Kerjasama Lintas Lembaga, INAIFAS Berbagi Bingkisan Yatim

Kerjasama Lintas Lembaga, INAIFAS Berbagi Bingkisan Yatim

Bulan ramadhan ini INAIFAS kembali membuat terobosan. Kali ini program menyediakan bingkisan lebaran bagi anak yatim.

“Kami mengundang adik-adik yatim untuk datang ke kampus, kami antar menggunakan ISUZU ELF ke pasar Kencong, dan kami bebaskan untuk memilih kebutuhan lebaran sesuai dengan selera mereka di toko yang sudah ditunjuk menjadi rekanan,” kata Rijal Mumazziq Z, rektor Inaifas.

ISUZU ELF : Rombongan anak yatim bersama wali

Cara seperti ini dipakai karena lebih efektif, sebab anak bisa memilih busana secara leluasa sesuai selera. Selebihnya, belanja di pasar tradisional juga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat bawah. Sebab, inaifas juga memiliki tiga toko rekanan yang diajak bekerjasama dalam program ini.

Musholla INAIFAS : Tempat berkumpul anak yatim bersama wali beserta tim UPZIS INAIFAS

Menurut Gus Zuhairuzzaman, Ketua UPZIS INAIFAS yang menangani teknis penyelenggaraan program ini, total penerima 25 anak. Masing-masing mendapatkan jatah belanja maksimal Rp 400.000. Mereka bebas memilih busana lebaran sesuai seleranya. Setelah berbelanja mereka juga masih mendapatkan uang saku.

Menurut Gus Zuhair, program yang dihelat pada Senin (10/05) ini bisa terlaksana karena kerjasama dengan beberapa lembaga. Antara lain dengan Yayasan Nurul Hayat Surabaya melalui Ustadz Heri Latief, NU-Care LAZISNU Jawa Timur melalui Gus A Afif Amrullah dan NU-Care LAZISNU Kencong melalui Ustadz Imam Syafi’i .

“Terimakasih atas partisipasinya. Semoga tahun depan bisa menyelenggarakannya lebih masif lagi,” tutur Gus Zuhair.

Raih Nilai Terbaik Tes Kualifikasi, INAIFAS Beri Beasiswa Selama Empat Tahun

Raih Nilai Terbaik Tes Kualifikasi, INAIFAS Beri Beasiswa Selama Empat Tahun

Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah Kencong Jember (INAIFAS) menggelar MoU dengan enam mahasiswa baru penerima beasiswa SPP 8 semester selama empat tahun di Gedung Rektorat INAIFAS, Jalan Semeru No.09 Kencong Jember, Selasa siang (7/7/2020).

MoU ini diselenggarakan dalam rangka penandatanganan pakta integritas oleh enam mahasiswa terbaik peraih beasiswa jalur tes kualifikasi gelombang 1 yang dilaksanakan akhir bulan Juni lalu.

Asnawan, M.S.I selaku Wakil Rektor I INAIFAS (Bidang Akademik) dalam sambutannya menjelaskan bahwa beasiswa yang diberikan tersebut merupakan hasil keputusan bersama dan menganggap 6 calon mahasiswa penerima beasiswa ini memiliki keunggulan tersendiri, khususnya di bidang akademik.

” Tentunya beasiswa ini tidak serta-merta kita berikan, karena pimpinan melalui Kaprodi akan terus mengawal dan memantau prestasi akademik adik-adik calon mahasiswa sampai selesai di akhir perkuliahan “Tutur Asnawan.

Lebih lanjut, Asnawan berharap kepada 6 calon mahasiswa penerima beasiswa tersebut ketika sudah resmi menjadi mahasiswa INAIFAS untuk rajin kuliah, aktif di organisasi serta seluruh kegiatan kampus diikuti.

” Karena sudah tidak perlu lagi memikirkan biaya kuliah, tinggal fokus belajar, menulis, membaca, rajin kuliah, aktif di organisasi, sehingga kedepan dapat menjadi contoh bagi mahasiswa yang lain” Pungkas Asnawan.

Dalam sambutannya Rektor INAIFAS Kencong Rijal Mumazziq Zionis, M.H.I menambahkan bahwa mendapatkan beasiswa ini bukan sebuah langkah yang mudah, dalam hal ini menunjukkan bahwa 6 orang penerima beasiswa ini memiliki kecerdasan, dan keuletan sehingga bisa meraih nilai terbaik diantara lainnya.

Rijal berharap kedepan tetap mempertahankan keunggulan prestasi ini sampai berakhir kuliah di INAIFAS. Selain mempertahankan batas minimum nilai IPK 3.25, diantara 6 orang ini yang berhasil meraih nilai tertinggi pada tes kualifikasi gelombang 1, diharapkan terus meningkatkan prestasinya hingga mendapatkan IPK sampai 3.50 “

” Atau mungkin bahkan sampai 4.00, ya itu masuk jam sholat Ashar ” Ujar Rijal sambil tertawa.

Diakhir sambutan Rijal berpesan ketika sudah menjadi mahasiswa aktif. Setidaknya harus jadi aktivis kampus, selain aktif di ruang kelas juga aktif di dalam organisasi.

” Karena apa? yang pertama, masa kuliah ini adalah fase menjajaki masa transisi dari remaja menuju orang dewasa. Kedua, masa kuliah sebagai pijakan utama menentukan masa depan ” Kata Gus Rijal sapaan akrabnya

Rijal menjelaskan beberapa orang yang kini berkiprah aktif di masyarakat baik dalam organisasi kemasyarakatan maupun keagamaan, bisa dikatakan 90% manakala saat kuliah mereka aktif secara akademik dan juga keorganisasian.

Lebih lanjut, Aminullah, M.Pd selaku Ketua PMB INAIFAS menjelaskan beasiswa ini diberikan kepada 6 peserta tes kualifikasi dengan nilai tertinggi gelombang 1 baik hasil seleksi dari tes lisan maupun tes tulis.

” Seperti yang tercantum di SK Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru INAIFAS Nomor : 012/Pan.PMB/INAIFAS/VII/2020 Tentang PENETAPAN KELULUSAN MAHASISWA BARU DAN MAHASISWA YANG MENDAPATKAN BEASISWA PRESTASI
DALAM SELEKSI PENERIMAAN MAHASISWA BARU
INSTITUT AGAMA ISLAM AL-FALAH AS-SUNNIYYAH KENCONG JEMBER
TAHUN AKADEMIK 2020/2021
” Kata Aminullah saat diwawancarai.

Berikut nama-nama peserta penerima beasiswa dengan nilai terbaik diantaranya Siti Habibah Prodi AS (89,25), Aulia Chayyuna Nafiah Prodi PAI (87), Nadia Sviatus Sa’adiyah Prodi ES (86,5), Monika Dewi Sofianah Prodi PGMI (85), Anis Khoiru Rosyidah Prodi BKPI (83), dan Ahmad Muzaki Mursyid Prodi PBA (82,25

Ditengah acara tersebut 6 orang penerima beasiswa tersebut melaksanakan Ikrar Beasiswa yang diucapkan secara bersama-sama didepan Jajaran Pimpinan dan seluruh civitas akademika dalam suasana yang penuh khidmat.

Acara tersebut dihadiri oleh seluruh Jajaran Rektorat INAIFAS, Dekan, Kepala Program Studi, Panitia PMB INAIFAS dan perwakilan organisasi BEM INAIFAS Kencong Jember.

Foto : Adi Ginanjar
Penulis : Aziz Ar Rozi
Kontributor : BEM INAIFAS

Raih Nilai Terbaik, Mahasiswa ini Bebas Biaya Kuliah

Tiga remaja ini beruntung. Setelah melewati tahap seleksi calon mahasiswa INAIFAS, mereka dinyatakan lulus dengan nilai terbaik.

Muhammad Syamsul Huda (Bagorejo-Gumukmas-Jember), mendapatkan peringkat pertama. Sedangkan Ismi Rika Handayani (Gunungsari-Umbulsari-Jember) meraih peringkat kedua. Adapun Aulia Azka Azqiyah (Jombang-Jombang-Jember) meraih posisi ketiga.Masing-masing berhak mendapatkan beasiswa penuh selama 8 semester.

Ketiganya meraih nilai tertinggi dalam ujian seleksi masuk INAIFAS. Dari hampir 200 mahasiswa yang mendaftar gelombang I, Syamsul, Ismi, dan Aulia memiliki capaian nilai yang memuaskan.

“Kita berharap mereka bisa menjadi mahasiswa berprestasi yang kelak bisa mengharumkan nama almamater,” tutur Muhammad Aminullah, Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) INAIFAS.

Sedangkan Rijal Mumazziq Z, rektor kampus yang terletak di Kencong ini, menilai apabila pemberian beasiswa penuh ini sebagai wujud tanggung jawab kampus dalam mengapresiasi raihan nilai tertinggi dalam proses seleksi masuk INAIFAS.

Dalam prosesi penyerahan piagam yang dilaksanakan pada Selasa (9/7), para calon mahasiswa ini menandatangani Pakta Integritas yang berisi ketentuan khusus selama menjalani perkuliahan nanti.

Selamat atas prestasinya.

INAIFAS Raih Hattrick Juara Festival Al-Banjari

Nama INAIFAS kembali berkibar. Setelah Fathurrozi meraih juara II Musabaqah Qira’atil Kutub se-provinsi di IAIN Ponorogo, hari Kamis (25/04), Group al-Banjari Isyfa’ Lana INAIFAS mengukir prestasi di ajang Festival Hadrah Al-Banjari se-kabupaten Jember di hari yang sama.

Acara yang digelar oleh PP. Nurus Salam Ambulu, Jember, ini diikuti 40 grup, dari berbagai pesantren dan kampus di Jember. Masing-masing grup menampilkan kemampuan terbaiknya. “Lagu wajibnya Thalaal Badru Alaina. Kalau lagu pilihannya itu Ghonnat. Alhamdulillah kami bisa menampilkannya dengan baik.” kata Muhammad Ainurrofiq Hidayatullah, ketua delegasi INAIFAS. Kampus yang terletak di Kencong ini memang mengutus dua grup al-Banjari, Isyfa’ Lana dan Ighfir Lana.

Dalam acara tersebut, INAIFAS meraih dua kategori. Grup Isyfa’ Lana meraih juara II, sedangkan Ighfirlana meraih kategori vokalis terbaik.

Wakil Rektor III INAIFAS, Mohammad Dasuki, menilai apabila kemampuan dan talenta mahasiswa di kampusnya sudah baik. “Harus sering berlatih dan sering tampil kompetisi dalam berbagai ajang.” kata pria yang akrab disapa Abah Dasuki ini.

Dua hari berselang, tepatnya pada Sabtu (27/04) Grup Isyfa’ Lana INAIFAS kembali menjadi kampiun. Kali ini Juara III Festival Hadrah se-Kab Jember yang digelar di PP. Mambaul Ulum II, Panti, Jember. Rijal Mumazziq Z, Rektor INAIFAS, berharap apabila Hattrick Juara ini bisa menularkan semangat kepada mahasiswa lain untuk berprestasi di bidangnya masing-masing.

INAIFAS Jember Raih Penghargaan Kampus Terbaik

Jumat (26/4/2019), INAIFAS meraih penghargaan sebagai kampus terbaik di bidang Pengelolaan SDM. Penghargaan ini diperoleh dalam pagelaran KOPERTAIS Award di Hotel Premier Place, Sidoarjo. Dalam acara tersebut Pihak KOPERTAIS IV memberikan penghargaan kepada kampus level sekolah tinggi, institut, hingga universitas. Kategorinya berdasarkan pengelolaan SDM, pengelolaan jurnal, pengelolaan data EMIS dan PD DIKTI, serta pengelolaan data SIMKOPTA.

Penghargaan ini diberikan oleh Prof. Masdar Hilmy, Ph.D selaku Koordinator Kopertais IV, dalam Rapat Pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) KOPERTAIS Wilayah IV Surabaya. Dari 195 perguruan tinggi di bawah Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (KOPERTAIS) IV yang meliputi Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, INAIFAS dianggap memiliki kriteria sebagai kampus yang punya progres bagus di bidang peningkatan kualitas SDM.

“Bagi kami, penghargaan ini adalah bagian dari apresiasi atas kerja keras tim INAIFAS dalam rangka peningkatan mutu SDM internal. Tentu dengan adanya penghargaan ini, kami bisa bekerja lebih baik lagi,” kata Rijal Mumazziq Z., Rektor INAIFAS Kencong, Jember. Melalui award ini, Rijal berharap agar tim INAIFAS senantiasa kompak dan bekerja profesional dalam upaya menjadi yang terbaik.

Sebagai Koordinator Kopertais IV, Prof. Masdar menilai apabila pemberian penghargaan ini untuk memacu peningkatan kualitas personal maupun institusi. Dirinya berharap agar kampus senantiasa berinovasi. “Sebab tantangan ke depan lebih bervariasi dan berat. Butuh upaya bersama-bersama meningkatkan mutu kita semua.” katanya disambut tepuk tangan peserta yang hadir mewakili institusi perguruan tinggi.

Sepakati Pengembangan Kelas Inklusi, INAIFAS Jalin Kemitraan dengan UNESA

Sepakati Pengembangan Kelas Inklusi, INAIFAS Jalin Kemitraan dengan UNESA

Dalam Focuss Group Discussion (FGD) antara INAIFAS Kencong Jember dan Universitas Negeri Surabaya, yang berlangsung pada Selasa (15/06), telah dicapai beberapa kesepakatan.

Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam Nota Kesepahaman dua belah pihak. Bapak Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd.I., Kepala LPPM INAIFAS, menjelaskan apabila LPPM UNESA dan unit PSLD (Pusat Studi Layanan Disabilitas) Prof. Budiyanto dan Dr. Ima Qurrotun Ain, sepakat dalam pengembangan dan pendampingan “Sekolah Ramah”. Program ini merupakan wadah khusus bagi pengembangan anak didik inklusi di Jember Selatan.

Untuk tahap awal, SDU Assunniyyah Kencong menjadi pilot project pengmebangan dalam pelayanan spesial anak berkebutuhan khusus ini. “Kami berharap apabila kerjasama ini bisa menjadi salah satu metode terbaik dalam pendampingan anak didik berkebutuhan khusus. Sebab, mereka juga punya hak yang sama dengan murid lain, hanya metodenya sedikit berbeda,” tutur Pak Rudi Masrukhin.

Dr. Ima Qurrotun Ain, sebagai Kepala PSLD Unesa juga berharap apabila kelak program pendampingan ini bisa dikembangkan di wilayah lain.

Menurutnya, terobosan ini dilakukan untuk meleburkan stigma masyarakat. Sekolah inklusi bukanlah sekolah SLB yang melayani anak difabel, namun menjadi lembaga pendidikan yang memanusiakan manusia.

“Artinya lembaga yang mengakomodir segenap karakteristik, keunikan, dan atribut keisitimewaan untuk dapat tumbuh, berkembang, dan berprestasi bersama tanpa ada pembatasan ruang ruang dan waktu.” kata Bu Ima.

“Semoga kerjasama ini bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi pihak yang terlibat. Sebab kami targetkan bisa melahirkan banyak Guru Pembimbing Khusus (GPK) melalui program ini” lanjut Prof. Budiyanto, yang juga Kepala LPPM UNESA, menimpali apa yang disampaikan Bu Ima. (arm)

Kerjasama INAIFAS dengan Yayasan Nurul Hayat Surabaya

Kerjasama INAIFAS dengan Yayasan Nurul Hayat Surabaya

Awalnya kami hanya saling komentar dan njempol di FB. Akhirnya tadi siang saya berkunjung ke kantornya, Yayasan Nurul Hayat Surabaya. Obrolan mengalir hangat. Sebagian besar malah berisi humor. Juga berbagi tips fundraising, memilih calon kriteria penerima bantuan, pemberdayaan kaum dhuafa, hingga trik tidak ngantuk saat perjalanan jauh. Terimakasih Ustad Heri Latief , Direktur Eksekutif Nurul Hayat.

Harus diakui, selama kurun 20 tahun terakhir yayasan ini berkembang pesat: dari menyediakan pesantren, layanan aqiqah, rumah yatim, pemberdayaan masyarakat melalui zakat, dan program sosial lainnya.

Secara bendera organisasi, Nurul Hayat netral. Tidak ke kanan, juga tidak ke kiri. Berusaha menjaga obyektifitas. Oleh sebagian Nahdliyyin, yayasan ini dianggap “minhum” karena dalam beberapa promosi produk dan program banyak melibatkan beberapa tokoh idola kaum Muhājirin. Sebaliknya, oleh kelompok Salafi, NH malah dianggap representasi NU, karena secara amaliah mayoritas pengurus NH memang beramaliah ala NU. Beberapa pengurus NU juga menjadi narasumber pengisi kajian rutin: dari KH. Abdurrahman Navis, KH. Choliq Tambakberas, KH. Khoiron Syuaib dan Kiai Ma’ruf Khozin, dan sebagainya.

Ketika saya posting program DAI MAHASISWA INAIFAS di fesbuk Februari silam ustadz Heri langsung inbox, menyatakan kesanggupan Nurul Hayat dalam menopang biaya transportasi pergi-pulang. Klik. Klop, sudah. Deal. Keberangkatan dai mahasiswa atas nama Luqman Hakim ke Kab. Tanahbumbu Kalimantan Selatan, seminggu silam, juga disokong oleh Nurul Hayat.

Menjelang Lebaran kemarin, dengan bekerjasama antara INAIFAS, LAZISNU Jatim LAZISNU Kencong, dan Nurul Hayat, kami bergerak membuat program Lebaran Untuk Yatim. Konsepnya berbagi bingkisan lebaran. Kami yang menyediakan dana, anak yatim dan salah satu orangtuanya berbelanja sesuai dengan pilihannya. Kami senang, anak dan ibunya bahagia.

InsyaAllah, Idul Adha besok, INAIFAS bekerjasama dengan beberapa lembaga di atas menyelenggarakan kurban di pelosok. Beberapa dosen dan mahasiswa INAIFAS akan membawa 1-2 ekor kambing ke kampung minus agama dan punya keterbatasan ekonomi di wilayah Jember selatan, lantas menyembelihnya dan membagikan dagingnya di wilayah tersebut. Dengan cara ini kami berharap penyebaran daging kurban bisa tepat sasaran dan merata.

Program lain yang hendak kami duplikasi adalah MATABACA alias Majelis Ta’lim untuk Abang Becak. Konsepnya, pengajian untuk para tukang becak. Ngaji dan makan-makan, juga disediakan bingkisan, dll. Ilmu agama dapat, bantuan kebutuhan keseharian juga diperoleh.

Alhamdulillah..! LPPM INAIFAS bisa bersilaturrahmi sekaligus “gogo” ilmu dengan LPPM UNESA

Alhamdulillah..! LPPM INAIFAS bisa bersilaturrahmi sekaligus “gogo” ilmu dengan LPPM UNESA

Giat tersebut sekaligus dalam kapasitas pendampingan program pengembangan unit “Sekolah Ramah”. Sebagai pilot projectnya kali ini adalah lembaga unggulan di Jember Selatan yaitu SDU Assunniyyah yang dikomandani gus Abdullah Muhlas.Dalam gelar sharing tersebut, Prof. Budi sebagai Ketua PSLD (Pusat Studi Layanan Disabilitas) yg merupakan unit dari LPPM UNESA berkomitmen akan bersama-sama melaksankan program tersebut. Sebagai wujud keseriusan, maka komitemen tersebut diikat dengan pakta perjanjian kerjasama (PKS).

Mudah-mudahan menuai barokah manfaat. Aamiin..!

Setiap anak lahir dengan atribut keistimewaannya.(Dari Akun FB-nya Bapak Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd.I. Kepala LPPM INAIFAS)

Penyerahan beasiswa Prestasi Aktivis IPNU-IPPNU/PMII INAIFAS

Penyerahan beasiswa Prestasi Aktivis IPNU-IPPNU/PMII INAIFAS

Selamat kepada peraih beasiswa Prestasi Aktivis IPNU-IPPNU/PMII INAIFAS. Format beasiswa ini ditujukan kepada para penggerak kedua organisasi ini yang meraih IPK tertinggi dalam capaian pembelajaran selama satu semester.

Prosesi penyerahan beasiswa secara simbolis oleh : Kanan – KH. SADID JAUHARI (Pengasuh PonPes Assunniyyah Kencong sekaligus ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Falah As-Sunniyyah) | Kiri – M. Bachrul Mutawassith (peraih beasiswa Prestasi Aktivis PMII INAIFAS)
Nama : M. Bachrul Mutawassith
Prodi  : Akhwalus Syakhsiyah (Hukum Keluarga Islam)
Semester  : IV
Alamat : Dusun Krajan 3 Desa/Kec. Jombang Kab. Jember
IPK : 3,91
Prosesi penyerahan beasiswa secara simbolis oleh : Kanan – Rijal Mumazziq Z., M.H.I. (Rektor INAIFAS KENCONG) | Kiri – Hanifatul Fitria (Peraih beasiswa berprestasi aktivis IPPNU INAIFAS)

Peraih beasiswa berprestasi aktivis IPPNU INAIFAS:

Nama : Hanifatul Fitria
Prodi : PAI (Pendidikan Agama Islam)
Semester : VI
Alamat : Kr. Semanding – Balung Jember
IPK : 3,71

Semoga bisa memacu para mahasiswa untuk aktif di organisasi tanpa menyampingkan prestasi. Selamat kepada rekanita Hanifa dan Sahabat Arul!

Pengiriman DAI MAHASISWA INAIFAS Kencong Jember (angkatan ke-3)

Pengiriman DAI MAHASISWA INAIFAS Kencong Jember (angkatan ke-3)

Hari ini saya mengantar Mas Luqman Hakim, mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah INAIFAS ke Bandara Juanda Surabaya. Pemuda kelahiran Banyuwangi ini berangkat ke Banjarmasin. Lanjut ke Desa Batu Meranti, Kec. Sungai Loban, Kab. Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Istimewanya, dia berangkat tepat di hari ulangtahunnya yang ke-21.

Bandara Juanda Surabaya – Luqman Hakim (Kiri) mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah INAIFAS, Rijal Mumazziq Z., M.H.I. Rektor INAIFAS KENCONG JEMBER

Di desa ini, selama setahun mendatang dia menjadi DAI MAHASISWA INAIFAS. Dia kami tugaskan untuk berkhidmah di Ponpes Daarul Ishlah Assyafiiyyah.

Pondok ini didirikan oleh suami istri alumni INAIFAS juga. Namanya Kiai Mushofa bin Badrus. Nama FB-nya Kang Shofa . Masih muda, kelahiran 1983, tapi punya ilmu tua dan pengalaman yang berjibun. Asalnya dari Karangrejo Gumukmas Jember. 2002 masuk di INAIFAS. Lulus 2008. Istrinya, Mbak Umi Latifah, adik kelasnya. Sejak 2010 keduanya nekat merantau di lokasi yang saat ini menjadi tempat berdakwahnya (perjuangannya merintis lahan dakwah dan mengembangkan pesantren akan saya tulis kapan-kapan).

Program DAI MAHASISWA INAIFAS adalah inisiatif dari KH. A. Sadid Jauhari, Pengasuh PP Assunniyyah Kencong Jember. Kami berusaha merealisasikannya. Konsepnya, mahasiswa INAIFAS selama setahun, ya setahun, kami kirim ke kawasan luar Jawa untuk mengabdi kepada masyarakat. Latihan serius menjadi kiai. Juga agar ilmu yang dia dapat selama ini segera diamalkan.

Program DAI MAHASISWA INAIFAS ini sudah berjalan di beberapa kawasan. Kang Fathurrahman dan Kang Imron Rosyidi, mahasiswa Prodi AS dan PAI, kami kirim ke Kab. Sarolangun Prov. Jambi, Januari silam. Keduanya mendampingi Komunitas Suku Anak Dalam. Di kawasan ini INAIFAS bekerjasama dengan Hai’ah Asshofwah Almalikiyah, jaringan para santrinya Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, yang secara teknis lapangan dikoordinir oleh para Hawary-nya, di antaranya Ustadz Umar Faruq alias Oemar Hawariy , Malang.

Selain di Jambi, INAIFAS juga mengirim Kang Syafri Syamsudin ke Aimas, Sorong Papua Barat. Di sini, Kang Syafri membantu mengelola Madrasah Diniyah al-Ibriz Iru Nigeiyah yang diasuh oleh Ustadz Agus Setyabudi , alumni PP. Raudlatut Thalibin Leteh Rembang. Dalam program dakwah di Kab. Sorong ini, INAIFAS bekerjasama dengan Persaudaraan Profesional Muslim Ahlussunah Wal Jamaah (PPM Aswaja) yang dipimpin oleh Mas Hari Usmayadi Cak Usma

Jika Kang Fathur, Kang Imron dan Kang Syafri sebelumnya mondok di PP. Mabdaul Ma’arif Jombang-Jember, kini Kang Luqman, santri PP. Assunniyyah yang berangkat. Dalam keberangkatan Kang Luqman ke Tanah Bumbu, Kalsel, INAIFAS bekerjasama dengan Yayasan Nurul Hayat Surabaya melalui Ustadz Heri Latief. Ustadz Heri juga menjamin agar kebutuhan tiket pulang pergi DAI MAHASISWA ini ke depannya disediakan oleh yayasannya. Kami punya dana titipan umat, INAIFAS punya program dakwah untuk umat. Kita sinergikan. Demikian kata Ustad Heri.

Tentu, agar program-program dakwah INAIFAS di kawasan luar Jawa berjalan, kami juga didukung oleh internal kampus melalui UPZIS (Unit Pengumpul Zakat Infaq dan Sedekah) INAIFAS yang dikepalai oleh Gus Zuhairuzzaman, juga oleh LAZISNU Jawa Timur yang diketuai oleh Mas A Afif Amrullah, Ummi Foundation melalui Mas Miftahus Surur, Penerbit Khalista melalui direkturnya, Kiai Ma’ruf Asrori; Mitra Buku Firdaus melalui big-bosnya, Gus Ahmad Firdausi, Penerbit Muara Progresif melalui Kaktoan Ach Tirmidzi Munahwan; yang selama semuanya ini mendukung kami dengan menyediakan buku-buku keislaman untuk keperluan dakwah ini serta perintisan perpustakaan di masing-masing kawasan dakwah.

Terimakasih atas kerjasamanya. Semoga membawa berkah bagi kita semua. Alfatihah

Gus Dur dan Pembelaannya Atas Palestina

Gus Dur dan Pembelaannya Atas Palestina

@ rijal mumazziq z

Foto ini saya dapatkan dari Mas Nuruddin Udien Hidayat , salah satu santri Gus Dur. Dari kiri Mr Chung Hwang Kwak, KH Abdurrahman Wahid dan Mr Taj Hamad dari IIFWP, selepas melewati barikade pasukan Israel, di Jalur Gaza. Foto ini diambil di depan markas pasukan Palestina yang berjarak kira-kira 300 meter dari pos pemeriksaan (check point) pasukan Israel.

Jika tidak salah, kunjungan tersebut dilakukan pada 19 Desember 2003. Di Tanah Air, hanya sedikit yang mengetahui lawatan istimewa di kota yang menjadi salah satu basis perjuangan rakyat Palestina itu.

Bersama beberapa penggerak dialog lintas iman dan didampingi anggota Kongres AS serta para jurnalis, Gus Dur berdialog dengan anggota parlemen dan pemuka agama Palestina. Pada kesempatan itu, Gus Dur juga dipersilakan berorasi.

Pada mulanya, pidato disampaikan dalam bahasa Inggris yang fasih, tetapi para tokoh Palestina kemudian meminta mengulangi penyampaiannya dalam bahasa Arab.

Gus Dur menyampaikannya dengan bahasa Arab yang sempurna sembari bernostalgia di masa muda saat kuliah di Al-Azhar, disertai kesan-kesannya saat tinggal di Arab, khususnya Mesir dan Irak.

Lebih lanjut, dirinya menyampaikan harapannya terkait nasib bangsa Palestina, yaitu kemerdekaan bangsa dan berdaulatnya sebuah Negara Palestina dan keadilan bagi seluruh rakyatnya.

Gus Dur melakukan kunjungan ini atas inisiatif pribadi, walaupun juga didukung dengan rombongan tamu asing lain. Posisinya sebagai mantan Presiden RI sangat strategis. Selain karena Indonesia sebagai sebuah negara muslim yang hingga kini menolak eksistensi Israel, Gus Dur juga dianggap representasi Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Uniknya, posisinya yang dekat dengan Shimon Peres Institute tak membuat tokoh Palestina alergi.

Menurutnya, langkah memerdekakan Palestina bisa dilakukan dengan cara membawa mereka duduk di dalam perundingan sekaligus menentukan konsesi politik di pihak Palestina. Harus kedua belah pihak, tidak mungkin hanya menggandeng salah satu kubu yang bertikai.

Sehari setelah kunjungan bersejarah di kota kelahiran Imam Syafii ini, Gus Dur menulis artikel yang beredar di beberapa media di Tanah Air. Cucu Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari ini menulisnya saat berada di Yerussalem, tertanggal 20 Desember 2003. Tak hanya mencibir Israel, Gus Dur juga blak-blakan mengkritik Palestina. Khususnya terkait dengan perpecahan internal di kalangan pejuang.

“Palestina tidak memiliki kepemimpinan yang tangguh dan para pemimpin mereka saling bertengkar dalam perbedaan strategi dan garis perjuangan. Inilah yang harus mereka koreksi untuk diperbaiki dalam waktu dekat ini. Bagaimanapun juga, harus ada strategi perjuangan bagi sebuah bangsa, agar supaya segala macam energi dan kemampuan yang dimiliki bangsa itu dapat tersalur keluar menjadi alat perjuangan yang ampuh menghadapi lawan. Menurut penulis, strategi itu adalah perundingan yang lama dan berkepanjangan dengan pihak Israel, untuk memperjuangkan kemerdekaan sebagai negara dan keadilan.” tulis Gus Dur dalam sebuah artikel berjudul ‘Arti Sebuah Kunjungan’.

Meski mengkritik elit Palestina (dan Israel), Gus Dur menggarisbawahi perjuangan dan kegigihan rakyat Gaza melawan senjata modern Israel. “Bagi penulis, Gaza adalah sumber perlawanan terhadap penjajahan, dan alangkah indahnya jika perlawanan itu tidak hanya mengambil bentuk fisik saja, melainkan juga perlawanan kultural terhadap keadaan,” tulis Gus Dur dalam kolomnya tersebut.

Kunjungan ini bernilai strategis. Selain bisa diterima kedua belah pihak, Gus Dur berusaha membuka kebuntuan yang beberapa kali terjadi pasca upaya diplomatik sejak era Yasir Arafat dan Yitzhak Rabin dalam Perjanjian Oslo II, 1994.

Tindakan melibatkan diri di arena perang dua negara yang tidak akur selama lebih dari 60 tahun tersebut tentu saja juga berisiko. Kita masih ingat caci maki yang senantiasa tertuju kepada Gus Dur karena dekat dengan tokoh-tokoh Israel dan Yahudi, juga kunjungannya ke Israel, 1994, yang menghebohkan itu.

Dalam buku Damai Bersama Gus Dur (2010), Djohan Effendi, sahabatnya, menjelaskan dua alasan Gus Dur mengapa harus melibatkan diri dalam upaya damai dua negara ini, dan gagasannya membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Pertama, Gus Dur ingin memastikan kapitalis George Soros, yang keturunan Yahudi, tidak mengacaukan pasar modal. Kedua, ingin meningkatkan posisi tawar Indonesia di Timur Tengah, sebab sebagai sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim, sudah sewajarnya melibatkan diri secara aktif dalam merajut perdamaian di sana.

Gus Dur tampak percaya diri dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki Indonesia. Ide Gus Dur simpel. Indonesia mustahil bisa berperan dalam perdamaian Palestina dan Israel jika tidak menjalin hubungan diplomatik dengan keduanya.

Di sisi lain, tiga tahun sebelum kunjungannya ke Gaza, ketika bertemu dengan Presiden Palestina Yasser Arafat, dalam sebuah kunjungan kenegaraan resmi ke Indonesia (16/08/2000), Presiden Gus Dur selaku kepala negara menegaskan bahwa Indonesia terikat kepada keputusan yang dulu, yaitu bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan hak untuk mencapai perdamaian di Palestina ada di tangan rakyat Palestina sendiri. “Yang dalam hal ini tentu diwujudkan dalam bentuk keputusan-keputusan atau konferensi OKI, PBB, dan lain-lain,” ujar Presiden Gus Dur saat jumpa pers bersama Yasser Arafat.

Bagi Gus Dur, mewujudkan perdamaian di wilayah Palestina bisa dimulai dari kiprah Indonesia sebagai juru damai kedua belah pihak. Sebagai juru damai, Indonesia harus bisa dipercayai oleh Palestina maupun Israel untuk menjadi penengah. Langkah ini sudah dimulai olehnya, antara lain dengan menjadi anggota Simon Peres Institute, Israel. Sebuah langkah strategis yang sebenarnya bisa menjadi jembatan antara Yerussalem dan Tel Aviv.

Walaupun ide Gus Dur tidak bisa direalisasikan, namun perjuangannya dalam merajut perdamaian tidak pupus. Kunjungan di Gaza, kota kecil yang menjadi sentra perlawanan para pejuang, khususnya Hamas dan faksi Jihad Islam juga menjadi titik tolak membuka kejumudan dan alih strategi. Dirinya memang sudah tidak lagi menjadi presiden, namun visinya tetap hidup dan diperjuangkan dengan risiko yang berat. Sejak ada Perjanjian Camp David antara Mesir-Israel, 1978, maupun perjanjian Oslo I, 1993, yang mengakui adanya Otoritas Palestina, maupun perjanjian antara Yordania-Israel di tahun 1994, tampaknya Gus Dur memilih pola win-win solution dalam melihat masalah Palestina dan Israel ini.

Lantas bagaimana memulai inisiatif mempertemukan kubu Palestina dan Israel? Ahmad Suaedy, pimpinan Wahid Institute, menyatakan bahwa dirinya pernah mendampingi seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) bidang advokasi Anti-Semitisme untuk kawasan Timur Tengah, yang juga seorang Yahudi, untuk bertemu Gus Dur di kantor PBNU. Diplomat itu lalu bertanya: Apa sebaiknya yang harus dilakukan untuk mencapai perdamaian Israel – Palestina saat ini?

“Tegakkan keadilan dan berikan hak-hak Palestina kepada mereka, baru bicarakan perdamaian!!.” jawab Gus Dur tegas.

Wallahu a’lam bishshawab

Kriteria Manusia Terbaik Menurut Rasulullah

Kriteria Manusia Terbaik Menurut Rasulullah

Oleh: Rijal Mumazziq Z 

  اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ  أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً،  لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ .أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَأَشْهَد أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِي اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ ، قالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ  وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Alhamdulillah, setelah melaksanakan ibadah puasa selama sebulan, hari ini kita diberi kenikmatan oleh Allah dalam menjalankan Shalat Idul Fitri dalam keadaan sehat wa afiat. Kita berharap, apabila rahmat dan maghfirah-Nya senantiasa menaungi kita semua hingga kita berpulang dalam keadaan khusnul khatimah.

Keberadaan kita di masjid ini semoga menjadi dua pertanda baik. Pertama, kita hadir sebagai hamba Allah yang bersyukur, dan karena syukur ini Allah senantiasa menambah kenikmatan bagi kita. Kedua, kita senantiasa berusaha agar Allah menaikkan derajat kita pada level al-muttaqin, atau hamba yang senantiasa menjauhi larangan-Nya sekaligus melaksanakan segala ketaatan kepada-Nya. Kalaupun kita belum sampai pada derajat taqwa ini, marilah kita senantiasa berproses menjadi hamba yang patuh menjalankan ketentuan dari Allah dan Rasulullah, serta berusaha menjadi muslim yang baik. Tiada kemuliaan yang kita raih, kecuali dengan cara meningkatkan kualitas keimanan kita hingga menjadi orang yang bertaqwa.

Jamaah Shalat Idul Fitri yang Berbahagia

Walaupun saat ini kita masih diberi ujian oleh Allah berupa pandemi Covid-19, namun hal ini tidak berarti kita mengendorkan semangat kita dalam menjalankan syariat Islam. Dan, dalam kondisi mematuhi protokol kesehatan sebagaimana kita jalankan pada pagi hari ini, semoga menjadi bagian dari ikhtiar kita dalam menghambat penyebaran virus ini, hingga pada saatnya nanti Allah menghilangkan Covid-19, dan kita kembali beraktivitas secara normal sebagaimana semula.

Dalam Idul Fitri kali ini dan seterusnya, untuk menunjukkan apabila kita bisa menjadi muslim yang baik dan bertanggungjawab, maka ada beberapa tips dari Rasulullah agar kita menjadi manusia berkualitas. Mari kita cermati satu persatu agar kita bisa mengamalkannya dalam keseharian.

Pertama, manusia yang berkualitas, menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah mereka yang panjang umurnya, dan baik amal perbuatannya. Hal ini sesuai dengan jawaban Rasulullah manakala ditanya oleh salah seorang sahabatnya.


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ ».

Artinya: “Abdurrahman bin Abu Bakrah meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu anhuma, bahwa ada seorang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling baik?”, beliau menjawab: “Barangsiapa yang panjang umurnya dan baik perbuatannya”, ia bertanya (lagi): “Lalu manusia manakah yang paling buruk?”, beliau menjawab: “Barangsiapa yang panjang umurnya dan buruk perbuatannya.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi tadi menunjukkan tips pertama dari Rasulullah, yaitu manusia yang berkualitas, yang punya potensi unggul dalam dirinya adalah yang panjang umurnya serta baik perbuatannya. Demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, kita layak berpikir, apakah kita bagian dari manusia yang baik ini? Selama hidup, kita lebih banyak berbuat baik atau buruk? Dengan karunia usia hingga saat ini, sejauh manakah kebermanfaatan kita bagi sesama? Bagaimanakah kualitas ibadah kita? Bagaimanakah kita menghabiskan umur kita? Untuk hal yang sia-sia belaka, atau justru untuk kebermanfaatan bagi sesama?

Oleh karena itu, setelah melewati Ramadan pada tahun ini, mulai Idul Fitri saat ini, kita harus berusaha menjadi salah satu tipikal manusia terbaik versi Rasulullah yang sudah saya jelaskan tadi.

Kedua, manusia yang berkualitas, menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah mereka yang paling diharapkan kebaikannya dan orang lain pun merasa aman dari keburukannya. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan:

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan (orang lain) merasa aman dari kejelekannya.” (HR. Attirmidzi)

Hadis ini jelas menilai, mereka yang berkualitas adalah yang senantiasa menebarkan kebaikan. Sebaliknya, yang banyak berbuat buruk adalah mereka yang tidak memiliki kualitas. Di lingkungan kita, ada orang yang kehadirannya senantiasa membawa dampak positif. Sebaliknya, ada juga yang ketika namanya disebut, orang lain enggan, bahkan menjauh karena dikenal dengan tabiat buruknya.

Hadirin Hadirat yang Berbahagia, sudah seharusnya apabila anugerah usia panjang yang diberikan oleh Allah, kita isi dengan kegiatan positif yang bisa menjadikan diri kita berkualitas sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan oleh Allah

Ciri ketiga dari manusia yang berkualitas menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah mereka yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya.”

Tidak ada kata terlambat bagi seorang muslim mempelajari al-Qur’an.  Walaupun dia sudah berumur dan terbata-bata mengeja kalimat dalam al-Qur’an, namun dia tetap masuk dalam kategori manusia yang berkualitas. Walaupun makharijul huruf-nya masih kacau dan tajwidnya masih belepotan, asalkan dia tekun, niscaya Allah akan memberinya pahala atas dua hal, yaitu pahala atas kegigihannya belajar dan pahala atas setiap huruf yang dia baca.

Ada banyak kisah indah bagi para pembelajar al-Qur’an, dimana ketika mereka berusaha keras mempelajari dan menghafalnya, namun Allah belum mentakdirkannya hafal, justru anak cucunya lah yang diberi kemudahan dalam menghafalkannya. Demikian pula dengan para pengajar al-Qur’an, seringkali Allah memberi mereka rizqi min haitsu la yahtasib, atau Allah senantiasa memberkahi kehidupan keluarganya, dijauhkan dari bala’, dan memberkahi kehidupan anak cucunya. Kita berharap, semoga masuk kategori mereka yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.

جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين كل عام وأنتم بخير. آمين

 بسم الله الرحمن الرحيم، وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ.  وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وارْحَمء وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Khutbah II  

 اللهُ اَكْبَرْ (٣×) اللهُ اَكْبَرْ (٤×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ  اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ.

 اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا   أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ  

 اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Gugatan atas Larangan Visualisasi Fisik Nabi dan Cara Mencintai Beliau Melalui Seni

Gugatan atas Larangan Visualisasi Fisik Nabi dan Cara Mencintai Beliau Melalui Seni

@ rijal mumazziq z. m.h.i (Rektor INAIFAS KENCONG JEMBER.

Kali ini sengaja saya cantumkan jabatan dan gelar, biar pembaca awam dan non-muslim tahu kapasitas saya sedang menyindir seorang profesor, dan saya siap mempertanggungjawabkan secara akademik ilmiah. Tentu ini juga bagian dari promosi kampus khakhakhakha)

***

Ini adalah foto karya Rudolf Franz Lehnrat yang diambil di Tunisia, sekira tahun 1906. Wajah yang fotogenik dan magnetik. Kemudian foto ini dilukis ulang dengan sorban hijau melilit, dan…..diberi narasi jika ini adalah visualisasi wajah Baginda Rasulullah saat remaja. Alamaaaak!

Foto dan lukis adalah karya seni. Namun estetika tetap memiliki panduan etika, bagi saya. Kalaupun hingga saat ini dipercayai oleh segelintir orang kalau ini adalah karya seni yang mengekspresikan wajah Baginda Rasulullah saat remaja dan menemui Buhaira, saya tidak setuju. Beritanya saja hoaks. Anda setuju dengan ketidaksetujuan saya, silahkan. Nggak, juga no problem.

Yang pasti, jika fotografi bisa diselewengkan maknanya dan narasinya yang menjebak dan menyesatkan, apalagi dengan karya lukis manual, yang berbasis imajinasi senimannya.

Begini, soal obyek visual khususnya dalam bentuk lukisan, selalu saja hasilnya beda satu sama lain. Walaupun obyeknya sama. Kita bisa mengecek lukisan wajah Pangeran Diponegoro. Antara sketsa yang dibuat secara langsung Adrianus Johan Bik, dengan sketsa arang karya seniman Yogya, juga dengan lukisan yang dibikin Raden Saleh, juga Basuki Abdullah, karakter wajahnya beda satu dengan yang lain. Yang valid yang mana? Bik dan pendukungnya bisa mengklaim jika karyanya yang paling valid sebab dilukis saat Diponegoro dipenjara di Batavia sebelum ke Manado.

Oke, jika satu sosok biasa saja bisa ada banyak versi lukisan, maka tentu rasional jika para ulama menyatakan larangan penggambaran visual Rasulullah ini.

Sudah ada beberapa penjelasan ulama tentang hal ini. Bisa kita lacak, termasuk pendapat Prof Quraish Shihab dan ulama Indonesia lain.

Kalaupun di al-Qur’an dan hadits tidak ada dalil spesifik larangan melukis pribadi Baginda Rasulullah, maka hal ini tentu tidak berarti dibolehkan. Ada perangkat ushul fiqh dan etika tasawwuf yang mengkaji-nya melalui pola istidlal yang khas. Misalnya makan umbi gadung tidak ada aturan larangan di al-Qur’an dan hadis. Apakah umbi ini haram? Tidak. Apalah bukan ini boleh disantap? Bukankah aturan teknisnya tidak dibahas di kitab suci dan hadits nabi? Silahkan dinikmati. Asalkan diolah dulu, agar racunnya ilang.

Dan, ketika kita memahami aturan dalam sains melalui pendapat para ilmuwan, maka sudah sewajarnya kita juga menerima pendapat para ulama dalam soal ini. Minimal penjelasan dari Prof. Quraish Shihab yang lebih moderat.

Kalaupun dalam ranah sosiologis-antropologi dan seni “dibolehkan” saja menggambarkan visualisasi tokoh sakral, maka itu wilayah yang masih diperdebatkan karena berbeda irisan dengan sisi sakralitas dan esoterik ajaran agama. Ini sama halnya, saya boleh makan bebek goreng dalam wilayah kuliner dan itu mendapatkan restu dari para koki dan para Abu Lahap (tukang makan hahaha). Mereka akan menyajikan komposisi bahan rempah dalam masakan bebek hingga hasilnya maknyus dan menagihkan.

Namun tentu berbeda jika saya konsultasi dengan Dokter Heri Munajib . Dia akan melarang karena kandungan kolesterol dalam tubuh saya sudah melampaui ambang batasnya. Di sinilah perlu kedewasaan menimbang perbedaan sudut pandang dalam kajian dan metodologinya.

Soal menikmati hasil berkesenian dalam batas etika saya suka, sangat suka dua karya sineas muslim. Mustafa Akkad melalui Arrisalah (The Message). Film drama-epos-historis yang dirilis 1976. Film ini dirilis dalam dua edisi, Arab dan Inggris. Akkad tidak terjebak dalam menye-menye memvisualisasikan tubuh dan suara Baginda Rasulullah. Justru dia dengan cerdas berkesperimen dengan tidak sekalipun menampilkan suara dan fisik Baginda Rasulullah. Sebagai gantinya, penulis skenario berusaha menempatkan agar para aktor melakukan dialog cerdas, dan penonton bisa secara efektif mendapatkan efek dramatis atas kondisi keseharian para sahabat Baginda Rasulullah. Silahkan ditonton lagi film bagus ini. Karya seni yang luar biasa.

Anthony Quinn, aktor watak Hollywood yang juga memerankan Syekh Umar Mukhtar Libya dalam “Lion of The Desert” (1981) justru menjadi bintang utama dalam memerankan Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, pamanda Baginda Rasulullah. Irene Papas juga tak kalah cemerlang memerankan sosok Hindun binti Utbah, dan Johny Sekka sangat legendaris memerankan Bilal bin Rabah dengan adegan ikoniknya, adzan di atas punggung Ka’bah. Allah…Allah…Allah….mata saya selalu mengembun jika menyaksikan adegan ini.

Karya seni lain ditangani oleh Majid Majidi dalam Muhammad: The Messenger of God (2015). Sutradara Iran itu ciamik dalam berkarya dan naskahnya yang elok ditulis bersama dengan Kambuzia Partovi. Film tersebut berlatar belakang abad keenam di era masa kecil Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Majid Majidi dengan cerdas tidak terpaku pada dimensi fisual fisik calon Nabi bernama Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Dia dengan cerdas menampilkan suasana bangsa Arab, penyerbuan Ka’bah oleh pasukan Abrahah, dan konteks zaman detik-detik kelahiran kandidat Rasulullah.

“Saya membuat film ini untuk memerangi gelombang baru Islamofobia di dunia Barat. Interpretasi Barat atas Islam adalah penuh kejahatan dan terorisme,” ujar Majidi saat diwawancara Hezbollah Line, majalah konservatif di kalangan Iran.

Bagi saya, karya Majid Majidi adalah di antara yang terbaik. Baik dalam alur cerita, spesial efek, hingga penggunaan yang kamera artistik. Dia melakukannya dengan dukungan bujet bongsor, dan setelah dirilis, walaupun tetap ada kontroversi di sana sini, namun tak mengurangi hasil cipta karyanya. Epik, betul!

Di Bollywood, karya ini hanya bisa dibikin oleh sutradara favorit saya, Sanjay Leela Bhansali. Dan, di Hollywood, sentuhan sinematografi semacam ini urusan Francis Ford Coppola, saya kira.

Oke, kembali ke bahasa awal. Bagi saya, larangan memvisualisakan dalam bentuk lukisan (apalagi patung) Baginda Rasulullah adalah hal yang estoreris. Ini wilayah etika. Bisa juga ranah estetika jika berkaitan dengan sublimasi kerinduan kepada Baginda Rasulullah. Apakah Islam melarang seni berekspresi dan ekspresi berkesenian yang berkaitan dengan kerinduan dan kecintaan terhadap Baginda Rasulullah? Tentu tidak, Ferguso, tentu tidak. Umat Islam masih bisa membaluri hatinya dengan cinta yang ekspresif. Antara lain, seni suara, kaligrafi, arsitektur, dan untaian syair-syair. Ini hanya serpihan bahasan. Banyak buku yang melakukan pendekatan simpatik dan historis terhadap tema kesenian dalam Islam ini. Silahkan cari dan baca!

Sebagai wong ndeso yang dididik dalam kultur muslim tradisional, saya menikmati betul ekspresi kerinduan kepada Baginda Nabi melalui musik dan seni tarik suara. Saya selalu menikmati madah Rasul yang disenandungkan dengan dua cara. Cara pertama, ungkapan “mahabbah/kecintaan” kepada Baginda Rasulullah yang disenandungkan dengan rancak melalui grup rebana al-Banjari, pola hymne-ritmik dalam pembacaan Kitab Maulid (al-Barzanji, ad-Diba’i, Simtud Duror dan Ad-Dhiyaul Lami’). Cara kedua, ekspresi “Kerinduan Kepada Baginda Rasulullah” dalam pola suara bariton yang mengiringi gerak tari rodat jamaah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) di bawah naungan NU.

Bagi saya, ini sudah cukup melampiaskan kecintaan dan kerinduan kepada Baginda Rasulullah, tanpa perlu menggugat sana-sini untuk menghadirkan dalil “kebolehan” memvisualisasikan wajah dan fisik Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Di akhir tulisan, izinkan saya mengutip melodi indah yang dilagukan oleh musisi India, Adnan Sami dengan pola Qawwali, sebuah bentuk dari musik devosional kaum sufi.

Adnan Sami, musisi bertubuh tambun yang setelah sukses berdiet malah mirip Robert Downey Jr, menyenandungkannya dengan penuh penghayatan dalam sebuah adegan di film bagus, Bajrangi Bhaijaan (2015).

Bajrangi alias Pawan Kumar yang Hindu (diperankan oleh Salman Khan) mengantar bocah cilik Munni/Shahidah yang muslim (diperankan dengan mengesankan oleh Harshaali Malhotra), ziarah ke makam Maulana Zainuddin, wali agung yang makamnya ada di bukit indah di Kashmir. Saat itulah, Adnan Sami menyenandungkan lirik indah gubahan Kausar Munir. Syair ekspresif kecintaan, kerinduan, dan harapan kepada Baginda Rasulullah.

Lagu ini berjudul “Bhar Do Jholi Meri Ya Muhammad”. Artinya, Kumohon restumu, Duhai nabi Muhammad, yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Mas Ackiel Khan dan Mas Fauzi/ Uziek . Indah banget, syair yang disenandungkan ini. Mempesona!

Tere Darbaar Mein Dil Thaam Ke Woh Aata Hai (Mereka datangi pintu gerbangmu dengan tangan menengadah)

Jisko Tu Chaahe Hey Nabi Tu Bhulata Hai (Dengan menyebut nama Nabi kekasih hatimu.)

Tere Dar Pe Sar Jhukaaye Main Bhi Aaya Hoon (Akupun datang ke pintu mu dengan wajah tertunduk)

Jiski Bigdi Haye Nabi Chaahe Tu Banata Hai (Karena engkaulah yang mampu mengubah nasib hambamu yang hina ini)

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (4x) (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

Band Deedon Mein Bhar Daale Aansu (Mataku basah dengan air mata)

Sil Diye Maine Dardo Ko Dil Mein (X2) (Di hatiku penuh dengan derita)

Jab Talak Tu Bana De Na Tu Bigdi (Sampai kau merubah nasibku yang rusak)

Dar Se Tere Na Jaaye Sawaali-Aku tidak akan meninggalkan pintumu

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (2x) (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

Khaali..(Hampa)

Bhar Do Jholi.. Aaka Ji (Penuhi harapanku.. Ya tuhan)

Bhar Do Jholi.. Hum Sab Ki (Penuhi harapanku.. pujaan semua orang)

Bhar Do Jholi.. Nabi Ji (Penuhi harapanku.. wahai Nabi)

Bhar Do Jholi Meri Sarkar E Medina (Penuhi harapanku wahai yang terpuji)

Lautkar Main Naa Jaunga Khaali (Aku tak mau kembali dengan tangan hampa)

Khojte Khojte Tujhko Dekho (Lihatlah kondisiku..)

Kya Se Kya Ya Nabi Ho Gaya Hoon..(2x) (Saat mencarimu, wahai Ya Nabi)

Bekhabar Darbadar Phir Raha Hoon (Tanpa sadar, aku berkelana dari pintu ke pintu)

Main Yahan Se Wahan Ho Gaya Hoon..(2x) (Tanpa alasan, aku berkelana di sana kemari)

De De Ya Nabi Mere Dil Ko Dilasa (Hibur hatiku wahai Nabi)

Aaya Hoon Door Se Main Hoke Ruhasa..(2x) (Aku datang dari jauh, pebuh harapan)

Kar De Karam Nabi Mujhpe Bhi Zara Sa (Berikan sedikit anugerahmu pada hamba)

Jab Talak Tu..-Hingga kau..Jab Talak Tu.. (Hingga kau…Panaah De Na Dil Ki-Menjawab doaku)

Dar Se Tere Na Jaaye Sawaali (Aku takkan tinggalkan tempat sucimu)

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

Bhar Do Jholi Meri Sarkar E Medina (Penuhi harapanku wahai yang terpuji)

Lautkar Main Naa Jaunga Khaali (Aku tak mau kembali dengan tangan hampa0

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

Jaanta Hai Na Tu Kya Hai Dil Mein Mere (Engkau tau maksud hatiku kemari)

Bin Sune Gin Raha Hai Na Tu Dhadkane.. (2x) (Engkau mampu mendengar bisik hatiku)

Aah Nikhli Hai Toh Chand Thak Jayegi (Semoga hembusan doaku mencapai langit)

Tere Taaron Se Meri Duaa Aayegi..(2x) (Dan bintangpun akan berdoa untukku)

Aye Nabi Han Kabhi Toh Subah Aayegi (Ya Nabi, pagi pasti akan menjelang)

Jab Talak Tu Sunega Na Dil Ki (Hingga engkau mendengar setiap doaku)

Dar Se Tere Na Jaaye Sawali (Aku takkan meninggalkan tempat sucimu)

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

De Taras Kha Taras Mujhpe Aaka (Kasihanilah aku, ya Tuhan!)

Ab Laga Le Tu Mujhko Bhi Dil Se (2x) (Rangkullah aku ke hatimu sekarang)

Jab Talak Tu Bana De Na Tu Bigdi (Sampai kau merubah nasibku yang rusak)

Dar Se Tere Na Jaaye Sawaali (Aku tidak akan meninggalkan pintumu)

Bhar Do Jholi Meri Ya Mohammad (Kumohon restumu, Ya nabi Muhammad)

Lautkar Main Naa Jaunga Khali.. (Aku takkan kembali dengan tangan hampa)

Bhar Do Jholi.. Aaka Ji (Penuhi harapanku.. Ya tuhan)

Bhar Do Jholi.. Hum Sab Ki (Penuhi harapanku.. pujaan semua orang)

Bhar Do Jholi.. Nabi Ji (Penuhi harapanku.. wahai Nabi)

Bhar Do Jholi Meri Sarkar E Medina (Penuhi harapanku wahai yang terpuji)

Lautkar Main Naa Jaunga Khaali (Aku tak mau kembali dengan tangan hampa)

UPZIS INAIFAS : Alhamdulillah. Selamat kepada dua mahasiswa penerima beasiswa

UPZIS INAIFAS : Alhamdulillah. Selamat kepada dua mahasiswa penerima beasiswa

Hengky Leo Van Basten, Prodi Ekonomi Syariah. Diserahkan oleh Ketua UPZIS, Gus Zuhairuzzaman.Umi Nihayah, Prodi PGMI. Diserahkan oleh Wakil Rektor III, Bapak Mohammad Dasuki.

Terimakasih kepada para donatur yang sela ini memberi kepercayaan kepada UPZIS INAIFAS untuk pendistribusian dananya.Semoga UPZIS senantiasa menebarkan manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat.

Penyerahan beasiswa secara simbolis oleh Wakil Rektor III, Bapak Mohammad Dasuki(kiri), penerima beasiswa Umi Nihayah(kanan)
Penyerahan beasiswa secara simbolis oleh Ketua UPZIS INAIFAS Gus Zuhairuzzaman(kiri), penerima beasiswa Hengky Leo Van Basten(kanan)