Kiprah Internasional Ulama Nusantara[1]

Kiprah Internasional Ulama Nusantara[1]

Bagikan sekarang

Kiprah Internasional Ulama Nusantara[1]

Oleh: Rijal Mumazziq Z[2]

Di sekitaran Masjidil Haram, selain orang Arab, Turki, Afrika dan orang dari Asia Selatan (Pakistan, India, Bangladesh), kita bakal banyak menjumpai orang Indonesia. Para askar, petugas kebersihan, maupun pedagang juga menguasai beberapa kosakata bahasa kita. Saya membayangkan, satu-dua abad silam, kondisinya juga tidak jauh beda. Komunitas Jawi (orang Nusantara) punya segmentasi tersendiri dalam pergaulan internasional di kawasan Makkah. Jangan heran jika Belanda meminta Snouck Hurgronje pada 1884-1885 mendatangi dan memata-matai Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (1815-1897), salah satu simpul terpenting jejaring Ulama Nusantara. Sebab, ulama yang produktif berkarya ini menjadi guru, bukan hanya bagi orang Nusantara saja, melainkan bagi bangsa lain.

Sejak era Syekh Abdurrauf Assingkili (1615-1693), hingga zaman Syekh Yasin bin Isa al-Fadani (1915-1990), bahasa Melayu dan Indonesia juga digunakan sebagai pilihan berkomunikasi, baik dalam soal ekonomi maupun ideologi. Solidaritas dan identitas kultural sesama warga Nusantara juga menguat, termasuk pada saat melakukan pembelaan secara ilmiah atas hoaks yang beredar: orang Nusantara gemar makan ular!

Di awal abad XX, komunitas orang Nusantara memang dirisak karena makan belut. Orang Arab menganggap binatang ini sebagai ular. Maka, ramailah gosip jika kaum muslimin Nusantara suka melahap ular, binatang yang haram dikonsumsi. Karena hoaks ini semakin liar, maka Syekh Raden Mukhtar bin Atharid al-Bughury tampil mengklarifikasinya dengan menulis sebuah kitab. Tidak tebal, tapi cukup memberikan pemahaman mengenai seluk beluk belut dan hukum memakannya, berdasarkan keterangan ulama di kitab-kitab lawas. Kitab ini diberi judul As-Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham Al-Kadzibah fi Bayani hilli al-Belut wa ar-Raddu ‘ala Man Harramahu. Kitab yang berarti “Halilintar yang Membakar Prasangka Dusta; Kitab yang Menerangkan Kehalalan Belut dan Bantahan Terhadap Pihak yang Mengharamkannya” ini diselesaikan pada tahun 1329 H/1911 M.[3]

Dengan demikian, Syekh Mukhtar tidak hanya pasif dan diam saja melihat kabar liar dan olok-olokan soal belut. Beliau tampil memberikan penjelasan komplit untuk menepisnya. Di hadapan para ulama non-Nusantara, beliau memiliki independensi dan kepercayaan diri untuk tidak langsung menerima hukum keharaman memakan belut, melainkan justru memberikan sanggahan serta meluruskan hukum menyantapnya.

Keberadaan orang Nusantara memang membawa berkah. Penerbit Musthafa Babi al-Halabi, Mesir, bahkan mencetak kitab-kitab berbahasa Melayu dan Jawa karya ulama Nusantara untuk segmen pembaca di kawasan Haramain, dan untuk Kawasan Asia Tenggara hak distribusinya dikelola Penerbit Salim Nabhan Surabaya. Bahkan, penerbit asal Mesir ini menerbitkan katalog khusus berisi berbagai kitab berbahasa Nusantara (kutub billughatil Jawiyyah), baik Melayu (seperti Sirath al-Mustaqim-nya Syekh Nuruddin Arraniri) maupun Jawa (Syarah Hikam Mriki, karya Syekh Sholeh Darat Assamarani). Hal ini sangat memudahkan para santri pada saat itu untuk mengakses berbagai kitab terbitan penerbit asal Mesir ini.

Tipologi Penulisan Karya

            Ulama adalah koki intelektual. Mereka meramu bahan, memasak, menyesuaikan citarasa sekaligus menyuguhkannya kepada khalayak. Tidak heran jika masing-masing memiliki pola penulisan yang khas. Setidaknya pemetaan ini bisa menjadi awal memahami kiprah para ulama di negeri kita.

Pertama, ulama kita menulis karya menggunakan Bahasa Arab. Di antaranya Syekh Nawawi al-Bantani (1815-1897) yang semua kitabnya ditulis menggunakan Bahasa Arab. Antara lain, Nihayat Az-Zain, Uqudul Lujain, Tafsir Marah Labid, Maraqi al-Ubudiyyah, Qathr al-Ghaits, Tausyekh, dan lain sebagainya. Ada juga Syekh Mahfudz Attarmasy (1868– 1920), melalui Nail al-Mamul bi Hasyiyati Ghayat al-Wushul fi ‘ilmi al-Ushul, Manhaj Dzawi an-Nazhar, Hasyiyah at-Turmusi, Fath al-Khabir, Bughyat al-Adzkiya, dan sebagainya. Keduanya lahir di Jawa, besar dan berkiprah di Haramain (Makkah-Madinah) hingga akhir hayat. Satu lagi, ulama yang dianggap paling moncer di akhir abad XX, Syekh Yasin bin Isa al-Fadani (1915-1990). Ayahnya berasal dari Minangkabau, adapun beliau lahir di Makkah, dan menjadi salah satu sanad terpenting dalam jaringan keilmuan ulama dunia. Di antara karyanya, Al-Fawaid al-Janiyyah Ala Qawa’id al-Fiqhiyah, Husn as-Siyaghah, Bughyat al-Musytaq, Arbauna Haditsan min Arba`in Kitaban `an Arbaina Syaikhan, dan lebih dari 100 karya lain ditulis menggunakan Bahasa Arab.[4]

Karya yang ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab merupakan langkah taktis agar kitab tersebut bisa diakses dan dinikmati oleh komunitas internasional. Sebab, hingga saat ini bahasa Arab merupakan lingua franca yang dipakai sebagai bahasa persatuan dan bahasa keilmuan Islam. Jika ketiga ulama di atas merupakan sedikit dari ulama Indonesia yang tinggal dan berkiprah di Makkah-Madinah hingga akhir hayat, maka ada banyak pula ulama Indonesia yang tinggal di desa kelahirannya, namun mampu menorehkan reputasi internasionalnya dengan menulis kitab berbahasa Arab. Di antaranya Syaikhona Kholil Bangkalan,[5] KH. M. Hasyim Asy’ari,[6] KH. Ihsan Jampes Kediri, KH. MA. Sahal Mahfudz Pati, KH. Maimoen Zubair Rembang, KH. Muhajirin Amsar Addary Bekasi, KH. Yasin Asmuni Kediri dan sebagainya. Saat ini ada beberapa ulama yang juga berkiprah dengan karyanya yang berbahasa Arab, di antaranya KH. Dr. Luqman Hakim al-Indunisi al-Azhari, KH. Muhyiddin Abdusshamad Jember, KH. Dr. Afifuddin Dimyathi Jombang, KH. Marzuqi Mustamar Malang, KH. Sholahuddin Munsif Jember, KH. Thoifur Ali Wafa  Sumenep, Gus Nanal Ainal Fauz Pati, dan sebagainya.

Kedua, ulama Nusantara yang menulis karya berbahasa lokal. Pola seperti ini diawali oleh para Walisongo melalui Serat yang berbahasa Jawa, juga generasi berikutnya seperti Syekh Nuruddin Arraniry (w. 1658), Syekh Abdurrauf Assinkily (1615-1693), Syekh Abdusshamad Falimbani (1704-1789), Syekh Arsyad al-Banjari (1710-1812), Sayyid Utsman bin Yahya (1822-1913), Syekh Prof. Mahmud Yunus (1899-1982), yang menulis karya berbahasa Melayu.[7]

Selain ulama di atas, ada pula R.Ng. Ronggowarsito, Surakarta (1802-1873), KH. Sholeh Darat, Semarang (1820-1903),[8] Kiai Raden Bagus Arfah, Surakarta (w. 1913),[9] KH. R. Prof. Muhammad Adnan, Surakarta (1889-1969), KH. Bisri Musthofa, Rembang (1915-1977), KH. Mishbah Zainal Musthofa, Tuban (1916-1994), KH. Achmad Abdul Hamid, Kendal (1915-1998), KH. Asrori Ahmad, Magelang (1923-1994), dan ulama lain yang menulis menggunakan bahasa Jawa. Di Madura, ada KH. Abdul Hamid Itsbat dan  KH. Abdul Majid Tamim, keduanya dari Pamekasan dan beberapa ulama lain yang menulis karyanya dalam bahasa setempat. Ada juga KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo, yang mengupas aqidah dengan ulasan berbahasa Madura. Di wilayah Banjarmasin, Kalsel, berbagai kitab yang ditulis oleh ulama Banjar rata-rata menggunakan bahasa Melayu-Banjar, juga Sebagian menggunakan bahasa Arab.

Ada juga ulama yang menulis karya Tafsir al-Qur’an dan karya lain menggunakan bahasa Bugis, yaitu Anregurutta Daud Ismail (1907-2006), Anregurutta Abd. Muin Yusuf (1920-2004), Anregurutta Muhammad Abduh Pa’bajah (1918-2009). Ada pula yang menggunakan bahasa Sunda, seperti Ajengan Hasan Musthafa (1852-1930),[10] Ajengan Abdullah bin Nuh (1905-1987), Ajengan Ahmad Sanusi, Sukabumi (1889-1950), dan lain sebagainya.[11]

Ketiga, ulama yang menulis karya berbahasa Indonesia. Kategori ini lebih banyak karena tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat. Selain mudah diakses, karya-karya ini lebih mudah dinikmati oleh berbagai kalangan. Sebagian menulis karya utuh, seperti Prof. al-Habib Muhammad Quraish Shihab, Muallim Syafi’i Hadzami Jakarta, KH. Sirajuddin Abbas, Prof. M. Hasbi As-Shiddiqie, KH. Alie Yafie, KH. MA. Sahal Mahfudz, KH. Musthofa Bisri, dan sebagainya. Dalam level ini, jumlahnya seabreg.

Dengan demikian, ulama kita memiliki dua jangkauan keilmuan. Ada di antara mereka yang belajar ke Haramain, tinggal dan berkiprah di dua kota suci ini hingga wafat dan dikebumikan di sana, seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Khatib al-Minangkabawi, dan Syekh Mahfudz Attarmasi. Ada juga di antara mereka yang lahir di Nusantara, belajar dan berkiprah di dua tanah suci, kembali lagi ke tanah airnya, lantas menulis kitab berbahasa Arab maupun lokal, yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Ibaratnya, mereka menjadi jembatan penghubung antara proses internasionalisasi dan kebutuhan lokal sekitar. Menulis karya berbahasa Arab agar bisa dikaji komunitas internasional, dan menulis kitab menggunakan bahasa daerah agar bisa dinikmati oleh umat di sekitarnya. Soal keilmuan, mereka juga tidak kalah. Bahkan ada banyak ulama Arab yang mengagumi ulama kita karena kemampuannya dalam bahasa Arab dan ragam coraknya (nahwu, sharaf, balaghah, hingga arudl).

Ketika menuliskan namanya-pun, para ulama kita bangga dengan asal daerahnya. Di akhir namanya selalu dilekatkan asal daerahnya: al-Bantani, al-Minangkabawi, As-Sambasi, As-Samarani, al-Maqassary, al-Banjari, al-Falimbani, al-Baweyani, as-Sidarjawi, al-Bimawi, al-Jugjawi, al-Bughuri, al-Banyumasi, al-Batawi, al-Fadani hingga al-Kelantani. Dalam sebuah fase sejarah pada pertengahan 1930-an, mereka bahkan berkumpul, saling belajar dan berbagi. Mereka juga menghimpun diri dan bahkan bisa menyelenggarakan pendidikan melalui sebuah lembaga legendaris, Darul Ulum, Makkah.

Wallahu A’lam Bisshawab

رب فانفعنا ببرگتهم ، واهدناالحسنی بحرمتهم

وأمتنا فی طريقتهم ، ومعافاة من الفتن


[1] Disampaikan dalam rangka Peringatan Hari Santri dengan tema “Meneladani Mahakarya Ulama Nusantara yang Mendunia”, yang digelar oleh Pemkot Malang dan Kemenag Kota Malang, pada Jum’at, 22 Oktober 2021.

[2] Penulis adalah Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah (INAIFAS) Kencong Jember.

[3] Kitab unik ini sudah diterjemahkan oleh Amirul Ulum dan Khoirul Anwar melalui Kitab Belut Nusantara (Yogyakarta: CV Global Press, 2017)

[4] Seorang murid Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Mahmud al-Masri, menghimpun biografi ulama Nusantara abad 14 Hijri sekaligus guru-guru Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, melalui kitab “Tasynif al-Asma’ bi Ijazah as-Syuyukh wa al-Sama'”. Di dalam kitab ini terdapat sekira 30 ulama Nusantara yang penah berkiprah di Masjidil Haram, di mana sebagian dari mereka sangat asing dan tidak populer di Indonesia. Untunglah, dengan karya itu, Syekh Mahmud al-Masri berhasil mendokumentasikan nama-nama ulama kita yang berperan penting dalam transmisi keilmuan di Haramain.

[5] Berbagai karya Syaikhona Kholil Bangkalan yang ditemukan baru 28 karya. Sebagian sudah diterbitkan, sebagaian masih di-tahqiq. Beliaumenulis karya-karyanya dalam bahasa Arab.

[6] 23 karya KH. M. Hasyim Asy’ari telah disusun menjadi kitab Irsyadus Sari, yang ditahqiq oleh KH. Muhammad Ishomuddin Hadziq dan KH. Muhammad Zaki Hadziq.

[7] Telaah atas karya para ulama Sumatera ini bisa dibaca di buku karya Ustadz Dr. Ahmad Fauzi Ilyas, Warisan intelektual Ulama Nusantara: Tokoh, Karya dan Pemikiran (Medan: Rawda Publishing, 2018), juga karya penulis yang sama berjudul, Pustaka Naskah Ulama Nusantara: Fatwa, Polemik, Sanad Ijazah dan Korespondensi (Medan: Rawda Publishing, 2019), juga dalam Ulama, Islam, dan Nusantara: Catatan Ringkas Pergulatan Pemikiran Keagamaan (Medan: Rawda Publishing, 2020). Data nama-nama ulama Sumatera, khususnya Jambi, bisa dilihat dalam karya Muhammadz Azro’i, al-Arba’un al-Jambiyyah: 40 Hadits dari 40 Kitab karya Ulama Jambi (t.k: t.p, 2021)

[8] Karya-karya KH. Sholeh Darat hingga kini tetap diterbitkan. Sebagian besar karyanya dikaji oleh Kopisoda (Komunitas Pecinta Kiai Soleh Darat), yang berbasis di Semarang.

[9] Ulama keraton Surakarta yang merupakan salah satu penerjemah al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa, Kur’an Jawi (1904).

[10] Filolog Jajang A Rohmana banyak mengupas karya KH. Hasan Musthafa ini dalam berbagai penelitiannya, di antaranya, Informan Sunda Masa Kolonial: Surat-Surat Haji Hasan Mustapa Untuk C. Snouck Hurgronje dalam Kurun 1894-1923 (Yogyakarta: Octopus, 2018), juga Membekap Halilintar: Polemik Wahdatul Wujud dalam Injaz al-Wa’d fi Ifta’ Ar-Ra’d karya Haji Hasan Mustapa (Garut: Layung, 2021). Sebelumnya Ayip Rosidi menelaah karya ulama ini melalui Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana (Bandung: Pustaka, 1989).

[11] Anotasi atas berbagai karya ulama Nusantara ini bisa dibaca dalam buku karya A. Ginanjar Sya’ban, Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip, dan Korespondensi Ulama Nusantara (Jakarta: Pustaka Compass, 2017)

Toxic Friend: Mengapa Harus Dijauhi?

Toxic Friend: Mengapa Harus Dijauhi?

Bagikan sekarang

@ rijal mumazziq z

Saya berteman dengan tipikal Toxic Friend di dunia nyata dan maya. Saya bersahabat, tapi menjaga jarak, biar tidak teracuni. Misalnya, seorang teman yang selalu menilai kesuksesan dan kebahagiaan berdasarkan materi. Ketika kami bertemu bersama sahabat lain, yang dibicarakan hanya seputar pencapaian materi. Pernah dalam sebuah acara buka puasa bersama, di hadapan para sahabat lain, dia nyelutuk, “Sampeyan itu seharusnya sudah beli mobil, masak kalah sama Mas X. Itu artinya sampeyan ini tidak fokus pada bisnis. Lihat tuh Mas X, sudah punya rumah dan mobil. Masak kalah sama dia.”

Gila. Di hadapan banyak orang dia membandingkan satu sahabat dengan sahabat lain berdasarkan pencapaian materi. Saya dan si Mas X yang jadi obyek perbandingan hanya bisa melongo. Nggak nyangka saja dia secara terbuka bilang begitu. Lantas, apa dia sudah punya mobil? Nggak. Dia punya rumah? Nggak juga, masih ngampung di mertua. Aneh saja mengukur dan mengomentari orang lain berdasarkan ukuran materi yang dia sendiri belum punya.

Orang kayak begini tipikal penebar racun persahabatan. Dia mengkomparasikan pencapaian dua sahabatnya, secara frontal, di hadapan para sahabat lainnya. Dia berusaha menularkan watak materialistisnya berdasarkan sangkaan terburu-buru. Ada obsesi dalam pikirannya, yang tidak mampu dia capai, dan kemudian dipakai menilai kesuksesan para sahabatnya. Padahal, alur kesuksesan dan kebahagiaan pada setiap orang berbeda-beda.

Ada dosen yang belum punya mobil, tapi dia mengejar karier akademiknya yang gemilang. Dia bahagia dengan pilihannya. Ada juga pegawai yang menunda punya mobil karena belum butuh dan dananya dipakai membeli sawah untuk tambahan nafkahnya, yang tentu saja kadang tidak dilihat sahabat lainnya. Ada juga yang menunda kebahagiaan materinya dengan cara mendahulukan biaya pendidikan anak-anaknya. Dia “berpuasa materi” demi buah hatinya. Dan, kelak, ketika dia “berbuka puasa materi”, dia lebih sigap membeli materi, maupun menambah aset pribadi yang dia wariskan kepada para buah hatinya.

Di dunia maya juga ada. Saya putuskan unfriend saja. Nirfaedah. Nggak kenal, tapi sok akrab dengan mengomentari beberapa hal yang bagi saya sensitif, atau menularkan jalan pikiran beracun. Mengapa saya anggap beracun? Saya cek, ketika saya dan para sahabat lain di FB mengunggah barang dagangan, yang dia tulis di kolom komentar, alih-alih mendukung, malah menebar racun. “Barang begini kok dijual. Ecek-ecek”, “Upload terus, nggak laku-laku kayaknya nih”, “Kasihan, nggak ada yang minat”, juga “Up…Up…Up… biar ada yang nengok. Mesakne nggak payu-payu”, dan komentar sengak lain, adalah yang saya ingat dari komentarnya di lapak dagangan para sahabat FB-nya. Bukan hanya satu orang yang dia komentari begini, melainkan hampir semua. Setidaknya ini yang saya jumpai.

Gila, nih! Mungkin maksudnya guyon tapi tetap saja melanggar etika. Dan, setahu saya, dia juga nggak pernah membeli dagangan sobatnya. Lantas, mengapa harus berteman di FB dengan model manusia begini. Unfriend saja.

Saya lebih asyik berteman dengan beberapa orang yang bisa memahami sahabat lainnya, baik dalam pilihan jalan hidupnya, atau dalam hal yang remeh temeh. Saya suka melihat Kakak Tamvan Yunan Anshory yang walaupun seringkali posting lucu-lucu di lapak FB-nya, tetapi ketika ada sahabatnya yang sedang sakit, atau sedang berduka, dia selalu serius–setidaknya ini yang saya cermati–menyampaikan belasungkawa, atau menuliskan kalimat simpatik. Salut sama kakak tamvan!

Satu musuh terlalu banyak, seribu sahabat masih terlalu sedikit, tapi dalam menjalin hubungan persahabatan ada aspek manusiawi yang saling berkorelasi. Ada unsur penghormatan dan saling memahami, juga saling menukarkan dan menularkan energi positif. Jangan sampai teracuni oleh watak negatif, pikiran pesimistik, dan unsur yang bisa merobohkan prinsip kita dan keasyikan kita menjadi sahabat yang baik bagi lainnya.

Bijak Menyikapi Permasalahan dalam Rumahtangga

Bijak Menyikapi Permasalahan dalam Rumahtangga

Bagikan sekarang

@ Rijal Mumazziq Z

Bagi sebagian orang, perceraian itu aib. Tabu, bikin malu, dan terstigma “pernah gagal berumahtangga”. Tapi bagi sebagian lain, bercerai adalah pilihan utama, bukan alternatif. Walaupun, berdasarkan sabda Baginda Rasulullah, talak adalah hal halal yang dibenci Allah. Sebab pernikahan adalah hal sakral yang menjadi perjanjian agung (mitsaq ghalidza), sebagaimana tertera dalam QS. An-Nisa’ 21.

Menikah memang berat. Butuh penyesuaian dua kelapa, eh kepala untuk satu tujuan. Perlu interaksi dan komunikasi yang oke pula. Apalagi soal pola asuh dan pendidikan anak. Terkadang mertua ikut mengatur sesuai dengan pola pikirnya. Makin runyam pula jika tidak segendang serirama dengan pemilik buah hati. Ruwet.

Ada banyak anak terlantar karena ortu bercerai. Belum lagi hak hadlanah anak yang terbengkalai karena ayah abai, merasa tidak lagi memiliki anak seusai berpisah dengan eks istrinya. Setidaknya ini yang saya jumpai dalam beberapa skripsi mahasiswa INAIFAS yang membahas hadlanah. Oke, soal ini kita bahas lain kali saja.

Soal perceraian, saya banyak dapat curhat dari pasangan yang menampakkan indikasi ketidakharmonisan rumahtangga. Jika masalahnya “tidak harmonis”, ini bisa dicarikan solusi. Biasanya terkait soal komunikasi. Selain itu, berkaitan dengan ego. Sisanya pola pikir, dan….kebiasaan! Titik-titik ini yang harus diubah. Diawali dari penataan ulang pola komunikasi, lanjut ego dan pola pikir. Jangan lupa, kebiasaan juga direfresh biar tidak menjadi ganjalan mewujudkan keharmonisan. Ada cara lain? Ada. Apa itu? Sering shalat berjamaah dan sering makan bersama, baik di rumah, maupun di kedai. Setidaknya ini tips dari guru saya. Menurut beliau, pasangan yang lebih sering shalat berjamaah, intensitas hubungan emosionalnya lebih terkoneksi. Setuju monggo, tidak juga no problem.

Rumahtangga itu kompleks. Ada titik temu, juga ada titik tengkar. Perlu memaksimalkan poin pertama sembari meminimalisir poin kedua. Belum lagi fakta ada cobaan dan godaan. Cobaan itu faktor internal, kalau godaan itu faktor eksternal. Ada yang siap menghadapi cobaan, tapi gagal menahan godaan. Sebaliknya demikian. Tapi ada banyak yang bisa menahan keduanya. Syukurlah.

Dalam rumahtangga, ada ketidakharmonisan, ada juga ketidakberesan. Ketidakharmonisan berkaitan dengan perkara remeh-temeh. Bisa diawali dengan perubahan sikap secara perlahan. Suami yang tidak romantis, tidak peka perasaan istri, atau unsur lain. Sebaliknya, istri yang kaku, tidak menghargai pasangan, dst. Ini bisa diubah, asalkan tahu titik sentuhan cinta pasangan (silahkan baca artikel saya Al-Mubadalah dan Lima Bahasa Cinta dalam Rumahtangga di NU.onlinejatim).

Berbeda dengan ketidakharmonisan, ketidakberesan berumahtangga butuh lebih banyak waktu “perbaikan”. Sebab, kaitannya soal penyelewengan. Penyelewengan di sini bukan berarti perselingkuhan saja, melainkan pada aspek abnormalitas kehidupan pasutri. Suami melakukan KDRT, marital rape, pengabaian nafkah, terlalu posesif, atau sebaliknya istri juga melakukan tindakan kekerasan verbal dan fisik pula, menjadi pelakor, pencemburu akut, dan tindakan lain. Ini perlu dicarikan “bengkel”, konselor dan advisor.

Tapi jika setelah coba diatasi tetap gagal, perceraian bisa jadi solusi. Bagi orang lain mungkin tabu, tapi tidak bagi sebagian lain. Itu hak mereka. Mungkin juga lebih bisa menata hidup setelah perceraian dan lebih baik. Setidaknya ini yang beberapa kali saya jumpai. Ada korban KDRT suami, setelah bercerai hidupnya malah lebih fokus. Sebagai single parent yang tangguh membesarkan anak-anaknya, tetap membuka hatinya untuk menerima pinangan pria, walaupun hingga kini belum ada yang klik. Sebaliknya, ada juga suami yang ditinggal selingkuh istri, setelah bercerai hak asuh anak ada padanya, lantas bisa mendapatkan pengganti ibu dari anak-anaknya yang–menurutnya– lebih berkualitas dibanding yang sebelumnya.

Pernikahan memang sakral. Suami istri harus saling memahami untuk menciptakan surga dalam rumah. Saling memahat cinta.

Kalau ada istri yang berani kepada suaminya, biasanya ada salah satu anaknya yang berani/ngelamak kepada ortunya. Sebaliknya, suami yang semena-mena kepada istri, apalagi melakukan KDRT atau bahkan selingkuh, dikhawatirkan su-ul khatimah. Percaya atau tidak, suami dan istri itu “Malati”. Punya tulah. Jadi harus saling berhati-hati.

Paragrap terakhir ini adalah petuah almarhum guru saya, 12 tahun silam. Percaya monggo, tidak juga silahkan.

Wallahu A’lam Bishshawab

“Manusia Ruang”

“Manusia Ruang”

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

“Guru, kami menghadiri pengajian di tempat lain, pengajian fiqh, tafsir, hadits, dan lainnya, tetapi mengapa rasanya berbeda dengan pengajian anda? Padahal anda hanya mengajarkan akhlak dan adab?” pertanyaan ini diajukan oleh seorang murid kepada gurunya, Syaikh Ali Daqar.

“Wahai anakku, kalau bukan karena perlu aku tidak akan berbicara mengenai hal ini. Begini, pengajian yang kamu dengar ini tidak ada apa-apanya jika bukan karena dukungan 10 juz al-Qur’an sebelum fajar yang aku niatkan semoga apa yang aku katakan bermanfaat bagi umat.”

Syekh Ali Daqar, siapa beliau ini? Masyarakat Hauran, perbatasan Suriah dan Yordania; dan orang-orang Damaskus menjulukinya sebagai “Pria yang digunakan Allah untuk menghidupkan umat.”

Syaikh Ali lah yang mulai menghidupkan hati umat pada saat ghirah keberagamaan umat Islam luntur akibat pergolakan politik dan kawasan Syam yang compang camping usai Perang Dunia I.

Syaikh Ali memang tidak bicara muluk-muluk dan tidak mengajarkan keilmuan yang berat kepada umat. Beliau mengajar dan mendidik umat dengan salah satu pilar terbesar Islam: Akhlak. Tapi yang lebih penting adalah rahasia di balik pengajarannya: beliau melumuri usaha pecerdasan ini dengan keberkahan 10 juz al-Qur’an menjelang fajar. Ini yang, saya kira, lebih penting. Kisah di atas dikisahkan oleh Prof. Musthafa Saied al-Khin yang dikutip oleh Ustadz Saef Alemdar, setahun silam, di dinding fesbuknya.

Para ulama senantiasa menyelesaikan urusan dirinya terlebih dulu sebelum mengurus orang lain, atau dalam istilah Emha Ainun Nadjib, “mereka yang telah selesai dengan dirinya sendiri”. Mereka terlebih dulu membebani dirinya dengan segala macam perilaku yang bisa memudahkan umat. Ibaratnya, mereka memanjat pohon kelapa, memetik buahnya, lalu mengolahnya dengan segenap kemampuannya. Tujuannya agar umatnya lebih mudah dan praktis menikmati olahannya. Mereka melihat umat dengan kacamata hakikat, sedangkan kepada dirinya sendiri mereka menerapkan standar syariat yang ketat.

Di Tebuireng, KH. Idris Kamali, salah seorang menantu KH. M. Hasyim Asy’ari, membuka kelas takhassus untuk mendidik para santri pilihan. Syaratnya berat, selain harus menghafal beberapa juz al-Qur’an juga harus hafal 1000 bait Alfiah Ibn Malik. Syarat lainnya, para santri pilihan ini harus senantiasa bermakmum shalat jamaah di belakang Kiai Idris. Apabila ketahuan bolos tidak berjamaah, maka gugurlah status santri takhassus ini. Di kemudian hari, para santri Kiai Idris menjadi ulama di daerah masing-masing: Prof. Ali Musthafa Ya’qub (Jakarta), Prof. Tolchah Hasan (Malang), KH. Zubaidi Muslih (Jombang), KH. Abdurrasyid Maksum (Jakarta), Prof. Dr. Jamaluddin Miri (Surabaya), KH. Ismail Makmun (Tegal), KH. Ishaq Latif (Tebuireng), KH. Syuhada Syarif (Jember, saking cintanya kepada sang guru, saat sang putra lahir beliau menamakan buah hatinya dengan nama Haidar Idris, semata-mata tabarrukan dan tafaulan kepada sang guru), KH. Said Aqil Siraj (berguru saat Kiai Idris bermukim di Makkah) dan sebagainya.

Di antara keistimewaan yang dimiliki oleh Kiai Idris Kamali ini, beliau tidak pernah mengajar santri kecuali setelah shalat sunnah beberapa rakaat dilanjut dengan mendoakan para santrinya. Ini belum termasuk riyadlah batiniyah lainnya. Kiai Idris menyelesaikan urusan dengan dirinya, karena itulah beliau fokus, sangat fokus, mencurahkan perhatiannya, ilmunya, dan riyadlahnya kepada para santri.

Di Solo, ada Kiai Umar Abdul Mannan, sang pecinta al-Qur’an, yang meminta dituliskan daftar nama santri nakal, bukan untuk dihukum, melainkan dibacakan satu persatu dalam munajat malamnya, dimohonkan keberkahan ilmu agar para santri mbeling kelak menjadi manusia yang bermanfaat.

Kiai Idris dan Kiai Umar, bagi saya, adalah wujud konsistensi seorang mentor yang menempa para kadernya dengan ketelatenan di atas rata-rata dan tanpa mau memamerkan dukungan ini kepada para kadernya, apalagi mengungkit-ungkit jasanya.Sebagaimana Brom, pencerita asal Carvahall, yang dengan telaten membimbing Eragon yang lugu menjadi penunggang naga yang lincah dan tangguh dalam epos “Eragon”, demikian juga dengan manusia-manusia mulia yang saya sebutkan di atas.

Di dunia ini ada banyak manusia mulia semacam Syekh Ali Daqar, Kiai Idris Kamali dan Kiai Umar Abdul Manan. Mereka adalah server ruhani yang tidak pernah mati, yang menyediakan diri sebagai tumpuan mereka agar koneksi jiwa para santri dan umat tetap terjaga. Mereka adalah “manusia ruang” yang menyediakan perabot dengan segala bentuknya berjejalan di dalamnya. Manusia ruang—dalam istilah Cak Nun– tidak membutuhkan tempat, melainkan justru menyediakan tempat bagi siapapun yang bernafas, butuh tempat, butuh lokasi bersandar, butuh bimbingan ruhani, butuh didengarkan, butuh kenyamanan dan “butuh lainnya”. Banyak orang yang tak menyediakan ruang bagi orang lain, karena dirinya dipenuhi hanya oleh dirinya sendiri, ia sekadar perabot yang tak bisa ditempai oleh perabot lain, dan justru hidup untuk berebut ruang bagi dirinya sendiri belaka.

Karena sudah menjadi “manusia ruang”, maka para tokoh yang saya sebutkan di atas lebih memprioritaskan pengosongan ruang hatinya lalu diisi dengan empati dan simpati. Soal falsafah kosong-mengosong ini, saya jadi ingat Markesot—yang saya anggap sebagai alter ego-nya Cak Nun dalam serial “Markesot Bertutur”. Tatkala Markesot belajar silat kepada pendekar Mataram, alih-alih diajari ilmu menggunakan tombak, dia malah dicekoki ilmu filosofi tombak.

“Semakin panjang tombak seseorang,” kata pendekar itu, “berarti makin rendah ilmunya. Orang yang lemah, memerlukan alat yang panjang, sepanjang mungkin untuk melindunginya. Orang yang agak sakti, cukup pendek saja tombak pelindungnya. Orang yang top kesaktiannya, tak memerlukan senjata. Ia cukup hidup dengan tangan kosong.”

Tangan kosong adalah tangan yang jujur dan apa adanya. Tangan yang tak menggenggam apa-apa, tak memiliki apa-apa, tak dibebani apa-apa. Justru karena itu, pendekar tangan kosong malah disegani, karena ia telah menyelesaikan urusan dengan dirinya, dengan egonya.

WAllahu A’lam

Al-Mubadalah dan Lima Bahasa Cinta dalam Rumahtangga

Al-Mubadalah dan Lima Bahasa Cinta dalam Rumahtangga

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Kalau kita beranggapan bahwa setelah menikah tidak ada pertengkaran, itu salah. Jika ada anggapan pernikahan selalu harmonis seperti lagu romantis, itu juga kurang tepat. Ada banyak perbedaan pendapat, juga sedikit pertengkaran yang membuat pasangan bisa lebih dewasa, saling memperbaiki diri, dan berubah lebih baik. Asal mampu menyikapinya dengan baik, niscaya pernikahan bisa menjadi mashlahat.

Dalam hal ini, salah satu konsep berumahtangga yang asyik, menurut saya, adalah konsep al-mubadalah alias ketersalingan. Istilah ini bisa kita telaah dari pemikiran KH. Faqihuddin Abdul Kodir. Asyik banget. Dalam al-mubadalah, ada upaya untuk, bukan saja saling mencintai, melainkan juga saling melengkapi, mengisi, dan memahami karakter pasangannya.

Dalam konteks al-Mubadalah, serta untuk meningkatan rasa saling memahami antar karakter pasangan, maka “Lima Bahasa Cinta” yang dimunculkan Gary Chapman dalam bukunya, The Five Love Languages, sangat tepat dijadikan unsur penunjang. Banyak pasangan bertengkar karena selain watak yang berbeda, juga cara pandang yang tidak sama, dan tidak bisa memahami pasangannya. Setidaknya, Lima Bahasa Cinta ini bisa mengharmoniskan kehidupan rumahtangga maupun me-refresh kehidupan suami istri yang mulai kaku, pasif, dan kehilangan sentuhan cintanya.

Pertama. Words of Affirmation (Kata-Kata dan Pujian). Jika pasangan kita masuk kategori ini, suka diberi pujian dan kalimat cinta serta taburan motivasi, maka tidak ada salahnya kita memulainya. Walaupun mungkin belum terbiasa dan kaku pada awalnya, namun percayalah, jika terus terusan digerojok dengan kalimat cinta, dia membalas hal yang sama. Kalimat positif akan membuatnya merasa ada, dihargai sebagai pasangan, dan merasa dicintai. Faktor terakhir ini penting. Pada saat seseorang merasa dicintai, dia merasa nyaman. Kalimat “I love You”,“Kamu cantik sekali hari ini”, “Kamu tampak lebih tampan jika pakai baju ini”, atau “Enak sekali masakanmu!”, “Semoga pekerjaanmu hari ini lancar”, bagi sebagian orang tampak basa-basi, formal, dan biasa. Tapi bagi mereka yang memiliki kecenderungan pertama ini, niscaya bisa membuat saldo cinta terus bertambah.

Kedua, Physical Touch (Sentuhan Fisik). Jika kita sedang belanja di mal lantas pasangan merajuk minta digandeng tangannya, atau sedang duduk sendiri tiba-tiba pasangan memeluk dari belakang, atau dia minta dipijit, maka ini indikasi dia punya kesukaan sentuhan fisik. Jangan malu memperlakukan pasangan dengan cara ini. Survei membuktikan, anak yang jarang dipeluk atau dielus, memiliki emosi, perilaku dan sikap sosial yang berbeda dari mereka yang sejak kecil mendapatkan kasih sayang melalui sentuhan fisik. Jika kita suka sentuhan fisik, tak ada salahnya meminta pasangan melakukannya. Demikian pula sebaliknya.

Ketiga, Quality Time (Menghabiskan Waktu Bersama). Jika anda tipikal ini, kebersamaan yang berkualitas menjadi prioritas. Ada banyak suami istri yang bertahun-tahun tinggal serumah, namun merasa tidak ada kecocokan lantaran tidak adanya waktu berkualitas untuk bercengkerama berdua, menghabiskan waktu bersama, atau rekreasi sekeluarga. Tak perlu mengkhususkan waktu, cukup ngobrol berdua dengan tema ngalor ngidul, atau bersepeda bersama, atau nonton film bareng, sudah cukup bagi pasangan tipe ini merasa dicintai. Mereka tidak berharap waktu khusus dengan kesan romantis, didampingi pasangan dalam aktivitas sederhana sudah cukup baginya. Jika pasangan anda bertipe seperti ini, luangkan waktu untuk menikmati Me Time, jangan mencari waktu luang. Sekali lagi luangkan waktu!

Keempat. Acts of Service (Tindakan/Pelayanan). Pernahkah suatu ketika, setelah membantu pasangan dalam meringankan beban kesehariannya tatapannya berbinar-binar dan senyumnya merekah? Jika iya, berarti pasangan kita masuk kategori ini. Dia merasa dicintai apabila pasangannya mau menservis dalam urusannya. Dalam kenyataan, suami yang membantu istri dalam urusan domestik: membersihkan kamar mandi, mencuci/menyetrika baju, menyapu halaman dlsb, atau urusan kesehariannya, istri merasa terbantu dan nyaman atas kepeduliannya. Sebaliknya, jika suami bertipe seperti ini, jiwa gentleman-nya merasa dihormati saat istri melakukan sesuatu yang tampak remeh: membuatkan teh, memasakkan makanan spesial kesukaannya, menyiapkan sarung dan baju terbaik sebelum dia shalat Jumat dll.

Kelima. Gifts Giving (Memberi Hadiah). Hadiah tidak berartti harus mahal, sederhana dan murah pun bisa asal dikemas dengan baik. Atau bisa juga menghadiahkan kejutan spesial dalam momentum spesial kepada pasangan. Istri dengan tipe seperti ini suka jika suami dengan sengaja meninggalkan uang Rp 50.000 di saku celana yang seolah dia temukan saat mencuci/menjemur celana tersebut, atau membelikan baju/makanan kesukaannya. Sebaliknya, suami juga suka jika istri memberikan hadiah yang menunjang aktivitas kesehariannya.

Jadi, rumahtangga bukan permainan ulartangga yang kompetitif, melainkan kolaboratif. Saling mendukung, melengkapi dan memahami. Dari situ akan lahir kebahagiaan.

Wallahu A’lam Bishshawab

Istri Penggerak Ekonomi, Mengapa Tidak?

Istri Penggerak Ekonomi, Mengapa Tidak?

Bagikan sekarang

@ rijal mumazziq z

Sebelum jualan baju daring sejak 2019, istri saya minta izin. Apa boleh? Silahkan. Tapi labanya masuk ke kantong pribadiku, apa boleh? Lha monggo. Jatah belanja, baju dan kosmetik tetap ditanggung ayah ya? Lha mbok iyo, yang penting kamu senang dan menikmati aktivitas jualan. Benarlah, fulus suami adalah juga milik istri. Dan uang istri adalah milik dirinya. Ingat ya SUAMI alias Semua Uang Adalah Milik Istri. Hahahaha.

Alhamdulillah jualannya lancar. Omzetnya naik. Labanya meningkat. Saya hanya pesen tiga hal. Pertama, sibuk promo dan melayani pembeli silahkan, asal jangan lupakan kewajiban sebagai istri dan ibu. Kedua, sisihkan keuntungan, baik sedekah maupun zakat. Ketiga, dengan (latihan) cari uang sendiri, setidaknya bisa lebih siap andaikata suami wafat duluan. Dia bisa mandiri secara finansial. Mentalnya juga lebih siap menghadapi badai sepeninggal garwa-nya.

Perkara terakhir ini penting. Banyak istri yang saat ada suami hidupnya berkecukupan, dimanja secara finansial, tapi kelabakan saat suami sebagai sumber ekonominya wafat. Sebagian ambruk secara mental, tapi sebagian besar lagi bisa menjadi single parent yang tangguh. Belajar berdagang, daring maupun luring, atau bekerja di instansi negeri maupun swasta. Kerjakeras untuk kehidupan keluarga dan pendidikan anak-anaknya. Untuk para janda sekaligus ibu yang tangguh seperti ini saya selalu angkat peci. Salut atas kegigihan dan perjuangannya.

Karena itu ketika ada beberapa pemuka agama melarang secara mutlak perempuan bekerja, saya tidak setuju. Selain gebyah uyah, menggeneralisir tanpa paham konteks, juga meremehkan kiprah manusiawi perempuan sebagai sosok yang punya daya cipta, karsa, dan karya.

Ketika ada yang bilang ibu rumahtangga derajatnya lebih mulia dibanding wanita karier, nggak juga. Wanita karier dianggap menterlantarkan anak dan keluarga, nggak juga. Kawan-kawan saya, yang menjadi wanita karier degan ragam profesinya dan mapan di bidangnya, anak-anaknya juga tertata pendidikan dan akhlaknya, rumahtangganya juga stabil. Di sisi lain, banyak ibu rumahtangga yang memang tidak bekerja dengan beragam alasan, juga ruwet kehidupannya dan kocar-kacir pendidikan anak-anaknya. Walaupun tentu saja hal ini kasuistik. Tidak bisa digeneralisir. Ada banyak faktor penyebabnya.

Intinya, jika seorang perempuan, baik berstatus istri maupun single parent, diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya, disertai dengan tanggungjawab yang baik kepada keluarganya, niscaya dia bisa mengembangkan kekuatannya berkali-kali lipat dibandingkan pria.

Ada sebuah guyonan, jika perempuan itu makhluk lemah, lantas mengapa obat kuat hanya untuk pria? Hahaha. Perempuan itu makhluk yang sanggup menahan beban berkali lipat. Jika suami ditinggal wafat istri, biasanya akan mengalami beban psikologis dan biologis. Ada semacam degradasi alur kehidupan yang dia alami. Silahkan dicek, bertapa banyak tokoh besar yang semakin rapuh dan kariernya runtuh sepeninggal istrinya. Sebaliknya, ketika istri ditinggal wafat suami, dia cenderung bisa menahan diri untuk tidak menikah lagi, dan kekuatannya justru berlipat-lipat. Semacam bertiwikrama dalam legenda pewayangan. Kekuatan yang meningkat berkali kali lipat karena terdesak.

Anda bisa setuju atau tidak dengan pendapat saya di atas. Tapi, ketika melihat para yatim yang kemudian menjadi kampiun di bidangnya; Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bukhari, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, KH. Abdurrahman Wahid, Prof. BJ. Habibie, dua bersaudara Habib Ali Masyhur dan Habib Umar bin Hafidz, kita bisa melihat kiprah para perempuan berhati baja bertangan dingin mendidik dan melejitkan potensi buah hatinya tanpa didampingi suaminya.

Di dalam komunitas pesantren, beberapa ibunyai bahkan menjadi garda terdepan kemandirian ekonomi keluarga. Selain mendampingi suami mengasuh para santri, beliau-beliau memiliki manajemen keuangan dan keterampilan mengolah hasil pertanian dan perkebunan untuk pembangunan pondok. Di Lirboyo, Bu Nyai Dlomroh meminta Mbahyai Abdul Karim, pendiri pesantren besar ini, agar fokus mengajar dan riyadloh untuk santri. Bunyai-lah yang menjadi penggerak ekonomi keluarga. Manajer keuangan yang taktis dan terampil.

Di sisi lain, ada Nyai Sholihah Wahid Hasyim. Beliau ditinggal wafat suami dalam usia belum genap 30 tahun. Oleh KH. Bisri Syansuri, ayahnya, diminta kembali ke Jombang. Tapi Nyai Sholihah menolak dengan halus. Karena tekadnya membesarkan 6 buah hatinya di Jakarta hingga mencapai kesuksesan. Kelak, pahit di usia muda menjadi manis madu di usia senja. Enam anak Kiai Wahid Hasyim menjadi orang sukses di bidang masing-masing.

Di forum Webinar Kewirausahaan yang digelar Kemenpora RI bekerjasama dengan INAIFAS Kencong Jember, Senin 6 September 2021, dua orang narasumbernya perempuan. Masih muda, belum genap usia 40 tahun, tapi keduanya menjadi inspirasi para perempuan berkarya di bidang penguatan ekonomi.

Salah satunya, Ning Nisaul Kamilah, sahabat saya. Selain menjadi pengasuh pesantren di Pasuruan, dia menjadi novelis, motivator-sociopreneur, dan menggerakkan para perempuan agar mandiri secara ekonomi melalui jejaring Halaqoh Bisnis Online (HBO). Jejaring ini menghimpun ribuan kaum hawa, baik yang masih jomblo maupun sudah menikah, dalam peningkatan kualitas bisnis. Tak hanya peningkatan omzet, Ning Mila juga memberikan tips tazkiyatun nafs, dan wirid pelancar rezeki barakah dari para ulama.

Banyak di antara anggota HBO yang berhasil menempa mentalitasnya, dari yang awalnya minder, kini percaya diri. Dari yang mulanya miskin, kini berkecukupan. Dari yang awalnya hanya mendapat uang belanja dari suami, kini bisa membantu belahan jiwanya mengembangkan usaha. Yang pada asalnya terjebak menjadi pencari kerja, kini sudah menciptakan lapangan pekerjaan.

Saya senang melihat kreativitas yang dijalani ibu-ibu muda ini, yang digerakkan bunyai muda. Menghimpun diri walaupun belum pernah berjumpa, berjejaring secara rapi, bertukar ide, dan saling menopang untuk kemajuan diri. Pola demikian ini akan menjadi pilar ekonomi yang kadangkala tidak terlihat, namun cukup berpengaruh.

**

Keseksian perempuan bukan di tubuhnya, melainkan pada otaknya, dalam jalan pikirannya. Saya selalu suka melihat perempuan cerdas dan mandiri. Lembut tapi tegas. Luwes berkarakter. Bisa menyesuaikan diri dalam mendampingi suami, demikian pula sebaliknya. Suami yang bisa memahami potensi istrinya dan tidak merasa tersaingi dengan keberadaan belahan jiwanya. Saling mendukung dan menyempurnakan kekurangan.