Bagikan sekarang

Oleh: Akhmad Zaeni, M.Pd.I
(Wakil Rektor II INAIFAS)

Kesadaran semakin banyaknya masyarakat yang berqurban setiap tahun harus diapresiasi. Hanya saja, fenomena qurban di daerah kita sangat kompleks. Kita harus berusaha sedikit demi sedikit untuk mengawal dan memberi arahan kepada masyarakat terkait hal-hal yang berkaitan dengan qurban. Mulai tata cara niatnya hingga sistem pembagian dagingnya.

Sementara ini masyarakat memiliki pemahaman berbeda antara pembagian daging kurban dan pembagian zakat, yakni pembagian daging Qurban harus merata tanpa mempertimbangkan kaya ataupun miskin. Berbeda dengan pembagian zakat yang hanya berhak diterima oleh mustahiq zakat khususnya fakir miskin.

Pemahaman tersebut bisa dibenarkan apabila qurbannya adalah qurban sunnah, yakni bukan qurban nadzar ataupun qurban mu’ayyan. Keduanya bisa dirinci sebagai berikut:

  1. Qurban nadzar, misalnya seseorang bernadzar apabila dia memiliki anak laki-laki maka dia akan berqurban. Ternyata dia benar-benar dikaruniai putera laki-laki, maka wajib baginya untuk berqurban dalam rangka menunaikan nadzarnya.
  2. Qurban Mu’ayyan, misalnya ada seseorang yang berkata: “Sapi ini saya jadikan qurban”, maka secara otomatis dengan kalimat tersebut dia berkewajiban untuk berqurban. Dan untuk qurban mu’ayyan ini bisa terjadi bagi mereka yang memang memahami bahwa ucapan seperti di atas dapat menjadikannya wajib berqurban. Sehingga bagi orang awam yang tidak mengerti masalah tersebut, maka baginya tetap dihukumi qurban sunnah meskipun dia mengatakan “sapi ini saya jadikan qurban”.

Untuk qurban sunnah, distribusi dagingnya bisa dibagikan ke semua orang, yang penting muslim. Bahkan disunnahkan bagi yang berqurban untuk mengambil sedikit daging qurbannya dengan niat tabarrukan/ “ngalap berkah”. Namun untuk qurban wajib dalam madzhab Syafi’iyyah dagingnya harus dibagikan kepada fakir/miskin tidak boleh dibagikan kepada orang kaya, termasuk juga orang yang berkurban.

Baca juga  Anak Muda Menabung Saham, Mengapa Tidak?

Kenyataan yang ada di masyarakat, masih jarang kita jumpai panitia qurban yang memilah antara daging kurban wajib dan qurban sunnah, sehingga rentan terjadi percampuran antara keduanya. Beberapa sebab hal ini terjadi adalah :

  1. Panitia belum mengetahui tentang perbedaan pembagian qurban wajib dan sunnah.
  2. Orang yang berkurban umumnya juga tidak tahu kalau ada dua hukum masalah qurban.
  3. Masyarakat menganggap tidak ada perbedaan antara qurban wajib dan sunnah dan lain sebagainya.

Fenomena ini yang menjadikan kami ingin memberi sedikit solusi dan informasi bagaimana cara kita menyikapinya:

  1. Panitia wajib memilah mana qurban wajib dan mana qurban sunnah, dan juga membedakan pembagian dagingnya.
  2. Jika cara pertama dirasa sulit, maka sebaiknya ada panitia penyembelihan qurban yang tergolong miskin untuk diberi bagian cukup banyak, kemudian dia merelakan bagian tersebut untuk diberikan pada orang kaya.
  3. Jika masih dirasa sulit, maka kita ikut pendapat madzhab lain yakni Madzhab Malikiyah dan Hanabilah yang memperbolehkan pembagian daging qurban wajib kepada orang miskin ataupun kaya.

Pada intinya kita harus tetap berusaha menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat, meskipun dalam penerapannya harus step by step (alon-alon pokok kelakon, dalam istilah Jawa). Semoga bermanfaat.

Kencong. Malam Idul Adha 1442 H./19 Juli 2021 M.

Referensi :

موهبة ذى الفضل ج 4 ص 698
(قوله فلا يجوز له) اى للناذر تفريع المتن (قوله اكل شيئ منها) اى من الاضحية المنذورة وما الخق بها ولا اطعام الاغنياء منها كما بحثه ابن قاسم

شرح الياقوت النفيس ص 825
تنبيه : من اشترى شاة و قال : (هذه أضحيتى ) … لزمته و وجب التصدق بلحمها كله , إنما بعض المتأخرين قال : لا تجب بالنسبة للعامة لأن العامي معذور لأنه لا يدرك معنى ما قاله و لا يقصد به النذر و العبارة إنشاء لا إقرار يعنى غير مقر بأنها أصبحت أضحيته , بمعنى : هذه الشاة التي أريد أن أضحي بها . و فرق بين نية النذر و نية الإخبار كما قال في حاشية الياقوت : ينبغي أن يكون محله ما لم يقصد الإخبار

Baca juga  Cryptocurrency ₿₿₿, Cara Lain Biar Kaya. Benarkah?

بغية المسترشدين – (ج 1 / ص 548)
(مسألة : ب) : ظاهر كلامهم أن من قال : هذه أضحية أو هي أضحية أو هدي تعينت وزال ملكه عنها ، ولا يتصرف إلا بذبحها في الوقت وتفرقتها ، ولا عبرة بنيته خلاف ذلك لأنه صريح ، قال الأذرعي : كلامهم ظاهر في أنه إنشاء وهو بالإقرار أشبه ، واستحسنه في القلائد قال : ومنه يؤخذ أنه إن أراد أني أريد التضحية بها تطوعاً كما هو عرف الناس المطرد فيما يأخذونه لذلك حمل على ما أراد ، وقد أفتى البلقيني والمراغي بأنها لا تصير منذورة بقوله : هذه أضحيتي بإضافتها إليه ، ومثله : هذه عقيقة فلان ، واستشكل ذلك في التحفة ثم ردّه ، والقلب إلى ما قاله الأذرعي أميل

الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (4/ 2739)
ويجوز الأكل من الأضحية ابمتطوع بها، اما المنذورة او الواجبة بالشراء عند الحنفية فيحرم الأكل منها… اما عند المالكية والحنابلة فيكوز الأكل من المنذورة والمتطوع بها. والمستحب أن يجمع المضحي في حالة التطوع أو في حالة النذر عند المالكية والحنابلة بين الأكل منها والتصدق والإهداء. ولو أكل الكل بنفسه أو ادخره لنفسه فوق ثلاثة أيام، جاز مع الكراهة عند الحنفية والمالكية

الفقه على مذاهب الأربعة
الحنابلة قالوا : يسن أكل ثلث الأضحية وإهداء ثلثها ولو لغني والتصدق بثلثها على الفقراء ولا فرق في ذلك بين المعينة والمنذورة وغيرهما إلا أن المعينة والمنذورة لا يجوز إهداء الكافر

شرح الروض المربع، حنبلي
(وسن أن يأكل) من الأضحية (ويهدي ويتصدق أثلاثا) (٣) فيأكل هو وأهل بيته الثلث، ويهدي الثلث، ويتصدق بالثلث، حتى من الواجبة (٤) .