Bagikan sekarang

Posko 27 adalah salah satu dari 3 posko yang berada di pesantren, tepatnya di Pondok Pesantren Mambaul Khoiriyatil Islamiyah (MHI) Bangsalsari, Jember. Dalam melaksanakan program kerjanya dengan visi ‘Membangun Kreatifitas Santri menuju SDGs’, yakni berinovasi mendaur ulang sampah sebagai upaya dalam mengembangkan keterampilan dan meningkatkan kebersihan di lingkungan pesantren.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Posko 27 Siti Mutmainnah, M.Pd mengatakan agar mahasiswa dapat menemukan potensi yang dimiliki pesantren. Sehingga dapat dikembangkan menjadi hal baru di Pesantren tersebut.

“Temukan potensi atau masalah apa yang terjadi di Ponpes MHI kemudian kembangkan, berinovasi dan temukan hal baru,” katanya.

Sementara Muatok mengatakan bahwa kelompok 27 pun berinisiatif mengolah sampah menjadi kerajinan bukan tanpa dalih karena sampah memang permasalahan umum di Pondok Pesantren.

“Mulai dari pembuangan yang tidak cukup memadai dan sesekali membayar petugas kebersihan dari luar di setiap berapa minggu sekali untuk memunggut sampah di TPS,” ujarnya.

Muatok menambahkan setidaknya program pengabdian ini dapat meminimalisir sampah yang ada di pesantren. Kegiatan ini diapresiasi dan disambut baik oleh Kepala Pondok Putri Ustadzah Rofiqotus Sa’adah.

“Kami dipersilahkan langsung untuk bersosialisasi tentang visi dan misi PkM-BR Posko 27 di depan santri pada kegiatan Khitobah mingguan santri (28/07/2022). Sebab, di waktu tersebut santri se-Induk cabang berkumpul,” imbuhnya.

Muatok menjelaskan beberapa langkah yang dilakukan. Pertama, melakukan sosialiasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan ponpes dengan menyemarakkan giat mengumpulkan sampah an-organik tertentu pada santri serta warung-warung di sekitar pondok.

Kedua, mendatangi langsung rumah ahli dalam pembuatan kerajinan sampah untuk mengajari mereka sebagai peserta PkM-BR (khusus pembuatan sampah plastik menjadi tas).

Ketiga, mengajarkan santri tentang cara pembuatan kerajinan dari hasil sampah yang mereka kumpulkan menjadi kerajinan tas, ecobrik, hiasan dinding, figora dan lain-lain.

Baca juga  Ingatkan Generasi Muda, DEMA INAIFAS Bakal Gelar Pasar Budaya 2022

Alifnur menjelaskan bahwa santri sangat gembira dan antusias dalam mengikuti program tersebut.

“Tampak jelas antusiasme santri terhadap program ini, mereka cepat menguasai berbagai teknik kerajinan yang kami ajarkan, kecuali tas dari bungkus kopi mereka kesulitan” kata Alifnur salah satu mahasiswa posko 27.

Sementara Syela, salah satu santri binaan mereka terheran-heran dengan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa PkM-BR Inaifas.

“Baru kali ini saya mengetahui kerajinan sampah plastik yang unik nan aesthetic dari bungkus kopi menjadi kerajinan tas. Wah bisa nanti dibuat kado hari ibu,” ujar Syela dengan penuh semangat.

Lebih lanjut, Akhmad Zaeni Wakil Rektor II Inaifas menuturkan sebuah inovasi yang bagus menjadikan sampah menjadi kerajinan dan bernilai jual.

“Saya berharap program ini tetap berkelanjutan dan bisa bekerja sama dengan koperasi pondok sehingga pendapatannya berkemungkinan dapat membantu para santri yang tidak mampu,” ujar pria yang akrab disapa Pak Zen pada Selasa (16/08/2022).

Diketahui, segenap santri juga setuju dan semangat ketika apa yang mereka hasilkan nantinya bisa bernilai jual, meskipun bakal banyak pertimbangan perizinan dan lain-lain dikarenakan kegiatan pondok yang tidak bisa diprediksi dan padat kegiatan.

Selain itu, posko 27 akan mengusahakan dan mempertahankan untuk berlanjut karena sesuai dengan semboyan PkM-BR mereka yakni Sustainable Development Goals (SDGs).


Laporan Posko 27 Ponpes MHI. DPL: Siti Mutmainnah, M.Pd.