Bagikan sekarang

@ Rijal Mumazziq Z

Sejak INAIFAS berdiri, 1998, Bu Hj. Nur Asiyah Jamil sudah bergabung sebagai staf. Di bagian bendahara, lantas menjadi staf administrasi umum. Semua mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen mengenalnya. Sebab beliau ujung tombak pelayanan.

Jadi, total 23 tahun beliau mengabdi di kampus hijau ini. Sejak kampus merintis perkuliahan di gedung TPQ Masjid Al-Falah Kencong, lantas pindah ke MA Yunisma, kemudian menempati gedung yang sekarang menjadi kampus induk. Dua dekade mengabdi dengan sepenuh hati dan keikhlasan. Di kancah sinematografi maupun olahraga, pengabdian ini biasanya diganjar dengan penghargaan Life Time Achievement Award. Dalam birokrasi negara, pengabdian hampir atau lebih dari dua dekade diberi Satyalancana Karya Satya. Untuk Bu As, atas pengabdiannya, insyaAllah INAIFAS juga akan memberikan penghargaan dan apresiasi atas loyalitas dan kerja kerasnya selama 23 tahun ini dalam wisuda mendatang. Walaupun tentu saja yang menerimanya adalah putranya. Mengapa?

Bu As, orang yang kami anggap sebagai ibu karena kesabaran dan ketelatenan menjadi penjaga gawang birokrasi kampus, pagi ini, Sabtu 14 Agustus 2021, berpulang ke Rahmatullah. Beliau wafat setelah dirawat di RS Haryoto Lumajang. Semenjak dirawat, setiap hari, para dosen, struktural kampus senantiasa mendoakan bersama-sama dan menanyakan perkembangan kondisinya kepada putra yang menjaganya di RS.

Soal nama yang disandangnya, Nur Asiyah Jamil, saya pernah bertanya ke beliau. Mengapa namanya sama dengan salah satu penyanyi religi legendaris kelahiran Medan, yang lagu-lagunya, antara lain “Panggilan Haji” dan “Selimut Putih” populer di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei di era 1970-an hingga dasawarsa berikutnya.

Saat itu, Bu As menjawab kurang lebih, mungkin ayah saya (KH. Imam Bashori) mengagumi penyanyi ini lalu menyematkannya saat saya lahir. Beliau menjawab sambil tersenyum ramah, sebagaimana cirikhasnya.

Baca juga  Catatan Perjalanan di Pulau Terdepan Indonesia (2)

Ya, selama bergaul dengan Bu As, mahasiswa dan alumni mengenangnya sebagai pribadi yang ramah, grapyak, dan telaten. Para dosen dan tenaga kependidikan juga mengenangnya demikian, selain kedisiplinannya dan kesabarannya. Tidak pernah kita jumpai Bu As mengeluh dalam melayani mahasiswa yang meminta pelayanan birokrasi. Juga tidak pernah kita jumpai wajahnya muram. Selalu tersenyum. Mengesankan. Kesan ini pula yang tampaknya melekat pada para alumni.

Seringkali, ketika bertemu alumni yang lama tidak ke kampus, mereka menanyakan kabar Bu As. Apakah sehat? Apa masih kerja di INAIFAS. Saya jawab, ya. Mereka lega. Artinya, Bu As telah memberi kesan mendalam pada alumni melalui pelayanannya yang ramah dan manusiawi saat mereka menjadi mahasiswa.

Bu As memang menjaga penampilannya. Selalu rapi. Lengkap sudah dengan keceriaan dan ketenangannya dalam meladeni mahasiswa. Agar tetap santai, di komputer-nya tersedia lagu kenangan dan musik India. Dua corak musik ini yang menjadi kesukaannya. Saat pelayanan tidak ramai, biasanya Bu As menyetelnya agak nyaring. Dan, kami yang ada di ruangan akademik, menikmati pilihan lagunya.

Kalau ngobrol dengan siapapun, Bu As menempatkan diri sebagai pendengar yang baik. Tidak pernah menyela omongan tapi merespon dengan penuh perhatian. Posisi duduknya juga selalu menghadap lawan bicaranya. Kalaupun yang mengajak ngobrol adalah orang yang usianya di bawahnya, biasanya menggunakan kata Mas atau Mbak. Jika masih mahasiswa, beliau memanggilnya dengan sapaan “Dik, Le (tole) atau Nduk.” Nguwongke Uwong. Memanusiakan Manusia.

Kalaupun Bu As menerima pemberian, dari jajan, makanan, atau hadiah, beliau menerima dengan raut gembira. Muka yang berseri-seri dengan iringan ucapan terimakasih. Jika beliau punya rezeki, biasanya dibagi ke para sahabat di kampus. Dari makanan, buah hingga jajanan. Semua kebagian.

Baca juga  Di Bandara Soetta, Berjumpa Kiai yang Punya 200 Karya

Salah satu keteladanan yang sulit kami tiru dari Bu As adalah kedisiplinannya. Pukul 13.00 WIB sesuai dengan jadwal ngantor, beliau selalu tiba tepat waktu. Biasanya mengendarai Honda Beat putih kesayangannnya. Kalaupun meleset, maksimal hanya 5 menit. Padahal beliau juga punya kesibukan di rumah. Selain merawat suami yang sakit dalam beberapa tahun ini, Bu As juga mengontrol sawah miliknya. Jadi sebelum berdinas di kampus, beliau menyelesaikan urusan pribadinya lebih dulu. Dari beres-beres rumah, aktif di kegiatan kemasyarakatan, hingga mengantar konsumsi bagi para penggarap sawahnya. Jika sudah beres, tuntas, baru berangkat dari rumahnya di Kraton, Kencong.

Ketika jadwal kerja berakhir pukul 16.30 WIB, beliau langsung melakukan absen via finger print, sebagaimana absen kedatangan. Mas Amak Fadholi, bendahara kampus, mengenangnya sebagai salah satu pegawai yang absen finger print-nya jarang kosong. Nyaris penuh saban bulan. Tentu, Bu As juga mendapatkan kompensasi nominal atas kedisiplinannya, karena kampus telah menyediakan tunjangan kehadiran dan kedisiplinan pegawai.

Ketika tiba dan berpapasan dengan para sahabat di kampus, Bu As selalu melontarkan pertanyaan khas, “Bagaimana kabarnya? Sehat nggih?”
Sebuah pertanyaan yang mengandung perhatian dan doa. Perhatian ini pula yang saya dapatkan dua hari setelah ibu saya wafat. Bu As chat, memberi belasungkawa, sekaligus memberi motivasi berharga agar kuat sepeninggal ibu. Ya Allah….

Sebagai pegawai yang dituakan, baik dalam waktu pengabdian maupun secara usia, kami melihatnya bukan saja sebagai sosok senior, melainkan ibu. Sebab, semua struktural INAIFAS usianya di bawah beliau. Kalaupun ada rapat rutinan saban Selasa, Bu As pula yang dengan sabar belanja kesana-kemari mempersiapkan konsumsi. Demikian pula jika kampus punya gawe besar, Bu As lah yang mengkoordinir teknis perdapuran.

Baca juga  Gus Mus dan Romantismenya

Beliau adalah tipikal ibu yang merawat bayi STAIFAS, lalu tumbuh berkembang menjadi INAIFAS, dan juga tetap mengawal menuju kedewasaan menjadi Universitas.

Selamat jalan Bu As, kami selalu merindukan panjenengan. Rindu yang tak mungkin terbalas, tentu saja, adalah ketika merindukan orang yang tak mungkin kembali.

Mewakili kampus, atas nama rektor, saya turut berempati dan berbelasungkawa atas wafatnya Bu Hj Nur Asiah Jamil. Mohon dimaafkan atas kesalahannya, dan kita mendoakan semoga khidmah beliau di INAIFAS dicatat sebagai amal jariyah yang pahalanya senantiasa mengalir dan menerangi alam kuburnya. Lahal Fatihah