Bagikan sekarang

Oleh : Rijal Mumazziq Z

Kalau dapat titipan duit dari sahabat, yang statusnya bukan zakat, biasanya saya “ogah” menyalurkannya ke masjid. Saya memilih menyalurkan ke anak yatim, atau untuk nyangoni guru-guru ngaji, khususnya TPQ.

Mengapa? Masjid sudah kebanyakan uang, sampai takmirnya kadang bingung mau mentasharrufkan. Akhirnya “hanya” dipakai memperindah bangunan saja. Untuk pembangunan sumber daya manusia, ya minim.

Titipan dana sedekah, maupun titipan dana untuk anak yatim biasanya juga saya pakai melunasi biaya pendidikan dan membelikan kebutuhan sekolah, juga melunasi tanggungan syahriah mereka di TPQ. Pasalnya, banyak, sekali lagi banyak, anak-anak yatim yang punya tanggungan keuangan di sekolahnya maupun di TPQ. Kalaupun ada yang mondok, biasanya juga saya bayarkan untuk syahriah sekian bulan. Ini lebih praktis menjamin manajemen keuangan lembaga (yang ikut tersendat manakala ada tunggakan dari santri) dan juga keberlangsungan pendidikan mereka.

Kita memahami, sepeninggal ayahnya (aduuuh mewek saya rek!) adik-adik ini membutuhkan kasih sayang juga topangan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Kalaupun ada sangu bagi mereka, biasanya masyarakat memilih membantu di saat Ramadan dan Muharram saja. Selebihnya jarang yang peduli pada kebutuhan bulanan, khususnya sandang pangan dan pendidikan.

Padahal, andaikan, dana masjid dipakai untuk membiayai mereka sejak dini dan juga memondokkan mereka niscaya 10 tahun mendatang masjid sudah berhasil memanen kader-kader utama calon imam dan guru ngaji yang siap mendarmabaktikan ilmunya bagi masyarakat sekitar masjid. Dengan menjadi takmir, imam rawatib dan khatib Jumat, juga guru TPQ yang kompeten juga guru ngaji kitab di masjid. Ayo silahkan dicek, berapa banyak masjid yang hanya megah bangunannya, banyak saldonya, tapi nggak ada kegiatan ngaji kitabnya.

Baca juga  Catatan Seputar Mualaf: dari Yahya Waloni hingga Martin Lings

Setidaknya ini yang saya sampaikan saat ngisi Nuzulul Qur’an di Masjid Al-Mukhlasin, Benjeng, Gresik, akhir Ramadan kemarin. Agar kotak amal dibagi tiga: untuk amal jariyah pengelolaan masjid, anak yatim (beasiswa), dan dana sosial (buat beli kitab, konsumsi jamaah juga bisyaroh guru ngaji kitab). Jamaah sepakat, walaupun nggak tahu sudah dilaksanakan apa belum.

Tak masalah, minimal saya sudah melaksanakannya di Masjid Ulil Azmi PP. Mabdaul Ma’arif Jombang-Jember. Ada ngaji kitab rutinan mingguan dan bulanan, yang disertai konsumsi jamaah, juga Bank Beras, dan beasiswa yatim. Dana dari mana? Sebagian ya dari kotak amal yang dibagi 3 tadi. Di Masjid Al-Falah Kencong Jember, skema 3 kotak ini juga sudah dilaksanakan dalam kurun 5 tahun terakhir.

Dengan cara ini, minimal kita melaksanakan dawuhnya Habib Lutfi bin Yahya dalam sebuah kesempatan, mengenai pembagian kotak amal masjid menjadi tiga tadi. Tujuannya, agar masyarakat hatinya ta’alluq dengan masjid.

Kalau demikian, kita tidak usah khawatir masjid bakal diserobot oleh kelompok sebelah, sebab mekanisme menjadikan masjid sebagai sentra keilmuan dan sosial sudah berlangsung. Dan, pembibitan ulama juga sudah dipupuk melalui skema dana pendidikan anak yatim tadi.

Anak-anak yatim yang tumbuh dan besar dari masjid banyak yang kemudian menjadi ulama besar: Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dll. Mereka keasyikan belajar di masjid melalui skema ngaji rutinan, ya rutinan, cikal bakal madrasah bernama Kuttab.

Kuttab inilah yang bisa kita hidupkan melalui ngaji rutinan di masjid. Yang datang hanya 1-2 tidak masalah. Butuh mental dan kesabaran untuk mengembangkannya dan mempertahankannya. Yang terpenting adalah membangun masjid bukan bangunannya saja, melainkan juga pada pengembangan sumberdaya manusianya.

Selain itu, saya merasa risih jika melihat masjid kosong melompong dari literasi. Nggak ada ngaji rutinan, juga nggak ada perpustakaan. Padahal perpustakaan ini fondasi utama keilmuan. Imam, khotib, maupun masyarakat bisa mencari referensi di sini. Sisanya, koleksi buku-buku anak kudu diperbanyak. Anak-anak jangan dipaksa membaca. Kita hanya butuh menyediakan taman baca sesuai keinginan dan kecenderungannya. Kalau ini sudah dirintis, kita bakal melihat anak-anak yang ndelosoran sambil baca buku, bukan yang rebahan sambil main hape. Setidaknya, skema ini sudah dilaksanakan oleh Masjid al-Huda di desa saya. Ada ngaji rutinnya, juga ada rintisan perpustakaannya. Keren kan?

Tapi, bagi yang sepemikiran dengan saya, kudu ingat, bakal banyak yang menentang. Sebab pola seperti ini masih asing. Belum biasa. Padahal jika hendak diterapkan, minimal dengan skema 3 jenis kotak amal, maka pemberdayaan anak yatim bisa dilakukan. Mereka disekolahkan, dipondokkan dan dikuliahkan dengan dana yatim kotak amal. Dengan cara ini, 6-9 tahun mendatang hasil pembibitan ini bisa dipanen. Kaderisasi imam dan khatib berjalan dengan baik. Sehingga tidak ada lagi masjid yang nge-bon alias impor imam dari kampung sebelah, atau bahkan mendatangkan imam dari kelompok sebelah. Cukup dari warga desa setempat. Dari anak anak yatim yang kelak siap menjadi pengelola masjid.

Wallahu A’lam Bishshawab