Bagikan sekarang

Oleh: Drs. H. Khumaidi, M.Hum (Rektor INAIFAS Periode 2014-2018)

Tiada terduga uang yang semula hanya 100 ribu kini sudah menjadi 100 juta. Prestasi yang cukup membanggakan itu dialami oleh ABG NU Cakru, Kencong ini dengan program bernama Kas Bersama.

Kas bersama itu bermula dari konsep ABG NU yang ada di IPNU IPPNU. Dari hasil diskusi beberapa orang menghasilkan keputusan yang cemerlang dan berani, yaitu membangun ekonomi organisasi secara mandiri.

Keputusan itu diawali serentak dengan penanaman pisang di masing-masing anggota bahkan ada sebagian warga yang juga nimbrung di dalamnya. Dari hasil penanaman pisang ini beberapa bulan berikutnya sudah menampakkan hasilnya.

Mereka setor keuangan pisang yang sudah terjual di pertemuan rutin mulai dari 5000 sampai sepuluh ribu rupiah tahun itu. Dana tersebut kemudian diputar dengan cara dikembangkan melalui ternak kambing, kebutuhan mandi, kaos organisasi dan lain-lain.

Kas tersebut kini sudah menjadi 100 juta rupiah. Pengembangan yang cukup mempercepat tercapainya kas bersama tersebut dengan cara peminjaman kepada segenap pengurus dan pembina dengan pengembalian 1 musim sekali (karena pertanian palawiija) dengan tidak menentukan imbalan yang diberikan.

Namun dengan komitmen bersama akhirnya rata-rata memberi imbalan yang tidak ditentukan, agar tidak jatuh pada hukum haram menurut syariat agama.

Sebenarnya kalau mengikuti gaya, uang itu bisa dibelikan LUXIO tahun 2016-an, namun bukan itu yang dimaksudkan, tetapi generasi muda NU ke depan yang diutamakan.

Dengan cara itu, ketika kas bersama masih 50 jutaan dapat tambahan sekitar 5 jutaan permusim. Sekarang sudah 100 jutaan. Mempunyai harapan dapat tambahan 2 kali lipat permusim sehingga menjadi 10 jutaan.

Dengan pengembangan itu untuk sementara IPNU IPPNU sudah dapat melaksanakan kegiatan organisasi seperti konferesi atau rapat anggota dari uang kas tersebut tanpa meminta sumbangan keuangan ke masyarakat dan anggota.

Baca juga  KH. A. Aziz Masyhuri dan Para Penjaga Ingatan

Kegiatan lain termasuk memberikan bantuan kapur tulis tiap tahun 1 box ke seluruh Madrasah Ibtidaiyah dan Ma’arif NU di wilayahnya.

Menurut seorang pembina yang dulunya pernah menjadi anggota (enggan disebut namanya) mengatakan “Kas bersama ini (waktu itu) bertujuan agar IPNU IPPNU ke depan memiliki sumber dana yang jelas dan halal, tidak mengandalkan sumbangan atau proposal dalam melaksanakan kegiatan,” tuturnya.

Sebab menurutnya, IPNU IPPNU itu kadernya ulama atau kiai, bukan kader yang lain, apalagi kader partai.

Selain itu model kas bersama ini terutama bagi pengurus agar menjadi pembiasaan tahan banting ke depannya dalam berjuang atau berdakwah dalam segala medan dan kondisi dakwah, karena banyak kader  sekarang rata-rata ingin cari enaknya di dalam berjuang di Nahdlatul Ulama.

Niat mereka (para perintis kas bersama) jajaran pimpinan atau pengurus organisasi NU beserta banom hendaknya menghidupi NU dan tidak mencari kehidupan di NU.

“Memberikan fasilitas di NU dan tidak mencari fasilitas di NU. Membesarkan pamor NU dan sama sekali tidak mencari pamor dari NU” tandasnya.

Rata-rata mereka ini sudah punya anak seusia SMP/MTs dan Aliyah yang tinggal melanjutkan usaha yang dirintis oleh orang tuanya sekaligus kader seniornya dalam berorganisasi.

Kehidupan profesi mereka (para perintis kas) ada yang berprofesi sebagai petani, pedagang, staff Desa, BPD, guru atau dosen, nelayan. Kini mereka sudah melihat hasil jerih payahnya yang sudah berkembang dan generasi pelanjutnya tidak hanya ditinggali laporan, contoh proposal sumbangan atau ada suara kegiatan besar yang tidak ada bekasnya, apalagi foto-foto penampilan.

Sikap seperti ini patut dicontoh oleh semua pengurus organisasi NU serta banomnya yang sudah jelas bahwa NU ini adalah organisasi dakwah, keagamaan dan kemasyarakatan bukan organisasi politik praktis. (editor:haz)