Memungut Hikmah yang Berserakan

Memungut Hikmah yang Berserakan

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I

Guru besar universitas terkemuka di India ini sering memberi kuliah umum di perguruan tinggi di berbagai negara. Arun Gandhi, demikian namanya. Betul, ia adalah cucu Mahatma Gandi. Ciri khasnya: ia selalu memulai pengajarannya dengan menuturkan sebuah kisah inspiratif. Para mahasiswa banyak yang menikmati gaya Arun Gandhi, meski ada beberapa yang menyangsikan bahkan mencibir kisah yang disampaikan olehnya.

Dan, pada suatu pagi, di sebuah ruang perkuliahan, ia telah usai menyampaikan kisah inspiratif. Dari sekian banyak mahasiswa, ada seorang yang mengacungkan jarinya. Ia mau bertanya, tampaknya. Dengan ramah, Arun mempersilahkan.

“Saya menyangsikan kisah yang anda ceritakan, professor!” kata mahasiswa ini. Ia pun menyampaikan argumentasi, analisis beserta irasionalitas kisah yang disampaikan gurunya. Usai menyampaikan pendapatnya secara bersemangat, mahasiswa ini merasa puas. Ia telah menunjukkan bakatnya sebagai mahasiswa yang berpikir kritis dan sebagai calon intelektual.

Adapun Arun Gandhi mendengarkannya dengan seksama sembari tersenyum hangat. Setelah membetulkan letak kacamatanya, ia menanggapinya dengan hangat: “Anakku, kurang lebih sudah 30 tahun aku mengajar. Dan selama itu pula selalu ada orang-orang yang mempertanyakan keakuratan ceritaku, memburu kelemahan dari kisah tersebut, dan berusaha menentang kisah itu. Tapi, anakku, ada juga sebagian lagi yang tidak mempermasalahkan itu semua, melainkan berusaha mencari pesan moral yang terkandung di dalamnya, atau hikmah dalam kisah yang kusampaikan.”

Suasana hening, hadirin terdiam, terpikat dengan penuturan lembut Arun Gandhi.

“Anakku,” lanjut guru besar, “hidup ini adalah sebuah kisah, sebuah perjalanan yang di dalamnya banyak terdapat hikmah. Ada banyak pesan moral dari Tuhan. Namun, hidup juga sekaligus pilihan bebas bagi kita. Semua, saya atau anda, bebas memilih, apakah kita akan berusaha merenungkan hikmah di dalam sebuah cerita, atau akan menghabiskan waktu menguji validitas kisah tersebut, lalu mencibir berdasarkan logika intelektual kita. Keputusan ini sepenuhnya ada di tangan kita, anakku. Maka, merenunglah sebelum membuat sebuah keputusan agar kalian memiliki kesadaran sempurna, serta memiliki pandangan jauh ke depan akibat sebuah keputusan yang telah kita buat.”

Mahasiswa masih terpukau.

“Dan, yang menarik,” guru besar berdehem sejenak, “orang-orang hebat dan para pemimpin besar yang sekarang saya kenal, yang dulu pernah menjadi mahasiswa saya, ternyata adalah mereka yang selalu mencari hikmah dari kisah-kisah yang pernah mereka dengar, baik dari saya maupun dari orang lain.”


Demikianlah, melalui kisah di atas, kita belajar bahwa jika berbicara membutuhkan sebuah teknik yang harus dipelajari, bahkan secara etis pula, maka proses mendengarkan dan berpikir juga membutuhkan sebuah keseriusan.

Dalam memperdengarkan sebuah kisah, sebagaimana tutur Arun Gandhi, komposisi yang dibutuhkan oleh pendengar adalah bagaimana mengambil hikmah, pelajaran, ibrah, maupun inspirasi dari kisah yang didengar maupun dibaca.

Cerita mengandung rajutan dialog atau narasi. Di dalam narasi ada esensi. Di dalam esensi terdapat hikmah maupun pelajaran, setelah kita merenungkannya. Aspek negatif tak perlu kita ulangi, yang positif kita apresiasi dalam implementasi.

Sekali lagi, kisah disampaikan agar orang berpikir, bahkan dalam aspek tertentu ia merupakan petunjuk dan rahmat bagi orang beriman, sebagaimana yang tertera dalam QS. Yusuf [12]: 111. Mari kita terus belajar, menangkap makna atau hakikat dari yang tersirat.

Tanggungjawab NU Atas Perdamaian Dunia

Tanggungjawab NU Atas Perdamaian Dunia

Bagikan sekarang

(Dimuat di Majalah AULA NU, November 2022)

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Bulan ini, Forum Religion of Twenty (R20) digelar. R20 secara resmi telah menjadi bagian dari forum G20 sebagai engagement group. Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf menakhodai forum ini bersama Sekjen Liga Muslim Dunia, Dr. Mohammad Al-Issa dari Arab Saudi.

Langkah PBNU mendorong perdamaian dunia dan mencari solusi atas problem yang ada merupakan faktor penting, sebagaimana amanah UUD, juga menjadi implementasi bola dunia dalam logo NU, bahwa organisasi ini harus menjadi pemain penting di wilayah mondial. Upaya Gus Yahya harus diapresiasi, sebab, setiap periode kepengurusan, NU senantiasa menandaskan kiprah internasionalnya.

Dalam sejarahnya, NU selalu bersikap atas problem internasional dan di dunia Islam. Melalui Komite Hijaz, KH. A Wahab Chasbullah memulai branding and bargaining level internasional bagi penganut Ahlussunnah Wal Jamaah dengan melobi Raja Abdul Aziz Ibnu Suud. Ada lima misi yang diemban dengan meminta agar; makam Nabi Muhammad agar tidak dibongkar, adanya jaminan kebebasan bermadzhab, melestarikan tempat bersejarah di zaman Nabi, aturan resmi kerajaan berkaitan dengan biaya haji, serta memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz ditulis dalam bentuk undang-undang. Komite Hijaz ini yang di kemudian hari menjadi NU.

Satu dasawarsa berikutnya, pada 1938, Ketua Umum PBNU, KH. Mahfudz Siddiq menggelorakan semangat empati kepada Palestina melalui perayaan Isra’ Mi’raj besar-besaran pada 27 Rajab, penggalangan dana bagi rakyat Palestina dan menggemakan pembacaan qunut nazilah. Aksi solidaritas digalang karena pada saat itu para ekstremis Yahudi menyerang penduduk Palestina, dua puluh tahun setelah Deklarasi Balfour ditandatangani. Atas aksi solidaritas ini, Kiai Mahfudz ditekan pejabat Hindia Belanda agar instruksi publik ini dibatalkan. Tapi beliau tetap kukuh dengan pendiriannya.

Di kemudian hari, menjelang berakhirnya pendudukan Jepang, KH. M. Hasyim Asy’ari lebih intens berkorespondensi dengan Mufti Palestina, Syekh Muhammad Amin al-Husaini, mengenai nasib bangsanya. Bahkan, ketika Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, Palestina adalah salah satu negara yang paling cepat mengakui kedaulatan kita. Langkah ini bahkan juga diikuti oleh KH. Muhammad Ilyas, mantan Menteri Agama RI, saat menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi (1959-1965). Hubungan antara Indonesia-Palestina semakin hangat.

Kiai kelahiran Kraksaan, Probolinggo ini, di kemudian hari menyerukan pembahasan khusus mengenai Palestina dan al-Quds (Yerussalem) pada saat menggerakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam di Rabat, Maroko, 1969. Bahkan dalam forum negara muslim yang kemudian bernama Organisasi Konferensi Islam (OKI) ini, Kiai Ilyas dianggap sebagai penggerak utama kepedulian terhadap Palestina. Sebagai delegasi Indonesia, beliau tampil moncer dalam forum internasional tersebut.

Anak tiri KH. Wahab Chasbullah, KH. Ahmad Sjaichu, menggerakkan roda Konferensi Islam Asia Afrika, Maret 1965. Bahkan, beliau menjadi Sekjen Organisasi Islam Asia Afrika. Wadah internasional yang bagus ini mulai mengkerut saat Bung Karno tidak lagi menjadi presiden RI.

Berpuluh tahun kemudian, sayap internasional NU lintas batas digerakkan oleh Gus Dur melalui World Conference on Religion and Peace (WCRP). Putra KH. A. Wahid Hasyim ini menjadi presidennya. Secara individu, Gus Dur dengan lincah bergerak ke berbagai jaringan di luar negeri. Dia memainkan pengaruhnya dan pemikirannya, serta memperluas jaringannya.

Sayap internasional NU mengepak lebih jelas di era KH. Hasyim Muzadi dengan dibentuknya Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di berbagai negara. Kiai Hasyim kemudian menginisiasi pelaksanaan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) beberapa angkatan, yang menghimpun para ulama dari Sunni dan Syiah moderat untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Pengganti Kiai Hasyim, KH. Said Aqil Siradj punya wadah lain, International Summit Of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL). Acara yang mempertemukan ratusan delegasi ulama dari berbagai negara ini, pada Mei 2016, mencari format terbaik yang pas mewujudkan dunia yang berkeadilan.

Di era Kiai Said pula, NU memiliki adik di luar negeri. Di Afganistan, ulama lintas etnis yang capek perang saudara memcari komposisi yang pas untuk mendamaikan konflik negaranya. Mereka studi banding ke PBNU, kemudian pulang ke negaranya dan memutuskan mendirikan NU di berbagai provinsi. Mereka mengkloning NU di negaranya, menjadikannya sebagai prototipe organisasi yang menebarkan kedamaian. NU Afganistan memang tidak punya kaitan struktural dengan PBNU, tapi NU dijadikan parameter organisatoris dan sumber inspirasi. Kini sudah berdiri 40 cabang NU Afganistan di berbagai distrik.

Pada Juli 2016, Habib Luthbi bin Yahya menggelar Konferensi Internasional Bela Negara dengan mengundang unsur ulama dari berbagai kawasan. Ini even kedua yang digelar oleh Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) yang dipimpin Habib Luthfi, setelah menggelar Multaqa Shufi Al-‘Alami, 2012.

Melalui berbagai perhelatan di atas, ulama NU tidak hanya berusaha menjadikan Islam sebagai ajaran universal, menggerakkan jejaring ulama Internasional, serta berusaha mengerem laju radikalisme berbaju agama, melainkan lebih dari itu, para individu NU maupun secara organisatoris bergerak dinamis mewujudkan perdamaian dunia.

Kini, melalui forum R20, NU berkesempatakan melalukan peningkatan daya tawar di panggung internasional. Berbagai masalah yang ada, baik Islamopobhia di Eropa, kesenjangan ekonomi di berbagai negara muslim, maupun penindasan dan diskriminasi yang menimpa kaum muslimin di beberapa negara, harus diakhiri. Cara yang ditempuh melalui forum ini sudah elegan, tinggal konsistensi pelaksanaan atas kesepakatan yang dicapai.

Internasionalisasi NU melalui forum ini merupakan langkah taktis menularkan konsep Aswaja ala Indonesia ke kawasan internasional. Miminjam istilah “Arus Balik” Pramoedya Ananta Toer, forum tersebut merupakan “arus balik” Islam Indonesia melalui NU dalam berkontribusi mempersatukan dunia Islam dan bersama-sama membumikan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Jika kedua pola kiprah NU di atas bisa terus dilanggengkan, bukan tidak mungkin jika beberapa tahun mendatang respek dunia Islam dan dunia internasional semakin meningkat terhadap organisasi ini. Secara otomatis, manhaj dan fikrah ahlussunnah wal jamaah annahdliyyah bisa dieskpor dan diterima lebih luas. Dengan demikian, misi menjadikan NU sebagai petarung, pelobi dan pendamai kelas dunia, bukan level “jago kandang”, di usianya yang seabad bisa segera tercapai.

Wallahu A’lam Bisshawab

Riwayat Sayyid Yang Menjadi Telik Sandi

Riwayat Sayyid Yang Menjadi Telik Sandi

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I

Akhir Januari 2017, di pagi hari saya mengantar Avisa ke Kampoeng Ilmu, di Jl. Semarang, Surabaya, yang banyak menyediakan buku-buku bekas dengan harga murah dan buku-buku agak baru dengan harga njomplang. Jika anak mbarep saya tertarik pada buku anak-anak, pandangan saya justru tertumbuk pada buku yang masih bersegel, “John Sakava: Lika-Liku Perjalanan Mantan Staf Khusus Kepala BIN” (Jakarta: Change, 2015) karya John Sakava sendiri alias Yahya Assegaf.

Jelas, ini sayyid yang khariqul adat, karena memilih menjadi intelijen. Dia melenceng dari tradisi kelompok Sayyid/Saadah Ba’alawi yang banyak menjadi ulama, negarawan maupun pebisnis. Buku bagus ini sesuai labelnya tertera harga Rp 95.000, tapi pagi itu bisa saya tebus dengan harga kocak, Rp 20.000 saja.

Sebagaimana pesepakbola, hanya ada beberapa agen intelijen yang menuliskan kiprahnya usai pensiun dari pekerjaannya. Di luar negeri banyak, tapi di Indonesia hanya segelintir saja yang mau menuliskan kisah spionasenya. Dan, Yahya Assegaf adalah salah satunya. Lahir dari keluarga Arab terpandang di Surabaya, petualangan Yahya dimulai sejak usia 16 tahun, tatkala dia berangkat sendirian ke Hadramaut Yaman, untuk menjumpai ayahnya. Di sini dia juga berguru di Tarim, yang terkenal sebagai kawasan para ulama.

Ketika dia mendapatkan beasiswa di Univ. Al-Azhar dan berangkat bersama duo Shihab: Quraisy dan Alwi, lalu disusul Gus Dur, Yahya hanya betah di bangku perkuliahan selama 3 tahun. Sisanya dia habiskan dengan cara banyak berdiskusi di kedai kopi bersama pelarian politik Yaman Selatan dan beberapa aktivis politik Irak, seperti Saddam Husein, dan kawan-kawannya. Kelak, jejaring politik yang tumbuh di warung kopi ini terus dia bina sampai bisa menjelajahi kawasan Yaman Selatan, Suriah, Irak, Bahrain, Qatar, Saudi Arabia, Dubai dan banyak negara Timur Tengah lainnya.

Di Kairo, tak puas hanya berada di bangku perkuliahan, Yahya kemudian bergabung dengan gerakan anti kolonialisme Inggris di Yaman. Di negara leluhurnya ini, kelak, dia bahkan memegang beberapa posisi vital setelah Yaman merdeka.

Yahya Aseegaf, alias John Sakava ini juga pernah terlibat perburuan kaum Marxis di kawasan Yaman. Di sini, dia menyamar sebagai pelarian politik PKI. Bahkan, sebelum kemudian mempreteli kekuatan rezim Marxis yang kebanyakan juga para sahabatnya saat melawan kolonialisme Inggris, Yahya pernah menjalani pelatihan gerilya di Uni Soviet, kiblat kaum komunis. Petualangannya di jagat teliksandi kemudian mengantarkannya menjelajahi berbagai kawasan di muka bumi, dengan alasan tugas. Beberapa kali Yahya memang nyaris terbunuh dalam petualangannya, namun kelincahannya bermanuver membuatnya awet umur hingga kini.

Di Eropa, ketika mendapat tugas mempreteli jaringan kaum Arab Marxis, dia memanfaatkan perkawanannya dengan para sopir taksi asal Arab dan Afrika Utara serta sisa-sisa kekuatan Republik Maluku Selatan (RMS) untuk menjadi informan bagi dirinya. Karena ibu kandungnya berasal dari Ambon dan dia masih fasih berbahasa lokal, dia cepat mendapatkan kepercayaan dari kaum RMS ini. Perburuannya berlangsung dari Belanda, Jerman, Belgia, lalu ke Djobouti, negara si tanduk Afrika yang berhadapan dengan Yaman. Kali ini, Yahya menyamar sebagai penjual gaharu dan, klaimnya, berhasil menghabisi beberapa spion Uni Soviet yang beroperasi di sini.

Bahkan Uni Emirat Arab pernah menyewa jasanya secara khusus selama beberapa tahun untuk menelusuri dan membendung gejolak sosial politik yang terjadi di negara sekitarnya, termasuk melacak jejak para teroris pembajak British Airways, 22 Nopember 1974, di Dubai. Abu Dhabi juga menggunakan jasa Yahya untuk memantau jaringan pembajak ini di Eropa.

Namun, tak ada yang lebih menegangkan daripada ceritanya soal perburuan teroris bayaran Abu Nidal yang banyak terkoneksi dengan ekstremis kiri dari berbagai negara, seperti Ilich Ramires Sanchez alias Carlos The Jakcal, Baader Meinhof dari Jerman, dan Tentara Merah Jepang.

Ketika bertugas untuk RI, Yahya banyak diberi amanah memetakan gejolak Timur Tengah dan aktor yang bermain di dalamnya, serta melobi diplomat dan kaum elit negara kawasan ini ketika RI membutuhkan suara negara teluk di sidang PBB, khususnya dalam persoalan Timor Leste.

Sebagai seorang yang akrab dengan dunia spionase, pengalaman yang tak terlupakan justru dia alami saat di awal 1988, dia diculik sekelompok tentara. Selama 5 bulan dia disekap dan disiksa saban hari. Untungnya, Azizah Alatas, istrinya berhasil melobi Zulkifli Lubis, bapak intelijen Indonesia, dan Yoga Sugama, mantan bos intelijen RI, untuk menemukan jejak suaminya. Lobi bawah tanah kedua tokoh senior intelijen ini yang turut andil membebaskannya. Dia menengarai, para penculik ini dikendalikan oleh beberapa elit tentara yang tidak menginginkan dirinya berdekatan dengan inner circle-nya Pak Harto.

Harus diakui pengalamannya yang kaya di jagat spionase ini membuatnya menjadi salah satu dari sedikit tokoh intelijen yang bisa bertatapmuka dengan Meir Dagan, orang nomor satu di Mossad, sekaligus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan musuh nomor 1 Mossad: Khalid Mash’al, juru bicara Hamas, Palestina, yang tinggal di Damaskus, Suriah.

Sejujurnya saya melihat apabila Yahya punya tipikal seorang ronin (dalam dunia keperwiraan Jepang). Dia bertualang, menyesuaikan diri dengan dunia yang dihadapinya sekaligus menunggu pengguna jasa dan kelihaiannya. Kelak, setelah “lelah” dalam dunia perburuan dan pengintaian, dia kembali ke tanah airnya, beberapa waktu menjelang reformasi. Sempat ingin bergabung dengan PKB, Yahya malah diminta Gus Dur agar bergabung ke PDI-P bersama “titipan”nya, Saifullah Yusuf. Lepas dari Banteng, Yahya kemudian dilibatka dalam tim pemenangan SBY-Kalla. Di pemerintahan SBY, Yahya menjadi anggota BIN sejak 2005-2013, di bawah komando “Papa” Syamsir Siregar dan Sutanto, pensiunan jenderal Polri yang bisa menjadi bos BIN, selain Budi Gunawan.

Yahya, yang juga sahabat karib Gus Dur sejak di Kairo, ini adalah sedikit tokoh yang mau menulis memoar usai pensiun berdinas. Selain Yahya, ada Brigjend (Purn.) Slamet Murtedjo Singgih yang menceritakan perjalanan hidupnya sebagai seorang tentara, melalui “Intelijen: Catatan Harian Seorang Serdadu” (Kata Hasta Pustaka: 2014). Adapun mantan Kabakin Jenderal (Pur.) Yoga Sugama menuturkan kisah hidupnya dalam “Memori Jenderal Yoga: (Bina Rena Pariwara, 1991). Sedangkan Julius Pour hadir melalui biografi Benny Moerdani dalam “Tragedi Seorang Loyalis” (Kata Hasta Pustaka: 2007), Peter Kasenda melalui “Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNA AD” (Kompas: 2012) yang mengisahkan Zulkifli Lubis, bapak intelijen Indonesia. Tak mau kalah, M. Arief Rahmat melalui “Ali Moertopo dan Dunia Intelijen Indonesia” (Narasi: 2013) mengupas jejak salah seorang paling kontroversial di era Orde Baru. Dalam kupasan intelijen militer, AM. Hendropiyono hadir melalui “Operasi Sandi Yudha” (Kompas: 2013).

Sebagai pengaya wacana, Majalah TEMPO sudah pernah mengupas secara khusus dua sosok kontroversial dalam dunia teliksandi Indonesia: Ali Moertopo dan Benny Moerdani. Tapi, yang paling menarik menelusuri sejarah dan kiprah badan intelijen negara kita sejak kelahirannya adalah buku karya Ken Conboy, “INTEL Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia” (Pustaka Primatama: 2007).

Yahya, yang juga dipanggil dengan gelar Sayyid maupun Habib, ini adalah di antara segelintir keturunan Arab yang bergiat di jagat teliksandi. Terlepas dari kiprahnya yang kontroversial di mata aktivis ormas Islam (tanya sama Munarman FPI soal Yahya Assegaf dan anaknya, Hani, niscaya ada banyak umpatan syar’i dari dia hahaha), kehadiran buku ini turut memperkaya wawasan kita mengenai detail operasi intelijen dan kontra intelijen, khususnya di tanah air.

WAllahu A’lam Bisshawab

Guru Dronacharya

Guru Dronacharya

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I

Saya tidak begitu paham wayang. Tapi saya suka beberapa ceritanya, baik carangan maupun pakem. Di antaranya, carangan berjudul Bimasuci alias Dewaruci, kisah pencarian hakikat jatidiri yang dilakoni Bima; serta tentang Ekalaya, salah satu pakem Mahabarata.

Baik Bima maupun Ekalaya adalah tipikal murid yang taat kepada gurunya. Apesnya, keduanya sama-sama punya guru yang kharismatik namun culas. Namanya Guru Durna alias Resi Drona atau Dronacharya. Dengan licik, menjelang Baratayudha, Resi Durna meminta agar Bima mencari air kehidupan, baik di gunung maupun menyelam ke dasar samudera.

Perintah ini hanya akal-akalan Resi Durna agar Bima tewas dalam melaksanakan titahnya. Sebuah konspirasi jahat, tentu saja. Tujuannya, agar kekuatan Pandawa susut karena Bima telah berkalang tanah. Sayang, siasat licik ini gagal. Bima selamat. Bahkan Sang Werkudara ini berjumpa dengan dewa kerdil, Dewaruci, seukuran telapak tangannya. Liliput yang berwajah dirinya, dan sebenarnya merupakan hakikat dari jatidiri Bima yang sebenarnya. Dialog antara Bima dengan Dewaruci ini yang menjadi titik tumpu cerita. Silahkan cari di YouTube, saya suka sekali bakti Bima sebagai murid, maupun dialog “berat”nya bersama Dewaruci.

Murid lain, Ekalaya, adalah jagoan yang punya kemampuan memanah yang baik. Dia bersaing dengan Arjuna. Sayang, Resi Durna lebih memilih Arjuna, yang berasal dari kaum priyayi, dibanding dengan Ekalaya, yang berasal dari kasta rendahan. Ekalaya terusir, tapi dia tetap berlatih memanah. Dia membuat patung serupa Resi Durna. Setiap kali berlatih memanah, dia menyembah patung itu. Ekalaya juga meminta restu kepada patung yang dia buat dari jejak tanah Resi Durna itu. Baginya, ini adalah wujud ketakziman seorang murid kepada guru.

Di kemudian hari, Resi Durna terkejut mengetahui kemampuan memanah Ekalaya yang semakin baik. Khawatir bakal menyaingi kemampuan murid kesayangannya, Arjuna, Guru Durna kembali bersiasat licik. Dia tahu jika Ekalaya senantiasa menghormatinya sebagai guru, walaupun dia pernah mengusirnya. Karena itu, Resi Durna meminta bukti loyalitas Ekalaya sebagai murid. Caranya, harus memotong jari telunjuknya. Bukti kepatuhan murid kepada guru. Ekalaya taat. Dia memotong jemarinya. Hilang sudah kemampuan memanahnya, sebab mustahil dia melesatkan anak panah tanpa jari telunjuk. Talenta Ekalaya hancur, karier Arjuna semakin melesat. Semua gara-gara kelicikan Resi Durna.


Bima dan Ekalaya adalah para murid yang ingin membuktikan cintanya. Sehormat-hormatnya. Namun sang guru, Resi Durna, malah berniat mencelakakannya. Sebagaimana Bima dan Ekalaya, banyak murid bertalenta harus “patah” karena ulah gurunya. Banyak dari mereka yang minder akibat ucapan pesimistik dari gurunya. Ucapan yang merendahkan martabatnya dan menghancurkan kepercayaan dirinya. Kalimat-kalimat teror yang mengguncang psikisnya.

Siswa yang tidak bisa matematika, misalnya, diteror sedemikian rupa karena gagal mengerjakan tugas. Ada pula siswa yang tidak mahir sains disebut tidak punya masa depan (padahal bakatnya di bidang musik). Ada juga yang tidak bisa ilmu nahwu, misalnya, kepercayaan dirinya jatuh karena gurunya bilang, “Madesu” alias Masa Depan Suram. Kutukan-kutukan yang disadari atau tidak bekerja di alam bawah sadar para siswa. Mereka lulus dari sebuah institusi pendidikan sembari membawa beban “kegagalan”, maupun memendam kesumat.

Menjadi murid itu sulit. Apalagi menjadi guru. Karena itu, di dalam Adabul Alim wal Muta’allim, KH. Hasyim Asy’ari memberi beberapa poin petunjuk: tips menjadi santri yang baik, juga tatacara menjadi guru yang baik. Ada 7 poin yang beliau sampaikan. Di antara hal yang paling penting bagi seorang guru, kata Kiai Hasyim, menata niat sebelum mengajar. Semata-mata hanya untuk mendapatkan ridla Allah. Ini sulit, tentu saja. Tapi harus dilakukan. Perlahan-lahan. Saran lain, guru harus bisa bersabar terhadap murid yang niatnya melenceng. Berat nian, gaes!

Okelah, jadi guru itu berat. Sulit. Tapi cerita Mahabharata di atas mengajarkan, kalau jadi guru harus bisa bersikap adil. Kepada diri sendiri maupun kepada murid. Jangan hanya karena tidak suka, maka murid dicueki. Jangan karena terlalu sayang, murid dimanja. Jangan karena terlalu menganggap diri kita pandai, lantas enggan belajar. Jangan sampai karena merasa telah pintar, akhirnya malah enggan menjawab “saya tidak tahu”. Jika tahu, jawablah. Jika tidak tahu, bilang apa adanya. Toh kalimat ini tidak akan meruntuhkan derajat dan kemuliaan seorang guru.

Menjadi murid juga tidak kalah berat. Sebagaimana Bima dan Ekalaya, mula-mula harus menata hati. Merendah, sebab, sebagaimana watak air, ilmu tidak akan pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi. Bima dan Ekalaya adalah murid yang menundukkan jiwanya di hadapan guru, menata etika terlebih dulu sebelum belajar hal baru, dan senantiasa menata lelaku penghormatan kepada resinya. Karena itu, Bima memperoleh kekuatannya justru ketika hendak dijerumuskan oleh gurunya, dan Ekalaya mengembangkan potensinya justru setelah diremehkan dan diusir oleh gurunya. Menjadi murid yang baik itu sesulit menjadi guru yang baik. Yang mudah itu menjadi papan tulis. Hehehe.

Jangan sampai kita menjadi Resi Drona yang licik, yang menghambat pertumbuhan potensi muridnya, karena tujuan jangka pendek.

Menjadi guru inspiratif memang tidak mudah, namun proses jangka panjang bisa menjadikan diri kita pendidik yang baik bagi para siswa. Guru yang bukan saja mengajar, melainkan mendidik, memahat jiwa dan mengukir akhlak muridnya, sekaligus memahami karakter murid dan melejitkan potensinya.

Kita berutang contoh pada karakter H.O.S. Tjokroaminto. Dia mendidik para remaja di kos-kosan miliknya. Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso, Kartosoewirjo, adalah para remaja yang dia tempa di sudut rumahnya di Surabaya. Kelak, kita tahu, para muridnya ini menjadi bagian dari para pejuang yang, walaupun berbeda ideologi, ikut mewarnai perjalanan bangsa ini. Jadi, nasionalisme Indonesia bisa dikatakan tumbuh di kos-kosan sempit di Peneleh, Surabaya, tempat kakek buyut Maia Estianti itu menempa para kadernya.

Di sudut lain, ada Syaikhona Kholil Bangkalan. Seorang ulama yang terkenal keramat dan menjadi guru banyak ulama. Sebagian besar jaringan murid yang beliau bina menjadi ulama pejuang bangsa, bahkan menjadi pahlawan nasional: KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. A. Wahab Chasbullah, KH. As’ad Syamsul Arifin, dan sebagainya.

Baiklah, kita memang bukan para raksasa ilmu yang secara ideal berhasil menempa kader-kadernya sesuai dengan potensinya masing-masing, tapi minimal dengan berkaca pada sosok-sosok inspiratif seperti Butet Manurung di komunitas Suku Anak Dalam di Jambi yang tergambar melalui Sokola Rimba (2013), matematikawan Anand Kumar dalam Super 30 (2019), maupun Erin Gruwel dalam Freedom Writers (2007), atau para tokoh rekaan seperti Ram Shankar Nikumbh dalam film Taare Zamen Par (2007), Naina Mathur dalam Hichki (2018), Gita Rani dalam Raatchasi (2019), maupun John Keating dalam film klasik Dead Poet Society (1989).

Dengan berbagai tokoh di atas, nyata maupun rekaan, kita memerlukan inspirasi menjadi guru yang baik. Karena ada unsur “menjadi”, maka dibutuhkan proses, tidak instan, bukan sim salabim, tidak kun fayakun. Ada proses di dalamnya, baik internal, melalui peningkatan kualitas diri; maupun eksternal, melalui interaksi dengan orang lain. Dengan cara—meminjam istilah Tan Malaka—terbentur, terbentur, lalu terbentuk.

Wallahu A’lam Bishshawab

(Sepotong Kata Pengantar yang saya buat untuk buku Menjadi Guru Inspiratif di Era Digital” yang dieditori oleh Ustadz Dr. Masyhari M.Pd.I )

KH Ahmad Sadid Jauhari dan Rahasia Rezeki Barakah

KH Ahmad Sadid Jauhari dan Rahasia Rezeki Barakah

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Sahabat saya, Ustadz Ahmad Athoillah, pernah menulis di linimasa Fesbuknya. Dengan mengutip pendapat temannya, dia menulis: Kalau saya amati dan rasakan, apabila beberapa hari malas ngajar alif ba’ ta’ kepada anak-anak, maka rezeki saya jadi seret. Kalau aktif dan semangat ngajar, rezeki rasanya juga ikut lancar.

Bagi saya, ‘ilmu titen’ di atas sangat menarik. Jika dirasionalkan, tampak tidak masuk akal. Tapi jika diselaraskan dengan hakikat rezeki, ada benarnya.

Soal misteri rezeki ini, saya jadi ingat apa yang disampaikan oleh KH A Sadid Jauhari, Pengasuh Pondok Pesantren Assunniyah, Kencong, Jember. Beliau pernah bercerita:

Ada seorang ustadz yang mulai sering membolos ngajar karena kesibukan berdagang. Pada akhirnya, jam mengajarnya di pondok keteteran. Karena sering absen, dia izin ke pengasuh agar ‘istirahat mengajar’ selama beberapa bulan mendatang. Tujuannya, agar lebih fokus berdagang. Kiai mengizinkan walau berat hati.

Beberapa bulan kemudian, ustadz ini datang lagi. Kali ini curhat kalau usahanya malah kocar-kacir. Ekonomi mulai seret. Oleh kiai disarankan agar mengajar ngaji lagi. Saran dituruti.

Dan, ketika mengajarnya mulai istikamah, uniknya, bisnisnya malah jalan dan berkembang.

Jadi, laba memang dapat dari berdagang, tapi soal rezeki itu wewenang dari Allah. Jalurnya pun bermacam-macam. Kalau kita mendarmabaktikan waktu dan ilmu yang dimiliki untuk santri atau masyarakat dengan ikhlas, walaupun dengan bisyarah yang ‘apa adanya’ dengan tetap memiliki pekerjaan utama maupun sampingan, insyaallah rezeki bakal dicukupi.

Allah menjamin rezeki setiap hamba-Nya melalui jatah yang ditebar (ar-rizq al-maqsum). Untuk meraihnya ada tiga langkah yang harus dilakukan, yaitu al-masy-yu (berjalan), al-intisyar (bertebaran) dan al-ibtigha’ (mencari). Ketiga kunci ini ada para rumus baku. Apa itu? Kerja, kerja, kerja, meminjam istilah Pak Jokowi. Karena itu, tidak pantas bagi seorang muslim hanya ongkang-ongkang saja menunggu jatah rezekinya. Karena itu Sayyidina Umar pernah menegur sahabatnya yang tidak bekerja. Beliau bahkan menyitir surat Yusuf ayat 55, ketika Nabi Yusuf secara profesional mengajukan dirinya sebagai bendahara kerajaan: Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.

Karena itu, wajib bagi seorang pengajar memiliki pekerjaan tetap, di samping kesibukannya sebagai pendidik. Pekerjaan sampingan yang ditekuni seorang guru tidak akan membuat muruahnya jatuh. Justru dengan memiliki pekerjaan tetap yang bisa menopang ekonominya, dia telah bertindak gentle! Walaupun kadangkala pekerjaan tersebut terasa remeh-temeh atau bahkan ‘hina’ di mata sesama manusia.

Setidaknya, pesan KH Maimoen Zubair ini tetap harus dijadikan patokan bagi para pendidik: Nak, kamu kalau jadi guru, dosen atau jadi kiai kamu harus tetep usaha, harus punya usaha sampingan biar hati kamu nggak selalu mengharap pemberian ataupun bayaran orang lain, karena usaha yang dari hasil keringatmu sendiri itu barokah.

Apa yang disampaikan Kiai Sadid dan Mbah Moen di atas juga selaras dengan yang pernah disampaikan oleh almaghfurlah KH A Zaini Syafawi, Pengasuh Pondok pesantren Mabdaul Ma’arif, Jombang-Jember, kepada saya, suatu ketika: Barokah itu muncul, antara lain, karena khidmah di wilayah tarbiyah.

Artikel ini pernah dimuat di NU Online Jatim https://jatim.nu.or.id/tokoh/kh-sadid-jauhari-dan-rahasia-rezeki-barakah-I3uZy

Ayo, Berdayakan Yatim Melalui Kas Masjid

Ayo, Berdayakan Yatim Melalui Kas Masjid

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Kalau dapat titipan duit dari sahabat, yang statusnya bukan zakat, biasanya saya “ogah” menyalurkannya ke masjid. Saya memilih menyalurkan ke anak yatim, atau untuk nyangoni guru-guru ngaji, khususnya TPQ.

Mengapa? Masjid sudah kebanyakan uang, sampai takmirnya kadang bingung mau mentasharrufkan. Akhirnya “hanya” dipakai memperindah bangunan saja. Untuk pembangunan sumber daya manusia, ya minim.

Titipan dana sedekah, maupun titipan dana untuk anak yatim biasanya juga saya pakai melunasi biaya pendidikan dan membelikan kebutuhan sekolah, juga melunasi tanggungan syahriah mereka di TPQ. Pasalnya, banyak, sekali lagi banyak, anak-anak yatim yang punya tanggungan keuangan di sekolahnya maupun di TPQ. Kalaupun ada yang mondok, biasanya juga saya bayarkan untuk syahriah sekian bulan. Ini lebih praktis menjamin manajemen keuangan lembaga (yang ikut tersendat manakala ada tunggakan dari santri) dan juga keberlangsungan pendidikan mereka.

Kita memahami, sepeninggal ayahnya (aduuuh mewek saya rek!) adik-adik ini membutuhkan kasih sayang juga topangan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Kalaupun ada sangu bagi mereka, biasanya masyarakat memilih membantu di saat Ramadan dan Muharram saja. Selebihnya jarang yang peduli pada kebutuhan bulanan, khususnya sandang pangan dan pendidikan.

Padahal, andaikan, dana masjid dipakai untuk membiayai mereka sejak dini dan juga memondokkan mereka niscaya 10 tahun mendatang masjid sudah berhasil memanen kader-kader utama calon imam dan guru ngaji yang siap mendarmabaktikan ilmunya bagi masyarakat sekitar masjid. Dengan menjadi takmir, imam rawatib dan khatib Jumat, juga guru TPQ yang kompeten juga guru ngaji kitab di masjid. Ayo silahkan dicek, berapa banyak masjid yang hanya megah bangunannya, banyak saldonya, tapi nggak ada kegiatan ngaji kitabnya.

Setidaknya ini yang saya sampaikan saat ngisi Nuzulul Qur’an di Masjid Al-Mukhlasin, Benjeng, Gresik, akhir Ramadan kemarin. Agar kotak amal dibagi tiga: untuk amal jariyah pengelolaan masjid, anak yatim (beasiswa), dan dana sosial (buat beli kitab, konsumsi jamaah juga bisyaroh guru ngaji kitab). Jamaah sepakat, walaupun nggak tahu sudah dilaksanakan apa belum.

Tak masalah, minimal saya sudah melaksanakannya di Masjid Ulil Azmi PP. Mabdaul Ma’arif Jombang-Jember. Ada ngaji kitab rutinan mingguan dan bulanan, yang disertai konsumsi jamaah, juga Bank Beras, dan beasiswa yatim. Dana dari mana? Sebagian ya dari kotak amal yang dibagi 3 tadi. Di Masjid Al-Falah Kencong Jember, skema 3 kotak ini juga sudah dilaksanakan dalam kurun 5 tahun terakhir.

Dengan cara ini, minimal kita melaksanakan dawuhnya Habib Lutfi bin Yahya dalam sebuah kesempatan, mengenai pembagian kotak amal masjid menjadi tiga tadi. Tujuannya, agar masyarakat hatinya ta’alluq dengan masjid.

Kalau demikian, kita tidak usah khawatir masjid bakal diserobot oleh kelompok sebelah, sebab mekanisme menjadikan masjid sebagai sentra keilmuan dan sosial sudah berlangsung. Dan, pembibitan ulama juga sudah dipupuk melalui skema dana pendidikan anak yatim tadi.

Anak-anak yatim yang tumbuh dan besar dari masjid banyak yang kemudian menjadi ulama besar: Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dll. Mereka keasyikan belajar di masjid melalui skema ngaji rutinan, ya rutinan, cikal bakal madrasah bernama Kuttab.

Kuttab inilah yang bisa kita hidupkan melalui ngaji rutinan di masjid. Yang datang hanya 1-2 tidak masalah. Butuh mental dan kesabaran untuk mengembangkannya dan mempertahankannya. Yang terpenting adalah membangun masjid bukan bangunannya saja, melainkan juga pada pengembangan sumberdaya manusianya.

Selain itu, saya merasa risih jika melihat masjid kosong melompong dari literasi. Nggak ada ngaji rutinan, juga nggak ada perpustakaan. Padahal perpustakaan ini fondasi utama keilmuan. Imam, khotib, maupun masyarakat bisa mencari referensi di sini. Sisanya, koleksi buku-buku anak kudu diperbanyak. Anak-anak jangan dipaksa membaca. Kita hanya butuh menyediakan taman baca sesuai keinginan dan kecenderungannya. Kalau ini sudah dirintis, kita bakal melihat anak-anak yang ndelosoran sambil baca buku, bukan yang rebahan sambil main hape. Setidaknya, skema ini sudah dilaksanakan oleh Masjid al-Huda di desa saya. Ada ngaji rutinnya, juga ada rintisan perpustakaannya. Keren kan?

Tapi, bagi yang sepemikiran dengan saya, kudu ingat, bakal banyak yang menentang. Sebab pola seperti ini masih asing. Belum biasa. Padahal jika hendak diterapkan, minimal dengan skema 3 jenis kotak amal, maka pemberdayaan anak yatim bisa dilakukan. Mereka disekolahkan, dipondokkan dan dikuliahkan dengan dana yatim kotak amal. Dengan cara ini, 6-9 tahun mendatang hasil pembibitan ini bisa dipanen. Kaderisasi imam dan khatib berjalan dengan baik. Sehingga tidak ada lagi masjid yang nge-bon alias impor imam dari kampung sebelah, atau bahkan mendatangkan imam dari kelompok sebelah. Cukup dari warga desa setempat. Dari anak anak yatim yang kelak siap menjadi pengelola masjid.

Wallahu A’lam Bishshawab