Kitab Kuning sebagai Freezer Bahasa Jawa yang Mulai “Punah”

Kitab Kuning sebagai Freezer Bahasa Jawa yang Mulai “Punah”

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa itu tafsir berbahasa Jawa. Tapi, uniknya, konteks berbahasanya berbeda dengan tafsir berbahasa Jawa lain, seperti al-Iklil fi Ma’ani at-Tanzil yang ditulis adik Kiai Bisri, KH. Misbah Zainal Musthofa. Juga berbeda dengan Qur’an Jawi, terjemah KH. Raden Bagus ‘Arfah dari keraton Surakarta, maupun Tafsir Qur’an Suci karya Prof. KH. R. Muhammad Adnan, Surakarta. Semua berbahasa Jawa, tapi corak berbahasa Jawanya berbeda.

Kiai Bisri menggunakan bahasa Jawa Tengah Pantura, yang bloko sutho, das-des, dan enggan basa-basi. Sedangkan Kiai Misbah menggunakan bahasa Jawa ala Jawa Timuran, karena beliau tinggal di Tuban. Ulasannya biasanya lebih panjang dibandingkan dengan penjelasan kakaknya. Kalau Kiai Raden Bagus ‘Arfah lebih halus lagi, karena Selain menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil, konteks penulisannya saat itu memang karena untuk kepentingan dakwah ala Keraton Surakarta. Kalau Prof. Raden Adnan lebih mudah dipahami, karena menggunakan bahasa Jawa yang tidak sehalus Kiai Raden Bagus ‘Arfah.

Yang pasti, beberapa tafsir bahasa Jawa ini sekaligus menjadi freezer budaya, alias “pengawet kata” bahasa Jawa. Pasalnya banyak sekali kata dalam bahasa Jawa yang dipakai dalam ketiga tafsir tersebut, yang justru saat ini tidak lagi digunakan dalam percakapan keseharian orang Jawa.

Dalam penafsiran QS. An-Nazi’at, yang saya bacakan Rabu kemarin lusa dan malam ini, Kiai Bisri menggunakan beberapa istilah Jawa yang saat ini nyaris “punah” karena tidak lagi atau jarang dipakai dalam komunikasi:

Gelataan/kelataan
Cemongok-cemongok lan cemekel-cemekel susune (ngeri randu)
Geter
Giris
Sajeng
Ngunus nyowo
Panggembor
Mungkur
Pawethone
Anjeleberake
Pacel
Rumangkang
Dingedhengake pertelo welo-welo
Mabeyur


Perhatikan berbagai istilah ini. Kosa kata ini masih populer ketika Kiai Bisri menulis al-Ibriz tahun 1950-an hingga satu dasawarsa berikutnya. Namun dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, semakin sedikit yang menggunakannya dalam konteks penutur-pendengar.

Kalaupun masih ada yang menggunakan, biasanya kalangan pesantren yang masih memakainya dalam konteks transfer pengetahuan melalui metode utawi iki-iku dalam kajian kitab kuningnya.

Bagi saya, kitab berbahasa Jawa telah menjadi freezer, pengawet kebudayaan; karena kita bisa melacak jejak leluhur kita dalam berbahasa, sekaligus konteks penggunaan bahasanya, dan sudut pandang pengetahuan yang ingin disampaikan oleh muallif, mufassir, maupun transmiter pengetahuannya (kiai yang mengajarkan sebuah kitab berbahasa Arab dan memaknainya dengan bahasa Jawa, menggunakan metode bandongan [seminar]).

Selamat belajar, selamat menikmati “kosa-kata” Jawa yang mulai hilang akibat dinamisasi dan akulturasi kebudayaan.

Wallahu A’lam Bisshawab

Mas Dodik, Hibah Laptop dan Ngaji Kitab bagi Para Pekerja Kantoran

Mas Dodik, Hibah Laptop dan Ngaji Kitab bagi Para Pekerja Kantoran

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Selasa (17/05) siang, saya berjumpa dengan Mas Dodik Ariyanto, Kepala PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) Regional Indonesia Timur. Mas Dodik menghadiahkan dua laptop dan dua router wifi untuk penguatan kinerja dan pengembangan literasi digital di kalangan santri, di kampus INAIFAS Kencong Jember.

Saya ucapkan terima kasih banyak atas kepedulian Mas Dodik, selaku Pimpinan PT Axiata Regional Indonesia Timur, khususnya dalam membantu kalangan santri, melalui Program Desa Digital Nusantara, khususnya Sub-Program “Dukungan XL Axiata Untuk Pondok Pesantren Menyongsong Era Digital”.

Mas Dodik, demikian saya menyapanya, pernah satu tim dengan saya saat masih di Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur, beberapa tahun silam.

Orangnya enak diajak ngobrol. Pembicara yang baik dan pendengar yang responsif. Dan pada siang tadi, banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapat dalam perbincangan selama dua jam di kantor PT XL Axiata, di Jl. Pemuda Surabaya.

Sebagai orang nomor satu di penyedia layanan seluler populer yang membidangi wilayah Indonesia Timur (Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Sulawesi, Maluku dan Papua), Mas Dodik membawa nuansa pesantren di perusahaannya.

Dia menguasai ilmu manajemen, tentu saja. Namun, yang lebih penting, Mas Dodik juga menguasai kitab kuning. Jadilah dia ngaji kitab saban malam Jumat secara daring. Pesertanya anak buahnya di perusahaan. Yang dikaji kitab Lubābul Hadīts karya Imam Jalāluddin As-Suyūthi. Metodenya pakai cara baca utawi iki iku ala pondok. Bahasa Jawa, diartikan secara letterlijk. Ulasannya pakai bahasa Indonesia, diselingi hikmah dan humor, tentu saja.

Pengajian sudah berlangsung setahun. Istiqomah malam Jumat. Responnya positif. Apalagi dalam setiap kajian, Mas Dodik juga menyertakan, lebih tepatnya mempromosikan, nama-nama ulama ala pesantren, yang bisa didengarkan kajiannya via YouTube. Yang paling sering dipromosikan adalah pengajian Gus Baha’. Sehingga banyak di antara anak buahnya yang menjadi penyimak kajian-kajian berbobot Gus Baha’.

Bagi saya, apa yang dilakukan Mas Dodik ini keren. Sebagai pimpinan, dia menerapkan prinsip 5 S: Sehat, Syukur, Semangat, Sabar dan Shalat. Dalam manajemen, dia menerapkan 3 C: Capacity, Capability, dan Communication. Dan dalam membuka ruang pengetahuan dan suplai ilmu agama, dia membumikan pengajian kitab di perusahaannya.

“Saya ngaji kitab setelah diperintah guru saya, KH. Muslih dan KH. Tajul Mafakhir. Beliau berdua dari Probolinggo.” tuturnya.

Ngaji di depan para profesional membutuhkan pendekatan khusus. Metode utawi iki iku ala pesantren dipakai, menurutnya, efektif untuk telaah dasar per kata dan kalimat, juga telaah kebahasaan (Nahwu-Sharaf). Selebihnya, pendekatan hikmah dan fadhail al-a’mal dipakai sebagai pendekatan psikologi agar lebih bisa diterima. Menurutnya, ngaji itu harus efektif dan menyenangkan.

Logika mudahnya, secara fisik dan psikis mungkin banyak yang bosan dan tegang dengan rutinitas kerja, kadangkala pulang kerja masih bertengkar dengan istri, atau mungkin sebelum pulang dimarahi atasan. Mereka butuh penyaluran stress. Butuh refreshing. Nah, ngaji bisa dijadikan sarana menyegarkan kembali pikiran dan ruhani.

Dampak kajian, beberapa anak buahnya menjadikan Mas Dodik sebagai tempat curhat. Bukan melulu soal pekerjaan, melainkan problem rumahtangga, terkhusus lagi soal fiqh. Banyak di antara mereka yang belum menguasai dasar-dasar thaharah. Terkhusus lagi soal fiqh ibadah.

Tak lupa, tadi Mas Dodik juga bercerita perkembangan jaringan para alumni pondok pesantren di beberapa perusahaan, baik yang sudah mapan, maupun yang skala start-up. Menjelang Usia Seabad NU, kaum diaspora santri yang bergerak dalam dunia profesional, harus diarahkan dan difokuskan pada penguatan jaringan maupun pembumian nilai-nilai Aswaja di perusahaan tempat mereka bernaung.

Saya bersyukur pertemuan tadi membawa mashlahat, dan banyak ilmu dan pengalaman Mas Dodik yang ditularkan ke saya.

Sukses dan berkah selalu ya Mas Dodik, juga untuk perusahaan yang njenengan pimpin.

Wallahu A’lam Bishshawab

Syekh Muhajirin Amsar Addari: Ahli Hadits dari Betawi

Syekh Muhajirin Amsar Addari: Ahli Hadits dari Betawi

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Dalam salah satu dawuhnya, Mbah KH. Maimoen Zubair menegaskan kebanggaan ulama dahulu terhadap kampungnya. Cirinya, menisbatkan nama diri dengan tempat kelahirannya. Biasanya dengan menambahkan ya’ nisbat di akhir nama kampung maupun kotanya. Misal, Imam Abu Zakaria An-Nawawi, yang dinisbatkan pada nama Desa Nawa, daerah Hauran, Suriah. Ada juga ad-Damanhuri, Assuyuthi, al-Bukhari, al-Kindi, al-Ghazi, al-Baihaqi, al-Jailani, hingga Imam as-Sya’rani yang dinisbatkan pada kampung Saqiyah Abu Sya’rah (Mesir) dan seterusnya.

Pola penisbatan semacam ini berbeda dengan tradisi di kawasan Maghribi (Afrika Utara), yang lebih menyukai penempelan nama kabilah. Misalnya, karena berasal dari kabilah Sanusi, maka Syekh Muhammad bin Yusuf, penulis Ummul Barahin, menggunakan As-Sanusi di belakang namanya. Termasuk kabilah Jazulah yang merupakan asal dari Syekh Sulaiman al-Jazuli, penyusun Dalail Khairat. Yang paling kondang tentu saja Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud alias Ibnu Ajurrum, penyusun kitab nahwu Jurumiyah, yang menggunakan nama Asshanhaji karena lahir dari kabilah Shanhajah.

Bagaimana dengan ulama Nusantara yang ada di Makkah? Yang pasti, keberadaan mereka di tanah haram ini dinisbatkan kepada asalnya: al-Bantani, al-Banjari, al-Falimbani, al-Baweyani, as-Sidarjawi, al-Bimawi, al-Jugjawi, al-Bughuri, al-Banyumasi, al-Batawi, al-Fadani hingga al-Kelantani. Mereka berkumpul, saling belajar dan berbagi. Mereka juga menghimpun diri dan bahkan bisa menyelenggarakan pendidikan melalui sebuah lembaga legendaris, Darul Ulum, Makkah.

Foto di atas saya dapatkan dari KH Dhiyaz Almaqdisi Muhajirin . Foto pengajar Madrasah Darul Ulum, Makkah tahun 1950-an. Ayahnya, Syekh Muhajirin Amsar Addari, duduk di samping Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Keduanya ahli hadits. Sama-sama produktif berkarya. Syekh Yasin keturunan Minangkabau, lahir dan wafat di Makkah, sedangkan Syekh Muhajirin lahir di Betawi, belajar dan mengajar di Makkah, lalu kembali ke tanah air merintis pesantren An-Nida’ al-Islamy, Bekasi. Mbah Maimoen Zubair, ketika berada di Makkah pada 1950-an sempat ngaji hadits kepada beliau, dan menyebutnya dengan panggilan hormat ‘Syaikhuna’.

Reputasi keilmuannya layak diacungi jempol. Syekh Muhajirin atau orang Betawi menyebutnya Tuan Guru Jirin, menulis empat jilid Misbahudz Dzalam, Syarah Bulughul Maram. Karya yang indah dan berbobot. Beberapa karya lainnya masih ditahqiq dan rencana diterbitkan lagi. Dalam catatan keluarga, kurang lebih ada 30 kitab yang ditulis. Kajiannya lintas disiplin ilmu: tafsir, nahwu, balaghah, ushul fiqih, ushulul hadits, faraid, sirah nabawiyah, mantiq, dan fiqh. Komplit, betul!

Dalam sebuah riwayat, Syekh Muhajirin pernah ditawari posisi sebagai mufti di salah satu negara bagian di Malaysia. Namun dengan halus menolak dan lebih memilih kembali ke Tanah Air, merintis pesantren dan mengajarkan ilmu kepada masyarakat. Sebagaimana ulama terdahulu, bangga dengan kampung halamannya.

Kecintaan terhadap tanah kelahiran bisa dimaklumi, sebab ditempa oleh ulama ‘lokal’ dengan kemampuan ‘internasional’. Dalam catatan Ustadz Rakhmad Zailani Kiki , penulis buku ‘Genealogi Intelektual Ulama Betawi’, Syekh Muhajirin ditempa oleh Guru Asmat (Kampung Baru, Cakung), H Mukhoyyar, Muallim H Ahmad, Muallim KH Hasbiallah (pendiri Yayasan Al-Wathoniyah), Mualim H Anwar, Muallim H Hasan Murtaha, Syekh Muhammad Tohir, Ahmad bin Muhammad murid dari Syekh Mansyur Al-Falaky, KH Sholeh Mamun (Banten), Syekh Abdul Majid, dan Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang).

Sebagaimana hukum bumerang, semakin jauh dilempar, kelak bakal kembali ke titik awal. Demikian pula dengan Syekh Muhajirin. Kelak, setelah menempuh pendidikan di Makkah, beliau pun kembali ke Tanah Air.

Pakar falak sekaligus ahli hadits kelahiran 10 November 1924 ini wafat di Bekasi 31 Januari 2003 M.

Wallahu a’lam bisshawab.

Artikel ini pernah dimuat di website NU.Online Jatim, 19 April 2021

Tips Mempersiapkan Dana Lebaran Melalui Metode Kakeibo

Tips Mempersiapkan Dana Lebaran Melalui Metode Kakeibo

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Saya pernah baca kalimat menarik. Konon, manusia itu sering kali membeli barang yang sebenarnya tidak dia perlukan, dengan uang yang sebenarnya bukan punya dia, untuk membuat orang lain terkesan meski sebenarnya mereka tidak peduli juga dengan dia.

Ini kalimat yang menohok banget. Jleb. Mungkin dari kita pernah begitu. Beli barang A dengan pertimbangan gengsi, bukan kebutuhan. Semata untuk dipamerkan ke strata sosial yang selevel atau di bawahnya. Padahal mereka tidak peduli kita punya barang tersebut atau tidak.

Menjelang lebaran, ada tiga bisnis yang grafiknya naik di Indonesia: elektronik, fashion, dan makanan-minuman ringan. Nah, banyak yang kemudian terjebak pada spiral di atas: jor-joran beli ini itu untuk dipamerkan kepada mereka yang sama sekali juga tidak peduli terhadap yang kita kenakan dan sajikan. Itu karena yang dibeli sebatas gengsi, bukan fungsi. Tapi ya tidak masalah. Wong ya duwit-duwitnya sendiri. Dalam rangka merayakan hari raya.


Menghadapi lebaran, ada 3 tipe orang. Tipikal pertama, tabungan yang dia kumpulkan selama berbulan-bulan dihabiskan pada saat lebaran. Untuk dibagi-bagikan dan dirayakan. Tidak salah sih. Tapi kurang bijak. Setelah lebaran kebingungan, bahkan harus berhutang untuk melengkapi kebutuhan keseharian.

Tipe kedua, kekurangan fulus lantaran tidak mempersiapkan jauh-jauh hari. Tipikal kedua ini bukan kategori miskin, melainkan yang kurang persiapan saja. Akhirnya bingung beli persiapan lebaran, dari baju, biaya mudik, bagi sangu dll.

Tipe ketiga, mereka yang sudah siap dan mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Setelah merayakan lebaran masih punya sisa anggaran. Tabungan memang siap diludeskan, tapi selalu ada alokasi untuk keberlangsungan selanjutnya. Tak perlu pusing, apalagi terpaksa memakai sangu lebaran milik anak.

Tipe yang ketiga ini yang asyik. Dalam manajemen keuangan ala Jepang, ada yang disebut Kakeibo. Saya membaca buku tentang manajemen keuangan keluarga ini melalui karya AE Zen, “Kakeibo: Seni Cerdas Finansial Ala Jepang Agar Uang Anda Tak Habis Terbuang”. Ini buku yang asyik dan saya rekomendasikan.

Metode ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1904 oleh seorang jurnalis bernama Makoto Hani. Kemudian, kembali populer sejak Fumiko Chiba mengulasnya melalui buku “Kakeibo: The Japanese Art of Saving Money”.

Kakeibo, yang berarti buku besar keuangan rumahtangga, benar-benar efektif dalam menyetel pendapatan dan pengeluaran, agar tidak pelit, juga tidak boros. Fungsional-operasional, terencana, dan terhindar besar pasak daripada tiang.

Mudahnya seperti ini. Catat penghasilan bulanan, baik dari gaji maupun perkiraan pendapatan ceperan. Skema anggaran bisa diatur untuk kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersier. Dirinci. Pengeluaran bulanan bisa diskemakan, dalam filosofi Kakeibo ini, dalam empat hal:

(1) Survival/kebutuhan, yaitu kebutuhan primer. Berupa pangan, listrik, transportasi, cicilan ini-itu (jika ada), biaya sekolah anak, paket data/pulsa dll.

(2) Optional/pilihan, yaitu pengeluaran yang bersifat pilihan. Tidak wajib. Jika tidak dilakukan juga tidak mengganggu kehidupan keluarga. Sifatnya sekunder. Misal, beli baju, makan di luar, dll.

(3) Culture/budaya, yaitu pengeluaran yang bisa menambah pengetahuan dan pengalaman. Beli buku, ikut training/kursus, dll.

(4) Extra/tambahan, yaitu pengeluaran non-budgeter. Sifatnya tidak terprediksi. Misalnya, servis kendaraan, buwuhan/koleman/amplop pernikahan, dana duka bagi sahabat/saudara, dll.

Ketika sudah diskemakan dan dipetakan potensinya, maka setelah berjalan, harus dilakukan evaluasi. Efektif atau tidak. Kalau ada kekurangan, letaknya dimana? Langsung diperbaiki. Jika kebutuhan lebih besar daripada pendapatan, maka otak harus berputar mencari porsi rezeki dari jalan lain. Jangan pernah ada kata gengsi. Harus semangat membuka usaha lain. Agar suplai dana keluarga bisa terpenuhi.


Untuk dana persiapan lebaran, bagaimana? Hal itu masuk kategori Opsional alias pilihan. Yang praktis-taktis, kebutuhan lebaran mendatang sudah harus disiapkan sejak setahun sebelumnya.

Jika butuh dana minimal Rp 5 juta untuk Idul Fitri: baju, belanja suguhan tamu, angpau buat anak-anak, juga transportasi mudik, maka secara praktis persiapannya dilakukan setahun sebelumnya. Catat kebutuhan secara detail hingga yang remeh temeh.

Caranya, tabung minimal Rp 450.000/bulan. Jika terasa berat atau tidak telaten, per hari wajib menyisihkan Rp 15.000 saja. Nggak perlu cara muluk-muluk, cukup sisihkan di celengan plastik. Setahun bisa terkumpul minimal Rp 5 juta. Tabung dan lupakan. Jangan pernah meliriknya sebagai dana darurat. Jangan pernah. Kuncinya ada pada dua rumus: paksa diri “nyelengi” dan tahan diri agar tidak tergoda membongkarnya sebelum waktunya.

Cara ini praktis agar kita tidak gelagapan menghadapi lebaran. Keuangan terjaga dan stabil. Lebih bagus manakala dari, misalnya, Rp 5 juta tersebut, kita sisihkan saving budget 10-20% dari anggaran. Fungsinya untuk menopang kebutuhan pasca lebaran yang seringkali tidak terprediksi.

Saya sudah menerapkan manajemen Kakeibo ini dalam kurun 3 tahun terakhir. Baik untuk lebaran, maupun biaya sekolah anak, hingga zakat dan beli hewan qurban. Hasilnya lumayan, lah. Bisa belajar mengatur keuangan skala kecil.

Saya percaya, kecerdasan yang harus dimiliki saat ini, selain intelektual, emosional, dan spiritual, adalah kecerdasan finansial.

Wallahu A’lam Bishshawab

Trik Agar Sowan Kiai Memberi Banyak Manfaat

Trik Agar Sowan Kiai Memberi Banyak Manfaat

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Ketika sowan ke para kiai, saya membiasakan membawa dua benda. Pertama, buku catatan. Buat menulis poin-poin penting yang disampaikan, juga mencatat dawuh yang quotable, alias layak dijadikan kata mutiara di meme di media sosial atau Medsos.

Kedua, handphone, fungsinya untuk merekam pembicaraan, selebihnya buat jeprat-jepret bersama shahibul bait. Sebuah tradisi baru yang muncul setelah populernya Medsos.

Hal ini saya lakukan agar silaturahim tidak ‘sia-sia’ dan sepulangnya ada tambahan ilmu maupun ‘ngelmu urip’ yang saya dapatkan. Jadi, biasanya ketika sowan durasi bisa berlangsung minimal satu jam dan pernah dalam beberapa pisowanan, durasi obrolan berlangsung hingga 2 sampai 3 jam. Itu pun karena kiainya ada kegiatan lain yang sudah terjadwal, andaikan tidak, bisa lebih lama lagi.

Saya menganggap pisowanan semacam ini sebagai ajang unduh ilmu. Sayang jika hanya ngobrol ngalor ngidul tidak jelas topiknya. Apalagi jika kiainya hanya diajak rasan-rasan tokoh A, B, dan C, atau bicara soal teori konspirasi yang tidak jelas. Supaya proses ngangsu kaweruh berjalan dengan hasil maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama. Jika kiainya belum kenal, kita perlu memperkenalkan diri, berikut asal dan almamater pondok yang pernah kita belajar di dalamnya. Agar lebih akrab cari satu hal yang membuat lebih dekat. Misalnya, kesamaan hobi. Ini bisa kita dengar dari beberapa orang yang pernah sowan. Ada kiai hobi pelihara ikan koi dan burung, koleksi akik, maupun otak atik onderdil mobil klasik. Bisa juga langsung bicara soal idolanya, misalnya kiai A, habib B, atau syekh C. Kita bisa mengawalinya dari topik ini. Secara psikologis, orang lebih asyik dan larut jika diajak berbincang topik yang dia sukai dan dia kuasai. Jika sudah klik, dan kiai kita posisikan sebagai penikmat hobi yang mengetahui seluk-beluk kegemarannya, atau sosok yang dekat dengan idolanya, maka obrolan berikutnya bisa dijamin lancar dan betah.

Dalam teori psikologi-komunikasi ini disebut appreciative inquiry. Yaitu membicarakan sebuah topik disesuaikan dengan lawan bicaranya. Membicarakan sesuatu yang menjadi kekuatan dan kesenangannya, bukan kelemahan dan hal yang tidak disukainya.

Kedua, tentukan tema keilmuan yang hendak didiskusikan dengan melihat latarbelakang keilmuan yang dimiliki oleh kiai yang hendak disowani. Jika kiai suka kajian sejarah, maka kita bisa memancing diskusi ini dengan sebuah pertanyaan kunci. Biasanya nanti akan mengalir hangat. Gayeng penuh ilmu. Ketika saya sowan Prof Dr KH Imam Ghazali Said misalnya, satu pertanyaan tentang daerah di Mesir, Asyuth, dijawab oleh beliau dengan komplit. Dari sejarah kota dan negara Mesir, kaitan Imam As-Suyūthi dengan keilmuan ulama al-Azhar dan sebagainya. Karena beliau pernah tinggal lama di Mesir dan suka kajian sejarah dan geopolitik Timur Tengah, maka mengalir pula kajian ideologis di kawasan ini. Satu pertanyaan dijawab oleh Kiai Ghazali Said dengan rentetan jawaban dan menakjubkan. Saya keteteran mencatat, untunglah ada handphone yang saya gunakan merekam. Sebagai bonus, saya diberi oleh-oleh buku oleh Pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya ini.

Tatkala sowan ke Dr KH M Afifudin Dimyathi, Januari 2020, saya ingin kulak ilmu tentang perkembangan kitab tafsir. Sangat tepat karena selain beliau menguasai topik ini, ulama muda asal Jombang ini juga menulis kitab bertema al-Qur’an dan tafsirnya. Obrolan 1 sampai 2 jam serasa kuliah beberapa SKS. Pulang juga diberi buah tangan berupa karya beliau. Nikmat betul, kan? Dapat ilmu, dikasih kitab pula.

Kemarin, ketika bersama istri sowan ke KH Masrukhin, Kradenan Jetis Ponorogo, saya sengaja bertanya sejarah lokal Ponorogo. Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an al-Mardliyyah ini menjelaskan dengan gamblang historiografi kota Reog. Termasuk ketika saya diminta menghadap bagan silsilah nasab yang tertempel di dinding ruang tamunya. Beliau menjelaskan dengan detail jejaring ulama Ponorogo abad ke-18 dan 19 beserta keterkaitan nasab biologis dan ideologis satu sama lainnya.

Pengetahuan saya soal sejarah Islam lokal di Ponorogo juga bertambah setelah malam harinya saya bersama Mas Anis Dardiri sowan selama 2,5 jam ke ndalem KH Hanif Abdul Ghofir Ma’ruf, Pengasuh Pondok Pesantren Darun Naja, Jalen, Mlarak, Ponorogo. Keterangan dua kiai ini soal kesejarahan dan perkembangan Islam di Ponorogo layak dibukukan, dengan catatan disertai referensi kesejarahan yang melimpah.

Dari sini kita paham apabila fondasi sejarah lokal seringkali bukan berada pada meja-meja akademisi kampus, melainkan di dampar ndalem para kiai. Mereka memahami urat nadi masyarakat sekaligus mengerti jantung kesejarahan di daerahnya karena kesehariannya mendampingi umat dan punya cantolan historis berdasarkan cerita tutur dari keluarganya.

Ketiga, jika sowan kepada ulama sepuh, saya memilih topik Ngelmu Urip alias tips menjalani kehidupan agar selamat dunia akhirat. Ini saya lakukan saat sowan ke KH Husein Ilyas, Mojokerto; KH A Mustofa Bisri, Rembang; maupun ke (almaghfurlah) KH Mahsun Masyhudi, Ujungpangkah, Gresik; (almaghfurlah) KH Dahlan Basuni, Peneleh, Surabaya; KH Wahib Syafaat (ayahnya Mas Atabik Faza), Gandu, Mlarak, Ponorogo; dan beberapa kiai sepuh lain.

Asam-garam kehidupan yang beliau-beliau jalani sangat pantas diekstrak untuk kita terapkan dalam menjalani hidup. Ada banyak ngelmu urip yang saya unduh, dan sebagian sudah saya tulis dalam beberapa artikel. Dalam tradisi intelektual Islam-Jawa, hal ini disebut piwulang. Pelajaran hidup, pitutur yang bisa disusun menjadi partitur kehidupan agar bisa menjadi manusia yang baik di hadapan Gusti Allah.

Keempat, banyak kiai kita yang multitalenta, mutafannin, punya banyak kemampuan. Selain kulak ilmu, kita bisa minta ijazah mengamalkan amalan rutin. Beliau-beliau biasanya tidak pelit berbagi ijazah. Ingin bisa haji-umrah, diberi amalan khusus. Ingin rezeki melimpah, juga dikasih bacaan aurad. Termasuk andaikan mau berbaiat tarekat, para kiai juga mempersilahkan, juga siap membimbing.

Ini di antara beberapa tips agar pisowanan kita kepada para kiai bukan diakhiri sesi foto bersama saja, melainkan juga punya oleh-oleh ilmu. Berbincang 1 sampai 2 jam dengan topik yang difokuskan serasa kuliah beberapa SKS. Pahala silaturahmi didapat, nge-charge ilmu juga diperoleh. Manfaat ganda!

Wallahu a’lam bishshawab.

Artikel ini telah dimuat di NU. Online Jatim. 23 Mei 2021

Tips Mengelola Sangu Lebaran Anak

Tips Mengelola Sangu Lebaran Anak

Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Fulus angpao lebaran milik anak sebaiknya disimpan dalam tabungan atas namanya. Bisa dibuatkan rekening, bisa juga diinvestasikan. Saya kapok menyerobot uang anak untuk kebutuhan pribadi, setelah ditegur guru saya. Pasal teguran dan ketajaman bashirah beliau sudah saya tulis dalam buku “Kiai Kantong Bolong” melalui kolom “Manusia-Manusia Langit”. Bagi beliau, hak anak adalah haknya, jangan sampai dipakai ortu. Ini prinsip guru yang saya ugemi sampai saat ini. Anda setuju, silahkan. Tidak, juga nggak masalah.

Bagi saya, ada dua cara menyimpan uang angpau milik anak. Pertama, disimpan statis. Kedua, dikembangkan dalam corak investasi.

Cara pertama dibuatkan rekening atas namanya. Masukkan semua uang sangu lebaran miliknya. Anak punya hak guna atas isi rekeningnya, tapi hak manajemen tetap ada di tangan ortu. Termasuk kartu ATM dan pinnya tetap dibawa ayah bunda.

Kalaupun isi rekening mau dipakai, harus buat kebutuhan anak, misalnya mainan, baju, buku, kebutuhan sekolah dll. Ketika berbelanja, ajak anak juga. Ajari dia bertransaksi. Biar dia belajar tanggungjawab atas hartanya. Ini mengajarkan sejak dini manajemen keuangan berbasis tabungan kecil-kecilan.

Setelah belanja tunjukkan saldo dan print-out agar dia tahu nominal yang di bawah kepemilikannya. Juga jelaskan pola belanja sesuai dengan konsep yang kita rancang. Misalnya hanya boleh dikeluarkan dalam kondisi mendesak, hanya boleh digunakan belanja baju sekolah, buku, kebutuhan mengaji dll. Beli mainan? Silahkan. Asalkan tidak menyedot saldo rekeningnya. Proporsinya maksimal 10% saja dari jumlah nominal di rekening.

Walaupun isi tabungannya tidak seberapa di mata ortu, misalnya hanya seratus-dua ratus ribu (saya sih nggak percaya, sebab saat ini jumlah angpao lebaran anak sudah berjeti-jeti), tapi ortu harus memenej dengan baik dan anak juga harus tahu saldo dan kebutuhannya. Belajar transparansi keuangan sejak dini dan belajar saling percaya antara ortu dengan anak.

Ortu yang keren itu bukan saja yang memberi teladan soal budi luhur melainkan juga memberi contoh dalam kecerdasan finansial.

Cara kedua, dengan mengajari anak berinvestasi. Tak perlu muluk-muluk, dibelikan sepasang domba dan dititipkan ke orang yang bisa dipercaya dengan sistem bagi hasil juga oke. Ajak anak untuk sesekali melihat dombanya, biar tahu sedini mungkin soal aset, bisnis kecil-kecilan dan perkongsian.

Contoh lain, ajak anak belanja bibit tanaman pertanian, tunjukkan cara bertransaksi, dan ajari dia cara menanam. Jika tidak bisa mengajarinya pola tanam, bisa dipasrahkan ke orang lain sebagai pengelola perkebunan dengan perjanjian yang jelas: bayaran per hari atau bagi hasil saat panen, juga bicarakan perkara resiko kerugian. Kalau nggak mau ribet, investasi reksadana. Kontrol bisa via hape. Jenis aplikasinya banyak. Pilih yang resmi dan diawasi oleh OJK dan Bappebti. Cara lain, pilih tabung emas. Pegadaian dan beberapa bank syariah sudah menyediakannya. Mudah dan praktis.

Catatan lain, jangan pernah menggunakan fulus anak untuk arisan berantai atau bisnis yang menawarkan keuntungan muluk-muluk dalam waktu cepat, juga bonus-bonus jumbo. Itu bisa dipastikan pakai skema Ponzi. Sudahlah, yang punya ijin dari OJK saja masih bisa ambruk, kok, apalagi yang ilegal.


Ada banyak ortu yang secara etika tidak menghormati hak anak. Ada juga ortu yang gagal memenej keuangan keluarga dengan baik. Penghasilan cukup bahkan lebih dari cukup, tapi karena tidak beres dalam tata kelola akhirnya besar pasak daripada tiang.
Dia tidak mampu membedakan kebutuhan primer, sekunder dan tersier.

Ada juga keluarga sederhana yang selain bisa mengelola tata keuangan keluarga, dia juga memiliki aset yang bisa diwariskan. Ini yang beberapa kali saya jumpai. Intinya, belajar manajemen keuangan rumah tangga bisa dimulai dari tata kelola keuangan milik anak-anak kita. Hormati hak miliknya, gunakan untuk kebutuhannya, dan persiapkan buat masa depannya.