mengikuti gaya, uang itu bisa dibelikan LUXIO tahun 2016-an, namun bukan itu yang dimaksudkan, tetapi generasi muda NU ke depan yang diutamakan.

Dengan cara itu, ketika kas bersama masih 50 jutaan dapat tambahan sekitar 5 jutaan permusim. Sekarang sudah 100 jutaan. Mempunyai harapan dapat tambahan 2 kali lipat permusim sehingga menjadi 10 jutaan.

Dengan pengembangan itu untuk sementara IPNU IPPNU sudah dapat melaksanakan kegiatan organisasi seperti konferesi atau rapat anggota dari uang kas tersebut tanpa meminta sumbangan keuangan ke masyarakat dan anggota.

Kegiatan lain termasuk memberikan bantuan kapur tulis tiap tahun 1 box ke seluruh Madrasah Ibtidaiyah dan Ma’arif NU di wilayahnya.

Menurut seorang pembina yang dulunya pernah menjadi anggota (enggan disebut namanya) mengatakan “Kas bersama ini (waktu itu) bertujuan agar IPNU IPPNU ke depan memiliki sumber dana yang jelas dan halal, tidak mengandalkan sumbangan atau proposal dalam melaksanakan kegiatan,” tuturnya.

Sebab menurutnya, IPNU IPPNU itu kadernya ulama atau kiai, bukan kader yang lain, apalagi kader partai.

Selain itu model kas bersama ini terutama bagi pengurus agar menjadi pembiasaan tahan banting ke depannya dalam berjuang atau berdakwah dalam segala medan dan kondisi dakwah, karena banyak kader  sekarang rata-rata ingin cari enaknya di dalam berjuang di Nahdlatul Ulama.

Niat mereka (para perintis kas bersama) jajaran pimpinan atau pengurus organisasi NU beserta banom hendaknya menghidupi NU dan tidak mencari kehidupan di NU.

“Memberikan fasilitas di NU dan tidak mencari fasilitas di NU. Membesarkan pamor NU dan sama sekali tidak mencari pamor dari NU” tandasnya.

Rata-rata mereka ini sudah punya anak seusia SMP/MTs dan Aliyah yang tinggal melanjutkan usaha yang dirintis oleh orang tuanya sekaligus kader seniornya dalam berorganisasi.

Kehidupan profesi mereka (para perintis kas) ada yang berprofesi sebagai petani, pedagang, staff Desa, BPD, guru atau dosen, nelayan. Kini mereka sudah melihat hasil jerih payahnya yang sudah berkembang dan generasi pelanjutnya tidak hanya ditinggali laporan, contoh proposal sumbangan atau ada suara kegiatan besar yang tidak ada bekasnya, apalagi foto-foto penampilan.

Sikap seperti ini patut dicontoh oleh semua pengurus organisasi NU serta banomnya yang sudah jelas bahwa NU ini adalah organisasi dakwah, keagamaan dan kemasyarakatan bukan organisasi politik praktis. (editor:haz)

Dua Prinsip Mencari Sekolah yang Tepat Bagi Anak

Dua Prinsip Mencari Sekolah yang Tepat Bagi Anak

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Ketika mencari TK, lalu MI untuk menyekolahkan Avisa Aurora Baldatina, anak sulung, mula-mula saya cari sekolahan yang secara ideologis, harakah dan amaliah-ilmiah berkaitan dengan prinsip dasar keislaman versi saya: Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyyah. Sebab, ada beberapa sekolah yang mengajarkan ayat-ayat qital (perang) kepada anak didiknya yang belum baligh. Saya merasa ngeri-ngeri sedap membayangkan anak saya ditempa bukan dengan ayat akhlak dan kasih sayang, tapi dengan ayat perang di dalam kondisi negara yang aman dan damai seperti ini.

Prinsip kedua. Saya mencari lingkungan sekolah ada tiang pengibar merah putih, ada upacara bendera, ada lambang Pancasila, foto presiden-wapres, foto pahlawan nasional, dan tentu saja anak-anak diajak riang gembira dengan menyanyi.

Saya nggak muluk-muluk. Saya pengen anak saya tumbuh dalam fitrah kanak-kanaknya: menyanyi dengan riang, bergerak aktif, dan mulai mengenal kecintaan terhadap bangsanya, negaranya, para pahlawan yang sudah berkontribusi untuk tanah airnya. Ini fondasi penting. Sebab, banyak sekolah yang hanya menekankan aspek keIslaman lantas mengenyampingkan ke Indonesiaan. Akhirnya, anak didik tumbuh dalam kepercayaan diri sebagai muslim, tapi minder sebagai bangsa Indonesia. Efek samping lain, pluralitas dan multikulturalisme Indonesia tidak menjadi titik poin penting dalam pembinaan karakteristik dasar siswa.

Saya orang NU yang tidak pernah memisahkan antara mencintai Islam dan Indonesia, sebagaimana ajaran para ulamanya. Keduanya melebur, tidak bisa dipisahkan. Islam adalah ruh, Indonesia adalah jasad.

Karena itu, bagi saya, yang paling penting dalam merancang masa depan anak adalah bagaimana mengenalkan mereka kepada Islam dan Indonesia secara bersamaan. Mencintai keduanya, sekaligus dididik untuk berkontribusi memajukan dua kutub ini.

Foto di atas adalah ruang guru di MI Nurul Huda, Gondangrejo, Cakru, Kencong Jember, yang saya potret sewaktu saya diminta memberikan ceramah dalam rangka perpisahan siswa, Sabtu (22/5), silam. Perhatikan, selain ada logo NU dan potret KH. Hasyim Asy’ari serta Bupati-Wabup, ada juga lambang Pancasila dan foto presiden-wapres (tidak terpotret), dan foto Bung Karno!

Ini penting, bagi saya. Bagaimana kecintaan terhadap para pendiri bangsa diperkenalkan sejak dini. Sukarno, peletak dasar Marhaenisme, memang secara idiologis berbeda dengan NU. Namun lembaga ini tidak menafikan jasanya bagi Indonesia. Saya bergembira, karena setelah mendengarkan Indonesia Raya, gendang telinga saya bergetar ditabuh mars Syubbanul Wathan yang dilafalkan secara meriah oleh para murid MI ini. Mars patriotik ciptaan salah satu pahlawan nasional, KH. A. Wahab Chasbullah.

Anda boleh berbeda prinsip dengan saya. Silahkan. Tapi masa depan Islam-Indonesia ada di tangan anak-anak kita. Memperkenalkan KeIndonesiaan akan membuat pribadi mereka mencintai tanah airnya. Sedangkan mendidik mereka dengan ajaran Islam akan membuat mereka tumbuh menjadi muslim yang baik yang berkontribusi memajukan bangsa dan negaranya.

Ya, mendidik mereka menjadi, dalam istilah KH. Abdul Wahid Hasyim, orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia. Yaitu, mereka yang bersyukur dan mendayagunakan segala potensi dan berbagai anugerah yang dilimpahkan oleh Allah kepada bangsa Indonesia, bukan mereka yang hanya menumpang hidup di negeri ini, lantas atas nama agama mencampakkan identitas kebangsaanya.

Kasus WNI yang bergabung dengan ISIS di Suriah, lalu setelah kalah mereka ingin kembali ke Indonesia, adalah contoh nyata. Pengen punya generasi parasit seperti ini? Jika tidak, ayo cari sekolah yang tepat buat buah hati kita. Yang mengajarkan keIslaman dan KeIndonesiaan secara seimbang.

WAllahu A’lam Bisshawab.

Artikel ini telah dimuat di https://alif.id/read/rijal-mumazziq-z/dua-prinsip-mencari-sekolah-yang-tepat-bagi-anak-b220478p/