Nyawer Qariah

Nyawer Qariah

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Seingat saya, yang dulu pernah viral adalah saat Gus Faiqunnuha Mubarok, Lc., M.A., Situbondo, saat melantunkan ayat suci di depan para jamaah di Pakistan. Di atas panggung, dengan menggunakan peci hitam khas Indonesia dan berkalung bunga, suaranya yang merdu memukau jamaah.

Setiap kali jeda, suara takbir berkumandang. Dan, beberapa orang dari arah samping nyawer duit. Polahnya seperti menghamburkan uang dari arah atas kepala qari. Dari depan panggung beberapa jamaah sliwar-sliwer naruh cuan di depan Gus Faiq. Dia tetap melanjutkan. Ekspresinya cuek, lebih tepatnya fokus menyelesaikan bacaannya.

Saya kira ini tradisi nyawer qari
di sebagian, ya hanya di masyarakat tertentu, di wilayah Pakistan. Qari lain asal Indonesia, Ustadz Mu’min Ainul Mubarok, tidak mengalaminya saat berada di negeri Sir Muhammad Iqbal itu. Saat melantunkan al-Kafirun, an-Nashr dan al-Ikhlas dia tidak mengalami penyaweran. Jamaah di sampingnya yang menggunakan sorban dan pakaian gaya Taliban pun anteng. Demikian juga dengan qari’ asal Tanzania, Eidi Shaban. Dia melantunkan tilawah, tapi jamaah anteng. Hanya, di video lain, di lokasi lain di Pakistan, jamaah nyawer. Caranya, ketika jeda, jamaah berdiri, bertakbir sambil menengadahkan tangan, lantas menaruh lembaran uang di depannya

Qari’ International, Ustadz Rajif Fandi (Aceh), ketika melantunkan ayat suci juga disawer. Bukan di Pakistan, tapi di tanah airnya. Peci putihnya malah banyak diselipi duit sama jamaah. Ketika peci putihnya sudah penuh selipan duwit pun, seorang tua berpenampilan haji, naik dan memaksakan diri memasukkan beberapa lembar ke dalam peci bulat si qari. Saya tidak tahu di daerah mana. Tapi videonya beberapa bulan lalu juga ramai. Syekh Raja’i Ayoub, qari asal Tanzania, ketika diundang di Cilongok, juga disawer dan lembaran uang dari para jamaah juga diselipkan di peci beliau. Walaupun kemudian beberapa panitia– di tengah beliau sedang fokus menyelesaikan bacaannya– mengambil, merapikan, dan menaruh uang tersebut di depannya.

Dan, kini terjadi lagi. Lebih viral karena yang disawer perempuan, Nadia Hawasyi. Yang nyawer para pria. Ada beberapa versi video. Salah atu peristiwa terjadi di Banten, kalau tidak salah. Acara pada saat Maulid Nabi.

Beberapa pria maju bergantian, menyawer dengan polah membuang-buang duwit ke arah qariah, ada juga yang mengalungkannya, ada pula yang menyelipkannya di sela jilbabnya. Duh. Persis nyawer biduan dangdut. Jamaah ibu-ibu malah bersorak persis melihat lelucon. Yang lebih sopan malah seseibu yang naik panggung, lantas menaruh uang di meja kecil di depan Mbak Nadia.

Dalam ekspresinya, Mbak Nadia tampak risih dengan tetap menahan senyum sembari konsisten menjaga profesionalismenya. Menuntaskan tilawahnya di tengah bunyi suit-suit suara dan sorak sorai diselai tawa jamaah.

Mbak Nadia sudah menyatakan ketidaksetujuannya, sebagaimana dilansir NU.Online, tapi netizen komentar aneh-aneh. “Jika tidak nyaman, kenapa tidak langsung menghentikan bacaannya dan marah?”, atau “Lain kali, kalau nggak mau diperlakukan begitu, langsung berhenti saja.”, juga komentar-komentar lain yang semuanya dari pria–dan tentu saja bukan qari– yang malah menyalahkan Mbak Nadia. Fokus pada menyalahkan qariah, bukan pada penyawer dan “tradisi” saweran.

Saya nggak tahu tradisi nyawer qari’ ini sejak kapan, dan di daerah mana saja. Soalnya di daerah saya nggak ada. Qari’ membaca, jamaah mendengarkan, walaupun sebagian masih ada yang ngobrol dengan berbisik, dan sebagian lain malah main hape, dan saya di antaranya. Hahahaha.

Di antara qari yang tegas menghentikan bacaannya adalah legenda hidup Indonesia, KH. Muammar ZA. Dalam sebuah video, beliau menghentikan bacaannya sejenak, lantas menegur jamaah buibu yang masih ramai dan tampak ribet soal distribusi konsumsi jamaah.


Saya kira memang kudu dipertegas etika berkaitan dengan sawer menyawer qari. Niatnya memang memuliakan, tapi jika dilakukan dengan cara yang niretika, juga nggak pantes. Ini standar kepantasan. Kalaupun mau ngasih, bisa setelah acara dengan cara yang elegan pula.

Para kiai dan ajengan bisa meluruskan tradisi ini dalam beberapa ceramahnya, walaupun beresiko “dijauhi masyarakat”. Mau ngasih uang atau bingkisan silahkan tapi nanti setelah acara. Saya kira semua jamaah menyukai lantunan merdu firman-Nya, termasuk mengormati pelantunnya, tapi cara yang lebih beretika dalam memberi, itu lebih elok, elegan dan ekselen (ahsan).

Kiai Achyat dan Kemandirian Organisasi dari Pohon Kelapa

Kiai Achyat dan Kemandirian Organisasi dari Pohon Kelapa

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

KH. Achyat Chalimi, santri KH. M. Hasyim Asy’ari, ketika menjadi penggerak GP Ansor di Mojokerto, pada 1940-an hingga dua dasawarsa berikutnya, memiliki gagasan asyik.

Beliau menitipkan beberapa bibit pohon kelapa kepada para pengurus Ansor dan warga NU. Pesannya, kelak ketika sudah berbuah, hasil pohon ini dibagi.

“Bibit ini harap ditanam. Jika nanti sudah berbuah, buah pertama untuk yang menanam, buah kedua untuk ranting NU, buah ketiga untuk MWC NU.” demikian pesan salah satu eksponen Laskar Hizbullah yang bertempur di Palagan Surabaya, November 1945 itu.

Hal ini sepintas tampak sepele. Namun di balik itu semua terkandung nilai-nilai yang perlu ditelaah oleh generasi zaman sekarang.

Seorang santri yang sering ikut turba dan belakangan jadi menantunya, KH. Abdy Manaf (Ketua PCNU Sidoarjo beberapa periode), menyebut ide Kiai Achyat telah membuka gerbang kemandirian NU.

“Coba bayangkan, setiap satu pohon memiliki berpuluh-puluh buah. Setelah dibagi, dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha warga Nahdliyin dan tentu saja untuk kas organisasi.” tutur Kiai Abdy Manaf, saat saya sowan ke ndalemnya, pada 2008, silam.

Dan, karena pertumbuhannya lama, pohon ini baru berbuah lebat saat Kiai Achyat menjadi pemimpin NU di Mojokerto.

Sepertiga hasil panen bagi pemilik lahan, sisanya untuk kas organisasi. Tapi, lazimnya, karena sikap amanah, pemilik lahan hanya mengambil seperlunya saja dan menyerahkan ke NU. Dari situ, ada pendapatan untuk menggerakkan mesin organisasi atau menambah aset.

Walaupun mungkin hasilnya tidak “seberapa menjanjikan” secara ekonomi, namun upaya Kiai Achyat adalah salah satu terobosan yang asyik. Organisasi yang mandiri, yang dicita-citakan Kiai Achyat, adalah sumber kekuatan kader-kadernya.

Di Ranting Ansor Jombang (Jember), ide ini mulai diterapkan beberapa bulan lalu dengan cara menitipkan bibit pisang di masing-masing kader Ansor.

Di awal Februari 2022, kami berusaha menambah jumlah bibit pisang (beragam jenisnya) yang ditanam di rumah beberapa kader Ansor maupun umat Nahdliyin. Harapannya, satu tandan pisang bisa dibagi hasilnya. Sepertiga untuk pemilik lahan, sisanya untuk kas Ansor dan Ranting NU. Ini cara asyik untuk mandiri.

Ayo Mandiri, rek!

Berguru Kepada Pria Berjanggut Kelabu

Berguru Kepada Pria Berjanggut Kelabu

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Di Pakistan, beberapa tahun silam, ramai dikisahkan seorang bodyguard yang membunuh bosnya akibat si majikan menghina Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Pemuda ini akhirnya digantung sebagai konsekwensi tindakannya. Jenazahnya dishalatkan jutaan kaum muslimin Pakistan. Banyak yang mengagumi tindakannya, lalu bertakbir di fesbuk menyebarkan kabar pemakamannya. Namun, mungkin karena hati saya yang terlampau berkarat, saya malah tidak menyebarkan kabar ini di dinding fesbuk. Biasa saja.

Hati saya malah merinding menyaksikan prosesi pemakaman seorang bapak Pakistan di era pascakolonialisme, Maulana Abdussattar Edhi, 8 Juli 2016 silam. Dia adalah orang besar Pakistan pasca Iqbal, Maududi, Ali Jinah, dan Abdul Ghaffar “Badshah” Khan.

Abdussattar adalah pejuang kemanusiaan. Dia mengasuh ratusan panti asuhan, memberdayakan kaum miskin, mendirikan ribuan klinik, merintis jaringan ambulan di hampir seluruh penjuru Pakistan, konsultasi keluarga berencana dan kehamilan, bantuan hukum, medis, dan keuangan gratis bagi tahanan dan orang cacat.

Bersama istrinya, Bilqis, dia berjuang memanusiakan manusia. Dana yang dia terima dari para donatur dikelola untuk kemaslahatan masyarakat tanpa memandang agama dan faksi ideologis. Bersama istri yang setengah abad mendampinginya, Abdussattar hanya tinggal di sebuah apartemen sederhana. Dia hidup bagai paria dengan topangan nurani sekuat permata. Pria dengan kopiah hitam ini benar-benar mempraktikkan isi Surah Al-Ma-un.

Hingga akhir hayatnya, dia masih sering memandikan jenazah orang terlantar dan menyopiri ambulan menjemput orang sakit. Edhi, pria berjanggut kelabu dengan senyum malu-malu itu, memilih berjuang menegakkan kalimatillah justru dengan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Dia disindir borjuis Pakistan dan diancam bunuh kelompok ekstremis Muslim (nggak usah heran, ekstremisme itu nggak punya agama. Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibunuh ekstremis muslim, Gandhi yang Hindu taat malah gugur di tangan ekstremis Hindu, dan Indira Gandhi juga diberondong ekstremis Sikh, dan Yitzhak Rabin dibunuh ekstremis Yahudi).

“Ambulanku Lebih Muslim Dibanding Kalian”

Edhi lahir di Gujarat, India, pada 1928. Kemudian, karena konflik pemisahaan India-Pakistan pada 1947, Edhi harus pindah ke Karachi, Pakistan. Di kota ini dia mengalami kejadian traumatik yang kemudian mempengaruhi hidupnya. Saat itu ibunya yang nyaris sekarat harus segera dilarikan ke rumah sakit terhambat gara-gara hanya ada satu ambulan milik Palang Merah Internasional. Kejadian ini terus menghantuinya.

Dia pun memulai kerja sosialnya dengan membuka toko obat di samping rumahnya. Dia bahkan sering menggratiskan obat karena iba melihat calon pembeli yang tidak punya uang sama sekali.

Langkah sosialnya semakin mantab saat Edhi mendirikan yayasan pada tahun 1957 untuk menerima donasi yang kemudian dia gunakan membantu korban wabah flu Hongkong yang saat itu menyebabkan puluhan warga Pakistan tewas. Di kemudian hari, Edhi memperoleh dana untuk membeli ambulan yang dibawanya sendiri untuk menjemput orang-orang sakit. “Itulah pertama kalinya saya memperoleh kepercayaan yang besar,” katanya.

Sejak saat itu, Yayasan Edhi menjadi lembaga nirlaba raksasa yang menggurita. Organisasi kemanusiaan yang memberikan layanan ambulan, klinik, rumah yatim, bank darah, dan banyak lagi yang lainnya. Semuanya gratis. Kini, tak kurang 2000 ambulan dimiliki yayasan ini. Ketika ada pengeboman (di Pakistan, kejadian ini seolah menjadi “tradisi”), mobil ambulan milik Edhi biasanya lebih dulu tiba dibandingkan dengan ambulan milik pemerintah lokal.

Bahkan, dalam konflik antar suku maupun antar geng di negara ini, mereka akan tunduk pada satu kode etik: apabila ambulan milik Edhi tiba, semua tembak menembak harus dihentikan, semata-mata agar relawan kemanusiaan dari Yayasan Edhi bisa mengevakuasi para korban, baik yang terluka maupun yang sudah tercabut nyawanya.

Edhi sudah terbiasa merawat jenazah yang ditolak keluarganya, maupun jenazah warga sipil yang hancur akibat perang, saat perang India-Pakistan pada 1965 dan 1971. Dia memandikan, mengkafani, menshalatkan hingga menguburkan jenazah ini. Jumlahnya mencapai ratusan. Dan, ketika polisi menemukan jasad Daniel Pearl, reporter Wall Street Journal yang dibunuh jaringan teroris di Karachi pada 2002, Edhi-lah yang mengurusnya. Dia membersihkan dan merapikan sisa-sisa tubuh Pearl yang dimutilasi dan membawanya ke bandara untuk diterbangkan ke AS.

Yayasan Edhi juga dikenal imparsial, tidak memihak kelompok mana pun. Dia menolong siapapun dan di manapun. Di perbatasan Pakistan-Afganistan, di mana konflik sektarian sering terjadi, ambulan Edhi mondar-mandir mengevakuasi para korban, sekaligus juga memberi bantuan kemanusiaan. Bahkan, ketika Badai Katrina menghantam AS, Yayasan Edhi mendonasikan USS 100.000 dolar kepada para korban. Ketika suatu kali ditanya mengapa dia melayani semua orang tanpa pandang bulu, tanpa mendahulukan mereka yang Muslim, pria berjenggot kelabu ini menjawab, “karena ambulans saya lebih Muslim dibanding kalian.”

Saya mengagumi Abdussattar Edhi seutuhnya, manusianya dan perjuangannya yang tanpa kekerasan. Kekerasan senantiasa menimbulkan ekses negatif pada suatu waktu, dan biasanya melahirkan kekerasan dalam jenis lainnya di satu waktu yang lain. Bagi saya perjuangan non-violence jauh lebih rumit dan kompleks, demikian pula upaya merajut persatuan antar berbagai kelompok. Gandhi di India, Burhanuddin Rabbani di Afganistan, Ahmad Kadyrov di Chechnya, dan Syekh Said Ramadhan al-Buthy serta Syekh Adnan Al-Afyuni misalnya, harus mewakafkan nyawanya untuk persatuan bangsanya.

Dari pria berjenggot kelabu ini, kita belajar, pelayanan sosial, pemihakan terhadap mereka yang terpinggirkan, pencegahan kekerasan, adalah salah satu hakikat ajaran Islam. Dia menerapkan prinsip al-Itsar, mengutamakan orang lain, yang dalam konsep tasawuf lebih tinggi daripada Sakha’ (dermawan) dan Judd (murah hati).

Tanpa aksi nyata yang membumi, ajaran Islam tampak melangit.

Wallahu A’lam Bishshawab

57 Tahun Salman Khan dan Lantunan Pepujian kepada Rasulullah

57 Tahun Salman Khan dan Lantunan Pepujian kepada Rasulullah

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Dua hari silam, 27 Desember, Salman Khan ultah ke 57. Aktor India bernama lengkap Abdurrashid Salim Salman Khan ini memang sudah tuwir, tapi dia tetap gagah, dan…jomblo. 32 tahun merayapi layar sinema India, dia banyak membintangi genre film. Paling banyak ya babakan romantis, drama, dan eksyen. Ada juga komedi. Hanya thriller dan horor kayaknya genrw yang belum dia jamah.

Ketika diwawancarai Karan Johar, sutradara top India, dalam Coffe With Karan, Aamir Khan menyebut Salman berkarakter singa, setelah sebelumnya dalam kesempatan lain Salman memuji Aamir sebagai macan.

Mengapa?

“Harimau harus bekerja sendirian menangkap rusa,” kata Aamir.

“Adapun singa? Dia hanya duduk, menyuruh si betina mencari mangsa.” Lanjut Mr. Perfectionist sembari mempraktikkan gaya duduk bossy.

Nah, di antara film terbaik yang dibintangi Salman Khan, saya kira
Bajrangi Bhaijaan adalah jawabannya.

Saya sebut keren karena alur cerita film produksi 2015 ini ciamik, naik turun mengaduk emosi penonton, serta sinematografinya yang oke.

Saya sebut pula ini film “paling manusiawi” yang dibintangi Sallu karena di film ini dia sudah menjadi manusia kembali, sebab di film lain ia tampil sebagai jagoan super yang meskipun dikeroyok preman semadrasah pun ia tetap menang dalam kondisi kinyis-kinyis. Dari Tere Naam, Veer, Ek Ka Tiger dan sekuelnya, Jai Ho, Trilogi Dabangg sampe Bodyguard. Kesannya sih dia memang manusia antigores. Sejak putus dari Aishwarya Rai (jiaaaah nggosiiiip nggosiiip), citra Salman memang berubah: dari pria dengan senyum manis di Kuch Kuch Hota Hai dan Har Dil Jo Pyaar Karega menjadi pria bengis yang sok jago di film-filmnya. Terlebih, kemudian diketahui tempramen Salman memang tidak stabil. Lihat saja kasus kontroversialnya saat ia dalam kondisi teler menabrak gelandangan yang sedang bobok di pinggir jalan, sekitar satu dua dasawarsa silam, meski pada akhirnya ia divonis tidak bersalah pada 2015, atau ketika dia berburu antelop langka saat syuting pada 1998. Oke lupakan kasus yang membelitnya. Namanya juga seleb.

Bajrangi Bhaijaan memang bukan film politis, tapi menyisipkan aspek politik secara halus melalui politik rekonsiliasi India- Pakistan, yang dia ulangi lagi dalam Bharat (2021). Pawan Kumar alias Bajrangi (Salman Khan), seorang pengangguran, yang berusaha menolong bocah perempuan asal Pakistan, Shahida alias Munni (Harshaali Malhotra) yang tertinggal seusai ziarah ke makam ulama di Delhi. Pawan, penganut Hindu, mengantar Shahida yang bisu pulang ke kampung halamannya di Kashmir-Pakistan. Lika liku perjalanan dari India ke pelosok Pakistan ini lah yang sarat kelucuan dan keharuan.

Tapi dalam tulisan ini saya tak hendak menukil komplit sinopsis film apik ini. Langsung tonton saja deh.

Saya lebih tertarik pada pemandangan pegunungan Kashmir yang mempesona, juga perziarahan Pawan dan Shahida serta wartawan konyol berhati tulus, Chand Nawab (diperankan secara kocak oleh aktor watak Nawazuddin Siddiqui) ke makam Maulana Zainuddin, wali agung yang makamnya ada di bukit indah pemuncak geografis Kashmir.

Saat itulah, Adnan Sami, musisi bersuara khas, nongol bersama semacam grup orkes lesehan menyenandungkan lirik indah gubahan Kausar Munir. Syair ekspresif kecintaan, kerinduan, dan harapan kepada Baginda Rasulullah.

Adnan Sami melantunkannya dengan pola Qawwali, sebuah bentuk dari musik devosional kaum sufi. Sami, musisi bertubuh tambun yang setelah sukses berdiet malah mirip Robert Downey Jr, menyenandungkannya dengan penuh penghayatan dalam sebuah adegan di film tersebut.

Lagu ini berjudul “Bhar Do Jholi Meri Ya Muhammad”. Artinya, Kumohon restumu, Duhai Nabi Muhammad, yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Mas Ackiel Khan dan Mas Fauzi/ Uziek. Indah banget, syair yang disenandungkan ini. Mempesona!

Tere Darbaar Mein Dil Thaam Ke Woh Aata Hai
-Mereka datangi pintu gerbangmu dengan tangan menengadah

Jisko Tu Chaahe Hey Nabi Tu Bhulata Hai
-Dengan menyebut nama Nabi kekasih hatimu

Tere Dar Pe Sar Jhukaaye Main Bhi Aaya Hoon
-Akupun datang ke pintu mu dengan wajah tertunduk

Jiski Bigdi Haye Nabi Chaahe Tu Banata Hai
-Karena engkaulah yang mampu mengubah nasib hambamu yang hina ini

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad
-Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (4x)
-Aku takkan kembali dengan tangan hampa

Band Deedon Mein Bhar Daale Aansu
-Mataku basah dengan air mata

Sil Diye Maine Dardo Ko Dil Mein (X2)
-Di hatiku penuh dengan derita

Jab Talak Tu Bana De Na Tu Bigdi
-Sampai kau merubah nasibku yang rusak

Dar Se Tere Na Jaaye Sawaali
-Aku tidak akan meninggalkan pintumu

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad
-Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (2x)
-Aku takkan kembali dengan tangan hampa

Khaali..
-Hampa

Bhar Do Jholi.. Aaka Ji
-Penuhi harapanku.. Ya tuhan

Bhar Do Jholi.. Hum Sab Ki
-Penuhi harapanku.. pujaan semua orang

Bhar Do Jholi.. Nabi Ji
-Penuhi harapanku.. wahai Nabi

Bhar Do Jholi Meri Sarkar E Medina
-Penuhi harapanku wahai yang terpuji

Lautkar Main Naa Jaunga Khaali
-Aku tak mau kembali dengan tangan hampa

Khojte Khojte Tujhko Dekho
-Lihatlah kondisiku..

Kya Se Kya Ya Nabi Ho Gaya Hoon..(2x)
-Saat mencarimu, wahai Ya Nabi

Bekhabar Darbadar Phir Raha Hoon
-Tanpa sadar, aku berkelana dari pintu ke pintu

Main Yahan Se Wahan Ho Gaya Hoon..(2x)
-Tanpa alasan, aku berkelana di sana kemari

De De Ya Nabi Mere Dil Ko Dilasa
-Hibur hatiku wahai Nabi

Aaya Hoon Door Se Main Hoke Ruhasa..(2x)
-Aku datang dari jauh, pebuh harapan

Kar De Karam Nabi Mujhpe Bhi Zara Sa
-Berikan sedikit anugerahmu pada hamba

Jab Talak Tu..
-Hingga kau..

Jab Talak Tu..
-Hingga kau…

Panaah De Na Dil Ki
-Menjawab doaku

Dar Se Tere Na Jaaye Sawaali
-Aku takkan tinggalkan tempat sucimu

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad
-Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad

Lautkar Main Naa Jaunga Khali..
-Aku takkan kembali dengan tangan hampa

Bhar Do Jholi Meri Sarkar E Medina
-Penuhi harapanku wahai yang terpuji

Lautkar Main Naa Jaunga Khaali
-Aku tak mau kembali dengan tangan hampa

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad
-Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad

Lautkar Main Naa Jaunga Khali..
-Aku takkan kembali dengan tangan hampa

Jaanta Hai Na Tu Kya Hai Dil Mein Mere
-Engkau tau maksud hatiku kemari

Bin Sune Gin Raha Hai Na Tu Dhadkane.. (2x)
-Engkau mampu mendengar bisik hatiku

Aah Nikhli Hai Toh Chand Thak Jayegi
-Semoga hembusan doaku mencapai langit

Tere Taaron Se Meri Duaa Aayegi..(2x)
-Dan bintangpun akan berdoa untukku

Aye Nabi Han Kabhi Toh Subah Aayegi
-Ya Nabi, pagi pasti akan menjelang

Jab Talak Tu Sunega Na Dil Ki
-Hingga engkau mendengar setiap doaku

Dar Se Tere Na Jaaye Sawali
-Aku takkan meninggalkan tempat sucimu

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad
-Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad

Lautkar Main Naa Jaunga Khali..
-Aku takkan kembali dengan tangan hampa

De Taras Kha Taras Mujhpe Aaka
-Kasihanilah aku, ya Tuhan!

Ab Laga Le Tu Mujhko Bhi Dil Se (2x)
-Rangkullah aku ke hatimu sekarang

Jab Talak Tu Bana De Na Tu Bigdi
-Sampai kau merubah nasibku yang rusak

Dar Se Tere Na Jaaye Sawaali
-Aku tidak akan meninggalkan pintumu

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad
-Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad

Lautkar Main Naa Jaunga Khali..
-Aku takkan kembali dengan tangan hampa

Bhar Do Jholi.. Aaka Ji
-Penuhi harapanku.. Ya tuhan

Bhar Do Jholi.. Hum Sab Ki
-Penuhi harapanku.. pujaan semua orang

Bhar Do Jholi.. Nabi Ji
-Penuhi harapanku.. wahai Nabi

Bhar Do Jholi Meri Sarkar E Medina
-Penuhi harapanku wahai yang terpuji

Lautkar Main Naa Jaunga Khaali
-Aku tak mau kembali dengan tangan hampa

❤️❤️❤️❤️❤️

Menengok Kembali Koneksi Ulama Nusantara dan India

Menengok Kembali Koneksi Ulama Nusantara dan India

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Madrasah Shaulatiyah, Makkah, pada suatu siang, di tahun 1934. Zulkifli, seorang pelajar, menerima kiriman Majalah Berita Nahdlatoel Oelama dari Indonesia. Sebagaimana biasanya, adik KH. Zubair (Salatiga, kelak menjadi Rektor Pertama IAIN Walisongo) ini membacanya dengan antusias bersama kawan-kawannya sesama orang Indonesia. Tak disangka, gurunya tahu lalu memaksa mengambil majalah tersebut, merobek-robeknya dan membuangnya ke arah jendela di lantai tiga lembaga pendidikan tersebut. Peristiwa ini membuat para siswa sewot. Namun yang lebih membuat muntab mereka adalah kalimat penghinaan yang dilontarkan guru tersebut: “Kalian orang-orang Jawa [Indonesia] adalah bangsa yang berbudi rendah!”

Kejadian di siang hari itu benar-benar menyakiti hati para pelajar. Mereka dengan kompak mogok belajar. Kegiatan di madrasah pun lumpuh. Sebab, 95% siswa di Shaulatiyah berasal dari Indonesia. Demikian juga sebagian pengajarnya. Karena sudah terlanjur sakit hati, maka aksi ini berlanjut dengan tindakan yang tak kalah mencengangkan: para pengajar asal Indonesia memutuskan mendirikan sebuah madrasah sendiri.

Para orangtua siswa menghimpun dana, dibantu oleh para “syekh haji Indonesia” yang ada di Makkah. Syekh Abdul Manan ditunjuk sebagai penggerak proyek pendidikan ini. Hingga pada akhirnya, rencana ini berhasil diwujudkan. Lokasinya ada di Suq al-Layl. Gedungnya disediakan oleh Syekh Ya’qub, yang berasal dari Perak, Malaysia.

Lembaga gres ini diberi nama Madrasah Darul Ulum, siswanya merupakan pindahan dari Shaulatiyah, dan Sayyid Muhsin al-Musawa, seorang ulama muda kelahiran Palembang yang cakap ilmunya, disepakati menjadi pimpinan. Sejak saat itu, Darul Ulum mulai menapak jejaknya sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berpengaruh di Makkah, khususnya bagi para pelajar dari kawasan Nusantara. Selain Syekh Muhsin al-Musawa, ada juga Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, ulama keturunan Indonesia, yang punya reputasi jempolan di bidang hadits. Syekh Yasin ini memimpin Darul Ulum sampai beliau wafat, 20 Juli 1990.

Kejadian di atas ditulis dengan detail oleh H. Abubakar Atjeh dalam biografi KH. A. Wahid Hasyim, “Sedjarah Hidup KH. A. Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar” (1957: 90). Sebuah peristiwa yang membuka Kotak Pandora pasang surut hubungan antara ulama Nusantara dengan India.

Meskipun ada rasa sentimentil kebangsaan yang membuat para pelajar dan pengajar Nusantara memutuskan mendirikan lembaga pendidikan tersendiri, namun keberadaan Madrasah Shaulatiyah tidak bisa disingkirkan begitu saja dalam lanskap sejarah peranan ulama kita. Sebab, sejak pertama kali didirikan oleh komunitas India di Makkah, lembaga pendidikan ini menjadi salah satu jujugan utama para pelajar Nusantara di Hijaz di penghujung abad ke XIX hingga awal abad XX. KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), KH. Hasyim Asy’ari, dan Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid (Nahdlatul Wathan), adalah tiga ulama besar yang pernah belajar di Madrasah Shaulatiyah.

Sebagaimana dikutip dari Majalah Tarikhiyyah Ilmiyyah Alumni Madrasah Shaulatiyah, nama KH. M. Hasyim Asyari sendiri tercantum dalam buku absensi tahun 1403 H/ 1893 M. Sampai sekarang madrasah legendaris ini tetap bertahan, dan pada bulan September 2016 silam, jajaran PBNU yang dipimpin oleh KH. Miftahul Akhyar didampingi PCI NU Arab Saudi dan puluhan perwakilan PCI NU seluruh dunia melakukan silaturrahim bersama di Makkah yang dilanjutkan dengan napaktilas tempat belajar KH. Hasyim Asy’ari di Makkah, khususnya di Madrasah Shaulatiyah.

Nama Shaulatiyah sendiri merupakan nisbat kepada Shaulatun Nisa, seorang perempuan filantropis India yang membantu sepenuhnya pendirian sebuah madrasah, pada 1290 H. Pada awalnya, akan didirikan semacam ribath. Namun usulan ini ditolak oleh Syekh Rahmatullah al-Kairanawi al-Hindi, yang berkeinginan agar ada sebuah lembaga yang secara inspiratif melanjutkan ruh Madrasah Nizamiyah, Baghdad, tempat Imam al-Ghazali pernah mengajar, beberapa ratus tahun sebelumnya. Usulan Syekh Rahmatullah diterima dan diwujudkan menjadi sebuah madrasah yang berdiri pada 1875 M.

Lantas, siapa sebenarnya Syekh Rahmatullah al-Hindi yang menjadi penggerak madrasah ini? Kalau pembaca mencermati rujukan yang digunakan oleh Dr. Zakir Naik dalam beberapa debatnya, niscaya pembaca akan menemukan kitab Idzharul Haq. Sebuah karya Syekh Rahmatullah al-Kairanawi al-Hindi. Kitab ini ditulis oleh ulama keturunan Sayidina Utsman bin Affan itu untuk mematahkan argumentasi pemuka Kristen, Gottlieb Pfander, ketika kedua pemuka agama ini berdebat soal teologi selama 3 hari di salah satu daerah di India, pada tahun 1850-an.

Syekh Rahmatullah, selain menguasai fiqh dan tasawuf, juga mahir dalam melakukan debat teologis melawan para misionaris garis keras yang disokong oleh penjajah Inggris. Hingga pada puncaknya, Syekh Rahmatullah turut serta menggerakkan revolusi Indian Mutiny, 1857, di mana beliau kemudian diburu Inggris lalu lari ke Makkah dan disambut Sayyid Zaini Dahlan, Mufti Syafiiyah di Haramain. (Catatan: Film mengenai Indian Mutiny, 1857, dibintangi Aamir Khan, Rani Mukherjee dan Amisha Patel, berjudul “The Rising: Mangal Pandey”. Sebuah biopic seolah pahlawan besar India. Sorry, misionaris Bollywood lagi melakukan indoktrinasi hahaha).

Makkah saat itu adalah kota suci yang kosmopolit dan terbuka untuk kajian keilmuan lintas madzhab, tidak seperti saat ini yang dikuasai Wahhabi yang menghendaki monopoli paham keagamaan dan ekspor ideologi. Di kota suci inilah di kemudian hari, Syekh Rahmatullah al-Kairanawi al-Hindi yang punya banyak karya tulis itu menghimpun dan mengorganisir orang-orang India untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Shaulatiyah, sebuah madrasah yang di kemudian berkembang pesat dan menjadi jujugan para pelajar asal Nusantara.

Ada yang menilai KH. M. Hasyim Asyari pernah berguru kepada ulama top India ini, meskipun dari tahunnya tampaknya tidak ada pertemuan antara keduanya, sebab Kiai Hasyim tiba di Makkah sekitar 1892, sedangkan Syekh Rahmatullah wafat 1891. Saya menduga, Kiai Hasyim berguru ke putra beliau, Syekh Salim bin Rahmatullah al-Hindi. Meski demikian, keberadaan Shaulatiyah menjadi penanda relasi erat antara ulama India dan Indonesia, sebab Shaulatiyah menjadi kawah candradimuka bagi para pelajar Indonesia di masanya.

Salah satu bentuk relasi erat ulama Indonesia dengan ulama India juga dikisahkan oleh H. Abubakar Atjeh dalam buku yang sama. Pada 1935 KH. Muhammad Ilyas (1911-1970), yang di kemudian hari menjadi Menteri Agama RI, kembali ke Indonesia dari Makkah melalui jalur India dan Malaysia. Dalam perjalanan itu dia berkeinginan mengadakan studi banding tentang sistem pendidikan Islam. Di India, ia mengunjungi beberapa kota dan universitas, juga tokoh-tokoh penting dan ulama.

Ketika berada di Bombai (Mumbai), ia bersama kawan-kawannya berjumpa dengan salah seorang ulama berpengaruh, Syekh Sa’dullah al-Maimani, Mufti Bombay. Yang cukup mengejutkan, Syekh Sa’dullah mengundangnya untuk ikut makan siang. Kiai Ilyas tidak tahu mengapa Syekh India ini memberikan perhatian dan pelayanan yang begitu istimewa kepadanya. Bahkan, meskipun Syekh Sa’dullah mempunyai banyak pelayan, dia lebih senang melayani sendiri para tamunya yang masih muda tersebut.

Tidak hanya itu, ketika Kiai Ilyas dan kawan-kawannya hendak bertolak meninggalkan New Delhi, Syekh Sa’dullah juga ikut mengantarkannya hingga ke stasiun kereta, bahkan menunggui hingga kereta api berangkat pukul 11 malam. Menjadi tuan rumah yang baik adalah hal yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim, namun yang menjadi keheranan Kiai Ilyas adalah bahwa Syekh Sa’dullah al-Maimani adalah seorang mufti kenamaan.

Kiai Ilyas yang penasaran dengan perlakuan istimewa dari seorang ulama besar tersebut terus mencari jawaban. Sebab, dia merasa tidak pantas mendapatkan pelayanan yang sepenting itu. Keheranannya ini terus menjadi tanda tanya besar dalam pikiran dari minggu ke minggu.

Akhirnya, dua bulan kemudian, misteri tersebut terungkap ketika Kiai Ilyas pergi ke Kolkata dan bertemu dengan Zainuddin, seorang santri Jawa yang berasal dari Kediri, yang tinggal di kota itu. Zainuddin yang pernah tinggal di rumah Syekh Sa’dullah dan disekolahkan olehnya, bercerita apabila dia selalu menerima perlakuan atau pelayanan yang sama dari Syekh Sa’dullah dan yakin bahwa sang Syekh akan memberikan pelayanan terbaik tidak hanya kepadanya atau kepada Kiai Ilyas, namun juga kepada semua orang Indonesia lainnya.

Alasannya, menurut Zainuddin, adalah jelas, bahwa Syekh al-Maimani adalah murid langsung dari Syekh Mahfudz at-Tarmasi ketika berada di Makkah pada dekade pertama abad itu. Ulama tersebut merasa berkewajiban memperlihatkan rasa hormat dan terima kasihnya kepada semua orang Indonesia karena dia memperoleh pengetahuan dari orang Indonesia, Syekh Mahfudz at-Tirmasi. Luar biasa tawadlu’nya Syekh Sa’dullah ini!

PERSEMBAHAN DARI ULAMA INDIA UNTUK SYEKH ABDUSSHAMAD AL-FALIMBANI

Dalam Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip dan Korespondensi Ulama Nusantara, Mas Ahmad Ginanjar Sya’ban menyodorkan fakta unik. Seorang ulama India, Syekh Shadiq al-Madani ibn Umar Khan yang hidup pada abad 18, secara khusus menulis sebuah karya yang dipersembahkan kepada ulama Nusantara, Syekh Abdusshamad bin Abdurrahman al-Falimbani.

Kitab yang berjudul Qathf Azhar al-Mawahib al-Rabbaniyyah min Afnan Riyadh an-Nafhah al-Qudsiyyah ditulis pada saat Syekh Shadiq tinggal di Madinah. Kitab ini telah ditahqiq dan diterbitkan ulang oleh Dar al-Qahirah li At-Thiba’ah, Mesir, pada tahun 2006 silam, dengan jumlah 240 halaman.

Syekh Shadiq dan Syekh Abdusshamad dipertemukan dalam satu majelis keilmuan di Madinah pada saat keduanya bersama-sama bermulazamah kepada Syekh Muhammad ibn Abdul Karim As-Samman al-Madani. Ulama yang masyhur dengan sebutan Syekh Samman (1718-1775), Mursyid Tarekat Sammaniyyah, dan juga penjaga makam Rasulullah.

Pada saat itu, Syekh Abdusshamad meminta agar Syekh Shadiq al-Madani menuliskan sebuah syarh (penjelasan) atas teks puisi yang ditulis oleh guru mereka, Syekh Samman, yang berjudul an-Nafhah al-Qudsiyyah atau dikenal dengan al-Qashidah al-Ainiyyah, yang memuat ajaran tasawuf.

Permintaan ini kemudian dipenuhi. Syekh Shadiq lantas menuliskan kitab ini untuk sahabatnya asal Palembang tersebut. Dalam kata pengantarnya, sebagaimana yang dicatat oleh Mas Ahmad Ginanjar Sya’ban, Syekh Shadiq dengan rendah hati menjelaskan apabila dirinya hanya mempermudah penjelasan sebuah syair yang ditulis oleh gurunya. Saat itu, Syekh Abdusshamad memberinya sebuah teks syarh puisi karya orang lain yang masih terlalu berat dipahami. Oleh karena itu, Syekh Shadiq memutuskan menerima permohonan sahabatnya. Maka, jadilah kitab Qathf Azhar al-Mawahib al-Rabbaniyyah (fi Syarh) min Afnan Riyadh al-Nafhah al-Qudsiyyah tersebut.

Relasi ulama India dan Indonesia semakin erat manakala di kemudian hari, juniornya Syekh Abdusshamad al-Falimbani, yaitu Syekh Muhammad Nafis al-Banjari (w. 1812), menjadi murid Syekh Shadiq bin Umar Khan. Dalam karyanya yang berjudul Ad-Durr al-Nafis, Syekh Muhammad Nafis menyebut nama gurunya dengan hormat sekaligus menyinggung syarh al-Qashidah al-‘Ainiyah karya Syekh Shadiq yang kemungkinan besar ditulis pada rentang tahun 1770-1780-an tersebut.

DUET KAKEK DAN CUCU DARI MALABAR YANG POPULER

Selain Syekh Shadiq bin Umar Khan, ada ulama India lain, Syekh Zainuddin al-Malibari, yang menancapkan pengaruh kuat di kawasan Nusantara, sebab karyanya dikaji hingga saat ini. Mengkaji fiqh di pesantren tanpa menyertakan bahasan Fath al-Mu’in rasanya tidak lengkap. Sebagai salah satu kitab rujukan di bidang madzhab Syafi’i, kitab ini menjadi salah satu karya yang popular dan dikaji selama ratusan tahun dan bertahan hingga kini. Saking populernya, banyak umat Islam menggunakan nama Fath al-Mu’in sebagai nama buah hatinya ini. Semata-mata tabarrukan ppada faidah dan kemanfaatan kitab ini.

Kitab masyhur ini ditulis oleh Syekh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H./1579 M). Ulama fiqh madzhab Syafii kelahiran Malabar, India yang juga disebut sebagai Zainuddin Ats-Tsani, karena kakeknya juga bernama Zainuddin. Zainuddin Ats-Tsani ini adalah penulis Fath al-Mu’in yang merupakan syarah atas karyanya sendiri, Qurratul‘Ain bi Muhimmatid Din. Isryadul Ibad ila Sabil Ar-Rasyad adalah karya lainnya.

Sedangkan kakeknya, Zainuddin bin Ali bin Ahmad al-Malibari juga merupakan pakar fiqh Syafiiyah yang lahir di Malibar/ Malabar pada tahun 872 H/1467 M dan wafat di Ponani (Fanan) pada 928 H./ 1521 M. Karya sang kakek yang cukup populer di Indonesia adalah kitab tasawuf Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya.

Zainuddin al-Malibari senior ini juga dikenal dengan nama Zainuddin al-Fanani, dinisbatkan pada nama tempat wafatnya. Kitab Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya’ini adalah salah satu kitab tasawuf yang paling populer di awal abad ke XX, di mana ulama sekaliber KH. Sholeh Darat memberi syarah kitab ini dengan judul Minhaj al-Atqiya fi Syarh Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya.

Selain duo Malibari ini, di abad ke 17 dan 18 di wilayah Sumatera dan Jawa para bangsawan Aceh dan Yogyakarta akrab dengan kitab Tuhfat al Mursalah ila Ruh an Nabi, kitab tasawuf yang mengupas Martabat Tujuh dan pemikiran spiritual Ibn Arabi. Kitab karya ulama India, Syekh Fadhlullah Burhanpuri (w. 1620 M) ini membumi seiring dengan dominasi Tarekat Syattariyah di lingkungan elit keraton.

Tarekat ini pun didirikan oleh ulama India, Syekh Abdullah Asysyattari (w. 1485), dan disebarkan oleh orang India pula, seperti Syekh Sibghatallah al-Barwaji (w. 1606 M, sebagian mengejanya al-Baruji, atau Barauch, Gujarat), ulama India keturunan Persia. Syekh Sibghatallah ini menjadi penyebar dua kitab terkenal tarekat Syattariyah, yaitu Tuhfat al-Mursalah-nya Al-Burhanpuri dan Jawahir al-Khamsah karya Muhammad Ghauts al-Hindi (w. 1563 M).

Begitu populernya kitab Tuhfah al-Mursalah ini, sehingga Pangeran Diponegoro yang menjadi pengamal Tarekat Syattariah menjadikannya sebagai kitab kesayangan, selain kitab Taqrib (kalau Kiai Mojo memilih Fath al-Wahhab sebagai kitab pegangan, bahkan pengajaran kitab ini terus berlangsung pada saat bergerilya).

GENERASI AWAL: PAMAN DAN KEPONAKAN DARI GUJARAT

Karena tulisan ini disusun secara kronologis mundur, dari abad XX sampai abad XV, maka sampailah pada salah satu titik terpenting koneksi antara ulama India dengan Indonesia. Yaitu pada saat Syekh Muhammad Jilani bin Hasan Muhammad al-Humaidi, datang dari Gujarat, India, ke Kesultanan Aceh antara tahun 1583-1583. Dia mengajar fiqh, ushul fiqh, etika, dan retorika. Namun masyarakat yang hidup di bawah naungan Sultan Alauddin Riayat Syah ini ternyata menyukai tasawuf. Maka Syekh Muhammad Jilani kemudian berangkat ke Makkah untuk memperdalam kajian di bidang tasawuf agar bisa mengajar masyarakat Aceh.

Kiprah Syekh Jilani kemudian dilanjutkan oleh keponakannya yang lebih populer, Syekh Muhammad Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji al-Hamid Al-Aydarusi Ar-Raniri (w. 1658). Lahir di kota tua Randir (Ranir) di Gujarat, Syekh Nuruddin menjadi mufti (syaikh al-Islam) di era kesultanan Iskandar Tsani.

Karena memiliki kemampuan komplit di berbagai bidang keilmuan, Syekh Ar-Raniri memainkan peranan penting dalam pengokohan madzhab fiqh Syafi’iyah, penguatan tasawuf akhlaqi, dan pembaruan bahasa Melayu, sungguhpun bahasa ini bukan merupakan bahasa ibu Syekh Ar-Raniri.

Melalui As-Sirath al-Mustaqim, dia mengkokohkan madzhab Syafi’i, sebab inilah kitab fiqh lengkap pertama yang ditulis oleh seorang mufti di kawasan Nusantara. Karyanya yang lain, Bustan As-Salathin, selain berisi narasi historis Melayu-Nusantara, juga menyuguhkan berbagai nasehat bagi para raja. Saat menulis kitab ini, Syekh Ar-Raniri meniru langkah Imam al-Ghazali ketika menyusun Nashihat al-Muluk.

Di bidang akidah, Syekh Ar-Raniri menerjemah, menggubah, sekaligus memberi keterangan atas karya Najmuddin An-Nasafi yang berjudul Mukhtashar al-‘Aqaid. Karya ini cenderung rumit, dan bahasa Arabnya sulit dipahami oleh orang non-Arab. Di tangan Syekh Ar-Raniri, kitab ini diulas dengan menggunakan bahasa yang sederhana melalui Durrat al-Faraid bi Syarh al-’Aqaid. Karya lainnya, Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, berisi perbandingan agama dan karakteristik “kelompok sesat dan menyesatkan”.

Karya-karya di atas, antara lain, diselesaikan oleh Syekh Ar-Raniri selama menjabat sebagai Syaikhul Islam (1637-1644 M) di Kesultanan Aceh. Bahkan, sebelum kembali ke Ranir, ulama yang mengikuti Tarekat Rifaiyah, Qadiriyah dan Aidarusiyah ini sempat menulis sebuah karya berjudul Jawahir al-Ulum fi Kasyf al-Ma’lum, yang kemudian diselesaikan oleh salah seorang muridnya.

Ketika menjabat sebagai mufti, Syekh Ar-Raniri banyak berpolemik dengan para pengikut ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsudin As-Sumaterani, dua tokoh pengajar tasawuf falsafi. Kelak, ketika Iskandar Tsani wafat dan digantikan oleh istrinya, Ratu Shafiyatuddin, Syekh Ar-Raniri mulai tersingkir oleh kebijakan baru penguasa baru. Hingga pada puncaknya, Syekh Saifur Rijal al-Minangkabawi al-Azhari diangkat sebagai pengganti Syekh Ar-Raniri. Setelah kembali ke kota kelahirannya di Gujarat, Syekh Ar-Raniri menuliskan berbagai karyanya, termasuk menjalin korespondensi dengan Sultan Banten, Abu al-Mafakhir Abdul Qadir al-‘Ali. Pada hari Sabtu, 22 Dzulhijjah 1068/21 September 1658, ulama besar ini wafat.

“Meski masa karier Ar-Raniri di Nusantara relatif sebentar, peranannya dalam perkembangan Islam di wilayah Melayu-Indonesia tak bisa diabaikan. Tanpa mengabaikan peranan para pembawa Islam dari Timur Tengah atau tempat-tempat lain di masa lebih awal, kita dapat mengatakan Ar-Raniri merupakan suatu mata rantai yang sangat kuat, yang menghubungkan tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam di Nusantara.” tulis Azyumardi Azra dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam di Indonesia” (2004: 222).

DUA MUSTHAFA AHLI HADITS

Setelah menelusuri relasi erat ulama Nusantara dan India dalam kurun setengah milenium terakhir yang disusun mundur, lantas bagaimana dengan koneksi pasca Indonesia merdeka.

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, 1945, dan India, 1947, jalur keilmuan kedua negara ini lebih banyak terjalin melalui hubungan para aktivis Jamaah Tabligh, yang mulai menguat sejak 1990-an. Relasinya dipilin melalui transmisi para murid Syekh Muhammad Zakariyya ibn Muhammad Yahya ibn Muhammad Ismail al-Kandahlawi yang masyhur dengan karyanya, Fadhail al-Amal, itu.

Di bidang hadis, seingat saya, ada relasi erat dua pakar bidang ini yang sama-sama bernama Musthafa. Dari India, ada Syekh Muhammad Musthafa Azami, sedangkan dari Indonesia, ada KH. Ali Musthafa Ya’qub. Keduanya saling menjalin relasi erat. Bahkan di era 1990-an, Kiai Ali Musthafa mengundang Syekh Musthafa Azami untuk mengisi seminar di Jakarta. Relasi keduanya semakin erat karena Kiai Ali Musthafa mendapatkan izin menerjemahkan karya Syekh MM. Azami, ulama besar di bidang hadits itu, yang terbit dengan judul “Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya”. Bahkan, ketika memperdalam ilmu hadits di jenjang S-3, Kiai Ali Musthafa memilih Universitas Nizamia di Hyderabad, India.

Adapun ulama top India saat ini, Maulana Wahiduddin Khan tidak begitu populer di Indonesia. Maklum, di negara kita, pejuang perdamaian dan kemanusiaan akan kalah pamor dan kalah populer dibandingkan dengan tukang provokasi dan penganjur kekerasan.

Padahal nama terakhir ini turut andil dalam menjaga stabilitas kehidupan beragama di India. Ulama berwajah teduh dan berpenampilan kalem ini giat mengkampanyekan moderatisme Islam sejak tahun 1970-an. Maulana Wahiduddin Khan juga mendirikan Center for Peace and Spirituality, satu yayasan yang mendakwahkan kedamaian dan spiritualitas, tasawuf. Ia kerap berkunjung ke berbagai wilayah dan bertemu berbagai tokoh lintas iman untuk berdialog, bukan berdebat.

Pada 2015 lalu, di Abu Dhabi, Syekh Wahiduddin Khan mendapat penghargaan dari Majlis Hukama al-Muslimin pimpinan Syekh Abdullah bin Bayyah atas kerja kerasnya mengkampanyekan perdamaian sepanjang hidupnya.

Ini hanya artikel rintisan. Masih banyak yang belum ditulis mengenai relasi penting ulama India dan Indonesia sejak awal masuknya Islam di Nusantara, yang ditengarai–antara lain– melalui jalur Gujarat. Silahkan melanjutkan tulisan ini berdasarkan informasi lain, karena artikel ini sangat terbatas.

WAllahu A’lam Bisshawab.

Pernah dimuat di: http://www.halaqoh.net/2017/07/menengok-kembali-koneksi-ulama.html?m=1

Santri Kelana Pariaman dan Jaringan Tarekat Syattariyah

Santri Kelana Pariaman dan Jaringan Tarekat Syattariyah

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Alhamdulillah, setahun silam, tepatnya 2 Desember 2021, saya bisa berjumpa dengan sahabat fesbuk, Ustadz Amrizal, di Kantor PCNU Kencong.

Dia adalah santri kelana. Berangkat dari Bireun Aceh, 30 September 2020. Berjalan kaki selama 20 hari sampai di Medan. Di kota ini, ada pengasuh majelis taklim yang memberinya sangu yang kemudian dibelikan sepeda. Dan moda transportasi roda dua ini yang kemudian dipakai keliling Sumatera, Jawa dan Madura. Jadi, total 14 bulan ditempuh dengan berjalan kaki dan bersepeda.

Karena masih jomblo, Ustadz Amrizal enjoy saja keliling gowesan menjelajah pulau. Ziarah ke makam para wali di Jawa dan Madura, termasuk menziarahi pusara para Mursyid Syattariyah.

Tak lupa, tentu saja, sowan ke beberapa ulama, meminta sanad ilmu sekaligus mencatat transmisi ruhaniah Tarekat Syattariyah. Secara khusus Ustadz Amrizal mencatat sanad-sanad Mastur yang transmisinya belum masyhur. Di Madura, dia sowan ke KH. Luqman Haris, Saronggi, Sumenep, salah satu pemilik sanad tarekat Syattariyah dari empat jalur langka: melalui (1) Sunan Ampel, (2) Syekh Muhyi Pamijahan (1640-1715) melalui jalur Syekh Faqih Ibrahim dan Raden Kiai Bagus Saparwadi [nama ini cocok dengan jaringan ulama Syattariyah di sekitar Pangeran Diponegoro. Faqih Ibrahim Ba’abud alias Pekih Ibrohim Madiokusumo adalah Sayyid bermarga Baabud. Ayahnya Hasan Munadi bin Alwi Ba’abud, menantu Hamengkubuwono II]; (3) Syekh Yusuf al-Maqassari.

Di Banyuwangi, yang dia kunjungi seminggu silam, dia mencatat transmisi sanad Syattariyah yang berporos pada jalur Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, serta Tarekat Akmaliyah di wilayah timur Jawa.

Apa yang memotivasinya? Ingin menelusuri jaringan Tarekat Syattariyah dan Akmaliyah di Nusantara. Itu saja. Dan, pria berusia 27 tahun ini enteng saja menjelajah sekujur pulau Sumatera, Jawa, dan Madura.


Sebagaimana diketahui, Tarekat Syattariyah dibumikan oleh Syekh Abdurrauf Assinkili (1615-1693), mutfi Kesultanan Aceh, yang mendapatkan sanad ini dari Syekh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah, yang mendapatkan sanad dari Syekh Ahmad Assyinawi. Jaringan murid Syekh Assinkili menyebarkan tarekat ini melalui jejaring Syekh Burhanuddin Ulakan (1646-1704) Pariaman Sumatera Barat. Sedangkan di Jawa disebarkan oleh Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (1640-1715). Sisanya disebarkan oleh Syekh Yusuf al-Maqassari (1626-1699).

Tarekat Syattariyah adalah di antara tarekat yang mulai masuk dan tersebar paling awal di era kerajaan Islam di Nusantara. Dalam email tertanggal 15 Agustus 2015, Prof. Oman Fathurahman, filolog UIN Syarif Hidayatullah, menjelaskan kepada Peter Carey, bahwa Ratu Ageng, nenek buyut Pangeran Diponegoro, adalah penganut Tarekat Syattariyah.

Menurut Prof. Oman, berdasarkan penelitian atas naskah Jav. 69 [Silsilah Syattariyah] dari koleksi Colin Mackenzie di British Library, London, Ratu Ageng–yang disebut ‘Kangjeng Ratu Kadipaten’ dalam naskah– disebutkan dalam empat bait sebagai penganut setia yang memiliki pertalian langsung dengan para mursyid utama Tarekat Syattariyah di Jawa Barat, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (1640-1715) melalui empat silsilah ulama.

Anggota kesultanan lain yang disebut sebagai penganut Syattariyah adalah Permaisuri Hamengkubuwono II (bertakhta 1792-1810/1811-1812/1826-8), Ratu Mas, dan ayahnya Pangeran Pakuningrat, menak keturunan Mataram yang menikah dengan anak Pakubuwono II (bertakhta 1726-1749) dan Ratu Alit dari Kertasura. Pakuningrat dibaiat dalam Syattariyah oleh Kiai Abdullah (Kiai Muhammad Kastuba) dari Pesantren Alang-Alang Ombo di Bagelen. Selain itu bangsawan lain yang menjadi pejalan Syattariyah adalah Raden Ayu Kilen, selir Hamengkubuwono II.

Pangeran Diponegoro juga menganut Tarekat Syattariyah melalui gurunya hingga bertalian pada jalur sanad Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Sang pangeran mempelajari Tuhfat al-Mursalah ila Ruh an-Nabi karya Syaikh Muhammad bin Fadhlullah a-Burhanpuri. Kitab ini menjelaskan falsafah sufisme tentang ajaran “martabat tujuh” yang klop dengan pemikiran manusia Jawa manakala merenungkan Allah, dunia dan kedudukan manusia.

Karena banyak dianut oleh para menak Jawa, di hingga Tarekat Syattariyah lebih banyak berkembang di wilayah bekas kekuasaan Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Di wilayah Mataraman (eks Karesidenan Kediri), saat ini jaringan tarekat ini masih bertahan.

Bahkan, ketika pada Maret silam saya ikut dalam Ekspedisi Banda Neira, yang melacak jaringan ulama Jawa yang dibuang di Pulau Banda Neira era 1920/1930-an, saya menemukan jaringan Tarekat Syattariyah di pulau ini.

Tarekat Syattariyah di pulau ini disebarkan oleh KH. Muhammad Bukhori, Jatinom, Blitar, yang dibuang ke Banda Neira dalam kurun 1928-1938. Kakek Gus Ahmad Khubby Ali R ini mendidik beberapa kader ideologis. Termasuk anaknya, Kiai Shofwan, yang mendampinginya di pengasingan. Kiai Shofwan membaiat dua penduduk lokal, Haji Marjais dan Haji Rabi’un, dimana nama terakhir ini membaiat Haji Ali Ahmad Uba, sesepuh Banda Neira yang juga imam masjid As-Shiddiqin, salah satu masjid tertua di pulau ini.


Tradisi santri kelana ini, baik bermukim pada kurun bulanan hingga tahunan di sebuah pesantren, lantas melanjutkan ke pesantren lain, maupun pisowanan ke para ulama yang telah menjadi target sowan (puluhan hingga ratusan nama) dalam durasi tertentu telah menjadi kebiasaan dalam tradisi Islam.

Dalam tradisi Jawa, keberadaan santri kelana ini ditulis oleh Ranggasutrasna, Yasadipura II, dan Sastradipura (Kiai Muhammad Ilhar) dalam mahakaryanya Serat Centhini. Jayengresmi, keturunan Sunan Giri, yang berkelana di sekujur Jawa, berguru ke para cendekia Jawa: dari kiai, tokoh gaib dalam mitologi, hingga juru kunci makam-makam keramat. Rekaman atas pengelanaan intelektual dan spiritual ini yang dikemas secara indah dalam Serat Centhini. Sebuah karya ensiklopedis Jawa yang ikonik dan apik.

Begitu pentingnya perjalanan semacam ini, pada zaman dulu di depan rumah penduduk biasanya disediakan gentong besar. Fungsinya, untuk air minum para Ibnu Sabil ini.

Mereka pantang meminta-minta, tapi jika diberi juga tidak menolak. Untuk kebutuhan makan minum, sebagian membawa bekal uang, ada juga yang tidak. Tapi, selalu ada kata rezeki yang digelontorkan oleh Allah bagi mereka.

Soal pejalan kaki dan tujuan spiritual-emosional yang hendak dirasakan, saya teringat film The Way (2010). Tentang Thomas Avery (Martin Sheen), seorang ayah keras kepala yang memutuskan menjelajahi
Camino de Santiago, sebuah rute peziarahan yang dalam tradisi Kristiani juga dikenal sebagai “Jalur St. James”.

Diawali dari Prancis, Camino de Santiago memanjang ke bagian barat daya Eropa hingga berakhir di The Cathedral of Santiago de Compostela yang terletak di Kota Galicia, Spanyol.

Thomas rela berjalan kaki menempuh rute ini untuk melanjutkan keinginan putranya, Daniel, yang tewas dalam peziarahan Camino de Santiago. Perjalanan panjang yang membuatnya bisa merenungkan makna hidup, relasi keluarga, persahabatan sesama pejalan, hingga hakikat dari “bercapek-capek” yang telah dia tempuh dengan mengandalkan sepasang kaki.

Saya kira, The Way adalah salah satu pintu memahami jalan pikiran dan prinsip para pejalan kaki, santri kelana dan para penempuh jalan sunyi.

Eh, kok malah “mblakrak” mbahas film ya. Hahahaha.

Wallahu A’lam Bisshawab