Luqman Hakim dan Pendidikan Akhlak Bagi Anak

Luqman Hakim dan Pendidikan Akhlak Bagi Anak

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Hadirin yang Dimuliakan oleh Allah

            Alhamdulillah pada kesempatan Jumat ini, Allah memberi kita rezeki berupa umur dan kesehatan sehingga kita bisa melaksanakan ibadah kali ini. Kita selalu berharap apabila Allah segera melenyapkan wabah ini dan kita bisa berinteraksi sosial dengan normal sebagaimana sebelumnya. Tiada sikap seindah bersyukur kepada Allah, dan tiada pangkat mulia, kecuali derajat al-Muttaqin. Oleh karena itu, marilah kita selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannnya agar kita termasuk orang-orang yang bertaqwa.

Jamaah Jum’at yang berbahagia

Di dalam al-Qur’an, ada beberapa pribadi spesial. Di antaranya, Luqman al-Hakim. Beliau bukan Rasul, tapi namanya diabadikan di dalam Al-Qur’an menjadi nama surat. Namanya Luqman bin Faghur bin Nakhur bin Tarih. Dalam salah satu riwayat, beliau merupakan keponakan Nabi Ibrahim AS. Dikaruniai usia 1000 tahun, hingga menjumpai zaman Nabi Dawud. Awalnya beliau menjadi mufti, lantas ketika Dawud Alaihissalam diangkat menjadi Nabi, beliau meninggalkan jabatan muftinya dan memilih menjadi murid Nabi Dawud. Ini adalah berdasarkan riwayat yang termuat dalam Tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa.

Dalam versi lain, beliau diceritakan berasal kawasan Afrika. Ada beberapa orang kulit hitam yang istimewa: Bilal bin Rabah, Mihja’ budaknya Umar bin Khattab, Luqman al-Hakim, dan Raja Negus (Najasyi). Hal ini berdasarkan salah satu hadits yang dikutip oleh KH. Thoifur Ali Wafa, dalam Tafsir Firdaus al-Na’im Bi-taudhihi Ma’ani Ayatil Qur’anil Karim.

Jamaah Jum’at yang Berbahagia

Sosok istimewa ini diabadikan kisahnya oleh Allah di dalam Surat Luqman. Dalam ayat 12 hingga 19, Allah mengabadikan percakapannya dengan putranya. Perbincangan penuh kasih sayang. Obrolan yang mendidik penuh hikmah. Selain menekankan ibadah vertikal kepada Allah, Luqman juga menandaskan sikap yang harus dimiliki seorang manusia di hadapan manusia yang lain.

Di dalam Ayat 12, Luqman berpesan kepada anaknya tentang pentingnya rasa syukur. Di dalam ayat berikutnya, dia berpesan agar menjaga ketauhidan. Sedangkan di ayat ke 14 dan 15, Luqman berpesan agar berbakti kepada orangtua. Adapun dalam ayat ke 16, tentang balasan semua amal yang dikerjakan. Dan, dalam ayat berikutnya, Luqman berpesan tentang pentingnya shalat, berdakwah, dan bersabar.

Adapun dalam khutbah Jum’at kali ini, saya fokus pada pembahasan pendidikan akhlak yang berdimensi sosial kemasyarakatan. Dalam Surat Luqman ayat 18, beliau berpesan kepada anaknya agar jangan bersikap sombong dan angkuh.

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman : 18)

Melalui ayat ini, pendidikan akhlak yang pertama adalah tentang sikap tawadlu’, rendah hati, dan larangan sombong. Tidak boleh seseorang merendahkan orang lain karena perbedaan strata ekonomi, warna kulit, suku dan perbedaan lainnya. Hal ini berkaitan dengan etika kehidupan sosial. Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban bagi seorang ayah untuk mula-mula mengajarkan sikap rendah hati kepada buah hatinya, sebagaimana dicontohkan oleh Luqman Hakim.

Dalam sebuah hadits diceritakan sikap Rasulullah ketika berjumpa dengan orang lain. Beliau selalu menampakkan wajah gembira, tersenyum ramah, dan ketika berkomunikasi, selalu menghadapkan tubuhnya kepada lawan bicaranya. Tidak memalingkan muka, apalagi mengabaikan lawan bicaranya. Sebuah akhlak yang luhur dan etika berkomunikasi yang baik yang dicontohkan beliau shallahu alaihi wasallam.

Sedangkan dalam ayat ke- 19 dari Surat Luqman, beliau memberi pesan:

 Artinya: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Dalam Tafsir Jalalain, perintah agar sederhana dalam berjalan di dalam ayat tadi ditafsirkan sebagai sikap tengah-tengah, atau tidak berjalan terlampau cepat juga tidak lambat. Berjalan dengan anggun. Adapun suara keledai berarti suara meringkik dan melengking. Suara keras yang tidak enak didengar. Dengan demikian, Luqman berpesan agar di dalam melangkah tidak terlampau cepat dan pelan, melainkan berjalan dengan baik. Demikian pula dengan berkomunikasi, tidak bersuara keras yang bisa mengganggu lawan bicaranya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Apa yang saya sampaikan tadi adalah pendidikan dasar akhlak. Pelajaran etika sosial kemasyaraatan. Saat ini ada banyak orangtua yang bangga dengan capaian pendidikan anak, tetapi abai dalam pendidkan akhlak dan dasar-dasar pergaulan sosial. Sehingga ada banyak contoh, anak yang berbicara keras dan membentak mereka yang lebih tua. Bahkan, berani melakukan tindakan kasar kepada orangtuanya. Dalam hal ini, kita harus ingat, apa yang dilakukan anak seringkali bermula dari sikap orangtua yang memberi contoh buruk. Anak adalah peniru ulung. Dia belajar dari lingkungannya. Dari sekelilingnya. Dan, yang lebih mengkhawatirkan adalah, apa yang kita lakukan kepada orangtua kita saat ini, baik atau buruk, itulah yang akan dilakukan oleh anak kita kelak. Dalam Pepatah Arab disebutkan:

Artinya: “Contoh perbuatan lebih berpengaruh daripada perkataan.”

Dengan demikian, mula-mula orangtua harus memberi teladan. Jika orangtua memerintahkan anak beribadah, maka dia harus memberi contoh terlebih dulu. Apabila orangtua menunjukkan sikap baik kepada lingkungan sosial, maka anak akan belajar menirunya, baik dalam ucapan maupun tingkah laku. Inilah yang disebut dengan psiko-sosial, ketika secara psikologis manusia dibentuk oleh lingkungan sosial di sekitarnya, dan kemudian ikut mempengaruhi perubahan sosial pula.

Khutbah II

Mengenal Ustadz M. Faiq Faizin Dulu Mengayuh Sepeda Saat Kuliah, Kini Mengasuh Ratusan Penghafal al-Qur’an

Mengenal Ustadz M. Faiq Faizin
Dulu Mengayuh Sepeda Saat Kuliah, Kini Mengasuh Ratusan Penghafal al-Qur’an

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Postur tubuhnya tidak besar. Cenderung mungil. Tapi otaknya encer. Cerdas betul. Dia mengkhatamkan hafalan al-Qur’annya dalam durasi 106 hari saja. Ya, 3,5 bulan. Istimewa. Dia dan istrinya sama-sama alumni INAIFAS. Kini, menjadi pengasuh pesantren tahfidzul Qur’an di Kediri.

Namanya Muhammad Faiq Faizin, asal dari Padomasan Jombang Jember. Dia lulusan Fakultas Tarbiyah Prodi PAI Kampus INAIFAS Kencong, 2011. Adapun istrinya, Ustadzah Istianatul Mahmudah, alumni Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) di kampus yang sama, 2018.

Dulu saya memanggilnya Kang atau Mas. Kini saya memilih menyebutnya ustadz, atau kiai muda. Sebab, walaupun usianya di bawah saya, bahkan saya menjadi pembimbing skripsi istrinya, namun Kang Faiq, eh Ustadz Faiq menjadi pengasuh ratusan santri putri penghafal al-Qur’an.

Lokasinya ada di Kediri. Ringinagung, tepatnya. Namanya PP. Hamalatul Qur’an (PPHQ). Sesuai namanya, pesantren ini merupakan cabang dari PP. Hamalatul Qur’an, Jogoroto Jombang yang diasuh oleh KH. Ainul Yaqin, S.Q. Sosok Mbah Yaqin, demikian sapaan akrabnya, adalah santri kesayangan almaghfurlah KH. Yusuf Masyhar, Pendiri Madrasatul Qur’an, Tebuireng, yang telah mendidik ribuan alumni yang menjadi para penghafal al-Qur’an.

Di PP. Hamalatul Qur’an Jogoroto, Jombang, para santri ditempa menjadi para penghafal wahyu. Menggunakan metode habituasi alias pembiasaan. Mbah Yaqin senantiasa mengajak para santrinya sering mendaras sesering mungkin dengan tekad yang kuat, hati yang ikhlas dan pikiran yang jernih.

Agar lebih menancap, para santri mengulang-ulang secara istiqomah hafalannya tatkala melaksanakan shalat. Jadilah di pesantren ini, para remaja yang belum genap 20 tahun usianya, sudah banyak yang menjadi pemikul kalam ilahi. Salah satunya tetangga saya, Mas Avicena, putra pasangan Pak Nafiurrofiq, Rektor INAIFAS 2008-2014, dan Bu Dr. Titin Nur Hidayati, Direktur Pascasarjana INAIFAS saat ini.

Di kalangan para alumni Tebuireng, sosok Mbah Yaqin memang legendaris. Dihormati para senior, dan dicintai para junior. Ketika Ustadz Faiq lulus kuliah, 2011, dan berniat menghafalkan al-Qur’an, dia melabuhkan pilihannya di PPHQ ini. Yang istimewa, di bawah bimbingan Mbah Yaqin, dia sanggup menghafalkan al-Qur’an dengan cepat. 3,5 bulan saja. Dia pun diwisuda tahun 2013.

“Wah, istimewa sekali ustadz. Kok bisa secepat itu. Keren!” saya memujinya, saat berkunjung ke pesantren yang dia asuh, 25 April 2019 silam.

“Nggak ada yang istimewa kok. Ini semua berkat doa ibu dan para guru,” katanya merendah.

Pesantren yang diasuh oleh Ustadz Faiq ini berdiri sejak 2018 silam. Awalnya, oleh Mbah Yaqin, dirinya diminta membuat brosur pendaftaran santru putri. Rencananya, mereka bakal ditempatkan di Desa Jarak Kulon, Jogoroto Jombang. Tak disangka, peminat membludak. Dari 100 pendaftar, diseleksi, yang lolos hanya 40. Adapun yang tidak lolos diarahkan agar mondok di pesantren lain. Namun, puluhan calon santri ini kukuh tidak mau mondok kecuali di PPHQ. Mbah Yaqin sempat kewalahan.

Tak disangka, saat itu ada wali santri putra bernama Bapak Imam Fatoni. Dia menawarkan rumahnya, di Ringinagung Kediri agar dijadikan asrama bagi 60 santri putri PPHQ. Setelah disurvei, cocok dan pas. Akhirnya kesepakatan dicapai. Rumah tersebut akan dipergunakan sebagai pondok. Masalah lain datang, sebab tidak ada pengasuh puluhan remaja putri itu.

Ustadz Faiq pun menyampaikan hal ini. Tak disangka, Mbah Yaqin langsung menunjuknya sebagai pengasuh PPHQ di Kediri itu. Pertimbangan Mbah Yaqin, selain Ustadz Faiq dikenal cerdas dan telaten, dia juga sudah berkeluarga. Mendapat amanah ini, tiada lain yang dilakukan oleh Ustadz Faiq kecuali menaati perintah gurunya. Maka, sejak saat itu, bersama istrinya yang juga alumni INAIFAS, dia menjadi pengasuh puluhan santri.

“Banyak pengalaman dan ilmu yang kami dapat dari PPHQ ini. Kami banyak belajar mengelola lembaga pendidikan dari para guru dan senior. Alhamdulillah berkat kekompakan dan pertolongan Allah, PPHQ Putri Ringinagung tempat kami berkhidmat mengalami perkembangan baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, termasuk sarana dan prasarananya.” tutur Ustadz Faiq.

Setelah ditangani olehnya, perkembangannya memang menggembirakan. Tahun 2018 jumlah santri sekitar 60 orang. Setahun setelahnya meningkat menjadi 100 orang. Adapun tahun 2020 menjadi 140 santri dan sekarang mencapai 220 santri. Dalam kurun waktu ini, sudah ada 200 santri hafal 30 juz yang diwisuda. Yang lebih istimewa, Ustadz Faiq meminta kepada para wisudawati ini agar menuangkan testimoninya saat berproses hafalan al-Qur’an, berikut cerita suka-duka dan keunikan yang dialami mereka.

Hasil tulisan para santrinya ini disusun oleh Ustadz Faiq dan sahabatnya, Ustadz Muhammad Fuad Hasyim. Judulnya “Hafal al-Qur’an Semudah dan Secepat Ngopi”. Buku ini diterbitkan oleh Imtiyaz, penerbit yang saya kelola. Diedit oleh Mas Dr. Mukani, sahabat saya, dosen STIT Urqatul Wutsqo. Buku kumpulan memoar pendek ini terhitung best seller. Cetak awal pada 2019, dan mengalami cetak ulang setahun berikutnya. Rencananya, tahun ini akan naik cetakan ketiga.

***

Ustadz Faiq masuk kuliah di INAIFAS tahun 2007. Masuk Prodi PAI. Lulus pada 2011. Walaupun kehidupan ekonomi keluarganya pas-pasan sepeninggal ayahnya, dan ibunya harus bekerja keras menghidupi anak-anaknya, namun waktu itu Ustadz Faiq memilih membulatkan tekad. Kuliah, entah bagaimana caranya.

Modal tekad ini didukung dengan semangatnya. Dia memilih ngontel dari rumahnya di Padomasan menuju Kencong. Jaraknya sekira 12 KM. Jika kurang sehat, dia pilih mencari tumpangan di pinggir jalan. Dia pernah berpikir untuk membeli sepeda motor, tapi pikiran ini dia tepis. Alasannya, khawatir nggak mampu beli bensin. Akhirnya, dengan sedikit tabungannya, dia usaha jualan pulsa. Hasilnya lumayan.

Untuk mengamalkan ilmu, dia mengajar di beberapa sekolah. Bisyarah yang dia dapat ditabung buat biaya kuliah. Sedangkan hasil jualan pulsanya dia pakai membeli sepeda motor. Bekas tidak masalah, yang penting bisa dipakai pergi-pulang ke kampus. Di INAIFAS, dia juga aktif berorganisasi. Selain aktif di BEM sebagai Sekjen, dia juga menjadi aktivis IPNU. Di dua organisasi ini dia belajar manajemen keorganisasian, komunikasi, cara menyampaikan ide dan melaksanakannya, dan sebagainya.

“Dalam urusan akademik, saya tidak begitu pintar jika dibanding teman-teman. Namun saya berusaha mematuhi perintah dan tugas yang diberikan oleh para dosen, hadiah fatihah untuk pendidik dan almamater saya, serta berkhidmah sesuai kemampuan saya. Setiap pesan-pesan dan nasihat dari bapak/ibu dosen saya ingat-ingat dan saya catat di buku kecil.” katanya mengingat kenangan manisnya selama kuliah.

Di antara beberapa dosen yang berkesan dan mempengaruhi cara berpikirnya, menurutnya ada dua. Keduanya punya nama sama. Yang pertama, Drs. H. A. Saifuddin, M.Pd.I., dari Bagorejo, Gumukmas, Jember. Haji Saifuddin pernah menceritakan sosok KH. Ir. Salahuddin Wahid, adik Gus Dur. “Kalau bisa kamu jadi seperti beliau. Banyak memberikan manfaat kepada umat. Beliau insinyur tapi mampu memimpin pesantren dan berkembang dengan pesat,” kata Ustadz Faiq mengingat petuah Haji Saifuddin beberapa tahun silam.

Sosok kedua, Dr. H. Saifuddin Mujtaba. Ada salah satu pesan yang terus dia ingat dari dosen yang mengajar mata kuliah Ulumul Qur’an ini, di antaranya, “Jadilah orang yang suka membeli dan membaca buku. Ini pesan yang saya ingat dan berusaha saya laksanakan.  Alhamdulillah saya suka membeli buku meskipun banyak yang belum saya baca. Hehehe,” kata Ustadz Faiq terbahak.

“Dulu kok punya cita-cita menghafalkan al-Qur’an. Padahal kan sudah lulus kuliah?” saya tanya.

“Menjelang lulus kuliah, saya matur ke beberapa orang untuk meminta pertimbangan kelanjutan studi saya pasca wisuda. Karena ingin belajar Al-Qur’an, maka saya sowan ke beberapa guru yang hafidz.”

Waktu itu, 2011, Ustadz Faiqh meminta restu para gurunya. Di antaranya, Ustadz Ahmadi Amdzi, pengasuh Ponpes Prengsewu Jombang Jember dan (Alm.) Ustadz Ilyas Kencong. Keduanya mengarahkan agar Ustadz Faiq berguru kepada Mbah Yaqin, Pengasuh PPHQ Jogoroto Jombang. Tekadnya semakin mantap setelah mendapat restu dari KH.Nur Hasan Hanafi, Pengasuh PP. Nurul Anwar Padomasan Jombang Jember.

Petunjuk guru memang jarang meleset. Dan, berkat didikan dan bimbingan Mbah Yaqin, Ustadz  Faiq kini bukan saja menjadi pemikul wahyu, melainkan menjadi pendidik ratusan santri putri yang ditempa seperti dirinya: menghafal al-Qur’an.

Selalu bangga melihat para alumni INAIFAS mendarmabaktikan ilmunya untuk membimbing masyarakat. Akhirnya, saya hanya bisa mendoakan, semoga Ustadz Faiq beserta keluarga dan para santri senantiasa sehat wal afiat.

Wallahu A’lam Bisshawab

Kiai Mushofa: Dulu Penjual Pentol, Kini Mengasuh Pesantren

Kiai Mushofa: Dulu Penjual Pentol, Kini Mengasuh Pesantren

Bagikan sekarang

@ rijal mumazziq z

Sabtu-Ahad (19-20/06) dari Surabaya, saya meluncur ke Desa Batu Meranti, Kec. Sungai Loban, Kab. Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Mendarat di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, lalu melanjutkan perjalanan darat selama 5 jam ke lokasi.

Di desa ini, ada Ponpes Daarul Ishlah Assyafiiyyah. Ahad kemarin saya diminta mengisi motivasi bagi wali santri dan wisudawan-wisudawati dalam Haflah Akhirussanah. Mereka lulus Madrasah Diniyah Wustho (Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah Wustha) dengan spesialisasi penguasaan Fathul Mu’in dan hafalan Nadzam Imrithi.

Rijal Mumazziq Z. M.H.I. memberikan motivasi bagi wali santri dan wisudawan-wisudawati dalam Haflah Akhirussanah

Tahun ini, mereka semua melanjutkan ke Madrasah Diniyah Ulya (PKPPS Ulya) yang baru berdiri. Target lain, 3 tahun mendatang mereka bisa melanjutkan kuliah di kampus Islam/umum, atau sekalian lanjut ke Ma’had Aly yang lima tahun mendatang ditargetkan berdiri.

Pondok ini didirikan oleh suami istri alumni INAIFAS Kencong Jember. Namanya Kiai Mushofa bin Badrus. Masih muda, kelahiran 1983, tapi punya ilmu tua dan pengalaman yang berjibun. Asalnya dari Karangrejo Gumukmas Jember. 2002 masuk di INAIFAS. Lulus 2008. Saat kuliah penuh perjuangan. Ngontel dari rumah ke kecamatan lanjut ngebis pulang-pergi ke kampus. Menjadi aktivis PMII dan IPNU, juga Pramuka.

Biar bisa membayar kuliah, Kiai Mushofa ini juga mengajar di SDNU Karangrejo 1, MIMA Karanganyar 1, dan MTs Darul Ulum Karanganyar. Semua terletak di Jember. Bisyarah yang diterima dia tabung, lalu untuk membayar kuliah. Berkat kegigihannya, dia lulus predikat cumlaude.

Istri Kiai Mushofa, Mbak Umi Latifah, berasal dari Paseban, Kencong Jember. Dia adik kelas Kiai Mushofa di kampus. Kuliah dapat ilmu, pengalaman, juga jodoh. Komplit. Keduanya menikah tahun 2008, punya anak dua tahun setelahnya.
Saat di bayi usia 6 bulan, pasangan ini nekat berangkat merantau ke Kalsel, 2010. Kabupaten Tanah Bumbu, Kec. Sungai Loban, tepatnya di Desa Batu Meranti, menjadi persinggahannya.

Di sini, keluarga kecil ini mengontrak bangunan warung ukuran 4 x 6 milik warga di komplek pasar Batu Meranti.
Untuk menafkahi keluarga, Kiai Mushofa berjualan pentol keliling. Kalau malam berkmjualan bakso. Pernah pula berdagang sate. Kadang-kadang melayani katering, dan kerjaan lain. Pekerja keras, betul!

Walaupun baru setahun, tapi dia mulai diminta untuk mengajar ngaji ibu-ibu. Gaya ngajinya luwes. Tematik berkisar keseharian masyarakat. Komunikasinya pakai bahasa Jawa. Maklum, di wilayah ini, mayoritas keturunan Jawa. Ada yang dari Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Blora, Madiun, Banyuwangi, Jember, Ponorogo, Ngawi, dst.

“Mereka adalah para transmigran yang menempati lahan ini sejak tahun 1980-an. Meski banyak yang prihatin di awal, kini banyak dari mereka yang secara ekonomi berhasil, baik dari perkebunan karet, kelapa sawit, maupun batubara.” kata Kiai Mushofa.

Walaupun sudah sering mengisi khutbah Jum’at, ceramah dan ngaji keliling di berbagai desa, Kiai Mushofa tetap jualan pentol keliling. Usaha baksonya semakin laris. Lantas membuka kios bakso.

Ketika ada ustadz dari kelompok sebelah ceramah dengan provokatif soal furuiyah: larangan tahlilan, dzikir bersama, maulidan, dan bahkan mengejek talqin jenazah, Kiai Mushofa lantang membela. Dia menyampaikan hujjah di beberapa pengajian kelilingnya. Tak disangka, ternyata pemilik kios yang dia sewa merupakan pendukung ustadz sebelah. Dia pun diusir.

“Nelongso tenan!” katanya terbahak mengingat masa lalunya.

Akhirnya Kiai Mushofa membeli sepetak tanah. Ukuran 13 x 15 m. Harganya 13 juta. Diambil dari tabungan yang dia miliki. Agar hemat, dia bangun sendiri rumah sederhana menggunakan kayu bekas. Di situ di tinggal. Rumah kecil sekalian dijadikan warung bakso.

Ponpes Daarul Ishlah Assyafiiyyah Desa Batu Meranti, Kec. Sungai Loban, Kab. Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

Tahun 2013, beberapa sesepuh desa yang sebagian juga alumni pondok pesantren di Trenggalek, sepakat mendorongnya mendirikan pondok pesantren. Dia pun diberi wakaf berupa tanah rawa. Dia bangun asrama santri. Masih berbentuk gubuk sederhana, bukan permanen. Jumlah santrinya baru 11 anak. Mereka semua dikader hingga hafal nadzam Alfiyah Ibni Malik. 5 orang melanjutkan kuliah, 2 orang memilih bekerja di pertambangan.

“Sedangkan yang 4 orang saya jadikan guru TPA di wilayah Kampung Hindu, untuk mengajari anak-anak muslim. Di situ ada 22 KK. Mereka ini yang menjaga semangat keberislaman warga.”

Tahun 2014, jumlah santri mulai bertambah. Ada juga preman insaf yang mau mondok. Tubuhnya penuh rajah tato. Selama enam bulan dia diajari ibadah dasar oleh Kiai Mushofa, bahkan kemudian dicarikan jodoh sekaligus dinikahkan. Ada juga pecandu narkoba yang berhenti setelah mondok di sini selama setengah tahun. Kiai Mushofa pula yang mencarikan jodoh. Dapat mertua dari desa sebelah.

“Gara-gara ini saya dianggap masyarakat bisa nyuwuk dan mengobati pecandu narkoba. Padahal ya nggak juga.” katanya merendah.

Mayoritas santri di pondok ini rata-rata anak atau cucu dari para transmigran Jawa. Karena merasa senasib sepenanggungan sebagai pendatang, para wali santri pun ikut membangun pondok. Ada yang menyumbang material, semen, keramik, menyewakan buldozer untuk meratakan dan memadatkan tanah, hingga menyediakan konsumsi bagi para kuli bangunan. Akhirnya pondok semakin berkembang. Musala dan asrama santri sudah berupa bangunan permanen. Demikian juga gedung madrasah diniyah. Kokoh semua.

Kini ada 86 santri mukim. Putra putri. Yang sudah mendaftar sebagai santri baru sekira 50 remaja. Inipun ada kemungkinan terus bertambah.

Ponpes Darul Islah Assyafiiyyah usianya memang 8 tahun. Masih gres. Pengasuhnya pun masih muda. Tapi ini justru menjadi kelebihannya. Muda, lincah, visioner. Cita-cita Kiai Mushofa yang disampaikan ke saya, malam Ahad kemarin, adalah merintis Ma’had Aly. Jika tidak takhassus tafsir, mungkin fiqh. Tergantung perizinan dari Kemenag RI.

Lahan untuk Ma’had Aly sudah ada. Tanah wakaf dari seorang pengusaha. Luasnya 5 hektar. Sebagian, sekitar 3 hektar, ditanami kelapa sawit dan pohon jati. Hasilnya panen sawit lumayan. Bisa membeli material untuk membangun asrama santri.

Kiai Mushofa bersama Gus Rijal Mumazziq Z., M.H.I.

Semoga cita-cita beliau dikabulkan oleh Allah. Sehat selalu, Mas Kiai…

Gus Dur dan Pembelaannya Atas Palestina

Gus Dur dan Pembelaannya Atas Palestina

Bagikan sekarang

@ rijal mumazziq z

Foto ini saya dapatkan dari Mas Nuruddin Udien Hidayat , salah satu santri Gus Dur. Dari kiri Mr Chung Hwang Kwak, KH Abdurrahman Wahid dan Mr Taj Hamad dari IIFWP, selepas melewati barikade pasukan Israel, di Jalur Gaza. Foto ini diambil di depan markas pasukan Palestina yang berjarak kira-kira 300 meter dari pos pemeriksaan (check point) pasukan Israel.

Jika tidak salah, kunjungan tersebut dilakukan pada 19 Desember 2003. Di Tanah Air, hanya sedikit yang mengetahui lawatan istimewa di kota yang menjadi salah satu basis perjuangan rakyat Palestina itu.

Bersama beberapa penggerak dialog lintas iman dan didampingi anggota Kongres AS serta para jurnalis, Gus Dur berdialog dengan anggota parlemen dan pemuka agama Palestina. Pada kesempatan itu, Gus Dur juga dipersilakan berorasi.

Pada mulanya, pidato disampaikan dalam bahasa Inggris yang fasih, tetapi para tokoh Palestina kemudian meminta mengulangi penyampaiannya dalam bahasa Arab.

Gus Dur menyampaikannya dengan bahasa Arab yang sempurna sembari bernostalgia di masa muda saat kuliah di Al-Azhar, disertai kesan-kesannya saat tinggal di Arab, khususnya Mesir dan Irak.

Lebih lanjut, dirinya menyampaikan harapannya terkait nasib bangsa Palestina, yaitu kemerdekaan bangsa dan berdaulatnya sebuah Negara Palestina dan keadilan bagi seluruh rakyatnya.

Gus Dur melakukan kunjungan ini atas inisiatif pribadi, walaupun juga didukung dengan rombongan tamu asing lain. Posisinya sebagai mantan Presiden RI sangat strategis. Selain karena Indonesia sebagai sebuah negara muslim yang hingga kini menolak eksistensi Israel, Gus Dur juga dianggap representasi Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Uniknya, posisinya yang dekat dengan Shimon Peres Institute tak membuat tokoh Palestina alergi.

Menurutnya, langkah memerdekakan Palestina bisa dilakukan dengan cara membawa mereka duduk di dalam perundingan sekaligus menentukan konsesi politik di pihak Palestina. Harus kedua belah pihak, tidak mungkin hanya menggandeng salah satu kubu yang bertikai.

Sehari setelah kunjungan bersejarah di kota kelahiran Imam Syafii ini, Gus Dur menulis artikel yang beredar di beberapa media di Tanah Air. Cucu Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari ini menulisnya saat berada di Yerussalem, tertanggal 20 Desember 2003. Tak hanya mencibir Israel, Gus Dur juga blak-blakan mengkritik Palestina. Khususnya terkait dengan perpecahan internal di kalangan pejuang.

“Palestina tidak memiliki kepemimpinan yang tangguh dan para pemimpin mereka saling bertengkar dalam perbedaan strategi dan garis perjuangan. Inilah yang harus mereka koreksi untuk diperbaiki dalam waktu dekat ini. Bagaimanapun juga, harus ada strategi perjuangan bagi sebuah bangsa, agar supaya segala macam energi dan kemampuan yang dimiliki bangsa itu dapat tersalur keluar menjadi alat perjuangan yang ampuh menghadapi lawan. Menurut penulis, strategi itu adalah perundingan yang lama dan berkepanjangan dengan pihak Israel, untuk memperjuangkan kemerdekaan sebagai negara dan keadilan.” tulis Gus Dur dalam sebuah artikel berjudul ‘Arti Sebuah Kunjungan’.

Meski mengkritik elit Palestina (dan Israel), Gus Dur menggarisbawahi perjuangan dan kegigihan rakyat Gaza melawan senjata modern Israel. “Bagi penulis, Gaza adalah sumber perlawanan terhadap penjajahan, dan alangkah indahnya jika perlawanan itu tidak hanya mengambil bentuk fisik saja, melainkan juga perlawanan kultural terhadap keadaan,” tulis Gus Dur dalam kolomnya tersebut.

Kunjungan ini bernilai strategis. Selain bisa diterima kedua belah pihak, Gus Dur berusaha membuka kebuntuan yang beberapa kali terjadi pasca upaya diplomatik sejak era Yasir Arafat dan Yitzhak Rabin dalam Perjanjian Oslo II, 1994.

Tindakan melibatkan diri di arena perang dua negara yang tidak akur selama lebih dari 60 tahun tersebut tentu saja juga berisiko. Kita masih ingat caci maki yang senantiasa tertuju kepada Gus Dur karena dekat dengan tokoh-tokoh Israel dan Yahudi, juga kunjungannya ke Israel, 1994, yang menghebohkan itu.

Dalam buku Damai Bersama Gus Dur (2010), Djohan Effendi, sahabatnya, menjelaskan dua alasan Gus Dur mengapa harus melibatkan diri dalam upaya damai dua negara ini, dan gagasannya membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Pertama, Gus Dur ingin memastikan kapitalis George Soros, yang keturunan Yahudi, tidak mengacaukan pasar modal. Kedua, ingin meningkatkan posisi tawar Indonesia di Timur Tengah, sebab sebagai sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim, sudah sewajarnya melibatkan diri secara aktif dalam merajut perdamaian di sana.

Gus Dur tampak percaya diri dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki Indonesia. Ide Gus Dur simpel. Indonesia mustahil bisa berperan dalam perdamaian Palestina dan Israel jika tidak menjalin hubungan diplomatik dengan keduanya.

Di sisi lain, tiga tahun sebelum kunjungannya ke Gaza, ketika bertemu dengan Presiden Palestina Yasser Arafat, dalam sebuah kunjungan kenegaraan resmi ke Indonesia (16/08/2000), Presiden Gus Dur selaku kepala negara menegaskan bahwa Indonesia terikat kepada keputusan yang dulu, yaitu bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan hak untuk mencapai perdamaian di Palestina ada di tangan rakyat Palestina sendiri. “Yang dalam hal ini tentu diwujudkan dalam bentuk keputusan-keputusan atau konferensi OKI, PBB, dan lain-lain,” ujar Presiden Gus Dur saat jumpa pers bersama Yasser Arafat.

Bagi Gus Dur, mewujudkan perdamaian di wilayah Palestina bisa dimulai dari kiprah Indonesia sebagai juru damai kedua belah pihak. Sebagai juru damai, Indonesia harus bisa dipercayai oleh Palestina maupun Israel untuk menjadi penengah. Langkah ini sudah dimulai olehnya, antara lain dengan menjadi anggota Simon Peres Institute, Israel. Sebuah langkah strategis yang sebenarnya bisa menjadi jembatan antara Yerussalem dan Tel Aviv.

Walaupun ide Gus Dur tidak bisa direalisasikan, namun perjuangannya dalam merajut perdamaian tidak pupus. Kunjungan di Gaza, kota kecil yang menjadi sentra perlawanan para pejuang, khususnya Hamas dan faksi Jihad Islam juga menjadi titik tolak membuka kejumudan dan alih strategi. Dirinya memang sudah tidak lagi menjadi presiden, namun visinya tetap hidup dan diperjuangkan dengan risiko yang berat. Sejak ada Perjanjian Camp David antara Mesir-Israel, 1978, maupun perjanjian Oslo I, 1993, yang mengakui adanya Otoritas Palestina, maupun perjanjian antara Yordania-Israel di tahun 1994, tampaknya Gus Dur memilih pola win-win solution dalam melihat masalah Palestina dan Israel ini.

Lantas bagaimana memulai inisiatif mempertemukan kubu Palestina dan Israel? Ahmad Suaedy, pimpinan Wahid Institute, menyatakan bahwa dirinya pernah mendampingi seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) bidang advokasi Anti-Semitisme untuk kawasan Timur Tengah, yang juga seorang Yahudi, untuk bertemu Gus Dur di kantor PBNU. Diplomat itu lalu bertanya: Apa sebaiknya yang harus dilakukan untuk mencapai perdamaian Israel – Palestina saat ini?

“Tegakkan keadilan dan berikan hak-hak Palestina kepada mereka, baru bicarakan perdamaian!!.” jawab Gus Dur tegas.

Wallahu a’lam bishshawab

Kriteria Manusia Terbaik Menurut Rasulullah

Kriteria Manusia Terbaik Menurut Rasulullah

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z 

  اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ  أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً،  لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ .أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَأَشْهَد أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِي اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ ، قالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ  وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Alhamdulillah, setelah melaksanakan ibadah puasa selama sebulan, hari ini kita diberi kenikmatan oleh Allah dalam menjalankan Shalat Idul Fitri dalam keadaan sehat wa afiat. Kita berharap, apabila rahmat dan maghfirah-Nya senantiasa menaungi kita semua hingga kita berpulang dalam keadaan khusnul khatimah.

Keberadaan kita di masjid ini semoga menjadi dua pertanda baik. Pertama, kita hadir sebagai hamba Allah yang bersyukur, dan karena syukur ini Allah senantiasa menambah kenikmatan bagi kita. Kedua, kita senantiasa berusaha agar Allah menaikkan derajat kita pada level al-muttaqin, atau hamba yang senantiasa menjauhi larangan-Nya sekaligus melaksanakan segala ketaatan kepada-Nya. Kalaupun kita belum sampai pada derajat taqwa ini, marilah kita senantiasa berproses menjadi hamba yang patuh menjalankan ketentuan dari Allah dan Rasulullah, serta berusaha menjadi muslim yang baik. Tiada kemuliaan yang kita raih, kecuali dengan cara meningkatkan kualitas keimanan kita hingga menjadi orang yang bertaqwa.

Jamaah Shalat Idul Fitri yang Berbahagia

Walaupun saat ini kita masih diberi ujian oleh Allah berupa pandemi Covid-19, namun hal ini tidak berarti kita mengendorkan semangat kita dalam menjalankan syariat Islam. Dan, dalam kondisi mematuhi protokol kesehatan sebagaimana kita jalankan pada pagi hari ini, semoga menjadi bagian dari ikhtiar kita dalam menghambat penyebaran virus ini, hingga pada saatnya nanti Allah menghilangkan Covid-19, dan kita kembali beraktivitas secara normal sebagaimana semula.

Dalam Idul Fitri kali ini dan seterusnya, untuk menunjukkan apabila kita bisa menjadi muslim yang baik dan bertanggungjawab, maka ada beberapa tips dari Rasulullah agar kita menjadi manusia berkualitas. Mari kita cermati satu persatu agar kita bisa mengamalkannya dalam keseharian.

Pertama, manusia yang berkualitas, menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah mereka yang panjang umurnya, dan baik amal perbuatannya. Hal ini sesuai dengan jawaban Rasulullah manakala ditanya oleh salah seorang sahabatnya.


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ ».

Artinya: “Abdurrahman bin Abu Bakrah meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu anhuma, bahwa ada seorang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling baik?”, beliau menjawab: “Barangsiapa yang panjang umurnya dan baik perbuatannya”, ia bertanya (lagi): “Lalu manusia manakah yang paling buruk?”, beliau menjawab: “Barangsiapa yang panjang umurnya dan buruk perbuatannya.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi tadi menunjukkan tips pertama dari Rasulullah, yaitu manusia yang berkualitas, yang punya potensi unggul dalam dirinya adalah yang panjang umurnya serta baik perbuatannya. Demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, kita layak berpikir, apakah kita bagian dari manusia yang baik ini? Selama hidup, kita lebih banyak berbuat baik atau buruk? Dengan karunia usia hingga saat ini, sejauh manakah kebermanfaatan kita bagi sesama? Bagaimanakah kualitas ibadah kita? Bagaimanakah kita menghabiskan umur kita? Untuk hal yang sia-sia belaka, atau justru untuk kebermanfaatan bagi sesama?

Oleh karena itu, setelah melewati Ramadan pada tahun ini, mulai Idul Fitri saat ini, kita harus berusaha menjadi salah satu tipikal manusia terbaik versi Rasulullah yang sudah saya jelaskan tadi.

Kedua, manusia yang berkualitas, menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah mereka yang paling diharapkan kebaikannya dan orang lain pun merasa aman dari keburukannya. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan:

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan (orang lain) merasa aman dari kejelekannya.” (HR. Attirmidzi)

Hadis ini jelas menilai, mereka yang berkualitas adalah yang senantiasa menebarkan kebaikan. Sebaliknya, yang banyak berbuat buruk adalah mereka yang tidak memiliki kualitas. Di lingkungan kita, ada orang yang kehadirannya senantiasa membawa dampak positif. Sebaliknya, ada juga yang ketika namanya disebut, orang lain enggan, bahkan menjauh karena dikenal dengan tabiat buruknya.

Hadirin Hadirat yang Berbahagia, sudah seharusnya apabila anugerah usia panjang yang diberikan oleh Allah, kita isi dengan kegiatan positif yang bisa menjadikan diri kita berkualitas sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan oleh Allah

Ciri ketiga dari manusia yang berkualitas menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah mereka yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya.”

Tidak ada kata terlambat bagi seorang muslim mempelajari al-Qur’an.  Walaupun dia sudah berumur dan terbata-bata mengeja kalimat dalam al-Qur’an, namun dia tetap masuk dalam kategori manusia yang berkualitas. Walaupun makharijul huruf-nya masih kacau dan tajwidnya masih belepotan, asalkan dia tekun, niscaya Allah akan memberinya pahala atas dua hal, yaitu pahala atas kegigihannya belajar dan pahala atas setiap huruf yang dia baca.

Ada banyak kisah indah bagi para pembelajar al-Qur’an, dimana ketika mereka berusaha keras mempelajari dan menghafalnya, namun Allah belum mentakdirkannya hafal, justru anak cucunya lah yang diberi kemudahan dalam menghafalkannya. Demikian pula dengan para pengajar al-Qur’an, seringkali Allah memberi mereka rizqi min haitsu la yahtasib, atau Allah senantiasa memberkahi kehidupan keluarganya, dijauhkan dari bala’, dan memberkahi kehidupan anak cucunya. Kita berharap, semoga masuk kategori mereka yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.

جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين كل عام وأنتم بخير. آمين

 بسم الله الرحمن الرحيم، وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ.  وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وارْحَمء وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Khutbah II  

 اللهُ اَكْبَرْ (٣×) اللهُ اَكْبَرْ (٤×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ  اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ.

 اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا   أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ  

 اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Gugatan atas Larangan Visualisasi Fisik Nabi dan Cara Mencintai Beliau Melalui Seni

Gugatan atas Larangan Visualisasi Fisik Nabi dan Cara Mencintai Beliau Melalui Seni

Bagikan sekarang

@ rijal mumazziq z. m.h.i (Rektor INAIFAS KENCONG JEMBER.

Kali ini sengaja saya cantumkan jabatan dan gelar, biar pembaca awam dan non-muslim tahu kapasitas saya sedang menyindir seorang profesor, dan saya siap mempertanggungjawabkan secara akademik ilmiah. Tentu ini juga bagian dari promosi kampus khakhakhakha)

***

Ini adalah foto karya Rudolf Franz Lehnrat yang diambil di Tunisia, sekira tahun 1906. Wajah yang fotogenik dan magnetik. Kemudian foto ini dilukis ulang dengan sorban hijau melilit, dan…..diberi narasi jika ini adalah visualisasi wajah Baginda Rasulullah saat remaja. Alamaaaak!

Foto dan lukis adalah karya seni. Namun estetika tetap memiliki panduan etika, bagi saya. Kalaupun hingga saat ini dipercayai oleh segelintir orang kalau ini adalah karya seni yang mengekspresikan wajah Baginda Rasulullah saat remaja dan menemui Buhaira, saya tidak setuju. Beritanya saja hoaks. Anda setuju dengan ketidaksetujuan saya, silahkan. Nggak, juga no problem.

Yang pasti, jika fotografi bisa diselewengkan maknanya dan narasinya yang menjebak dan menyesatkan, apalagi dengan karya lukis manual, yang berbasis imajinasi senimannya.

Begini, soal obyek visual khususnya dalam bentuk lukisan, selalu saja hasilnya beda satu sama lain. Walaupun obyeknya sama. Kita bisa mengecek lukisan wajah Pangeran Diponegoro. Antara sketsa yang dibuat secara langsung Adrianus Johan Bik, dengan sketsa arang karya seniman Yogya, juga dengan lukisan yang dibikin Raden Saleh, juga Basuki Abdullah, karakter wajahnya beda satu dengan yang lain. Yang valid yang mana? Bik dan pendukungnya bisa mengklaim jika karyanya yang paling valid sebab dilukis saat Diponegoro dipenjara di Batavia sebelum ke Manado.

Oke, jika satu sosok biasa saja bisa ada banyak versi lukisan, maka tentu rasional jika para ulama menyatakan larangan penggambaran visual Rasulullah ini.

Sudah ada beberapa penjelasan ulama tentang hal ini. Bisa kita lacak, termasuk pendapat Prof Quraish Shihab dan ulama Indonesia lain.

Kalaupun di al-Qur’an dan hadits tidak ada dalil spesifik larangan melukis pribadi Baginda Rasulullah, maka hal ini tentu tidak berarti dibolehkan. Ada perangkat ushul fiqh dan etika tasawwuf yang mengkaji-nya melalui pola istidlal yang khas. Misalnya makan umbi gadung tidak ada aturan larangan di al-Qur’an dan hadis. Apakah umbi ini haram? Tidak. Apalah bukan ini boleh disantap? Bukankah aturan teknisnya tidak dibahas di kitab suci dan hadits nabi? Silahkan dinikmati. Asalkan diolah dulu, agar racunnya ilang.

Dan, ketika kita memahami aturan dalam sains melalui pendapat para ilmuwan, maka sudah sewajarnya kita juga menerima pendapat para ulama dalam soal ini. Minimal penjelasan dari Prof. Quraish Shihab yang lebih moderat.

Kalaupun dalam ranah sosiologis-antropologi dan seni “dibolehkan” saja menggambarkan visualisasi tokoh sakral, maka itu wilayah yang masih diperdebatkan karena berbeda irisan dengan sisi sakralitas dan esoterik ajaran agama. Ini sama halnya, saya boleh makan bebek goreng dalam wilayah kuliner dan itu mendapatkan restu dari para koki dan para Abu Lahap (tukang makan hahaha). Mereka akan menyajikan komposisi bahan rempah dalam masakan bebek hingga hasilnya maknyus dan menagihkan.

Namun tentu berbeda jika saya konsultasi dengan Dokter Heri Munajib . Dia akan melarang karena kandungan kolesterol dalam tubuh saya sudah melampaui ambang batasnya. Di sinilah perlu kedewasaan menimbang perbedaan sudut pandang dalam kajian dan metodologinya.

Soal menikmati hasil berkesenian dalam batas etika saya suka, sangat suka dua karya sineas muslim. Mustafa Akkad melalui Arrisalah (The Message). Film drama-epos-historis yang dirilis 1976. Film ini dirilis dalam dua edisi, Arab dan Inggris. Akkad tidak terjebak dalam menye-menye memvisualisasikan tubuh dan suara Baginda Rasulullah. Justru dia dengan cerdas berkesperimen dengan tidak sekalipun menampilkan suara dan fisik Baginda Rasulullah. Sebagai gantinya, penulis skenario berusaha menempatkan agar para aktor melakukan dialog cerdas, dan penonton bisa secara efektif mendapatkan efek dramatis atas kondisi keseharian para sahabat Baginda Rasulullah. Silahkan ditonton lagi film bagus ini. Karya seni yang luar biasa.

Anthony Quinn, aktor watak Hollywood yang juga memerankan Syekh Umar Mukhtar Libya dalam “Lion of The Desert” (1981) justru menjadi bintang utama dalam memerankan Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, pamanda Baginda Rasulullah. Irene Papas juga tak kalah cemerlang memerankan sosok Hindun binti Utbah, dan Johny Sekka sangat legendaris memerankan Bilal bin Rabah dengan adegan ikoniknya, adzan di atas punggung Ka’bah. Allah…Allah…Allah….mata saya selalu mengembun jika menyaksikan adegan ini.

Karya seni lain ditangani oleh Majid Majidi dalam Muhammad: The Messenger of God (2015). Sutradara Iran itu ciamik dalam berkarya dan naskahnya yang elok ditulis bersama dengan Kambuzia Partovi. Film tersebut berlatar belakang abad keenam di era masa kecil Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Majid Majidi dengan cerdas tidak terpaku pada dimensi fisual fisik calon Nabi bernama Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Dia dengan cerdas menampilkan suasana bangsa Arab, penyerbuan Ka’bah oleh pasukan Abrahah, dan konteks zaman detik-detik kelahiran kandidat Rasulullah.

“Saya membuat film ini untuk memerangi gelombang baru Islamofobia di dunia Barat. Interpretasi Barat atas Islam adalah penuh kejahatan dan terorisme,” ujar Majidi saat diwawancara Hezbollah Line, majalah konservatif di kalangan Iran.

Bagi saya, karya Majid Majidi adalah di antara yang terbaik. Baik dalam alur cerita, spesial efek, hingga penggunaan yang kamera artistik. Dia melakukannya dengan dukungan bujet bongsor, dan setelah dirilis, walaupun tetap ada kontroversi di sana sini, namun tak mengurangi hasil cipta karyanya. Epik, betul!

Di Bollywood, karya ini hanya bisa dibikin oleh sutradara favorit saya, Sanjay Leela Bhansali. Dan, di Hollywood, sentuhan sinematografi semacam ini urusan Francis Ford Coppola, saya kira.

Oke, kembali ke bahasa awal. Bagi saya, larangan memvisualisakan dalam bentuk lukisan (apalagi patung) Baginda Rasulullah adalah hal yang estoreris. Ini wilayah etika. Bisa juga ranah estetika jika berkaitan dengan sublimasi kerinduan kepada Baginda Rasulullah. Apakah Islam melarang seni berekspresi dan ekspresi berkesenian yang berkaitan dengan kerinduan dan kecintaan terhadap Baginda Rasulullah? Tentu tidak, Ferguso, tentu tidak. Umat Islam masih bisa membaluri hatinya dengan cinta yang ekspresif. Antara lain, seni suara, kaligrafi, arsitektur, dan untaian syair-syair. Ini hanya serpihan bahasan. Banyak buku yang melakukan pendekatan simpatik dan historis terhadap tema kesenian dalam Islam ini. Silahkan cari dan baca!

Sebagai wong ndeso yang dididik dalam kultur muslim tradisional, saya menikmati betul ekspresi kerinduan kepada Baginda Nabi melalui musik dan seni tarik suara. Saya selalu menikmati madah Rasul yang disenandungkan dengan dua cara. Cara pertama, ungkapan “mahabbah/kecintaan” kepada Baginda Rasulullah yang disenandungkan dengan rancak melalui grup rebana al-Banjari, pola hymne-ritmik dalam pembacaan Kitab Maulid (al-Barzanji, ad-Diba’i, Simtud Duror dan Ad-Dhiyaul Lami’). Cara kedua, ekspresi “Kerinduan Kepada Baginda Rasulullah” dalam pola suara bariton yang mengiringi gerak tari rodat jamaah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) di bawah naungan NU.

Bagi saya, ini sudah cukup melampiaskan kecintaan dan kerinduan kepada Baginda Rasulullah, tanpa perlu menggugat sana-sini untuk menghadirkan dalil “kebolehan” memvisualisasikan wajah dan fisik Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Di akhir tulisan, izinkan saya mengutip melodi indah yang dilagukan oleh musisi India, Adnan Sami dengan pola Qawwali, sebuah bentuk dari musik devosional kaum sufi.

Adnan Sami, musisi bertubuh tambun yang setelah sukses berdiet malah mirip Robert Downey Jr, menyenandungkannya dengan penuh penghayatan dalam sebuah adegan di film bagus, Bajrangi Bhaijaan (2015).

Bajrangi alias Pawan Kumar yang Hindu (diperankan oleh Salman Khan) mengantar bocah cilik Munni/Shahidah yang muslim (diperankan dengan mengesankan oleh Harshaali Malhotra), ziarah ke makam Maulana Zainuddin, wali agung yang makamnya ada di bukit indah di Kashmir. Saat itulah, Adnan Sami menyenandungkan lirik indah gubahan Kausar Munir. Syair ekspresif kecintaan, kerinduan, dan harapan kepada Baginda Rasulullah.

Lagu ini berjudul “Bhar Do Jholi Meri Ya Muhammad”. Artinya, Kumohon restumu, Duhai nabi Muhammad, yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Mas Ackiel Khan dan Mas Fauzi/ Uziek . Indah banget, syair yang disenandungkan ini. Mempesona!

Tere Darbaar Mein Dil Thaam Ke Woh Aata Hai (Mereka datangi pintu gerbangmu dengan tangan menengadah)

Jisko Tu Chaahe Hey Nabi Tu Bhulata Hai (Dengan menyebut nama Nabi kekasih hatimu.)

Tere Dar Pe Sar Jhukaaye Main Bhi Aaya Hoon (Akupun datang ke pintu mu dengan wajah tertunduk)

Jiski Bigdi Haye Nabi Chaahe Tu Banata Hai (Karena engkaulah yang mampu mengubah nasib hambamu yang hina ini)

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (4x) (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

Band Deedon Mein Bhar Daale Aansu (Mataku basah dengan air mata)

Sil Diye Maine Dardo Ko Dil Mein (X2) (Di hatiku penuh dengan derita)

Jab Talak Tu Bana De Na Tu Bigdi (Sampai kau merubah nasibku yang rusak)

Dar Se Tere Na Jaaye Sawaali-Aku tidak akan meninggalkan pintumu

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (2x) (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

Khaali..(Hampa)

Bhar Do Jholi.. Aaka Ji (Penuhi harapanku.. Ya tuhan)

Bhar Do Jholi.. Hum Sab Ki (Penuhi harapanku.. pujaan semua orang)

Bhar Do Jholi.. Nabi Ji (Penuhi harapanku.. wahai Nabi)

Bhar Do Jholi Meri Sarkar E Medina (Penuhi harapanku wahai yang terpuji)

Lautkar Main Naa Jaunga Khaali (Aku tak mau kembali dengan tangan hampa)

Khojte Khojte Tujhko Dekho (Lihatlah kondisiku..)

Kya Se Kya Ya Nabi Ho Gaya Hoon..(2x) (Saat mencarimu, wahai Ya Nabi)

Bekhabar Darbadar Phir Raha Hoon (Tanpa sadar, aku berkelana dari pintu ke pintu)

Main Yahan Se Wahan Ho Gaya Hoon..(2x) (Tanpa alasan, aku berkelana di sana kemari)

De De Ya Nabi Mere Dil Ko Dilasa (Hibur hatiku wahai Nabi)

Aaya Hoon Door Se Main Hoke Ruhasa..(2x) (Aku datang dari jauh, pebuh harapan)

Kar De Karam Nabi Mujhpe Bhi Zara Sa (Berikan sedikit anugerahmu pada hamba)

Jab Talak Tu..-Hingga kau..Jab Talak Tu.. (Hingga kau…Panaah De Na Dil Ki-Menjawab doaku)

Dar Se Tere Na Jaaye Sawaali (Aku takkan tinggalkan tempat sucimu)

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

Bhar Do Jholi Meri Sarkar E Medina (Penuhi harapanku wahai yang terpuji)

Lautkar Main Naa Jaunga Khaali (Aku tak mau kembali dengan tangan hampa0

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

Jaanta Hai Na Tu Kya Hai Dil Mein Mere (Engkau tau maksud hatiku kemari)

Bin Sune Gin Raha Hai Na Tu Dhadkane.. (2x) (Engkau mampu mendengar bisik hatiku)

Aah Nikhli Hai Toh Chand Thak Jayegi (Semoga hembusan doaku mencapai langit)

Tere Taaron Se Meri Duaa Aayegi..(2x) (Dan bintangpun akan berdoa untukku)

Aye Nabi Han Kabhi Toh Subah Aayegi (Ya Nabi, pagi pasti akan menjelang)

Jab Talak Tu Sunega Na Dil Ki (Hingga engkau mendengar setiap doaku)

Dar Se Tere Na Jaaye Sawali (Aku takkan meninggalkan tempat sucimu)

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

De Taras Kha Taras Mujhpe Aaka (Kasihanilah aku, ya Tuhan!)

Ab Laga Le Tu Mujhko Bhi Dil Se (2x) (Rangkullah aku ke hatimu sekarang)

Jab Talak Tu Bana De Na Tu Bigdi (Sampai kau merubah nasibku yang rusak)

Dar Se Tere Na Jaaye Sawaali (Aku tidak akan meninggalkan pintumu)

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

Bhar Do Jholi.. Aaka Ji (Penuhi harapanku.. Ya tuhan)

Bhar Do Jholi.. Hum Sab Ki (Penuhi harapanku.. pujaan semua orang)

Bhar Do Jholi.. Nabi Ji (Penuhi harapanku.. wahai Nabi)

Bhar Do Jholi Meri Sarkar E Medina (Penuhi harapanku wahai yang terpuji)

Lautkar Main Naa Jaunga Khaali (Aku tak mau kembali dengan tangan hampa)